Agenda : Pameran Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional: Sastra Betawi Akhir Abad 19

PAMERAN NASKAH PECENONGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN NASIONAL: SASTRA BETAWI AKHIR ABAD 19

Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 11–20 Juli 2013

Untuk pertama kalinya, 26 karya yang berasal dari 32 jilid naskah Pecenongan koleksi Perpustakaan Nasional akan dipamerkan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 11–20 Juli 2013. Acara ini digagas dan diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional dalam rangka menyambut hari jadi Kota Jakarta. Dari ke-32 naskah, 31 di antaranya merupakan hasil tangan seorang penulis. Ialah Muhammad Bakir, pengarang Betawi paling berbakat pada akhir abad 19. Muhammad Bakir belajar dari Sapirin bin Usman, guru sekaligus pamannya yang, rupanya lebih berbakat dibandingkan keponakannya. Karya-karya mereka menunjukkan sebuah kreativitas yang mengagumkan. Aspek menarik dari karya-karya kedua pengarang yang mahahebat ini adalah: berakar kuat pada nilai-nilai dan tradisi sastra lama, berlatar belakang dunia hikayat yang penuh keajaiban, tetapi sekaligus membangkang dengan gaya kreatif dan jenaka terhadap segala belenggu tradisi lama itu. Simak saja humor ala M. Bakir ketika menceritakan Suwatama yang terbang setelah mencuri sesuatu dari istana Maharaja Garbak Jagat: “Lakunya seperti angin, lebih cepat dari kereta angin yang tempo ada di tanah lapang Gambir pada tahun 1890, serta menuju negeri Ngastina dengan terburu-buru adanya” (Hikayat Maharaja Garbak Jagat, naskah ML 251 hlm. 42).
Naskah koleksi Perpustakaan Nasional yang akan dipamerkan dahulunya berasal dari Taman Bacaan Keluarga Fadli, yang dijual kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Masyarakat Ilmu Pengetahuan Batavia) pada akhir abad 19. Kiranya pewaris Taman Bacaan itu tidak sanggup lagi menyimpannya karena naskah yang biasa disewakan sepi peminat alias tidak laku lagi. Kalau kita melihat daftar karangan yang disusun M. Bakir untuk mengiklankan taman bacaannya dalam berbagai naskah, terdapat lebih dari 70 judul yang pernah disewakan oleh keluarga Fadli, sedangkan yang tersisa kini hanya 43 buah. Melihat jumlahnya saja, dengan membayangkan situasi abad ke 19, koleksi Taman Bacaan Fadli sangat mengagumkan. Situasinya tentu sangat berbeda dengan sekarang di mana Taman Bacaan sekarang dapat memperoleh donatur dari sana-sini. Waktu itu, sebagaimana sering dikeluhkan oleh M. Bakir, kertas sangat mahal, sedangkan ia hanya “tukang ajar anak mengaji di Pecenongan Langgar Tinggi”. Di tengah himpitan ekonomi seperti itu, sulit dibayangkan bahwa Taman Bacaan Fadli bisa eksis selama kurang lebih tigapuluh tahun (1860-1890)!
Selama ini keluarga Fadli hanya dikenal segelintir kaum akademisi saja. Karya-karya yang berasal dari keluarga tersebut banyak yang belum dipublikasikan. Malangnya, kalau pun dipublikasikan, publikasinya sangat terbatas. Inilah kesempatan bagi para peminat dan penikmat sastra serta masyarakat umum yang cinta Jakarta, untuk melihat secara langsung keindahan warisan leluhur Betawi, buah tangan para pengarang berbakat dari keluarga Fadli.
Acara ini akan diisi pula oleh dialog bersama para pakar yang selama ini menekuni naskah dari Pecenongan, antara lain Dr. Dewaki Kramadibrata, M. Hum, Dr. Mujizah, dan Syahrial, M. Hum. Sebuah katalog berilustrasi yang disusun bersama oleh Tim dari Perpustakaan Nasional, Prof. Dr. Henri Chambert Loir, dan Dr. Dewaki Kramadibrata, akan menjadi panduan pengunjung menikmati khazanah naskah Pecenongan yang dipamerkan.
Tidak hanya naskah yang sudah berumur lebih dari 100 tahun, dalam pameran ini akan disajikan berbagai dokumentasi penelitian serta sejumlah litograf dan peta lama yang terkait dengan tema. Sambil ngabuburit menantikan beduk Maghrib, pengunjung dapat menikmati berbagai pertunjukan kesenian khas Betawi dan workshop penulisan naskah.

 
Daftar Judul Karangan yang Dipamerkan
Cerita Fiksi
1. Hikayat Sultan Taburat (1885, 1887, 1893, 1894)
2. Hikayat Merpati Mas (1887)
3. Hikayat Nakhoda Asik (1890)
4. Hikayat Syah Mandewa (1893)
5. Hikayat Syahrul Indra (1893)
6. Sair Siti Zawiyah (1893)
7. Hikayat Indra Bangsawan (1894)
8. Hikayat Begerma Cendera (1888)
9. Seribu Dongeng (?)

Cerita Wayang
10. Hikayat Angkawijaya
11. Hikayat Asal Mulanya Wayang (1889–1890)
12. Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa (1890)
13. Sair Perang Pandawa (1890)
14. Hikayat Agung Sakti (1892)
15. Hikayat Maharaja Garbak Jagat (1892)
16. Lakon Jaka Sukara (1894)
17. Hikayat Sri Rama (1896)
18. Hikayat Wayang Arjuna (1897)
19. Hikayat Purasara (?)

Cerita Panji
20. Hikayat Panji Semirang (1888)
21. Sair Ken Tambuhan (1897)

Cerita Islam
22. Hikayat Syaikh Muhammad Saman (1884)
23. Hikayat Syaikh Abdulkadir Jaelani (1892)
24. Hikayat Nabi Bercukur (1893)

Syair Simbolik
25. Sair Buah-buahan (1896)
26. Sair Sang Kupu-kupu (1993)