Citra Perempuan Dalam Naskah Ratu Dewi Maleka: Kajian Feminis Ideologis

Pendahuluan
Perempuan itu unik dan menyimpan berbagai misteri yang menarik untuk diteliti dari berbagai aspek. Walaupun lemah dilihat dari segi fisiknya, perempuan juga merupakan sosok yang mampu mengatur lawan jenisnya dan membuat tidak sedikit laki-laki hancur karenya. Tulisan yang merupakan tinjauan dari sudut feminisme ini akan mengungkap citra perempuan dalam mengembangkan kemampuannya di lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara.

Feminisme adalah sebuah gerakan untuk memperjuangkan kedudukan dan hak wanita agar menjadi lebih baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Menurut Moelioni, dkk. (1993:241) dan Geoefe (1986:241), feminisme adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan dibidang politik, ekonomi, dan sosial atau kegiatan terorganisasi yang memperrjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan.

Ada beberapa aspek yang melatarbelakangi munculnya gerakan feminisme. Pertama aspek politis yang berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan Amerika, yang isi deklarasinya sama sekali tidak menyebutkan tentang perempuan. Kedua, aspek evangelis, salah satu gereja Katolik yang beranggapan bahwa wanita merupakan mahluk kotor dan wakil iblis. Ketiga, aspek sosial atau marxis, yang menyatakan bahwa wanita merupakan kelas masyarakat yang ditindas oleh laki-laki.

Gerakan paham feminisme pada tahun 1960-an berdampak luas dalam berbagai bidang dan merupakan reformasi bagi kaum perempuan.Perubahan tersebut terjadi dalam berbagi bidang, diantaranya sastra, yang menyebabkan munculnya kritik sastra feminis. Munculnya kritik sastra feminis berawal dari ketidakadilan perlakuan terhadap karya sastra perempuan yang dianggap tidak penting dibandingkan dengan karya sastra laki-laki.Menurut Djajanegara (2000:12), hampir berabad-abad lamanya seorang peneliti sastra feminis, Elaine Showalter, menyebutkan bahwa tidak ada satu pun penulis perempuan yang namanya disebutkan dalam sejarah sastra Amerika. Karenanya, pertama kali yang dilakukan para pengkritik feminisme adalah mengkaji, menggali, dan menilai karya-karya perempuan yang terpendam pada masa silam, yang keberadaannya cukup menghawatirkan. Kedua, yang dilakukan para pengkritik sastra feminis adalah memberikan ruang terbuka dan dukungan bagi para penulis perempuan untuk menuangkan gagasan, ide, dan perasaannya yang selama ini terpendam, sehingga penulis perempuan dan karyanya mendapakan kedudukan yang sama dari para pengkritik sastra. Ketiga, para pengkritik feminisme, seperti yang disampaikan Djajanegara (2000:23), membantu kita memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.

Kajian feminisme mengacu kepada beberapa hal, diantaranya, mengetahui perilaku dan watak tokoh perempuan yang ada didalam karya sastra. Selanjutnya, meneliti tokoh lain atau tokoh tambahan terutama tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang akan diamati, misalnya suami atau bapaknya. Tokoh tambahan akan memperkuat tokoh utama, sebagai perempuan yang mampu mengembangkan dirinya. Dengan meneliti tokoh yang ada disekeliling tokoh perempuan informasi mengenai tokoh perempuan akan lebih banyak didapatkan. Langkah terakhir dalam pengkajian feminisme adalah mengamati sikap penulis karya yang sedang dikaji, baik perempuan maupun laki-laki. Apabila penulisnya laki-laki, bagaimana ia menempatkan tokoh perempuan dalam karyanya, apakah sebagai perempuan yang inferior atau perempuan yang mampu mengembangkan diri.

