Kajian Semiotika Penggalan Serat Wicara Keras Dalam Naskah H. Tabbri

Pendahuluan

Kepustakaan Surakarta mengalami puncak kejayaan pada tahun 1744. Hal ini disebabkan wilayah-wilayah pesisir telah dikuasai oleh Belanda. Maka dari itu kerajaan mengarahkan keberbagai bidang kesenian dan juga pertanian. Nah inilah penyebab kenapa kesusastraan sangat berkembang pesat di Surakarta. Dalam perjalanannya sastra sangat digandrungi oleh para bangsawan dan cendekiawan, mereka membuat dengan berbagai tujuan. Maka tidak heran jika sastra di Surakarta berkembang pesat. Hal ini dijelaskan jika seorang sastrawan di Surakarta mempunyai kedudukan penting, hingga mereka diberi gelar yaitu dari kliwon-carik hingga pangkat tumenggung.

Dalam kepustakaan Jawa pada zaman Surakarta juga mempunyai sebuah keunikan, yaitu mereka mengubah sastra-sastra lama ke bahasa Jawa baru. Ini juga dianjurkan oleh penguasa istana pada masa itu guna membuat bahasa-bahasa Jawa baru yang mencirikan kebudayaan Surakarta pada masa itu. Selain sebagai ciri atau identitas, pengubahan itu dilakukan guna memperhalus bahasa dan juga untuk memudahkan pembaca pada masa itu. Inilah kehebatan kepustakaan Surakarta pada masa itu, tidak heran banyak yang menyebut diabad ke-18 sampai 19 adalah masa renaisan kepustakaan Jawa di Surakarta.

Sebenarnya kepustakaan Jawa khususnya di Surakarta hanyalah penerus dari kepustakaan Kerajaan Mataram yaitu mereka mempertahankan huruf dan bahasa Jawa. Kita tahu ketika Demak berkuasa maka segala aspek harus berbau Islam, ini karena pada masa itu pesisir dikuasai kaum santri yang notabene mereka sudah menggunakan tulisan Arab. Maka dari itu para cendekiawan berkumpul antara kaum intelektual Jawa dan guru pesantren. Pertemuan ini bermaksud untuk mempertemukan tradisi-tradisi Jawa dengan ajaran Islam. Maka tidak heran jika kita lihat banyak tulisan pesisir menggunakan aksara Arab Pegon dan dipedalaman masih mempertahankan aksara Jawa.

Pada zaman pemerintahan Sultan Agung Islamisasi yang ia ciptakan membuat MistikKejawen sangat kental dalam penkembangan kebudayaan. Ini bisa dilihat dari penyusunan tahun Jawa yang disesuaikan dengan tahun Hijriyah yaitu tahun Saka. Penyusunan inilah yang menjadi dorongan langsung dalam Islmasisasi di kebudayaan dan kepustakaan Jawa. Dari sinilah kepustakaan mistikkejawen memulai peranannya yaitu memadukan antara ajaran Islam dan Jawa.

Surakarta meneruskan tradisi Mataram Islam yaitu para cendekiawan Jawa yang mampu membaca aksara Jawa Kuno dianjurkan untuk mengubah kitab-kitab Jawa Kuno dan kitab Islam. Gubahan ini disusun untuk dijadikan karya-karya baru sebagai perbendaharaan kepustakaan Jawa. Pengolahan ini juga memanfaat ajaran-ajaran Islam yang berada dalam kepustakaan Melayu. Hal ini dilakukan untuk mempelajari ajaran-ajaran dengan mengubah ke bahasa Jawa Baru dan sebagai bahan kesusastraan  para cendekiawan istana dalam penghalusan,  kesusastraan kesenian,tradisi, dan tatacara kehidupan istana, pengaruh istana dapat dipertahankan melalui jalur budaya. Melalui hasil karya sastra dan kesenian istana sebagai barometer kebudayaan Jawa. Walaupun wibawa kekuasaan istana melalui hubungan kenegaraan telah hilang akan tetapi istana mampu memperbesar hubungannya melalui kebudayaan dan kesenian.

