Cari

English
Majalah Online

Pencarian Majalah Online

:

Majalah Online : Menyajikan majalah-majalah yang sudah dialihmediakan dan diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI sehingga bisa diakses secara online oleh masyarakat.

Detail Majalah Online
Kembali
Majalah : Visi Pustaka
Edisi : Vol.10 No.1 - April 2008
Judul : Pembuatan Indeks Buku Untuk Dewey Decimal Classification Edisi Ringkas Berdasarkan Kaidah Bahasa Indonesia: sebuah catatan
Abstrak :

Sebuah artikel singkat mengenai pengalaman menerjemahkan Dewey Decimal Classification Abridged Edition (Edisi 14) ke dalam Bahasa Indonesia. DDC versi Bahasa Indonesia diterjemahkan dari edisi 14 versi ringkas namun sebagai negara Islam penulis sengaja menggunakan versi lengkap DDC Edisi 22 mengingat Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Penulis menunjukkan beberapa kesulitan dalam penyusunan entri, penggunaan istilah berbeda dalam glosarium Bahasa Indonesia meski memiliki kesamaan konsep dalam Bahasa Inggris, penggunaan nama geografi yang cenderung rancu dalam versi Bahasa Indonesia, transliterasi huruf Arab, pengistilahan dalam kaidah yang berbeda menyangkut penyusunan entri dan cakupan berdasarkan kaidah Bahasa Indonesia. Penulis berusaha menunjukkan upaya menanggulangi hambatan-hambatan tersebut. 

Artikel Lengkap :
 

1. Pendahuluan
Bagi pustakawan, istilah Dewey Decimal Classification (DDC) bukanlah hal asing. Menggunakan DDC sudah merupakan keharusan Bagi pustakawan yang bergerak dalam bidang pengolahan. Pustakawan sudah terbiasa dengan DDC termasuk menggunakan Index DDC yang disusun dalam bahasa Inggris, karena disusun dalam bahasa Inggeris, maka kaidah yang digunakan ialah MD artinya Menerangkan Diterangkan misalnya High Building, Red Bull. Pada kaidah MD, building, bull adalah unsur  yang diterangkan sedangkan high, red adalah unsur  yang menerangkan. Jadi building, bull itu unsur yang diterangkan. Dalam pembuatan indeks DDC bahasa Inggris,  entri yang dibuat ialah Building, High dan Bull, Red.
Dari penggunaan indeks DDC bahasa Inggris, timbul pertanyaan bagaimana membuat indeks DDC dalam Bahasa Indonesia yang menggunakan kaidah DM artinya Diterangkan Menerangkan.  Karangan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pengalaman penulis menyusun indeks DDC berbahasa Indonesia. Adapun DDC tersebut didasarkan pada Dewey decimal Classification Abridged Version, 14th edition terbitan tahun 2004.

2. DDC dalam Bahasa Indonesia
Sepanjang pengetahuan penulis, belum pernah ada upaya menerjemahkan DDC versi lengkap kedalam Bahasa Indonesia sejak DDC digunakan di Indonesia pada tahun 1952 (Sulistyo, 2007). Perpustakaan Nasional RI (PNRI) pernah menerbitkan Terjemahan Ringkas Klasifikasi Dewey dan Indeks Relatif (Terjemahan, 2000) berdasarkan DDC versi lengkap DDC 20. Pada saat ini sebuah Tim Perpustakaan Nasional tengah menerjemahkan Dewey Decimal Classification versi Abridged Edition kedalam Bahasa Indonesia. Kegiatan itu bersamaan pula dengan kegiatan penulis yang melakukan kegiatan yang sama. Dari kegiatan itu muncul masalah menyangkut pembuatan indeks dalam Bahasa Indonesia.

