Kontekstualisasi Naskah dan Teks Lombok

Pendahuluan
Kebanyakan naskah dewasa ini disimpan, dilestarikan, didigitalisasi, dan dikaji di perpustakaan atau di berbagai museum di dunia. Namun, tentu saja naskah tidak berasal dari situ. Naskah selalu berasal dari sekelompok manusia yang memiliki kebudayaan tertentu dan setiap orang dari kelompok itu yang membuat naskah memiliki kepribadian masing-masing. Ilmuwan asing umumnya pertama kali melihat naskah di perpustakaan di luar negeri, jauh dari tempat asal naskah tersebut. Karena mereka tidak atau kurang mengenal Indonesia, mereka tentu saja mengacu pada kerangka acuan Barat dan umumnya mereka mempunyai gagasan dan harapan tentang naskah yang mereka dasarkan atas ciri khas kebudayaan Barat, terutama kebudayaan Eropa. Naskah Eropa memiliki karakteristik tersendiri yang mungkin saja tidak sama dengan ciri khas naskah Nusantara. Di Nusantara, misalnya, tradisi pembuatan naskah masih hidup sementara tradisi itu di Barat sudah lama tidak diteruskan lagi.
Naskah merupakan sejenis benda dari zaman lalu yang dilestarikan dengan baik, sehingga sekarang menjadi sangat berharga. Satu hal yang perlu ditambahkan di sini adalah rasa kagum terhadap naskah sebagai benda, terlepas dari isinya, terutama kalau naskah itu sudah berumur dan memiliki ilustrasi atau iluminasi yang cantik. Di Barat, pertanyaan yang sering diajukan kalau saya berbicara tentang perhatian saya terhadap naskah Jawa, Bali, dan Melayu adalah tentang umur naskah tersebut. Belum pernah orang bertanya tentang isinya. Ini merupakan suatu contoh bahwa naskah dan isi naskah merupakan dua hal yang perlu dibedakan dengan jelas.
Kenyataan bahwa naskah memang berasal dari manusia yang hidup, yang mempunyai kebutuhan, keinginan, dan kemampuan masing-masing, harus kita ingat kalau kita ingin menelusuri naskah dari segi apa pun. Sampai sekarang, perhatian yang dicurahkan atau pun penelitian yang dilakukan terhadap peran naskah di kebudayaan itu masih kurang. Hal itu menurut saya sangat disayangkan karena pengetahuan yang diperoleh dari riset tentang peran itu sangat penting dan bahkan dapat mengarahkan penelitian filologi terhadap naskah itu. Singkat kata, kalau di dalam kebudayaan asli suatu naskah  perhatian terhadap naskah sangat kurang, kemungkinan besar isi naskah mungkin sekali tidak pernah  teliti, banyak naskah dengan judul yang sama, serta memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Naskah juga tidak diperlakukan dengan seksama sehingga naskah itu sering tidak utuh, banyak halaman hilang, rusak, kotor, dimakan serangga, dan lain sebagainya. Sebaliknya, kalau cara menyalin naskah dilakukan oleh orang yang sangat teliti, berpengetahuan dan berpengalaman, dan mungkin pembuatannya diawasi oleh orang atasan di keraton dan puri, isi naskah dapat diperkirakan sangat bagus, teliti, dan utuh. Kalau teks dikagumi dan dianggap sebagai teks keagaamaan dengan martabat sangat tinggi, pasti kemungkinan besar isi naskah sangat teliti dan baik.
Dalam dunia filologi terdapat banyak praanggapan yang jarang diuji sehingga kebenarannya belum dibuktikan dengan pasti. Salah satu praanggapan yang paling mendasar adalah bahwa semua naskah merupakan turunan atau salinan dari naskah lain, kecuali otograf yang memang ditulis oleh pengarang atau pencipta teks. Naskah yang bukan otograf dari dahulu sampai sekarang dianggap sebagai turunan dari otograf dan juga dianggap kurang kualitasnya daripada otograf itu, karena ciri khas penulisan atau penyalinan naskah. Penilaian negatif itu disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk mengkopi sesuatu dengan seratus persen tepat. Selalu ada kesalahan yang terjadi walaupun tidak dikehendaki. Di dunia Islam banyak sekali naskah Alquran dibuat dengan kualitas yang luar biasa tinggi sehingga pernyataan saya harus dikualifikasi: kalau teks memang dianggap sangat penting dan luhur, ketepatan penulisan dan pengkopiannya dapat meraih seratus persen. Dalam hal Alquran, bukan hanya isi yang penting, melainkan setiap huruf dan kata yang digunakan, sehingga pengkopiannya harus sangat teliti karena sama sekali tidak ada yang boleh diubah, ditambahkan, atau dikurangi. Namun, sesaat perkataan yang digunakan dalam teks dianggap kurang penting dari isi teks, kualitas penyalinannya langsung menurun. Hal itu akibat sifat manusia yang selalu harus diingat dalam meneliti naskah. Penilaian negatif itu terutama muncul kalau penyalin atau penulis mengubah teks sehingga jarak antara naskah dan otograf menjadi makin jauh dan penyuntingan teks menjadi makin rumit. Hal yang penting di sini adalah peneliti jangan hanya menilai naskah saja, tetapi diharapkan juga menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan naskah dan isi teks tanpa menilainya. Di dalam dunia filologi, kita bukan guru yang menilai murid, tetapi ilmuwan yang ingin memahami.
Namun, apakah benar naskah selalu merupakan salinan dari naskah yang lain? 
Praanggapan kedua adalah naskah selalu disalin dengan maksud teks yang dihasilkan sama persis dengan teks yang disalin. Salinan harus sama dengan aslinya. Namun, praanggapan itu sebenarnya juga belum dibuktikan. Kalau kita melihat bukti-bukti naskah, dugaan saya adalah bahwa naskah yang dikopi tidak selalu diharapkan sama dengan aslinya. Mungkin saja ada kebudayaan di Nusantara, Lombok misalnya, di mana setiap naskah harus berbeda dari naskah yang lain untuk memperlihatkan keterampilan penulis dalam menulis dan mengarang. Di Indonesia ada kebudayaan di mana pengarang mengubah teks tanpa mengubah judul. Sebagai contoh, I Wayan Pamit di Denpasar, Bali pernah mengarang sebuah gaguritan. Gaguritannya ditulis dalam bentuk tembang dangdanggula sebanyak sekitar 100 bait. Ternyata, pembaca naskahnya sangat bosan karena tembangnya hanya dangdanggula. Menanggapi kenyataan ini, Wayan Pamit mengubah teksnya dengan menggunakan tembang yang lain sehingga pembacaannya jauh lebih menarik. Kalau peneliti ingin melakukan riset terhadap kedua naskah Wayan Pamit itu tanpa mengetahui pengubahan isi teks, apakah naskah pertama harus dianggap lebih baik daripada naskah kedua? Kalau kita tidak mengetahui dari Wayan Pamit sendiri bahwa dia yang mengubah teks, bagaimana penilaian kita tentang hasil karyanya? Apakah kita sekarang memiliki satu teks yang bentuknya berbeda? Atau dua teks yang saling berkaitan?
Praanggapan atau mungkin lebih tepat disebut bahaya ketiga adalah praanggapan bahwa suatu kebudayaan memiliki cara penyalinan atau penurunan teks tersendiri sehingga metode yang diterapkan untuk mengedit teks sampai sekarang tidak banyak berbeda. Dengan kata lain, tidak ada cara penyalinan atau penulisan lontar tertentu di Lombok. Kita hanya dapat berbicara tentang tradisi penulisan teks tertentu dan menyimpulkan hal-hal tentang cara penyalinan teks itu saja. Saya rasa kenyataannya masih jauh lebih rumit lagi. Untuk teks tertentu, misalnya Puspakrama dari Lombok, mungkin saja ditemukan lebih dari satu tradisi.
Dari apa yang dikatakan di atas, kita perlu membedakan kontekstualisasi naskah dan kontekstualisasi teks.

