Brandes Sang Penyelamat Manuskrip Nagarakretagama Dilihat Dari Batu Nisannya Melalui Kaca Mata Semiotik

Pendahuluan
Sampai saat ini masih banyak batu nisan dari masa VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sampai akhir masa kolonial Hindia-Belanda yang tersebar di berbagai tempat di Jakarta,  antara  lain  di  Gereja  Sion  (Portugeesche  Buitenkerk), Museum Wayang (Nieuwe Hollandsche Kerk), Museum Taman Prasasti (Europeesche Kerkhof) dan Pulau Onrust, Jati Petamburan dan lain-lain. Sayangnya sebagian besar batu nisan tersebut kurang terawat, bahkan banyak yang dibiarkan hancur. Batu-batu nisan tersebut sebenarnya merupakan file-file historis yang tidak ternilai harganya, mengingat banyak di antara orang-orang yang dimakamkan di sana sangat berperan dalam sejarah kolonial di Indonesia. Menurut Fortuin et al (1988), batu-batu nisan adalah arsip rakyat sebagai warga masyarakat karena memuat data tentang pelaku-pelaku sejarah kehidupan manusia, apa pun peranan mereka semasa hidupnya.
Batu nisan dapat dipandang sebagai tulisan kenang-kenangan (festschrift) seperti halnya buku kenang-kenangan (liber decorum) yang berisi tulisan teman-teman dekat seseorang pada saat ia mencapai usia tertentu atau mulai nonaktif dari jabatannya. Dalam hal pembuatan batu nisan, tema yang dipilih disesuaikan dengan tema yang paling disukai oleh orang yang meninggal semasa hidupnya, misalnya peran, perilaku, sifat dan keyakinannya. Pada waktu masih hidup posisi statusnya berada di bawah, sedangkan setelah meninggal ia diposisikan berada di atas. Yang menulis pesan, baik verbal berupa inskripsi maupun pesan nonverbal berupa lambang, memposisikan dirinya sebagai ”aku” yang meninggal. Pesan-pesan pada batu nisan seolah-olah sebagai karya yang terbit sesudah seseorang meninggal (posthuum). Pesan verbal berisi nama, tempat dan tanggal lahir, jabatan, umur dan tempat waktu meninggal, kadang-kadang disertai puisi atau petikan ayat-ayat alkitab (Suratminto 2006: 73).
Pernahkan Anda masuk museum Taman Prasasti di Jln. Tanah Abang I Jakarta Pusat? Letak museum tersebut persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat. Pada masa VOC dan masa Kolonial Hindia-Belanda, tempat ini bernama Europesche Kerkhof (Tempat pemakaman orang Eropa) dan nama jalannya dahulu adalah Kerkhoflaan (Jalan Pemakaman). Museum ini dahulu luasnya 5,5 ha tetapi sekarang tinggal 1,3 ha saja. Pada masa Gubernur Ali Sadikin di kiri kanan makam dibangun gedung walikota dan karang taruna Jakarta Pusat. Pada tembok gedung yang menghadap ke jalan dipasang batu-batu nisan masa VOC, pindahan dari pemakaman Gereja Belanda Baru yang sekarang menjadi Museum Wayang. Di halaman belakang terdapat banyak sekali batu nisan dengan berbagai corak dan bentuk serta bahasa, di antaranya: bahasa Belanda, Prancis, Ibrani, Jepang, Jerman, dan Latin.
Di antara berbagai batu nisan, terdapat sebuah nisan yang bentuknya sangat berbeda dengan batu nisan Belanda pada umumnya, yang merupakan batu nisan J.L.A. Brandes. Makam ini letaknya di barisan paling belakang, di sudut sebelah kiri jika kita menghadap ke depan, tepatnya di sebelah kanan makam Gubernur Jenderal VOC terakhir, Mr. Gerardus van Overstraten (1756-1801). Berita singkat pada batu nisan ini tidak menyebutkan jabatan Brandes semasa hidupnya sebagaimana lazimnya pada kebanyakan prasasti pada batu nisan Belanda.
Bentuk nisan Brandes memang sangat kontroversial bila dibandingkan dengan batu-batu nisan yang lain dari masa sebelumnya atau bahkan dengan batu nisan pada kurun waktu jauh sesudahnya. Pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal pada batu nisan termasuk wacana karena yang dimaksud dengan wacana yang juga dapat dipandang sebagai tanda dalam semiotika adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya (Garret, Peter dan Bell, Allan 1998: 3). Pesan nonverbal berisi lambang-lambang, mempunyai makna tertentu sesuai dengan kepercayaan komunitasnya.
Ada beberapa pertanyaan yang akan diungkap dalam penelitian ini. Pertama, mengapa makam Brandes bentuknya berbeda dari batu-batu nisan Belanda pada umumnya. Apa makna lambang-lambang pada batu nisan tersebut ditinjau dari kaca mata semiotik? Melalui analisis semiotik makro adakah hubungan antara lambang-lambang pada batu nisan tersebut dengan data mengenai peran Brandes semasa hidupnya?
Tujuan tulisan ini adalah untuk mengungkap makna wacana pada batu nisan Brandes, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, melalui analisis semiosis model mikro Peirce dan analisis model makro Danessi dan Perron. Hasil kedua analisis tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan di atas, di samping untuk menambah wawasan mengenai salah satu warisan budaya Kolonial yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, yang kini masih tersimpan dalam museum Taman Prasasti.

