Kompetensi Pustakawan Menuju Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional

A. Latar Belakang

Peradaban manusia abad 21 telah masuk dalam era masyarakat belajar (learning society) atau masyarakat ilmu pengetahuan {knowledge society). Artinya untuk dapat bertahan dalam kehidupan yang cepat berubah ini harus mempunyai ilmu pengetahuan. Perguruan Tinggi sebagai wahana ideal untuk menciptakan masyarakat belajar karena sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi telah merubah kampus sebagai media transfer ilmu pengetahuan, bukan lagi sebagai “merana gading”. Penelitian menjadi “roh/ jiwa” yang wajib dilaksanakan, karena perguruan tinggi diyakini menjadi kekuatan moral dalam menumbuhkan daya saing nasional. Bertitik tolak dari pemikiran itulah muncul istilah “world class university/WCU dan World class faculty/WCF”. Istilah ini bukan latah tetapi menjadi keharusan karena tuntutan jaman yang selalu berubah. Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, telah membawa perubahan signifikan sistem pengelolaan perguruan tinggi. UGM, UI, ITB.

 

B. Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional

Parameter perguruan tinggi bertaraf interna menurut Rektor IPB pada wisuda ke-3 i akademik 2004/2005 di Graha Widya Wisuda, adalah:

Suatu perguruan tinggi dapat disebut be internasional syaratnya:

  1. Jumlah dosen yang bergelar doktor harus dari 75 %,
  2. Persentase mahasiswa pascasarjana haru: dengan atau lebih besar dari 75% dari mahasiswanya,
  3. Publikasi internasional yang diterbitkai setiap staf pengajar per tahun minimj publikasi di jurnal terakreditasi s internasional
  4. Besarnya dana untuk kegiatan riset untuk staf lebih USD 1300 per tahun,
  5.  Jumlah mahasiswa asing di perguruan tersebut minimal 5%,
  6. Koneksi internet minimal 15 Mb de koneksi Wifi. (Rita Komalasari, 2006).

 

Acuan indikator untuk mencapai universitas bertaraf internasional, menurut Asiaweek.com dalam Ratnaningsih (2008:12-14) dapat dilihat dalam Tabel 1:

Tabel 1. Acuan indikator untuk Mencapai Universitas Bertaraf Internasional

Criteria

Indicator

Code

Weight

Quality of Education

Alumni of an institution winning Nobel Prizes and Fields Medals

Alumni

10%

Quality of Faculty

Staff of an institution winning Nobel Prizes and Fields Medals

Highly cited reaseachers in 21 broad subject catagories

Award HiCi

20% 20%

Research Output

Articles published in Nature Science

Article in Science Citation Index- expanded and Social Science Citation index

N&SSCI SCI

20% 20%

Size of Institution

Academic performance with respect to the size of an institution

Size

10%

Total

 

 

100%

 

Dari 2 sumber tersebut, penelitian menjadi kata kunci yang tidak dapat ditawar lagi. Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah internasional dapat dijadikan referensi. Semakin banyak orang merujuk tulisannya untuk dijadikan acuan, semakin meningkatkan kredibilitas keilmuan penulis jurnal dan nama perguruan tinggi. Sayangnya berdasarkan statistik publikasi ilmiah tingkat internasional dari Indonesia hanya 0,012 persen. Dibandingkan Thailand 0,086 persen, Malaysia 0,64 persen, Singapura 0,179 persen, Filipina 0,035 persen. Sementara terbesar diduduki Negara USA 30,8 persen, Jepang 8,2 persen, UK 7,9 persen, Jerman 7,2 persen dan Perancis 5,6 persen (Khaerudin kurniawan dalam Santoso. 2006:6).

Untuk menjadi universitas bertaraf internasional tidak semudah membalik tangan. Perlu komitmen tinggi semua pihak (rektorat, dekanat dan tenaga kependidikan/pustakawan, laboran, staf administrasi). Pembenahan SDM dan infrastruktur yang memenuhi standar internasional harus dilakukan. Salah satu unsur penunjang yang perlu mendapat perhatian serius adalah perpustakaan. Pasal 35 ayat 1 Bab XIUU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Mengatakan:” perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, selain laboratorium bengkel kerja, dan ruang belajar”.