Naskah di kebudayaan asalnya
Studi naskah memiliki kesulitan karena berada di luar dunia penelitian antropologi. Akibatnya, banyak informasi tentang penggunaan naskah di lingkungan  kebudayaan tertentu, misalnya pemakaiannya dalam ritual dan upacara serta cara naskah diproduksi tidak merupakan bagian riset antropologi. Dalam konteks Lombok, misalnya, para antropolog memang menyaksikan banyak naskah lontar yang dibacakan selama ritual berlangsung, tetapi isi teks dan banyak hal lain yang berhubungan dengan naskah tidak ditelusuri karena dianggap merupakan bagian dari dunia filologi. Hal ini sering kali disebabkan antropolog kurang mengetahui bahasa dan huruf yang digunakan dalam naskah sehingga mereka segan untuk menelusurinya.
Di sini juga ada bahaya praanggapan, walaupun sudah cukup banyak riset antropologi yang dilakukan dan upacara yang dikaji di Lombok, penyebutan naskah hanya sedikit. Di sini kita juga memiliki pranggapan yang juga belum terbukti bahwa pada setiap upacara, naskah memang harus ada. Sejumlah besar naskah di Lombok dikaitkan dengan upacara, tetapi mungkin banyak naskah yang perannya sama sekali lain.
Sebaliknya, biasanya para filolog tidak melakukan riset tentang bagaimana naskah digunakan di kebudayaan asalnya karena itu merupakan bagian dari dunia riset antropologi. Akibatnya, pada umumnya kita hanya memiliki informasi dan pengetahun yang sangat terbatas mengenai peran naskah di kebudayaan dan penggunaan teks di dalam ritual serta dari segi isi teks. Bagi sebagian besar filolog hal ini tidak penting karena banyak peneliti di antara mereka yang tidak bebas dari keinginan mencari teks ‘murni’.
Di Nusantara, kita mendapati naskah yang beraneka sifatnya. Ada naskah yang mengandung teks yang sakral seperti Alquran atau Weda. Ada juga teks yang jauh lebih luwes yang ditemukan dengan banyak sekali variasi. Ada juga naksah yang sifatnya sangat perorangan, seperti naskah yang dimiliki dan digunakan oleh pemangku dan balian di Bali. Naskah itu merupakan kumpulan hal yang perlu mereka ketahui dan terapkan secara pribadi. Isi naskah mereka sama sekali tidak didasarkan atas naskah lain, tetapi ditulis oleh pengguna sendiri.

