Ajaran Catur Budi Dalam Serat Sasanasunu Karya Kyai Yasadipura II

Pendahuluan
Peran dan kedudukan pujangga Yasadipura I dan Yasadipura II dalam sejarah perkembangan kesusasteraan Jawa adalah sangat penting, yakni sebagai tokoh simpul yang dapat menjembatani tradisi sastra Pra-Islam dan perkembangan kesusasteraan Jawa sesudahnya (zaman Islam) yang sempat mengalami stagnasi. Pada kurun waktu akhir abad XVIII hingga awal abad XIX menarik perhatian para pengamat sastra Jawa karena pada kurun waktu itu masyarakat Jawa telah menganut Islam dan karya sastra Jawa Kuna yang bersifat Jawa-Hindhu digubah kembali ke dalam karya sastra Jawa Baru. Karya sastra gubahan kembali yang dikerjakan oleh kedua pujangga tersebut di atas, kebanyakan berupa karya sastra epic yang ada kesejajarannya dengan lakon-lakon wayang. Saat itu wayang, yang disampaikan dengan media pedhalangan dan yang berisi ajaran moral dan sikap hidup populer di kalangan masyarakat. Ajaran moral dan sikap hidup disampaikan dalam bentuk simbol, seperti dalam Serat Wiwaha Jarwa, Serat Bratajuda, Serat Lokapala, Serat Arjuna Sasrabahu, danSerat Rama Jarwa, yang masing-masing merupakan gubahan kembali dari karya sastra Jawa Kuna Arjunawiwaha, Arjunawijaya, Bharata Yuddha, dan Ramayana. Namun, di samping karya sastra epic itu ada juga karya sastra gubahan kembali yang berupa perumusan ajaran moral dan sikap hidup, ialah Serat Darmasunya dan Serat Panitisastra (Sudewa, 1991:2) serta penciptaan karya sastrapiwulang yang baru.

Ajaran Catur Budiyang hendak dikemukakan dalam tulisan ini, merupakan ajaran yang disampaikan oleh Kyai Yasadipura II dalam karyanya yang berjudul: Serat Sasanasunu.Serat Sasanasunu adalah naskah Jawa Baru yang ditulis dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa dalam bentuk puisi Jawa macapat sepanjang 14 pupuh (canto) dengan jumlah bait sebanyak 493. Naskah otograf diciptakan oleh Kyai Yasadipura II pada tahun 1819 (tahun Jawa 1747 dengan candrasengkala: Sapta Catur Swareng Janmi). Serat Sasanasunu merupakan salah satu karya yang diciptakan pada zaman “renaissance” kesusasteraan Jawa (Pigeaud, 1967:7, 108), dan oleh Poerbatjaraka (1957:145-146) karya ini dimasukkan ke dalam kelompok karya zaman Surakarta Awal. Oleh karena itu latarbelakang penciptaan Serat Sasanasunu cukup menarik untuk diperhatikan, sebab merupakan salah satu karya yang dijiwai oleh semangat zaman (zeitgeist).

Ajaran Catur Budi tidak ditemukan pada teks lain selain teks Sasanasunu, yakni pada pupuh (canto) X Sinom, bait 26 s.d 31. Oleh karenanya, ajaran Catur Budi merupakan ajaran yang khas, dan merupakan pemikiran orisinal Yasadipura II yang belum diekspos oleh para peneliti naskah Jawa. Inti isi ajaran Catur Budi ialah ajaran mengenai pembinaan watak atau karakter serta kepribadian.

Latarbelakang Penciptaan Serat Sasanasunu
Di atas telah dikemukakan pentingnya peran dan kedudukan pujangga Yasadipura I dan Yasadipura II dalam sejarah perkembangan kesusasteraan Jawa. Keduanya merupakan tokoh simpul yang menjembatani tradisi sastra Pra-Islam dan perkembangan kesusasteraan Jawa sesudahnya (zaman Islam) yang sempat mengalami stagnasi. Ketika masyarakat Jawa telah menganut Islam, karya sastra Jawa Kuna yang bersifat Jawa-Hindhu digubah kembali ke dalam karya sastra Jawa Baru serta adanya ciptaan baru karya sastra piwulang.

