Abstrak Dan Pengawasan Karya Ilmiah

1.      Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu, media cetak dan elektronik beberapa kali mengulas tentang penjiplakan karya ilmiah dan cara penanggulangannya. Ini sehubungan dengan kasus penjiplakan tesis yang terjadi di salah satu universitas terkemuka. Tanggapan atau ulasan yang muncul di media massa terlihat berbeda-beda sudut pandangnya, namun saling melengkapi.

Kasus penjiplakan karya ilmiah seperti skripsi dan disertasi barangkali sudah sering terjadi baik di lingkungan perguruan tinggi atau institut keilmiahan yang lain, namun kita belum berhasil mengungkapnya.

Sesungguhnya kasus seperti ini biasa terulang kembali pada saat mendatang, yakni apabila tidak dicarikan solusinya yang tepat atau diupayakan pencegahannya sedini mungkin. Untuk mencegah terjadinya penjiplakan karya ilmiah, kiranya perlu diantisipasi dengan sistem pengawasan terhadap penulisan karya ilmiah secara efektif?

Sangat sulit untuk mengawasi karya ilmiah di Indonesia yang begitu banyak ditulis baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di di luar perguruan tinggi. Untuk skripsi saja mungkin sudah jutaan jumlahnya, tesis dan disertasi mungkin sudah puluhan ribu, apalagi untuk karya ilmiah lain. Apabila tidak dilaksanakan secara terpadu dan terprogram, maka mustahil kita akan dapat mengawasinya dengan baik. Akibatnya kasus penjiplakan karya ilmiah akan terus terjadi.

2.      Pencantuman Abstrak dalam Karya Ilmiah

Penulisan karya ilmiah, apakah itu berbentuk skripsi, disertasi, laporan penelitian, makalah, artikel majalah/jurnal ilmiah, atau bentuk lainnya, sesungguhnya mempunyai norma yaitu harus mencantumkan abstrak dari karya ilmiah tersebut. Untuk skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian, biasanya abstrak tersebut akan ditempatkan setelah halaman judul, sedangkan makalah dan artikel majalah/jurnal ilmiah, biasanya abstrak diletakkan setelah atau di bawah judul tulisan.

Menurut Internasional Standard Organization (ISO 214-1976) definisi abstrak adalah uraian singkat tetapi akurat yang mewakili isi dokumen, tanpa tambahan interpretasi atau kritik dan tanpa melihat siapa pembuatnya. Berdasarkan tujuan atau manfaatnya abstrak dibedakan menjadi indikatif, abstrak informatif, abstrak indikatif-informatif, abstrak kritik, abstrak khusus (slanted abstracts), abstrak highlight, dan abstrak statistik.

Selanjutnya ISO menegaskan bahwa abstrak semestinya jangan dikacaukan dengan beberapa istilah yang memang berkaitan tetapi sebenarnya berbeda. Seperti anotasi, ekstrak dan ringkasan atau ikhtisar. Untuk lebih jelasnya, marilah kita perhatikan perbedaan istilah-istilah tersebut.

Anotasi adalah ulasan atau penjelasan singkat mengenai isi dokumen, atau berupa deskripsi singkat yang biasanya ditambahkan sebagai suatu catatan setelah sitasi bibliografi. Anotasi umunya terdiri dari satu atau dua kalimat penting terutama apabila judul dokumen kurang informatif. Ekstrak adalah satu bagian atau lebih dari suatu dokumen yang dipilih untuk menggambarkan isi dokumen. Ekstrak ini dapat berupa kalimat, data, tabel, persamaan atau kutipan yang disusun, dan tidak mencerminkan hasil, kesimpulan, maupun saran suatu dokumen. Adapun ringkasan atau ikhtisar adalah uraian ringkas dari isi dokumen, terutama hasil penemuan dan kesimpulan tanpa mencantumkan tujuan dan metodologi penelitian. Ringkasan biasanya dimaksudkan untuk melengkapi orientasi pembaca. Dari penegasan ISO dapat dipahami bahwa sebenarnya abstrak berbeda dengan anotasi, ekstrak, dan ringkasan/ikhtisar. Pemakaian istilah-istilah tersebut seringkali salah kaprah. Sebagai contoh, sejauh ini masih sering terjadi pada penulisan karya ilmiah, dimana yang dicantumkan adalah ringkasan tulisan dan bukan abstraknya. Meskipun sebenarnya dari segi materi atau isi adalah abstrak, tetapi disebut sebagai ringkasan.

3.      Peranan dan Manfaat Abstrak

Kamariah Tambunan dan Muhartoyo (1993) dalam tulisannya yang berjudul “Buku Panduan Cara Menyusun Sari Karangan” Menyatakan bahwa abstrak sebenarnya telah lama dikenal sebagai salah satu sumber informasi yang efektif dan efisien. Hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya penerbitan majalah abstrak yang pertama sekitar tahun 1850-an sampai saat ini jumlahnya telah mencapai lebih 7.000 jenis. Pada tahun 2000 nanti, bahkan penerbitan abstrak diduga akan mencapai 10.000 atau lebih.

