Farmakologi Tradisional di Palembang Dalam Perspektif Ekologi Budaya: Studi atas Naskah “Kitab Buktikan Obat-obat” Karya Sayyid Ali bin Alwi bin Shihabuddin dan Naskah Mujarobat

EKOLOGI BUDAYA bermula dari sebuah aliran yang dikembangkan dalam antropologi yang dipelopori oleh seorang sarjana Amerika Utara bernama Julian Steward (1902–1972). Steward adalah orang pertama yang memasukkan kajian tentang hubungan budaya dengan lingkungan ke dalam bidang kajian ekologis. Namun, embrio pemikiran bersumber pada aliran pemikiran ‘partikularisme historis’ Frans Boaz. Ekologi Budaya adalah sebuah cara memahami persoalan lingkungan hidup dalam perpektif budaya, atau sebaliknya, memahami kebudayaan dalam perspektif lingkungan hidup.
Ekologi budaya mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Ciri ekologi budaya adalah adanya perhatian terhadap adaptasi pada dua tataran: pertama, cara sistem budaya beradaptasi terhadap lingkungan totalnya dan, kedua, sebagai konsep adaptasi sistemik, cara institusi-institusi dalam suatu budaya baradaptasi dan saling menyesuaikan diri. Ekologi budaya menyatakan bahwa proses-proses adaptasi akan memungkinkan kita melihat cara kemunculan, pemeliharaan dan transformasi sebagai konfigurasi budaya. Unit adaptasi makhluk manusia meliputi organisme dan lingkungan yang merupakan suatu ekosistem; yaitu sistem atau kesatuan yang berfungsi dan terdiri atas lingkungan fisik berikut berbagai organisme yang hidup di dalamnya. Proses adaptasi telah menghasilkan keseimbangan yang dinamis karena manusia sebagai bagian dari salah satu organisme hidup dalam lingkungan fisik tertentu. Melalui kebudayaan yang dimilikinya ia mampu mengembangkan seperangkat sistem gagasan. Dengan kata lain, manusia sebagai salah satu bentuk organisme, melalui sistem gagasan yang dikembangkan dan dimilikinya, mampu menyesuaikan diri dengan bagian dari ekosistem. Dengan demikian ekologi budaya membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam suatu ekosistem tertentu dan membahas cara manusia membentuk ekosistem itu sendiri.
Kebudayaan dapat juga didefinisikan sebagai sistem adaptasi terhadap lingkungan. Konsep kebudayaan yang bersifat materialistis, yang mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau sistem yang berfungsi mempertahankan kehidupan masyarakat, terlihat dalam warisan intelektual yang mengandung masalah farmakologi tradisional di Palembang.
Salah satu unsur kebudayaan di Palembang yang dapat dikaji melalui ekologi budaya adalah masalah pengobatan, yakni yang terdapat dalam warisan intelektual berupa naskah kuno. Pengetahuan tentang farmakologi  tradisional di kalangan masyarakat Palembang ternyata telah lama ada, terlihat dari adanya manuskrip-manuskrip bertemakan obat-obatan yang disimpan masyarakat Palembang. Salah satu manuskrip tesebut adalah Kitab Butikan Obat-Obat karya SAYYID ALI BIN ALWI BIN SHIHABUDDIN yang ditulis di Kampung 16 Ilir Palembang. Naskah ini sebenarnya sangat dapat memberi kontribusi terhadap kebutuhan keilmuan masyarakat masa kini. Sebagaimana banyak diberitakan bahwa pada saat ini dunia kedokteran mulai melirik obat-obat dari bahan bahan alami (herbal). Demikian juga perusahaan obat-obatan yang meyakini obat-obat herbal sebagai komoditas yang akan sangat menguntungkan. Keyakinan itu didukung oleh pola pikir kebanyakan masyarakat yang menganggap obat-obatan herbal lebih aman dikonsumsi dibandingkan obat-obatan dari bahan-bahan kimia.
Yang menarik dari teks di dalam naskah ini adalah, antara lain, sebagian besar dari 22 bab di dalamnya mengenai kesehatan reproduksi perempuan. Asumsi awal penulis adalah: kemungkinan besar di Palembang pada masa itu maupun masa sebelumnya, hal yang terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan kurang mendapat perhatian, sehingga rawan terjadi peristiwa “kematian ibu dalam proses melahirkan maupun kematian anak dalam kandungan”. Asumsi di atas kemungkinan benar, terbukti dari teks pada bab-bab mengenai : “…… – obat buat perempuan yang bunting supaya anak di dalamnya selamat jangan runtuh, – obat buat perempuan yang hendak beranak supaya mudah keluar anaknya, – obat perempuan yang mau beranak tapi sudah mati masih dalam perut supaya segera keluar dan sebagainya.” Dalam perspektif kajian sejarah maupun kajian “gender”, naskah ini dapat memberi kontribusi besar sebagai sumber yang otentik dan kredibel.
Naskah ini juga menyebutkan berbagai macam bahan obat yang berasal dari tumbuhan maupun hewan, sesuai dengan bahan yang dapat diambil dari lingkungan hidup masyarakat Palembang, seperti: lada hitam, lada putih, jinten hitam, jinten putih, kulit kayu manis, madu, gula aren dan sebagainya. Penggunaan obat tradisional atau alami berdasar naskah ini dapat dipandang sebagai cermin budaya lokal atau kearifan lokal Palembang yang penting untuk dipublikasikan di kalangan masyarakat Palembang dan dunia medis pada umumnya.
 Naskah ini berisi 39 bab pengobatan berbagai macam penyakit yang berkenaan dengan kesehatan organ reproduksi perempuan dan laki laki. Naskah ini berisikan resep obat-obatan untuk berbagai macam penyakit. Yang menjadikan resep-resep obat di dalam naskah ini nampak “ilmiah” atau menekankan pada pandangan positivisme, atau metodologi ilmu pengetahuan alam, jika dilihat dari perspektif medis, antara lain adalah : – cara penggunaannya disertai dengan dosis (takaran), aturan atau cara pemakaian, dan juga pantangan. Obat herbal pada masa kini jarang yang mencantumkan dosis/takaran, sehingga dikawatirkan kurang aman jika dikonsumsi.
Hal lain yang menarik dalam naskah ini adalah dosis atau takaran bahan yang digunakan didasarkan pada berat mata uang. Sebagai contoh: “gula pasir berat satu ringgit, kuma-kuma berat satu tali, jinten hitam kadar berat setengah ringgit” dan sebagainya. Dengan demikian berat bahan obat yang digunakan disesuaikan dengan berat sejumlah tertentu koin mata uang yang berlaku pada masa itu. Hal itu memberi pemahaman bahwa penggunaan obat tersebut terhindar dari efek samping yang dapat membahayakan atau, dengan kata lain, obat tersebut aman untuk digunakan.
Dari pengobatan tradisional yang dikenal masyarakat Palembang melalui pengetahuan yang terdapat pada naskah-naskah dalam kajian ini didapatkan informasi yang sangat menarik, yakni bahwa pada satu sisi pengobatan dilakukan menggunakan dengan cara ilmiah dan pada sisi lain dengan menggunakan cara-cara berdasarkan kepercayaan yang berasal dari “dinamisme” (percaya pada benda-benda yang mempunyai kekuatan), meski muncul unsur-unsur Islam di dalamnya. Hal ini menarik, karena menggambarkan bagaimana unsur Islam masuk ke dalam tradisi lokal bukan saja pada upacara-upacara ritual daur hidup, namun juga dalam masalah pengobatan.

