Babad Giyanti: Sumber Sejarah dan Karya Agung Sastra Jawa

Babad Giyanti dan Isinya

Di antara ribuan karya sastra Jawa, jenis babad sangat mengesankan. Ratusan babad menceritakan perkembangan historis dan mistis di dalam masyarakat Jawa, biasanya terfokus kepada lingkungan kraton. Babad-babad itu sering terdiri dari ratusan halaman dalam tembang.  Antara buku-buku babad itu, ada yang isinya tidak bisa diandalkan sebagai sumber sejarah sama sekali, akan tetapi masih berfaedah sebagai pintu masuk untuk dunia pikiran sang penulis dan lingkungannya. Ada lagi yang bisa dibandingkan dengan sumber-sumber lain (surat-surat, kontrak-kontrak, laporan dari Belanda, dsbg) dan jelas merupakan (a) sumber yang isinya bisa dimanfaatkan untuk pengetahuan kita mengenai kejadian sejarah (asal dengan pendekatan kritis, sama dengan semua sumber lain) dan (b) sumber yang lebih menjelaskan pengertian dan sikap pihak Jawa daripada semua sumber asing. Akan tetapi, juga ada beberapa kesulitan mengenai babad-babad itu sebagai sumber sejarah, yang paling penting di antaranya adalah bahwa buku-buku itu biasanya anonim yaitu nama sang penulis tidak disebutkan dan oleh karena itu, konteks sosial babad itu tidak diketahui dan waktu penulisannya tidak selalu dicatat. Jadi pendekatan historis-kritis kadang-kadang agak sulit.

Menurut saya, buku babad yang paling hebat adalah Babad Giyanti, yang rupanya ditulis pada paruh kedua abad ke-18. Buku ini menceritakan sejarah Jawa dari runtuhnya Kraton Kartasura pada tahun 1742 dan kembalinya Susuhunan Pakubuwana II kepada kratonnya pada akhir tahun itu, sampai  akhir perang saudara (Perang Suksesi Jawa III) pada tahun 1757 dan kunjungan Natakusuma atau Pangeran Juru ke Surakarta pada tahun 1758.

Buku itu dikeluarkan dalam 21 jilid kecil oleh penerbit pemerintah kolonial Bale Pustaka pada tahun 1937-9.  Bahasa Jawanya sangat bagus. Beberapa kutipan bisa mencontohkan keunggulan literernya.

Pembukaan Babad Giyanti memanfaatkan kata-kata dan ekspresi yang sulit untuk diterjemahkan, suatu kebiasaan dalam bait-bait awal karya sastra Jawa pramodern. Dalam bait-bait itu, para penulis sering memperlihatkan keahliannya dalam penguasaan kosakata yang bagus. Kutipan ini juga menjelaskan harapan dan tujuan Sang Penulis Babad Giyanti:

Mamanise tyas resep migati            
Ing pangulah mring reh karsarjanan
Anetepi ing ugere
Jenengireng tumuwuh
Sinung tengran budi mumpuni
Dera Sang Amurwengrat
Ngumala sumunu
Tumrap ing jagad lir surya
Nyunyunari niskara sesining bumi
Kang nyata lan kang samar.

Manis kalau hatinya menikmati  berhasil
Dalam mengerjakan semua bentuk kesarjanaan,
Menetapkan  pegangan-pegangan
Kehidupan yang diciptakan,
Dikasih tanda budi yang mumpuni
Oleh Sang Pencipta Alam,
Seperti ratna yang menyoroti
Semua pelosok dunia, seperti sang surya,
Menerangkan semua isi dunia ini
Yang nyata dan yang samar.

