Cari

English
Majalah Online

Pencarian Majalah Online

:

Majalah Online : Menyajikan majalah-majalah yang sudah dialihmediakan dan diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI sehingga bisa diakses secara online oleh masyarakat.

Detail Majalah Online
Kembali
Majalah : Visi Pustaka
Edisi : Vol.10 No.1 - April 2008
Judul : Peluang dan Tantangan Foss di Perpustakaan
Abstrak :

FOSS  (Free Open Source Software) untuk bidang perpustakaan di Indonesia belakangan ini semakin marak didiskusikan, dikaji dan diimplementasikan.  Aplikasi otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital berciri FOSS semakin banyak dikembangkan oleh putera bangsa. Mereka ini umumnya adalah alumni pendidikan perpustakaan dari level diploma atau sarjana yang tertarik dan senang bereksperimen dalam bidang pemograman komputer, atau  lulusan diploma dan sarjana teknik informatika atau ilmu komputer yang tertarik kepada masalah atau bekerja di perpustakaan.  Beberapa FOSS yang digunakan, antara lain,  ISISONLINE, GDL, IGLOO, LASER, yang dikembangkan di dalam negeri, atau KOHA, GREENSTONE DIGITAL LIBRARY, OPENBIBLIO, MYLIBRARY,  buatan luar negeri yang dapat diunduh melalui internet.  Dalam tulisan ini dibahas peluang dan tantangan serta sejumlah keuntungan dan kerugian jika menggunakan FOSS di bidang perpustakaan di Indonesia. Selain peran aktif Perpustakaan Nasional sebagai lembaga yang tentu saja berfungsi mendorong pengembangan perpustakaan di Indonesia, lembaga pendidikan formal perpustakaan juga dapat berperan strategis dalam mengembangkan FOSS,  yaitu dengan mengintegrasikan materi yang dapat meningkatkan kemampuan SDM untuk mengembangkan FOSS ke dalam kurikulum mereka.  Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah peran KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia) dalam mensosialisasikan penggunaan Linux.

Artikel Lengkap :

Perkembangan pemanfaatan FOSS (Free Open Source Software) di Indonesia belakangan ini semakin pesat, apalagi setelah Departemen Kominfo mencanangkan gerakan penggunaan FOSS di Indonesia yang dikenal dengan IGOS (Indonesia Goes Open Source). FOSS Adalah software yang didistribusikan secara bebas dengan menyertakan source code (kode program).  Umumnya FOSS memiliki  lisensi GNU GPL  (General Public License), yang merupakan lisensi OSS yang paling umum digunakan. GNU adalah singkatan dari Gnu's Not UNIX (Rhyno, 2004).  GPL menerapkan konsep yang dikenal sebagai ¿copyleft¿, yang cenderung menafikan copyright, dengan semangat pengembangan software secara bersama. Di bawah lisensi GPL,  kode program suatu aplikasi berlisensi GPL dapat digunakan dimana saja dan dalam situasi apa saja dan dapat didistribusikan kembali kepada semua orang, sepanjang kode programnya selalu disertakan dan lisensi GPLnya dipertahankan. Setiap orang dibolehkan  membuat turunan kode program itu dan bahkan menyebarkannya lagi, sepanjang kode program yang dihasilkan tersedia secara umum dan tetap berlisensi GPL.
Selain GPL dikenal pula LGPL atau GNU Lesser General Public License atau Artistic License, yang berarti bahwa source code dapat digunakan pada suatu aplikasi yang penggunanya  dikenai biaya. Dengan demikian,  kode tersebut dapat diterapkan pada aplikasi komersial yang tidak terlalu mahal alias 'lesser'.  Artistic License  dimasksudkan untuk mengurangi ketakutan pengunaan kode program untuk keperluan komersial.  Sesungguhnya kata free dalam FOSS lebih mengacu ke pengertian 'kebebasan' daripada pengertian 'gratis' atau 'cuma-cuma'. Walaupun demikian, kenyataannya para pengembang FOSS pada umumnya, selain membolehkan  source code program yang dibuatnya untuk dibuka (open), dieksploitasi lebih lanjut dan disebarluaskan lagi,  juga memberikan program tersebut  secara cuma-cuma (free).
Richard Stallman dalam Rhyno (2004) mengemukakan empat kebebasan (freedom) yang menjadi ciri  aplikasi open source yakni:
1. Kebebasan menjalankan program untuk tujuan apapun,
2. Kebebasan mempelajari cara kerja program dan menyesuaikannya dengan kebutuhan sendiri,
3. Kebebasan menyebarkannya lagi untuk kepentingan orang lain, dan
4. Kebebasan untuk mengembangkan program dan menyebarkannya lagi untuk kepentingan orang banyak.

