Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Tindakan Vandalisme Koleksi Perpustakaan dan Upaya Pencegahannya

Pendahuluan
 
Di era abad informasi ini koleksi perpustakaan bermacam-macam jenisnya, yaitu yang paling identik dengan perpustakaan adalah bahan perpustakaan tercetak. Selain itu ada bahan perpustakaan non cetak yang dikenal dengan koleksi audio visual (AV) seperti kaset, video, CD, dan koleksi dalam bentuk mikro. Walaupun beraneka ragam jenis koleksi perpustakaan namun suatu perpustakaan tidak terlepas dari adanya koleksi buku, bahkan masyarakat sering mengatakan yang namanya perpustakaan identik dengan buku. Mengapa koleksi buku masih dominan di perpustakaan, karena membaca buku adalah suatu kenikmatan tersendiri dibandingkan dengan membaca dalam bentuk media lain. Membaca buku bisa dilakukan di perpustakaan, di rumah, di halaman, di halte bahkan di dalam kendaraan, selain itu buku juga enak dibaca di atas meja, sambil santai, di ruang tamu bahkan sambil tidur-tiduran.

Dengan bertambah banyaknya koleksi buku di perpustakaan dan berbagai macam aturan yang diterapkan terhadap pemustaka maka muncul perilaku pemustaka yang menyimpang yaitu menyalahgunakan koleksi. Perilaku penyalahgunaan koleksi ini selain merugikan pihak perpustakaan, sebenarnya juga merugikan pemustaka lain bahkan dapat merugikan diri sendiri. Salah satu perilaku pemustaka yang sangat merugikan inilah yang dinamakan vandalisme. Secara umum vandalisme dapat diartikan sebagai perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya. Penyalahgunaan koleksi seperti memberi tanda tertentu, mencoret- coret yang tidak berarti, penyobekan dan pencurian dapat dimasukkan dalam perilaku vandalisme.

Dari segi finansial akibat perilaku vandalisme sangat merugikan, sebagai contoh di negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat juga terdapat perilaku vandalisme yang menelan kerugian sangat besar. Secara umum akibat perilaku vandalisme pada tahun 1990 di Amerika Serikat merugikan negara sebesar $ 600 juta dan setahun kemudian (1991) kerugian bertambah menjadi $ 1 Milyar (Arnold, 1996:11). Selain merugikan secara finansial akibat perilaku vandalisme juga merugikan sesama pemustaka, dapat mengurangi jumlah koleksi, dan juga dapat menghalangi transfer ilmu pengetahuan.

Sering ditemui di lapangan koleksi bahan perpustakaan di perpustakaan telah rusak akibat perilaku vandalisme meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit. Kerusakan tersebut diantaranya adalah ada buku yang diberi tanda dengan stabillo/ ballpoin, adanya coretan atau gambar yang tidak ada artinya, beberapa bagian halaman yang hilang, dan sebagainya. Memang perilaku vandalisme tidak hanya terjadi pada perpustakaan-perpustakaan konvensional yang belum tersentuh teknologi tetapi juga terjadi pada perpustakaan-perpustakaan yang modern yang telah menggunakan teknologi informasi. Berdasarkan hasil penelitian oleh seorang pustakawan dari Australia, potensi penyalahgunaan koleksi perpustakaan mencapai 2 % dari jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan.

Pengertian Vandalisme
Vandalisme berasal dari nama puak di Eropa, yaitu vandals yang telah membinasakan kota Roma pada tahun 445 M. Dalam bahasa Indonesia kata vandalisme berasal dari kata dasar vandal yang berarti perusak, kemudian mendapat akhiran isme maka mengandung arti perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang-barang berharga lainnya (KBBI,1995:1116). Pengertian lain tentang vandalisme adalah penambahan, penghapusan, atau pengubahan isi yang secara sengaja dilakukan untuk mengurangi kualitas (Wikipedia.org).