3. Indeks
Istilah indeks dalam ilmu perpustakaan dan informasi mengalami perubahan makna. Semula indeks berarti daftar topik, nama orang, tempat dan sebagainya yang disusun menurut abjad, yang disebutkan dalam sebuah buku atau seri buku, menunjukkan tempat istilah tersebut dimuat dalam buku, lazimnya disertai dengan nomor halaman (kadang-kadang disertai dengan simbol yang menunjukkan posisi tersebut dalam halaman), kadang-kadang juga nomor seksi, entri ataupun jilid. Misalnya Dina 113 berarti bahwa istilah  Dina  dapat ditemukan pada halaman 113 buku tersebut. Untuk indeks  sebuah karya yang terdiri dari beberapa jilid, lazimnya ditulis nomor jilid baru halaman yang memuat istilah tersebut. Contoh Dina    3:412-7 artinya istilah Dina dapat ditemukan dalam jilid 3 pada halaman 412 s.d. 417. Seringkali untuk menunjukkan jilid, penunjukan jilid menggunakan huruf tebal misalnya 3:412-7
Pengertian sekarang, indeks merupakan alat bantu temu (finding aids) ke posisi sebuah materi perpustakaan dalam koleksi perpustakaan. Maka bila pembaca menyimak batasan kata indeks,  indeks dalam arti kontemporer sinonim dengan katalog. Sebenarnya ada perbedaan antara indeks dengan katalog; kalau pada entri indeks sebuah buku hanya ditunjukkan lokasi istilah,  maka pada katalog di samping lokasi sebuah subjek juga masih dilengkapi dengan uraian deskriptif mengenai materi tersebut dalam kaitannya dengan subjek.
 
4. Tujuan indeks buku
Lazimnya pada buku terbitan luar negeri terutama dari negara maju, setiap buku selalu dilengkapi dengan indeks buku (selanjutnya disebut indeks) yang bertujuan memudahkan pencarian butir spesifik informasi. Misalnya seorang pembaca ingin menemukan kata Shogun Ieyatsu dalam sebuah buku, dia akan mencari istilah pada indeks, kemudian indeks akan menunjukkan  lokasi istilah tersebut dalam buku yang bersangkutan. Indeks pada dasarnya  menyusun ulang materi yang ada dalam sebuah buku, mengumpulkan menjadi satu berbagai acuan berkaitan dengan sebuah topik. Misalnya topik Jakarta akan dibagi lagi menjadi subtopik, setiap subtopik disertai lokasi dalam buku.
Indeks yang baik tidak akan memuat istilah yang tidak ada pada buku. Misalnya sebuah buku yang membahas sejarah Bali, indeks yang baik tidak akan memuat nama  Tawan Karang bila istilah  Tawan Karang memang tidak terdapat dalam indeks. Indeks yang baik juga mampu menyelamatkan buku dalam arti pembaca tidak perlu dirawak halaman demi halaman hanya untuk mencari sebuah istilah. Dengan demikian buku tidak perlu dirawak halaman per halaman berkat keberadaan indeks yang baik.

5. Syarat indeks
Wellisch (1993) menyatakan  indeks yang baik harus memenuhi syarat sebagai beriktut :
(a) Akurat artinya istilah yang digunakan benar-benar mencerminkan konsep yang dimuat dalam buku. Misalnya buku tentang kuda akan banyak memuat entri kuda daripada entri binatang berkaki gazal.
(b) Komprehensif artinya mencakup seluruh konsep yang ada dalam sebuah buku. Keluasan indeks dapat dibatasi asalkan saja hal pembatasan tersebut dijelaskan terlebih dahuku, misalnya pada kata pengantar atau pedoman penggunaan indeks.
(c) Istilah yang digunakan harus konsisten, tidak berubah-ubah walaupun maknanya sama. Maka pengindeks (indexer) harus memutuskan istilah mana yang akan digunakan, istilah mana  yang akan merujuk ke istilah yang digunakan. Contoh kata nyanyian, lagu, dendang. Ketiga kata tersebut sinonim maka harus dipilih satu kata secara konsisten, walaupun dalam buku yang diindeks, mungkin saja si penulis menggunakan ketiga kata. Sehubungan dengan konsistensi ini, maka ada baiknya pengindeks menggunakan tesaurus
(d) Penggunaan penunjukan "lihat" dan "lihat juga". Penunjukan "lihat" digunakan dari satu  istilah yang tidak digunakan ke istilah yang digunakan. Sebagai contoh, menyangkut sinonim kata sapi, lembu, jawi, maka  bila  pengindeks memutuskan menggunakan kata "sapi", dia membuat penunjukan  Jawi lihat Sapi dan Lembu lihat Sapi. Dalam praktik, seringkali ada pertimbangan daripada membuat penunjukan "lihat", lebih ekonomis bila masing-masing istilah dimunculkan dalam indeks dengan merujuk ke halaman yang sama.
Contoh :

