Kepustakawanan: Kemarin Dan Esok Adalah Hari Ini

Pendahuluan

Dengan terbitnya Surat Keputusan (SK) Menpan Nomor 18Tahun 1988 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Pustakawan (yang hingga saat ini telah beberapakali disempurnakan),, menandakan bahwa pemerintah telah mengakui jika pekerjaan seorang pustakawan sebagai Jabatan Fungsional. Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah perguruan tinggi di Indonesia yang pertama kali menerapkan peraturan jabatan fungsional pustakawan. Saya adalah “Pustakawan Glundung Pringis” karena ketika saya diangkat pertama kali sebagai Pejabat Fungsional Pustakawan melalui inpassing bukan pengangkatan pertama berdasar kualifikasi yang disyaratkan, karena sebagaimana diketahui bersama, syarat untuk pengangkatan Jabatan Fungsional Pustakawan harus memiliki pendidikan minimal D2/D3 di bidang Perpustakaan. Akan tetap, waktu itu saua belum dapat memenuhinya, sehingga dengan cara inpassing saya dapat bergabung dalam jabatan fungsional pustakawan. Hal ini merupakan salah satu cara yang menguntungkan saya.

UGM mensyaratkan inpassing untuk pegawai perpustakaan yang semula berstatus pegawai administratif menjadi Pejabatan Fungsional Pustakawan minimal harus berijazah SLTA, Sudah bekerja

2 (dua) tahun berturut-turut di perpustakaan, berpangkat Pengatur Muda Tk. I, Golongan/Ruang ll/b dan telah mengikuti pendikan/ kursus bidang perpustakaan minimal 6 bulan. Beruntung sekali saya pada saat itu dapat memenuhi syarat tersebut, karena dis amping syarat administratif saya telah mengikuti Kursus Pendidikan Teknisi Pepustakaan Perguruan Tinggi (PTPU) yang diselenggarakan UGM atas rekumendasi DIKTI.

Saya diangkat sebagai pejabatan fungsional pustakawan berdasar SK. Mendikbud No. 95/C/1990, dengan posisi: Jabatan Fungsional Pustakawan: Pustakawan Pratama. TMT: 31 Januari 1988. Sejak itulah saya meniti karir di bidang kepustakawanan melalui dua zaman yaitu Era Kepustakawanan Konvensional yang serba manual atau hastawi dan Era Kepustakawanan dengan penerapan Teknologi Informasi yang padat teknologi.

Selama meniti karir sebagai pustakawan saya merangkak dari Pangkat/Golongan li/b sampai pada Pangkat dan Jabatan Tetinggi dalam sistem kepegawaian PNS atas dorongan dan fasilitas yang diberikan oleh pihak manajemen dan atas dukungan lingkungan yang kondusif. Untuk itu Alhmadulillah saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rakhmat- Nya kepada saya. Selain itu, ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan kepada saya sehinqqa saya dapat mencapai puncak karir saya. Barang kali tidak salah ketika saya mengucapkan pidato pengukuhan saya sebagai Pustakawan Utama dengan judul: Hubungan Timbal Balik antara institusi, Pembelajaran Sepanjang Hayat dengan Pengembangan Karier Pustakawan, di Yogyakarta, 6 September 2007. Apabila selama meniti karir di bidang kepustakawanan, saya melalui dua zaman maka di dalam proses pembelajaran sepanjang hayat saya telah melalui tiga zaman yaitu: Era Kampus UGM Wijilan dan Pagelaran Kraton Yogyakarta tahun 1967 – 1968, Era Kampus UGM Karang Malang tahun 1969-1970, dan Era Kampus UGM Bulaksumur1970-

Di dalam meniti karir di UGM saya berpegang pada “Ngeimu Beja”. Ngelmu beja itu adalah ngeimu atau ilmu untuk “hanggayuh kamulyan” bukan sekedar”kemul-liyan”. Prinsipnya adalah:

  1. Membersihkan hati; yaitu dengan cara membiasakan berfikir positif, sekalipun menghadapi situasi yang buruk dan tidak menyenangkan, tetapi selalu berusaha mengurai sisi baiknya. Sebaliknya waspadai diri kita sendiri. Kita harus selalu mengevaluasi diri karena setiap orang akan cenderung merasa sudah melakukan banyak amal kebaikan, bahkan sudah merasa telah beriman.
  2. Berusaha setiap saat agar hidup kita bermanfaat bagi sesama. Dalam terminologi ajaran Jawa disebut donodriyah; atau sodaqoh.
  3. Belajar tulus dan ikhlas sepanjang masa. Hal ini agar mampu mewujudkan keikhlasan yang sempurna. Ukuran kesempurnaan ikhlas itu dapat diumpamakan “keikhlasan” kita sewaktu (maaf!) buang air besar. Kita enggan menoleh, bahkan selekasnya dilupakan dan disiram air agar tidak berbau dan membekas.
  4. Menghilangkan sikap ke-aku- an (nar/api/iblis); menghindari watak mencari benarnya sendiri, mencari menangnya sendiri, dan mencari butuhnya sendiri. Sebaliknya, jaga kesucian badan dan batin dari polusi hawa nafsu negatif agar sinar kesucian (nur) menjadi semakin terang dalam kehidupan.
  5. Perbanyak bersyukur, sebab tiada alasan sedikitpun untuk menganggap Allah SWT belum memberikan anugrah kepada kita. Coba hitung saja anugrahNya dalam setiap detik, berpuluh- puluh anugrah selalu mengalir pada siapapun orangnya; sekali lagi dalam setiap detiknya. Maka bersyukur yang paling ideal adalah mewujudkannya dalam perbuatan.

Rekan-rekan seperjuangan, apabila kelima tahap di atas dapat dilaksanakan menjadi kebiasaan sehari-hari, niscaya hidup kita akan menemukan kamulyan sejati. Baik dunia maupun akhirat. Bahkan

kita dapat meraih anugrah Tuhan berupa “ngelmu beja” atau “ilmu” keberuntungan. Tidak dapat dicelakai orang, selalu menemukan keberuntungan, selalu hidup kecukupan, dan tenteram. Bahkan semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menerima. Itu semua adalah pitur luhur dari nenek moyang kita yang dipetik dari berbagai literatur dan bukan gagasan saya semata.

Bagaimana Saya Meniti Karir Di Bidang Kepustakawanan?

Budaya yang berlaku dalam suatu bangsa yang mencakup paradigma, sikap, dan pola tindakan yang merupakan cerminan nilai budaya bangsa tersebut. Budaya terus berkembang seiring dengan bergulirnya waktu, namun nilai budaya yang telah ada tidak akan hilang sama sekali pada masa selanjutnya. Nilai budaya itu akan menjadi unsur pembentuk, unsur yang mewarnai, mendasari, bahkan dapat mendominasi nilai-nilai budaya sesudahnya. Saya berasal dari lingkungan budaya Jawa tentu saja pengaruh nilai-nilai luhur budya Jawa akan tertanam dalam sanubari saya dan akan berpengaruh pada perilaku atau tindak tanduk kehidupan keseharian saya.

Di antara nilai-nilai luhur itu adalah pitutur luhur dari nenek moyang kita: “Lila lamun kelangan nora gegetun trimah yen ketaman saserik sameng dumadi tri legawa nalangsa srahing bathara“. Bait ini dipetik dari Serat Wedatama, adalah karya sastra Mangkunegoro IV dengan terjemahan bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut. Ikhlas, jika kehilangan tiada ‘kan menyesal// menerima dengan lapang jika mendapatkan//kebencian dari sesama//legawa, dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa.

Pesan yang ditulis Mangkunegoro IV pada masa kejayaan 1853- 1881 itu sebenarnya ditujukan kepada keturunannya yang ingin meneruskan cita-citanya menjadi ksatria utama. Menurut Beliau, ksatria pilihan harus menjalankan darma baktinya dan siap menerima risiko apa pun, serta pantang menghindar dari tanggung jawab. Saya bukan trah Mangkunegaran, tetapi apa salahnya kalau Ibu/Bapak sebagai kawula Surakartahadiningrat berharap anak keturunanya juga mewarisi cita-cita luhur yang diwariskan Mangkunegoro IV.

Mulat Sariro angrasa wani, rumangsa melu andarbeni. wajib melu angrungkebi” yang juga disebut “Tri Darma”adalah karya KGPAA MANGKUNEGORO I, nama ketika masih kecil RM SAID, juga digelari PANGERAN SAMBERNYOWO. Beliau memerangi wadyabala Walandi dan oleh pamerintah Indonesia diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Ada lagi sesanti beliau yang masyhur yaitu “Tiji Ti Beh“. Artinya ‘Mukti siji mukti Kabeh, Mati siji mati Kabeh” barang kali hal itu ada hubungannya dengan Tri Darma tersebut. Artinya bahwa Manusia di lingkungan kehidupan bermasyarakat memiliki hak tetapi harus juga melaksanakan kewajibannya.