Dari pengertian tersebut apabila digunakan dalam dunia perpustakaan yang berhubungan dengan koleksi bahan perpustakaan, maka vandalisme sering disebut dengan penyalahgunaan koleksi bahan perpustakaan. Penyalahgunaan koleksi di antaranya adalah pencurian, mutilasi/penyobekan, peminjaman tidak sah dan coret-mencoret buku (Kompas, 6 Juni 2007).

Bentuk-Bentuk Vandalisme
Bentuk-bentuk vandalisme yang sering terjadi di perpustakaan dijelaskan oleh Fatmawati (2007:4) ada delapan bentuk, yaitu: a) Coret-coret tulisan atau penodaan yang menggunakan ballpoint, spidol, stabillo, maupun pensil warna, b) Pelipatan halaman tertentu, c) Pengguntingan gambar-gambar tertentu, d) Perobekan pada halaman tertentu, e) Pengeratan dan pembetotan halaman, f) Memanfaatkan kartu anggota perpustakaan milik orang lain, g) Buku yang tidak dikembalikan, dan h) Penjiplakan/plagiat karya ilmiah

Sedangkan menurut Sri Hartati (Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta), bentuk vandalisme yang diistilahkan dengan penyalahgunaan koleksi yang sering ditemui ada empat bentuk, yaitu: a) Coret-mencoret bul Mutilasi atau penyobekan buku pada b; tertentu, c) Peminjaman tidak sah, dan e) Pencarian koleksi oleh pemustaka.

Faktor-Faktor Penyebab Tindakan Vandalisi
Perilaku vandalisme di perpustakaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang dari pemustaka sendiri maupun yang berasa perpustakaan. Faktor-faktor yang menyebabkan tindakan vandalisme tersebut adalah:
1. Faktor Dari Pemustaka
a. Kurangnya kesadaran pemustaka
Kurangnya kesadaran pemustaka akan pentingnya sebuah informasi dalam perpustakaan yang sebenarnya  milik bersama dimana koleksi yang mereka vandal menyebabkan orang lain tidak bisa mengakses lagi, mereka tidak menyadari kemungkinan suatu informasi dibutuhkan juga telah divandal pemustaka lain. Seandainya pemustaka perpustakaan menyadari akibat perbuatan vandalisme yang mereka lakukan itu merugikan diri sendiri maka koleksi perpustakaan di perpustakaan akan lengkap

b. Kekecewaan terhadap lay perpustakaan
Faktor kecewa ini juga dapat menyebabkan pemustaka melakukan tindakan vanda terhadap koleksi perpustakaan. Kekecewaan bisa terjadi karena kebutuhan informasi yang mereka cari tidak ketemu, sehingga mereka merasa kecewa dan melakukan tindakan vandal. Kekecewaan pemustaka juga bisa terjadi akibat petugas perpustakaan yang kurang ramah terhadap pemustaka cuek, dan tidak mau membantu kesulitannya.

Faktor ini biasanya terjadi karena pemustaka perpustakaan terlalu kaku dengan aturan yang ada dan tidak ada toleransi. Contoh pemustaka yang terlambat mengembalikan buku cukup lama terkena sanksi denda cukup banyak dimana banyaknya denda tersebut melebihi dari harga buku yang mereka pinjam akan tetapi petugas tidak memiliki kebijaksanaan. Pemberlakuan aturan seperti ini justru dapat menyebabkan pemustaka marah dan bisa melakukan tindakan vandal terhadap koleksi yang ada. 

c. Adanya kesempatan
“Kesempatan” juga merupakan faktor pemustaka melakukan tindakan vandalisme.
Sebenarnya pemustaka tidak ada niat untuk melakukan vandal, akan tetapi karena kurang atau tidak adanya pengawasan maka mereka iseng-iseng melakukan vandal. Apabila kesempatan pertama mereka merasa aman tidak diketahui oleh petugas maka berikutnya mereka akan mencari kesempatan lagi, bahkan lama-lama mereka akan mencari-cari kesempatan.