Teks pada Batu Nisan J.L.A. Brandes
Pesan pada batu nisan J.L.A. Brandes berupa ungkapan nonverbal atau ikonis dalam bentuk berbagai lambang dan teks verbal berupa inskripsi yang berisi biografi singkat sebagai berikut:

RUSTPLAATS
VAN
DH JAN LAURENS ANDRIES BRANDES
GEB. TE ROTTERDAM 18 JANUARI 1857
OVERL. TE WELTEVREDEN 26 JUNI 1906

Keterangan: DH = De Heer ’tuan’
 OVERL. = Overleden ’wafat’
Maknanya:

Tempat peristirahatan
dari
Tuan Jan Laurens Andries Brandes
Lahir di Rotterdam pada tanggal 18 Januari 1857
Wafat di Batavia pada tangal 26 Juni tahun 1906

Pesan non-verbal sebagai berikut:
Dasar batu nisan terdiri dari kelopak-kelopak bunga teratai yang menyangga kotak persegi empat, yang di atasnya terdapat tiga buah bidang segi empat bertingkat. Di bagian atas, pada empat penjuru angin, masing-masing terdapat pahatan gapura kerajaan (lambang heraldik) berbentuk gunungan. Jika diperhatikan lebih rinci, gunungan itu berisi pahatan simetris dua buah lengkungan yang membentuk sebuah yoni, yang menyatu dengan bentuk lingga yang berdiri tegak lurus. Pada puncak gunungan terukir bentuk candi, dihiasi daun akantus yang menjuntai di kiri dan kanan, membentuk sebuah gapura kerajaan dengan sebuah pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Keempat gapura kerajaan tersebut merupakan tepi atap bangunan yang menyangga sebuah lingga atau pilar yang patah. Secara holistik batu nisan ini menggambarkan sebuah lingga yang menyatu dengan yoni.
Untuk lebih jelasnya, lihat foto batu nisan Brandes sebagai berikut:

Pada nisan ini nampak banyak pesan nonverbal yang sangat kompleks. Dari kejauhan (long shot), bentuknya secara global mengingatkan kita kepada bangunan-bangunan candi di Jawa Timur.
Menurut tradisi masa VOC, hampir semua batu nisan dilengkapi dengan lambang heraldik yang menyiratkan gambaran prestise si pemilik lambang, yaitu orang yang dimakamkan di situ.
Lihat contoh lambang heraldik seorang pejabat VOC dalam gambar berikut:

Gambar 2: Lambang heraldik Direktur Jenderal Michiel West Palm di Museum Taman Prasasti Jakarta (foto koleksi Lilie Suratminto)

Bagian-bagian batu nisan:
Pesan nonverbal (ikonis)
Lambang heraldik:
Puncak lambang: Seekor kuda melompat ke arah dexter (kanan).
Kepala : sebuah helm dengan teralis tampak depan.
Leher dan pundak: baju zirah dengan kalung salib.
Perisai: dua ekor kuda melompat ke kanan pada sisi dexter atas dan sinister (kiri) bawah.
Dua buah pohon pada sinister (kiri) atas dan dexter (kanan) bawah. Garis pembagi perisai membentuk sebuah salib.
Pengisi lambang: sulur-sulur daun akantus. Dua buah simpul tali di bawah perisai.