Naskah WRDM adalah karya sastra masa silam yang merupakan warisan nenek moyang dan masih relevan pada masa kini karena dapat menjadi inspirasi dan kontribusi pemikiran kepada kaum wanita dalam berbagai, hal terutama dalam mencari pasangan hidup, berkeluarga dan bernegara. Ratu Dewi Maleka dalam kisahnya mengajarkan kepada kaum wanita agar tidak sembarangan dalam memilih jodoh, karena ajaran agama Islam menerangkan bahwa dalam mencari jodoh itu tidak boleh sembarangan.Ada empat hal yang harus dipertimbangkannya yaitu:agama, rupa, harta, dan keturunan. Dari keempat kriteria dalam memilih pasangan hidupnya, agama yang diutamakan. Ajaran Islam tersebut tersirat di dalam wawacan Ratu Dewi Maleka yang tokoh utamanya mengutamakan agama dalam memilih pasangan hidupnya.Ratu Dewi Maleka tidak sembarangan dalam menentukan pasangan hidupnya, karena Ratu Dewi Maleka juga seorang ratu yang harus waspada terhadap dampaknya dalam keutuhan negara. Seratus soal mengenai ajaran agama telah disiapkannya untuk mencari pasangan hidup yang dapat membawanya kebahagaiaan dunia dan akhirat.

Kajian naskah WRDM secara feminisme diimplisitkan pada feminisme ideologis denganmenggambarkan karakter tokoh perempuan dalam bersosialisasi, baik di lingkungan keluarga, masarakat, maupun negara. Kajian inidifokuskan pada citra fisik, citra psikis/jiwa, korelasi antara tokoh perempuan dengan keluarganya,serta kedudukan tokoh perempuan di masarakat dan negara.

Dari sisi kajian terdahulu, penelitian yang terkait dengan perempuan, banyak yang telah menggunakan berbagai metode, tetapi sampai saat ini penelitian perempuan dengan objek penelitian naskah tidaklah banyak. Rétty Isnéndés (2005) misalnya, untuk tesisnya meneliti Suara Perempuan dalam Novel Sunda “Puputon” Buah Hati karya Aam Amilia: Kajian Féminisme.Cristina Rohcayanti (2000) mengkaji Citra Wanita Indonesia dalam Iklan Majalah Femina: Analisis Isi Iklan Majalah Wanita Femina Dekade 1970-an, 1980-an & 1990-an. Aquarini Priyatna Prabasmoro (2013) penulis buku tentang feminisme,salah-satubuku terbarunya berjudul ”Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas dan Globalisasi dalam iklan sabun” dan ”Kajian Budaya Peminis Tubuh Sastra dan Budaya Pop”. Hingga kini penelitan feminisme terhadap naskah berupa wawacan belumlah ditemukan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik melalui teori filologi dan metode kritik teks, kemudian dilanjutkan dengan penganalisisan data berupa gambaran citra perempuan dalam naskah Wawacan Ratu Dewi Maleka dengan menggunakan kajian feminisme.

Deskripsi Naskah Wawacan Ratu Dewi Maleka
Naskah WRDM ditemukan di lingkungan masyarakat di Kawali Ciamis. Naskah tersebut berpindah tangan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi, dan saat ini dimiliki oleh Bapak Sobandi. Bahasa yang digunakan dalam naskah WRDM adalah bahasa Sunda, tetapi pada bagian akhir terselip bahasa Cirebon. Akasra yang digunakan dalam naskah WRDM adalah Arab Pegon dengan gaya tulisan Naskhi. Tebal naskah 68 halaman dengan ukuran naskah 16 cmx 21 cm.

Ringkasan Isi Naskah Wawacan Ratu Dewi Maleka
Cerita di dalam naskah WRDM berganti-ganti dalam gaya naratif dan dialog, tidak menampakkansehingga kesan menggurui dan tidak membosankan pembaca, walaupun isinya mengenai ajaran agama yang membutuhkan pemikiran.

Pada pupuh kesatu, diceritakan tentang Raja Erum, bernama Maharaja Salalim, yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita, bernama Dewi Maleka. Ketika baginda raja wafat, Dewi Maleka menggantikannya sebagai raja. Dewi Maleka adalah seorang ratu yang pintar, bijaksana, adil dan dermawan, juga taat bribadah kepada Allah. Selain itu, dalam sempalan cerita dikatakan bahwa Dewi Maleka adalah ratu yang serba bisa dalam segala hal dan ilmunya melebihi bapaknya, Raja Salalim. Pada saat itu Dewi Maleka belum ingin bersuami karena sedang semangat-semangatnya menimba ilmu, walaupun banyak sekali yang menginginkan Ratu Dewi Maleka menjadi isterinyakarena kecantikan dan kepintarannya.Hal itu menjadi kekhawatiran para pandita dan rakyat Erum. Pada sebuah pertemuan dengan para patih, pandita dan priyayi, Ratu Dewi Maleka melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai ajaran agama Islam, namun tidak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Hal itu membuat Ratu Dewi Maleka marah hingga mengancam bila para patih tetap tidak ada yang bisa menjawab, maka patih dan semuanya akan dijatuhi hukuman. Karena dari kerajaan tidak ada satu pun yang bisa menjawab soal-soal Ratu Dewi Maleka, akhirnya Dewi Maleka memutuskan untuk menyuruh patih mengumumkan sayembara. Berita tersebut terdengar oleh seorang santri yang bernama Ki Abdul Alim, yang berasal dari Kastama Mesir. Ia adalah seorang laki-laki yang tampan wajahnya dan tinggi sembada perawakannya. Terlihat bahwa ia adalah keturunan menak namun menyamar sebagai seorang santri biasa.