Mengenai kejadian-kejadian dan kegiatian-kegiatan agung dalam lingkungan kraton, Babad Giyanti  juga menunjukkan keunggulannya. Misalnya perpindahan kraton dari Kartasura yang rusak sampai Surakarta yang baru pada tanggal 9 Februari 1746:

Wusnya samekta salir piranti
Sri Narendra lawan prameswara
Putra-putri sadayane
Ngrasuk busana luhung
Kang pinatik ing sosotyadi
Sorote pindha laban
Sisir ing sumunu
Dahat lengeng sinatmata
Atanapi badhaya manggung myang srimpi
Was maharjeng busana
….
Wong Kumpeni pepakan anangkil
Ambelabar aneng pagelaran
Santana Pangeran andher
Basahan agemipun
Lir panjrah ing kang puspitadi
Sing pelag ing busana
Wau Sang Aprabu
Lan prameswari Narendra
Miyos saking kadatyan tedhak sitinggil
Ingayap pra biyada

Sigra jengkar saking Kartawani
Ngalih kadhaton mring dhusun Sala
Kebut sawadya-balane
Busekan sapraja gung
Pinengetan angkate nguni
Anuju ari Buda
Enjing wancinipun
Wimbaning lek ping sapta wlas
Sura Eje kombuling pudya kapyarsi
Ing nata kang sangkala

Semua keperluan sudah siap,
Sang Raja dan permaisurinya
Dan semua putra dan putri
Mengenakan busana bagus
Dihiaskan dengan ratna adi
Yang kegemilangannya mirip danau,
Menyorot secara sipi.
Sangat menakjubkan kalau dilihat.
Ada juga penari badhaya dan srimpi menghadap,
Sudah sangat bagus busananya.
….
Orang Kumpeni semuanya menangkil,
Berbaris di gedung Pagelaran.
Keluarga raja dan pangeran-pangeran  hadir
Berpakaian resmi,
Seperti bunga-bunga tersebar
Dari keindahan busanannya .
Nah, Sang Raja
Bersama permaisuri Raja
Berarak dari kraton mendatangi Sitinggil,
Didampingi oleh para pelayan perempuan.

Dengan cepat mereka meninggalkan Kartasura
Dan pindah kraton ke Dusun Sala,
Bersama dengan semua prajuritnya
Keributan negara semuanya
Perpindahan itu tercatat
Pada hari Rabu
Pada pagi hari
Tanggal tujuh belas
Bulan Sura, tahun Je [seharusnya Dal], kombul
Ing kapyarsi
Ing nata [1671] sengkalanya.  [9 Februari 1746]

Tentu saja, banyak peperangan digambarkan dalam Babad Giyanti, sering dengan detail yang menarik. Misalnya tahun  1748, Pangeran Mangkunagara – pada waktu masih memberontak –   menerima surat dari seorang pangeran lain yang juga memberontak terhadap Kraton Surakarta dan Kumpeni Belanda.  Pangeran lain itu membesar-besarkan diri dan mengambil gelar Sultan Dhandhun, yang dipandang rendah sekali oleh Pangeran Mangkunagara. Mangkunagara sangat marah dan memandang Sultan Dhandhun itu sebagai seorang yang sebetulnya tidak berani berperang. ‘Nadyan ibu iya Nyai Rara Kidul, yen nora wani prang, sapa kang ngandel tut wuri’ (‘Seandainya ibunya Nyai Rara Kidul, kalau tidak berani berperang, siapa yang akan ikut dibelakangnya?’) tanya Pangeran Mangkunagara.  Kalau para prajurit Jawa berangkat ke medan perang, sering diikuti oleh musik gamelan. Misalnya, Bupatine sami bekta kodhok ngorek cara Bali, gala ganjur inggih kathah (Bupatinya  semuanya membawa gamelan  Kodhok Ngorek dan Cara Bali, serdadu Gala Ganjurnya banyak).