       Jawi     112
       .........
       .........
       Lembu     112
       ............
       ...........
       Sapi  112

Penunjukan "lihat juga" dibuat dari satu istilah yang lebih luas ke istilah yang lebih sempit dan dari istilah yang setara. Contoh untuk subjek yang luas, misalnya Unggas lihat juga Ayam, Itik, Angsa. Contoh subjek yang setara misalnya Ayam lihat juga Bebek, Angsa, Itik Manila.
Dalam praktik penunjukan lihat juga untuk subjek yang setara tidak selalu dilakukan karena pertimbangan ekonomis agar indeks tidak terlalu tebal serta anggapan bahwa pemakai cukup tahu.

6. Pengindeksan DDC dalam Bahasa Indonesia.
Saat ini DDC edisi lengkap telah mencapai edisi 22 sementara DDC edisi ringkas mencapai edisi 14. Dewasa ini DDC edisi ringkas oleh Perpustakaan Nasional RI  sedang diupayakan terbit dalam Bahasa Indonesia termasuk indeksnya.

6.1. Masalah susunan entri
Indeks dalam DDC edisi bahasa menurut kaidah MD yang dianut oleh bahasa Inggrris. MD  artinya Menerangkan Diterangkan. Dalam kaida tersebut bagian yang menerangkan akan muncul pertama disusul dengan bagian yang diterangkan seperti English Channel, English language, English literature. Istilah tersebut tidak dapat dijadikan satu, masing-masing menduduki tempat tersendiri. Contoh
 English Channel
 English horns
 English language
 English literature

Pada istilah tertentu, prinsip tersebut dapat  menyatukan kata seperti
 Erosion  551.3
 Agriculture 631.4
 Engineering 627
 Geology  551.3
 
Karena indeks DDC edisi ringkas ini i disusun dalam Bahasa Indonesia, maka kaidah yang digunakan ialah DM artinya Diterangkan Menerangkan. Karena kaidah DM ini, maka ada entri yang panjang misalnya Analis...,  Bahasa ..., Sastra ..., Sistem..., Teori ... Contoh
Analisis (Matematika)  515     
Analisis dimensi  530.8
Analisis fungsional  515
Analisis kimia   543
Analisis kombinatorial         511
Analisis kovarians  519.5
Analisis kualitatif  543
Analisis kuantitatif  543 
Analisis matra   530.8
Analisis matematis  515

Bahasa Bali   499.224  
Bahasa Baltik   491
Bahasa Baltik-Slav  491.8
Bahasa Baluchi  491
Bahasa Bambara  496
Bahasa Bantu   496
Bahasa Basque  499
Bahasa Batak   499.227
Bahasa Belanda  439.31
Bahasa Belarusia 491.7
Bahasa  Belorusia  491.7

Sastra Bali   899.224
Sastra Baltik   891
Sastra Baltik-Slav 891.8
Sastra Baluchi   891
Sastra Bambara  896
Sastra Bantu   896
Sastra Basque   899
Sastra Batak   899.227
Sastra Belanda   839.31
Sastra Belarusia 891.7

Secara sepintas bila pembaca memperhatikan, maka penggunaan  kaidah DM cenderung akan membuat indeks menjadi panjang. Pendapat tersebut tidak selalu benar karena bila indeks menyangkut bagian yang M( Menerangkan) berakhir sama, maka indeks dapat disingkat. Misalnya Bahasa Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, Geologi Indonesia, maka entri indeks dapat disingkat sebagai berikut:
 Indonesia
 Bahasa  499.221
 Geologi  555.98
 Sastra  899.221
 Sejarah  959.8