Kepustakaan Jawa bisa berkembang dengan pesat karena tiga tokoh ini, yaitu: Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita. Hal ini bisa kita lihat dari sumbangsih mereka terhadap kepustakaan Jawa di Surakarta, baik karya yang berbentuk gubahan hingga karya yang ia buat sendiri mengenai Yasadipura I dan Yasadipura II, Poerbatjaraka mengatakan sebagai berikut :

Yang betul-betul dipandang sebagai sebagai pembangun kepustakaan Jawa pada awal zaman Surakarta ialah kedua orang besar yakni kyai Yasadipura I dan Yasadipuro II , kemudian bernama Raden Tumenggung Sastranegara.Oleh kedua orang tersebut bekerjasama dalam waktu yang cukup lama, maka sukar orang untuk membeda-bedakan, mana kitab karangan Yasadipura I dan mana kitab karangan Yasadipura II.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwasanya Yasadipura I adalah bagian terpenting dalam kepustakaan Jawa di awal zaman Surakarta. Dari beberapa karyanya ia memberikan kontribusinya terhadap kepustakaan Jawa pada masa itu. Mengenai jasa Yasadipura I, Supomo Suryohudoyo mengatakan :

Salah satu tokoh-tokoh sastrawan yang amat penting dalam pengubahan karya-karya yang berbahasa Jawa Kunoke dalam bahasa Jawa Baru adalah Yasadipura I. hasil karyannya meliputi penggubahan kitab Jawa Kuno (Ramayana, Bharatayuda, dan kakawin lainnya), suatu saduran dari cerita Islam Amir Hamzah (menjadi  beberapa jilid menak), puisi yang bersifat pendidikan dan moral berdasarkan atas kitab-kitab Jawa Kunodan kesusastraan Islam ( Nitisastra, Tajusalatin dan beberapa lainya). Satu karya yang asli ialah Babad Giyanti, yang menceritakan kejadian-kejadian sekitar pemberontakan Pangeran Mangkubumi, sebagai akibatnya pembagian Kerajaan Surakarta, menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam disertasi S. Soebardi yang berjudul The Book of Cabolek (Serat Cabolek).Serat Cebolek adalah salah satu karya Yasadipura I, yaitu berisikan sebuah ajaran mistik kejawen tentang persoalan yang berhubungan dengan konsep kesatuan kawulo-gusti. Serat Cebolek mengambarkan pertentangan antara Haji Mutamakin dari Desa Cebolek, yang menganut ajaran manunggaling kawulo-gusti dan mengaku sebagai Tuhan, dengan Ketip Anom dan para ulama yang menolak ajaran Haji Mutamakin . hal ini dikarenakan Ketip Anom dan juga para ulama berpendapat bahwasanya ajaran itu tidak sesuai dengan syari’at agama Islam. Setelah melakukan perdebatan akhirnya, Haji Mutamakin mengaku salah dan bertobat.Singkat cerita Haji Mutamakin diampuni kemudian dibebaskan. Jika kita lihat cerita dalam Serat Cebolek ini, nampaknya tidak jauh dari cerita Syekh Siti Jenar dan juga Husain bin Mansur Al-Hallaj di Baghdad. Akan tetapi sedikit berbeda yaitu jika Haji Mutamakin dibebaskan beda dengan dua tokoh ajaran “ana al-haqq” (saya Tuhan) ini, mereka semua berakhir tragis dalam hidupnya yaitu dihukum mati. Padahal jika kita lihat dalam ajaran Islam Kejawen, tampaknya ajaran manungaling kawula-gusti ini sangat digemari oleh masyarakat Jawa.

Kebanyakan para pujangga Jawa sangat memahami ajaran manunggaling kawula-gusti. Dan ajaran ini nampak juga sangat dijiwai oleh mereka. Ini dikarenakan  perpaduan dua ajaran Jawa dan Islam yang membentuk sebuah tradisi Jawa yang berazaskan Islam. Karena istana adalah tempat untuk pelindungan dan kebudayaan tradisi Islam. Maka tidak heran jika ajaran Islam di pedalaman sangat terpengaruh oleh tradisi Jawa yang sangat kuat.

Adapun Yasadipura II adalah anak dari Yasadipura I, ia juga sangat berjasa dalam kepustakaan Jawa. Seperti yang dikatakan Poerbajtaraka di atas. Karya gubahannya adalah kitab Darmosonya yang berbahasa Jawa Kuno, ia gubah ke bahasa Jawa baru menjadi kitab Darmasonya Sekar Macapat Dan Jarwa. Adapun hasil gubahan lainnya adalah kitab Arjunasastra, Panitisastra, Serat Wicara Keras, Serat Dewaruci Jarwa dan Sekar Macapat, Serat Sasana Sunu, dan lainnya.  Yasadipura II merupakan salah satu penulis Serat Centini, serat ini merupakan hasil yang sangat fenomenal di kalangan masyarakat Jawa karena bisa dikatakan “ensiklopedi” Jawa. Ini bisa dilihat dari isi ajarannya yang memuat tentang permasalahan hidup orang Jawa, seks, ilmu perhitungan, mistik kejawen, dan masih banyak yang lainnya.