Sosok JLA Brandes
Nama lengkap Brandes adalah Jan Laurens Andries Brandes. Lahir di Rotterdam pada tanggal 13 Januari 1857 dan wafat di Batavia pada tanggal 26 Juni tahun 1906. Ayahnya seorang pendeta Kristen Lutheran. Ketika ia berusia satu tahun, Brandes ikut keluarganya pindah ke Amsterdam. Setamat sekolah menengah Gymnasium ia meneruskan sekolah agama di Atheneum, Amsterdam (1874). Pada tahun 1876 ia mengikuti ujian ilmu pasti di Utrecht, tahun 1877 mendapat gelar Sarjana Muda Theologi di Leiden, dan pada tahun 1878 lulus ujian calon teolog di Amsterdam. Sementara menyiapkan ujian doktoral teologi, Brandes pindah ke jurusan linguistik dan sejarah yang sangat menarik baginya. Perpindahan jalur peminatan dimungkinkan sehubungan dengan adanya Undang-Undang Baru di Perguruan Tinggi yang mulai dengan Peraturan Program Doktor Baru untuk Bahasa dan Sastra Kepulauan Nusantara (Taal-en Letterkunde van den Indischen Archipel) di Hindia-Belanda. Untuk itu Brandes muda yang rajin dan penuh keingintahuan mengikuti kuliah Profesor Loman dan Prof. Naber di Amserdam. Ia mempertahankan disertasinya, berjudul: Bijdrage tot de vergelijkende klankleer der Westersche Afdeling van de Maleisch-Polynesische taalfamilie (Sumbangan perbandingan bunyi bahasa pada kelompok bahasa Melayu-Polinesia Bagian Barat).
Masalah utama dalam tulisan ini adalah penemuan dan penanganan kaidah bunyi bahasa telah yang ditemukan Van der Tuuk pada bahasa Melayu-Polinesia di bagian barat yang dikuatkan secara panjang lebar oleh Brandes. Tidak lama setelah promosi ia menikah dengan Helena Nieman. Bersama istrinya ia berangkat ke Hindia-Belanda untuk bekerja sebagai pegawai yang menangani penelitian bahasa-bahasa Nusantara di Bataviaasch Genootschap (sejenis LIPI sekarang). Sejak belajar di Leiden ia mendalami studi bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi dan Epigrafi Nusantara, dua bidang studi yang tidak diwajibkan oleh Undang-Undang. Kumpulan inskripsi yang sangat banyak pada batu dan kuningan, maupun pada manuskrip Jawa di Museum Batavia pada waktu itu tetap belum tersentuh oleh siapapun dan menunggu penanganan para pakar di bidang ini. Oleh karena itu Brandes mendapat tugas untuk menanganinya. Hasil kerja keras yang banyak menyita waktu dan tenaga serta memerlukan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa ialah pada tahun 1887 ia menerbitkan hasil penelitiannya berjudul ‘Aantekeningen omtrent de op verschillende voorwerpen voorkomende inscripties en een voorlopige inventaris der beschreven steenen’ (Catatan-catatan pada inskripsi-inskripsi yang terdapat pada bermacam-macam obyek dan inventaris sementara batu-batu bertulis) sebagai lampiran dari ‘Catalogus der Archeologische Verzameling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, door W.P. Groeneveldt’ (Katalog kumpulan arkeologis dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kesenian Batavia, oleh W.P. Groeneveldt).
Catatan tentang batu-batu bertulis membuktikan bahwa Brandes dengan kebiasaannya yang mendasar dapat menangani berbagai persoalan. Berkat penelusurannya selama bertahun-tahun dan pengetahuannya, terutama mengenai bahasa Jawa kuno, pengungkapan sejarah dan sumber-sumbernya semakin berkembang. Suatu hal yang belum pernah dilakukan pada para pendahulunya. Ini dibuktikan pada karyanya yang berjudul ‘Pararaton’ yang mengkisahkan sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit. Cerita sejarah Pararaton dimulai dari didirikannya kerajaan Tumapel oleh Ken Arok, yang bergelar Rajasa, pada tahun Çaka 1144 (1222 M). Penerusnya memerintah Tumapel (Singasari) sampai raja terakhir, Kartanegara, yang dikalahkan oleh Jaya Katwang dari Daha. Jaya Katwang akhirnya dikalahkan oleh tentara Tartar dari China, yang merupakan utusan Khu Blai Khan, atas muslihat Raden Wijaya yang kemudian menjadi raja pertama Majapahit.

Brandes dan Van de Tuuk
Brandes sebagai seorang linguis, sastrawan, arkeolog dan sejarawan sejak di Belanda telah mengagumi Van der Tuuk yang lahir di Malakka pada tahun 1824 dan ditugasi oleh Lembaga Alkitab Belanda untuk mempelajari bahasa dan budaya Batak. Untuk menyamakan visinya mengenai kaidah bunyi bahasa Melayu-Polinesia di bagian barat Hindia-Belanda, Brandes menyempatkan tinggal di rumah Van der Tuuk di Bali selama empat minggu. Setelah Van der Tuuk meninggal dunia Brandes ditugasi oleh Bataviaasch Genootschap untuk menyelamatkan arsip milik Van der Tuuk. Karya berupa kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda yang disusun oleh Van der Tuuk diterbitkan setelah kematian Van der Tuuk (Van Vugt t.t. : 38-39).
Pada tahun 1897 Brandes berlibur ke Belanda dan kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami sistem katalogus di Leiden. Kepiawaian Brandes dalam mengarsipkan karya-karya Van der Tuuk dan temuan-temuan di wilayah kolonial Hindia-Belanda menjadikannya seorang arsiparis yang handal.

Brandes Penyelamat Nâgarakretâgama dan Karya-karyanya
Sebagai personel Bataviaasch Genootschap, Brandes dalam Perang Lombok ditugasi untuk menyelamatkan naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh Raja Lombok. Pada awal Oktober 1894 Brandes menerima rampasan yang ia sebut geschreven oorlogsbuit (rampasan perang tertulis), yaitu buku-buku lontar yang, bagi orang Eropa, tidak seorangpun menghargainya kecuali para ilmuwan.
Raja Lombok terkenal sangat kaya raya, tetapi untuk Brandes dan dunia para ilmuwan yang berharga bukanlah emas, perak dan intan berlian, melainkan khasanah budaya yang tidak ternilai harganya. Brandes yang telah mempelajari kebudayaan masa Hindu dan keasyikannya menerjemahkan Pararaton merasa sangat beruntung dapat mengunjungi perpustakaan Hindu yang menyimpan buku-buku lontar yang sangat kaya dari kerajaan Lombok.

