28 Agustus 2017

Roadshow Perpusnas di Magelang : Membaca, Perlu Ketekunan dan Contoh

Magelang, Jawa Tengah—Hal tersulit dalam menekuni aktivitas adalah kemauan  mengawali. Proses tersebut memerlukan ketekunan dan contoh dari lingkungan sekitar, misalnya dari keluarga, sehingga proses penularan menjadi lebih cepat.  Demikian disampaikan Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, saat  Road Show Perpustakaan Nasional  di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Magelang, Sabtu, (26/10).

“Sesungguhnya tidak terlalu sulit. Coba dicicil 20 halaman per hari dengan asumsi waktu membaca per menit per halaman. Kalau masih belum sanggup dengan cara dicicil, bisa dilakukan dengan membaca lima halaman di waktu pagi, dan seterusnya. Masukkan jadwal membaca di sela-sela rutinitas yang lain. Lima menit di pagi, lima menit di siang, lima menit di sore, lima menit di malam sebelum tidur. Di cicil dulu,” terang Najwa.

Jika sudah terbiasa akan lebih mudah ke depannya. Membaca, lanjutnya, diibaratkan seperti berolahraga lari marathon. Kalau ingin menjadi pelari maraton, harus terus berlatih. Semakin sering berlatih, otot akan semakin kuat, nafas akan semakin dalam. Membaca juga seperti itu, harus dilatih setiap hari.

Banyak hal positif yang bisa diperoleh dengan membaca. Najwa Shihab memetakannya, antara lain 1) membaca bisa memanjangkan umur, 2) membaca menjadikan seseorang tidak gampang stress, 3) membaca dapat memulihkan jiwa (healing the soul), 4) membaca tidak membuat pikiran cepat pikun, 5) membaca membuat siapapun mendapatkan ilmu, atau imajinasi berkembang. “Itu semua merupakan investasi diri,” terang Najwa.

Membaca tidak harus melalui buku teks. Bahan bacaan yang lain, seperti majalah, koran, komik atau bahan bacaan apapun yang sekiranya bisa memberikan informasi bisa kalian baca. Yang pastinya akan membuat Anda semakin menyukai minat. Misalnya, suka dengan artis Korea, jangan hanya senang dengan musiknya, tapi cari informasi tentang bagaimana biografi Si artis. Di mana tempat tinggalnya, lokasi wisata yang menarik dari tempat tinggalnya dan sebagainya. “Jadi, cari hal-hal dari bahan bacaan yang bisa membuat kita semakin mencintai.”

Untuk memastikan mendapatkan hal tersebut, yang pertama dibangun adalah kesadaran betapa pentingnya membaca bagi pengembangan kualitas diri. Banyak yang belum meyakini secara utuh bahwa membaca adalah jalan menuju kesuksesan. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mempunyai semangat membaca tidak akan menjadi orang yang berhasil, tidak terbuka wawasan, pengalaman maupun pemikiran karena sejatinya dunia berkembang dengan imajinasi yang salah satunya diperoleh dengan keaktifan membaca.

Teknologi informasi yang sedang marak akhir-akhir ini diibaratkan pisau bermata dua. Di situ sisi bisa menambah ilmu ataupun pengetahuan yang terbaru. Di sisi yang lain, malah menyesatkan atau membingungkan, seperti berita dusta (hoax) yang marak berseliweran di masyarakat. Di sinilah bedanya, orang yang memiliki kecintaan terhadap membaca. Bisa memilah dan memilih informasi mana yang tepat. Tidak langsung percaya sepenuhnya terhadap informasi yang disajikan media sosial atau sejenisnya. Buku merupakan sumber primer. Dengan membacanya seseorang akan terlatih untuk berpikir kritis dan analisis. Jadi, tidak mudah terprovokasi atau terhasut dengan berita yang belum tentu benar.

Dalam dua tahun terakhir (2015-2017), Noe mencatat perkembangan informasi global mencapai 600%. Artinya, informasi melalui internet banyak beredar. Namun, untuk bisa mendapatkan harus melalui koneksi/jaringan. Namun, informasi melalui media sosial hanya sumber sekunder. Sekali lagi, buku tetap menjadi sumber primer,” beber Noe, vokalis Letto Band yang juga didapuk sebagai narasumber. Noe tidak menampik kalau ia termasuk reader holic. Menurutnya, ada dua hal yang mungkin saja terjadi saat  mulai membaca.  Yang pertama, bisa jadi tenggelam dalam buku yang dibacanya atau yang kedua, berlawanan (kontra persepsi) dengan buku yang dibacanya.

Dengan membaca, seseorang bisa saja menciptakan formulasi pengetahuan. Tingkatannya, lewat membaca kita menemukan setumpuk data. Data tersebut tentu saja berisikan informasi. Informasi tersebut boleh jadi merupakan pengetahuan. Dari sejumlah pengetahuan pasti terselip hikmah yang bisa diambil. “Nah, intisari dari proses kesemuanya tersebut pada ujungnya akan mendapatkan ilmu,” terang Noe.

Permasalahan rendahnya angka minat baca seperti yang diungkapkan sejumlah periset internasional, Perpustakaan Nasional secara tegas menolaknya. Hal itu sepenuhnya tidak tepat, Karena sesungguhnya yang terjadi bukan rendahnya minat baca melainkan bahan bacaan yang mau dibaca justru tidak ada, jelas Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Woro Titi Haryati. Ketersediaan bahan bacaan menjadi sesuatu yang diidamkan masyarakat yang tinggal di pelosok/pedalaman, wilayah perbatasan, daerah-daerah transmigrasi, pulau-pulau terluar yang sulit diakses. Kondisi geografis Indonesia yang sebagian demikian menyulitkan tersampainya bahan bacaan dengan tepat waktu.

Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional kembali mengharapkan kerjasama dan dukungan dari semua pihak untuk sama-sama membantu peduli terhadap pengembangan maupun pemerataan penyediaan bahan bacaan masyarakat, sehingga kesenjangan baik ilmu, pengetahuan maupun informasi bisa teratasi secara bertahap. Dengan demikian, tingkat literasi di masyarakat berangsur membaik.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan

 

Berita Lainnya