Naskah fisik dalam konteks kebudayaan
Di sini kita perlu membedakan antara naskah sebagai objek fisik yang tidak pernah dibaca, naskah sebagai objek fisik plus isi teks, yang keduanya sama-sama penting, dan naskah sebagai wadah teks di mana tidak ada kaitan antara naskah sebagai benda fisik dan isinya.
Peran naskah bergantung kepada konteks sosial tempat naskah itu diproduksi, digunakan, dan dilestarikan. Dalam kebudayaan ‘murni’ – dalam arti bukan dalam kebudayaan perpustakaan, ilmu pengetahuan, atau kolektor – naskah disimpan oleh banyak kalangan masyarakat, mencakup orang biasa, bangsawan, ningrat, dan tokoh agama serta tokoh kebudayaan. Di Bali, misalnya, ada naskah yang dimiliki oleh pemangku dan balian. Naskah itu digunakan dalam kegiatan  sehari-hari sehingga cepat rusak. Naskah itu memang diproduksi untuk digunakan dan tidak dianggap sebagai benda yang luar biasa yang perlu diperlakukan dengan teliti dan harus dikagumi. Naskah dalam kalangan bangsawan Bali, di puri dan di kalangan pedanda di geria, ternyata mempunyai konteks yang sama sekali berbeda. Ada naskah yang digunakan dan dibaca, tetapi juga ada naskah yang ditulis dengan sangat rapi dan bagus dan hanya untuk disimpan di perpustakaan kerajaan. Naskah kelompok pertama sering mengandung teks yang lebih baik daripada yang kedua karena pembuatnya memang akrab dengan isinya, sementara naskah kalangan kerajaan mungkin dibuat oleh orang yang belum jelas keakrabannya dengan isi naskah, walaupun kepintaran untuk menulis tidak perlu disangsikan.  Naskah ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan prestise pemilik. Tokoh yang memiliki banyak naskah dianggap sebagai orang berwibawa dan berpengetahuan.
Riset tentang naskah di kalangan keraton dan puri juga masih terbatas, dalam arti kita tidak tahu apakah naskah yang bagus dan rapi itu disimpan dengan baik sehingga teks tidak akan hilang, sementara yang digunakan adalah naskah salinannya. Kalau salinannya rusak, dapat dibuat lagi salinan dari naskah yang disimpan di perpustakaan puri atau keraton. Apakah peran naskah di perpustakaan kerajaan sebenarnya masih kurang dipahami?
Riset tentang naskah sebagai objek fisik dan perannya di kebudayaan asalnya jarang dilakukan sehingga kita tidak banyak mengetahui tentang hal yang berkaitan dengan naskah itu, seperti jenis kelamin dan posisi sosial pembuat naskah, bahan naskah, posisi naskah di antara kebudayaan fisik sekitarnya, dan lain sebagainya. Sering peneliti cenderung untuk menganggap semua naskah memang dibuat untuk dibaca atau dibacakan. Menurut saya, banyak naskah mengandung teks namun teks itu tidak pernah dibuka atau dibaca(kan) karena naskah sebagai objek fisik memiliki peran tersendiri. Naskah sebagai objek fisik yang tidak atau jarang dibuka sebenarnya merupakan benda mati. Misalnya di Lombok, naskah lontar kecil yang mengandung cerita Nabi Aparas mungkin tidak pernah dibaca karena merupakan jimat.  Di sini kita juga melihat peran naskah sebagai objek pusaka yang disimpan tetapi tidak pernah dibuka. Jadi, naskah tetap dianggap sebagai wadah teks, tetapi kita jangan lupa naskah juga memiliki peran sebagai objek fisik, terlepas dari isinya. Tentu saja sebuah naskah dapat memiliki lebih dari satu peran untuk orang yang berbeda. Bagi seseorang naskah lontar Nabi Aparas merupakan jimat belaka sementara untuk orang lain, naskah itu justru dibaca dan didiskusikan.
Peran lain dari naskah sebagai objek fisik adalah keharusan keberadaan naskah dalam setiap upacara. Di Bali, misalnya, naskah lontar memiliki peran penting sebagai objek fisik yang mengandung teks karena untuk kalangan orang tertentu, teks hanya sah dan boleh dibacakan dalam rangka upacara kalau ditulis di atas daun lontar. Kaitan antara teks dan bahan yang boleh digunakan untuk menyimpan teks belum cukup diteliti. Kaitan tersebut penting dan dapat dilihat dari contoh berikut. Sampai sekarang, di Bali ada kecenderungan untuk ‘melontarkan’ teks yang baru dikarang di atas kertas dan lontar itu. Jadi bukan naskah kertas yang disimpan di perpustakaan seperti di Perpustakaan Dinas Kebudayaan Bali di Denpasar, Gedong Kirtya di Singaraja dan Universitas Udayana di Denpasar. Contoh dari dunia Islam adalah naskah Alquran raksasa di Museum Bayt Alquran dan Museum Istiqlal di Jakarta Selatan yang juga tidak pernah dibuka untuk dibaca, tetapi berada di sana untuk dipajang.
Ada lagi peran naskah yang sama sekali lepas dari isi teksnya. Di sini naskah dianggap sebagai benda pusaka yang sangat berkuasa karena mengandung kekuatan gaib. Di Lombok, misalnya, naskah lontar dimandikan dan airnya digunakan sebagai obat atau naskah dimandikan untuk membersihkannya dari noda-noda yang merusak. Sayang sekali, juga di sini para antropolog tidak banyak memberikan informasi yang bermakna yang menimbulkan frustrasi bagi filolog modern, misalnya, dalam buku yang sangat bermanfaat dan sangat menarik, Remember to Live. Illness at the Intersection of Anxiety and Knowledge in Rural Indonesia (Ingatlah untuk Hidup. Penyakit di persimpangan keprihatinan dan pengetahuan di Indonesia pedesaan) yang ditulis oleh M. Cameron Hay (2001). Di pedesaan Lombok orang percaya bahwa penyakit dibawa oleh roh jahat sehingga roh itu harus didamaikan. Pada suatu waktu, seorang anak sakit keras. Cameron Hay bercerita bahwa tarian harus diselenggarakan dan rupanya naskah-naskah lontar harus dimandikan. Informasi selanjutnya tentang lontar dan untuk apa lontar harus dimandikan sama sekali tidak diberikan lagi. Naskah lontar Puspakrama dilaporkan juga dimandikan dan air mandi diules di perut perempuan yang sulit menjadi hamil supaya kehamilan dimungkinkan (Van der Meij 2002:191).
Peran sosial naskah sebagai objek fisik juga dapat dilihat pada aspek estetisnya. Mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa makin cantik naskah, makin kecil perannya sebagai teks yang dibaca. Suatu peran naskah lontar yang jauh dari dugaan saya muncul waktu ayah angkat saya di Bali, I Gusti Ngurah Ketut Sangka, menyatakan lontar memang berbentuk panjang dan enak dipegang supaya dapat digunakan sebagai senjata ketika terdesak. Hal itu merupakan jawaban atas pertanyaan saya mengapa bentuk naskah lontar seperti itu.
Sering naskah berada di tempat upacara yang sedang dilangsungkan. Dugaan saya, di Lombok selama ritual berlangsung naskah ‘harus’ dibacakan tetapi juga ‘harus’ berada di tempat ritual sebagai objek fisik, sebagai bagian dari perlengkapan ucapara yang disediakan. Saya menulis kata ‘harus’ di antara tanda kutip karena keharusan ini perlu dibuktikan dan saya ragu apakah di pedesaan di Lombok memang ada keharusan seperti ini. Mungkin lebih tepat kita mengatakan ‘hendaknya’ daripada ‘harus’.
Suatu hal yang menarik dalam konteks ini adalah saya pernah mendengar cerita bahwa pada upacara tertentu, suatu teks dibacakan dari naskah lontar. Padahal ternyata isi naskah itu berbeda dengan yang dituturkan. Membawakan teks ternyata tidak bisa tanpa keberadaan naskah. Menarik di sini untuk ditambahkan bahwa di Lombok penyanyi teks kadang-kadang buta sehingga mereka tidak mungkin dapat membacakan teks dari lontar (lihat Vogelesang 1922, Van der Meij 2002:188).