Sepulangnya ke Bali Brandes minta izin untuk sekali lagi mengunjungi Lombok untuk menyelamatkan karya seni budaya yang tidak ternilai harganya itu.
Pada tanggal 18 November 1894 Cakranegara jatuh ke tangan militer Belanda. Istana dibakar dan kemudian terjadi penjarahan atas kekayaan Lombok. Raja beserta pengikutnya melarikan diri ke Sasari. Brandes menyelamatkan buku-buku lontar yang, antara lain, setelah ditranskrip di Batavia diterbitkan dalam Vehandelingen van het Bataviaasch Genootschap va Kunsten en Wetenschappen Bagian LIV, Bagian I (1897) dengan judul ”Nâgarakretâgama, Lofdicht van Prapantja op Koning Radjasanagara, Hayam Wuruk, van Madjapahit, uitgegeven naar eenige daarvan bekende handschrift aangetroffen in de puri te Cakranegara op Lombok”.
Karya Barandes yang penting, selain disertasinya, adalah penulisan karakter tulisan tangan Jawa, Bali dan Sasak yang ditemukan dari peninggalan Dr. H.N. van der Tuuk, serta Kamus Kawi-Bali-Nederlandsch yang diterbitkan pada tahun 1897, 1899, 1901 dan 1903 oleh Perpustakaan Universitas Leiden pada tahun 1903, menjelang wafatnya.
Selama masa hidupnya Brandes sangat produktif menulis. Tulisannya, antara lain, dimuat di: Tijdschrift voor Taal-, Land-, en Volkenkunde van Newderlandsch Indië, Notulen van de Algemene en Directie-Vergaderingen van het Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Maandschrift I (1886-1887), Feestbundel, Hommage, Catalogus der Archeologische verzameling van Het Bataviaasch Genootschap,dan Archeologisch onderzoek op Java en Madoera.

Arsip Peninggalan Brandes
Di samping karya tulis yang diuraikan di atas, Brandes sebagai seorang arsiparis membuat katalog temuan-temuan manuskrip dari berbagai wilayah di Hindia-Belanda. Kumpulan arsip itu saat ini masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional dan di KITLV Leiden.

Lambang Heraldik dan Persebarannya dalam Masyarakat
Berbicara mengenai simbol pada batu nisan Brandes tidak dapat lepas dari lambang heraldik pada batu nisan, karena pada umumnya bangsa Eropa memiliki sebuah heraldik, yaitu lambang keluarga warisan dari nenek moyang mereka. Istilah ‘heraldik’ berasal dari bahasa Belanda heraldiek. Dalam bahasa Inggris, he-raldry berasal dari kata herald yang bermakna ‘pengumuman, pembawa berita, atau petanda’. Kata ini diserap dari bahasa Jerman Tinggi kuno, heriwalt, dan bahasa Prancis kuno, hérault, yang bermakna ‘pembawa berita’. Dalam puisi Prancis kata herau ditemukan pada tahun 1285. Dalam bahasa Jerman herold ditemukan pada tahun 1367 (Neubecker 1977: 10). Makna aslinya tidak diketahui dengan pasti. Istilah herald pertama-tama dikenal pada tahun 1170. Istilah heraldry sering dipakai sebagai sinonim dari armory.
 Ada berbagai batasan mengenai heraldik, di antaranya:
“Heraldry is a science which treats of the classification and description of certain heralditary emblems, and the rules which govern their use” (Whitmore 1969: 1).  
“Heraldry is the science that studies armorial bearings, the coloured emblems pertaining to individual, a family or community. Their composition is governed by the specific rules of blazon that distinguish the medieval European heraldic system from all other systems of emblems, wether earlier or later, military or civil”(Pastoureau 1997: 13).
Secara khusus lambang heraldik mengungkapkan dua hal dari penggunanya: identitas mereka dan lingkungan budaya tempat mereka tinggal. Untuk jangka waktu yang lama kontribusi heraldik pada bidang sejarah dinasti dan politik, sejarah seni dan arkeologi adalah pengidentifikasian pemilik lambang tersebut. Di samping itu lambang heraldik dapat juga dipergunakan sebagai alat untuk menelusuri sejarah keluarga dan asal-usul nenek moyang atau genealogi (Kloot 1891: vi; Neubecker 1977: 6; Pastoureau 1997: 88-89).
Di Inggris hanya kaum bangsawan yang boleh mengenakan lambang-lambang heraldik, tetapi di daratan Eropa justru sebaliknya. Di sana setiap orang berhak mengenakan lambang, tetapi tidak setiap orang melakukannya. Awalnya lambang ini dipergunakan terutama oleh kelompok masyarakat tertentu. Kemudian, lambang heraldik dipergunakan oleh kaum bangsawan, aristokrat, hakim tinggi, saudagar, sastrawan, pelukis, dan artisan yang kaya.
Pada masa Perang Salib banyak kaum bangsawan yang ikut suka rela ke Jerusalem untuk berperang membela agama mereka. Dalam berperang mereka memakai helm untuk melindungi diri dari serangan senjata tajam. Untuk membedakan antara lawan dan kawan mereka mengenakan lambang heraldik pada perisai atau mahkota (puncak lambang) atau jambul helm perang mereka. Pada abad pertengahan sempat terjadi mode untuk setiap kelompok mempergunakan lambang tertentu. Pertama, untuk menunjukkan perbedaan antara kelompok satu dengan yang lain. Kedua, untuk menunjukkan profesi tertentu, misalnya penjahit, petani, artisan, dan lain-lain. Ketiga, ada tujuan politik, yaitu sebagai lambang prestise keluarga pemilik lambang tertentu.
Lambang heraldik pertama-tama dipakai oleh keluarga raja, para baron dan bangsawan. Semakin lama lambang ini diadopsi oleh seluruh aristokrat Barat. Pada awal abad ke-13 di Inggris kira-kira ada 1500 lambang. Di beberapa negara Eropa dan juga di Belanda ada kebiasaan untuk menggantungkan lambang heraldik dari anggota jemaatnya yang terpandang dalam gereja. Ruang gereja kemudian menjadi semacam ‘museum’ tempat memamerkan lambang heraldik. Kebiasaan ini ditiru juga oleh komunitas VOC di Batavia (Kloot 1891). Dalam gereja, lambang heraldik ditemukan di lantai, dinding, jendela-jendela, langit-langit dan obyek-obyek kesalehan lain dan pada jubah-jubah, mulai dari yang dikenakan pastur sampai para paderi dan pelayan gereja.
Kecenderungan untuk memakai lambang heraldik ini mulai surut setelah terjadinya Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18, yang mengangap lambang ini sebagai lambang status kaum bangsawan, meskipun anggapan itu tidak seluruhnya benar. Akibatnya, karena alasan politik banyak lambang heraldik yang dilenyapkan baik dalam bentuk lukisan, monumen, sampul buku, bahkan lambang yang terdapat pada batu-batu nisan. Mempertahankan eksistensi lambang tersebut akan berakibat buruk bagi pemakainya.