Pupuh kedua sampai kelima berisi tanya-nyawab soal-soal sayembara yang diajukan oleh Dewi Maleka kepada Ki Abdul Alim. Semua soal berhasil dijawab dengan tegas dan jelas oleh Ki Abdul Alim. Bahkan seringkali ia tidak hanya menjawab soal, tetapi juga memberi penjelasan yang dilengkapi dengan dalil-dalilnya, yang baik bersumber dari Al Quran maupun Al-Hadist. Kepintaran Ki Abdul Alim dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya membuat Ratu Dewi Maleka terpesona. Begitu pula halnya dengan Ki Abdul Alim, sehingga sering sekali dalam bertanya jawab keduanya saling melempar senyum. Sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh pada keduanya.Dari seratus pertanyaan yang diajukan hampir 50 pertanyaan berhubungan dengan aqidah Islam, 30 berhubungan dengan syariat, dan sisanya berhubungan muamalat.

Pupuh keenam sampai keduabelas menceritakan bahwa semua soal telah selesai dijawab dengan tepat dan benar oleh Ki Abdul Alim. Kemudian, seperti yang dijanjikan Ratu Dewi Maleka, Ki Abdul Alim akan dianugrahi kerajaan sekaligus dijadikannya suami. Karena itu, diadakanlah pesta yang sangat meriah di kerajaan selama tiga hari tiga malam.

Pupuh ke tujuh sampai ke duabelas menceritakan bahwa setelah menikah Ratu Dewi Maleka menganggap ki Abdul alim sebagai gurunya. Kemudian, Ratu Dewi Maleka belajar lagi kepada Ki Abdul Alim mengenai ajaran agama, terutama yang berhubungan dengan shalat dan maknanya.

Citra Perempuan dalam Naskah WRDM: Kritik Sastra Feminisme Ideologis

1. Citra Fisik Perempuan dalam Naskah WRDM
Tokoh perempuan yang terdapat dalam Naskah WRDM hanya satu, yaitu Ratu Dewi Maleka yang merupakan tokoh utama perempuan dalam wawacan tersebut. Intensitas kehadiran tokoh perempuan Dewi Maleka terbilang konsisten dari awal cerita sampai akhir cerita.Tokoh Dewi Maleka adalah sosok perempuan yang secara fisik digambarkan sempurna dan cantik jelita. Banyak yang mengatakan bahwa kecantikan itu relatif, tergantung status orang yang menilai sebagai apa atau dari sisi apa. Seorang suami pasti menganggap bahwa istrinya itu cantik bahkan yang paling cantik, tetapi penilaian orang lain belum tentu istrinya itu cantik. Akan tetapi, berbeda dengan penilaian terhadap kecantikan fisik Ratu Dewi Maleka, karena semua mengakui kecantikannya, seperti kutipan dalam teks naskah berikut ini:

008(08)rupana téh langkung alus                    wajahnya lebih rupawan
geus kocap ka nagri lian                                 sudah terkenal ke negeri lain

009(09)kayungyun teuing Nyi Putri                   sempurna sekali Nyi Putri
keur geulis loba kabisa                                   sudah cantik serba bisa

Seperti dalam kutipan di atas, kecantikan Ratu Dewi Maleka sudah terkenal ke negeri lain sehingga banyak sekali raja yang yang ingin menyuntingnya, dan kecantikannya begitu sempurna karena dihiasi dengan kemampuannya yang serba bisa dalam berbagai hal, dan terutama ketaatan beribadah kepada Allah. Setiap sisi kecantikan Dewi Maleka dianalogikan, seperti dalam kutipan teks naskah di bawah ini:

011(11)Meujeuhna begér Nyi Putri,       Nyi Putri sedang saatnya masa puber,
galing muntang rambut panjang,          bergelombang rambut panjang ,
bahé ngigir amis cauna teh,                 jatuh menyamping bulu mayangnya,
halis bulan tanggal dua,                      alisnya laksana bulan sabit,
bangir alus pangambungna,                 berhidung mancung nan bagus,
bulu panon bentik ka luhur,                 lentik bulu matanya ke atas,
kadu sapasi pipina.                             pipinya bagaikan bulir buah durian.