Di lain pihak, dikenal software dengan closed source code atau yang dikenal dengan istilah paket software. Ada yang bersifat proprietary dan dijual, ada pula yang didistribusikan sebagai freeware. Freeware adalah  software yang  tidak berlisensi,  biasanya tidak disertai source code,  dan didistribusikan secara gratis kepada siapa saja yang berminat memilikinya.
Sebagaimana semua produk buatan manusia didunia ini, FOSS pun mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah daftar kekuatan dan kelemahan FOSS dibandingkan dengan proprietary software, baik yang juga free maupun yang berbayar (fee),  yang dihimpun dari berbagai sumber:

Kekuatan FOSS

Kelemahan FOSS

Banyak tenaga programmer yang terlibat  mengerjakannya sehingga hasilnya terjamin.

Masalah yang timbul berkaitan dengan intelectual property atau masalah pelaggaran hak cipta

Adanya peer review meningkatkan kualitas software

Para hacker justru akan memanfaatkan keterbukaan kode program dalam melakukan hal-hal yang dapat merugikan pengguna aplikasi

Masa depan software lebih terjamin. Tidak ada ketakutan akan kehilangan programmer yang akan melanjutkan pengembangan dan pemeliharaan program

Sejumlah bukti menunjukkan model pengembangan free open source software justru membutuhkan dana yang besar dan waktu yang lama dalam implementasinya

Kesalahan (bugs) lebih cepat ditemukan

Tidak banyak SDM yang dapat memanfaatkan program  secara optimal

Terbentuknya banyak pilihan dan ¿rasa¿. Fleksibilitas tinggi karena banyak pilihan

Pengalaman menunjukkan bahwa para pengembang yang mengakses kode program cenderung hanya mengubahnya untuk kepentingan sendiri dari pada menganalisis kelemahan dan memperbaikinya untuk kepentingan orang banyak

Tidak harus mengulangi pekerjaan yang sudah dilakukan programmer lain (prinsip reuse)

Beberapa jenis dan versi hardware sering tidak dikenali

Relatif bebas dari gangguan virus yang sering menjengkelkan

Tidak ada perorangan atau lembaga yang bertang-gungjawab khusus dalam memelihara sistem


Pemanfaatan FOSS di Indonesia, termasuk di bidang perpustakaan, masih rendah kalau dilihat dari jumlah pemakainya. Kebanyakan perpustakaan menggunakan sistem operasi Microsoft Windows dengan aplikasi berbasis Windows. Pengguna produk proprietary ini, ironisnya, kebanyakan adalah pengguna ilegal alias tidak resmi atau pengguna produk bajakan yang secara hukum melanggar undang-undang hak cipta. Utian Ayuba (2008), salah seorang penggiat penggunaan Linux yang juga anggota KPLI Bogor, mengingatkan bahwa ada dua hukum yang dilanggar para pemakai software bajakan.  Pertama, Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang dengan tegas menyatakaan perlindungan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual. Hukuman maksimal atas pelanggaran ini adalah tujuh tahun penjara dan/atau denda maksimal lima milyar rupiah.  Yang kedua adalah pelanggaran hukum agama.  Bagi umat Islam di Indonesia, ini merupakaan pelanggaran terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta yang dikeluarkan tanggal 18 Januari 2003 mengenai produk-produk bajakan.  Memang ada juga perpustakaan yang sudah menggunakan sistem operasi Windows dan aplikasi resmi berbayar, namun masih jauh lebih banyak perpustakaan yang menggunakan sistem operasi dan aplikasi berbasis windows bajakan. 
Di sisi lain memang secara psikologis orang cenderung sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama dilakukan.  Orang memang sulit beranjak dari "zona kenyamanan" keterbiasaan karena sudah  bertahun-tahun menggunakan program berbasis Windows, meski bajakan dan melanggar UU Hak Cipta.  Masih sangat sedikit perpustakaan yang menggunakan, misalnya,  sistem operasi Linux. Padahal sistem operasi ini sekarang sudah sangat mudah dioperasikan, sangat mendukung keragaman hardware, serta aplikasinya sudah tidak kalah dengan aplikasi berbasis windows, baik dari segi keragaman, maupun kualitas dan penampilan.  Distribusi Linux, atau lebih umum dikenal sebagai Distro Linux, yang telah dikembangkan  tercatat sudah mencapai 600 distro (
http://www.distrowatch.com). Beberapa di antaranya bahkan dikembangkan oleh orang Indonesia, misalnya IGOS Nusantara, BlankOn, Kuliax, De2UI, dan PCLinux. Demikian pula aplikasinya kini sudah semakin lengkap, misalnya: Apache yang sudah sangat terkenal dan banyak digunakan sebagai kompetitor IIS milik  Microsoft, MYSQL (kompetitor MS SQLServer), PHP (saingan ASP), OpenOffice.Org (saingan MS Office), The GIMP (Adobe Photoshop), Inkscape (CorelDraw), Mozilla Firefox (MS Internet Explorer), Mozilla Thunderbird (MS Outlook), KB3 (Nero), XMMS (Winamp), Xine (Cyberlink PowerDVD), Pidgin (Yahoo Messenger), termasuk sejumlah aplikasi FOSS untuk bidang perpustakaan. Namun masih diperlukan kemauan yang keras dan usaha yang sistematis dan terpadu agar pemanfaatan FOSS di perpustakaan lebih banyak dan lebih merata di seluruh Indonesia.