Pengertian tentang Ikon dan Lambang
Peirce membagi ikon ke dalam iconic image (citra ikonis) dan iconic diagram (diagram ikonis). Citra ikonis adalah
“. . . a single sign which resembles its referent with respect to some (not necessarily visual) characteristic” (Haiman 1980: 515). Kemiripan citra ikonis dengan objeknya terletak pada ciri referen – yang belum tentu berupa ciri visual- juga terdapat pada tanda tersebut. Contoh luar bahasa ikon citra adalah foto, patung, program musik; di dalam bahasa ikon citra dapat dijumpai pada onomatope.
Hubungan ikon sama dengan lambang, apabila sebuah ikon berfungsi sebagai lambang berdasarkan konvensi, misalnya: bunga mawar berkelopak empat adalah ikon bunga mawar karena ada kemiripan dengan bentuk bunga mawar. Bunga mawar ini berdasarkan konvensi dianggap sebagai lambang, misalnya: suci karena warnanya yang putih, juga dianggap sebagai Perawan Suci atau Bunda Maria, sebagai lambang cinta karena bunga ini dalam mitologi Yunani diangap sebagai persembahan untuk Dewi Venus yang juga sebagai Dewi Cinta. Mawar berkelopak empat dianggap sebagai perwujudan tanda salib (kristiani), juga dianggap sebagai penunjuk jalan atau kompas.

Proses Semiosis
Peirce mengatakan bahwa tanda-tanda berfungsi sebagai mediator antara dunia eksternal dan dunia internal ide. Tanda adalah representasi mental dari objek, dan objek dapat dikenali dari persepsi tandanya. Peirce mendefinisikan ‘semiosis’ sebagai proses representasi fungsi objek sebagai tanda (sign) (Peirce 1960: 122-124). Model Peirce tentang unsur makna tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Sebuah ‘tanda’ (sign) atau ‘representamen’ (representamen) mengacu pada sesuatu di luar dirinya sendiri yaitu ‘objek’ (object), yang dipahami oleh seseorang (kognisi): objek memiliki efek bagi ‘interpretan’ (interpretant) (Nöth 1990 : 42).
Proses pemaknaan representamen, objek, dan interpretan yang disebut semiosis itu terjadi dengan sangat cepat dalam pikiran manusia (Hoed 2001: 118). Proses semiosis adalah proses di mana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yakni representamennya mewakili yang diwakilinya. Peirce (dikutip Nöth 1990: 42) mengemukakan semiosis merupakan hubungan segi tiga antara sign (tanda), thing signified (petanda), dan cognition produced in the mind (kognisi yang dihasilkan dalam persepsi). Karena yang diindera sebenarnya adalah representamen, maka seringkali representamen disebut tanda: “. . . Nothing is a sign unless it is interpreted as a sign”. Tidak satu pun dapat disebut sebagai tanda, kecuali tanda itu diinterpetasikan sebagai tanda “….. Peirce melihat semiosis tersebut sebagai suatu proses yang secara teoretis berlanjut tanpa akhir karena manusia akan terus berpikir (Hoed 2001: 200).