Perkembangan penerbitan abstrak sangat didorong oleh pesatnya perkembangan informasi, seiring dengan lajunya perkembangan ilmu dan teknologi. Adanya perkembangan informasi yang demikian pesat menyebakan informasi yang demikian pesat menyebabkan tidak memungkinkannya seseorang untuk membaca semua terbitan yang ada, dan memang pada kenyataannya tidak semua informasi yang telah terbit akan mereka perlukan. Oleh karena itu, dalam hal ini abstrak sangat berguna untuk menelaah dan menyeleksi informasi mana yang benar-benar diperlukan.

Sebenarnya orang-orang yang selalu berkecimpung dengan karya ilmiah, seperti ilmuwan, peneliti, dosen, dan mahasiswa adalah pengguna sekaligus penghasil abstrak yang potensial. Pada waktu mereka akan menyiapkan karangan ilmiah, mereka memerlukan abstrak untuk memperoleh informasi dengan cepat tentang masalah yang akan ditulis atau diteliti. Selanjutnya setelah karya ilmiah mereka siap cetak, mereka perlu menulis abstrak untuk karya ilmiah tersebut.

Dalam salah satu bukunya yaitu”Teknik dan Jaasa Dokumentasi” Sulistyo Basuki (1992) menyebutkan bahwa fungsi abstrak adalah untuk pemencaran atau penyebaran informasi  (dissemination of information), pemilihan atau seleksi informasi (selection of information), dan untuk temu balik informas (retrieval of information). Berkat kemajuan komputer, kini dapat dibuat abstrak dengan cara menyarikan kata kunci untuk keperluan simpan informasi atau membandingkan istilah tertentu. Dengan cara ini dapat ditemukan pasangan kata kunci yang cocok. Saat ini Perancis bahkan sudah ada program TITUS yang mampu menerjemahkan abstrak sekaligus ke dalam beberapa bahasa, sehingga akan mempermudah informasi.

Beberapa manfaat abstrak antara lain dapat menjadi petunjuk adanya literatur primer memungkinkan pembaca dapat mengetahui isi dokumen secara cepat tanpa membaca dokumen aslinya, menghemat waktu dalam menelusur informasi, dapat digunakan untuk menelusur surut (restropektif), membantu mengatasi masalah bahasa, dan mempermudah penyebaran informasi dan dokumen aslinya. 

Keunggulan abstrak tadi sesungguhnya perlu dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka mengawasi keberadaan karya ilmiah di Indonesia. Untuk itu harus diupayakan adanya kewajiban membuat dan menerbitkan abstrak untuk setiap kelompok karya ilmiah. Apakah itu skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, jurnal ilmiah, dan sebagainya. Salah satu kelemahan yang dilakukan pada penyusunan karya ilmiah di Indonesia adalah belum mapannya mekanisme pengaturan penyususnan dan penerbitan abstrak. Jika mekanisme  ini telah berjalan lancar, maka kemampuan abstrak sebagai “alat kontrol” terhadap penulisan karya ilmiah di Indonesia akan terlaksana. Semua orang yang berkepentingan dengan karya ilmiah dapat saling mengetahui, mengecek, dan mengawasi karya-karya ilmiah yang telah ada di Indonesia. Dengan demikian kasus penjiplakan karya ilmiah tidak mungkin atau dapat dihambat.

Pentingnya abstrak sebagai sarana pengawasan karya ilmiah barangkali sudah tidak dinafikan lagi. Namun diakui atau tidak, pemanfaatan abstrak sesuai dengan peran yang dapat dilakukannya belum optimal diterapkan di Indonesia. Kewajiban membuat abstrak belum diberlakukan secara menyeluruh dan sesuai dengan tujuan penyusunan karya ilmiah. Prosedur penyusunan abstrak yang standar belum diikuti oleh penulisan karya ilmiah, dan ini dimungkinkan karena tidak adanya koordinasi dengan karya ilmiah. Memang untuk melaksanakannya dituntut konsekuensi yang tidak ringan karena menyangkut berbagai hal. Seperti peraturan pembiayaan, koordinasi, dan kesungguhan yang berkelanjutan.

Teknologi penerbitan, telekomunikasi dan informasi telah berkembang demikian pesatnya. Bidang pengelolaan informasi dan dokumentasi juga telah banyak orang yang menekuni di Indonesia. Hampir semua lembaga yang bergerak di bidang keilmuan telah memiliki perpustakaan atau pusat dokumentasi dan informasi. Peluang tersebut semestinya dapat digunakan sebagai dengan sebaik-baiknya sehingga pengawasan karya ilmiah yang efektif dapat terlaksana di Indonesia. Lingkungan perguruan tinggi, institut penelitian dan masyarakat pemakai karya ilmiah tentu sangat berharap terciptanya iklim keilmiahan yang semakin baik. Maka mengapa tidak memanfaatkan peluang yangsudah demikian terbuka dalam rangka meningkatkan “kontrol karya ilmiah” di Indonesia? Sampai kapan kita harus menunggu?