Keteladanan Kepemimpinan Kusumawicitra Dari Kerajaan Kadiri – Pengging Berdasarkan Serat Ajipamasa Tahun 1862 M

Pengantar
Dalam Serat Kalatidha yang sangat termasyhur, pada bait 4-7 tembang Sinom, Pujangga Besar R. Ng. Ranggawarsita mengatakan:

4. Dhasar karoban pawarta, bebaratan ujar lamis, pinudya dadya pangarsa, wekasan malah kawuri, yen pinikir sayekti, mundhak apa aneng ngayun, andhedher kaluputan, siniraman banyu lali, lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

5. Ujaring Panitisastra, awewarah asung peling, ing jaman keneng musibat, wong ambeg jatmika kontit, mengkono yen niteni, pedah apa amituhu, pawarta lolawara, mundhak angreranta ati, angurbaya angiket cariteng kuna.

6. Keni kinarya darsana, panglimbang ala lan becik, sayekti akeh kewala, lelakon kang dadi tamsil, masalahing ngaurip, wahananira tinemu, temahan anarima, mupus pepesthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan.

7. Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspadha. (Anjar Any, 1979: 26; Kamajaya, 1985: 35-39).

Petikan bait 4-7 tembang Sinom dalam Serat Kalatidha di atas merupakan reaksi Sang Pujangga R. Ng. Ranggawarsita sewaktu mendengar desas-desus yang manis menyenangkan, yaitu bahwa beliau akan diangkat sebagai pemimpin (Bupati). Kenyataan justru kebalikannya, beliau malah merasa dipinggirkan, dibelakangkan dari lingkungan istana Surakarta oleh raja. Memang hubungan Sang Pujangga dengan Sang Raja, Sunan Paku Buwana IX, sedang tidak begitu baik, meskipun Sang Pujangga sudah berusaha memperbaikinya melalui ciptaannya yang sangat indah, Serat Cemporèt, yang dipersembahkannya kepada Sang raja. Serat Kalatidha dinilai merupakan bentuk ekspresi kekecewaan R. Ng. Ranggawarsita terhadap Sunan Paku Buwana IX serta situasi yang terjadi di Kerajaan Surakarta, karena pada masa itu wilayah Kerajaan Surakarta mengalami situasi jaman gila. Masa itu penuh carut marut, sehingga jika seseorang tidak ikut larut dalam jaman gila itu, dia tidak akan mendapat bagian sehingga akhirnya akan kelaparan. Menghadapi situasi tersebut Pujangga R. Ng. Ranggawarsita yang sudah sangat matang jiwanya itu, bersikap pasrah dan menerima takdir. Beliau tidak lagi menghiraukan berita menyesatkan yang membuatnya semakin sedih dan kecewa, sebaliknya Sang Pujangga bermaksud menggubah cerita kuna, yang dapat dijadikan suri tauladan, pertimbangan baik buruk, karena banyak peristiwa dalam kehidupan yang dapat dijadikan perumpamaan. Menurut saya, cerita kuna yang digubah oleh Pujangga R. Ng. Ranggawarsita tersebut adalah Serat Ajipamasa.

Serat Ajipamasa Gubahan R. Ng. Ranggawarsita (1791 J/ 1862 M)
Serat Ajipamasa adalah salah satu karya agung Pujangga Besar R. Ng. Ranggawarsita setelah Serat Pustakaraja. Dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja, maka Serat Ajipamasa termasuk ke dalam kelompok Serat Maha Parma, bagian Serat Pustakaraja Puwara (Ranggawarsita, 1939: 32-37; Sri Mulyono, 1989: 197-198; Tedjowirawan, 2008: 85). Naskah Serat Ajipamasa koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran (Surakarta) setebal 880 halaman tersebut disusun dalam bentuk puisi Jawa baru, macapat, sejumlah 55 pupuh, yang terdiri atas 3.020 bait. Serat Ajipamasa sangat termasyhur, terbukti dari keberadaan naskahnya dalam koleksi perpustakaan-perpustakaan museum. Naskah Serat Ajipamasa sudah diterbitkan oleh Albert Rusche tahun 1908, 1910, sejumlah 10 jilid dalam cetakan huruf Jawa. Naskah Serat Ajipamasa koleksi Kyai Sadrah Surapranata di Purwareja sudah ditranskripsi oleh Soetomo W.E. dkk (1993). Serat Ajipamasa versi lainnya ditranskripsi oleh Wahono dan Dewi Nurhayati Lela pada tahun 2007.

Di dalam teksnya diterangkan bahwa Serat Ajipamasa digubah oleh Mpu Udaka pada tahun 919 Suryasangkala atau tahun 947 Candrasangkala. Namun apabila mencermati sandiasmanya (nama tersamar yang biasanya terdapat dalam sebuah tembang) yang terletak pada awal suku kata bait 1 pupuh 1 (Dhandhanggula), dapat disimpulkan bahwa Serat Ajipamasa adalah karya Radèn Ngabèi Ranggawarsita. Yang lebih mentakjubkan dari karya ini adalah apabila mencermati sandiasma yang terletak di awal suku kata pada pupuh I (Dhandhanggula) hingga pupuh LV (Dhandhanggula), maka Serat Ajipamasa jelas digubah oleh Rahadyan Hangabèhi Ranggawarsita Nayaka Dalem Wadya Kaliwon Pujangga Guru Basa Krama Saha Juru Pamardi Parama Kawi Ing Nagari Surakarta Hadiningrat. Adapun penggubahannya pada tahun 1791 J atau 1862 M (Janma – trus – kaswarèng – bumi). Penggubahan serat ini atas prakarsa K. G. P. A. A. Mangkunegara IV yang bertahta di Pura Mangkunegaran tahun 1853-1881 M dan dimaksudkan untuk memberikan suri tauladan dengan mengangkat tokoh utama Kusumawicitra atau Sri Ajipamasa, Sri Kiswara, dan Alidrawa.

Teks Serat Ajipamasa berisi cerita legenda tentang Prabu Kusumawicitra, cucu Prabu Jayabaya di Kediri atau Mamenang, yang gemar berkelana mengunjungi rakyatnya di berbagai daerah. Dari pengembaraannya itulah muncul cerita-cerita tentang kebijaksanaan, ia selalu adil dan bijaksana dalam memutuskan persoalan yang terjadi di dalam masyarakat. Karena kesaktian dan kebijaksanaannya inilah dikemudian hari Prabu Kusumawicitra dikenal sebagai Prabu Ajipamasa (Prastiyono, 2008: 306-307). Dalam pengembaraan untuk mengunjungi rakyatnya itulah Prabu Kusumawicitra menerapkan pedoman dan pegangan seorang raja, yakni: Asthabrata; Sama-beda-dana-dhendha; Nistha-madya-utama; Anata-aniti-apariksa-amisesa dan Panca Pratama.

Serat Ajipamasa bersifat epik, romantik, didaktik, kronik, dan didukung unsur-unsur (motif) mite, legenda (etiologis), simbolisme, hagiografi, mimpi, cinta, karma, peruwatan, perebutan kekuasaan, ilham, hukum, perekonomian, filsafat, pola pelestarian lingkungan hidup (lokasamgraha, teologi alam), adat istiadat, sosial kemasyarakatan, strategi perang, kepahlawanan maupun keditektifan (Tedjowirawan, 2001: 184). Adapun penjelasan Pujangga R. Ng. Ranggawarsita mengenai Serat Ajipamasa dinyatakan di dalam Serat Pustakaraja yang berbunyi:

Serat Ajipamasa, wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Kusumawicitra kala taksih angadhaton wonten ing Mamenang, awit pangelunipun ing Tanah Jawi jumeneng ratu binathara, ajujuluk Prabu Ajipamasa, dumugi pangalihing namanipun para wukir-wukir, kadosta ing wukir Kandha, ingalih nama wukir Kendheng, wukir Mahéra, nama wukir Anyar, wukir Jamba, nama wukir Banyak, wukir Parsasata, nama wukir Prawata, wukir Nilandusa, nama wukir Wilis, wukir Mèstri, nama wukir Pendhem, wukir Udarati, nama wukir Arjuna, wukir Antaga, nama wukir Èngèt, wukir Aswata, nama wukir Pandhan, wukir Mahéndra, nama wukir Lawu, wukir Candramuka, nama wukir Marawu, katelah nama wukir Marbabu, wukir Candrageni, nama wukir Marapi, wukir Soddha, nama wukir Sumbing, wukir Saddhara, nama wukir Sundara, wukir Gora, nama wukir Agung, wukir Mambramuka, nama wukir Walaulu, sapanunggilanipun ingkang sami ingalih nama, awit kabekta saking wonten sababipun ing lalampahan, ngantos ing wekasan risakipun kadhaton ing Mamenang, Prabu Ajipamasa jengkar dhateng Pengging. Kaanggit déning Mpu Udaka, panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala: 919, kaétang ing tahun Candrasangkala amarengi: 947.

(Serat Ajipamasa adalah kitab yang menceritakan perjalanan hidup Prabu Kusumawicitra ketika masih berkedudukan di Kerajaan Mamenang, karena (keberhasilannya) menaklukkan seluruh Tanah Jawa (kemudian) menjadi “Raja Binatara” dan bergelar Prabu Ajipamasa, (serta) sampai dengan penggantian nama-nama gunung-gunung. Misalnya: Gunung Kandha diganti nama Gunung Kendheng, Gunung Mahera bernama Gunung Anyar, Gunung Jamba menjadi Gunung Banyak, Gunung Parsasata bernama Gunung Prawata, Gunung Nilandusa, bernama Gunung Wilis, Gunung Mestri bernama Gunung Pendhem, Gunung Udarati bernama Gunung Arjuna, Gunung Antaga bernama Gunung Enget, Gunung Aswata bernama Gunung Pandan, Gunung Mahendra bernama Gunung Lawu, Gunung Candramuka bernama Gunung Marawu disebut Marbabu, Gunung Candrageni bernama Gunung Marapi, Gunung Soddha bernama Gunung Sumbing, Gunung Saddhara bernama Gunung Sundara, Gunung Gora bernama Gunung Agung, Gunung Manbramuka bernama Gunung Walaulu, dan seterusnya yang diganti namanya, karena penggantian nama tersebut ada sebab-sebabnya (peristiwa yang melatarbelakangi), sampai akhirnya rusaknya Kerajaan Mamenang. Prabu Ajipamasa pergi meninggalkan (istana) menuju ke Pengging. Digubah oleh Mpu Udaka, (adapun) penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala: 919, terhitung tahun Candrasangkala bertepatan: 947).