Analisis Semiosis
Berikut akan diuraikan bekerjanya proses semiosis tersebut dalam praktik. Yang akan dijadikan model di sini misalnya sulur daun akantus yang terdapat pada hampir semua batu nisan masa VOC. Representasi daun akantus ini pada umumnya berupa hiasan pengisi lambang heraldik (berfungsi sebagai mantel) atau sebagai iluminasi atau hiasan tepi batu nisan. Motif hias daun akantus termasuk motif hias yang paling tua karena motif ini sudah ada sejak zaman Romawi Kuno, karena bentuk daun akantus yang dapat distilir ini membuat suatu benda seni menjadi tampak indah. Untuk jelasnya lihat gambar berikut:

Bandingkan dengan gambar berikut:

Analisis Model Semiosis Mikro Peirce

Proses semiosis ke -1.

Proses semiosis ke -2:

Proses semiosis ke -3a:

Penggunaan daun akantus sebagai lambang setelah penafsir pernah memperoleh pengetahuan tentang daun itu dalam hubungannya dengan kepercayaan dalam religi kristiani, dapat ditafsirkan demikian:
 
Proses semiosis ke-3 b:

Dari proses semiosis, daun akantus selain tampil sebagai ikon daun akantus, juga sebagai lambang hidup, damai, abadi dan mulia. Mula-mula daun akantus bukan lambang Kristiani. Lambang ini diadopsi oleh pemeluk Kristiani karena ada sifat-sifat atau tanda-tanda lahiriah dari tumbuh-tumbuhan ini yang mirip dengan kepecayaan mereka, yaitu duri-durinya yang tajam, yang dapat dipakai sebagai representasi rasa sakit (sengsara), dosa dan hukuman atas dosa. (Cooper 1978: 10). Yang menjadi masalah dalam interpretasi dari daun akantus pada batu nisan, apakah interpretasi pertama menurut Romawi Kuno atau interpretasi yang kedua. Dapat diasumsikan bahwa interpretasi yang pertama yang akan dipilih orang karena di dalamnya mengandung harapan hidup abadi, damai dan mulia. Kalau demikian maka yang terjadi adalah proses sinkritisme.

Analisis Semiosis Mikro Batu Nisan Brandes

Proses semiosis mikro lambang-lambang pada batu nisan Brandes dengan interpretan mengacu pada Hans Biedermann (1991) dan Tom Chetwynd (1982) :