Sebagai Sumber Sejarah

Pertanyaan penting adalah apakah Babad Giyanti itu boleh diandalkan sebagai sumber pengetahuan kita tentang sejarah yang sungguh terjadi?  Harus digarisbawahi bahwa semua sumber sejarah – dari waktu apapun, dalam bahasa apapun dan dari lingkungan sosial-budaya apapun – harus didekati secara kritis. Semuanya ada kekurangannya di samping manfaatnya. Mengenai sejarah Jawa pada abad ke-18, hampir semua sumber-sumber yang  masih ada berasal dari pihak Jawa atau dari fihak ….. Kedua-duanya bisa salah mengerti apa yang terjadi, melaporkan sesuatu yang keliru (kadang-kadang juga dengan sengaja), atau tidak mencatat sama sekali sesuatu yang penting. Antara pejabat Kumpeni , pujangga Jawa, dan tokoh-tokoh lain dari kedua belah pihak cukup banyak yang kurang jujur atau kurang pandai.  Cara utama para sejarawan untuk menilai apakah sesuatu bisa dimanfaatkan untuk merekonstruksi sejarah adalah membandingkan sebanyak mungkin sumber-sumber, supaya bisa diketahui apakah sumber-sumber itu membetulkan informasinya satu sama lain.

Babad Giyanti jauh lebih mendetail bercerita mengenai kejadian intern dalam lingkungan Jawa dan jauh lebih dekat kepada lingkungan itu dibandingkan sumber-sumber Belanda. Oleh karena itu cukup banyak dalam babad itu tidak bisa dicek dengan sumber-sumber Kumpeni, walaupun agak sering bisa dibandingkan dengan babad lain. Berdasarkan pengalaman saya, Babad Giyanti jelas termasuk sumber-sumber sejarah Jawa yang paling bisa diandalkan, baik antara sumber-sumber Jawa maupun antara sumber-sumber Belanda.  Pasti ada kesalahan di dalam 21 jilidnya, karena harus ada kesalahan dalam semua  sumber yang sebesar itu. Akan tetapi, sampai sekarang saya belum ketemu kesalahan yang nyata dalam Babad Giyanti.   Buku raksasa ini tentu saja punya pendekatan dan kecenderungan sendiri, seperti semua sumber. Misalnya, sudah jelas bahwa Babad Giyanti ditulis oleh seorang yang mengagumi Pangeran Mangkubumi / Sultan Yogyakarta Hamengkubuwana I (bertakhta 1749-92), sedangkan sumber-sumber lain lebih memfokuskan simpatinya terhadap tokoh-tokoh lain.  Kita harus tetap sadar mengenai bias semacam itu. Namun demikian, Babad Giyanti tetap merupakan buku sejarah yang amat penting.

Periode Penting

Sejarah Jawa dari 1742 sampai 1758 merupakan periode penting dan menentukan baik dalam sejarah Jawa maupun sejarah kepulauan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, buku Babad Giyanti semakin penting sebagai kunci pokok kita untuk menelusuri dan memahami sejarah itu.

Dalam 1742, Kraton Kartasura dua kali diruntuhkan, pertama oleh para pemberontak Cina yang pemimpinnya adalah Sunan Kuning dan oleh tentara dari Madura. sesudah kelompok Cina diusir dari sana. Baru pada akhir tahun itu Sunan Pakubuwana II dibolehkan pulang ke kratonnya, dengan dukungan dari VOC.  Sesudah itu, tentu saja ada banyak alasan untuk meninggalkan kraton lama yang jelas sial itu.  kraton baru di Surakarta lalu didirikan, sesudah beberapa ramalan dan pertimbangan mistis diperhatikan.

Pada waktu itu masih ada beberapa pangeran dalam pemberontakan yang berkelana di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di antaranya Mas Said yang kelak menjadi Pangeran Mangkunagara I (1757-95). Pangeran yang paling berpengaruh yaitu Pangeran Mangkubumi, yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta (1749-92) –  yang kadang-kadang rupanya memberontak akan tetapi kadang-kadang di kraton, sehingga peranannya pada waktu itu agak kabur. Misalnya, pengikut Pangeran Mangkubumi main peranan dalam mendirikan gedung-gedung baru di Surakarta, menurut Babad Tanah Jawi dari Kraton Surakarta sendiri.