Dari kutipan di atas dapat dikatakan bahwa Serat Ajipamasa menceritakan Prabu Kusumawicitra dari Mamenang, yang karena keberhasilannya menaklukkan seluruh Tanah Jawa kemudian menjadi “Raja Binathara” bergelar Bathara Ajipamasa. Prabu Ajipamasa juga menggubah nama-nama gunung di Tanah Jawa. Akhirnya, Prabu Ajipamasa meninggalkan Mamenang menuju Pengging, karena kerajaan itu rusak, dilanda banjir lahar sebagai akibat perbuatan dari Naga Kunta dan Naga Kunti: kinelem prajeng mamenang, panggawene naga kunta naga kunti (Serat Ajipamasa, LV, 5-6) (Widyaseputra, 2008: 200) .

Yang menjadi persoalan adalah apa yang melatarbelakangi sehingga Pujangga R. Ng. Ranggawarsita menamakan ciptaannya Serat Ajipamasa, bukan Serat Kusumawicitra? Dalam hal ini tampaknya R. Ng. Ranggawarsita ingin mengukuhkan bahwa kedudukan Kusumawicitra lebih tinggi daripada kemunculan tokoh tersebut di dalam teks-teks historiografi Jawa lainnya, karena dalam Serat Ajipamasa tersebut Kusumawicitra kemudian didudukkan sebagai seorang maharaja yang berkuasa atas Tanah Jawa serta membawahi para raja dari manca negara. Apabila ditelusuri lebih jauh maka dapat diajukan sebuah tesis bahwa Pujangga R. Ng. Ranggawarsita secara sengaja mengenang kembali sebagian sejarah kehidupan serta berbagai peristiwa yang pernah dialami oleh para leluhurnya yang berasal dari daerah Pengging, seperti misalnya: (Sri Makurung) Pangeran Handayaningrat, Ki Kebo Kenanga maupun Sultan Hadiwijaya (Mas Karebet), yang dihadirkan kembali secara simbolis dalam rangka memperkaya struktur naratif pari nayaka Kusumawicitra.

Arti kata ajipamasa dapat dijelaskan sebagai berikut. Secara etimologis, kata ajipamasa terdiri atas dua kata, yaitu: aji dan pamasa. Kata aji berarti: ‘puja, regi, ratu, japa mantra, rega’ (Winter, 1988: 39). Batasan pengertian yang diberikan oleh Winter sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh Gericke-Roorda. Mereka mengartikan kata aji sebagai ’de vorst, de leer’ (Gericke-Roorda, 1901: 144). Dengan demikian, arti yang ditunjukkan oleh Winter lebih luas dibandingkan dengan Gericke-Roorda. Sementara itu Pigeaud mengartikan kata aji sebagai ’toverspreuk, vorst’ (Pigeaud, 1938: 2). Poerwadarminta memperhatikan arti yang sejajar dengan Winter, Gericke-Roorda, dan Pigeaud. Ia mengartikan kata aji sebagai ’doa, rega, ratu’ (Poerwadarminta, 1939: 3), sedangkan Prawiroatmojo mengartikan kata aji ialah ’harga, nilai, raja’ (Prawiroatmojo, 1981: 4). Dengan demikian kata aji dapat diformulasikan sebagai berikut: ’raja, ajaran, harga, mantra, dan doa’.

Adapun kata pamasa berarti raja (Winter, 1988: 373). Gericke-Roorda mengartikan sama dengan Winter untuk kata pamasa, yakni raja (Gericke-Roorda, 1901: 324). Pengertian yang sama juga ditunjukkan oleh Pigeaud, yakni ’vorst’ (Pigeaud, 1938). Poerwadarminta menjelaskan bahwa pamasa berarti ratu (Poerwadarminta, 1939: 460), sedangkan pengertian yang diungkapkan oleh Prawiroatmojo adalah raja (Prawiroatmojo, 1981: 48). Dengan demikian pengertian kata pamasa adalah raja.

Berdasarkan pengertian etimologis di atas, maka dapat dikatakan bahwa kata ajipamasa mempunyai arti ’raja di antara para raja’, dan pengertian itu rupanya menunjuk pada Kusumawicitra, Raja Kediri setelah ia oleh para dewa menjadi raja di antara para raja (maharaja) seluruh Tanah Jawa, seperti penjelasan yang terdapat pada pupuh XIII Sinom, bait 7 yang berbunyi sebagai berikut:

7. Yen ing mangkya wus kalilan, madeg prabu nyakrawati, binathareng nungsa Jawa,sabuwana mabawani, bawahaning para ji, sarta sinungan jejuluk, Prabu Ajipamasa, manawa wus ana prapta, brahmanastha kalawan resi kasapta.

(Dari bait di atas dapat diketahui bahwa dewa telah mengijinkan Kusumawicitra menjadi raja di antara para raja (maharaja) dan berkuasa atas Tanah Jawa. Ia akan memakai gelar Prabu Ajipamasa, apabila telah hadir menghadapnya delapan orang brahmana dan tujuh orang resi).

Kemudian datanglah delapan orang brahmana dan tujuh orang resi untuk mentahbiskan Kusumawicitra menjadi Ajipamasa yang berkuasa di Tanah Jawa. Penjelasan itu dapat dijumpai pada pupuh XIII Sinom bait 14 yang berbunyi sebagai berikut:

14. Saking karsaning jawata, mangkya pramodeng Kadiri, kalilan mangka pramuka, dening kananing para ji, batharaningrat Jawi, prabu anyakrawati tuhu, ambawani buwana, sarta asilih wewangi, Maharaja Bathara Ajipamasa.

Dari kutipan di atas dapat diperoleh pengertian bahwa kata ajipamasa mempunyai arti ’raja di antara para raja’ dan arti itu menunjuk pada Kusumawicitra, yang kemudian mempunyai gelar Maharaja Bathara Ajipamasa, setelah ia dinobatkan oleh delapan orang brahmana dan tujuh orang resi.

Kusumawicitra Dalam Historiografi Jawa
Dalam historiografi Jawa, seperti dalam Serat Paramayoga, Serat Pustakaraja, Babad Tanah Jawi, Serat Kandhaning Ringgit Purwa, Serat Purwakandha maupun Sujarah Ngarbiyu lan Tanah Jawi, ditunjukkan adanya garis genealogi raja-raja Jawa. Genealogi raja-raja Jawa tersebut dimulai dari Nabi Adam, para Dewa Hindu, raja-raja pasca Parikesit, raja-raja Majapahit, raja-raja Demak dan Pajang, raja-raja Mataram hingga raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang sering disebut dengan Sajarah Pangiwa lan Panengen (Widyaseputra, 2012: 91-92). Garis genealogi itu dalam tradisi Kapujanggan Surakarta, terutama pujangga istana R. Ng. Ranggawarsita, dibagi menjadi tiga kurun waktu. Pertama, Nabi Adam sampai dengan Parikesit dimasukkan dalam kurun waktu Purwa dan pustakanya disebut Serat Pustakaraja Purwa yang benar-benar dibuat R. Ng. Ranggawarsita. Kedua, raja-raja pasca Parikesit sampai dengan raja-raja Majapahit dimasukkan dalam kurun waktu Madya dan pustakanya disebut Serat Pustakaraja Madya yang disunting oleh orang-orang lain setelah wafatnya R. Ng. Ranggawarsita (Mohamed, 1995: 217; Widyaseputra, 2012: 91). Kedua kurun watu itu direncanakan untuk dilanjutkan penulisannya dengan kurun waktu yang ketiga, yaitu Wasana, yakni raja-raja dari periode akhir sebelum kedatangan Islam dan pustakanya disebut Serat Pustakaraja Wasana (Drewes, 1974: 256; Pigeaud, 1926: 21; Widyaseputra, 2012: 91-92).

Tidak dapat dipungkiri bahwa silsilah memainkan peranan yang sangat penting dalam historiografi Jawa, khususnya historiografi yang berasal dari dalam tradisi besar kraton-kraton Jawa, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman, karena di dalam silsilah itu dijumpai kehadiran nenek moyang (pitamaha) yang berasal dari Sajarah Pangiwa lan Panengen (Widyaseputra, 2008: 211; 2012: 94-95). Di dalam historiografi Jawa, seperti telah dikemukakan di atas, Kusumawicitra hanya dihadirkan secara sepintas, tetapi tetap didudukkan sebagai nenek moyang raja-raja Mataram. Adapun kedudukan Kusumawicitra dalam genealogi (silsilah) nenek moyang raja-raja Mataram yang disusun oleh Brandes diuraikan sebagai berikut:

Dari genealogi susunan Brandes terlihat bahwa Kusumawicitra menduduki posisi ke 26 dan putranya, Citrasoma, menduduki posisi ke 27. Dapat dikatakan bahwa Kusumawicitra adalah keturunan kesembilan dari Arjuna. Hal ini sejalan dengan genealogi Kusumawicitra seperti yang tersurat di dalam Serat Ajipamasa pada pupuh I Dhandhanggula bait 4-5 yang berbunyi sebagai berikut:

4. Ramya arjaning praja Kadhiri, dene wonten kang madeg narendra, sru dibya rengeng rengane, taruna mbeg marta nung, animpuna ring reh praniti, netya semang nung bawa, weweka kawengku, wikan doning danurdara, widagda ring aji jaya wijayanti, tyas paramartama.

5. Kaloka ring buwana wewangi, sang Aprabu Kusumawicitra, trah Arjuna kamulane, saking Sang Abimanyu, apeputra Parikesit, putra Sri Yudayana, puniku sesunu, Sang Aprabu Gandayana, pindhah saking Ngastina jumeneng aji, aneng nagri Mamenang.

6. Den lih nama praja ing Kadhiri, apeputra Prabu Jayabaya, Jayamijaya putrane, lajeng asesunu, Prabu Jayasena nguni, puniku apeputra, nama kang kasebut, Prabu Kusumawicitra, duk samana dennya jumeneng narpati, lagyantara sawarsa.