Analisis Model Semiosis Makro Danesi dan Perron
Analisis model semiosis makro dari Danesi dan Perron, menyangkut tiga dimensi, yaitu fenomena (yang diindera) – nalar dan budaya. Analisis ini mencakup analisis makro skematik, onomastik, denotatif-konotatif dan mitis. Dalam analisis skematik pada tataran kepertamaan skema ’atas-bawah’ (up and down), ini mungkin hasil pijakan ganda sensasi hewani dari manusia dalam memandang ’atas dan bawah’. Dalam mitologi Yunani, misalnya, diceritakan bahwa dewa-dewa tinggalnya di tempat tinggi dan terang di atas Gunung Olympus. Makhluk-makhluk jahat, bengis dan menakutkan tinggal di bawah bumi (hades) yang sangat gelap. Kepercayaan kristiani juga demikian, Yesus pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga. Pada tataran kekeduaan adalah bagaimana pengalaman individual yang bervariasi mengalami bermacam-macam konsep abstrak. Tataran keketigaan, merupakan akumulasi dari konsep-konsep ini, yang bermakna secara sosial. Dalam kepercayaan kristiani orang berkeyakinan bahwa surga letaknya ada di atas.
Pada batu nisan Brandes ada beberapa lambang yang mengarah ke atas, yaitu: pilar, puncak candi, lingga. Dari seluruh lambang yang menghadap ke atas ini dapat dikelompokkan pada sifat religius adalah tiang pilar dan ujung candi yang merupakan puncak gunungan. Untuk lambang lingga menyatakan kekuatan, keberanian, ketegaran dan kejayaan.
Selain analisis atas-bawah dalam makro semiotik skematik membahas tentang konsep kiri (sinister) dan kanan (dexter). Pembuatan lambang menghadap kiri dan kanan agaknya bukan faktor kebetulan, tetapi mengandung makna tertentu. Pada beberapa etnis tertentu orang membedakan konsep kanan dan kiri secara ketat. Konsep ’kanan’ pada beberapa pandangan dianggap sesuatu yang positif, baik, suci dan sebagainya. Sebaliknya konsep ’kiri’ adalah negatif, jelek, kotor dan sebagainya. Sinister dalam bahasa Belanda bermakna ’angker’; ’yang mengerikan’ (Moeimam dan Steinhauer 2004: 816). Pada lambang heraldik Brandes tidak ada lambang yang menunjukkan mengahadap ke kiri atau ke kanan. Dalam gapura nampak antara kiri dan kanan dibuat simetris, yang menunjukkan keseimbangan dan harmoni.
Yang dimaksud dengan onomastik yaitu kepercayaan tentang penamaan seseorang dan makna di baliknya. Misalnya untuk seorang kristiani biasanya mengambil nama anak-anaknya dari tokoh-tokoh dalam kitab Injil agar nanti anaknya dapat mengikuti perilaku tokoh tersebut dan ini merupakan jaminan bahwa anak tersebut nantinya juga akan masuk surga. Hal yang sama dilakukan oleh Brandes. Pada batu nisan Brandes unsur onomastik terdapat pada kata Jan [baca: Yan] dan Andries. Jan adalah varian nama Yohannes. Varian lain dri Yohannes adalah John, Johan, Juan, Yahya, Joni , Jono, dan sebagainya. Sedangkan Andries adalah varian dari Andreas, Andri, Andara, Andrea dan lain-lain. Kedua nama ini adalah nama-nama tokoh dalam Kitab Injil. Kedua tokoh itu adalah orang yang dalam hidupnya gigih, ulet, sabar, tekun dan bijaksana. Mereka dalam hidupnya sangat disegani dan dihormati. Sifat-sifat ini dimiliki oleh Brandes yang bekerja penuh ketekunan, kesabaran dan keberanian dan sifat-sifat ini digambarkan pada batu nisan Brandes. Oleh karena itu ia layak menerima penghargaan, yaitu pada batu nisan Brandes ditulis DH yang maknanya ’Tuan yang terhormat’ .
Masih dalam analisis makro denotatif-konotatif ini, bangunan batu nisan berbentuk candi Hindu, secara konotatif berarti bahwa dalam kehidupan Brandes terdapat keterkaitan erat dengan budaya Hindu. Ini terbukti dari hasil karyanya, terjemahan Pararaton dan transliterasi Nâgarakretâgama.
Analisis mitis merupakan analisis tentang hadirnya lambang yang dipercaya dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan. Pada batu nisan Brandes unsur-unsur mitis terdapat pada lambang kelopak bunga teratai yang menyangga batu nisan secara keseluruhan sebagai lambang ‘pembimbing ke alam nirwana’. Bunga teratai itu akan membimbing roh Brandes menuju ke alam abadi, yaitu alam nirwana. Penggunaan kelopak teratai ini terkait dengan sifat teratai yang mampu menopang benda di atasnya tanpa takut basah atau tenggelam dalam air. Di samping itu sifat teratai yang fleksibel dalam air. Bila air surut ia turun dan sebaliknya apabila air pasang maka bunga itu akan ikut naik pula. Lambang berunsur mitis lain misalnya bersatunya lingga dan yoni yang melambangkan keharmonisan, keseimbangan dan keselarasan.
Analisis semiotis makro proksemika yaitu analisis berdasarkan kedudukan atau prestise seseorang dalam kelompok masyarakat tertentu misalnya dalam keagamaan atau sosial. Untuk menentukan kedudukan seseorang dalam agama dilihat dari letak batu nisannya apakah jauh atau dekat dengan mimbar atau pintu masuk gereja. Kedudukan seseorang dalam masyarakat dapat dilihat dari posisi tinggi rendah batu nisan dari permukaan tanah dan ukuran batu nisannya. Pada batu nisan Brandes yang masih in situ kedudukannya lebih tinggi dari batu-batu nisan yang lain, dan ukurannya pun cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang kedudukan sosialnya dalam masyarakat sangat tinggi dan sangat terhormat. Untuk menghormatinya ia dimakamkan di samping makam Van Overstraaten Gubernur Jenderal VOC terakhir yang wafat pada tahun 1801.