Dan yang terakhir adalah Ranggawarsita, tokoh ini adalah cucu dari Yasadipura II. Ia menjadi pujangga istana disaat mendekati berakhirnya kejayaan, dengan penuh ketekunan ia menyusun karya baru dari sumber yang ada. Ia mempunyai karya yang unik yaitu ia tidak mengubah karya yang berbahasa Jawa Kuno, akan tetapi membuat karya yang menyerupai. Serat Kandha berbahasa Jawa Kuno, Ranggawarsita tidak mengubahnya akan tetapi ia membuat karya yang menyerupai seperti: Paramayoga, Pustaka Raja Purwa, dan Pustaka Raja Madya.  Karya tersebut disusun untuk cerita sejarah bagi raja-raja Jawa. Karya lainnya adalah Pustaka Raja, Wirid Hidayat Jati, Suluk Sukma Lelana, Supanalaya, Maklumat Jati, dan lainnya.

Setelah kepemimpinan Pakubuwana VII, kesusastraan di Surakarta mulai mengalami penurunan. Ini dikarenakan sikap istana yang tidak peduli lagi dengan kesusastraan yang pernah menjadi pelindung kesenian dan kebudayaan tradisi Jawa. Kemudian sekolah-sekolah barat yang berdiri di luar lingkungan istana membentuk sebuah kebudayaan baru yang membuat kebudayaan Jawa semakin tergerus dengan kebudayaan tersebut. Maka di abad XX berakhirlah kejayaan kepustakaan Jawa.

Serat Wicara Keras (WK).

Serat WK adalah karya dari Yasadipura II yang ia tulis pada tahun 1789 dan selesai pada tahun 1816 di Surakarta. Karya ini berisikan tentang kritikan terhadap penguasa pada waktu itu yaitu Pakubuwana IV, di mana ia sangat pro-Belanda demi merebut kembali daerah Yogyakarta. Kritikan dalam Serat WK ditulis halus mengunakan beberapa tembang macapat yang memberikan keindahan tersendiri dalam mengungkapkan kritikanya.

Karya Yasadipura II ini juga mempunyai banyak varian naskah, ada yang disimpan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan ada yang tersimpan di Museum Radyapustaka Surakarta, bahkan ada penggalan yang penulis temukan dalam naskah H.Tabbri. Hal ini dimungkinkan karena naskah ini populer kemudian dijadikan bahan referensi. Maka tidak heran jika naskah ini mempunyai banyak salinan di mana-mana. Karena keindahan bahasa yang mampu membuat para cendekiawan Jawa pada masa itu, mempelajari ajaran-ajaran yang penting di dalam serat tersebut. Serat WK  merupakan ekspresi kemarahan, namun bahasa dan pilihan kata yang digunakan tetap indah. Inilah kenapa naskah ini sangat populer di  zamannya, naskah ini mempunyai banyak tembang di dalamnya yang menjadikan naskah ini lebih variatif dan terkesan tidak membosankan. Dan juga keunikannya adalah setiap pupuh yang berada di dalam tembang ini mempunyai pokok pemikiran yang berbeda-beda. Selain itu di dalamnya juga tersusun rapi aturan-aturan dalam tembang Jawa yaitu tentang guru gatra, dan guru wilangannya. Hal ini penting karena aturan itu dibuat untuk mengatur setiap kalimat yang dibuat dan untuk menentukan vocal yang sesuai dengan cengkoknya.

Selain aturan tembang-tembang dalam Serat WK juga mempunyai sebuah sifat dan karakter sendiri. Padmosoekotjo mengemukakan watak masing-masing tembang macapat ialah sebagai berikut.

1. Kinanthi mempunyai watak gembira, senang, cinta kasih. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyampaikan piwulang atau ajaran dan cerita cinta.

2. Pocung berwatak kendho atau longgar, gregeten, atau menggemaskan. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang lucu dan sesuka hati.

3. Asmaradana mempunyai watak sedih karena cinta, biasanya digunakan dalam cerita cinta.

4. Mijil berwatak himbauan, cocok digunakan untuk menyampaikan nasihat.

5. Maskumambang berwatak nelangsa atau memilukan. Melukiskan perasaan sedih dan memilukan.

6. Pangkur berwatak sereng atau keras. Digunakan untuk menceritakan sesuatu yang keras dan cinta yang menyala-nyala.

7. Sinom berwatak grapyak ‘ramah’, renyah, ‘lincah’. Cocok untuk nasihat dan pengajaran.

8. Dhandhanggula berwatak luwes ‘fleksibel’. Cocok untuk menyampaikan berbagai-bagai hal. Juga dapat digunakan dalam suasana apapun.