Dari kutipan tiga bait di atas dapat dikatakan bahwa Kusumawicitra adalah seorang raja yang sangat cemerlang, harum namanya, masyhur, masih muda, jiwanya sangat hidup dan agung, sangat memahami segala macam kebenaran, selalu hati-hati, sangat unggul perilakunya, waspada, mengerti hakikat segala ilmu, matang dalam hal ajaran suci, sungguh-sungguh layak diunggulkan, tiada putus-putusnya memberi maaf. Kusumawicitra termasyhur di dunia bergelar Sang Prabu Kusumawicitra. Keturunan Arjuna asal-mulanya, dari Abimanyu, (ia) berputra Parikesit, (ia) berputra Sri Yudayana, (ia) berputra Sang Prabu Gandayana (Gendrayana), berpindah dari Ngastina lalu bertahta sebagai raja di Negara Mamenang. Diganti nama Kerajaan Kadiri, (ia) berputra Prabu Jayabaya, (ia) berputra Jayamijaya, kemudian (ia) berputra Prabu Jayasena (Jayamisena), (ia) berputra, dengan gelar yang tersohor, Prabu Kusumawicitra, ketika itu ia bertahta sebagai raja, baru kurang lebih satu tahun (Albert Rusche, 1910; Soetomo, dkk., 1993: 1; Widyaseputra, 2008: 199-200). Sebagai keturunan kesembilan Arjuna, karakter yang dimiliki oleh leluhurnya (pitamahanya) itu melekat pula dalam diri Kusumawicitra, sehingga apa yang dimiliki Arjuna seperti yang diuraikan dalam wiracarita Mahabharata, juga dipunyai oleh Kusumawicitra, baik di dalam Serat Ajipamasa maupun di dalam Wayang Madya (Widyaseputra, 2008: 206). Seperti dikemukakan di depan, Prabu Kusumawicitra kemudian berpindah ke Pengging, karena Kerajaan Kediri rusak dilanda banjir lahar yang disebabkan oleh perbuatan Naga Kunta dan Naga Kunti. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kusumawicitra memulai ”suatu generasi baru” bagi raja-raja Pengging dalam visi historiografi Jawa.

Keteladanan Kepemimpinan Kusumawicitra dalam Serat Ajipamasa
Sebelum dikemukakan mengenai keteladanan kepemimpinan Kusumawicitra, maka akan dikemukakan terlebih dahulu sosok raja dan negara ideal menurut visi Pujangga R. Ng. Ranggawarsita. Sosok raja dan negara ideal yang dipilih oleh R. Ng. Ranggawarsita tersebut adalah Prabu Dasarata dari kerajaan Ayodya yang dilukiskannya di dalam Serat Rukmawati (termasuk dalam kelompok Serat Maharata, bagian Serat Pustakaraja Purwa) seperti tampak pada kutipan berikut:

”… gentos kacariyos, nagari ing Ayodya, ing nalika punika ingkang jumeneng nata ajujuluk Prabu Dhasarata, terahipun Ikswaku, ratu limpad ing Serat Wéddha, akaliyan Serat Weddhangga, sidik ing paningal, bijaksana, mandraguna sinekti, kinèdhepan samaning tumuwuh, putus dhateng kawajiban suci. Ratu pinandhita, mèh anyamèni para maharsi, kekah ing adilipun, kawasa amenggak budi hawanipun, saking anggènipun mungkul ing katemenan sarta anetepi agami tigang prakawis.
Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga, prasasat sami akaliyan para déwa. Lulus tata-raharjaning praja. Ing kitha wau titiyangipun sami begja, boten wonten tiyang bodho, boten wonten tiyang kesèd, boten wonten tiyang musakat, boten wonten tiyang awon warninipun. Boten wonten tiyang ingkang drengki, boten wonten tiyang ingkang tanpa aji. Boten wonten tiyang ingkang awon griyanipun, boten wonten tiyang ingkang alit manahipun, boten wonten tiyang celak umuripun. Boten wonten tiyang sakedhik anakipun, boten wonten tiyang murtad, boten wonten tiyang ingkang boten netepi wajibing ngagesang. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni, tani-tani sarta bekti-bekti ing laki, boten wonten tiyang ingkang manganggé lungsed. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinengga ing kancana sosotya nawaretna, sarwi agaganda amrik arum. Kitha wau rineksa ing prajurit éwon, anggigirisi kados latu murub, sarta boten saged kawon perang. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu, ingkang sampun misuwur ing kautamanipun, bijaksana, sami limpad ing kawruh wéddha, putus dhateng wajib pangerèhing praja, boten pegat anggènipun ambudi wewahing kaluhuraning ratunipun.” (Ranggawarsita, 1938: 24; Kamajaya, 1994: 14).

( … kemudian diceritakan, nagari di Ayodya, pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata, keturunan Ikswaku, raja yang (telah) ahli dalam Serat Wéddha dan Serat Wéddhangga, tajam penglihatannya, bijaksana, sangat sakti, disegani oleh sesama makhluk, putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. raja (yang bersifat) pendeta, hampir menyamai para maharsi, kokoh dalam keadilan, kuasa menahan hawa nafsunya, karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam.
Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia, bagaikan sama dengan para dewa. Mumpuni mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia, tidak ada orang yang bodoh, tidak ada orang yang malas, tidak ada orang yang hina, tidak ada orang yang buruk wajahnya. Tidak ada orang yang dengki, tidak ada orang yang tanpa harga diri. Tidak ada orang yang buruk rumahnya, tidak ada orang yang kecil hatinya, tidak ada orang yang pendek umurnya. Tidak ada orang yang sedikit anaknya, tidak ada orang yang murtad, tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya, para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya, tidak ada orang yang berpakaian lusuh. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata, serta berbau harum semerbak. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit, menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8, (mereka) sudah termashur keutamaannya, semua ahli dalam ilmu Wédha, putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara, tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya) (Tedjowirawan, 2011: 12-13).

Demikianlah gambaran salah satu sosok raja (Prabu Dasarata) dan negara ideal (Ayodya) yang secara tidak langsung diinginkan oleh pujangga R. Ng. Ranggawarsita, sebagaimana digambarkan di dalam Serat Rukmawati tersebut. Pada masa pemerintahan puteranya, Bathara Ramawijaya, kemasyhuran kerajaan Ayodya lebih menjulang. Hal ini disebabkan karena Bathara Ramawijaya memiliki pedoman dan pegangan untuk mengemudikan negara, yang terkenal dengan nama Asthabrata.

Kepemimpinan Prabu Kusumawicitra dapat menjadi teladan bagi para pemimpin dan aparatur negara maupun masyarakat luas, karena Prabu Kusumawicitra memiliki pegangan, antara lain: Asthabrata, Sama-beda-dana-dendha, Nistha-madya-utama, Anata-aniti-apariksa-amisésa, ajaran tentang pengabdian, serta Panca Pratama dan Panca Guna. Ajaran-ajaran kepemimpinan tersebut oleh Prabu Kusumawicitra kemudian diajarkan kepada kemenakannya, Prabu Gandakusuma (Raja Bojanegara) dan Prabu Jayasusena (Raja Matahun), sebagai bekal untuk menyelenggarakan tata pemerintahannya. Ajaran Prabu Kusumawicitra kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Asthabrata
Asthabrata adalah ajaran mengenai tata pemerintahan negara yang bersumber pada pola laku delapan dewa, yaitu: Indra, Bayu, Agni, Surya, Yama, Anila, Kuwera, dan Baruna. Dalam perkembangannya kemudian Asthabrata mengikuti delapan sifat anasir alam semesta, yaitu: bumi (tanah), air, api, angin, matahari, bulan, bintang dan awan.

Dalam kesusastraan Jawa, Asthabrata terdapat dalam Kakawin Ramayana sarga III, yang berisi ajaran Rama kepada Bharata tentang pedoman raja yang utama dalam mengemudikan negara. Sarga III Kakawin Ramayana itu telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dan merupakan sebuah persembahan R. M. Ng. Poerbatjaraka pada peringatan penobatan Sri Mangkunegara VII genap tiga windu atau 24 tahun pada tahun 1940 (Darusuprapta, 1964). Tulisan R. M. Ng. Poerbatjaraka itu berjudul “Vertaling van den derden Sarga van het Oud Javaansche Ramayana”, Suplement of het Triwindoe-Gedenkboek Mangkoenegara VII, Surakarta (1940).

Ajaran Asthabrata sangat berpengaruh dan mengilhami sejumlah karya sastra Jawa yang tercipta sesudahnya, misalnya: Serat Nitisruti versi lama maupun baru, Serat Rama, Serat Pustakaraja Purwa, Pakem Pedhalangan Lampahan Makutharama (Putranto, 1997), Babad Sengkala, Partawigena (Pradipta, 1998), dan Serat Ajipamasa (Ranggawarsita, 1924).

Dalam hal ini, Asthabrata bukan lagi monopoli ajaran Prabu Ramawijaya kepada Wibisana. Dalam Serat Pustakaraja Purwa, Asthabrata dipaparkan sebagai ajaran seorang Brahmana kepada seorang anak yang berperan sebagai raja penakluk raja-raja lain, sehingga kemudian diangkat menjadi maharaja. Hal itu merupakan pertanda yang didapat Prabu Cingkaradewa, raja Medhang-kamulan di saat melakukan perjalanan tapa brata (Ranggawarsita, 1910; Budi Putranto, 1997). Dalam Serat Ajipamasa, Asthabrata disampaikan Prabu Kusumawicitra kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena, sedangkan dalam Wahyu Makutharama, Asthabrata disampaikan oleh Begawan Kesawasidhi (Kresna) kepada Arjuna (Ki Siswoharsojo, 1979).

Adapun ajaran Asthabrata di dalam Serat Ajipamasa tersurat di dalam Pupuh XI Girisa bait 1-15 yang intinya adalah sebagai berikut:

1. Pratala ‘bumi/ tanah’
Bumi atau tanah bersifat memberikan dana (harta benda) dan membahagiakan manusia (tansah adedana karem ambebungah janma).
2. Tirta ‘air’
Air bersifat mengasihi, mencintai sesama manusia, suka memberikan maaf (pangapura paramarta), lemah lembut dalam tutur kata dan menyenangkan (basa angénaki krama) serta tidak menyakitkan orang lain.
3. Dahana ‘api’
Api bersifat menumpas segala perbuatan cela dan nista (amisésa ing kalésa), membersihkan kotoran dunia (angrug regeting bawana), menebas segala rintangan (kang arungkut kababadan), dan memberikan penerangan di kegelapan (kang apeteng pinadhangan).
4. Maruta ‘angin’
Angin bersifat sangat teliti dalam pemeriksaan, mampu menembus di dalam perbuatan manusia baik secara kasar maupun halus, dan tidak meninggalkan jejak.
5. Surya ‘matahari’
Matahari bersifat sabar dan tidak tergesa-gesa dalam tindakan (asarèh sabarèng karsa, rèrèh ririh ing pangarah).
6. Candra ‘bulan’
Bulan bersifat rendah hati, sabar, ceria, halus budi, dan menyejukkan dunia (noraga mèt prana, sarèh sumèh ing nétya, alusing budi jatmika, prabawa sreping bawana).
7. Sudama ‘bintang’
Bintang bersifat susila, sentosa, teguh, tegar dalam pendirian (lana susila santosa, pèngkuh tan kéngguh andriya), selalu menepati janji, tidak ragu-ragu dalam keinginan (nora leresing ngubaya, datan lèmèran ing karsa), penuh percaya, tidak mudah menaruh curiga, menepati kata yang diucapkan, dan sering memberikan ajaran (pitayan tan samudana, sètya tuhu ing wacana, asring umasung wasita).
8. Mendhung ‘awan’
Awan bersifat benar dan adil, tidak pandang bulu. Siapa yang berjasa diberi anugerah, sebaliknya yang bersalah mendapatkan hukuman.