Pengobatan Berdasar Naskah “Kitab Butikan Obat-Obat”
Naskah Kitab Butikan Obat-Obat karya Sayyid Ali bin Alwi bin Shihabuddin terdiri dari 24 halaman teks. Teks pada halaman 1-10 berisikan pengobatan berkenaan dengan perempuan, halaman 10–16 pengobatan berkenaan dengan laki-laki, halaman 17–18 berkenaan dengan masalah sakit ketika buang air kecil maupun kencing batu, halaman 19 berkenaan dengan masalah kesehatan rambut, dan halaman 20–21 berkenaan dengan masalah batuk atau muntah darah.
Dari 24 halaman teks, halaman 1–21 memuat rincian jenis penyakit yang akan diobati serta macam-macam obatnya. Halaman 22-24 berisi ‘tanbih’. Meskipun dalam kitab ini terdapat 39 bab masalah pengobatan, namun teks yang dapat terbaca hanya sekitar 30 bab.
Penulis kitab Buktikan obat-obat ini diketahui melalui kolofon pada halaman akhir teks, yakni halaman 21, yang bunyinya: “…maka telah selesai dinukil kitab obat-obat yang dikarang oleh Syayid ‘Ali bin ‘Alwi bin Shihabuddin Palembang pada bulan jumadil akhir 1339 H.”