2. Faktor Dari Perpustakaan
a. Lemahnya Pengawasan.
Faktor penyebab terjadinya tindakan vandalisme dan pencurian buku diantaranya adalah akibat lemahnya pengawasan petugas baik terhadap pemustakanya maupun terhadap koleksinya. Longgarnya pengawasan terhadap pemustaka dan koleksi yang akan dibawa keluar perpustakaan maupun koleksi yang dikembalikan menjadi penyebab banyaknya buku-buku yang hilang. Begitu juga lemahnya pengawasan pemustaka di rak-rak koleksi atau di meja – meja baca dan tempat- tempat dapat menyebabkan pemustaka dengan leluasa merobek sebagian halaman buku.

b. Petugas yang Kurang Profesional Layanan terhadap pemustaka yang terlalu birokratis dapat menyebabkan layanan menjadi lambat sehingga pemustaka merasa kesulitan dan tidak sabar yang akhirnya dapat mengakibatkan pemustaka mengambil jalan pintas dengan membawa buku keluar tanpa melalui prosedur yang syah. Selain itu karena terbenturnya dengan aturan/tata tertib perpustakaan yang berlaku seperti misalnya tidak boleh fotokopi, koleksi tertentu tidak boleh dipinjam, dan ketentuan jumlah maksimal buku yang dipinjam juga menyebabkan pemustaka melakukan tindakan vandalisme.
Petugas yang kurang profesional dalam memberikan layanan seperti tidak simpati, rendahnya kualitas layanan, petugas tidak bisa membantu kesulitan pemustaka sehingga mereka tidak puas. Ketidakpuasan pemustaka ini mereka dapat melakukan perusakan bahan perpustakaan.

3. Faktor Lain
a. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan diantaranya adalah karena kondisi ekonomi pemustaka, faktor sosial masyarakat, lingkungan tata letak perpustakaan yang kurang tepat.

b. Stress
Orang yang sedang stress, frustasi, kebingungan dan marah serta kecewa dapat dilampiaskan dengan melakukan perusakan koleksi. Tindakan vandalisme yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut biasanya bukan karena informasi yang dibutuhkan tetapi benar-benar untuk merusaknya dengan tidak memikirkan akibatnya.

c. Tersumbatnya Komunikasi
Ketidakharmonisan hubungan antara pustakawan dengan pemustaka dapat menimbulkan sikap apriori dari pemustaka terhadap perpustakaan yang pada akhirnya pemustaka tidak mempunyai rasa memiliki terhadap koleksi. Pustakawan dalam suatu perpustakaan adalah sebagai mediator yang menghubungkan perpustakaan sebagai komunikator terhadap pemustaka sebagai komunikan. Untuk itu para pustakawan harus mampu membantu kepentingan pemustaka sehingga komunikasi antara pemustaka dengan perpustakaan tidak tersumbat.

Upaya Pencegahan
Perilaku vandalisme terhadap koleksi bahan perpustakaan dapat terjadi di semua jenis dan bentuk perpustakaan, baik perpustakaan tersebut masih kecil maupun sudah besar. Untuk mengatasi berbagai bentuk vandalisme yang sangat merugikan perpustakaan dan pemustaka perpustakaan yang lain perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan dan pengamanan. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pencegahan (prefentif) dapat berupa tindakan- tindakan sebagai berikut:

1. Pengamanan Fisik: Pertama melarang pemustaka memakai jaket dan membawa tas, stopmap atau yang sejenis ke dalam ruang koleksi. Kedua menyediakan petugas khusus untuk melakukan pengecekan pada saat pemustaka keluar perpustakaan.

2. Pengamanan Terhadap Sistem: Pertama menyediakan alat-alat pengendali dalam system. Kedua melakukan pemasangan security system seperti sensor matric dan sensor alarm pada pintu keluar perpustakaan.