9. Durma berwatak keras, marah. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyampaikan suasana marah dan cerita perang.

Kepopuleran Serat WK ini tidak lepas dari sang Pujangga Yasadipura II yang mampu merangkai kata-kata berbentuk tembang macapat. Walaupun karya ini dibuatnya untuk mengkritik kepemimpinan Pakubuwana IV, ia nampak santun dalam mengekspresikannya. Inilah bentuk intelegensi pujangga istana yang mampu memperhalus bahasa, walaupun hanya bahasa akan tetapi mampu menandakan kesopanan dan etika dalam berbicara.

– Penggalan Serat Wicara Keras

Pengalan Serat WK berada dalam naskah H. Tabbri. Naskah tersimpan dalam koleksi pribadi keluarga El-Ghautz. Naskah H. Tabbri tidak mempunyai judul, maka peneliti menggunakan nama pengarang untuk memberikan nama naskah yaitu Naskah H. Tabbri. Keadaan naskah sudah sedikit rapuh ada beberapa yang sudah tidak bisa terbaca karena kertasnya sudah lapuk. Naskah ini ditulis dengan kertas yang tak bergaris berukuran 23 x 19cm berjenis kertas daluwang atau lebih dikenal dengan dluwang. Penomoran halaman tidak tertulis maka dari itu peneliti memberikan nomor halaman untuk memudahkan pembagian isi dalam naskah yang berjumlah 367 halaman sudah termasuk dalam bab isi yang ada dalam naskah.

Penggalan Serat WK ini masih bisa terbaca. Contoh jika aksara (ha) disuku maka dibaca (hu), seperti pada gambar dibawah ini dibaca hu nu cu dan seterusnya :

Nampak terlihat di gambar ada sebuah kata yang agak samar dan itu tidak bisa terbaca. Tulisan itu dimungkinkan karena sudah lapuknya kertas. Kemudian juga terdapat hewan di dalamnya. Ada semacam sobekan kertas di dalamnya dimungkinkan disobek oleh pengarang sendiri. Karena ketika penulis menemukan halaman tersebut sudah sobek dan jikalau disobek oleh keluarga, keluarga tidak ada yang mengurusi naskah tersebut. Kemudian dibawah aksara tersebut adalah penggalan Serat WK Yasadipura II yang berbunyi :

// Wateking Wicara kêras//sumuke pangucap bêngis//iku nangêkakên napas//setane nuli kêkinthil//yen ujar ririh manis//nura tangi napasipun//ayêm sarta santosa//setane lumayu ngênthir//pan wus kocap wong sabar ngunjara setan//

// watak berbicara keras // gerah (panas) ucapan yang bengis // itu membangunkan nafas // setanna kemudian mengikuti // kalo bicaranya lirih manis // cahaya bangun dari nafas itu // tenang sehingga menenangkan// kemudian setan lari terbirit-birit // setelah mengucapkan ( ririh manis) orang sabar itu memenjarakan setan//

Itulah penggalan Serat WK yang ada di dalam naskah H. Tabbri. Jika dibaca secara heuristik ajarannya sangat indah sekali dibalut dengan sastra yang begitu lembut. Maka tidak heran jika serat ini menjadi salah satu bahan bacaan para cendekiawan pada masa itu.

– Kajian Semiotik Penggalan Serat WK

Untuk menkaji pengalan Serat WK ini penulis ingin mengunakan kajian semiotiknya M.Riffatere.penulis melihat kajian Semiotic of Poetry sangat cocok karena membahas sebuah puisi yaitu tembang jawa. Banyak kode yang harus penulis ungkap dari penggalan tersebut.Semiotik puisi ( Semiotic of Poetry) Riffatere beranggapan puisi itu sebagai aktivitas bahasa.Maka ciri puisi adalah mengekspresikan konsep-konsep dan benda secara tidak langsung. Puisi menyatakan suatu hal dan memaksudkan hal lain. Dalam pembacaan terhadap sebuah puisi, hal lain inilah yang perlu diungkap, yaitu makna puisi. Pemahaman Riffatere ini ia ungkapkan karena suatu teks puisi dipandang dari dua sisi, yakni sisi “arti” (meaning) dan sisi “makna” (significance). Berdasarkan sisi “arti” teks puisi dilihat sebagai suatu rangkaian satuan informasi yang berturut-turut, sedangkan berdasarkan sisi “makna”, teks puisi menyajikan suatu satuan semantik. Bersamaan dengan “ arti” yang tersurat ada “makna” yang tersirat.  Pengaruh hasil kerja Riffatere adalah mengubah paham kritik stilistik dengan suatu teori tentang pembacaan dan produksi arti. Riffatere menekankan pada pentingya dialektika antara teks dan pembaca dan bukan antara pengarang dan teks. Menurut Riffatere pembaca adalah satu-satunya pencipta pertalian antara teks, interpretan, dan interteks: satu-satunya pihak yang dalam pikirannya terjadi pentransferan semiotik dari suatu tanda ke tanda yang lainnya.