Teks dalam konteks
Semua naskah atau teks memiliki peran tertentu dalam kebudayaan dari mana naskah atau teks itu berasal. Hal itu harus diingat kalau kita mengkaji teks berdasarkan naskah. Namun, untuk seorang peneliti, acap kali sangat sulit untuk memastikan apa sebenarnya peran itu dan kenapa teks itu dilestarikan dalam kebudayaan tertentu selama beradab-abad lamanya. Apa pentingnya isi sebuah cerita yang mirip dongeng untuk orang di lingkungan kebudayaan tempat dongeng itu berasal? Apa yang harus kita cari dalam ‘dongeng’ itu sehingga pertanyaan itu terjawab?
Sikap orang terhadap naskah dan teks sangat berbeda. Ada kebudayaan yang melestarikan naskah dengan sangat teliti atau golongan tertentu dalam sebuah kebudayaan yang melestarikan naskah dengan baik, namun golongan lain tidak. Hubungan perorangan, perkelompokkan dan perbangsaan sangat menentukan sikap terhadap naskah dan teks. Cara penyimpanan naskah juga bisa bergantung pada isinya. Di antara orang Sasak Waktu Telu terdapat orang yang memang sangat teliti dengan naskah walaupun orang lain menjualnya ke toko antik tanpa masalah apapun.
Pengetahuan tentang naskah dan isi naskah sering kali sudah sangat sedikit karena perkembangan zaman modern. Kita sering menemukan bahwa naskah Alquran yang berisi teks yang luhur ditelantarkan dan tidak disimpan dengan teliti. Naskah sering dianggap sebagai barang pusaka yang penting, namun mengapa tidak disimpan dengan baik. Hal itu merupakan tanda tanya untuk saya. Mungkin orang tidak menyadari bahwa naskah dapat rusak karena iklim dan serangga, ataupun di Indonesia banyak orang tidak terlalu terobsesi dengan melestarikan dan menyimpan barang dari zaman dan kebudayaan yang sudah lewat. Hal itu sebenarnya juga belum diteliti sehingga peneliti sebaiknya jangan menilai orang dan kebudayaan, tetapi hendaknya mencari jalan untuk memahami keadaan itu dari sudut pandang masyarakat dengan latar belakang kebudayaan tersebut.

Naskah dan personalitas perorangan penyalin, penulis, dan pemilik
Kita tidak mengetahui bagaimana penulisan naskah pada zaman dahulu. Kita tidak tahu apakah naskah yang berada di depan kita dibuat oleh seseorang yang memang berbakat atau oleh seseorang yang baru belajar. Namun, perbedaan kualitas isi naskah sangat bergantung pada kepribadian penyalin atau penulis. Tentu saja ada hal yang sangat jelas, seperti dikatakan di atas, di puri dan geria di Bali atau di keraton di Jawa, sangat besar kemungkinannya penyalin diawasi oleh pengawas keraton atau puri. Di samping itu tentu saja para raja menyuruh memilih juru salin atau penulis yang berbakat. Naskah di puri atau keraton juga diharapkan kelihatan rapi dan bagus atau disimpan di perpustakaan istana dengan baik, walaupun tidak selalu dapat dianggap demikian. Di keraton naskah juga tidak selalu dilestarikan dengan semestinya sehingga di sana juga banyak naskah rusak dan lapuk.
Di kalangan masyarakat biasa, cara menyalin atau menulis naskah sama sekali tidak diketahui. Pada satu segi kita harus membayangkan keadaan pedesaan. Orang di pedesaan sibuk mencari nafkah dengan berladang atau bekerja di sawah sehingga mereka baru pulang pada malam hari. Jadi, orang tidak akan mempunyai waktu untuk menulis, kecuali bila penulisan dilakukan oleh orang yang sudah lanjut usia dan tidak dapat bekerja keras lagi. Di pedesaan juga tidak ada listrik dan toko yang menjual kertas dan pena. Di daerah itu, kita sering melihat bahan diperoleh dari kalangan sendiri atau kalangan yang tidak berbeda jauh status sosialnya dari penyalin atau penulis. Kita dapat menduga bahwa naskah dluwang atau lontar dibuat oleh orang di kalangan masyarakat yang belum atau tidak mengenal kertas sehingga mereka menggunakan bahan yang diakrabinya. Tentu saja bakat dan minat penulis juga menentukan hasil karyanya. Seseorang yang berbakat menulis dan memperlakukan bahan tulisnya dengan baik akan menghasilkan naskah yang lebih rapi dan bagus daripada orang yang karyanya hanya asal-asalan saja.