Dengan memegang ajaran Asthabrata, maka raja atau pemimpin Negara akan memiliki sifat pemurah, dalam arti ia tidak segan-segan memberikan harta benda miliknya dengan tulus ikhlas untuk membahagiakan rakyatnya (sifat pratala ‘bumi’). Pemimpin negara juga akan memiliki sifat mengasihi dan mencintai rakyatnya dan di dalam bersabda menyenangkan, tidak menyakitkan bagi rakyat yang mendengarnya (sifat tirta ‘air’). Iapun akan memiliki sifat tegas dan keras di dalam menumpas segala kejahatan di dalam negara (sifat api) sehingga ia akan terlihat berwibawa dalam memerintah. Di dalam memeriksa dan mengambil keputusan, raja (pemimpin negara) akan dapat bertindak dengan sangat teliti (sifat maruta ‘angin’), tidak tergesa-gesa, tetapi tepat di dalam tindakan (sifat surya ‘matahari’). Seorang raja atau pemimpin negara juga akan memiliki sifat yang rendah hati, lemah lembut, luhur budi, sabar dan menampilkan keceriaan sehingga rakyat akan merasa tenang, tenteram dan terlindungi (sifat candra ‘bulan’). Di samping itu, raja pun akan memiliki sifat susila, sentosa, teguh, tegar dalam pendirian, selalu menepati janji, penuh percaya (sifat sudama ‘bintang’), tetapi di dalam menerapkan pengadilan bagi rakyatnya tidak pandang bulu, siapa yang bersalah mendapatkan hukuman, sebaliknya, yang berjasa bagi negara menerima anugerah (sifat mendhung ‘awan’).

Ajaran Asthabrata kiranya tidak hanya diperuntukkan bagi raja atau pemimpin negara agar dijadikan pedoman dalam mengendalikan tata pemerintahan, tetapi ajaran tersebut dapat pula diambil oleh manusia biasa untuk meningkatkan diri kualitas batin dan jiwanya (spiritual) dalam usahanya menyempurnakan diri. Manusia yang mampu mencerna dan meresapi inti Asthabrata secara sunguh-sungguh, niscaya ia akan menjadi manusia pendeta yang dalam pikiran, tutur kata dan perbuatannya dapat bersikap arif bijaksana. Pancaran dari dalam dirinya terasa menyejukkan, meneduhkan, menenangkan, serta menggembirakan bagi orang lain di dekatnya. Di dalam keluarga dan kerabatnya, dia akan menciptakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan (Marsono, dkk., 1998).

Asthabrata di dalam Serat Ajipamasa yang telah dikemukakan di atas sebenarnya merupakan penegasan ajaran Asthabrata di dalam Serat Cingkaradéwa (Serat Sri Sadhana). Ajaran Asthabrata tersebut disampaikan oleh seorang Brahmana kepada seorang anak yang berperan sebagai raja Penakluk bagi raja-raja lain, sehingga ia kemudian diangkat sebagai Maharaja. Hal itu merupakan pertanda diterimanya keinginan Prabu Cingkaradewa, raja Medhangkamulan disaat melakukan perjalanan tapa brata (Ranggawarsita, 1939; Putranto, 1997).

Sama-Bedha-Dhana-Dhendha
Ajaran Sama-Bédha-Dhana-Dhendha juga diberikan oleh Prabu Kusumawicitra (Ajipamasa) kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena. Ajaran tersebut tersurat di dalam Serat Ajipamasa pada Pupuh X Pangkur bait 40-50, yang intinya adalah sebagai berikut:
1. Sama ‘sama’
Apabila raja atau pemimpin negara akan memberikan anugerah berupa harta benda kepada rakyatnya, maka raja (pemimpin negara) harus bertindak adil. Tidak boleh pilih kasih antara punggawa satu dengan lainnya, semua harus merata, tetapi apabila raja akan memberikan sesuatu kepada seorang punggawanya tanpa diketahui oleh punggawa lainnya, raja boleh memberikan harta benda tanpa batas banyaknya sebab tidak akan menimbulkan perasaan iri dan dengki di antara punggawa satu dengan yang lainnya.
2. Bédha ‘beda’
Apabila raja akan memberikan pekerjaan kepada punggawanya, terlebih dahulu ia harus mengetahui kepandaian serta kelebihan para punggawanya itu. Punggawa yang memiliki kepandaian yang bersifat kasar atau keras, harus diberi pekerjaan yang sifatnya kasar atau keras. Demikian pula sebaliknya, punggawa yang memiliki kepandaian yang sifatnya halus, harus diberi pekerjaan yang sifatnya halus, sebab apabila raja tidak mengetahui kepandaian dan kelebihan para punggawanya, akibatnya pekerjaan yang diberikan kepada punggawanya tidak dapat dikerjakan dengan baik. Hal ini dapat diibaratkan dengan kapak dan cangkul. Kapak cocok jika dipakai untuk menebang pohon, tetapi tidak cocok kalau dipakai untuk mencangkul tanah. Demikian pula sebaliknya, cangkul lebih cocok untuk mencangkul tanah, tidak untuk menebang pohon, sebab apabila dipaksakan akan merusakkan cangkul karena tidak pada tempatnya.
3. Dhana ‘dana’
Apabila raja (pemimpin negara) akan memberikan anugerah kepada rakyatnya yang berjasa kepada negara atau karena kesungguhannya di dalam melakukan pekerjaan, maka anugerah itu harus bertingkat, artinya, harus diukur dengan dharma baktinya. Apabila ada rakyatnya yang bertengkar, raja berkewajiban menggunakan harta bendanya untuk melerai perselisihan itu. Apabila ada anak yang berkelahi, keduanya hendaknya dihukum, karena hal itu dapat meredakan marah,agar keduanya menjadi rukun kembali.
4. Dhendha ‘denda/hukuman’
Apabila raja mengadili dan menjatuhkan hukuman, harus dapat bertindak adil, tidak ragu-ragu, meskipun terhadap sanak saudaranya sendiri. Dengan demikian kewibawaan raja tidak menjadi pudar dan pada kesempatan lain mereka tidak lagi berani berbuat salah.

Dalam Kesusastraan Jawa Kuna, yaitu di dalam Kakawin Indrawijaya karya Madya Mregiwu, konsep di atas sudah muncul dan digunakan untuk melakukan diplomasi dan strategi perang untuk mengalahkan musuh. Dalam hal ini, saman diartikan ‘negosiasi’, dhana berarti ‘suap’, bhéda adalah ‘memecah belah’, dan dhendha adalah ‘serangan terbuka’ (Kalyanov dalam Mangkusudarmo, 1998). Diplomasi dan strategi perang tersebut digunakan oleh Dewa Indra didalam mengalahkan musuh-musuhnya.

Dewa Indra ketika hendak mengalahkan Trisirah pertama kali menggunakan strategi dhana, yaitu menyuap dengan mengirim para bidadari untuk menggoda Trisirah dengan harapan agar tapanya tergoyahkan. Namun, dengan cara ini ternyata gagal, maka Dewa Indra melakukan cara dhendha, yakni menyerang Trisirah dengan melepaskan bajranya hingga Trisirah terbunuh.

Dalam mengalahkan Wreta pada mulanya Dewa Indra menerapkan cara dhendha, yakni berperang melawan Wreta, tetapi gagal. Kemudian Dewa Indra mengubah strateginya yaitu dengan cara saman, Dewa Indra melakukan negosiasi dengan mengajak Wreta bersahabat. Dari hasil saman ‘negosiasi’ ini Dewa Indra mengetahui kelemahan Wreta. Karena itu, Dewa Indra kemudian menerapkan dhendha, yakni membunuh Wreta.

Adapun dalam menghadapi Nahusa, Dewa Indra menggunakan taktik bhéda, yaitu dengan cara memecah belah Nahusa dengan para resi yang semula menjadi bawahannya. Strategi Dewa Indra berhasil, para resi menjadi marah sehingga mengutuk (dhendha) Nahusa menjadi ular dan lenyap dari surga (Mangkusudarmo, 1998).

Konsep Sama-bédha-dhana-dhendha rupa-rupanya merupakan pengembangan dari konsep Sama-bhéda-ddanndda, yaitu siasat perang yang juga terdapat di dalam Kakawin Arjunawiwaha (abad XI) dan Nitisastra (abad XIV). Konsep strategi perang itu diambil dari Kesastraan India, yaitu kitab Arthasastra ciptaan Kautilya dalam Bahasa Sansekerta yang mengajarkan pengetahuan politik, termasuk politik menghancurkan musuh (Wirjosuparto, 1968). Kitab ini rupa-rupanya menjadi kitab pegangan dalam lapangan ilmu politik yang dikerjakan oleh keluarga raja-raja Gupta yang pernah mempersatukan sebagian besar India.

Dalam ajaran sama-bhéda-ddanndda dirumuskan bahwa setiap kepala negara yang ingin membinasakan lawannya wajib mencari sekutu (sama) di antara negara-negara yang berhubungan baik, sehingga apabila terjadi peperangan, maka negara-negara yang telah terikat oleh sama itu sedikitnya dapat bersikap netral dan bahkan dapat diharapkan bantuannya. Siasat kedua ialah bédha, yang berarti memecah belah (divide et impera), yaitu mengadu domba musuh, dan apabila tujuan itu tercapai baru dilakukan ddanndda, yaitu pukulan terakhir kepada musuh yang sudah lemah itu (Wirjosuparto, 1968).