Perpustakaan dan FOSS
Perpustakaan termasuk jenis lembaga yang cukup sigap mencoba mengikuti tren FOSS tersebut. Ini ditandai dengan munculnya beragam FOSS untuk diterapkan sebagai sistem otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital yang dibuat oleh putera-puteri Indonesia. Pelopor FOSS bidang perpustakaan di Indonesia adalah aplikasi sistem otomasi ISISONLINE yang digagas oleh Ismail Fahmi dan kawan-kawan dari KMRG (Knowledge Management Research Group) ITB Bandung.  Aplikasi berbasis web ini dapat digunakan untuk mengonlinekan database yang dibuat menggunakan CDS/ISIS, program  gratis buatan UNESCO yang  sejak akhir tahun 1980an banyak digunakan oleh perpustakaan di Indonesia. Bahkan boleh dikatakan bahwa CDS/ISIS  "merajai" sistem otomasi perpustakaan di Indonesia sejak mulai diperkenalkan dalam  versi DOS. CDS/ISIS yang merupakan program sederhana namun tepat guna ini terutama banyak digunakan  perpustakaan perguruan tinggi dan bahkan diajarkan secara resmi  pada hampir semua lembaga pendidikan perpustakaan dan kursus-kursus yang diadakan oleh berbagai instansi di Indonesia. Dikatakan resmi karena masuk dalam kurikulum semua lembaga pendidikan perpustakaan. Aplikasi ini bersifat freeware.

Setelah ISISONLINE yang dirancang hanya untuk mengelola database cukup sukses digunakan, kemudian disusul dengan kelahiran GDL (Ganesha Digital Library), yaitu aplikasi untuk pengembangan sistem perpustakaan digital, yang juga dibuat oleh perancang ISISONLINE. GDL kini sudah banyak digunakan, bukan saja di Indonesia, tetapi juga digunakan di perpustakaan luar negeri. Ciri khas GDL yang membedakan dengan pendahulunya, ISISONLINE, adalah bahwa GDL dapat digunakan untuk mengelola dan mengonlinekan dokumen digital secara fulltext (teks lengkap).

Selain itu muncul IGLOO (ISIS Goes Online) dengan logo rumah orang Eskimo, yang dibuat oleh Hendro Wicaksono. IGLOO dirancang selain untuk mengonlinekan database ISIS di internet, juga dapat digunakan sebagai program penelusur database ISIS pada keping CD dengan nama turunan IONC; Belakangan IGLOO dikembangkan lagi menjadi xIGLOO. Turunan IGLOO ini dirancang untuk mengakomodir kebutuhan sistem otomasi perpustakaan secara terpadu. Jadi pada aplikasi ini bukan saja disediakan fungsi atau modul penelusuran, tetapi juga dilengkapi dengan fitur sistem sirkulasi (transaksi peminjaman, pengembalian, pemesanan, dsb.) serta fitur-fitur lainnya.