Perpustakaan sebagai unsur penunjang, mempunyai fungsi edukatif, informatif, riset, rekreatif, administratif, publikasi, deposit, interpretasi (Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004) dalam Luki Wijayanti (2006:7-8). Komitmen perguruan tinggi bertaraf internasional sebagai harapan, peluang dan tantangan menuju perpustakaan bertaraf internasional. Fungsi perpustakaan yang strategis dan penting ini sampai disebut “jantungnya perguruan tinggi”. Jantung ini dapat berfungsi baik bila koleksi, pelayanan, SDM, anggaran, sarana dan prasarana mendapat perhatian pimpinan perguruan tinggi.

Landasan yuridis perpustakaan perguruan tinggi UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pasal 24 ayat 1-4, intinya setiap perguruan tinggi menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional, koleksinya untuk mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Pelayanannya berbasis teknologi informasi dan komunikasi, serta mengalokasikan dana sesuai dengan standar nasional. Masalah dana ini dalam RUU secara nominal disebutkan minimal 5 persen, kenyataannya UU No. 43 Tahun 2007 angka 5 persen tidak muncul, sehingga pasal ini dapat menjadi pasal “karet”, dalam penafsirannya. Pimpinan bisa mengatakan tidak ada dasar hukumnya untuk mengalokasikan 5 persen, atau sudah banyak perguruan tinggi yang anggaran perpustakaannya lebih dari 5 persen.

 

C. Perpustakaan Bertaraf Internasional

Parameter perpustakaan bertaraf internasional, menurut Luki Wijayanti dan Yooke Tjuparmah dalam Ratnaningsih (2008:12-14) menyatakan: Jumlah koleksi lebih 1.000.00 judul, data base yang dilanggan lebih 300, memiliki akses e-book lebih 10.000 judul, penggadaan buku per tahun minimum 100.000 eksemplar, menyimpan seluruh karya sivitas akademika lebih 90 persen, layanan per minggu 80 jam waktu Senin s/d Minggu, ada penelusuran informasi oleh 4 orang pakar (S3) dan 4 orang resource person (S2), mengadakan pelatihan, jumlah komputer 1:10, tempat duduk 1:90, ruang khusus untuk mahasiswa S2 dan peneliti 25 ruang, ruang diskusi 10 buah, bandwidth lebih 30 Mbps, pustakawan sarjana rata-rata 40 persen dari total staf, magister rata-rata 30 persen dari total staf, doktor rata-rata 10 persen dari total staf, dana untuk pembelian bahan pustaka rata-rata 25 milyar rupiah, untuk pembelian buku 20 milyar rupiah, langganan informasi elektronik 6 milyar rupiah, operasional 5 milyar rupiah dan menjadi anggota jaringan kerja sama internasional secara aktif.

 

1. Sumber Daya Manusia Perpustakaan

Sumber daya manusia sebagai salah satu parameter menuju perpustakaan bertaraf internasional, syaratnya harus ada pakar (S3), dan resource person (S2) minimum 4 orang. Secara tegas disebutkan pustakawan sarjana rata-rata 40 persen, magister 30 persen, dan dokter 10 persen. Andaikan dalam satu universitas di perpustakaan ada 100 orang SDM, maka komposisinya pustakawan 40 orang (SI), 30 orang (S2), dan 10 orang (S3), ditambah 4 pakar (S3) dan 4 orang dengan keterampilan khusus (S2).

Di Indonesia belum ada perpustakaan yang bisa memenuhi parameter SDM tersebut. Namun semangat dan komitmen menuju kearah kualitas dunia sudah menjadi modal utama. Pustakawan mempunyai peran strategis, sebagai aset intelektual dapat melakukan kolaborasi dengan subyek spesialis, teknologi informasi, ahli manajemen, komunikasi, hukum, akuntan. Saat ini pembenahan dan perubahan terus dilakukan dengan memberikan beasiswa studi lanjut didalam negeri dan di luar negeri. Indonesia belum mempunyai pustakawan bergelar doctor (S3), sedang untuk magister (S2) ada 173 (5,87 persen) dari keseluruhan pustakawan. Berarti ada potensi untuk mempunyai pustakawan doctor manakala yang sudah S2 mendapatkan beasiswa melanjutkan studi S3. Namun ada juga S2, tetapi sudah tidak aktif sebagai pustakawan karena pindah jalur struktural atau menjelang pensiun.

Menurut Sri Mamuji (2000:2), di perpustakaan memiliki 4 (empat) kelompok sumber daya manusia yaitu pustakawan yang berijazah sarjana ilmu perpustakaan, tenaga fungsional yang melaksanakan keahlian diluar pusdokinfo, tenaga administrasi dan tenaga ahli subyek (sarjana dari bidang lain). Pustakawan menjadi “primadona” untuk mewujudkan perguruan tinggi berkelas dunia. Bukan sekedar isapan jempol kalau profesi ini kedepannya sangat menjanjikan dan dilirik banyak orang, dan menjanjikan kesejahteraan secara finansial karena “kaya informasi” yang bisa menjadi sumber ide untuk “dituangkan dan diuangkan”.