Zaman kerajaan Jawa-lslam membawa pengaruh besar pada masyarakat, dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam. Anggapan bahwa raja adalah’Imam’dan agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama masyarakat karena beralihnya agama raja, di samping peran aktif para ulama masa itu. Para penyebar Islam -para wali dan guru-guru tarekat- memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf. Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya yang bersifat mistik dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka. Spiritual Islam Jawa, yaitu dengan warna tasawuf (Islam sufi), berkembang juga karena peran sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra. Petikan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV: “Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase klawan kas, tegese kas nyatosani. Setya budya pangekese dur angkara” (Pupuh Pucung, bait I) Artinya:

Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan. (Mengadeg, 1975).

Di sini ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat atau ilmu batin, karena dijalani dengan mujahadah laku spiritual yang berat (Simuh, 1999). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah dengan tapa, yang hampir selalu dibarengi dengan pasa.

Masih pada serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV: ” Bonggan kang tan merlokena, / Mungguh ugering ngaurip, / Uripe lan tri prakara, / Wirya, harta tri winasis, / Kalamun kongsi sepi, / Saka wilangan tetelu, / Telas tilasing janma, /Aji godhong jati aking, / Temah papa papariman ngulandara.”( Salah sendiri yang tidak peduli, / terhadap landasan hidup, / Hidup berlandaskan tiga hal, / Kekuasaan, kekayaan dan kepandaian, / Bila tidak memiliki, / satu di antara ketiganya, / tiada arti lagi sebagai manusia, / Masih berharga daun jati kering,/ Akhirnya menjadi peminta-minta dan gelandangan).

Tiga hal yg diungkapkan disini, wirya, harta dan winasis, penjabarannya begini: Orang yang punya kuasa/kekuasaan (Wirya), tentu akan mudah untuk mencari harta (arta) dan kepandaian (wasis). Atau orang yg mempunyai kekayaan (Arta), tentu juga tidak akan kesulitan untuk mendapatkan kekuasaan dan kepandaian, demikian juga orang yg hanya memiliki kepandaian (winasis) tentu juga tidak akan kesulitan untuk mendapatkan kekuasaan dan harta. Oleh karenanya, Mangkunegara IV mengatakan, jika kita tidak punya salah satupun dari 3 hal di atas, kita sudah tidak ada lagi gunanya, bahkan masih lebih berguna daun jati kering (Jaman dulu daun jati kering masih berharga, diantaranya dipakai utk membungkus segala macam atau klaras (daun pisang kering) masih berguna untuk pembungkus gula merah (Jawa) agar tidak cepat ninis / lumer).

Dari berbagai pitur luhur itulah barang kali yang menjiwai saya untuk melangkah menjalani hidup ini sebagai mana mestinya. Disamping itu saya beragama Islam tentu saja berusaha sedapat mungkin menjalankan syariat Islam sebagimana akidah Islamiyah.

kepustakawanan 1

Ketika saya pada usia sekolah (SMP-SMA) sekitar tahun enampuluhan, saya dipercaya oleh Mbah Diro (Sudiro) dan Mbah Sol (Solichin) beliau keduanya putra Demang Manjungan, Ketandan, Klaten, mengelola taman bacaan komunitas yang beliau bina saat itu. Keduanya guru/guru kepala pada berbagai perguruan Muhammadiyah di Yogyakarta. Karena kesibukannya hanya sebulan sekali bergantian pulang ke Manjungan untuk melakukan pembinaan mental/ sepritual dan memotivasi pemuda- pemuda yang ada di desa kami. Pengelolaan taman bacaan sepenuhnya diserahkan kepada saya, namun karena minat baca tinggi diberangi “rasa handarbeki” maka koleksi buku bacaan yang ada semakin lama semakin susut karena dibawa pulang dan tidak kembali, akhirnya tamat.

Pada tingkat sekolah selanjutnya di SMA saya belajar baca tulis di samping mengikuti mata pelajaran sesuai kurikulum yang berlaku, saya mengambil ekstrakulikuler “Jurnalistik”di bawah bimbingan Bambang Subendho Adhiputro yang sekaligus wali kelas. Di bawah bimbingan beliau, saya “ditekan” untuk mau membaca dan menulis, ini merupakan awal dari aktivitas kepustakawanan.“Witing bisa jalaran dipeksa, witing ngerti jalaran taberi“. Mulai saat itu saya menyisihkan uang saku untuk membeli buku apa saja untuk koleksi, sebagai bahan bacaan yang merupakan modal untuk mengembangkan minat baca dan tulis.