Kemudian dari kota dingin Malang, lahir LASER yang dibuat oleh Naser dari Universitas Muhammadiyah Malang. LASER sudah tidak menggunakan database ISIS yang populer itu, melainkan sesuai tren FOSS sudah menggunakan database MySQL, dengan bantuan PHP dan dijalankan pada server Apache.
Dari kota hujan Bogor, alumni D3 Pusdokinfo ILKOM FMIPA IPB (Eru Gunawan dan kawan-kawan)  membuat Freelib.  Freelib ketika masih bernama Alpha (dan perancangnya masih freelance) menggunakan database MS.ACCESS, tetapi kemudian beralih menggunakan database MySQL ketika perancangnya sudah bergabung di suatu LSM di Jakarta yaitu Freedom Institute.
Dari kota  kembang Bandung (tepatnya ITB) kembali lahir aplikasi otomasi perpustakaan yang bersifat FOSS, yaitu GLIS oleh Arif R. Dwiyanto dari ITB.  GLIS yang kepanjangannya adalah Ganesha Library Information System, sekilas terdengar seperti kata geulis yang berarti cantik dalam bahasa Sunda. Bandung memang sejak dulu terkenal dengan gadisnya yang cantik-cantik. Demikian pula dengan GLIS yang mampu mengelola manajemen perpustakaan secara `cantik'.
ATHENAEUM LIGHT oleh Didik Witono dan kawan-kawan di Jakarta seakan tidak mau kalah, kemudian muncul ikut meramaikan kancah FOSS di bidang perpustakaan di Indonesia. Aplikasi yang dikembangkan menggunakan database dari program proprietary FILEMAKER ini bahkan punya kelompok peminat yang menamakan dirinya KALI (Klub Athenaeum Light Indonesia). KALI termasuk yang sangat gencar melakukan pelatihan dan sosialisasi program  ATHENAEUM LIGHT. Kata athenaeum berasal dari bahasa Yunani berarti perpustakaan atau ruang baca. Versi lengkapnya (Athenaeum Pro) merupakan proprietary software dari Sumware Consulting New Zealand, yang harus dibeli jika akan digunakan. Jadi tidak didistribusikan secara gratis sebagaimana vesi lightnya.
FOSS paling bungsu (saat tulisan ini dibuat) adalah aplikasi SENAYAN, hasil kolaborasi Hendro Wicaksono dengan Ari Nugroho. Diberi nama SENAYAN mungkin karena dibuat di Senayan Jakarta, tepatnya di Perpustakaan Diknas Senayan,  tempat para perancangnya sering berkumpul. Para pengembang SENAYAN  belakangan cukup gencar mensosialisasikan program ini terutama melalui media internet/milis.
Dengan makin banyaknya FOSS didistribusikan untuk pengembangan sistem otomasi perpustakaan di Indonesia, tentunya menjadi peluang menarik bagi pustakawan untuk mengembangkan sistem otomasi di perpustakaan dalam rangka meningkatkan mutu layanan, karena selain dapat diperoleh secara cuma-cuma, mudah didapatkan karena dapat diunduh (download) dari internet, bahkan jika perpustakaan punya staf berkemampuan pemograman maka aplikasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan. Penulis belum mempunyai data yang akurat mengenai jumlah pemakai FOSS yang disebutkan di atas di Indonesia, namun berdasarkan pengamatan dan pengetahuan penulis, yang benar-benar diterapkan dalam transaksi rutin sehari-hari di perpustakaan jumlahnya belum banyak.
Selain FOSS buatan anak bangsa, ada pula beberapa aplikasi FOSS buatan luar negeri yang dikembangkan dan digunakan di perpustakaan Indonesia, misalnya ada yang mengembangkan KOHA, OPENBIBLIO, EMILDA, MYLIBRARY, GREENSTONE DIGITAL LIBRARY dan beberapa FOSS lainnya.  Semua aplikasi FOSS dalam bidang pusdokinfo ini dapat diakses melalui web di
http://www.infolibrarian.com sebagai starting point.

Di sisi lain ada proprietary software  untuk perpustakaan yang sudah berkembang sejak awal tahun 1990an. Ada INSIS yang dulu banyak digunakan di Perpustakaan IAIN seluruh Indonesia yang dibuat oleh kelompok pengembangan, yang belakangan akhirnya membuat suatu perusahaan resmi untuk memasarkan produknya.  Ada SIPISIS versi DOS (sejak tahun 1995 sampai tahun 2002) sebelum digantikan oleh SIPISIS versi Windows tahun 2002 dan tahun 2007 muncul MySIPISIS (SIPISIS versi Web), rangkaian produk yang dibuat atas kolaborasi tim otomasi Perpustakaan IPB dengan PT beIT Inovasi Tiwikrama. Ada Bookman dari PT CNI (Nuansa Cerah Informasi) yang tidak hanya memproduksi aplikasi otomasi bidang perpustakaan. Belakangan berkembang banyak aplikasi sistem otomasi, baik yang tergolong OSS atau CSS (Closed Source Software), tetapi belum secara tegas atau masih ragu-ragu menempatkan posisinya apakah termasuk kelompok  FOSS atau proprietary, misalnya SPITS dari ITS, LONTAR dari UI. Lihat lampiran yang berisi daftar sebagian aplikasi sistem otomasi yang digunakan di perpustakaan Indonesia.