Pada entri di atas, pembaca akan membacanya sebagai bahasa Indonesia, Geologi Indonesia, Sastra Indonesia dan seterusnya. Contoh entri semacam itu dimungkinkan karena ada persamaan istilah pada entri indeks, terutama untuk bagian kedua.
Penggunaan DM diharapkan lebih memudahkan pengguna DDC walaupun perlu diberitahukan cara penyusunan entri indeks. Dalam pemberitahuan, pengguna disarankan menentukan kata kunci baru mencari lebih lanjut. Misalnya mencari entri indeks Burung Kenari pada kata burung sebaliknya entri indeks Latihan Aerobik, Pernafasan Aerobik, tarian Aerobik dicari pada kata Aerobik.Bila diindeks menghasilkan entri sebagai berikut:
 Aerobik
  Latihan  613.7
  Pernapasan 573.2
  Tarian  613.7

6.2. Penentuan istilah.
Prinsipnya istilah untuk indeks harus konsisten. Dalam praktik, konsistensi atau taat asas dipengaruhi oleh disiplin ilmu sedangkan setiap disiplin ilmu menggunakan istialh yang berbeda-beda. Contoh kata probability. Dalam ilmu ekonomi berdasarkan Glosarium Ekonomi, istilah tersebut diterjemahkan menjadi peluang. Pada matematika, istilah tersebut diterjemahkan menjadi kementakan, probabilitas Glosarium matematika). Istilah adat resam sinonim dengan adat istiadat namun digunakan dalam disiplin yang berbeda. Maka bila pemakai menggunakan indeks DDC Bahasa Indonesia, kesan  pertama ialah tidak taat asas karena ada pengertian yang sama namun menggunakan istilah berlainan. Kesan tersebut kurang tepat karena penggunaan istilah indeks terpulang pada masing-masing disiplin ilmu. Contoh istilah cacat mental digunakan dalam bidang kedokteran sementara konsep yang sama untuk bidang pendidikan menggunakan istilah tuna grahita. Menggunakan salah satu istilah saja dengan penunjukan  dari istilah yang tidak digunakan memang dimungkinkan namun bagi bidang dari istilah yang tidak digunakan akan kelihatan janggal. Bila pengindeks menggunakan istilah tuna grahita, maka istilah tersebut terasa janggal bagi bidang kedokteran, istilah yang lazim digunakan untuk ental retardation´ialah cacat mental (Glosarium kedokteran, 2005).
Untuk istilah yang sama, pengindeks  menggunakan tanda pembeda dalam kurung. Contoh: 
Depresi (Ekonomi) 338.4 
Depresi (Fisiografi) 551.44
Depresi (Status mental) 362.2

6.5. Istilah populer atau menurut pandangan keilmuan.
Istilah yang digunakan dalam berbagai glosarium mengarah pada penggunaan istilah yang berasal dari bahasa nggris sebagai dampak penyebaran bahasa Inggris yang mulai menggusur penggunaan istilah dari bahasa Belanda. Bagi pemakai awam, kadang-kadang istilah yang berasal dari bahasa Belanda lebih lazim daripada istilah yang berasal dari bahasa Inggris karena penggunaannnya yang telah berlangsung lama di Indonesia. Contoh istilah electricity. Dalam glosarium (Glosarium fisika) diterjemahkan menjadi keelektrikan karena kata dasarnya electric. Bagi masyarakat awam istilah kelistrikan lebih lazim daripada kata keelektrikan. Perbedaan itu terjadi karena kata dasar yang digunakan berasal dari dua bahasa yang berlainan.
Istilah indeks disusun menurut istilah yang lazim digunakan untuk masing-masing bidang ilmu sehingga dapat saja istilah yang sama dalam bahasa Inggris bila diterjemahkan kedalam BahasaIndonesia menghasilkan istilah yang berlainan.