Tahun 1967 dengan niat bulat saya melanjutkan studi tingkat tinggi di UGM Fakultas Sastra dan Kebudayaan. Dengan doa dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh Ibu dan Bapak saya, pulang – balik Klaten – Yogyakarta dengan mengayuh sepeda untuk ngangsu kawruh, ngupaya banyu pikulan warih. Di Fak Sasdaya (Fakultas Satra dan Kebudayaan) saya mengambil jurusan Sejarah untuk pertama kali mendapat wejangan dari Prof. Dr. A. Satono Kartodirjo, guru besar sejarah priyayi Solo tepatnya Wuryantoro, Wonogiri: “Menjadi mahasiswa harus mesu brata (belajar sungguh- sungguh), kalau zaman dahulu orang berguru harus tinggal dipadepokan dan atau bertapa/nenepi di gua, gunung atau tempat yang sepi dan wingit, kungkum (merendam diri) di sungai tempur atau sendang, maka saat ini bertapanya mahasiswa di PERPUSTAKAAN”. “Tunggal guru tunggal wejangan nagingyen kalah gentur tapane kalah kapinterane, kasudibyane lan kasektene“. Kita memang melihat kenyataan, kurikulum, substansi pembelajaran yang diajarkan sama, gurunya sama tujuan instruksional umum maupun khusus sama, tetapi pada kenyataan hasil akhir kompetensi yang didapatkan atau dimiliki oleh peserta didik ternya berbeda karena masing- masing “kalah gentur tapane”.

Perpustakaan museum Radya Pustaka Surakarta,Tepas Kapujanggan Kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman, Perpustakaan Museum Sanabudaya Yogyakarta, Koleksi Romo Zutmulder yang kemudian menjadi Koleksi khusus Artati di IKIP Sanata Dharma, merupakan tempat pertapaan awal. Dilanjutkan nenepi di Perpustakaan Negara yang kemudian menjadi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY Jl. Malioboro, di sini banyak berkenalan dengan pustakawan-pustakawan senior Bp. St. Kotska Soegeng, Ibu Sumarni, Bpk Sudibyo dan pustakawan lain. Awalnya saya ke perpustakaan tersebut bertujuan untuk mencari referensi, buku teks maupun dokumen-dokumen historis sesuai tugas saya untuk menyelesaikan tugas kemahasiswaan di jurusan sejarah. Kemudian saya tertarik dan banyak belajar pada mereka untuk memahami dunia kepustakawanan.

Di lingkungan UGM saya belajar banyak di Perpustakaan Pusat Sekip Unit V atau Gedung Panca Dharma. Di gedung ini juga disimpan koleksi khasus Yayasan Hatta yang semula berada di Perpusda DIY. (Nasib koleksi Yayasan Hatta ini terlunta- lunta sampai saat ini?). Di sini saya banyak belajar dan menulis karena banyak literatur yang harus dibaca. Saat itu belum ada fasilitas foto kopi, harga buku sangat mahal bagi saya, literatur yang harus dibaca dalam jumlah yang banyak untuk masing-masing mata kuliah dan diwajibkan membuat sumary atau review untuk dipresentasikan, maka terpaksa harus dibaca dan ditulis di perpustakaan. Jumlah koleksi teks terbatas, buku referensi mupun tandon (on reserve) tidak boleh dipinjam (checkout) hanya boleh dibaca ditempat. Namun ada hikmah dibalik itu semua. Saya terpaksa rajin keperpustakaan itulah arti “mesu brata” sebagaimana kata Prof. Sartono. “Witing bisa jalaran kepeksa“.

Sebagaimana di Perpusda DIY saya berkenalan dengan Bpk R. Soedjatmiko kepala Perpustakaan UGM waktu itu. Bapak yang satu ini betul-betul “jatmiko“sesuai betul antara nama dan tindak tanduk, sikap, peri laku, tutur kata yang serba mengenakkan, penuh wibawa, seorang bapak yang pantas untuk diteladani bahkan sampai saat saya betul-bentul menjadi pustakawan di UGM.. Saya banyak berguru kepada beliau disamping pustakawan senior lain Bpk. Jusbar Anurzal SH, Bpk Sumanggyo, Bpk.Tamzis, Bpk Surono (koleksi Yayasan Hatta) dsb. untuk ngangsu kawruh(berguru) kepustakawanan.

Tahun 1970 saya lulus Sarjana Muda. Setaun kemudian dengan Surat Keputusan Rektor UGM No. UGM/20/Hr/l/C/71 – diangkat sebagai Asisten Muda tidak tetap pada Fak. Sastra UGM, Gol. Il/b. Setiap tahun diperpanjang sampai dengan tahun 1973. Disamping mengajar saya diperbantukan di Perpustakaan Fak. Sastra UGM menjadi asisten Ibu Dra. Sri Ratnaningsih Hadian, MA. Di sini saya banyak berguru pada Ibu Retno(panggilan akrabnya) dan dipaksa membaca banyak literatur kepustakawanan dengan demikian proses belajar mengajar berjalan lancar. Disamping menyiapkan bahan ajar untuk “Mata kuliah Pengantar Ilmu Perpustakaan” di Fak. Sastra sekaligus sebagai bekal praktek kerja di Perpustakaan Fak.Sastra. Selama menjadi asisten saya ditugasi mengikuti pelatihan teknisi kepustakawanan: Pendidikan Teknisi Perpustakaan Universitas (PTPU) Angkatan IV yang diselanggarakan UGM atas rekomendasi DIKTI selama 6 bulan.