Ajaran Sama-Bédha-Dhana-Dhendha dalam Serat Ajipamasa di atas dapat dijajarkan dengan konsep ajaran Amakutha dhendha, Akalung taraju, Dhuwung wadung acuriga pacul dan Akalpika gunting yang terdapat di dalam Serat Darmasarana. Ajaran tersebut disampaikan oleh Arpasa (anak kecil penjelmaan Dewa) kepada Prabu Dipayana (Parikesit) untuk mengingatkan Baginda agar lebih tahu dan memperhatikan berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah kerajaan Ngastina.

Nistha-Madya-Utama
Nistha-madya-utama ‘nistha, sedang (tengahan), utama’ juga merupakan ajaran yang diberikan oleh Prabu Kusumawicitra (Prabu Ajipamasa) kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena. Sebenarnya, di dalam Serat Ajipamasa juga dijumpai ajaran mengenai nistha-madya-utama yang disampaikan oleh Ajar Sarabasata kepada putranya Sang Sasana sebagai bekal untuk mengabdi. Di dalam Serat Ajipamasa, ajaran nistha-madya- utama yang disampaikan oleh Prabu Kusumawicitra kepada kedua raja muda itu tersurat pada Pupuh XI Girisa bait 16 sampai Pupuh XIII Sinom bait 5 yang isinya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Nistha ‘nista’
Disebut nistha ‘nista’ jika seandainya raja (pemimpin negara) mempunyai sifat mélikan ‘ingin memiliki’ terhadap harta benda milik rakyat atau para penggawa (punggawa). Hal inilah yang harus dihindari raja meskipun raja bersedia membeli dengan menaikkan harga barang tersebut. Seandainya rakyat atau pemiliknya kurang senang, hendaknya niat itu diurungkan, sebab hal itu dapat menumbuhkan sikap ketidakpercayaan rakyat kepadanya. Akan tetapi, bila raja benar-benar menginginkan benda tersebut, ia bisa menanyakan kepada pemiliknya dengan kata-kata yang lemah lembut. Dari mana benda itu diperoleh atau di mana barang itu dibelinya, masihkah benda serupa itu? Rakyat atau pemilik benda yang mampu menangkap pertanyaan raja, niscaya ia akan memberikan benda itu dengan rasa ikhlas dalam hati, tidak ada rasa terpaksa. Seandainya benda itu telah diberikan kepada raja, maka raja berkewajiban memberikan barang berharga lain sebagai imbalan yang pantas. Syukur pemberian raja melebihi nilai benda tersebut. Apabila raja tidak mau melakukan hal itu, ia dapat dipandang mempergunakan kekuasaannya untuk menekan rakyatnya. Demikianlah raja yang berbuat nista.

2. Madya ‘tengahan/ sedang’
Disebut madya ‘tengahan, sedang’, seandainya raja memiliki sifat pemurah. Apabila ada rakyatnya yang kekurangan dan datang meminta dana kepada raja, raja berkewajiban memberikan dana secukupnya sesuai kebutuhan rakyat tersebut. Apabila dana yang diberikan sudah cukup banyak, menjadi kewajibannya untuk menghentikan pengeluaran dana tersebut. Boleh saja raja menolak permintaan itu. Akan tetapi apabila ada seorang yang menghadap dan mempersembahkan barang berharga kepada raja, raja pun berkewajiban memberikan imbalan barang berharga lainnya yang dipandang pantas sebagai pengganti. Di samping itu, hendaknya raja mempunyai sifat gemar memberikan ganjaran kepada rakyat atau penggawa yang berhasil dalam menjalankan tugas kewajibannya dengan baik. Akan tetapi, raja pun, berkewajiban pula menjatuhkan hukuman bagi mereka yang bersalah dan melanggar tata aturan pemerintahan negara. Dalam memutuskan hukuman harus dipertimbangkan bahwa hukuman yang diberikan setimpal dan sebanding dengan kesalahan yang diperbuat rakyat.

3. Utama ‘utama’
Perbuatan utama ‘utama’, maksudnya seandainya raja memiliki sifat bèrbudi bawa leksana. Bèrbudi berarti memiliki perasaan tulus ikhlas dalam hati dan pikiran, gemar memberikan dana atau ganjaran setiap hari. Bawa leksana berarti menetapi dan menepati janji yang pernah ia ucapkan. Apa saja yang sudah diucapkan dilakukan dengan segera (Ranggawarsita, pupuh IX Girisa, bait 24-25).
Seandainya raja memiliki sifat bèrbudi bawa leksana itu, niscaya hati dan pikirannya akan suci, bersih, sentosa, teguh, tegar dalam pendirian, mampu mengatur, mengendalikan, dan menguasai negara yang ia perintah. raja akan senantiasa tabah, tidak mudah goyah dalam pendirian. Ia tidak mudah percaya dan termakan laporan palsu dari rakyatnya sehingga raja mampu menangkap perbuatan putih yang dikatakan hitam ataupun sebaliknya. Meskipun ada tantangan yang timbul dari kiri dan kanan, tetapi raja akan mampu mengambil jalan tengah dengan penuh kebijakan. Dalam memeriksa perkara, ia akan bisa melihat dengan jelas, cermat serta hati-hati sehingga tidak merugikan salah satu pihak.
Demikian pula sikap raja yang utama hendaknya rendah hati, pandai menyimpan kepandaiannya, serta lemah lembut dalam tutur kata. Apabila datang padanya seorang yang pandai, raja perlu bersikap pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya raja lebih mengetahui apa yang dibentangkan orang tersebut. Sikap pura-pura hendaknya dilakukan raja dalam mencari dan menambah pengetahuan. Semua itu demi kepentingan negara.
Seorang raja hendaknya mempunyai sifat ambeg paramarta, artinya sifat sabar, berbelas kasih, serta pengampun kepada mereka yang pernah bersalah kepadanya, selain akan bisa menempatkan diri dan menghargai kepada sesama manusia.

Ada empat hal yang hendaknya dilakukan raja dalam mengatur tata pemerintahan negara, yakni sebagai berikut:
a. Anata ‘mengatur’, maksudnya, hendaknya raja mampu mengatur tata pemerintahan negara dengan baik. Negara harus selalu dalam keadaan aman dan damai, jauh dari kerusuhan.
b. Aniti ‘meneliti’, maksudnya, hendaknya raja meneliti para penggawanya itu secara rahasia atau di dalam hati saja. Semua laporan yang baik harus diterima tanpa pilih kasih.
c. Apariksa ‘memeriksa’, maksudnya memeriksa isi negara. Seandainya ada rakyat yang bersedih, hendaknya dihibur sekedarnya. Jika ada yang sakit, hendaknya diobati. Jika ada yang hina, hendaknya diangkat dari kehinaan itu. Apabila ada yang miskin hendaknya diberi dana. Apabila ada yang nista hendaknya dimuliakan. Ada peribahasa yang mengatakan bahwa bagi yang sengsara diberi makanan, yang telanjang diberi baju, yang bingung diberi petunjuk jalan yang benar, yang timpang diberi tongkat, dan yang kepanasan diberi payung.
d. Amisésa ‘mengadili’, hendaknya raja memberantas segala cela di kerajaannya. Pencuri, durjana, pembunuh, dursila, ataupun durlaksana, semua ditumpasnya tanpa sisa.

Bagi seorang raja yang memerintah dan berkuasa (amurba amisésa) yang dapat dijadikan sarana (pegangan) didalam menguasai negara hanya ada satu jalan yang benar dan baik (marga bener becik) tetapi tidak boleh lengah (tan kena wewèka) pandangannya harus awas/ waspada dan ingat maksud hatinya (éling pangèsthining tyas) agar tidak tersangkut/ tersesat di persimpangan jalan (simpanganing ngenu) yang akan menuntun pada kerusakan, sehingga pada akhirnya jangan jatuh pada kenistaan. Akibatnya menjadi sia-sia, menyiksa dirinya sendiri. Jatuhlah nama baik/ kewibawaan raja (tiwas jenenging naréndra).

Nistha-madya-utama seperti dikemukakan di atas, semua ada penyebabnya. Nistha itu tidak lain diakibatkan oleh sifat serakah dan nafsu ingin memiliki (murka mélikan). Madya bermula dari sifat yang pandai mengira-ira dan mempertimbangkan dengan baik (wignyèng pamatara, duduga lawan prayoga). Adapun sifat utama bermula dari kesentosaan budi (santosa budiné). Cerita yang dapat menjadi tauladan ditiru keutamaannya (carita kang dadi tepa, tinulad kotamanya) tujuannya agar jangan sampai jatuh ke nista (aywa kongsi tibèng nistha) sebab perbuatan nista menjadi bunga kerusakan (karana panggawé nisthip, dadi kekembanging rusak), sedangkan perbuatan madya pada akhirnya menjadi bunga keutamaan (madya wekasané dadi mbanging utama). Adapun yang utama akhirnya menjadi bunganya keluhuran (kemuliaan).

Adapun nistha-madya-utama bagi abdi negara disampaikan oleh Ajar Sarabasata kepada puteranya Sang Sasana, dan di dalam Serat Ajipamasa, tersurat pada Pupuh XIII Sinom bait 39 hingga Pupuh XIV Gambuh bait 33, yang intinya bahwa yang menyebabkan calon abdi negara berbuat nistha ada tujuh, yaitu: 1. Mangro sirah ‘plin-plan’, 2. Bandha sumitra ‘harta benda orang lain’, 3. Asarana paturan ‘dengan jalan mengadukan (kejelekan orang lain)’, 4. Makolèhken awak ‘mementingkan diri pribadi’, 5. Sakuthu batin ‘di dalam batin (pikirannya) merasa mendapat kepercayaan raja (pemimpin negara), 6. Datan anetepi ‘tidak menepati’ dan 7. Irèn mèrèn ‘iri dengki’.

Adapun penyebab perbuatan madya ‘sedang/tengahan’ juga ada tujuh, yaitu: 1. Taberi ‘rajin’, 2. Anggugu mituhu ‘mengindahkan dan menurut’, 3. Bisa tumanduk ‘dapat memahami/tanggap’, 4. Tumindak ‘melaksanakan’, 5. Narimèng pandum ‘menerima nasib/apa adanya, 6. Wedi papacuh ‘takut larangan’, dan 7. Bisa angon ing wahyaning mangsa kala ‘dapat menyesuaikan situasi dan kondisi’.

Demikian pula seorang abdi negara yang utama pun bermula dari tujuh sikap, yaitu: 1. Temen ‘kesungguhan’, 2. Gemi ‘hemat’, 3. Nastiti ‘teliti’, 4. Ngati-ati ‘berhati-hati’, 5. Angawruhi ‘mengetahui’, 6. Santosèng kalbu ‘kesentosaan hati’, dan 7. Mantep ‘mantap’.