Identifikasi Pengobatan Berdasar Isi Teks
1.  Obat buat sembuhkan dari perempuan yang datang bulan sampai deras keluarnya.
Biji-bijian kadar banyaknya tiga genggam ditumbuk halus halus kasih air panas yang sudah mendidih kira kira tahan panasnya, lantas minum pagi pagi berturut-turut sampai tiga pagi’,,
Biji-bijian kadar banyaknya setengah belek susu direndam sama air panas yang sudah mendidih satu malam pagi pagi lantas remas dan saring ambil airnya minum bikin sampai tiga pagi berturut turut,,
Kayu manis kulitnya berat satu tali tumbuk halus halus dan kasih air panas kira kira satu cangkir kopi banyaknya, saring minum airnya pagi pagi,,
Bawang putih banyaknya kadar 5 (lima) siung digiling halus halus kasih air panas kadar satu cangkir kopi yang sedang dan saring minum pagi pagi hari,,
…berat satu dan lada hitam sepuluh biji ganda berat satu tali tumbuk halus dan madu setengah cangkir kecil dan air cuka dari gabung setengah cangkir dan semuanya campur jadi satu minum pagi hari,,
Gula batu (gula batu) berat satu ringgit tumbuk halus halus kasih air panas kadar satu cangkir kopi pada waktu minum pagi pagi,,
Biji sawi tumbuk halus halus kasih air panas kadar banyaknya seperti kalabat juga minum pagi pagi, dan kalau hendak dua tempat saja bijinya pun boleh,,
2.  Obat perempuan yang tiada sekali kali datang bulan supaya bisa datang bulan
3.  Obat buat bikin berhenti supaya jangan datang bulan
4.  Obat Perempuan Hendak beranak Supaya mudah keluar anaknya
5.  Obat Perempuan Mau Beranak anaknya sudah mati masih didalam perut supaya suka keluar
6.  Obat tembuni yang belum bersih tinggal didalam perut supaya kasih keluar
7.  Obat Perempuan yang sulit keluarnya darah mengalir dari peranakannya supaya berhenti
8.  Obat perempuan yang bunting supaya anaknya di dalam selamat jangan runtuh
9.  Obat perempuan supaya tiada banyak bunting
10. Obat perempuan buat menahan jangan ia beranak lagi
11. Obat Perempuan yang sakit peranakan 5 (lima) macam
Pertama jinten kadar berat satu ringgit tumbuk halus halus dan kasih air madu kira kira empat sendok besar, lantas aduk minum pagi hari bikin tiga hari berturut-turut. Kedua kayu manis kulit kadar berat satu ringgit tumbuk halus halus dan kasih ai panas kira kira satu cangkir kopi saring minum pagi pagi dan bikin tujuh hari, satu kali minum sampai tiga kali minum. Ketiga kumu kumu kadar berat setengah tali. Keempat jinten hitam bungkus sama kain putih. Kelima minyak sapi kadar dua sendok suap dan air madu tiga sendok aduk jadi satu minum pagi hari bikin tiga pagi berturut. //
12. Obat bikin berhenti air yang suka keluar dari lubang peranakan perempuan
13. Obat peranakan perempuan yang yang ada berasa seperti mau keluar atau berasa seperti bengkak
14. Obat perempuan yang beku air susunya supaya jadi encer
15. Obat perempuan yang bengkak susunya waktu beranak
16. Obat susu perempuan yang keras supaya jadi lembut
17. Obat susu perempuan yang korengan
18. Obat perempuan mau bikin berhenti air susunya supaya tiada keluar.
19. Obat orang laki laki sakit zakarnya dan kering serta bengkak juga
20. Obat buat menguatkan syahwat supaya kuat jimak dengan tiada menjadikan “ngadhul”
21. Obat buat menguatkan syahwat …
22. Obat buat menguatkan syahwat yang dinukil dari Kitab Imam Jalaluddin Ashobari
23. Obat apabila keluar kencing berasa panas
24. Obat keluar kencing berasa sakit
25. Obat supaya deras kencingnya
26. Obat orang keluar kencing darah
27. Obat orang keluar kencing darah, atau memecahkan batu yang di dalam zakar atau supaya jadi keluar
28. Obat menahankan rambut jangan rontok
29. Obat supaya jangan tumbuh bulu kelek atau ada tempat lain lain juga
30. Obat orang batuk mengeluarkan darah atau muntahkan darah

Jenis Tanaman Obat Berdasar Isi teks
a. Nabati:
Jinten hitam, kulit kayu manis, bawang putih, lada hitam, biji ganda, daun ganda, air cuka, gula batu, biji sawi, kuma-kuma dan teh basi, minyak kelapa, bunga kunyit, jinten putih, akar kayu bahar, kacang merah, daun nak nak, biji jarak buang kulitnya, daun jarak, kayu sugi, buah cung, gula batu, kacang pala, kacang dele, biji lobak dan bunganya, kulit labu kering, minyak air mawar, jahe merah, cengkeh, bawang merah, kuru kuru, tepung jagung, pala, buah kismis, laos, kuah bayam memakai susu sapi, kayu cendana, buah kenari, kapulada, buah pala, daun kumis kucing, daun selasih, kayu cendana, bunga pacar, daun bidara, kulit delima, ketumbar.

b. Hewani:
Minyak sapi, madu, kuning telur ayam, sarang laba-laba, ayam perempuan yang belum bertelur, tanduk sapi, paru sapi laki laki, hati terwelu, kencing biri biri, lintah, susu kuda, empedu kambing, tulang sapi, tulang kerbau.

c. Non-Nabati/hewani :
Batu zamrut asli, batu akik asli dari Yaman, batu mutiara, garam, tawas, kapur sirih, lilin dari madu, minyak gandari, gula batu, empedu sapi, gula pasir, roti tawar.

Pengolahan Obat dan Cara Pengobatan Berdasar Isi Teks
Ditumbuk halus-halus, dicampur air panas mendidih, direndam satu malam pagi, diremas disaring, digiling halus halus, ditumbuk diayak jadi tepung, direbus, dimakan daunnya, biji langsung dimakan, dibakar, dimasak dalam periuk tanah yang baru, dibalurkan ditempat yang mau diobati, dibuat untuk lalap, laos diparut disaring, telur ayam dibenam diabu yang panas setengah matang dimakan.

Dosis Penggunaan Berdasar Isi teks
a. Dosis: Ditimbang sama beratnya, kadar beratnya setengah rupiyah, dua sendok besar, tiga genggam, setengah belek susu, berat satu tali, satu cangkir kopi, lima siung, sepuluh biji, kadar berat satu ringgit, berat satu tali, daun kadar lima lembar, kadar lima menit, sepuluh menit, dipantangkan makan cabe, dipantangkan makan asem asem, dipantangkan makan masin masin.

b. Penggunaan: Dimakan pagi dan petang, diminum pagi, diminum pagi sampai tiga pagi berturut turut, jenis obat tepung ditaruh pada tempat yang hendak diobati. Diuapkan ditempat yang hendak diobati, akar kayu bahar dipakai untuk kendit, dioleskan, direndamkan sepuluh menit, dibalurkan, diborehkan, disapukan dengan bulu ayam, diminum sebelum makan apa apa, diminum satu jam sebelum makan apa apa, dimakan setelah bangun tidur pagi, …