Sing Sapa Temen Bakal Tinemu

Ketika UGM membuka kesempatan rekrutmen pegawai perpustakaan, saya mencoba mengikuti tes CPNS, Alhamdulillah bisa diterima. Dengan SK Menteri Depdikbud, No. 11939/C92/74 – Sebagai CPNS Pengatur Muda Tk. I. Gol. ll/b.TMT: 1 Maret 1974 ditempatkan di Fak Farmasi UGM. Berita ini sangat menggembirakan bagi saya sebagai “Calon Pegawai Nampa Sakanane”, maka dengan serta merta saya sampaikan kepada kedua Ibu/Bapak.Tentu saja beliau sangat bersyukur dengan sesantinya: “Yen dadi punggawane praja (pegawai) sing, temen, manteb,, gelem nglakoni, ojo gumunan lan ojo kagetan”

Ternyata setelah ditelusuri dalam literatur, sesanti itu adalah Konsep

Manajemen Mangkunegoro III

(Buku Pangetan Khol Tahunan Sri Mangkunegara III):

  • Temen

Temen berarti bersungguh – sunguh dan jujur alias tidak berpura – pura, serius dan selalu waspada serta tidak menganggap remeh pihak lain. Dalam pengawasan atau tidak seseorang itu akan menjalankan tugas dan kewajiban yang dipercayakannya dengan seksama dan penuh tanggung jawab.

  • Manteb

Berarti memiliki jiwa setia dan teguh. Seorang yang mantep tidak mengabaikan apapun yang sudah menjadi kesanggupannya, la akan selalu berusaha menunaikan janjinya tanpa gerutu dan sesal. Semua dilakukan dengan setia, teguh, tanpa menanggalkan kewaspadaan, tidak membanding-bandingkan, tidak iri hati terhadap perolehan orang lain. Seorang yang mantep tak mudah menyerah, bosan atau putus asa dalam perjuangan meraih cita-citanya.

  • Gelem

Berarti mau, bersedia. Seorang yang bersikap gelem tidak merasa segan maupun takut untuk menunaikan tugas-tugasnya, bahkan yang berat dan berbahaya sekalipun, la tidak pernah ragu dalam menunaikan tugasnya, tidak pernah menggerutu, penuh harap dapat menunaikan semua pekerjaannya dengan baik. la teguh dalam tekadnya.

  • Nglakoni

Kesediaan nglakoni merupakan konsekuensi dari gelem. Segala tindakan orang yang nglakoni disesuaikannya dengan situasi dan kondisi setempat (empan papan), la tekun, sabar, dan tak berhenti menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan tugasnya, pandai membedakan mana yang perlu dan yang tak perlu, la tidak gemar mencampuradukkan segala sesuatu. Seorang yang nglakoni dapat menerima suka- duka kehidupan, menghindari pamrih (kepentingan pribadi). Hatinya selalu bersih, rela, dan tidak suam-suam kuku (hangat- hangat tahi ayam). Semua tugas yang dibebankan kepadanya dilaksanakannya dengan bersungguh-sungguh agar dapat diselesaikannya dengan baik. Orang yang nglakoni tidak mudah merasa sengsara dalam menjalani kehidupannya.

  • Aja Kagetan

Berarti “Jangan mudah terperanjat!” Nasihat ini mengandaikan pengetahuan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari perilaku dan perbuatan kita sendiri. Keinsyafan bahwa hidup di dunia ini dikuasai oleh peradilan gaib yang abadi, menjadikan kita sabar dalam menghadapi gejolak kehidupan.

  • Aja Gumunan

Berarti “Jangan mudah heran/ takjub!” Kebahagiaan dan nasib baik seseorang adalah anugerah Allah, sesuai dengan kesungguhan hati penerimanya. Seorang yang tidak mudah heran/ takjub menyadari bahwa ia adalah makhluk ciptaan Allah Mahapengasih. Permohonan kepada-Nya selalu disertai kesungguhan hati, kejujuran, dan usaha yang tak kenal menyerah. Keberhasilan dan keberuntungan disyukurinya sebagai anugerah Allah sehingga tak pernah menjadikannya iri terhadap sesamanya.