Meskipun demikian, ia tak boleh memastikan akan mendapatkan keutamaan dari raja. Semua itu haruslah secara bertahap. Ada suatu pantangan bagi seseorang yang mengabdi kepada raja, yaitu seorang Abdi raja yang masih baru itu janganlah merasa sama atau setara dengan seorang Abdi yang telah lama mengabdi. Seorang Abdi yang telah lama mengabdi pun janganlah sekali-kali merasa setara/ setingkat dengan seorang Abdi yang dekat dengan raja. Namun, seorang Abdi yang dekat dengan raja pun janganlah merasa setara dengan sanak keluarga raja (bangsawan). Sanak keluarga raja pun janganlah berlebihan dengan bersikap setara dengan putra raja, sebab hal itu dapat dipersalahkan sehingga dapat menghambat kemuliaannya. Bagi seorang raja yang menjadi sanak keluarganya hanyalah ucapan dan perbuatan yang baik dan benar.

Ajaran Nistha-madya-utama di dalam Serat Ajipamasa di atas merupakan penegasan ajaran serupa yang disampaikan oleh Resi Manumanasa kepada putranya Bambang Srihati ketika akan pergi mengabdi ke kerajaan Wiratha.

Ajaran tentang Pengabdian
Ajaran pengabdian ini disampaikan oleh Ajar Sarabasata kepada Sang Sasana dan dalam Serat Ajipamasa tersurat pada Pupuh XIII Sinom bait 25-38 yang intinya bahwa di dalam mengabdi hendaknya mempunyai bekal yaitu (1) Guna ‘kepandaian’, (2) Sarana ‘harta benda’, (3) Sakti ‘kesaktian’, (4) Wani pakéwuh ‘berani menghadapi bahaya’, dan (5) Nurutan ‘penurut/ loyal’ yang maknanya sebagai berikut:

1. Guna ‘kepandaian’
Seandainya ia pandai dan kepandaiannya itu dibutuhkan raja, hendaknya jangan sekali-kali bersikap berlebihan (aywa kaduk adiguna) karena hal itu akan mendorong dan menjebaknya untuk bersikap sembrana ‘lalai/ lengah’ dan berjual diri. Akibatnya akan memperoleh ciri dan cela serta kepandaiannya tidak berguna (sayekti antuk ciri, tinitèn tanpa guna). Bersikaplah rendah hati dan mampu menerapkan kepandaiannya itu dengan baik dan tepat (utamané ngaguna, anoragèng ganal alit, dadi bisa ingaguna amiguna). Meskipun ia telah mengetahui lebih bijaksanalah seandainya bersikap pura-pura tidak mengerti, berharaplah memperoleh pelajaran baru dari orang lain sebab barangkali berlainan (nadyan silih wus abisa, api-apiya tan bangkit, angarah awuruk ing liyan bokmanawa séjé wardi). Dengan demikian ia akan mendapatkan sebutan sujana paramarta yaitu cendekiawan yang berbudi mulia dan kepandaiannya bermanfaat.

2. Sarana ‘harta benda’
Seandainya ia mempunyai harta benda atau emas permata yang indah dan raja bermaksud menginginkannya, hendaknya ia memberikannya dengan hati yang tulus ikhlas, dalam arti, janganlah sekali-kali merasa bahwa dirinya meminjamkan semuanya itu kepada raja dan berharap memperoleh imbalan. Ada sesuatu kiranya yang perlu dimohon, yakni berkah raja yang mungkin dapat menjadi penyebab pengganti emas permata tersebut secara berlipat ganda. Hal itu dapat diibaratkan pohon tarulata pada musim keempat jika tangkai daunnya dipatahkan niscaya akan bertunas bersemi subur kembali (umpama tarulata ing mangsa kapat marengi anglulur mung pinunggel saya ngrembaka).

3. Sakti ‘kesaktian’
Seandainya ia diadu dalam suatu arena pertandingan kesaktian dan ia tengah dalam lindungan dewa sehingga akan selalu memperoleh kemenangan, kesaktiannya itu hendaknya dipergunakan demi kesejahteraan negara. Jauhkan sifat sombong, takabur, dan suka menunjukkan kesaktian karena hal itu hanya akan menimbulkan kesusahan dan kesulitan diri sendiri.

4. Wani ‘berani’
Seandainya keberaniannya oleh raja, janganlah berlebihan menyombongkan diri dengan menunjukkan keberanian dan kesaktiannya, merasa dirinya tidak ada tandingannya. Hindarilah sikap seperti itu karena orang yang demikian itu akan menjadi catatan (buruk) bagi raja.

5. Nurutan ‘menurut/ loyal’
Seandainya ia diutus raja, jangan sekali-kali merasa segan dan berat hati (aywa angrasa nggresula sayah mesakena kaki), sebaliknya jangan ditolak, segala perintah hendaknya dikerjakan dengan rajin (bareng paréntah tinurut, myang sagunging pakaryan, linakonan lan taberi). Sebenarnya pekerjaan yang dibebankan kepadanya merupakan kepercayaan raja. Dengan demikian, sudah sepantasnya ia merasa bersyukur dan menjalankan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dengan senang hati.

Perpaduan kelima hal, yaitu kepandaian, harta benda, kesaktian, keberanian dan menurut/ loyal disesuaikan dengan kehendak raja. Namun, harus dilandasi dengan ingat dan waspada. Ingat akan kebaikan dan keburukan, waspada akan kebenaran dan kesalahan (kanthi awas lan éling, liré awas bener lan luput, éling becik lan ala). Apa yang diucapkan haruslah mencerminkan perbuatan. Tahu menempatkan diri, duduk dalam tempat yang sesuai disertai sikap wajar terhadap sesama manusia; bersikap hati-hati, mampu menjaga rahasia yang dipercayakan kepadanya. Dengan demikian, ia akan menjadi kuat, karena kekuatan bermula dari menjaga dan menyimpan rahasia atau kesalahan sesama teman.
Ajaran tentang Pengabdian di dalam Serat Ajipamasa di atas ini pun merupakan penegasan ajaran yang disampaikan oleh Resi Manumanasa kepada putranya Bambang Srihati ketika akan pergi mengabdi ke kerajaan Wiratha.

Panca Pratama (Lima Keutamaan)
Di dalam Serat Wiraradya II Pupuh XVIII Megatruh bait 16-46, ajaran Panca Pratama tersebut diberikan atau disampaikan oleh Bagawan Ajipamasa kepada putranya Prabu Citrasoma, raja Pengging Witaradya. Adapun ajaran Panca Pratama tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Mulat. Maksudnya mengawasi semua pekerjaan prajurit (penggawa). Seperti misalnya: bagi penggawa yang senang pada pekerjaan yang sifatnya halus jangan diberi pekerjaan yang sifatnya kasar. Sebaliknya penggawa yang senang pada pekerjaan yang sifatnya kasar, jangan diberi pekerjaan yang sifatnya lembut/ halus. Dengan demikian, tidak akan tumpang tindih didalam memberikan tugas/ pekerjaan. Di samping itu raja hendaknya mengetahui semua perilaku penggawanya baik yang buruk maupun yang baik. Bagi penggawa yang berperilaku buruk, janganlah dipercaya (mengelola pekerjaan yang penting). Sebaliknya penggawa yang baik lebih baik dijadikan pembantu didalam menyelenggarakan tata pemerintahan negara.
2. Milala. Maksudnya, seorang raja (pemimpin negara) itu hendaknya senang memberikan anugerah, menaikkan pangkat bagi penggawa (bala tentara) yang memang berjasa karena pekerjaannya.
3. Miluta. Maksudnya, mendekatkan diri seperti misalnya seorang raja didalam berbicara dapat menyenangkan hati penggawanya. Hal ini dimaksudkannya agar supaya penggawa tersebut tetap menyembah kepada Sang raja.
4. Malidarma. Maksudnya, seorang raja hendaknya mengajarkan perilaku yang baik pada para penggawanya, sehingga mereka mengetahui kewajibannya sendiri-sendiri, serta hendaknya senang berbuat kebaikan terhadap daerahnya sendiri-sendiri, karena hal itu dapat menuntun pada kesejahteraan negara.
5. Palimarma. Maksudnya, seorang raja hendaknya memiliki sifat pemaaf sehingga menjadi kesentosaan/ kekuatan kerajaan (Karyarujita, 1981: 461-462; Tedjowirawan, 2006: 128).

Ajaran Panca Pratama di atas yang disampaikan Bagawan Ajipamasa kepada Prabu Citrasoma di atas sebenarnya merupakan penegasan kembali ajaran serupa yang disampaikan oleh Prabu Dipayana (Parikesit) di kerjaan Ngastina kepada putranya Prabu Yudayana ketika beliau akan muksa.

Panca Guna
Di dalam Serat Wiraradya II Pupuh XVIII Megatruh bait 16-46, dipaparkan ajaran Panca Guna. Seperti halnya ajaran Panca Pratama, ajaran tersebut juga disampaikan oleh Bagawan Ajipamasa kepada Patih Sukarta. Adapun ajaran Panca Guna tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Rumeksa ‘Menjaga’
Maksudnya, didalam menjaga negara janganlah bimbang, tetapi hendaknya seperti menjaga kepunyaan sendiri. Apabila ada marabahaya yang mengancam di wilayah kekuasaannya, hendaknya tidak menunggu perintah raja. Sebaliknya ia berkewajiban melaporkan hal itu kepada raja serta memberikan saran-saran. Jika sudah demikian ia harus segera melaksanakan, jangan sampai pekerjaan tersebut tidak selesai.

2. Rumati (Rumanti) ‘Siap’
Maksudnya, setiap hari harus selalu siap, hal itu berjaga-jaga namanya apabila sewaktu-waktu ada pekerjaan tidak memulai dari awal lagi, sehingga pekerjaan dapat dikerjakan seketika. Di samping itu hendaknya semua mengasah pikiran (budi), artinya dapat menerapkan tiga hal. Ketiga hal ini seperti misalnya ilat ‘lidah’, ulat ‘roman muka’ dan ulah ‘kelakuan’ yang dapat dijadikan pegangan kehidupan terutama bagi seseorang yang mengabdi kepada raja. Adapun maksud dari ketiganya adalah:
• Ilat, adalah apa yang diucapkannya hendaknya dapat menyenangkan orang lain serta mengetahui benar akan maksudnya. Dengan demikian, akan menjadikan kebaikan di dalam pengabdiannya.
• Ulat, adalah dapat menyesuaikan situasi dan kondisi. Didalam pasamuan (pertemuan) hendaknya dapat mengetahui semua kejadian-kejadian di dalam pasamuan tersebut. Dengan demikian akan mendatangkan keberuntungan didalam pengabdiannya.
• Ulah, adalah segala perilaku/ kelakuan hendaknya dapat rendah hati dan dapat menyenangkan, sehingga dapat menjadikan kesentosaan/ kekuatan di dalam pengabdiannya. Itulah yang dimaksud dengan guna (kepandaian).
Apabila ketiga hal tersebut tidak dilakukan niscaya dapat berpengaruh didalam pengabdiannya, yang akhirnya pengabdiannya tidak membawa hasil.