Cara kerja Riffatere adalah beranjak dari pemahaman bahwa bahasa sehari-hari berada pada tataran mimetik yang membangun arti (meaning) yang beraneka ragam, terpecah, sedangkan bahasa puisi berada pada tataran semiotik yang membangun makna (singificance) yang tunggal, memusat. Oleh karena itu, pembaca harus mengenali ketidaklangsungan bahasa puisi yang dapat terjadi karena adanya pergeseran (displacing) makna, menyimpan (distorting) makna akibat ambiguitas, kontradiksi, dan hal-hal yang tidak masuk akal, dan penciptaan (creating) makna baru. Dalam tindakan pembacaan puisi atau proses dialektika semiosis itu, pembaca secara sadar atau tidak sadar akan melewati dua tahap pembacaan yang saling tumpang tindih. Tahap pertama berada dalam tataran mimetik yang disebut heuristik. Pada tahap ini pembaca akan menemukan arti atau mencoba membaca untuk arti biasa. Penemuan ini belumlah cukup untuk memaknai makna puisi yang sesungguhnya.Tahap kedua adalah pembacaan dalam tataran semiotik, yang disbut pembacaan retroaktif atau pembacaan hermeneutik. Riffatere menegaskan dalam bukunya “ Semiotic of Poetry” “ The maximal effect of retroactive reading, …, naturally comes at the end of the poem”. Pembaca diarahkan pada pemahaman bahwa teks berawal dari adannya matriks atau disebut juga sebagai kernel word. Matriks ini memberi keatuan sebuah puisi. Matriks yaitu berupa suatu tuturan minimal dan harafiah yang selanjutnya ditransformasikan menjadi parafrasa yang lebih panjang, kompleks, dan tak harfiah, yakni keseluruhan puisi. Matrik tidak terdapat dalam teks, tetapi diaktualisasikan lewat model. Model dapat berupa satu kata atau kalimat tertentu. Model inilah yang akan menentukan bentuk-bentuk varian (pengembangan) yang akan muncul di dalam teks. Model bersifat puitik. Untuk mengaktifkan kepuitikan dalam teks, tanda puitik harus mengacu pada hipogram tertentu dan juga harus menjadi sebuah varian dari matriks teks itu.

Riffatere menyebutkan tentang pentingnya prinsip intertektualitas dalam pembacaan sebuah teks puisi. Prinsip intertektualitas menempatkan teks sebagai mozaik kutipan, penyerapan, dan transformasi atas teks-teks lain  yang mengarahkan pembaca kepada signifikasinya.  Semua teks merupakan isu baru yang memuat catatan-catatan masa lalu, kepingan-kepingan, kode, formula, model-model ritmik, atau fragmen-fragmen sosial bahasa yang masuk dan menyebar di dalamnya. Teks sastra merupakan transformasi dari teks-teks sebelumnya dan ia juga menjadi latar penciptaan (hipogram) bagi tek-teks sesudahnya. Teks sastra apapun hanya dapat dibaca dengan mengacu pada teks lain. Dalam karya sastra banyak mengungkapkan bahasa simbol yang melatarbelakangi budaya lingkugannya. Gaya bahasa mempunyai kedudukan yang penting, sebab merupakan salah satu unsur pembentuk dunia yang dihadirkan penulis dalam konteks tradisi dan budaya lingkungan.  Pengertian yang dapat ditarik dari prinsip interteks ini menyarankan bahwa sebuah teks puisi dapat dibaca dengan latar pembacaan teks-teks lainnya, dan sebaliknya teks puisi tersebut dapat menjadi latar bagi pembacaan teks-teks puisi lainya.