Berdasar “Ngelmu Beja” saya menghadap Dekan Fak Farmasi dan ditemui oleh beliau Bpk. Drs. Soerais Soediromargoso, Aptk kepustakawanan. (Dekan) dan Drs. Moejono, Aptk (Sekretaris) kedua beliau menerima dengan baik sebagai pegawai perpustakaan serta memberi peluang untuk menyelesaikan kuliah saya. Pada hal waktu itu ada peraturan di UGM yang tidak mengijinkan tenaga kependidikan melanjutkan (merangkap) belajar pada jam kerja, tetapi atas kebijakan beliau saya diijinkan dengan catatan tugas pokok diselesaikan dan diatur dengan teman sekerja.

Tahun 1978 saya menyelesaikan studi dan wisuda S1. Dengan bekal ijazah SI saya mengajukan usul penyesuaian pangkat dan dikabulkan sehingga saya loncat kepangkatan saya dari Pengatur MudaTk. I. Gol. Il/b ke Penata Muda Gol. Ill/a. Setahun kemudian ada mutasi kepegawaian. Saya mutasi ke Perpustakaan Pusat UGM dibawah pimpinan Ibu Dra. Sawittri-Soeharto, MA. dan dengan SK. Rektor UGM No. UGM/14/P/ lll/C/80 – diangkat sebagai Kasubag Pengolahan bahan pustaka Perpustakaan UGM. Pada saat itu terjadi kebimbangan antara tetap sebagai Pustakawan atau menjadi Dosen jurusan sejarah Universitas Udayana Bali atau menjadi peneliti di Lembaga Pedesaan membantu Prof. Dr. A. Sartono Kartodirdjo. Ibu Sawittri dengan tegas menyatakan bahwa staf perpustakaan tidak boleh melangkahkan kakinya satu berada di perpustakaan satunya dilembaga lain. Dengan kemampuan memotivasi dan atas pengaruh wibawa Ibu Sawittri akhirnya saya beketetapan menjadi pustakawan.

Perjalanan berikutnya terjadi pergantian kepemimpinan dari Ibu Sawittri-Soeharto, kepada Bapak Soedjatmiko kemudian Ibu Dra. Murianti, MLS. Pada masa kepemimpinan Ibu Mur sebuatan akrabnya, saya mendapat kesempatan melanjutkan studi S1 Gelar ganda dan S2 Ilmu Perpusatakaan di UI Jakarta. Baik ketika S1 maupun S2 sesungguhnya saya sekedar memenuhi kuota. Pada waktu itu ada program UKKP (Unit Kegiatan Khusus Perpustakaan) dari

Dikti yang salah satu programnya adalah pendidikan dan pelatihan tingkat lanjut bagi staf perpustakaan. Jumlah PTN ada 45 perguruan tingi, tetapi setiap kali angkatan tidak semua PTN tersebut memiliki kandidat untuk menjadi peserta. Guna memenuhi kuota maka kekurangan selalu ditawarkan ke UGM jadilah saya besama teman- teman lain (IbuTritiana Candra Dewi, Parsih dan Sri Rumani berempat ikut S1 Khusus) kemudian pada program S2 bersama Ibu Tristiana Candra Dewi.

Sepulang dari mengikuti program pendidikan tingkat lanjut (S2), tepatnya 12 Juli 1999 ditugaskan ke Fak. Teknik UGM. Status kepegawaian Pustakawan UGM DPK Fak.Teknik sebagai Pj Perpustakaan. Ketika saya menghadap pimpinan Fak. Teknik ditemui Bapak Haryana M.Arc (Dekan) dan Ir. Syukri Syahit (Wd II/ Bidang Administrasi, Keuangan dan Kepegawaian). Kedua beliau menyatakan bahwa, Saudara Purwono sebagai Pejabat Fungsional silahkan mengembangkan kariernya dibidang Kepustakawanan. FT UGM tidak menjanjikan fasilitas apapun kecuali memberikan kebebasan atau keleluasaan untuk untuk melakukan kegiatan kepustakawanan baik Unsur Utama maupun Unsur Penunjang. Pembinaan karir berjalan lancar.

kepustakawanan 2

Pada usia menjelang 59 th tepatnya permulaan tahun 2006 saya sadari tahun berikutnya saya harus purna tugas atau pensiun, maka saya siapkan berkas permohonan untuk memenuhi syarat pensiun. Pada saat itu saya menduduki Pangkat/ Golongan IV/c dengan jabatan Fungsional Pustakawan Madya yang harus pensiun pada usia 60 tahun.