Pengobatan Berdasar Naskah Mujarobat
Naskah Mujarobat ini berasal dari koleksi pribadi, yaitu dari Reza Fahlefi di Palembang. Naskah ditulis di atas kertas Eropa. Pada tengah-tengah kertas terdapat watermark berupa lion in medallion yakni gambar singa dalam bingkai dengan motif bunga. Penulisannya menggunakan pena tinta/kalam yang berwarna merah, hijau, kuning dan hitam. Adapun bahasa yang digunakan dalam teks Naskah Mujarobat adalah bahasa Melayu dan aksara yang digunakan adalah Arab. Naskah ini ditulis pada tahun 1325 H dan tidak ditemukan informasi mengenai siapa pengarangnya. Naskah Mujarobat dalam keadaan tidak utuh lagi, karena ada bagian-bagian yang robek dan yang tidak terbaca. Di samping itu halaman satu dengan halaman lainnya sudah tidak menyatu lagi.
Naskah Mujarobat terdiri atas 316 halaman, per halaman memuat 10 baris yang berjarak 5 milimeter, yang ditulisi berjumlah 311 halaman, jumlah pelindung 3 lembar, yaitu bagian depan 1 lembar, bagian belakang 2 lembar. Ukuran halaman: panjang 6,3 cm, lebar 4 cm., adapun ukuran piasnya: sebelah kiri 0,5 cm, kanan 0,6 cm, atas 0,8 cm, serta bawah 0,8 cm. Pada naskah tersebut tidak terdapat nomor halaman ataupun kata/kalimat penghubung untuk melanjutkan ke halaman berikutnya, hanya ada kalimat (sebagian lagi) pada awal teks baru.
Dari segi penulisannya, naskah Mujarobat mempunyai beberapa motif hiasan atau iluminasi, seperti: motif songket, limas, simbar pancake rebung, bunga matahari, geometrik, dan kaligrafi yang banyak terdapat pada simbol-simbol dan lambang-lambang. Naskah ini mempunyai berbagai macam illustrasi, seperti pedang, tongkat, lingkaran, segi empat, segi panjang, dsb. Penulisan naskah menggunakan Khat Naskhi. Adapun bahan sampulnya terbuat dari serat/ kulit kayu dengan ukuran: panjang 7,5 cm. dan lebar 5 cm, sedangkan antara satu kertas dengan kertas lainnya dijahit dengan tangan menggunakan benang. Isi teks Naskah Mujarobat menjelaskan tentang masalah pengobatan dan amalan-amalan, wasiat-wasiat, serta doa-doa yang mencakup seluruh amalan kehidupan manusia sehari-hari.
Walaupun naskah ini sebenarnya tidak berjudul dan pengarangnya juga tidak diketahui, namun informasi kapan naskah tersebut dibuat tercantum didalamnya, yakni pada tahun 1325 H. Naskah ini merupakan naskah kompilasi yang isinya, di antaranya, adalah masalah pengobatan menggunakan cara-cara non medis, bukan pengobatan herbal. Walaupun pengetahuan tentang pengobatan ini sepertinya merupakan mitos/kepercayaan yang kurang masuk akal, namun uniknya unsur Islam ada di dalamnya, karena salah satunya dengan menggunakan sarana tulisan beraksara Arab. Naskah ini menunjukkan bahwa masyarakat Palembang telah mengenal kearifan lokal, salah satunya dengan memasukkan unsur-usur Islam dalam hal pengobatan.

Pengobatan tradisional yang dikenal oleh masyarakat melalui naskah-naskah tentang pengobatan yang disebutkan dalam kajian ini memberikan informasi yang sangat menarik. Pada satu sisi pengobatan dilakukan menggunakan cara ilmiah dan pada sisi lain menggunakan cara-cara yang sarat dengan kepercayaan dinamisme (percaya pada benda benda yang mempunyai kekuatan), meski di dalamnya muncul unsur-unsur Islam. Hal ini menarik, karena tenyata unsur Islam masuk ke dalam tradisi lokal bukan saja pada upacara-upacara ritual daur hidup, namun juga dalam masalah pengobatan.
Naskah Mujarobat ini memuat cara pengobatan orang sakit. Teksnya, antara lain, adalah:

… apabila ada yang sakit maka adalah dengan mengambil air kemudian agar ditaruh ke dalam mangkok yang berwarna putih, selanjutnya dibacakan asma Allah lantas kemudian diminumkan kepada yang sakit tersebut, maka orang yang sakit tersebut akan segera sembuh.

Pengobatan yang kedua diperuntukkan bagi perempuan hamil, dengan tujuan agar anaknya segera lahir Pesan penulis dalam naskah ini adalah:

….untuk perempuan yang sedang hamil dan yang sudah mencapai waktunya untuk melahirkan, dan supaya anaknya segera keluar maka hendaknya menaruh rajah yang bertuluskan huruf ( ?) dan huruf (?? ) kedalam mangkok putih kemudian di beri air selanjutnya air tersebut di minumkan kepada perempuan yang hamil tersebut serta dioleskan pada perutnya maka akan segera lahir anaknya.

…bagi perempuan hamil, apabila akan melahirkan tetapi apabila anaknya meningggal di dalam perut, cara mengeluarkanya adalah dengan menaruhkan rajah yang bergambar dan anak panah yang di silangkan pada satu pedang dibawahnya. Rajah tersebut ditaruh kedalam mangkok putih kemudian di beri air kemudian airnya di minum oleh ibu yang hamil tersebut, maka dengan berkat kuasa Allah anak (bayi) yang meninggal dalam kandungan tersebut akan segera keluar.