– Analisis

Penggalan Serat WK ini ber-genre tembang sinom pupuh pertama dalam teks asli Serat Wicara Keras Yasadipura II. Sinom berwatak grapyak ‘ramah’, renyah, ‘lincah’. Cocok untuk nasihat dan pengajaran. Adanya aksara Jawa, jika dibaca aksara Jawa itu tidak bisa lepas dari cerita Ajisaka yang menggambarkan dua penguasa yang hebat, yang akhirnya mereka terbunuh semua karena kehebatannya.  Mungkin baru sebatas pembacaan heuristik semata, belumlah semata-mata kita kaji secara hermeneutik. Maka langkah-langkah sebagai berikut dilakukan untuk mencari segala bentuk arti dan tanda yang berada dalam penggalan Serat WK ini. Agar terbaca secara gamblang kenapa ia hanya menuliskan penggalannya saja tidak secara penuh menuliskannya dan apa yang melatarbelakangi tulisan ini dibuatnya.

//wateking wicara keras//

Watak berbicara keras,”Wateking” di sini mengungkapkan sebuah kepribadian seseorang. Sebuah kepribadian yang sulit diubah. “Wicara Kêras” menandakan sebuah arogansi, kasar, dan diktator. Menandakan seseorang yang mempunyai arogansi yang kuat dan sulit untuk mengubahnya. Para pemimpin Surakarta yang tidak mau diberi nasehat oleh para cendekiawan dan hanya mementingkan kehendaknya sendiri.

//sumuke pangucap bêngis//

Gerah (panas) ucapan yang bengis. “sumuke”gerah yang mengambarkan sebuah suasana yang sangat panas hingga membuat tubuh tidak nyaman.ketidaknyamanan dimaksudkan keadaan Surakarta pada masa itu yang memanas antara istana, kolonial, dan cendekiawan. ‘pangucap bêngis” ucapan yang sangat menyakiti perasaan hati seseorang, Ucapan ini bisa berbentuk fitnah. Ketegangan di Surakarta membuat negara itu semakin memanas.Yaitu timbulnya fitnah-fitnah yang membuat keadaan Surakarta pada masa itu semakin memanas.

//iku nangêkakên napas//

itu membangunkan nafas. Membangunkan “nafas” dalam konstruksi negara, nafas itu adalah rakyat. Maksudnya suasana yang tidak stabil dalam negara membangunkan rakyat untuk mencari keadilan.

//setane nuli kêkinthil//

setannya kemudian mengikuti. Setan adalah mahluk yang selalu membisikkan ke arah kejelekan, yaitu orang yang mencoba untuk memperkeruh suasana yang mencoba mengikutinya untuk membisiki hal-hal yang mengarah ke propaganda. Orang-orang yang dimaksud adalah kolonial yang mencoba menyebarkan fitnah untuk mengadu domba para penguasa, ulama, dan cendekiawan. Guna melemahkan kekuatan negara untuk ia kuasai.

//yen ujar ririh manis//

kalo bicara lirih manis. Berbicara lirih dan manis menandakan seseorang yang alim dan bijaksana, mempunyai pengetahuan yang luas dan mempunyai tingkat keimanan yang tinggi. Yaitu orang yang dimaksud adalah waliyullah. Mereka menantikan kedatangannya untuk menyelesaikan segala bentuk permasalahan yang sedang mendera Surakarta.

//nura tangi napasipun//

cahaya bangun dari nafas itu. Cahaya berbentuk putih bersih dan suci.Ini menandakan seorang wali.Mereka itu adalah orang-orang suci yang diturunkan Tuhan. Hanya mereka yang mampu mengendalikan nafas yaitu rakyat, memimpin dan mengarahkanya kearah yang benar.

//ayêm sarta santosa//
Tenang sehingga menenangkan. Jika para wali itu datang maka semuanya akan teratasi, keadaan semakin tenang. Kehidupan negara akan tertata kembali maka negara menjadi makmur kembali.

//setane lumayu ngênthir//
kemudian setan lari terbirit-birit. Setan lari terbirit-birit menandakan bangsa yang mempropaganda (kolonial) itu akan lari ketakutan kembali kenegarannya. Yaitu peranan para wali yang datang untuk mengendalikan negara dan juga melawan kebatilan yang dilakukan kolonial.Karena para walyiyullah yang mampu melawan kolonial dengan segala karamah-nya dan juga mampu memobilisasi rakyat untuk melawan kolonial.