Naskah di Lombok
Naskah lontar di Lombok ditulis dalam bahasa Jawa atau Sasak sementara naskah bahasa Melayu, Arab, dan Bugis juga ditemukan namun dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Naskah yang mengunakan bahasa Melayu, Arab, dan Bugis itu tidak menggunakan daun lontar tetapi kertas. Mengingat apa yang saya tulis di atas, perbedaan bahan yang digunakan dapat merujuk ke status sosial atau ke ciri khas kebudayaan yang berbeda. Orang Bugis dan Melayu sudah mengenal kertas jauh lebih awal daripada orang di pedalaman Lombok. Daun lontar jarang digunakan orang Bugis Makassar untuk membuat naskah. Sejauh yang saya tahu, tidak ada atau jarang sekali naskah Melayu ditulis di atas daun lontar.
Sejarah kesusastraan di pulau Lombok masih cukup gelap karena tidak adanya sumber dari Lombok sendiri yang membahas sejarah itu dan belum banyak riset yang dilakukan terhadap keadaan kesusastraan di Lombok.  Jumlah edisi teks dari Lombok sangat sedikit dan sering susah untuk dicari karena merupakan tesis atau buku proyek P&K yang tidak diperjual-belikan.  Yang ada tetapi juga tidak mudah ditemukan adalah terbitan transkripsi naskah lontar yang disimpan di museum NTB.  Jika sejarah sastra di Lombok saja masih kurang diketahui, apalagi sejarah naskah di Lombok. Namun, kenyataan bahwa di Lombok terdapat luar biasa banyak naskah lontar sudah sejak dini diperhatikan oleh pejabat pamong praja Belanda di Lombok yang melaporkan hal ini dalam laporan penyerahan (Memories van Overgave) mereka . Nasib naskah di Lombok juga dapat dibaca dalam laporan itu dan kadang-kadang nasib naskah orang Sasak Waktu Telu memang buruk karena banyak naskah dilaporkan dimusnahkan oleh orang Sasak Waktu Lima, terutama pada masa sebelum dan di antara kedua Perang Dunia.  Akhir-akhir ini nasib naskah semakin buruk karena sedikit sekali orang yang melek huruf jejawen dan perhatian orang modern diarahkan ke hal lain. Kenyataan itu dan keadaan ekonomi orang Sasak, menyebabkan banyak naskah dijual ke luar negeri, ke museum Nusa Tenggara Barat atau ke perorangan di Indonesia. Koleksi naskah lontar Museum Nusa Tenggara Barat di Ampenan, Mataram dan di Gedong Kirtya, Singaraja cukup besar, tetapi nasib naskahnya juga memprihatinkan karena pelestariaannya kurang optimal. Hal ini antara lain disebabkan oleh kenyataan bahwa perhatian pemerintah daerah terhadap naskah dan perpustakaan lebih bergantung dari ada tidaknya perhatian bupati daripada dijamin oleh perundang-undangan. Walaupun demikian, masih banyak naskah berada di tangan orang Sasak sendiri. Apa yang sekarang dilakukan dengan naskah itu kurang diketahui. Seringkali cara penyimpanannya kurang teliti sehingga banyak naskah yang masih disimpan tetapi kondisinya sudah rusak parah sehingga tidak dapat dibaca lagi.

Hampir semua naskah Lombok menggunakan daun lontar dari kualitas yang agak kurang baik sehingga cepat rusak, patah, dan dimakan serangga. Hal ini ternyata disebabkan oleh jenis dan kualitas pohon lontar yang tumbuh di Lombok atau cara mempreparasi daun lontar untuk dijadikan bahan tulis. Bahan daun lontar yang digunakan masyarakat Bali  di Lombok jauh lebih baik dan mungkin saja daun lontar itu dibawa dari Bali. Ternyata  orang Sasak tidak memperhatikan cara pelestarian naskah mereka karena mereka selalu bisa membuat naskah baru kalau dibutuhkan. Pelestarian naskah  dianggap tidak perlu karena peran teks tidak ada lagi, maka naskah tidak perlu disimpan atau disalin ulang. Teks yang dianggap perlu disalin atau ditulis kalau naskah mulai rusak.
Apakah sebuah naskah memang merupakan salinan dari naskah lain kita tidak tahu. Mungkin saja ada teks yang disalin dan ada teks yang ditulis ulang. Perbedaannya adalah bahwa hasil penyalinan mungkin – tetapi tidak selalu – dikehendaki sama dengan aslinya, namun hasil tulisan ulang dapat berbeda dalam banyak hal karena merupakan ciptaan pribadi penyalinnya. Dalam naskah hasil penulisan ulang kita melihat jumlah bait per pupuh sering kali berbeda-beda, pemakaian kata tidak sama dan banyak hal yang lain yang berbeda juga.  Saya pernah mendapat informasi  bahwa naskah memang tidak selalu merupakan salinan. Sebagai contoh, ada orang yang membawa daun lontar yang masih kosong ke sawah dan menulis teks di atasnya ketika orang itu lagi istirahat.  Orang itu mengenal teks yang akan ditulisnya karena sudah sering mendengarnya dan  sudah terbiasa dengan ceritanya, sehingga naskah itu ditulisnya begitu saja. Kalau memang begini, berarti ada naskah yang bukan hasil salinan, sehingga tidak ada kaitan antara satu naskah dengan naskah lain karena setiap naskah merupakan ciptaan otonom (tersendiri).
Sejarah penulisan naskah di Bali sangat dipengaruhi oleh pemikiran bahwa isi naskah harus sama dengan isi naskah yang disalin atau, dengan kata lain, teks tidak boleh diubah. Saya menduga pemikiran itu tidak selalu benar. Kalau kita melihat besarnya  perbedaan yang terdapat di antara naskah-naskah yang berisi teks yang sama, dapat disimpulkan bahwa penulis tidak diharapkan akan selalu mengkopi naskah, tetapi juga menulis ulang cerita dengan menambahkan fantasi penulis sendiri,  mengurangi atau bahkan menghilangkan bagian yang tidak disukai, tanpa mengganggu jalur cerita. Tentu kemungkinan terdapat berbagai variasi  karena naskah ditulis berdasarkan contoh yang diberikan, tetapi diubah menurut kehendak sang pembuat naskah.