Terdapat perbedaan cakrawala sastra antara kelompok karya sastra gubahan zaman Pra-Surakarta dan karya sastra gubahan zaman Surakarta. Perbedaan itu menyangkut aspek sastra, isi piwulang, dan juga kehidupan rohani yang melatarbelakanginya, antara lain: (1) titik berat ajaran sastra piwulang zaman Pra-Surakarta ada pada segi pengabdian kepada raja dan negara. Ajaran tentang pengabdian ini terdesak ke belakang pada sastra piwulang zaman Surakarta yang mementingkan pembentukan sikap seseorang sebagai pribadi; (2) ibadat syariat Islam tidak mendapat perhatian yang memadai pada sastra Pra-Surakarta, bahkan pada sastra piwulang dari zaman ini berkembang pemikiran tasawuf. Sebaliknya, di dalam sastra piwulang zaman Surakarta ibadat syariat ditekankan dengan jelas dan tegas, dan pemikiran tasawuf tanpa landasan hukum syariat ditentang (Sudewa, 1991: 243-244).

Perbedaan gubahan zaman Pra-Surakarta dan karya sastra gubahan zaman Surakartaitu terkait dengan cakrawala kehidupan masyarakat pada zaman itu. Dari sejarah pembentukan kekuasaan Mataram tampak bahwa pada zaman Pra-Surakarta pusat kerajaan berganti-ganti melalui serangkaian peperangan, sehingga di dalam konteks masyarakat yang demikian itu karya sastra yang berisi petunjuk cara mengabdi berfungsi menjadi salah satu jalan untuk mempersatukan kekuatan masyarakat di bawah naungan kerajaan. Cakrawala pembentukan kekuasaan kerajaan yang tercermin pada sastra piwulang zaman Pra-Surakarta kemudian bergeser ke cakrawala pembentukan pribadi yang ideal pada sastra piwulang zaman Surakarta. Serat Sasanasunu yang diciptakan pada zaman Surakarta, merupakan salah satu sastra piwulang dalam kerangka pembentukan pribadi yang ideal itu.

Pada zaman Serat Sasanasunu diciptakan, Kerajaan Jawa sedang mengalami krisis nilai sosial budaya. Menurut Sartono Kartodirdjo (1987:16), krisis nilai itu disebabkan oleh masuknya unsur-unsur peradaban Barat ke istana-istana kerajaan Jawa pada permulaan abad ke-19 sebagai akibat semakin intensifnya pergaulan para bangsawan dengan orang-orang Eropa (Belanda). Akibatnya di istana-istana itu timbul gejala krisis dalam kehidupan kaum bangsawan. Norma-norma dan nilai-nilai tradisional bergeser dan mengalami erosi.

Terjadinya krisis ini mendorong pujangga-pujangga istana (termasuk Yasadipura II) yang pada waktu itu menjadi kelompok intelektual istana berusaha untuk mengatasi krisis itu dengan menulis serat-serat (kitab-kitab) yang berisi pendidikan moral, bahkan raja sendiri ikut menulis, seperti Sunan Pakubuwana IV (1788 – 1820). Kitab-kitab itu diharapkan dapat menjadi pegangan hidup dengan tujuan melestarikan norma-norma dan nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang atau setidak-tidaknya untuk menjaga agar perubahan norma-norma atau nilai-nilai itu tidak menurunkan harkat dan martabat istana. Pujangga-pujangga istana itu menggubah karangan-karangan yang diambil dari tulisan-tulisan kuna yang berisi pendidikan moral. Oleh karena itu, tidak aneh jikalau Serat Sasanasunu sebagai salah satu karya yang diciptakan pada zaman itu (awal abad ke-19) isinya penuh dengan ajaran moral dan etika.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penciptaan Serat Sasanasunu memang dijiwai oleh semangat zamannya (zeitgeist), yakni semangat untuk memelihara, mempertahankan, dan melestarikan norma-norma dan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang yang pada zaman Pemerintahan Kolonial mengalami pergeseran dan erosi.Serat Sasanasunu dilihat dari segi isi dan semangat zamannya dapat dikatakan pula sebagai wacana sastra resistensial.