Simpulan
Dari analisis semiotik mikro model Peirce dan analisis makro model Danesi-Perron dapat disimpulkan bahwa J.L.A. Brandes adalah seorang yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang sangat terhormat (analisis proksemika), orangnya tenang dan tetap menjaga keselarasan (skematik), tegar, berani, dan harmoni (pilar, lingga-yoni), dan seorang yang menjunjung tinggi humanisme (bangunan candi). Selain itu Brandes juga punya keyakinan spiritualitas yang kuat serta serta cita-rasa seni yang tinggi (kelopak bunga teratai). Ia juga adalah orang yang gagah berani (pilar yang kokoh), yang dapat dilihat dari bagaimana Brandes berani mohon kepada pemerintah Hindia-Belanda untuk ikut terjun ke kancah peperangan di Lombok dalam rangka menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang disimpan di istana Cakranegara. Keyakinan akan sampai ke tempat abadi yang sudah dijanjikan menurut kepercayaan yang dianut (bunga teratai dan daun akantus). Ia meninggalkan banyak pekerjaan untuk generasi penerusnya (peti). Sampai saat ini masih banyak peti berisi manuskrip-manuskrip yang belum selesai dikerjakan olehnya yang kini tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan di KITLV Leiden. Dari bentuk keseluruhan batu nisannya nampaknya tersirat bahwa ada cita-cita yang belum selesai yang digambarkan dengan bentuk pilar patah. Ini nampaknya sesuai dengan kehidupan Brandes yang meninggal pada usia yang masih sangat muda yaitu kira-kira 48 tahun (1857-1906). Meskipun Brandes adalah putera seorang pendeta dan ia juga mendalami teologia, nampaknya ia juga terpengaruh oleh kepercayaan Hindu hal ini tersirat dari makna taksa (ambigu) dari pilar yang menjulang ke atas dan patah. Dari proses semiosis ada beberapa interpretasi antar lain bahwa hanya Tuhan punya kuasa (kisah Simson merobohkan pilar orang Filistin), cita-cita tidak sampai, atheisme, tidak percaya seratus persen lagi pada agama yang dianutnya. Apakah demikian dalam kehidupan Brandes masih perlu penelitian lebih jauh.
Analisis makro secara skematik, onomastik, denotatif-konotatif, mitis dan proksemik menunjukkan bahwa wacana nonverbal dan verbal pada batu nisan yang diteliti sangat erat kaitannya dengan data historis Van Imhoff. Dari analisis teks (baik verbal maupun non-verbal) pada batu nisan ini memberikan gambaran yang lengkap tentang sosok pribadi dan peran Brandes semasa hidupnya.
Sebenarnya analisis batu nisan Brandes ini akan lebih lengkap kalau disertakan pula dengan metode pendekatan analisis wacana kritis atau CDA (Critical Discourse Analysis) `dari Norman Fairclough (1995). Melalui pendekatan ini akan dapat diungkapkan secara kritis mengenai keberadaan wacana pada batu nisan ini dan aspek-aspek lain yang akan ditonjolkan. Mudah-mudahan analisis teks pada batu nisan Brandes ini dapat menambah wawasan kita tentang salah satu warisan budaya kolonial yang tidak ternilai harganya di tanah air kita Indonesia.

Daftar Pustaka
Biedermann, Hans,2008, Symbolen van A tot Z- Ruim 2000 historisch-culturele symbolen. Utrecht:  Spectrum. Cet. Ke-10.
Chetwynd, Tom,1982, Dictionary of Symbols. Granada: London-Toronto-Sydney-New York. A Paladin  Book.
Danesi, Marcel and Paul Perron. 1999. Analyzing Cultures – an introduction & handbook. Bloomington- Indianapolis: Indiana University Press.
Fairclough, Norman.1995. Critical Discourse Analysis; The critical study of language. Harlow: Pearson  Education.
Fortuin, Johanna et al .1988. Afscheid Nemen van Onze Doden; Rouwen en rouwgebruiken in Nederland. Kampen: J.H. Kok.
Garret, Peter dan Bell, Allan.1998. ”Media and Discourse: A Critical Overview” dalam Peter Garret dan allan Bell (eds), Approaches to Media Discourse. Oxford: Blackwell Publishers.
Kern, H. 1906. Levensbericht van J.L.A. Brandes. Jaarboek van de Maatschappij der Nederlandse  Letterkunde (hlm. 30-51).
Laars, T. van der.1913. Wapens, Vlaggen en Zegels van Nederland ; Geschiedkundige bijdragen omtrent  wapens van Nederland en zijne Provinciën van het Koninklijkhuis, enz. Amsterdam: Jacob van  Campen.
Moeimam, Susi dan Hein Steinhauwer. 2004. Nederlands-Indonesisch Woordenboek. Leiden: KITLV.
Nöth, Winfried.1999. “Pierce”, dalam Handbook of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.
Neubecker, Ostfried.1977. Heraldiek, bronnen, symbolen en betekenissen. Amsterdam-Brussel: Elsevier
 [Internationale Academie Heraldiek met bijdragen van J.P. Brooke-Lettle, vormgeving: Robert  Tobler]
Pastoureau, Michel.1997. Heraldry; its origin and meaning. Trieste: Editoriale Libraria.
Suratminto, Lilie. 2006. Komunitas Kristen di Batavia masa VOC dilihat dari Batu Nisannya, Suatu  Kajian Sejarah melalui Semiotik dan Analisis Teks. Disertasi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya  Universitas Indonesia. Belum diterbitkan.
_______, 2007, eks pada Batu Nisan Baron van Imhoff dilihat melalui Analisis Semiosis Model Peirce
 dan danesi-Perron” dalam Makara Jurnal seri Sosial Humaniora Volume 11 No. 1 Juni 2007.  Hlm. 1-12. ISSN 1693-6701.
_______, 2008, Makna Sosio Historis Batu Nisan VOC di Batavia. Jakarta: Wedatama Widyasastra.
Vanvugt, Ewald. t.t. De Schatten van Lombok- Honderd Jaar oorlogsbuit uit Indonesië.
Volmuller, H.W.J. 1981. Nijhoffs Geschiedenis-lexicon: Nederland en België. ‘Gravenhage Antwerpen:  Martinus Nijhoff.