 

2. Landasan Yuridis dan Landasan Moral


a. Landasan Yuridis

Pustakawan di Indonesia secara yuridis sudah diakui pemerintah sejak tahun 1988 (Kepmenpan No. 18 Tahun 1988), dan usia pensiunnya diperpanjang sampai 65 tahi golongan IV/d-IV/e (Keppres No. 62 1992). Konsekwensinya selain tuni fungsional, untuk naik p mengumpulkan angka kredit yang be sama dengan fungsional Is (dosen.peneliti). Namun nilai angka kr« sangat kecil (0,0002 sampai 12,5). J besarnya tunjangan menurut Keppres ] 1992 Rp. 22.500,- (Il/b), tertinggi Rp. 11 (IV/e), terakhir menurut Peraturan Pi No. 47 Tahun 2007 sebesar Rp. 240.0C b) s/d Rp. 700.000,- (IV/e).

 

b. Landasan Moral

Landasan moral pustakawan adalah K Pustakawn Indonesia, sebagai pa perilaku dan kinerja dalam melaks; tugas dibidang kepustakawanan. Tujus etik ini untuk membina dan meml karakter pustakawan, mengawasi ting dan sarana sosial kontrol, mencegah tim konflik, menumbuhkan keperc masyarakat dan mengangkat citra pust Dalam kode etik pustakawan memberikan pelayanan sesuai dengan masyarakat, mempertahan keunt kompetensi setinggi mungkin dan mengikutiperkembangan, dapat memt pandangan hidup pribadi dan tugas keputusannya secara profesional menyalahgunakan posisinya c mengambil keuntungan, dan bersifat bijaksana dalam melayani masyara ucapan maupun perbuatan.

 

3. Kondisi Riil di Indonesia

Data dari Perpusnas (2009) jumlah pustaka 2949 orang. Dari jumlah itu yang ber perpustakaan perguruan tinggi ada 1313 (44,53 persen). Jumlah ini termasuk yang banyak bila dibandingkan dengan pustakaw ada di perpustakaan RI 154 orang (5,22 pei perpustakaan provensi 704 orang (23,87 j diperpustakaan umum 103 orang (3,49per perpustakaan khusus 475 (16,11 p perpustakaan sekolah 200 orang (6,78 pers Disisi lain pustakawan saat inipun lebih persen karena penyesuaian (impassing), dengan ijazah ilmu perpustakaan. Ak pustakawaan stagnan, tidak produktif, mi apatis, dan “gagap teknologi”, memperta kemapanan dan alergi perubahan. Prediki tahun kedepan pustakawan “impassing” in memasuki pensiun dan digantikan pustakawan yang muda semangat, punya daya jaung, kreatif, inovatif, energik.

C. Kompetensi Pustakawan

Komitmen dan semangat untuk menuju perguruan tinggi bertaraf internasional dilandasi oleh perpustakaan yang berkelas dunia, baik secara kualitas maupun kuantitas. SDM merupakan komponen yang signifikan dalam mencapai terwujudnya komitmen dan semangat perpustakaan yang mendunia. Kompetensi menjadi kata kunci yang perlu dipikirkan serius, komprehensif, dan berkelanjutan, supaya tidak terjadi stagnasi profesi dan karier pustakawan.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai untuk melaksanakan tugas keprofesionalanannya. Intinya kompetensi sebagai tolok ukur untuk mengetahui kemampuan seseorang menggunakan pengetahuan dan keahliannya. Pustakawan sebagi tenaga profesional yang kompeten dengan kualifikasi akademik dan non akademik, yang dilegalkan dengan bukti sertifikat. Perlu dipikirkan sertifikat pustakawan (Serpus).

Dalam UU No. 43 Tahun 2007, pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, yang tugasnya melakukan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Kewajiban pemerintah untuk membina dan mengembangkan kompetensi profesionalitas pustakawan dan tenaga teknis lainnya (pasal 7 ayat 1 huruf h). Untuk pustakawan belum ada pedoman yang dijadikan acuan, siapa yang berhak menguji kompetensi, apa indikatornya, dan lembaga mana yang mengeluarkan sertifikat. Kompetensi pustakawan yang dibuktikan dengan sertifikat perlu dimiliki oleh para lulusan D3, S1, S2 sebagai prasyarat untuk memasuki dunia kerja (SIK/ Surat Ijin Kerja). Sertifikat kompetensi berlakunya dibatasi hanya 5 tahun, yang harus diuji lagi setelah 5 tahun.