6.6. Masalah sinonim, homonim, polisemi (bentuk bahasa yang mempunyai makna lebih dari satu), homofon (kata yang sama lafalnya dengan dengan kata lain, tetapi berbeda ejaan dan maknananya seperti mosaik dan mozaik), homonim (kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber  yang berlainan seperti hak sepatu, hak manusia), sinonim (bentuk bahasa yang maknanya mirip dengan  atau sama dengan bentuk bahasa lain). Sinonim menimbulkan kesulitan dalam penentuan di indeks istilah mana yang dipilih? Misalnya bilah getar atau lidah getar untuk bidang musik.
Pada Glosarium Teknologi Informasi istilah WWW untuk World Wide Web diterjemahkan menjadi Waring Wera Wunia  dengan singkatan tetap WWW. Dalam sebuah seminar malahan ada yang mengganti WWW dengan JJJ singkatan dari Jaring Jagad Jembar. Kegiatan serupa itu merupakan upaya mencari padanan dalam Bahasa Indonesia dengan tidak mengubah bentuk singkatan aslinya. Di masyarakat, dikenal istilah ATM, dalam bahasa Inggris disebut Automatic Tarnsfer Machine sedangkan dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Anjungan Tunai Mandiri. Di lingkungan perpustakaan dikenal singkatan GMD atau General material description, dalam bahasa Indonesia juga tetap GMD, hanya saja singkatannya berubah menjadi Guratan Materi Deskripsi (Sulistyo, 2005)

6.7. Nomina dan adjektiva.
Tidak semua disiplin ilmu menggunakan pendekatan pembedaan antara adjektiva dengan nomina. Fisika membedakan antara heat dengan hot. Istilah heat diterjemahkan menjadi bahang sedangkan kata hot menjadi panas. Bila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari mungkin lebih jelas seperti kalimat heat transfer dengan hot tea masing-masing menjadi transfer bahang dan teh panas! Bagi orang awam hal ini mungkin membingungkan
Ada bidang yang menggunakan akhiran ~ik, ada yang menggunakan akhiran ~is misalnya kegiatan akademik, ada pula yang menyebutnya kegiatan akademis

6.9. Penulisan nama kitab suci.
Salah satu masalah yang dijumpai penulis menyangkut penulisan sebutan kitab suci. Pada berbagai terbitan, tertulis Alquran (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005), al-Qur'an (Ensiklopedi Islam), al-Quran (IAIN, 1992), ada pula yang menulis AlQuran atau juga AlQur'an. Menghadapi berbagai variasi tulisan semacam itu diperlukan kesepakatan di antara pustakawan. Penulisan nama kitab suci itu juga akan dijumpai pada deskripsi atau katalogisasi.
Pada DDC versi ringkas ditemukan istilah Christianity. Istilah tersebut dapat diterjemahkan menjadi Kristianitas, namun istilah tersebut tidak diketemukan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 3, 2005); akan tetapi istilah Kristianitas dapat ditemukan pada karya Heuken (1993).

6.8.  Soal penentuan kata utama
Walaupun sedikit saja nama yang masuk dalam indeks buku, tetap saja merupakan soal yang perlu dibahas.Kebetulan nama yang muncul dari Indonesia hanyalah nama presiden sejak tahun 1945 sampai sekarang. Dari empat presiden, dua memiliki nama tunggal dan nama tunggal ini tidak menimbulkan masalah. Maka pada indeks DDC Bahasa Indonesia, pembaca dapat menemukan nama Soekarno dan Soeharto. Kedua nama menggunakan ejaan lama untuk huruf oe sebagai pengganti huruf u. Entri selanjutnya menetapkan kata utama pada nama terakhir padahal peraturan tajuk entri utama PNRI (Perpustakaan Nasional, 2005) menentukan pada bagian pertama nama. Juga ada rujukan dari nama yang kurang lazim digunakan ke nama yang digunakan.
Bagi nama dua presiden pertama ada satu kejanggalan yaitu dalam perjalanan hidup mereka, mereka memperoleh nama tambahan yang tidak jelas asal usulnya. Presiden Soekarno sejak awal menggunakan nama Soekarno, namun dalam perjalanan hidupnya ada yang menambahkan kata Ahmad atau Achmed sehingga berubah menjadi Achmad Soekarno. Presiden Soeharto sejak awal menggunakan nama Soeharto namun kemudian mendapat tambahan Muhammad Soeharto.

6.9. Cakupan indeks
Hal ini ditentukan oleh bagan apakah  semua nama yang berkaitan dimasukkan kedalam bagan atau tidak, terutama  yang berkaitan dengan Indonesia dengan anggapan bahwa DDCBahasa Indonesia ditujukan untuk perpustakaan umum, sekolah dan komunitas. Misalnya menyangkut notasi burung pada notasi 598.7 apakah perlu memasukkan beberapa nama burung  dengan sebutan khas Indoensia? Misalnya  raja udang, ranggong, betet kea.  Notasi pada DDC versi singkat tidak lengkap sehingga sering menimbulkan kebingungan manakala ada pertanyaan dari pengguna yang hanya mengenal nama burung dalam istilah lokal. Tahukah pembaca apakah burung raja udang atau pun  burung bekakak dan apa pula burung culik-culik?