Berkas usulan pensiun setelah dikoreksi dan memenuhi syarat dikirim oleh PakJumali ke Kantor Direktorat SDM UGM, namun atas pertimbangan Bapak Haryadi, SH„ MM “ditolak” untuk di pending. “Pak Pur jangan pensiun sebelum Pustakawan Utama” begitu kata beliau. Klimpunganlah saya karena bagaimana saya harus mengumpulkan angka kredit untuk PAK dengan jumlah sesuai persyaratan Angka Kredit Kenaikan pangkat/Jabatan Pustakawan Utama dalam waktu singkat.

Ketika dalam situasi kritis dimana saya harus berpacu dengan waktu, maka saya berkonsultasi Pak Lasa, sang begawan, guru dan sahabat saya. “Ngono bae kok repot, satriyo kok ora wani nggetih, apa niate mesti bisa” begitu kata Pak Lasa ditambah dengan khotbahnya……

Ingat pada tokoh pewayangan Satriya Penenggak Pandhawa: Permadi, Harjuno, Parto, Pandhu Putra, Danarjaya, jagone para dewa agul-agule perang Barata Yudha, Lelananging Jagad…. satria bagus ruruh ririh rereh klemak klemek ngindak telek ora pendeng ternyata banyak simpanannya. “Golekana simpenanmul”. Klepat (saya pergi tanpa pamit)!

Maka saya bongkar dokumen berkaitan dengan pengembangan profesi ternyata saya punya simpanan berupa kertas kerja seminar, naskah lepas yang didokumentasikan, artikel jurnal/majalah, buku, modul UT, kumpulan karangan (bunga rampai), karya terjemahan dan saduran setelah dihitung dapat memenuhi angka kredit. Karena,dalam waktu dekat harus mengumpulkan angka kredit kumulatif sebesar 850 untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan fungsional Pustakawan Utama.

Yang pertama kali saya hubungi Pak The Liang Gie yang menerbitkan buku saya (kebetulan masih ada stock): College Reading and Study Skills, by Kathleen T. McWorther. (Terjemahan 2005), How to Study by Thomas F. Staton. (Terjemahan 2005), Reading Skills by William D. Baker. (Terjemahan 2005), Best Methods of Study by Samuel Smith (Terjemahan 2005), Segi-segi penulisan Biografi, Manfaat Buku Referensi, Segi-segi Penulisan Timbangan Buku.

Saya ingat sahabat saya mas Budiyono – BPAD, saya pernah terlibat dalam transliterasi dari huruf/tulisan Jawa ke huruf/tulisan Latin dari naskah kuna. Mas Budi dengan sigapnya menyanggupi,”Siap Pak, sekalian saya mintakan surat penugasan dan pengesyahan dari Bpk Suwardi Kepala BPAD”dikirimlah 10 judul naskah sudah terjilid rapi: Menak Lakat Jilid I (Alih aksara/ transliterasi huruf Jawa ke huruf Latin), Menak Kalakodrat Jilid I (Alih aksara/transliterasi huruf Jawa ke huruf Latin) Menak Kustub Jilid I dan II (Alih aksara/transliterasi huruf Jawa ke huruf Latin), Menak Purwokondho Jilid II (Alih aksara/transliterasi huruf Jawa ke huruf Latin), Babat Giyanti,JI.IX (Alih huruf/transliterasi tulisan Jawa ke tulisan Latin) Menak Sorongan Jilid I (Alih huruf/ transliterasi Jawa ke tulisan Latin.) Menak Cina Jilid III (Alih huruf/ transliterasi Jawa ke tulisan Latin). Menak Jamintoran jilid I (Alih huruf/ transliterasi Jawa ke tulisan Latin).

Buku modul UT yang saya tulis atas kebaikan MbakSuharmini (Minuk) dikirimkan: Perpustakaan dan Kepustakawanan Indonesia Jakarta: Universitas Terbuka, 2006. Buku-buku koleksi pribadi sebagai arsip tanda bukti penerbitan: Pedoman Pengelolaan Perpustakaan Madrasah. Yogyakarta: FKBA, 2001 (Penyumbang naskah), Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi; Yogyakarta: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2003. (Penyumbang naskah), Ditambah dengan sejumlah Karya tulis Pengembangan Profesi berupa: artikel jurnal/majalah, kertas kerja seminar, tulisan-tulisan lepas yang didokumentasikan dari Unsur Pokok dan Penunjang maka lengkaplah sudah untuk pemberkasan syarat kenaikan Pangkat dan Jabatan.