Satu krisis besar muncul pada tahun 1746 waktu Gubernur Jenderal VOC G.W. Baron von Imhoff (1743-50) berkunjung ke Surakarta. Inilah pertama kali seorang Gubernur Jenderal muncul sendiri di pusat kerajaan Jawa, tempat di mana dia dianggap sebagai sekutu senior (yang dipanggil eyang, yaitu kakek) tetapi bukan sebagai  tokoh yang berhak untuk memerintahi kerajaan itu. Von Imhoff adalah sosok yang amat otoriter tetapi sama sekali tanpa pengertian mengenai persekongkolan-persekongkolan dan intrik-intrik dalam lingkungan kraton. Dia terlibat dalam perselisihan antara Pangeran Mangkubumi dan Kepala Administrasi kraton Patih Pringgalaya (1742-55), sehingga Mangkubumi sangat terhina oleh sang Gubernur Jendral itu.

Apalagi ada isu prinsip yang amat penting. VOC ingin menyewa seluruh pasisir utara Jawa atas ongkos rendah. Von Imhoff membujuk dan mendorong Pakubuwana II sehingga sang raja itu menyerah, tanpa berunding dengan para penasihat di dalam kraton.  Pangeran Mangkubumi bersama dengan tokoh-tokoh lain berseberangan dengan keputusan itu.

Babad Giyanti menggambarkan suasana yang tegang dalam kraton pada saat itu:

Sang Nata alon ngandika
Wruhanira Mangkubumi
Yen praptane kaki Jendral
Minta anggadhuh pasisir
Sun yayi was marengi
Kumpeni pamitanipun
Wit kapengkok wicara
Jeng Pangeran matur aris
Dhuh Pukulun dene ta boten kadosa

Punapa tan kaengetan
Lamun jeneng ing Narpati
Mung darma mengku kewala
Bangbang lumalum ing nagri
Yekti wonten papatih
Nayaka para tumenggung
Tuwin para sentana
Punika kang darbe wajib
Amasesa angalangna angujurna

Inggih dereng wonten adat
Ratu papadon pribadi
Sang Nata alon ngandika
Iya bener sira yayi
Nanging sun duk papanggih
Minta sareh datan antuk.

Baginda berkata pelan,
‘Ketahuilah, Mangkubumi,
Bahwa eyang [Gubernur-]Jendral telah tiba
Meminta menyewa pasisir.
Aku, Dinda, telah menyetujui
Permintaan Kompeni karena
Aku tersudut pembicaraan.’
Kangjeng Pangeran berkata lembut,
‘Duh, Paduka, tidak sepatutnya.

‘Apakah tidak ingat
Bahwa peran Raja
Hanyalah bertakhta saja.
Baik-buruknya negara
Sebenarnya berada pada patih,
Nayaka dan para tumenggung,
Serta para kerabat.
Merekalah yang berkewajiban
Menggunakan kekuasaan melaksanakan pemerintahan.’

‘Sungguh belum ada adatnya
Raja berunding secara pribadi.’
Sang Prabu berkata pelan,
‘Benarlah engkau Dinda,
Tetapi ketika aku dalam pertemuan [dengan Gubernur-Jendral]
Aku meminta tangguh, tidaklah diberi.’

Dalam keadaan sedemikian, Pangeran Mangkubumi berkeputusan untuk memberontak. Pada tanggal 19 Mei 1746 Mangkubumi meninggalkan kraton. Dengan demikian berkobarlah Perang Suksesi Jawa III, topik pokok dalam Babad Giyanti. Mangkubumi bersekutu dengan Mas Said dan mereka merupakan ancaman yang sangat besar terhadap kraton Surakarta dan juga pihak Kumpeni. Pemberontakan mereka tidak bisa diredam. Pada akhir perang itu di tahun 1750an, Kumpeni Belanda sudah hampir bankrut dan sisa kekuasaannya sebetulnya  hampa.

