Kepala Perpusnas Buka Pekan HUT Perpusnas: Ajak Masyarakat Cinta Perpustakaan

Salemba, Jakarta—Tiga anak TK berdiri di atas panggung teater yang sudah didesain layaknya pesta ulang tahun. Warna warni dengan pajangan balon-balon yang tiap sudut panggung. Meriah. Mereka mengikuti arahan dari sang pesulap dengan mencoba berbagai atraksi yang diajarkan. Tidak semuanya berhasil mengikuti dengan baik. Ada yang berhasil, ada juga yang gagal meski telah berusaha keras.

Ketiga anak TK tersebut tidak terpengaruh dengan puluhan rekannya, sesama murid TK yang memilih sibuk berlari-lari, menaiki tiap kursi dengan candaan khas mereka. Suasana tambah ramai, karena para orang tua sibuk mengawasi tingkah laku anaknya yang penuh keceriaan. Story telling yang dibawakan jadi riuh tenggelam dengan suasana keceriaan.

Keceriaan tersebut tergambar dari kemeriahan pekan pameran HUT Perpustakaan Nasional ke-34 yang jatuh bertepatan dengan Hari Buku Nasional, 17 Mei. Di datangkannya puluhan anak-anak TK sejatinya menjadi cara Perpusnas untuk mendekatkan perpustakaan pada mereka. Di samping itu, melatih mereka untuk membiasakan diri dengan buku bacaan. Perpusnas menyadari cara tersebut merupakan amanah yang harus dijalankan sesuai amanah UU Perpustakaan.

Sebelumnya, tepat di muka lobi gedung layanan, Kepala Perpusnas Sri Sularsih didampingi Sekretaris Utama Dedi Juanedi, Deputi, dan Kepala Bidang Koleksi Umum Lucya Damayanti menggunting pita bunga yang menandai secara resmi dibukanya pekan pameran HUT Perpusnas.   

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Welmin S. Ariningsih  mengatakan pekan pameran Perpusnas bertujuan untuk mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat. Upaya pemasyarakatan perpustakaan menjadi salah satu cara agar keberadaan perpustakaan di masyarakat bisa lebih dikenal dan dimaksimalkan pemanfaataannya karena perpustakaan merupakan salah satu tempat belajar sepanjang hayat.

Bertemakan Indonesia Dalam Gambar, Perpusnas memajang sebanyak 250 koleksi gambar-gambar hasil reproduksi. Sumber gambar tersebut berasal dari buku-buku yang terbit pada abad ke-19 hingga abad  ke-21. Selain memuat gambar-gambar reproduksi, pameran juga memamerkan koleksi peta, gambar kuno, buku, majalah, surat kabar langka dan naskah kuno. “Selain menggelar pameran langsung (onside), Perpusnas juga melakukan pameran secara melalui web (online),” terang Welmin.

Ada 11 kategori gambar yang ditampilkan, yaitu arsitektur tradisional, pakaian tradisional, pengobatan tradisional, tata kota, flora, karikatur, peta, teknologi pertanian, teknologi komunikasi, dan iklan.

Perpusnas beralasan masih banyak informasi penting yang tersembunyi. Informasi dari abad yang lalu masih relevan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia masa kini. Dan hingga saat ini masih tersimpan rapi.

Informasi yang bersumber dari berbagai koleksi termasuk e-resources belum dimanfaatkan secara optimal. “Saya harapkan lewat pameran, masyarakatkan mau lebih mengenal dan mencintai perpustakaan dan mau mencari informasi serta beraktifitas di perpustakaan,” kata Kepala Perpusnas Sri Sularsih.

Di hari pertama pameran, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno menggelar bedah buku pemikiran Bung Karno mengenai pertahanan nasional yang bersendikan karakteristik bangsa. Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Suyatno dan Pusat Studi Soekarno The Soekarno Center Poerwanto menjadi pemateri bedah buku tersebut. Materi bedah buku berasal dari pidato amanat Presiden Soekarno pada peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1965 silam.

Sang Proklamator Soekarno mengatakan pertahanan nasional akan berjalan sempurna semaksimal-maksimalnya jikalau berlandaskan pengetahuan geopolitik. Soekarno menekankan lewat pidatonya pentingnya untuk mengenali jati diri sebagai bagian dari upaya mengenali bangsa dan Tanah Air. Sejalan dengan perkataan filosof Yunani kuno kenamaan Socrates, “mengenal diri sendiri secara mendalam berarti mengenal dunia tempat kita hidup.”

Di hari terakhir, Perpusnas mengadakan seminar dan workshop mengupas Peran Perpustakaan Dalam Penanganan Koleksi Pra dan Pascabencana yang dinilai penting mengingat kondisi geografis Nusantara yang masuk dalam kategori wilayah rawan bencana. Sehingga perlunya sosialisasi bagaimana perencanaan dan cara penanganan koleksi ketika terpapar bencana.      

Selain memamerkan koleksi unggulan, Perpusnas juga menyemarakkan HUT-nya dengan membuka layanan konsultasi khusus yang meliputi konsultasi pustakawan, ISBN, ISMN, KDT, deposit, preservasi bahan pustaka, diklat kepustakawan, otomasi perpustakaan, pengembangan perpustakaan dan minat baca, pelatihan e-resource, pemutaran film nasional, story telling, dan library tour.

Sejumlah perpustakaan dari UPT Bung Karno (Blitar), UPT Bung Hatta (Bukittinggi), Perpustakaan DPR-RI, Poltekkes Kesehatan, Kementerian Pertanian, BSN, PDII LIPI, PNPM Mandiri, Perpustakaan Lapas Wanita Tangerang, BPAD Prov Jawa Timur, Bapapsi Kab. Bandung, Kantor Perpustakaan dan Arsip Kab. Tanjung Pinang, Pusat Penyebaran Informasi dan Teknologi IPB, Universitas Mercu Buana, Indosat, MNC Grup, dan mitra kerja lain juga turut menyemarakkan pameran.

Dirgahayu Perpustakaan Nasional ke-34.