Kolofon
Menurut saya, paling sedikit ada dua tradisi, yaitu naskah yang merupakan salinan dari naskah lain dan naskah otonom. Keduanya bisa berisi teks yang sama. Jadi, satu naskah Puspakrama, misalnya, dapat merupakan naskah baru yang ditulis oleh seseorang yang sudah mengenal ceritanya atau merupakan salinan dari naskah lain. Salah satu cara untuk mengetahui adalah dengan mengacu kepada kolofon yang dapat memberikan informasi tentang naskah. Naskah yang saya sunting dalam disertasi saya adalah Cod. Or. 22.474 yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini memiliki kolofon yang berbunyi:

Kolofon ini memang menyebutkan bahwa naskah Cod. Or. 22.474 merupakan salinan dari naskah Ama’ Kertaji. Masalah yang muncul di sini adalah banyak naskah yang sama sekali tidak mempunyai kolofon atau memiliki kolofon yang sangat singkat, yang tidak menyebutkan apakah naskah itu merupakan salinan atau tidak. Perhatikan kolofon naskah Puspakrama koleksi museum Nusa Tenggara Barat No. 3392:

Dari kolofon ini diketahui siapa yang ‘anurat’ naskah ini dan kapan. Naskah Cod. Or. 22.474 juga menggunakan istilah yang mengandung kata ‘surat’ yang biasanya diterjemahkan dengan ‘tulis’. Informasi selanjutnya sayang sekali tidak ada sehingga tidak jelas apakah naskah ini merupakan salinan atau ciptaan otonom.

Kontekstualisasi teks di Lombok
Naskah, teks, dan upacara
Di Lombok, naskah dan teks tidak diproduksi dan ditulis untuk dibaca dan dinikmati di rumah, tetapi kebanyakan dibuat untuk keperluan dalam ritual. Ritual itu diselenggarakan terutama untuk rite de passage, yaitu untuk mengiringi peralihan status seseorang di masyarakat atau untuk menandai peralihan status pribadi, seperti upacara tingkeban, kelahiran, potong rambut, potong gigi, pernikahan, dan pemakaman,  untuk upacara Islam seperti khitanan, dan juga untuk mengatasi masalah pribadi yang tidak dapat diselesaikan dengan obat. Misalnya, kalau seorang anak mendapat masalah dalam belajar berbicara atau berjalan, atau kalau seorang wanita mendapat kesulitan untuk hamil. Di samping itu ada juga upacara yang berhubungan dengan pertanian. I Nyoman Argawa menyebutkan tiga jenis upacara: gawé urip, yaitu upacara yang berhubungan dengan hidup manusia, gawé pati, yang berhubungan dengan kematian manusia, dan upacara yang berhubungan dengan pertanian seperti tanaman padi atau mengantar kerbau turun dari pegunungan. Semua upacara ini diawali dengan ritual ziarah makam (Argawa 2007:155). Selain itu juga ada gawé rasul (Van Riel 1941:73) yaitu upacara yang diselenggarakan dalam rangka hari raya Nabi Muhammad.
Dari literatur yang ada, tidak jelas apakah naskah dan teks wajib mengiringi upacara, atau masyarakat dapat memilih sendiri untuk mengadakannya atau tidak.
Cameron Hay menyebutkan lima jenis upacara rite de passage (begawai): pernikahan, besumbut (upacara kehamilan pertama), molang-malik (upacara pemberian nama), khitanan (pada waktu orang lelaki betul memasuk masyarakat Islam), dan bekuris (upacara di mana orang betul-betul memasuk masyarakat kosmologis dan kebudayaan). Selain itu ada tujuh begawai yang diselenggarakan untuk orang yang meninggal: pada hari pertama, ketiga, kelima, kesembilan, keempatpuluh empat, seratus dan seribu. Upacara pada hari kesembilan harus upacara besar (Cameron Hay 2001:53). Sayang sekali Hay tidak menyebutkan apakah naskah hadir pada upacara ini dan mungkin saja di desa tempat Hay melakukan risetnya memang naskah tidak ditemukan pada upacara ini.
Gambaran umum yang didapat adalah bahwa upacara yang dilaksanakan untuk seseorang diiringi oleh selamatan dan lain sebagainya. Hasil riset antropologi sering menyebutkan banyak detail tentang upacara dan peralatannya (kecuali teks dan pembacaannya). Salah satu adegan simpangan pada upacara adalah pembacaan cerita dari naskah. Biasanya adegan ini disebut pepaosan di mana ada seseorang (pemaos) yang membacakan teks (maca [lihat Ramlan 1922]) yang biasanya ditulis dalam bahasa Jawa. Ada seorang penerjemah (pujangga) untuk mengisahkan ulang isi cerita dalam bahasa Sasak dan beberapa orang hadir untuk ikut mengiringi irama pembacaan (penyokong). Rupanya hadirin dapat meminta pujangga untuk menerjemahkan bagian tertentu (Ramlan 1922:27), sehingga rupanya tidak semua teks diterjemahkan. Penyokong tersebut sebenarnya tidak menerjemahkan teks tetapi memberikan interpretasi dalam bahasa Sasak atas apa yang dibacakan. Semua teks ditulis dalam tembang macapat yang memang dimaksudkan untuk dilagukan.
Dari literatur yang ada juga tidak jelas apakah pembacaan lontar memang diharuskan untuk semua upacara atau orang boleh memutuskan sendiri apakah mereka akan mengundang orang untuk membacakan naskah. Dari banyak percakapan saya dengan pakar kebudayaan yang bernama Lalu Gde Suparman (alm.) hal ini juga tidak pernah menjadi jelas. Hal penting yang berkaitan dengan upacara di pedesaan adalah biaya.  Mengadakan upacara cukup mahal biayanya, sehingga dapat diperkirakan orang akan berusaha untuk menyelenggarakan upacara dengan biaya yang sesedikit mungkin karena kebanyakan orang pedesaan Lombok sangat miskin. Mungkin saja karena itu naskah tidak selalu hadir. Kaitan kemiskinan dan kesulitan hidup masyarakat pedesaan serta jumlah naskah yang luar biasa banyaknya belum pernah ditelusuri, tetapi mungkin saja jumlahnya yang besar itu justru untuk mencoba menjauhkan malapetaka yang disebabkan oleh gagal panen dan lain sebagainya, serta untuk mendamaikan para kekuatan gaib yang diyakini orang Sasak selalu mengancam masyarakat manusia. Mungkin naskah ditulis dan disimpan sebagai jimat dan benda pusaka saja dan memang tidak untuk dibaca(kan).
Status sosial pemaos, pujangga, dan penyokong tidak jelas. Mungkin mereka orang biasa dari lingkungan tempat upacara dilangsungkan. Mungkin saja mereka memiliki status yang istimewa. Apakah status mereka harus sama dalam setiap upacara juga belum jelas. Apakah mereka dari golongan dukun dan balian atau dari golongan kiai juga tidak jelas. Dalam bukunya, “Satu Agama Banyak Tuhan”, Kamarudin Zaelani menulis bahwa dalam upacara desa sebuah ‘takepan’ (lontar) dibacakan oleh sekelompok kiai  bersama-sama dengan pemuka adat lainnya di ‘berugak’ (balai bengong atau balai kecil untuk istirahat) namun peran mereka sebenarnya di lingkungan mereka tidak diperikan dengan lebih terperinci (Zaelani 2007:151).
Rupanya, pembacaan naskah tidak perlu bagus dan tidak perlu dipahami. Pembacaannya tidak untuk dinikmati namun diadakan dengan maksud yang lain. Ini dapat disimpulkan dari pemerian Vogelesang (1922) yang menulis bahwa pemaos membacakan teks dengan sedemikian cepat sehingga pendengar tidak selalu dapat menangkap apa yang dilagukan, apalagi memahahaminya.