Pada tahu 1749, di tengah periode perang itu, Pakubuwana II jatuh sakit dan menghadapi ajalnya. kratonnya dikelilingi  oleh pemberontakan dan penuh dengan intrik-intrik intern di dalamnya. Jadi, sang raja memanggil seorang Belandalah yang dipercayainya, Johan Andries Baron von Hohendorff, dan mengusulkan supaya Von Hohendorff mengambil alih kekuasaan di kraton untuk sementara, sehingga Pakubuwana II wafat dan anak sang raja itu bisa naik takhta sebagai penggantinya.  Von Hohendorff pada permulaannya terkejut tetapi akhirnya setuju. Dia mengusulkan kembali supaya itu sebaiknya diresmikan dalam satu kontrak. Pakubuwana II setuju dan perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 11 Desember 1749. Menurut kontrak itu, kerajaan Mataram menjadi milik Kumpeni Belanda. Akan tetapi, jelas sekali bahwa maksud Pakubuwana II adalah penyerahan sementara saja. Namun demikian, perjanjian 1749 itu kelak dimanfaatkan oleh pikah Erupa sebagai dasar legal untuk resim kolonial pada awal abad ke-19. Pada paruh kedua abad ke-18, pihak Kumpeni begitu lemah sehingga ‘haknya’ atas kerajaan Jawa itu sama sekali tidak bisa diimplementasikan.

Pada tanggal 12 Desember 1749 (= tanggal 1 Sura, Tahun Jawa 1675) terjadilah perkembangan lain yang lebih menentukan: Mangkubumi dideklarasikan sebagai raja di daerah Yogya (yang nanti menjadi pusat kerajaannya dengan nama Yogyakarta Adiningrat). Pada saat itu, judulnya adalah Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga  Ngabdurahman Sayidin Panatagama .  Menurut Babad Giyanti , Suhunan baru itu:

Ingkang tuhu Narendra
Mandhireng amengku
Talatah ing nuswa Jawa.
Yang sejati raja
Bertakhta memerintah
Wilayah pulau Jawa.

Di Surakarta, raja baru Pakubuwana III (1749-88) harus menghadapi pemberontakan yang semacam parah.  Malah, pada tahun 1753 putra mahkota Surakarta pun meninggalkan kraton dan bergabung dengan para pemberontak.  Jelas bahwa pemberontakan itu tidak bisa ditumpaskan. Akan tetapi, juga jelas bahwa, selama pihak VOC masih membela Pakuwana III, sang raja itu tidak bisa disingkirkan dari takhtahnya.  Jadi, tak satu pun pihak yang dapat memperoleh kemenangan akhir.  Pada tahun 1752 timbullah perpecahan antara Pangeran Mangkubumi dan Mas Said. Sesudah itu, Mangkubumi lebih cenderung untuk mencari penyelesaian melalui negosiasi dengan pihak Kumpeni (pihak kraton Surakarta diabaikan). VOC  sendiri mengakui bahwa tidak anda kemungkinan untuk megalahkan para pemberontak; dalam situasi itu, dan sedang menghadapi kebankrutan, Kumpeni juga berkeputusan untuk mencari jalan keluar melalui perundingan.

Pada tahun 1754, kontak-kontak diplomasi pertama mulai antara Mangkubumi dan VOC.   Mangkubumi memintah sebagian dari tanah Jawa sebagai kerajaannya.  Kebijksanaan Kumpeni sejak abad yang lalu adalah untuk membela kesatuan kerajaan Jawa di bawah seorang raja tunggal yang sudi untuk berkooperasi dengannya. Akan tetapi, dalam keadaan Jawa pada pertengahan abad ke-18 , pendekatan itu harus dilepaskan. VOC harus mengakui bahwa kebijaksanaannya lama tidak bisa dilaksanakan lagi, kesatuan kerajaan Jawa tidak lagi bisa dibela dan kerajaan itu harus dibagi antara dua kraton. Apalagi, musuh yang paling kuat yang mereka pernah hadapi – yaitu Mangkubumi – harus didamaikan dengan separuh dari tanah Jawa.