Pengobatan bagi perempuan hamil yang telah sampai waktunya untuk melahirkan, supaya anaknya segera lahir dan terhindar dari gangguan jin dan syaitan, dilakukan dengan cara “…menuliskan rajah yang bertuliskan huruf-huruf Arab kemudian diikatkan pada paha perempuan yang hamil tersebut yakni pada paha kananya diikat dengan benang putih, Insya Allah akan selamat dari gangguan jin dan syaitan tersebut.”
Cara lain untuk mengobati perempuan hamil agar anaknya segera keluar, yaitu dengan: “menuliskan do’a pada kertas kemudian diikatkan pada pinggang perempuan yang akan melahirkan tersebut, maka akan segera keluar anaknya, do’a yang dimaksud di sini adalah huruf Arab dalam kotak.” Cara lain yang dijelaskan dalam naskah ini mengenai pengobatan adalah dengan: “membawa rajah yang bergambar dua sisir, dan segi empat yang disilang tengahnya, maka juga akan menjadi obat untuk : lebab tulang, Obat kudis, Obat gatal-gatal.” Adapun cara lainnya adalah dengan “dibacakan asma Allah sebanyak tiga kali setiap pagi dalam satu sampai tiga bulan lamanya, caranya ambil nasi dingin, kemudian dibacakan asma Allah, selanjutnya dimakan atau makankan pada orang yang sakit tersebut, maka akan segera sembuh dari sakit yang diderita”. Apabila ada yang kena racun:

”…cara mengobatinya adalah dengan membubuhkan air kedalam mangkok putih lalu kemudian dibacakan asma Allah. Kemudian air tersebut yang sudah dibacakan asma asma Allah diberikan kepada orang yang terkena racun tersebut. Insya Allah dengan qodrat dan Irodatnya Allah SWT akan segeralah sembuh dari kena racun tersebut.”

Menariknya lagi adalah bahwa informasi pengobatan tersebut sangat responsif terhadap gender. Naskah-naskah pengobatan ini merupakan bukti bahwa hak-hak perempuan dalam hal kesehatan reproduksi telah mendapat perhatian khusus oleh sebagian masyarakat. Meski isi naskah-naskah tersebut ada yang bisa diterima akal, yakni yang menggunakan tanaman obat, juga ada yang kurang masuk akal (irrasional), yakni yang menggunakan benda yang dikenal dengan istilah ‘rajah’, keduanya menunjukkan adanya kearifan lokal yang dipengaruhi unsur-unsur Islam.
Berikut ini perbandingan cara pengobatan terhadap gejala sakit yang sama dengan cara rasional dan irrasional, atau kepercayaan lain:

Rasional
– Obat perempuan hendak beranak supaya mudah keluar anaknya.
…kayu manis kulitnya berat tiga tali tumbuk halus halus dan kasih air panas kira kira setengah cangkir kopi aduk lantas minum’,
…kuma kuma berat satu tali kasih air panas satu cangkir kopi dan saring lantas minum,,

– Obat perempuan mau beranak anaknya sudah mati masih di dalam perut supaya suka keluar.
…ayam dimasak bikin tim kasih sedikit dan kuma kuma sedikit minum airnya,,
…Jinten hitam tumbuk halus halus kadar banyaknya yang halus satu sendok suap yang besar kasih satu cangkir kopi air panas aduk lantas minumkan.

Irrasional
a. Pengobatan bagi perempuan yang sedang hamil dan telah sampai waktunya untuk melahirkan

…maka supaya anaknya segera lahir dan supaya tidak diganggu Jin dan Syaitan maka menuliskan rajah bertuliskan huruf-huruf Arab kemudian diikatkan pada paha perempuan hamil tersebut yakni pada paha kananya diikat dengan benang putih

b…. pengobatan diperuntukkan perempuan yang hamil supaya perempuan tersebut dapat segera lahir anaknya, maka hendaknya menaruh rajah yang bertuliskan huruf ( ?) dan huruf ( ?? ) kedalam mangkok putih kemudian di beri air selanjutnya air tersebut di minumkan kepada perempuan yang hamil tersebut serta dioleskan pada perutnya maka akan segera lahir anaknya.

b. Bagi perempuan hamil, apabila akan melahirkan tetapi apabila anaknya meningggal dalam perut,

…cara mengeluarkanya adalah dengan menaruhkan rajah yang bergambar dan anak panah yang disilangkan satu pedang dibawahnya. Rajah tersebut ditaruh ke dalam mangkok putih kemudian di beri air kemudian airnya di minum oleh ibu yang hamil tersebut.