3. Rumasuk ‘Merasuk’
Maksudnya, didalam menjaga negara (kerajaan) dapat seiya sekata, jangan ada yang tidak sekata dan sehati. Ketahuilah bahwa rusaknya sebuah negara dimulai dari para penggawa yang tidak saling menjaga. Akhirnya tidak baik didapatkannya. Sebab adanya negara yang sejahtera itu dimulai dari kebaikan para penggawanya (prajuritnya). Apabila para penggawa seiya sekata serta tidak ada yang berbeda (tindakannya) niscaya seluruh isi wilayahnya (akan) terjaga dengan baik.

4. Rumesep ‘Meresap’
Maksudnya, hendaknya berbakti kepada raja dan dapat menjaga para Panekar (Kebayan, Polisi merangkap Kepala Kampung), sebaliknya bagi para Panekar juga berbakti pada Lurahnya. Keduanya hendaknya saling menyenangkan dan akrab/ dekat (resep-rumaket) seperti kilauan permata yang melebihi kilauan sinarnya. Di samping itu kedekatan seorang penggawa hendaknya seperti mengasuh kepada seorang anaknya. Jika demikian, niscaya tidak ada kesulitannya sehingga selamat didalam pengabdiannya.

5. Rumasa ‘Merasa’
Maksudnya, seorang penggawa hendaknya merasa bahwa dia adalah hamba seorang raja, karenanya tidak boleh memiliki pikiran untuk menandingi kewibawaan rajanya agar ia tidak bersifat seperti raksasa. Bila seorang penggawa memiliki pikiran seperti itu maka akan menyebabkan huru-hara di kerajaan dan menimbulkan kekacauan di dalam negara. Orang yang tidak mau merendahkan diri sementara akhirnya akan menimbulkan kerusuhan, karena (mereka) saling memperlihatkan kewibawaannya sendiri-sendiri. Oleh sebab itu para penggawa hendaknya mengingat akan sikap rendah dan luhur (berkedudukan tinggi). Yang luhur hendaknya mengetahui pada bawahannya. Pikiran dan sikapnya hendaknya seperti melindungi keluarganya. Sebaliknya, yang rendah (kedudukannya) hendaknya berbakti kepada atasannya. Sikap dan pikirannya seperti berlindung kepada orangtuanya sendiri. Apabila hal itu dilakukan niscaya akan menjadikan keselamatan didalam meraih cita-citanya (Karyarujita, 1981: 462-464).

Ajaran Panca Guna yang disampaikan Bagawan Ajipamasa seperti dikemukakan di atas sebenarnya merupakan penegasan kembali ajaran Panca Guna di dalam Serat Darmasarana. Adapun ajaran tersebut disampaikan oleh Prabu Dipayana (Parikesit) kepada Patih Dwara, Patih Danurwendha dan penggawanya ketika beliau akan muksa.

Sêrat Ajipamasa merupakan penggalan dari Sêrat Pustakaraja yang kemudian dipaparkan dengan lebih teliti dan rinci. Penggubahan Sêrat Ajipamasa diprakarsai oleh Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IV yang bertahta sebagai penguasa di Pura Mangkunegaran pada tahun 1854-1881 M (Widyaseputra, 2008: 205; Prastiyono, 2008: 306-307). Penggubahan Sêrat Ajipamasa ini dimaksudkan untuk memberi suri tauladan. Adapun tokoh yang dijadikan karakter sentralnya adalah Kusumawicitra yang juga bernama Ajipamasa (Widyaseputra, 2008: 204-205).

Sosok-sosok raja ideal Prabu Dasarata (dalam Sêrat Rukmawati), Arya Prabu Bambang Sudarsana atau Prabu Yudayaka (dalam Sêrat Prabu Gendrayana dan Sêrat Budhayana), Prabu Jayapurusa atau Prabu Jayabaya (dalam Sêrat Lampahan Jayapurusa maupun Sêrat Purusangkara) serta Prabu Kusumawicitra (dalam Sêrat Ajipamasa dan Sêrat Witaradya) pantas dijadikan suri tauladan bagi pemimpin negara dan aparatur negara. Demikian pula ajaran-ajaran Asthabrata; Sama-béda-dana-dhêndha; Nistha-madya-utama; Anata-aniti-apariksa-amisésa; Panca Pratama; Panca Guna maupun ajaran tentang Pengabdian yang tersurat di dalam Sêrat Rukmawati, Sêrat Cingkaradéwa (Sêrat Sri Sadana), Sêrat Citrakaprawa, Sêrat Darmasarana, Sêrat Prabu Gendrayana, Sêrat Budhayana, Sêrat Ajipamasa, maupun Sêrat Witaradya yang terkristalisasikan di dalam Sêrat Paramayoga: Sêrat Kalêmpaking Piwulang dapat dijadikan sumber pembentukan karakter bagi para pemimpin negara dan aparatur negara. Bahkan di dalam Sêrat Paramayoga: Sêrat Kalêmpaking Piwulang sudah ditegaskan bahwa kitab ini dapat dijadikan sumber pembentuk watak budi luhur bagi para Pemimpin, baik politik maupun nonpolitik bagi para pemuda-pemudi yang mau dan ingin meresapinya (Karyarujita, 1981).

Para pemimpin negara dan aparatur negara yang mampu menguasai ajaran-ajaran yang adiluhung di atas sungguh diperlukan bagi negara Indonesia yang besar ini. Para Pemimpin seperti itu sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan bangsa Indonesia yang tengah terpuruk dan mengalami krisis di berbagai bidang, seperti misalnya krisis kepercayaan kepada kepemimpinan nasional, krisis hukum dan keadilan, krisis moralitas spiritual dan krisis sosial-ekonomi. Para pemimpin negara dan aparatur negara seperti itu dapat diharapkan mensejahterakan rakyat Indonesia minimal seperti kesejahteraan rakyat kerajaan Ayodya para masa pemerintahan Prabu Dasarata seperti yang digambarkan pujangga R. Ng. Ranggawarsita di dalam Sêrat Rukmawati.

Simpulan
Sêrat Pustakaraja adalah puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita dari Keraton Surakarta pada abad XIX Masehi. Dikatakan “Pustakaraja” karena menjadi kitab pedoman bagi seorang raja, atau pun dapat diartikan “rajanya Kitab”, karena menjadi kitab yang terkemuka serta menjadi induk segala kitab cerita Jawa. Sêrat Paramayoga dan Sêrat Pustakaraja adalah sumber kearifan dalam segala sisi kehidupan manusia, yang dituangkan dalam bentuk petuah-petuah, ajaran-ajaran yang adiluhung untuk para pemimpin negara, aparatur negara maupun kepada masyarakat luas.

Ajaran-ajaran di dalam Sêrat Paramayoga dan Sêrat Pustakaraja sejumlah 341 item telah dikumpulkan oleh R. Ng. Karyarujita dan kemudian ditulis oleh Ranasubaya (pada Rabu Kliwon, 10 Syawal tahun Wawu 1841 J) dengan judul Kumpulan Wulang-wulang dalam Sêrat Paramayoga dan Sêrat Pustakaraja atau Sêrat Paramayoga: Sêrat Kalêmpaking Piwulang. Akan tetapi di dalam kitab tersebut tidak ditunjukkan secara jelas dari mana 341 ajaran tersebut diambil dari sêrat-sêrat yang masuk di dalam bagian Sêrat Pustakaraja. Setelah ditelusuri ke 341 ajaran, petuah-petuah di dalam Sêrat Paramayoga: Sêrat Kalêmpaking Piwulang tersebut diambil dari Sêrat Purwapada (dalam kelompok Sêrat Maha Parwa, bagian Sêrat Pustakaraja Purwa) sampai dengan Sêrat Witaradya II (dalam kelompok Sêrat Maharaka, bagian Sêrat Pustakaraja Puwara). Dengan demikian ajaran-ajaran di dalam Sêrat Purwanyana sampai dengan Sêrat Mahapara belum diinventarisasikan oleh R. Ng. Karyarujita di dalam Sêrat Paramayoga: Sêrat Kalêmpaking Piwulang tersebut.

Adapun ajaran-ajaran di dalam Sêrat Ajipamasa dan Sêrat Witaradya yang berkaitan dengan pembentukan karakter bagi pemimpin negara dan aparatur negara, antara lain adalah: Asthabrata, Sama-béda-dana-dhêndha, Nistha-madya-utama, Anata-aniti-apariksa-amisésa, Panca Pratama, Panca Guna maupun ajaran tentang pengabdian. Ajaran-ajaran tersebut setelah ditelusuri serta dilacak jejaknya ternyata terdapat di dalam sêrat-sêrat bagian Sêrat Pustakaraja, seperti misalnya: Sêrat Rukmawati, Sêrat Cingkaradéwa (Sêrat Sri Sadana), Sêrat Cita Kaprawa, Sêrat Darmasarana, dan Sêrat Prabu Gêndrayana.

Sudah barang tentu masih terdapat banyak ajaran, petuah-petuah baik yang tersurat maupun yang tersirat, yang berkaitan dengan pembentukan karakter pemimpin negara dan abdi negara yang belum dikemukakan pula di dalam buku susunan R. Ng. Karyarujita tersebut, mengingat cakupan ilmu pengetahuan di dalam Sêrat Pustakaraja sungguh sangat luas.

Saran
Penelitian dan pengkajian terhadap Sêrat Ajipamasa dan Sêrat Witaradya, khususnya, serta Sêrat Pustakaraja, pada umumnya, perlu terus dilakukan mengingat terdapat kekosongan di dalam penelitian ini. Sangat disayangkan bahwa para peneliti sastra Jawa jarang yang bersedia merambah wilayah ini. Memang sangat berat karena Sêrat Pustakaraja cukup tebal dan bagian-bagian teksnya banyak yang masih berupa naskah. Karena itu pentransliterasian dan penerjemahan terhadap karya ini perlu pula dilakukan agar kandungan isinya yang sangat luas tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Apalagi pada akhir-akhir ini perhatian pemerintah maupun Lembaga-lembaga pendidikan tinggi Indonesia terhadap kearifan lokal (local wishdom) sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA
Any, Andjar. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya Ranggawarsita & Sabdapalon. Semarang: Aneka.