012(12)Kuping lir emas satingling,        Telinga bagaikan emas berkilau,
manggu sabeulah lambeyna,                bibirnya merah delima,
gula gumantung waosna téh,                giginya laksana gula menggantung,
panangan karya gondéwa,                    lengan bagaikan busur panah,
cepres neros rambut panjang,               simetris miring rambut panjangnya
kukuna kalangkung hurung, (4)            kukunya kian bersinar.

Pengarang tidak bosan-bosanya menggambarkan kecantikan Ratu Dewi Maleka, seperti tidak kehabisan kata dalam mendeskripsikannya. Kalau dilihat dari cara pengarang mendeskripsikan setiap sisi kecantikan seorang wanita, sepertinya pengarang WRDM adalah orang yang banyak tahu tentang fisik seorang wanita.

Kecantikan Ratu Dewi Maleka tidak ada yang menandinginya, dengan usianya yang masih muda, yaitu tujuh belas tahun, oleh pengarang disamakan dengan bidadari surga. Tentu saja kata ‘bidadari surga’ itu perlu diinterpretasikan lebih dalam maknanya.

013(13)Ngungkulan sakabéh istri,         mengungguli semua wanita,
taya pisan sasamana,                          tidak ada yang menandingi,

030(30)Salirana leuwih geulis,               Wajahnya begitu cantik,
jeug widadari sawarga,                          bagaikan bidadari surga,
wantu keur meujeuhna anom,               karena lagi muda-mudanya,
keur tujuh welas umurna,                      tujuh belas tahun usianya,
cara béntang kapoyanan,                      bagai bintang kena sinar,

Jadi, kesimpulanya Ratu Dewi Maleka adalah sosok perempuan yang cantik jelita. Gambaran kecantikan fisik Ratu Dewi Maleka banyak ditemukan pada bagian cerita awal atau pupuh ke satu pada bagian tengah dan akhir cerita. Kecantikan fisik Ratu Dewi Maleka hanya disinggung sedikit ketika Ratu Dewi Maleka menikah.

2. Citra Psikis/Kejiwaan Perempuan dalam Naskah WRDM
Untuk mempermudah analisis dalam menggambarkan citra psikis Ratu Dewi Maleka,ceita akan dibagi menjadi tiga bagian seperti dalam ringkasan cerita.

Pupuh Kesatu
Pada awal cerita,Ratu Dewi Maleka digambarkan sebagi sosok perempuan yang sempurna secara psikis, berperilaku baik dalam segala hal, perempuan serba bisa dan mengetahui berbagi ilmu terutama ilmu agama, bahkan kepintarannya melebihi bapaknya, Raja Salalim. Namun, dengan kesempurnaan psikisnya, Dewi Maleka yang masih berusia tujuh belas tahun menginjak masa transisi, sedang masa-masanya jatuh cinta, sehingga belum punya keinginan untuk berumah tangga.Di lain pihak, kerajaan dan rakyat Erum menginginkan Dewi Maleka segera menikah untuk memperkuat keutuhan kerajaan.Banyak sekali yang menginginkan Ratu Dewi Maleka, tapi semuanya ditolak karena ia sedang semangat-semangatnya mencari ilmu.

009(9) Kayungyun teuing Nyi Putri,        Sempurna sekali Nyi Putri,
uninga sagala ilmu,                             mengetahui segala ilmu,
usul piqih lapad lugat.                         usul fiqih lafad lughat.

011(11) Meujeuhna begér Nyi Putri,       Sedang jatuh cinta Nyi Putri,
tacan purun boga salaki,                      belum ingin punya suami,
keur meujeuhna resep tapa,                 sedang semangat mencari ilmu,

Sebagai seorang raja, Ratu Dewi Maleka adalah sosok perempuan yang dermawan, suka berbagi rejeki, terutama kepada rakyat yang kurang mampu. Selain itu, Ratu Dewi Maleka juga adil.Hal tersebut bisa terlihat dari penggalan cerita ketika dinyatakan bahwa siapapun yang bisa menjawab pertanyaan Ratu Dewi Maleka akan dianugrahi kerajaan dan dijadikan suami, walaupun ia adalah seorang laki-laki melarat.