Peramaian pembacaan
Sebaiknya kita jangan membayangkan suasana yang terlalu sakral pada sidang pembacaan naskah, karena pembacaan dapat berlangsung selama berjam-jam, para hadirin dan malahan pemaos sendiri bisa saja tertidur, sehingga dalam naskah ditemukan banyak hal yang dimaksudkan untuk menyesatkan pembaca atau pujangga supaya keadaan tetap ramai dan orang dapat ketawa kalau ada orang yang melakukan kesalahan. Misalnya, dalam naskah digunakan huruf aneh, tanda huruf hidup tidak diberikan, kalimat atau suku kata bolak-balik, halaman lontar berikutnya terbalik, dan lain sebagainya. Rupanya, suasana diramaikan dengan hal yang lucu supaya orang terhibur seraya mengikuti upacara (lihat Van der Meij 2002:185-192).
Di dalam lontar dari Lombok sering ditemukan pertukaran aksara yang ditandai dengan reret di bawah aksara (seperti pa-reret yang menghasilkan re atau ba-reret yang menghasilkan /sa/ atau /i/. Huruf ini muncul dengan tiba-tiba dan kadang-kadang dalam satu naskah hanya ada  satu huruf yang dipertukarkan. Sistem pertukaran adalah sebagai berikut (Van der Meij 2002:10):