Keberadaan naskah tentang pengobatan tradisional yang responsif terhadap gender, yaitu yang memberikan perhatian khusus terhadap perempuan, kemungkinan disebabkan oleh pemahaman bahwa perempuan mempunyai kewajiban bereproduksi untuk meneruskan keturunan dalam sebuah keluarga sehingga perlu diperhatikan hak-haknya, di antaranya hak memperoleh informasi tentang kesehatan alat reproduksi.
Dalam Islam terdapat beberapa hak-hak perempuan yang berkenaan dengan masalah reproduksi, antara lain adalah tidak berhubungan ketika istri sedang haid (QS.2: 222). Memberikan hak pada perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari semua pihak misalnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat hamil dan menyusui. Dalam saat seperti ini suami berkewajiban menjaga istrinya agar selalu dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental. Bahkan Allah SWT dalam al-Quran menegaskan bahwa perempuan hamil dalam keadaan lemah (QS. LUKMAN: 13 dan AL-AHQOF: 15). Oleh karena perhatian yang sangat besar terhadap kondisi tersebut, maka perempuan hamil dan menyusui tidak diwajibkan untuk beribadah puasa. Islam juga memberikan hak pada perempuan untuk mengatur kelahiran. Islam memberikan petunjuk kepada perempuan agar reproduksi dilakukan dengan mengatur jarak kelahiran. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti meninggal ketika melahirkan karena lemah fisik atau badan tidak sehat dan untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap ASI, karena ASI itu sendiri sangat besar manfaatnya bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi. Isyarat tersebut ada di dalam Qs. AL-BAQOROH : 233, para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dalam Qs. AL-AHQOF: 15, mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan. Artinya jarak kelahiran bisa terjadi kurang lebih 3 tahun.Demikianlah perhatian Islam secara langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan reproduksi perempuan.

