Kalsel Gencar Bangun 1.000 Perpustakaan

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena tidak semua daerah tidak peduli untuk mengembangkan perpustakaan. Salah satu daerah yang termasuk peduli untuk memajukan perpustakaan, yaitu di provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).  Provinsi Kalsel selain dikenal memiliki poensi kekayaan alam yang luar biasa namun juga peduli untuk mengembangkan fasilitas perpustakaan. Di antara jenis perpustakaan yang saat ini sedang digalakkan di Kalsel, yaitu perpustakaan desa.

Perpustakaan desa di Kalsel akan ditargetkan mencapai seribu perpustakaan yang tersebar di seluruh wilayah Kalsel. Hal ini sesuai yang diucapkan Gubernur Kalsel Rudi Ariffin saat membuka Roadshow Perpustakaan Nasional di Banjarmasin, Oktober 2013 lalu bersama Kepala Perpusnas Sri Sularsih. Hingga saat ini sudah berdiri sebanyak 668 perpustakaan desa di Kalsel.

Dikutip dari antaranews.com, (3/2/14), Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengatakan perpustakaan desa merupakan program yang cukup penting dan strategis untuk semakin mendekatkan masyarakat dan pelajar, utamanya yang berada di pelosok-pelosok dengan ilmu pengetahuan.

“Buku merupakan salah satu sumber pengetahuan, sehingga perpustakaan desa menjadi sarana yang cukup efektif untuk membantu mencerdaskan masyarakat,” katanya.

Selain perpustakaan desa, pemprov Kalsel juga menyediakan unit perpustakaan keliling, ditambah sarana serupa dari instansi, sekolah swasta, madrasah, sampai pengelola masjid yang turut menyediakan perpustakaan.

Cara ini dilakukan agar mampu meningkatkan kunjungan generasi muda ke perpustakaan. Selain itu, para pemda juga melengkapi fasilitas perpustakaan dengan teknologi seperti internet dan lainnya, sehingga memudahkan pelajar maupun mahasiswa untuk mendapatkan setiap informasi dan ilmu pengetahuan yang dicari.

“Teknologi cukup penting untuk melengkapi perpustakaan desa sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya di setiap perpustakaan akan dilengkapi dengan komputer, apalagi saat ini hampir di seluruh kecamatan di Kalsel sudah memiliki jaringan internet,”katanya.

Kepedulian ini yang patut ditiru para Kepala Daerah lainnya di Indonesia. Kepala Perpusnas Sri Sularsi dalam suatu kesempatan kegiatan publikasi kegemaran membaca pernah mengatakan bahwa di tatanan masyarakat, membaca belum menjadi budaya sehingga masih perlu dorongan agar minat terhadap buku ini semakin meningkat.

Menurut Sularsih, berdasarkan hasil survei, minat baca orang Indonesia itu 1 : 1.000 atau hanya satu orang dari seribu yang suka membaca. Padahal, tambah Sri, membaca itu sangat penting dan bahkan kini menjadi kebiasaan atau budaya masyarakat di negara-negara maju.

“Masih rendahnya minat baca ini disebabkan banyak faktor, salah satunya kurangnya kemampuan daya beli terhadap buku,” katanya. Sehingga peran perpustakaan untuk membantu masyarakat hingga pelosok pedesaan agar memiliki kemauan membaca dengan menyediakan buku-buku bacaan gratis amatlah penting.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Kalsel Hawari menambahkan salah satu upaya memacu minat baca masyarakat adalah dengan penyediaan perpustakaan hingga di tingkat desa.

Disebutkan, saat ini pemprov Kalsel sudah punya perpustakaan desa sebanyak 668 buah dan sampai 2015 ditarget terpenuhi 1.000 buah. Selain itu, koleksi buku juga terus diusahakan bertambah.

Jumlah tersebut memang dirasa teramat sedikit jika dibandingkan dengan luas provinsi Kalsel  yang cukup luas. Tapi, setidaknya pemprov Kalsel sudah mengawalinya. Harapan bersama dari seluruh pihak semoga jumlah itu bisa terus bertambah dan bisa diikuti oleh daerah-daerah lain di seluruh Indonesia untuk terus mengembangkan perpustakaan desa di daerahnya masing-masing sebagaimana perpustakaan desa di Kalsel yang saat ini masih terus digencarkan.