Tantangan bagi Pustakawan Indonesia
SDM yang diharapkan dapat menggunakan, memelihara, dan mengembangkan aplikasi FOSS untuk perpustakaan di Indonesia,  umumnya  masih rendah baik kuantitas maupun kualitasnya, apalagi yang berada di daerah.  Kebanyakan pengembangan kreatif aplikasi FOSS berasala dari perpustakaan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, atau Bogor.  Sedangkan pustakawan daerah lain umumnya belum mempunyai kemampuan untuk menerapkan aplikasi tanpa bimbingan teknis yang memadai, kecuali tentu beberapa orang yang sudah berhasil mengembangkan aplikasi otomasi perpustakaan, misalnya:  staf Perpustakaan IAIN Ar'Raniry di Banda Aceh yang mengembangkaqn aplikasi terintegrasi bernama SIM Perpustakaan dengan tool dari jenis FOSS.  Kebanyakan SDM perpustakaan masih pada level murni operator.  Umumnya mereka hanya dapat mengoperasikan aplikasi otomasi perpustakaan.  Mereka perlu bimbingan teknis yang cukup, hanya untuk menjalankan aplikasi.  Mereka kebanyakan bahkan  tidak dapat  melakukan proses instalasi aplikasi.  Apalagi proses trouble-shooting jika terjadi gangguan.  Ada memang perpustakaan, yang ingin melakukan otomasi perpustakaan, yang beruntung dapat bekerja sama dengan unit atau bagian komputer di lembaga induknya, namun ada juga perpustakaan yang harus berjuang sendiri untuk mengelola sistem teknologi informasi di perpustakaan termasuk penerapan aplikasi sistem otomasi dan perpustakaan digital.
Bagi mereka, SDM yang punya kemampuan sangat terbatas ini, diperlukan aplikasi yang siap pakai, mudah diinstal dan dipelihara, dan didukung dengan adanya lembaga semacam crisis center, yang, kalau mungkin, bahkan diharapkan dapat menyediakan jasa konsultasi kapan saja diperlukan. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat bagi pengguna aplikasi untuk mendapat bantuan teknis, jika terjadi gangguan pada sistem otomasi yang digunakan.  Selain itu perlu tersedia panduan teknis yang sangat mudah dan praktis. Walaupun dalam kenyataannya, berdasarkan pengalaman penulis, panduan praktis saja tidak banyak membantu, karena mereka lebih senang bertanya langsung.  Bahkan ada yang tidak pernah mau membaca panduan.  Setelah mereka diberi tahu bahwa cara mengatasi  gangguan yang dimaksud sudah dijeklaskan  dalam panduan, baru mereka mencoba mencari lagi dan membaca panduan yang diberikan saat pelatihan dan instalasi sistem.  Sering terjadi tidak cukup hanya dengan berkonsultasi jarak jauh melalui telpon atau e-mail, kebanyakan dari pustakawan yang perpustakaannya sudah mencoba menerapkan sistem otomasi, akhirnya mengharapkan kedatangan teknisi untuk memperbaiki bahkan gangguan ¿kecil¿ sistem.  Bahkan bagi mereka gangguan pada sistem jaringan pun sulit dibedakan dengan gangguan pada aplikasi!
Oleh karena itu, kalau penerapan FOSS di perpustakaan di Indonesia diharapkan dapat mencakup seluas-luasnya wilayah Indonesia, perlu tersedia banyak lembaga  semacam crisis center di berbagai daerah,  yang didukung oleh teknisi ¿mumpuni¿ dan ada waktu untuk membantu para petugas perpustakaan yang menerapkan FOSS.  Tentu saja untuk terwujudnya hal ini crisis center ini perlu mendapat  dukungan dana secara berkesinambungan.  Dana rutin dapat diperoleh dari perpustakaan yang memerlukan bantuan teknis personel di crisis center.
Ketersediaan tenaga teknis mumpuni di crisis center juga perlu menjadi perhatian serius.  Saat ini tidak banyak tersedia SDM seperti ini.  Kalaupun ada, kebanyakan berada di kota-kota besar.  Penulis pernah  bertemu  SDM  seperti ini di beberapa kota kecil.  Mereka  Kebanyakan lulusan diploma, baik dari jurusan informatika yang tertarik atau bekerja di perpustakaan, atau lulusan diploma jurusan perpustakaan yang tertarik dan senang melakukan eksperimen dalam bidang pemograman.  Sangat jarang yang merupakan  sarjana bidang komputer.
Sehubungan dengan hal diatas, perlu dipikirkan untuk melengkapi kurikulum dalam lembaga pendidikan perpustakaan dengan memasukkan materi kuliah dan praktek pemograman menggunakan FOSS. Beberapa program pendidikan diploma atau sarjana jurusan perpustakaan di Indonesia sudah mulai merintis ke arah itu. Pendidikan formal dan pelatihan tenaga perpustakaan perlu dilengkapi dengan materi dasar untuk mendukung FOSS,  misalnya materi  mengenai PHP, MyAQL, Apache atau paket XAMPP dan lain-lain.
Hal lain yang perlu diperhatikan menyangkut tool yang akan digunakan untuk mengembangkan FOSS. Tool tersebut seharusnya juga bersifat OSS atau setidaknya yang free.  Jangan sampai untuk mengembangkan FOSS terpaksa harus menggunakan tool yang dibeli dengan harga yang mahal atau terpaksa menggunakan tool bajakan.