3. Pendekatan Semiotika Budaya Dalam Analisis Teks Naskah Mujarobat

Seperti diketahui, kebudayaan dapat didefinisikan sebagai sistem adaptasi terhadap lingkungan. Konsep kebudayaan yang bersifat materialistis, yang mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat ini dapat dilihat pada warisan intelektual yang berisikan masalah farmakologi tradisional yang ada di Palembang. Kajian terhadap teks farmakologi tradisional yang ada di Palembang memperlihatkan dengan jelas bahwa isinya ini lebih menekankan pada pandangan positivisme atau metodologi ilmu pengetahuan alam.
Namun demikian, ternyata pandangan positivisme tidak selalu mendapatkan perhatian masyarakat. Terbukti pada masa lalu di Palembang masalah farmakologi juga telah melahirkan “mitos”  dalam cara memecahkan masalah kesehatan. Permasalahannya adalah bagaimana kita dapat memaknai kedua teks yang isinya sama-sama menginformasikan pemecahan masalah kesehatan.
Seperti diketahui, teks sebagai sebuah sistem tanda merupakan fenomena yang berpretensi mengungkapkan fenomena lain di luar teks tersebut. Pemahaman terhadap bahasa dalam teks dapat dilakukan terhadap kata, kalimat, dan teks itu secara keseluruhan. Pemaknaan terhadap teks dapat menyingkapkan hal yang berada di luar teks tersebut. Teks sebagai rangkaian perilaku dan tindakan yang dilukiskan pengarang bersifat simbolik. Teks adalah sebuah sistem kognitif yang memaparkan apa yang ada di dalam batin manusia. Selain itu, teks juga dianggap sebagai perilaku budaya. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Saussure bahwa: penanda dan petanda adalah tanda yang memiliki acuan. Semua teks merupakan kenyataan budaya yang signifikan dari situasi sosial dan sejarah teks tersebut. Hal-hal yang terdapat di dalamnya dapat dilihat sebagai penanda bagi hal-hal di luar teks tersebut.
Oleh karena baik teks maupun perilaku manusia memperlihatkan tata susunan atau pola keteraturan tertentu yang dijadikan dasar untuk memperlakukan hal-hal itu sebagai data yang bermakna, karena merupakan hasil kegiatan manusia sebagai mahluk yang terikat pada kelompok atau kolektiva, dan karena keterikatan itu mewujudkan kebermaknaan itu, maka teori kebudayaan adalah salah satu usaha untuk mengonseptualkan kebermaknaan itu serta untuk memahami pertalian antara data dengan manusia dan kelompok manusia yang mewujudkan data itu. Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaannya untuk melangsungkan kehidupannya dalam kelompok, mempertahankan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supranatural.
Salah satu kajian tentang teks yang berisikan farmakologi tradisional di Palembang ini salah satunya dapat dilakukan dengan dengan menggunakan teori semiotik yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Teori semiotik Barthes dikembangkan dari teori penanda-petanda yang dicetuskan Ferdinand de Saussure. Salah satu teori Saussure yang dikembangkan Barthes adalah signifikansi. Teori tersebut membicarakan dikotomi signifiant (penanda) dan (petanda). Menurut Saussure, bahasa sebagai sebuah sistem tanda terdiri atas dua aspek yang tidak terpisahkan. Signifiant adalah aspek formal atau bunyi; sebuah citra akustis, sedangkan signifie adalah aspek makna atau konsep. Kesatuan di antara keduanya disebut tanda. Relasi tersebut menunjukkan bahwa jika citra akustis berubah, berubah pula konsepnya. Demikian juga sebaliknya. Berdasarkan hal ini, SAUSSURE mengatakan bahwa bahasa merupakan bagian terpenting sistem tanda.
Pada proses signifikansi terjadi dalam dua tahap. Pada tahap pertama tanda terdiri atas penanda dan petanda. Selanjutnya, pada pemaknaan tingkat kedua penanda dan petanda tersebut menyatu menjadi penanda tahap kedua sehingga pada tahap ini terjadi kekosongan petanda. Petanda yang kosong ini menjadi potensial dan terbuka untuk berkembangnya proses pemaknaan. Dari hal tersebut kemudian terjadi pergeseran makna dari denotasi ke konotasi. Menurut Barthes, mitos adalah suatu sistem komunikasi atau suatu jenis tuturan karena mitos mengandung sekumpulan pesan.
Teks sebagai sebuah sistem tanda, merupakan fenomena yang berpretensi mengungkapkan fenomena lain di luar teks tersebut. Pemahaman terhadap bahasa dalam teks dapat dilakukan terhadap kata, kalimat, dan teks itu secara keseluruhan. Pemaknaan terhadap teks dapat menyingkapkan hal yang berada di luar teks tersebut. Teks sebagai rangkaian perilaku dan tindakan yang dilukiskan pengarang bersifat simbolik. Teks adalah sebuah sistem kognitif yang memaparkan apa yang ada di dalam batin manusia. Selain itu, teks juga dianggap sebagai perilaku budaya. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkap-kan Saussure bahwa penanda dan petanda adalah tanda yang memiliki acuan. Semua teks merupakan kenyataan budaya yang signifikan dari situasi sosial dan sejarah teks tersebut. Hal-hal yang terdapat di dalamnya dapat dilihat sebagai penanda bagi hal-hal di luar teks tersebut. KRISTEVA (1979, 36–37) men-definisikan teks sebagai alat trans-linguistik yang mendistribusikan perintah bahasa lewat ujaran (yang unik). Untuk membongkarnya, harus dilakukan pengkajian terhadap simbol. Simbol, menurut Kristeva, dapat dilihat dari realitas hati nurani yang bersifat manusiawi dan hal tersebut dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu makna dalam pengertian bahasa, makna dalam pengertian aksi, dan makna dalam pengertian orientasi hidup.  
Dalam teori mengenai tanda, BARTHES juga melihat bahwa hampir semua praktik sosial dapat ditafsirkan dalam sistem tanda. Sistem tanda tersebut beroperasi sebagaimana model bahasa. Bahasa tak henti-henti diucapkan atau dilarutkan dalam durasi dan peristiwa. Dalam bahasa, peristiwa tersebut dapat dipadatkan ke dalam kata.
Tanda (penanda dan petanda) dapat diangkat sebagai kajian perluasan makna dan perluasan bentuk yang disebut oleh Roland Barthes sebagai sebuah bentuk metabahasa. Langkah awal ditetapkan bahwa pengertian mitos adalah salah satu jenis tuturan (a type of speech). Di sini, dikemukakan bahwa mitos adalah sistem komunikasi, mitos membawa pesan. Mitos adalah suatu bentuk atau suatu cara. Jadi, mitos menjadi suatu konsep dan gagasan yang dapat disignifikasi-kan. Barthes menjelaskan bahwa mitos budaya merupakan tanda tingkatan kedua atau signifikasi
Teks naskah di Palembang yang berisikan tentang pengobatan dengan menggunakan simbol-simbol yang disebutnya sebagai rajah, yang mana simbol tersebut diambil dari unsur-unsur Islam, menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana memaknai salah satu kebudayaan Palembang pada masa tersebut berkenaan dengan cara pengobatan demikian? Apa makna di balik simbol-simbol tersebut? Bagaimana cara memaknainya ? Kenapa masyarakat mendukungnya? Salah satu cara mencari relasi dan makna dalam salah satu kebudayaan sebagai alternatif adalah menggunakan pendekatan semiotik yang ditawarkan oleh Roland Barthes .
Sebagai contoh adalah , bagaimana memaknai bahwa huruf (??) dan huruf (?) dari rajah yang ada dalam teks yang berisikan masalah pengobatan. Seperti halnya aksara/ huruf (?) dan huruf (??) yang tanda dan maknanya yang masih gelap ini merupakan sebuah penanda yang berhubungan dengan sebuah petanda. Aksara/ huruf (?) dan huruf (??) bisa bermakna denotative yakni aksara Arab (la) atau (ma) yang berarti ‘tidak’ atau juga “apa”. Namun kemudian, masyarakat mengambil petanda ini dan menerapkan penekanannya sendiri terhadap petanda itu. Ia menjadikan aksara (?) dan huruf  (??) sebagai penanda baru, yang kali ini berhubungan dengan petanda baru: ide tentang aksara (?) dan huruf (??), dapat diperluas maknanya menjadi pembawa kesembuhan, supaya anaknya segera lahir dan supaya tidak diganggu Jin dan Syaitan dan lain-lain.
Rajah dalam teks pengobatan di atas sebenarnya hanyalah merupakan salah satu instrument. Dengan rajah beserta beragam simbol di dalamnya, maka sebenarnya sedang terjadi komunikasi yang berlangsung secara gelap dan rahasia di antara masyarakat pada masa itu. Dan kemudian pertanyaan yang muncul adalah, apa dan siapa yang mengefektifkan komunikasi semacam ini? Analisis penulis, yang mengefektifkan komunikasi semacam ini adalah apa yang di sebut dengan rumor. Berkat rumor inilah sepertinya pemaknaan rajah diyakini sebagai pembawa kesembuhan,supaya anaknya segera lahir dan supaya tidak diganggu jin dan syaitan di daerah tersebut.
Bagaimana rumor dapat dikatakan sebagai ‘alat atau cara memaknai sebuah instrumen yang berkembang dan diyakini’ pada suatu masyarakat? Jawabannya adalah bahwa rumor tidak memiliki penutur tetap, dan tidak pula mewakili kesadaran orang atau kolekif tertentu yang dianggap otentik. Ia bisa berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya tanpa kejelasan perumus awal atau pemicu aslinya. Rumor memperoleh otoritasnya bukan karena ada yang mengatakannya pertama kali sehingga dipercaya, tetapi justru karena rumor itu didengar, atau diperdengarkan. Rumor menarik sejumlah “kader”-nya karena ia menjadi milik semua orang yang mendengar, membaca dan mengedarkannya, tanpa kejelasan sumber yang dianggap dipercaya.
 Jika pada masa tersebut di Palembang rumor yang berkembang adalah bahwa rajah dengan Aksara/ huruf (?) dan huruf (??) dapat menyembuhkan sakitnya “Si Fulan”, maka kemudian yang terjadi adalah masyarakat memaknai rajah dengan Aksara/ huruf (?) dan huruf (??), berarti kesembuhan. Bagaimana jika aksara tersebut bukan (?) dan huruf (??), menurut pendapat penulis apapun aksaranya dalam rajah atau ‘jimat’, maka rumor-lah yang kemudian berperan aktif makna menjadi masuk akal dan diterima apa adanya pada suatu masa, pada suatu masyarakat, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.
Perlu diketahui juga bahwa rumor atau apa yang dalam pandangan Barthes “mitos”, mengandung makna yang kandungan di dalamnya tidak mungkin bisa dinilai sebagai sesuatu yang salah (‘mitos’ diperlawankan dengan ‘kebenaran’). Namun demikian dapat dikatakan bahwa praktik penandaan memang seringkali memproduksi mitos. Produksi mitos dapat membantu untuk menggambarkan situasi sosial budaya, mungkin juga politik yang ada disekelilingnya. Bagaimanapun juga mitos kemudian akhirnya mempunyai dimensi tambahan yang disebut naturalisasi. Akhirnya penulis dapat menyimpulkan bahwa, melaluinya sistem makna ‘mitos’ menjadi masuk akal dan diterima apa adanya pada suatu masa, pada suatu masyarakat, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.