15(15) Nyi Maléka ganti rama,              Nyi Maleka menggantikan bapaknya,
jadi ratu leuwih anom,                          masih muda menjadi ratu,
hartina leuwih ti rama,                          ilmunya lebih dari bapaknya.
taya dua papada,                                 tidak ada bandingnya,
gawé amal leuwih suhud,                      bekerja sangat khusu,
ratu adil tur balaba.                             ratu yang adil dan dermawan.

Di balik kedermawan dan sikap adilnya,Ratu Dewi Maleka adalah raja yang tegas.Hal tersebut bisa dilihat ketika Ratu Dewi Maleka mengadakan pertemuan dengan para patih, pandita dan priyayi. Ketika ia kemudian menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, satu orang pun tidak ada yang bisa menjawab. Ratu Dewi Maleka marah karena menganggap bahwa kerajaan Erum masih kapir dan ia akan menghukum semuanya. Bahkan sebelumya ia akan memenggal leher patih apabila belum juga ada orang yang bisa menjawab.

022(22) Nyaur deui istri,                        bicara lagi ratu,
lamun euweuh nu ngajawab,                  kalau tidak ada yang menjawab,
patih beuheung dipotong,                     patih lehernya dipotong,

026(26) Kana sindir sang raja,               terhadap sindiran sang raja,
tidinya raja téh bendu,                          dari sana raja marah,
sabab taya nu ngajawab.                       karena tidak ada yang bisa menjawab.

029(29 ) Tuluy mulih raja istri,               Lalu pulang raja istri,
masamoan enggeus budal,                   kumpulan sudah bubar,
ratu masih bendu baé,                         ratu masih juga marah,

Pupuh Kedua Sampai Kelima
Pupuh kedua sampai ke lima tidak begitu banyak menceritakan mengenai psikis Ratu Dewi Maleka karena bagian cerita ini merupakan tanya jawab antara Ratu Dewi Maleka dengan Ki Abdul Alim. Psikis yang tersirat pada bagian cerita ini adalah kepintaran Ratu Dewi Maleka dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan mengenai ajaran agama. Sering kali Ratu Dewi Maleka dengan cepat menyusul pertanyaan berikutnya seperti tidak kehabisan kata sampai pertanyaan tersebut bisa dengan jelas dijawab oleh Ki Abdul Alim. Pada bagian ini, Ratu Dewi Maleka mulai jatuh cinta pada Ki Abdul Alim. Hal tersebut bisa terlihat di sela-sela dialog Ratu Dewi Maleka sering melemparkan senyuman karena terpesona oleh ketampanan dan kepintaran Ki Abdul Alim dalam menjawab pertanyannya. Begitu pula dengan Ki Abdul Alim yang kadang menyebut Ratu Dewi Maleka dengan panggilan sayang.

164(26) Dewi Maléka mariksa             Dewi Maleka bertanya
serta bari nungkup biwir                     sambil menutup bibir
imut pabaur jeung hayang                  tersenyum hatinya berharap
tambuh polah teu ngenah                  salah tingkah tidak diam cicing
juru panon larak lirik                          sudut mata melarak-lirik
seug Abdul Alim tumungkul                Abdul Alim enunduk

Pupuh Keenam Sampai Keduabelas
Pada bagian ini Ratu Dewi Maleka diceritakan sudah menikah. Kedewasaannya dalam bersikap terlihat terutama dalam melayani suaminya Ki Abdul Alim. Walaupun sudah menikah, Ratu Dewi Maleka terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ki Abdul Alim, bukan sebagai syarat untuk menjadi calon suami, tapi semata-mata untuk berdiskusi mengenai ajaran agama.Hal tersebut bisa dilihat ketika Ki Abdul Alim membalikan lagi pertanyaan kepada Ratu Dewi Maleka, Ratu Dewi Maleka selalu bersikap rendah hati dengan mengatakan, kau adalah guruku.