Di desa Giyanti, pada kaki Gunung Lawu, sebelah tenggara Surakarta, utusan VOC Nicolaas Hartingh berjumpa dengan Mangkubumi dan setuju atas pembagian kerajaan Jawa antara Pakubuwana III dan Mangkubumi. Perjanjian Giyanti itu ditandatangani pada tanggal 13 Pebruari 1755. Sesudah itu, Mangkubumi pindah ke Yogya dan mendirikan kratonnya Yogyakarta Adiningrat (yang diduduki secara resmi pada tahun 1756). Mangkubumi sekarang menjadi Sultan Hamengkubuwana I. Pakubuwana III tidak ada pilihan lain daripada setuju atas solusi itu. Dua tahun susudah itu, pada tahu 1757, perdamain antara pihak Surakarta/VOC dan Mas Said juga tercapai. Mas Said diakui sebagai Pangeran Mangkunagara I (1757-95) dan diberikan sebagian dari tanah Surakarta.

Akhirnya perang saudara itu selesai. Akibatnya penting. Pada waktu itu, pihak Eropa sangat lemah dan oleh karena itu kerajaan-kerajaan Jawa bisa berkembang. Yogyakarta di bawah Sultan Mangkubumi masuk masa jayannya dan merupakan kerajaan Jawa yang paling kuat sejak jaman Sultan Agung lebih dari satu abad sebelumnya. Akan tetapi kerajaan Jawa dibagi dua dan kedua belah pihak cenderung untuk mengaggap satu  sama lain sebagai musuh utama. Oleh karena itu, pada awal abad ke-19, waktu kolonialisme Eropa sekonyong-konyong betul-betul mengancam masyarakat Jawa, tidaklah mungkin bahwa elit Jawa bersatu untuk menentangnya.

Demikianlah sejarah yang amat penting yang diceritakan dalam buku Babad Giyanti itu.

Penulisnya

Siapakah yang menulis buku penting itu? Pada umumnya, ahli sejarah dan kesusastraan Jawa berpendapat bahwa pujangga terkenal Yasadipura I (1729-1803) adalah penulisnya. Edisi Bale Pustaka memang medeskripsikan Babad Giyanti sebagai anggitanipun Raden Ngabehi Yasadipura I ing Surakarta (ciptaan R.Ng. Yasadipura I dari Surakarta). Akan tetapi, ada keraguan mengenai kegiatan Yasadipurat I selaku pujongga.

Ada tiga daftar karangan-karangan Yasadipura I yang, nota bene, tidak setuju satu sama lain. Yang paling tua terdapat dalam buku dialog-dialog Jawa yang diciptakan oleh C. F. Winter Sr (1799-1859).   Satu lagi daftar berada dalam buku yang disusun oleh para keturunan Yasadipura I dan dikeluarkan pada tahun 1939.  Yang ketiga adalah di buku Poerbatjaraka yang terkenal, Kapustakan Djawi.  Informasi mengenai kegiatan Yasadipura I yang berasal dari jaman kehidupannya sendiri sama sekali tidak ada.

Kalau kita menguji silang daftar-daftar itu, sudah jelas bahwa beberapa buku yang dianggap berasal dari tangan Yasadipura I tidak mungkin ditulis olehnya. Paling sedikit enam dari buku-buku itu bisa ditolak atau paling sedikit diragukan sebagai tulisan Yasadipura I: Tajusalatin, Menak, Iskandar, Sewaka, Arjunawiwaha jarwa  dan Cabolek.

Hanya ada satu buku yang didaftarkan dalam ketiga-tiganya daftar itu dan itulah memang Babad Giyanti. Jadi apakah sudah bisa diterima bahwa Yasadipura I betul-betulan penulis Babad Giyanti?  Dalam rangka keraguan dan ketidakmungkinan mengenai beberapa buku yang pernah dianggap ditulis oleh Yasadipura I, kita boleh berpendapat bahwa Yasadupa I barangkali menciptakan Babad Giyanti. Akan tetapi keniscayaan yang 100% tidaklah mungkin.