 

1. Kompetensi Profesional

Menurut US ‘Special Library Associations dalam Titek Kismiyati (2006:3-4), Kompetensi profesional terkait dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi.

  1. Kompetensi Individual

Kompetensi individual menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.

  1. Pustakawan Ideal Yang Dibutuhkan Pustakawan ideal adalah yang mempunyai kompetensi profesional dan individual. Kondisi ini untuk mengimbangi tuntutan pemustaka akibat perkembangan teknologi, perubahan paradigm pelayanan yang tidak lagi berorientasi proses, tetapi kebutuhan pemustaka. Dari paradigm koleksi berubah ke paradigm komputer dengan jaringan internet. Kepuasan pemustaka menjadi tujuan pustakawan yang kompeten secara professional dan individual. Berikut kompetensi profesional yang dibutuhkan pustakawan adalah:
  • Mempunyai pengetahuan kepustaka- wanan dan informasi, mengetahui sumber-sumber informasi dan memilih secara tepat serta memberikan pelayanan teknis pusdokinfo.
  • Membangun, mengembangkan dan mengelola layanan informasi sehingga mudah diakses, efektif dan efisien.
  • Secara periodik melakukan bimbingan pemakaian untuk civitas akademika, yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
  • Melakukan penelitian tentang keinginan pemustaka, layanan informasi, dan produk jasa yang dikembangkan, dan manajemen perpustakaan.
  • Mampu memanfaatkan tehnologi untuk kelancaran pelayanan, pengadaan, dan penyebaran informasi.
  • Menguasai subyek spesifik (hukum,politik,farmasi, ekonomi, kedokteran, dll) disamping subyek umum dalam ilmu pengetahuan.
  • Menguasai bahasa asing dan teknologi informasi untuk menjalin kerjasama lintas Negara, dan mengikuti perkembangan perpustakaan.
  • Memahami software (program), untuk perpustakaan khususnya yang open source, yang murah tetapi fleksibel
  • Mampu mengidentifikasi produk layanan perpustakaan dan membuat SOP (standard operating produre).
  • Menguasai manajemen koleksi – koleksi, manajemen keuangan, manajemen waktu, manajemen konflik dan manajemen sumberdaya manusia.
  • Memiliki kemampuan membuat proposal, anggaran, laporan, evaluasi, menyusun RKAT.
  • Mampu membuat program pelatihan, workshop, penelusuran informasi, penulisan karya ilmiah, memanfaatkan e- jurnal, e-book, library 2.0, Web 2.0, Librarian 2.0, Wikipedia, blog, facebook,twintter, friendster, PLO

Sedang kompetensi individual yang dibutuhkan adalah:

  • Mempunyai kemampuan, kemauan, dan kesempatan untuk menuangkan ide kreatifnya dalam buku, jurnal, majalah, media massa.
  • Mampu berkomunikasi efektif (lisan dan tertulis, cetak dan maya, vertikal dan horisontal), mempunyai jiwa kepemimpian.
  • Dapat berkerja dalam tim, melakukan koordinasi, maupun kerja mandiri, dan semangat dan komitmen tinggi untuk mengembangkan pelayanan.
  • Penampilan  menarik (tidak overacting), cerdas (IQ,EQ,SQ), responsif, cekatan dalam bertindak, luwes ,jujur, iklas, dalam bekerja, tidak sombong, rendah hati (bukan rendah diri), ramah, murah senyum.

 

D. Penutup

Komitmen dan semangat mewujudkan perguruan tinggi bertaraf internasional diiringi oleh tersedianya perpustakaan kelas dunia. Pustakawan yang kompeten secara profesional dan individual menjadi kunci utamanya. Syarat pendidikan sarjana, magister, dan doktor ilmu perpustakaan dan informasi harus dimiliki oleh pustakawan perguruan tinggi bertaraf internasional.

Untuk itu perlu dipikirkan pemberian beas pustakawan yang sudah SI ke S2, yang S2 kejer S3 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. perlu ada sertifikat bagi pustakawan (Serpus), nantinya dapat berimbas pada peningkatan kii (bagi lembaga) dan kesejahteraan (bagi pustakawan).