6.10. Kepanjangan notasi
DDC versi ringkas menggunakan notasi yang tidak sepanjang versi lengkap. Dengan pertimbangan bahwa Indonersia merupakan negara Islam terbesar di dunia, maka pada DDC versi ringkas dalam Bahasa Indonesia, khusus untuk notasi agama Islam (297) diambil sepenuhnya dari DDC versi lengkap.
Pengambilan notasi 297 dari DDC edisi lengkap, bukannya dari versi Surat Keputusan Bersama dilakukan atas pertimbangan bahwa versi SK Bersama belum pernah direvisi walaupun sudah berusia lebih dari 20 tahun sehingga dikhawatirkan ada notasi yang mengalami perubahan. Versi PNRI yang dibuat pada tahun 2006 bahkan notasinya tidak sesuai dengan DDC edisi 22 sehingga bila digunakan akan menimbulkan kekacauan notasi.
Pengambilan notasi 297 dari DDC versi lengkap membawa imbas bahwa notasi Islam lebih panjang daripada notasi agama lain walaupun menyangkut subjek yang sama. Contoh:

Bacaan devosi 204
Islam  297.382
Sufi  297.438 2
Kristianitas 242

Doa
Islam  297.382 4
Sufi  297.438 24
Kristen  264

Sebaliknya konsep yang sama namun  karena ada istilah khusus dalam agama Islam akan memperoleh notasi sendiri. Contoh
Khalwat  297.382
Zikir  297.382

Adanya dua entri ini akan memudahkan pustakawan dalam temu balik informasi namun ada imbasnya bahwa indeks akan menjadi panjang,
Pada aplikasi di lapangan, kepanjangan notasi akan berdampak terhadap pembuatan nomor  di punggung buku. Bagi madrasah, pesantren serta perpustakaan Islam lainnya yang akan menggunakan DDC versi singkat Bahasa Indonesia, kepanjangan notasi perlu diperhatikan, terutama bertautan dengan penempelan nomor punggung, kartu buku dan kantong buku (bagi perpustakaan yang masih menggunakan sistem sirkulasi manual)

6.11. Sebutan nama geografis
Sedikit banyak pustakawan dipengaruhi oleh penggunaan nama di media massa. Hal serupa juga terjadi pada pemakai. Istilah apakah h yang akan digunakan untuk notasi 993, Selandia Baru ataukah New Zealand? Bila memilih Selandia Baru, pemakai akan memprotes mengapa New York tidak diganti dengan York Baru atau New South Wales diubah menjadi Wales Selatan Baru? Contoh lain ialah Greenland ataukah Pulau Hijau ataukah Grunland?
 
7. Penutup
Apa yang diuraikan di atas merupakan pengalaman dalam menyusun  indeks untuk DDC dalam Bahasa Indonesia. Dan DDC versi ringkas dalam Bahasa Indonesia yang sedang disusun ini menggunakan Dewey Decimal Classification Abridged Version 14th edition, 2004 namun khusus untuk notasi 297 (Agama Islam) menggunakan notasi lengkap dari DDC edisi 22 (2003). Tentu diharapkan masukkan dan saran demi kesempurnaan tulisan ini.

Kata Kunci : Indonesia; Dewey Decimal Classification; Bahasa Indonesia; Abridged edition
Pengarang : Sulistyo-Basuki
Subjek : Klasifikasi desimal Dewey; Buku -- Indeks
Sumber :
Attachment :
  No. Nama File  
Pembuatan Indeks Buku Untuk Dewey Decimal Classification Edisi Ringkas Berdasarkan Kaidah Bahasa Indonesia sebuah catatan.pdf View Download





Unduh dalam bentuk:
     
Berbagi (share) ke teman/sahabat/rekan/keluarga melalui :
 
Pemutakhiran Situs