Ajaran Catur Budi
Ajaran Catur Budidalam Serat Sasanasunu terdapat pada pupuh (canto) X Sinom, bait 26 s.d. 31 seperti di bawah ini.

Berdasarkan teks tersebut di atas, menurut wawasan Kyai Yasadipura II, watak atau kepribadian yang baik dan ideal apabila orang dapat menyatukan empat unsur dari watak priyayi, santri, petani dan saudagar. Priyayi, santri, petani dan saudagar digunakan oleh Kyai Yasadipura II sebagai symbol atau lambang sifat-sifat perwatakan. Priyayi digunakan untuk menggambarkan orang yang beradab, tahu tata krama, sopan santun, baik dalam hal bicara, bertingkahlaku maupun dalam berpakaian. Suka menolong, dapat menjadi pemimpin dan berpengetahuan luas serta berjiwa perwira. Santri digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat perwatakan jujur, berhati suci, tidak suka menggunjing dan mempersoalkan perkara sepele, pemaaf, ikhlas dalam menerima kenyataan dan senantiasa bersyukur kepada Allah apapun yang di alami dan apapun yang menimpanya. Petani digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat orang yang memiliki ketekunan, tidak gampang mengeluh, rajin, bersungguh-sungguh dalam bekerja, baik ringan ataupun yang berat. Tidak memiliki rasa iri hati, disiplin, tidak suka menunda-nunda pekerjaan, tidak sombong, berani menanggung resiko dan bertanggungjawab. Saudagar atau pedagang digunakan untuk melukiskan orang yang memiliki sifat penuh perhitungan, hemat, hati-hati, dalam melangkah senantiasa mempertimbangkan segala sesuatunya secara matang sisi untung-ruginya, dan resiko-resikonya.

Dengan demikian, apa yang dikemukakan oleh Kyai Yasadipura II mengenai pembinaan watak yang baik dan ideal adalah watak atau kepribadian yang merefleksikan konfigurasi perwatakan priyayi, santri, petani dan saudagar secara harmonis atau seimbang dalam kejiwaan seseorang. Dalam hal ini Sang Pujangga menyerap dan mengambil nilai-nilai yang positif dari etos priyayi, etos santri, etos petani, dan etos saudagar. Apabila ajaran Catur Budi yang dikemukakan oleh Kyai Yasadipura II dipandang sebagai sebuah teori kepribadian, atau sebagai upaya character building, persoalannya adalah apakah teori tersebut mudah diimplementasikan? Saya ingat ungkapan keseharian dalam masyarakat kita, yang menyatakan bahwa “watuk iku gampang tambanane tinimbang watak”,“mengubah watak seseorang itu jauh lebih sulit daripada menyembuhkan sakit batuk. Ungkapan itu memang benar, akan tetapi sulit itu tidak berarti tidak bisa. Ajaran Catur Budipenting untuk diperhatikan dan dimplementasikan dengan latihan-latihan, dan pembiasaan-pembiasaan keseharian, karena kumpulan kebiasaan akan menjadi sebuah karakter.