Pencegahan dan pengamanan terhadap perilaku vandalisme di perpustakaan dapat berupa tindakan (action) sebagai berikut:
1. Perlu adanya mentalitas intelektual pemustaka agar tidak melakukan vandalisme terhadap koleksi bahan perpustakaan.
2. Sikap dan perilaku pustakawan/petugas perpustakaan yang selalu mengadakan pengontrolan terhadap pemustaka baik dalam ruangan maupun pintu keluar.
3. Pada jenis koleksi tertentu dapat dilakukan layanan sistem tertutup (close access).
4. Membuat tata tertib tertulis dan sanksi yang jelas bagi yang melakukan pelanggaran.
5. Mengontrol penggunaan kartu anggota baik yang manual maupun yang terotomasi agar mereka tidak menggunakan kartu anggota orang lain.
6. Pintu masuk selalu tertutup, hanya pemustaka yang mempunyai kartu yang bisa masuk perpustakaan.
7. Menyediakan ruang baca yang representatif yang terpisah dengan rak-rak koleksi.
8. Pemasangan cermin cembung (cannex mirror) pada tempat-tempat tertentu.
9. Pemasangan CCTV camera di ruang koleksi.

Penutup
Keberhasilan layanan perpustakaan tergantung dari 3 faktor utama yaitu 5 % bergantung dari fasilitas, 20 % keberadaan koleksi, dan 75 % staf perpustakaan/pustakawan. Karena faktor terbanyak dari staf maka para pustakawan/staf perpustakaan dituntut memiliki sikap yang komunikatif, mempunyai perhatian, mau membantu, terampil, pandai menempatkan persoalan yang tepat, mempunyai pengetahuan yang luas baik dunia perpustakaan maupun pengetahuan umum, dan mempunyai imajinasi yang tinggi. Faktor terpenting kedua adalah keberadaan koleksi yang memadai yang harus dijaga keutuhannya dari perbuatan vandalisme pemustaka. Karena vandalisme tidak hanya merugikan perpustakaan tetapi juga merugikan orang lain bahkan diri sendiri.

Pemustaka yang melakukan vandalisme di samping ada niat sebelumnya juga karena adanya kesempatan. Perilaku vandalisme yang dilakukan oleh pemustaka sudah sangat canggih dengan berbagai teknik agar aman dari pengawasan petugas maupun luput dari alat-alat yang digunakan perpustakaan. Oleh sebab itu sebagai seorang pustakawan/staf perpustakaan harus lebih berhati- hati dan waspada terhadap perilaku-perilaku vandalisme yang cenderung selalu meningkat dan nekat. Oleh karena itu pustakawan haru: meningkatkan profesionalisme dari semua aspek dar menjalin hubungan kerja sama yang sinergis dengar berbagai unsur, baik pimpinan dan organisasi organisasi kemahasiswaan, bahkan dengan individu individu pemustaka.

Daftar Pustaka
Ananova. Vandalisme urine di buku. Tempo Seni 23 Mei 2005

Arnold P Goldstein. 1996. Psycologi of vandalisn New York: Plenum Press

Artika, I Wayan. 2002. Vandalisme dan kecurigai : tantangan baru konservasi warisan budaya. Sinar Harapan

Definisi vandalisme dan realitanya. http id.wikepedia.org

Fatmawati, Endang. 2007. Vandalisme perpustakaan. Media informasi vol. XVI, no.l h. i.Yogyakarta: Perpustakaan UGM

Pengenalan vandalisme. Http//mpm.gov.my. ( Maret 2007)

Santoso, Heri.2008. Strategi perpustakaan perguru tinggi dalam mengatasi vandalisme. Jun kepustakawanan dan masyarakatmembacavohi 24, Januari -Juni 2008. Palembang Perpustakt Universitas Sriwijaya him 6-7

Sri Hartati. 2005. Mutilasi buku tetap berlangsu Kompas Rabu 6Juni 2007

Suciati, Uminurida dkk. 2006. Pemanfaatan teknologi komputer di UPT Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Berkala ilmu perpustak dan informasi vol. Ill no. 1 Yogyakarta : Perpustakaan Universitas Gadjah Mada