3. Citra Perempuan dalam Keluarga
Ratu Dewi Maleka sebagai Anak
Kedudukan Ratu Dewi Maleka sebagai seorang anak dideskripsikan padabagian awal cerita. Ratu Dewi Maleka adalah anak tunggal seorangraja yang bernama Raja Salalim. Sebagai seorang anak Ratu Dewi Maleka adalah sosok anak yang berbakti kepada orang tuanya.Sikap berbakti Ratu Dewi Maleka bisa dilihat dari keseriusan dan ketekunannya dalam mencari ilmu, sehingga Ratu Dewi Maleka menjadi perempuan yang pintar bahkan ilmunya melebihi bapaknya, Raja salalim. Ketika bapaknya meninggal Ratu Dewi Maleka bisa dengan cepat mengisi kekosongan kepemimpinan di negara Erum dengan usianya yang masih muda. Sikap berbakti Ratu Dewi Maleka pun ditunjukkan ketika bapaknya sudah meninggal, beliau lebih rajin dan khusyuk dalam beribadah kepada Allah.

010 (10) sanggeusing ramana wapat,          Setelah bapaknya wapat,
jadi tambah bakti baé,                               jadi tambah berbakti,
ka pangéran nu kawasa,                            kepada Allah yang Maha Kuasa.

015(15) Sanggeusing ramana mati,             Setelah ramanya meninggal,
Nyi Maléka ganti rama,                               Nyi Maleka menggantikan bapaknya,
jadi ratu leuwih anom,                                menjadi ratu muda,
hartina leuwih ti rama,                                ilmunya melebihi bapaknya,
taya dua papadana,                                   tidak ada tandingannya,
gawé amal leuwih suhud,                            beribadah lebih khusyuk,
ratu adil tur balaba.                                   ratu adil dan dermawan.

Ratu Dewi Maleka Sebagai Istri
Kedudukan Ratu Dewi Maleka sebagai seorang istri banyak diceritakan pada bagian akhir wawacan setelah Ratu Dewi Maleka Menikah dengan Ki Abdul Alim. Sebagai seorang istri Ratu Dewi Malaka adalah seorang istri yang santun dan taat kepada suami, kesantunannya bisa dilihat dari sambutan Ratu Dewi Maleka ketika suaminya masuk ke rumah disambut dengan senyuman dan mencium tangan suaminya.

238 (23)karsana munjung ka raja               ingin munjung ke raja
geus pameget sareng istri                          sudah menjadi suami istri
tah nyai pamanggih akang                         ini Nyai pendapat akang
kumaha pikersaeun nyai                            bagaimana pendapat Nyai
seug matur Dewi Maléka                             lalu menjawab Dewi Maleka
amis budi bari seuri                                    santun sambil tersenyum
ngan akang pribadi kuring                          hanya akang contoh saya

Selain itu, Ratu Dewi Maleka adalah seorang istri yang rendah hati. Kepintaran Ratu Dewi Maleka dalam berbagi ilmu, terutama ilmu agama diakui oleh semua orang, namun didepan suaminya Ratu Dewi Maleka selalu memperlihatkan kerendahan hatinya dengan selalu bertanya dan menyebut guru kepada suaminya.

243 (29) Nya anjeun guru kuring téh,          ya kamu guru saya,
ngan kuring deui rék nanya,                       namun saya ingin bertanya lagi,
perkara urusan solat,                                 mengenai urusan shalat,

245 (34) sumuhun, ya,
guru kuring téh nya akang                          guru saya itu akang,

265 (43) leres pisan saur engkang,              betul sekali yang dikatakan akang,
sadayana taya pisan nu kaliru,                     semuanya tidak ada yang salah,
kuring manutan ka engkang,                      saya turut ke akang,
ulah pegat dohir batin.                               tidak akan putus lahir batin.

Kesolehan Ratu Dewi Maleka sebagi seorang istri dalam mengarungi rumah tangga membuat Ki Abdul Alim tidak akan berpaling ke lain hati, dan berjanji akan menjadikan Ratu Dewi Maleka sebagai seorang istri dalam seumur hidupnya.

299 (48) akang nu bisa ngawangsul             akang yang bisa menjawab
teu aya jaba ti akang                                  tidak ada selain akang
Abdul Alim walon deui                                 Abdul Alim menjawab lagi
garwa moal ganti                                       istri tidak akan ganti

salawasna                                                 selamanya

4. Citra Perempuan dalam Masyarakat dan Negara
Di dalam masyarakat, Ratu Dewi Maleka adalah sosok perempuan yang mampu bersosialisasi. Hal tersebut bisa dilihat ketika Ratu Dewi Maleka bisa dengan cepat keberadaannya sebagai seorang pemimpin diterima oleh rakyat. Selain itu, bisa dilihat ketika Ratu Dewi Maleka mengadakan pesta yang sangat meriah, semua rakyat bisa melihatnya sampai masyarakat yang berasal dari kampung datang untuk memberikan doa dan hampir semua yang datang dijamu juga diberikan ipekah.