Penutup
Pengobatan tradisional yang dikenal oleh masyarakat Palembang yang informasinya dapat dijumpai dalam naskah tenyata dapat dibedakan menjadi dua. Yang pertama pengobatan berdasar pengetahuan yang rasional/ilmiah dengan menggunakan sumber/bahan-bahan dari tumbuhan dan hewan, dan yang kedua menggunakan kepercayaan yang berasal dari pengaruh ajaran dinamisme dipadukan dengan unsur unsur Islam.
Pengobatan menggunakan bahan bahan tumbuhan dan hewan menunjukkan bahwa masyarakat Palembang telah mengenal cara atau dosis penggunaanya. Hal ini penting untuk dicatat sebagai kecerdasan pengarang naskah tersebut, karena yang kita kenal pada saat ini, obat-obat herbal yang beredar luas kadang tidak disertai dengan dosis penggunaan. Pengobatan dengan cara ini, dalam perspektif ekologi budaya, membuktikan bahwa lingkungan geografis Palembang menyediakan bahan-bahan alamiah yang bisa dimanfaatkan dalam hal penyembuhan kesehatan.
Selain itu, adanya konsep rajah dalam teks pengobatan di atas sebagai salah satu instrumen. Dengan rajah beserta beragam simbol di dalamnya tersebut, maka sebenarnya sedang terjadi komunikasi yang berlangsung secara gelap dan rahasia di antara masyarakat. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, apa dan siapa yang mengefektifkan komunikasi semacam ini? Ternyata yang mengefektifkan komunikasi semacam ini adalah apa yang di sebut rumor. Berkat rumor inilah sepertinya yang bisa menjadikan pemaknaan rajah diyakini sebagai pembawa kesembuhan,supaya anaknya segera lahir dan supaya tidak diganggu jin dan syaitan di daerah tersebut tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Naskah
Naskah KITAB BUTIKAN OBAT-OBAT, Palembang.
Naskah MUJAROBAT, Palembang.

Buku
BARTHES, ROLAND, 2007, Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
BEHREND, T.E (ed.), 1998, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 : Perpustakaan Nasional RI .Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise D’Extreme-Orient.
BLEICHER, J, 1980, Contemporery Hermeneutis : Hermeneutics as method, Philosofhy and Critique. London: Raoutletge & kegan Paul.
HOWARD, 2000, Hermeneutika, Wacana Analitik, Psikisosial dan Ontologis . Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.
Ikram . Achadiati (Ed.) 2004. Naskah-Naskah Palembang; Jati Diri Yang Terlupakan Jakarta: Yanassa.
IKRAM, A. (ed.), 2004. Katalog Naskah Palembang, Tokyo: Yanassa dan TUFS.
–––––, 2004. Katalog Naskah Palembang, Tokyo: Yanassa dan TUFS.
KOMARUDDIN, HIDAYAT, 1986, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika Jakarta: Paramadina.
KRISTEVA, JULIA, 1979, Desire in Language: A Semiotic Approach in Literature and Art. London: Basil Black-well.
LUBIS, NABILAH, 2007, Naskah, Teks, dan Metode Kajian Filologi. Jakarta: Puslitang Lektur Keagamaan
MANNHEIM, KARL ,1993. Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan pikiran dan Politik, Terj. F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius.
PALMER, RICHARD E, 1996, Hermeneutics : Interpretation Theori in Schleiermacher, Dilthei, Heidegger and GAdamer . Evanston: Nortwertern University Press.
POPER, KARL, 2001, Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
PURWADAKSI, A., 2004, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman; Suntingan Naskah Dan Kajian Isi Teks , Jakarta: Djambatan dan Yannasa.
RICOEUR, P., 2006, Hermeneutika Ilmu Sosial. Terj. Muhammad Syukri . Yogyakarta: Kreasi Wacana