Dilihat dari segi model penyampaian ajaran Catur Buditersebut di atas, yakni dengan model simbolisme, sesungguhnya merupakan model yang tidak baru. Model ajaran dengan menggunakan symbol atau lambang memang lazim dalam tradisi Jawa, yakni model seperti dalam ajaran Hastabrata, pewayangan, Serat Centhini, dan lain sebagainya. Kepemimpinan yang ideal digambarkan dalam Hastabrata dengan mengambil perwatakan delapan dewa. Figur atau tokoh-tokoh wayang oleh tradisi Jawa dianggap menggambarkan watak-watak manusia. Dalam Serat Centhini citra wanita digambarkan dengan symbol lima (5) jari tangan: jempol (ibu jari), telunjuk, jari tengah (panunggul), jari manis dan jenthik ( kelingking). Namun dilihat dari isi ajarannya, adalah sesuatu yang baru, orisinal dan hasil kreatifitas Kyai Yasadipura II.

Kesimpulan dan Makna Ajaran Catur Budi
Ajaran Catur Budi yang dikemukakan oleh Pujangga Yasadipura II, merupakan ajaran untuk pembentukan watak kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai positip dari etos priyayi, etos santri, etos petani dan etos saudagar secara integratif. Yang menarik di sini adalah bahwa Yasadipura II, tidak memandang rendah dan negative dari sosok saudagar/pedagang yang pada zaman itu lazimnya tidak merupakan sosok idola bagi masyarakat Jawa. Yasadipura II mampu melihat sisi-sisi positif dari etos saudagar/pedagang.

Dilihat dari segi zaman atau konteks sosio-budaya ketika ajaran Catur Budiini dikemukakan dalam Serat Sasanasunu, memiliki relevansi dan makna, yakni sebagai upaya character building bagi generasi muda yang hidup dalam situasi perubahan social akibat penetrasi budaya Barat yang dibawa oleh orang-orang Eropa di istana-istana kerajaan Jawa pada zaman pemerintahan Kolonial. Dari ajaran Catur Budi tersebut terbesit harapan Sang Pujangga agar generasi muda memiliki pribadi yang cerdas atau pandai, memiliki wawasan yang luas, berjiwa jujur, bersih, memiliki iman yang kuat, tekun dan ulet, tangguh, dan penuh perhitungan dalam menjalani kehidupan agar tidak mudah tertipu, terhasut oleh hal-hal yang negative yang merugikan kehidupannya.

Tampaknya, apa yang diajarkan oleh Sang Pujangga Yasadipura II beserta harapan-harapannya masih aktual dan relevan bagi upaya character building generasi muda masa kini di tengah zaman yang dilanda banjir bandang globalisasi dan derajad kecepatan perubahan sosial yang tinggi akibat kemajuan teknologi media komunikasi dan kapitalisme industri. Diharapkan agar generasi muda kita tidak saja cerdas dan pandai, tapi juga memiliki ketahanan hati, ulet, tangguh dan penuh perhitungan dan santun dalam menghadapi kompetisi dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu keharusan dalam era global ini dan apa yang terkandung dalam ajaran Catur Budidapat dijadikan referensi serta merupakan sebuah tawaran alternatif kualitas nilai kepribadian dari Sang Pujangga.

DAFTAR PUSTAKA
Etzioni, Amitai, at all (editor). 1973. Social Change: Sources, Patterns, and Consequences. New York: Basic Books, Inc.

Mattulada. 1985. “mentalitas dan Ciri-ciri Kepribadian Bangsa Indonesia” dalam Budaya dan Manusia Indonesia. Malang: YP2LPM-Hanindita

Pigeaud, Th. 1967. 1968. Litterature of Java. Jilid I dan II. Leiden: The Hague Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, RM.Ng. 1957. Kapustakan Jawi. Jakarta: Djambatan

Sartono Kartodirdjo. 1984. Modern Indonesia. Tradition & Transformation. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

_____. 1987. Beberapa Segi Etika dan Etiket Jawa. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Bagian Jawa.

Sudewa. A. 1991. Serat Panitisastra. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

Serat Sasanasunu, Naskah Nomor BG 253, Tahun Penyalinan 2 Februari 1856. Koleksi Perpustakaan RI.