232(21) Sadayana pada ripuh,         Semuanya pada sibuk,
nangkeup berekat bari seuri,           membawa berkat sambil tersenyum,
urang pilemburan,                          dari pedesaan,
saumur kakara manggih,                seumur hidup baru sekarang,
disuhunan digembolan,                  disuhun dan digembol,
anu ngelek nu ngajingjing.              menenteng dan menjinjing.

233(22) ipkah téh paparin Gusti,      ipekah pemberian Alloh,
uang emas pada mawa,                  semua membawa uang emas,
kabéh pada suka seuri,                  semua pada tersenyum,
sabab pada tampa ipkah.               karena pada menerima ipekah.

Sedangkan, kedudukan tokoh perempuan dalam wawacan Ratu Dewi Maleka memiliki kedudukan yang paling tinggi yaitu sebagai ratu, walaupun perempuan Ratu Dewi Maleka bisa membuktikan bahwa dirinya bisa memingpin negara dengan pengetahuannya yang tinggi dalam berbagai hal. Karakter seorang pemingpin religius, adil, pintar, dermawan dan tegas semuanya dimiliki oleh Ratu Dewi Maleka,sehingga keberhasilannya dalam memimpin negara bahkan melebihi bapaknya raja Salalim. Citra perempuan tokoh Ratu Dewi Maleka dalam berpolitik sangat sesuai sekali dengan paham feminisme karena Ratu Dewi Maleka bukan hanya mampu mengembangkan dirinya sebagai seorang perempuan tapi mampu menjadi seorang pemimpin yang hebat.

Kesimpulan

Naskah WRDM merupakan warisan leluhur yang ditemukan dari masyarakat Kawali Ciamis yaitu Pak Bandi.
Di dalam naskah WRDM terdapat citra perempuan fisik, psikis dan kedudukan tokoh Ratu Dewi Maleka yang mampu mengembangkan dirinya, sebagai seorang istri ia taat terhadap suaminya, dan sebagai seorang pemimpin ia menjadi pemimpin yang dicintai, dan disegani oleh rakyatnya.

Daftar Pustaka
Beauvoir, Simone De. 2003. Second Sex: Kehidupan Perempuan. Diterjemaahkan oleh Toni B. Febriantono. Pustaka Promethea.

Budianta, Melani. 2003. Membaca Sastra: Pengantar Untuk Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Depok: Indonesiatera.

Danadibrata. 2006. Kamus Lengkap Basa Sunda. Bandung: KIBLAT.

Darsa, Undang A. 2011. Kodikologi Sunda Sebuah Dinamika Identifikasi dan Inventarisasi Tradisi Pernaskahan. Bandung: Rasdiaz print.

Djayanegara, Soenardjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Putaka Utama.

Djamaris, Edwar. 1990. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

Fakih, Mansour. 2005. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hasyim, Nafron. 1985. Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan.

Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Ikram, Achadiati. 1980. Beberapa Metode Kritik dan Edisi Naskah. Yogyakarta: Penataran Tenaga Ahli Kesusastraan dan Nusantara.

Ikram, Achadiati. 1997. Filologia Nusantara. Pustaka Jaya.

Isnendes, Retty. 2004. ‘Suara Perempuan Dalam Novel Sunda Puputon ‘Buah Hati’ Karya Aam Amilia: Kajian

Feminisme’. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarajana Universitas Gajah Mada.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarata: Pustaka Pelajar..

Pudjiastuti, Titik. 2006. Seri Kajian Filologi. Naskah dan Studi Naskah. Bogor: Akademia.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Nasional. 1991.”Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”. Bandung: Yrama Widya.

Rochayanti, Cristina. 2000. ‘Citra Wanita Indonesia Dalam Iklan Majalah Femina: Analisis Isi Iklan Majalah Wanita Femina Dekade 1970-an, 1980-an & 1990-an’.Tesis. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pajajaran.

Sopia, Adib & Sugihastuti. 2003. Femenisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung : Katarcis.

Sugihastuti & Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

7286