Jalan masih panjang, guna mengejar waktu berkas kenaikan pangkat dan jabatan, setelah mendapat surat rekomendasi dari Rektor UGM saya bawa sendiri ke Jakarta menuju Diknas Senayan satu berkas untuk syarat administratif, dan Perpusnas Merdeka Selatan kemudian Salemba satu berkas untuk percepatan sidang Tim Penilai Jabatan Fungsional Pusat untuk PAK. Surat Keputusan PAK terbit, atas kebijakan Perpusnas semua dibuat asli untuk dikirim ke Diknas, BKN, Sekneg, Rektor UGM dan yang bersangkutan. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat dihindari ternyata PAK asli yang saya kirim sendiri hilang di BKN dan diganti sampai tiga kali, terpaksa saya harus bolak balik Yogyakarta – Jakarta karena BKN menghendaki PAK Asli.

Alhamdulillah akhirnya Surat Keputusan Presiden RI No.74/M Tahun 2007 – Jabatan Fungsional: Pustakawan Utama, TMT 1 Desember 2006 terbit, maka lengkaplah sudah pangkat dan jabatan yang menjamin usia pensiun 65 Th.

Kebahagiaan kami rasakan sekeluarga ketika pada 6 September 2007 mengucapkan Pidato Pengukuhan Pustakawan Utama dengan judul Hubungan Timbal Balik antara Institusi, Pembelajaran Sepanjang Hayat dengan Pengembangan Karier Pustakawan. Dilantik oleh Bapak Dady Rachmananta MLIS disaksikan oleh Rektor yang dalam hal ini diwakili Sekretaris Utama DR Supra Wimbarti dihadiri segenap anak istri/ keluarga besar, handai taulan, teman pustakawan se Jawa di Ruang Sidang Perpustakaan UGM. . Pengukuhan kedua Pustakawan Utama (Lasa Hs dan Purwono) baru pertama kali dilakukan di perguruan tinggi di Indonesia karena jabatan fungsional mereka dinilai telah setara dengan jabatan guru besar, guru utama, peneliti utama, dokter utama maupun widyaiswara utama. Namun di balik penyamaan ini, yang masih perlu diperjuangkan adalah tunjangan jabatan pustakawan yang belum bisa disetarakan dengan jabatan fungsional lainnya.Termasuk sertifikasi pustakawan.

Penutup

Sebagai penutup perkenankanlah saya menyampaikan testimoni:

“Pustakawan, langkahkan kaki kananmu kedepan dengan pijakan Teknologi Informasi yang berdampak luas terhadap perubahan paradigma kepustakawanan. Sementara itu kaki kirimu bertumpu dengan kokoh diatas pijakan terbitan tercetak (dokumen literer), sebab selama masih ada penulis dan penerbit yang menghasilkan dokumen cetak (literer) dan masih ada orang yang mau membaca maka dokumen cetak (buku, jurnal dsb) tidak akan lenyap”. Daur hidup dokumen elektronik/ digital relative pendek karena sangat tergantung pada perubahan software dan hard ware, sementara dokumen cetak (literer) dapat bertahan sampai ribuan tahun. Namun demikian baik dokumen elektronik/digital maupun cetak (literer) juga tergantung bagaimana pustakawan melakukan konservasi dan preservasi dalam upaya pelestarian dokumen tersebut.”

Perpustakaan wajib membina koleksi baik kualitas maupun kuantitas dalam bentuk cetak maupun elektronik (digital) sebagai upaya mengurangi kesenjangan digital, termasuk merawat keberakasaraan (literasi) pada era digital secara tekstual dan kontektual.

Kepustakawanan memiliki nilai abadi dan tujuan akhir yang abadi pula, oleh karena itu Visi perpustakaan dan pustakawan seyogyanya berada pada konteks perubahan zaman. Kepustakawanan terus-menerus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Fenomena semacam ini mau tidak mau menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi perpustakaan maupun pustakawannya untuk melakukan transformasi di lingkungannya. Pustakawan dalam menjalankan praktek kepustakawanan harus berkemampuan menguasai teknologi informasi yang sedang menjadi trend dunia (global). Maka perlu strategi pengembangan guna menjawab tantangan perubahan keadaan lingkungan guna meningkatkan pemenuhan kebutuhan informasi bagi pengguna yang semakin meningkat dan beragam.

Akhirnya terpulang kepada pustakawan bagaimana mereka berkemampuan menghadapi tantangan perubahan. Bagaimana manajemen berkemampuan mengakomodasi perubahan- perubahan kompetensi profesi pustakawan sebagai pembawa perubahan. Maka perlu strategi pengembangan guna menjawab tantang perubahan kedaan lingkungan. Karena yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri.

Old librarians never die, they just fadeaway, ia tetap berperan penuh selama hayat masih di kandung badan. Yang pension hanya surat keputusannya.

Yogykarta. 1 Mei 2012