Babon Induk
Naskah mana yang merupakan babon induk edisi Bale Pustaka itu? Sampai sekarang jawabannya tidaklah jelas, tapi menurut saya misteri itu akhirnya bisa dijelaskan. Kita harus kembali kepada sejarah studi bahasa dan sastra Jawa oleh tokoh-tokon Belanda pada abad ke-19.

Rupanya begini:   J.F.C. Gericke (1799-1857), seorang German, dikirimkan oleh Nederlands Bijbelgenootschap ke Batavia pada tahun 1827 dan tinggal disitu sampai wafatnya. Dia dikenal sebagai seorang yang terkemuka antara  para ahli Bahasa Jawa yang paling awal dari Eropa. Gericke menjabat sebagai Direktur pertama di Het Javaansch Instituut di Surakarta yang didirkan pada tahun 1832 untuk mengajar Bahasa Jawa kepada pegawai negeri kolonial Belanda. Hasil Instituut itu hanya sedikit dan Gericke mundur dari tugasnya. Sesudah itu, dia memusaktkan perhatiannya kepada terjemahan Kitab Suci Kristen kedalam Bahasa Jawa.  Dia juga menyusun kamus Jawa-Belanda yang pertama, yang disempurnakan dan ditambahkan oleh tokoh terkenal lain, T. Roorda.

Waktu di Jawa, Gericke memperoleh naskah Babad Giyanti yang terdiri dari 6 jilid besar. Jilid 2-6 kelak masuk koleksi Nederlands Bijbelgenootschap di Amsterdam, yang akhirnya dipindahkan kepada perpustakaan Universitas Leiden pada awal abad ke-20. Naskah itu dideskripsikan dalam katalogus Pigeaud sebagai NBS 29-33, sedangkan NBS 34 adalah sebuah salinan lagi dalam satu jilid besar saja.  Akan tetapi, rupanya jilid pertama Babad Giyanti itu ditinggalkan di Jawa, mungkin karena diatas jilid itu judulnya ditulis sebagai Babad Kartasura bukan Babad Giyanti. Jadi naskah Babad Giyanti berpisah di dua tempat yang berbeda.

Seorang ahli lain, J.L.A. Brandes (1857-1905) menyelesaikan gelar Doktornya di Leiden pada tahun 1884 dan sesudah itu berangkat ke Jawa. Melalui cara yang tidak jelas, dialah yang memperoleh jilid pertama Babad Giyanti dari koleksi Gericke, yang kelak masuk koleksi  Koninklijk Bataviaasch Genootschap (yang nanti disimpan dalam gedung Museum Pusat RI dan sekarang terdapat di Perpustakaan Nasional RI) sebagai naskah Br 643..  Teksnya dilengkapkan oleh Brandes dengan memesan salinan dari naskah Leiden NBS 29-33, sehingga akhirnya satu-satunya eksemplar Babad Giyanti yang lengkap adalah eksemplar yang dikumpulkan Brandes. Jilid-jilid yang merupakan salinan dari NBS 29-33 juga sekarang terdapat di Perpustakaan Nasional RI (sekali lagi melalui Koninklijk Bataviaasch Genootschap) dengan nomor BR 22b-f. Dalam katalogus koleksi PNRI kita boleh membaca bahwa ‘Seri BR 643 + BR 22b-f berisi teks yang persis sama dengan edisi Babad Giyanti yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1937’.

Jadi sudah jelas bahwa Babad Giyanti edisi Balai Pustaka berasal dari eksemplar yang tersimpan di PNRI, karena ekskemplar itu merupakan satu-satunya yang lengkap dan isinya sama dengan teks yang dikeluarkan oleh Balai Pustaka pada 1937-9.