_______. 1980. Raden Ngabehi Ranggawarsita Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka.

Bale Pustaka. 1939. Babad Tanah Jawi Jilid I. Betawi Sentrem, Bale Pustaka.

Behrend, T.E., dkk. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid I Museum. Sonobudaya Yogyakarta. Jakarta: Djambatan.

Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bharata.

Darusuprapta. 1981. ”Ranggawarsita” dalam Badrawada Tahun I Nomor 6. Yogyakarta: KMSN Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

Gericke, J.F.C. en T. Roorda. 1901. Javaansch – Nederlandsche Hanwoordenboek, 2 Jilid. Leiden, Johannes Muller, E.J. Brill.

Hadisuparto, Soepardi (Pengalih Huruf). 2007. Serat Prabu Gendrayana II (46 B). Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Juynboll. 1923. Oudjavaansch-Nederlandsch-Woordenlijst. Leiden: E.J. Brill.

Kamadjaja. 1985. Lima Karya Pujangga Ranggawarsita. Jakarta: Balai Pustaka.

Karyarujita, R.Ng. 1981. Serat Paramayoga: Serat Kalempaking Piwulang, Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Kats, J. 1924. ”Wayang Madya” dalam Poesaka Djawi II. Java-Instituut.

Mangkunegara IV. 1914. Lampahan Jayapurusa.

Mangkusudarmo, Soeharto. 1998. “Analisis Struktur Kakawin Indrawijaya”, dalam Humaniora No. 9 November-Desember 1998. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

Margapranata, R. Ng., Sastrawaluya, R. dan Yasapuraya, R. Ng. 1986. Tus Pajang: Penget lan Lampahanipun Swargi R. Ng. Jasadipura I. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud.

Marsono, dkk, 1998. Nilai Susastra dan Kandungan Filosofis Wayang, Yogyakarta Kerjasama Antara Fakultas Sastra UGM dengan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) Jakarta.

Mulyono, Sri. 1989. Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, Cetakan III. Jakarta: Haji Masagung.

Padmosoekotjo, S. 1960. Ngengrengan Kasusastran Djawa Jilid 2. Jogjakarta: Hien Hoo Sing.

Pigeaud, T.H. 1938. Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek. Groningen: B. Wolters’ Uitgever-Maatschappij.

Poerbatjaraka, R. M. Ng. dan Tardjan Hadidjaja. 1957. Kepustakaan Djawa. Kolff Djakarta: Djambatan.

Poerwadarminta, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia, J.B. Wolters Uitgevers Maatschappij n.v.

Prastyono, Dhiyan. 2008. “Asthabrata dalam Berbagai Tradisi: Continuity dan Discontinuity dari Manusmrti IX, 303-311 ke dalam Serat Ajipamasa XI, 3-13” dalam Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008.. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara, Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Prawiroatmojo, S. 1981. Bausastra Jawa-Indonesia 2 Jilid. Jakarta: Gunung Agung.

Putranto, Budi. 1997. “Analisis Reseptif Asthabrata dan Wahyu Makutharama” (Sripsi Sarjana). Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

Ranggawarsita, R. Ng. 1908. Witaradya. Surakarta: Albert Rusche.

_______. 1910. Hadji Pamoso Jilid I-X. Soerakarta: Albert Rusche.

_______. 1939. Serat Pustakaraja Purwa Jilid I – IX, Cetakan Keempat. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning.

_______. 1979. Serat Witaradya I & II. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya, Z.H., Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

_______. 1993. Serat Ajipamasa, Disalin oleh Soetomo W.E., dkk. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa “Kanthil”.

_______. 1994. Serat Pustakaraja Purwa Jilid III, Alih Aksara Kamajaya. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan “Mangadeg” dan Yayasan “Centhini”.

Slamet Mulyana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.

Soetjipto, Soemarso Pontjo, K.R.T. (Pengalih Huruf). 2007. Serat Prabu Gendrayana I (46 A). Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Tedjowirawan, Anung. 1995. Teks-teks Sumber Wayang Madya: Relasi, Konstruksi dan Persamaan Beberapa Tokohnya dengan raja-raja Jawa dalam Humaniora II/1995. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

_______. 2001. “Unsur-unsur Ajaran Pemimpin Negara dan Abdi Negara di dalam Teks-teks Pustakaraja Madya karya R. Ng. Ranggawarsita, Relevansinya dengan Kepemimpinan Masa Sekarang” dalam Humaniora, Volume XIII, No. 2/2001. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

_______. 2005. Lokasamgraha dalam Visi Ranggawarsita: Sebuah Kebijakan Lokal tentang Ekologi seperti Digambarkan dalam Serat Ajipamasa dan Serat Witaradya (Penelitian bersama Manu Jayaatmaja Widyaseputra). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

_______. 2006. “Genealogi dalam rangka Penciptaan Serat Darmasarana karya R. Ng. Ranggawarsita” dalam Humaniora, Volume XVIII No. 2 Tahun 2006. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

_______. 2008. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita” dalam Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008.. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara, Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

_______. 2009. Menelusuri Kebesaran Pujangga R. Ng. Ranggawarsita Melalui Karya-karya Ciptaannya (Sebuah Bunga Rampai I). Yogyakarta: Unit Penerbitan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

_______. 2010. “Legenda Etiologis Banyuwangi dalam Serat Ajipamasa (Kajian Historis Komparatif)” dalam Procedings Seminar Internasional Tiga Serangkai UKM-UGM-UNS pada 27-28 September 2010. Bangi: Institut Alam & Tamadun Melayu, University Kebangsaan Malaysia.

_______. 2011. “Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja karya Pujangga R. Ng. Ranggawarsita” dalam Jumantara (Jurnal Manuskrip Nusantara) dalam Proses Penerbitan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

_______. 2011. Serat Pustakaraja sebagai Sumber Pembentukan Karakter bagi pemimpin negara dan Aparatur Negara pada Masa Sekarang. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara, Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

_______. 2012. Dampak Karya Sastra R. Ng. Ranggawarsita terhadap Situasi Perpolitikan di Indonesia (Makalah) pada Seminar Nasional “Pengaruh Karya Sastra R. Ng. Ranggawarsita terhadap Ipoleksosbud” yang diselenggarakan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta bekerjasama dengan Karya Sinema Nusantara dan Pemkot Surakarta di Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Solo) pada tanggal 1 Maret 2012.

Wahyawati Pradipta. 1998. “Ajaran Kepemimpinan Asthabrata” dalam Sarworo Soeprapto dan Sri Hartati Widyastuti (Ed.) dalam Ramayana, Transformasi, Pengembangan, dan Masa Depannya. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa FPBS, Yogyakarta.

Widyaseputra, Manu Jayaatmaja. 2001. Serat Purwakandha dari Kraton Yogyakarta: Jembatan antara Masa Lalu dan Masa Mendatang dalam rangka Mempertahankan Identitas Bangsa (Makalah) dalam Proseding Kongres Bahasa Jawa III Yogyakarta 2001 di Ambarrukmo Palace Hotel pada tanggal 15-20 Juli 2001. Yogyakarta: Panitia Kongres Bahasa Jawa III.

_______. 2001. “Relevansi Analisis Tekstual dan Kontekstual untuk Memahami Pentas Wayang Kulit dalam Masyarakat Jawa Masa Kini: Sebuah Kasus tentang Lakon Pandhu Swarga” dalam Humaniora, Volume XIII, No. 2/2001. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

_______. 2008. “Bha?a dan Maya dari Mamenang: Kusumawicitra dalam Perspektif Historis dan Mitis Tradisi Pura Mangkunegaran Tahun 1853-1881” dalam Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara, Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Jakarta: Karya Unipress.

_______. 2010. “Sa?katha: Serat Purwakandha sebagai Babad Kraton Yogyakarta Masa Hamengkubuwana V” dalam Procedings Seminar Internasional Tiga Serangkai UKM-UGM-UNS pada 27-28 September 2010. Bangi: Institut Alam & Tamadun Melayu, University Kebangsaan Malaysia.

_______. 2012. Kusumawicitra: Arjunanandana di Pura Ma?kunegaran menurut Serat Ajipamasa (Makalah) pada Seminar Nasional “Pengaruh Karya Sastra R. Ng. Ranggawarsita terhadap Ipoleksosbud” yang diselenggarakan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta bekerjasama dengan Karya Sinema Nusantara dan Pemkot Surakarta di Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Solo) pada tanggal 1 Maret 2012)

Winter, C. F. 1880. Kawi-Javaansch Woordenboek. Batavia: ‘sLand’s-Drukkerjij.

Winter, C. F. dan Ranggawarsita, R. Ng. 1988. Kamus Kawi-Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wirjosuparto, Sutjipto. 1966. Kakawin Bharatayudha. Jakarta: Bhratara.

Wiryamartana S.J.; I. Kuntara. 1980. “Bebuka Serat Pustaka raja Sebagai Dasar Pemahaman Seluruh Kitab” (Makalah Seminar dan Diskusi Memperingati Pujangga Besar Ronggowarsito pada 3 Januari 1980). Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang, terjemahan Dick Hartaka. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P.J. bekerjasama S.O. Robson. 1995. Kamus Jawa Kuna Indonesia (terjemahan Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna). Jakarta: Gramedia Pustakatama.

Naskah
Serat Ajipamasa
Naskah B 6a. Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran.
Naskah PBA 248. Yogyakarta: Museum Sanabudaya.
Naskah Br 577 dan K. B. G. 93. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Serat Budhayana
Naskah 154 B. Surakarta: Museum Radyapustaka.

Serat Darmasarana
Naskah 152 A. Surakarta: Museum Radyapustaka.

Serat Gendrayana
Naskah 157. Surakarta: Museum Radyapustaka.

Serat Prabu Gendrayana I
Naskah 46 A. Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Serat Prabu Gendrayana II
Naskah 46 B. Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Serat Purusangkara
Naskah 155. Surakarta: Museum Radyapustaka.

Serat Sariwahana
Naskah 154 G. Surakarta: Museum Radyapustaka.
Naskah Hs. Th. P. NR. 344. Jakarta: Biro Naskah Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Serat Yudayana
Naskah 153. Surakarta: Museum Radyapustaka.
Naskah Hs. Th. P. NR. 268. Jakarta: Biro Naskah Fakultas Sastra Universitas Indonesia.