Ketersediaan Dana Pengembangan Perpustakaan
Masalah dana yang sudah diprogramkan melalui berbagai semacam skema proyek misalnya IMHERE, INHERENT dan sebagainya, yang dikucurkan ke perguruan tinggi termasuk ke perpustakaan, serta skema bantuan dana untuk pengembangan perpustakaan, tentu perlu pula dukungan bentuk-bentuk kegiatan, misalnya kegiatan pengembangan otomasi perpustakaan, seperti banyak terjadi selama ini.  Hal yang penting yang perlu mendapat perhatian adalah semua itu harus dapat dipertanggungjawabkan hasil dan   administrasinya maupun secara moral. Kalau dahulu bantuan diberikan, misalnya,  dalam bentuk pembelian program otomasi perpustakaan, maka nantinya perlu diarahkan ke dalam bentuk lain,  misalnya kegiatan bimbingan teknis atau semacam pelatihan-pelatihan dengan materi pendukung FOSS misalnya LINUX, XAMPP atau lainnya. Bahkan sebenarnya dapat  ditiadakan atau dialihkan ke dalam bentuk-bentuk atau skema bantuan lain. 
 
Kesimpulan
Menurut pendapat dan perkiraan penulis, masih diperlukan beberapa tahun lagi ke depan agar penerapan FOSS di perpustakaan di Indonesia dapat berjalan baik dan lebih merata.  Untuk itu diperlukan persiapan secara sistematik dan berkesinambungan. Berbagai pihak perlu bersinerji mendukung program ideal berskala nasional ini. Selain peran aktif Perpustakaan Nasional sebagai lembaga yang tentu saja berfungsi mendorong pengembangan perpustakaan di Indonesia, diperlukan juga peran lembaga pendidikan formal perpustakaan, misalnya dengan mengintegrasikan dalam kurikulum materi yang dapat mendorong meningkatkan kemampuan SDM dalam mengembangkan FOSS. Selain itu para programmer muda yang idealis, perorangan atau kelompok,  perlu lebih gencar mengembangkan FOSS dalam bidang perpustakaan. Diskusi, seminar, workshop mengenai FOSS dalam bidang perpustakaan perlu lebih sering dilakukan. Tidak kalah pentingnya adalah perlu diperbanyak tulisan mengenai topik ini untuk memberi pencerahan dan motivasi kepada pustakawan Indonesia mengenai peluang FOSS di perpustakaan Indonesia.

Kata Kunci : FOSS; Free Open Source Software; otomasi perpustakaan; perpustakaan digital; Linux; GNU GPL; Copyleft
Pengarang : B. Mustafa
Subjek : Pengolahan data elektronis; Sistem penyimpanan dan temu kembali informasi
Sumber :
Attachment :
  No. Nama File  
Peluang dan Tantangan Foss di Perpustakaan.pdf View Download





Unduh dalam bentuk:
     
Berbagi (share) ke teman/sahabat/rekan/keluarga melalui :
 
Pemutakhiran Situs