//pan wus kocap wong sabar ngunjara setan//
setelah mengucapkan ( ririh manis) orang sabar itu memenjarakan setan. “pan”adalah salah satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang berguna untuk penegasan. Yang berarti menegaskan tentang orang yang mempunyai keimanan yang kuat dan juga kesabaran yang tiada batasnya yaitu para wali,yang mampu “ngunjara” dalam makna lain adalah menyelamatkan kita dari orang-orang yang mencoba untuk mengadudomba, fitnah, dan mengajak kearah yang tidak benar. Wali sebagai penyelamat umat dari kegelapan menuju kaidah kehidupan yang dianjurkan oleh Tuhan didunia ini.

Dari analisis di atas dapat diketahui kenapa hanya menuliskan ajaran tersebut. Karena kajian di atas adalah sebuah ajaran dan juga wejangan yang ia pilih untuk dirinya sendiri. Ini dapat dibuktikan dengan kehidupan H. Tabbri sendiri yaitu ia adalah salah satu korban yang dimusuhi kerajaan dan kolonial.  Dan aksara Jawa sebagai pembuka adalah mengambarkan dua penguasa besar pada masa Mataram Islam yaitu antara Surakarta dan Yogyakarta. Dua kerajaan itu saling berseteru yang satu ingin merebut kembali wilayahnya dan yang satu membangun imperium yang besar. Wejangan itu ia tulis sebagai pengingat, bahwasanya walaupun kalian berkuasa didunia ini, akan tetapi kalian nanti akan berakhir dalam kematian. Maka ia menuliskan itu sebagai penginggat bahwasanya kekuasaan bukanlah segalanya. Akan tetapi sikap sabar dan menerima sebagai bekal kehidupan setelah mati.

Kemudian dalam penggalan Serat WK yang ia tulis adalah sebuah cerita masa lalunya sebagai pengingat akan kediktatoran sang penguasa yang begitu kejam dan tidak mau diingatkan untuk menjalankan kaidah kekuasaan yang memberikan keadilan kepada rakyat, bukan mementingkan kehendaknya sebagai penguasa dengan mengorbankan rakyatnya. Kejam yang dimaksud adalah penguasa yang tidak mempedulikan rakyatnya. Ia lebih pro terhadap pemerintah kolonial. Di saat terjadi ketegangan antara para cendekiawan dan penguasa istana “setan atau kolonial” memanfaat untuk menyebar fitnah yang digunakan untuk memperkeruh suasana. Propaganda itu ia lakukan tidak hanya kepada penguasa dan cendekiawan, ia lakukan ke semua elemen yang dianggap berbahaya bagi kestabilan kekuasaan kolonial di Surakarta. Jika tidak mengetahui siasat itu, mereka akan mengikuti dan memecah-belah mereka untuk bertengkar kemudian “setan atau kolonial” memanfaatkan untuk menghancurkannya.

Hanya orang-orang yang mempunyai (nura)  keimanan yang kuatlah (wali), yang mampu membendung segala bentuk tipu muslihat “setan atau kolonial”. Mereka tahu segala tipu muslihat yang ia bisikkan sebagai propaganda untuk menghancurkan orang-orang penentang kedzaliman. Karena pemimpinnya melakukan kedzaliman terhadap rakyatnya dengan bekerjasama terhadap kolonial yang merugikan rakyat Surakarta pada masa itu. Dari situlah ia mulai menyadari bahwasanya segala bentuk bisikan itu hanyalah tipu muslihat yang dibuat kolonial untuk menghancurkan perlawanan rakyat kepada pemimpin yang dzalim. Setelah mengetahui itu, maka ia menjadi kuat dalam menjalani kehidupan ini yaitu dengan meningkatkan kualitas keimanannya sebagai fondasi untuk membentengi segala bentuk bisikan propaganda.

Analisis di atas juga mengambarkan kerinduan rakyat tentang kedatangan waliyullah, yang memberikan bentuk keimanan yang hakiki dan juga mampu mengatasi segala permasalahan yang berada didunia ini. Para waliyullah mengajari kita untuk selalu berjalan kepada kaidah kehidupan yang dianjurkan Tuhan sebagai “khalifah fi al-ardi” (pemimpin dunia) yaitu menjaga bumi dari segala bentuk tindakan yang akan menghancurkannya.  Dari sinilah kita akan hidup berdampingan dalam kedamaian dan terhindar dari segala bentuk kerusakan yang kita buat sendiri.

Inilah kenapa H. Tabbri hanya menuliskan penggalan Serat WK dengan tembang yang ia pilih adalah “sinom”. Bentuk ajaran yang ia pilih dalam Serat WK adalah segala bentuk refleksi yang ia alami dalam kehidupan pada masa itu. Yaitu dari latar belakang penentang kekuasaan istana hingga ia diusir dari Negara Surakarta. Refleksi itu ia tulis untuk mengobati rasa sakit hatinya dan menyadarkan dirinya bahwasanya kekuasaan itu bukanlah segalanya akan tetapi sikap sabar yang membuat keimanannya bertambah sebagai jalan untuk tidak keluar dari kaidah kehidupan yang dianjurkan oleh Tuhan.

– Penutup

Sejarah kepustakaan Jawa yang identik dengan gubahan bahasa Jawa Kuno ke bahasa Jawa Baru. Hal ini dilakukan pihak istana guna melestarikan kesenian, kesusastraan, kebudayaan, dan tradisi Jawa.Istana adalah epicentrum yang menggerakkan segala aspek administrasi negara dan sebagai tempat melindungi bentuk kebudayaan Jawa.

Kesusastraan di Jawa juga tidak bisa lepas dari peran tiga tokoh ini Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita. Mereka memberikan kontribusi yang banyak terhadap kepustakaan Jawa zaman Surakarta, baik berbentuk gubahan maupun karya mereka sendiri. Karya mereka sangat terkenal dan menjadi bahan rujukan oleh masyarakat Jawa. Ini terbukti dari beberapa karya mereka yang mempunyai banyak salinan salah satunya adalah Serat WK Yasadipura II. Karena bahasa yang ia tulis yang sangat variatif tidak membosankan dengan tutur Jawa yang sopan-santun. Kemudian ajaran-ajaran tentang kehidupan mereka balut dengan bahasa yang indah membuat karya-karya mereka semakin digandrungi para intelektual pada masa dulu hingga sekarang.

Penggalan Serat WK yang ada di dalam naskah H. Tabbri ini hanyalah seklumit kepopuleran karya-karya pujangga Istana Surakarta. Mungkin masih banyak lagi yang belum ditemukan atau dibahas. Kajian ini dibuat untuk memberikan informasi dan mengingatkan kepada masyarakat Surakarta, bahwasanya Surakarta pernah mempunyai sejarah hebat di masa kolonial tentang masa keemasan kesusastraan yang sekarang ini telah dilupakan dan ditinggalkan.

Daftar Pustaka

Ahmad Wahyu Sudrajad. 2013. Maulid Qashor dalam Naskah H.Tabbri .Yogyakarta: Skripsi S1 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga

Anung Tedjowirawanm. 2012. Menelusuri Jejak Cerita Rama Dalam Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita. Jakarta; Jumantara Vol.3. no.1.Tahun

H.M.H. AL-Hamid ALHusaini. 2000.  Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah.Bandung : Pustaka Hidayah.

Imran Teuku Abdullah. 1991. Hikayat Meukuta Alam .Jakarta: Intermasa.

Ismail Fajri Alatas. 2006. Risalah Konsep Ilmu Dalam Islam. Jakarta : Diwan.

Jonathan Culler. 1983. The persuit of signs. London : Routledege & Kegan Paul.

MichaelRiffarre. 1984.  Semiotics of poetry. Bloomington : Indian University press .

_____________. 1987. “ interpretation and descriptive poetry: A reading of wordsworth’s “Yew-trees”. Dalam robert young (ed.). untying the text: A post-structuralist reader. London and New York. Routledge & kegan paul .

Padmosoekotjo, S. 1953. Ngengrengan Kasusastran Djawa. Yogyakarta: Soejadi.

Poerbatjaraka dan Tardjan Hadijaja. 1952. Kepustakaan Jawa .Jakarta: Jambatan.

Roland Francois Lack. 1990. “intertextuality or influence: kristeva, bloom and poesies of isidore ducasse”. Dalam michael worton and judith still (ed.). intertextuality-teories ang practies.. Manchaster and NewYork : Manchaster Universuty Press .

Supomo Suryohudoyo, “Rebellion In The Kraton World As Seen By The Pujangga”, J.J. Fox (eds.) Indonesia : Australian Perspective

T.E. Behrend. 1995. Serat Jatiswara .Struktur dan Perubahan Di Dalam Puisi Jawa 1600-1930). Jakarta: INIS

Venny Indria Ekowati. 2010. Filologi Melayu .Keindahan Bahasa Dalam Naskhah Wicara Keras  Koleksi Musium Sanabudaya Yogyakarta. Malaysia: Perpustakaan Negara Malaysia Jilid 17.