Jadi, kalau ditemukan wa harus dibacakan ka dan sebaliknya kalau ditemukan ka harus dibacakan wa dan seterusnya. Menarik dalam sistem ini adalah bahwa pa-reret dibaca sebagai /pa/ dan tidak lagi sebagai /re/. Menarik lagi adalah bahwa sistem ini rupanya tidak selalu begini dan ada naskah yang memakai sistem yang mirip tetapi tidak persis sama. Sebagai contoh kehilangan tanda huruf hidup: ka kasyan nulya ngamban anakara, majal a pancanata, tan kawana a maga, aglas prapta ing man yang harus dibaca: Ki Kasyan nulya ngemban anakira, mijil in pancaniti, tan kawarna ing marga, aglis prapta ing <ta>man (Ki Kasyan kemudian mengemban anaknya dan muncul di balai penangkilan. Kita tidak membicarakan tentang perjalanannya. Segera mereka sampai di taman) (Van der Meij 2002:46).
Ternyata, tidak seluruh teks dibacakan. Hal itu disebabkan teks terlalu panjang sehingga tidak bisa diselesaikan pada waktu upacara berlangsung atau karena isi seluruh teks tidak semua menarik atau tidak semua ada kaitan dengan tujuan upacara. Biasanya, teks yang dibacakan dipilih berdasarkan isi teks yang ada kaitannya dengan upacara. Hal ini dapat menjelaskan mengapa banyak naskah tidak ada bagian cerita awal atau akhir karena bagian cerita itu memang tidak ada kaitan dengan tujuan upacara.
Jadi, kapan dan dalam rangka apa teks dari lontar dibacakan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menelusuri banyak sumber dan informasi tetap sangat terfragmentasi. Gambaran yang muncul adalah sebagai berikut:
1. Takepan Layang Anbiya dibacakan pada upacara desa (Zaelani 2007:151).
2. Nabi Aparas dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
3. Lontar Jatiswara: Upacara Ngayu-ayu tetapi hanya di Sembalun saja (Zaelani 2007:131) sehingga sangat lokal. Dibacakan untuk menyembuhkan sejumlah penyakit (Supratno 1994:7) dan bersih desa (Van Riel 1941:73. Naskah ini juga ada kaitan dengan pertanian (Van der Meij 2002:191).
4. Takepan Tapel Adam dibacakan selama upacara desa berlangsung (Zaelani 2007:151).
5. Cilinaya dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
6. Lontar Selandir: dibacakan untuk menyembuhkan anak lumpuh (Wacana et al. 1985:45).
7. Lontar Puspakrama: bagian tertentu dibacakan untuk menyembuhkan kemandulan wanita (Van der Meij 2002:191), pada upacara tingkeban dan upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190). Naskah ini juga ada kaitan dengan pertanian (Van der Meij 2002:191).
8. Lontar Ajarwali: dibacakan untuk menyembuhkan anak yang ada kesulitan untuk mulai bicara (Supratno 1994:6).
9. Lontar Indarjaya: dibacakan untuk menyembuhkan anak yang ada kesulitan untuk mulai bicara (Supratno 1994:6). Juga untuk menyembuhkan anak yang ada kesulitan untuk mulai berjalan (Van der Meij 2002:191).
10. Lontar Indrabangsawan: dibacakan untuk menyembuhkan anak yang ada kesulitan untuk mulai bicara (TIM 1990).
11. Lontar Yusuf dibacakan kalau orang baru akan menghuni rumah baru (Supratno 1994:7), pada upacara Alip di Bayan (Van Baal 1941:17), upacara Sapu (Polak 1978) dan upacara Metulak (Van der Meij 2002:191). Naskah ini juga dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
12. Nabi Muhammad dibacakan kalau orang baru akan menghuni rumah baru (Supratno 1994:7).
13. Banyu Urung dibacakan pada upacara gawé rasul pada up-acara bersih desa (Van Riel 1941:73).
14. Joarsah. Naskah ini ada kaitan dengan pertanian (Van der Meij 2002:191).
15. Monyeh dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
16. Menak dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
17. Kitab Berzanji dibacakan pada upacara potong rambut (Van der Meij 2002:190).
18. Lontar Kilabangkara dibacakan pada acara khitanan.
19. Rengganis dibacakan pada upacara kelahiran bayi.

Kesimpulan
Dari apa yang disebutkan di atas, jelas bahwa gambaran tentang penggunaan naskah dan teks di Lombok masih jauh dari lengkap. Hubungan naskah yang dibacakan pada upacara dan isi teks kadang-kadang sangat jelas, tetapi juga bisa sama sekali tidak ada. Kesimpulannya adalah bahwa pada sebuah upacara ada naskah yang harus dihadirkan dan ada teks yang perlu dibacakan. Relasi antara upacara dan teks kurang penting dibandingkan keberadaan naskah dan teks yang dibacakan. Sikap terhadap naskah dapat mempengaruhi sikap terhadap teks dan sebaliknya. Kalau hubungan teks-naskah-konteks lebih dapat dipahami kita juga dapat mengerti dan menilai perbedaan yang terdapat di antara teks yang terkandung dalam naskah.
Informasi ini sampai sekarang tetap masih fragmentaris karena kurang adanya informasi dalam kajian antropologi dan kurangnya jumlah filolog yang pernah turun ke lapangan (termasuk pengarang).
Banyak naskah tidak memiliki kolofon sehingga kita sama sekali tidak tahu apa-apa tentang latar belakang naskah, penyalin/penulis, dan tempat/waktu penulisan. Kita cenderung untuk memperlakuan semua naskah dengan cara yang sama dan menganggap semua naskah sebagai wadah teks dengan status yang sama. Hal itu ada bahayanya karena status naskah dapat berbeda sehingga pendekatan kita terhadap naskah itu seharusnya juga berbeda. Mungkin kita jangan lagi hanya berbicara tentang edisi, tetapi yang harus dikedepankan hubungan antara teks, tradisi, dan isi. Untuk itu kita memang memerlukan ‘edisi’, tetapi bentuk ‘edisi’ itu merupakan hal yang masih memerlukan banyak pemikiran. Bagaimana perbedaan pendekatan itu akan menghasilkan edisi dan suntingan teks akan dibahas dalam kesempatan yang lain.

Daftar Pustaka
Argawa, I Nyoman (2007). Fungsi dan Makna Mitos Dewi Anjani dalam Kehidupan Masyarakat Sasak. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.
Arps, Bernard (1992). Tembang in Two Traditions. Performance and Interpretation of Javanese Literature. London: School of Oriental and African Studies.
Baal, J van (1941). “Het Alip-feest te Bajan”. Mededeelingen van de Kirtya Liefrinck-van der Tuuk 16:1-42.
Marrison, Geoffrey E. (1999a). Sasak and Javanese Literature of Lombok. Leiden: KITLV Press.
Marrison, Geoffrey E. (1999b). Catalogue of Javanese and Sasak tekts. Leiden: KITLV Press.
Polak, Albert (1978). Traditie en tweespalt in een Sasakse boerengemeenschap (Lombok, Indonesië). Disertasi yang tidak diterbitkan Universitas Utrecht.
Putra, Ida Bagus Rai (2011). “Lontar; Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali”. Jumantara. Jurnal Manuskrip Nusantara 3/1:148:166.
Ramlan R. (1922). “Besnijdenis in West-Lombok”. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 61:25-29.
Riana, I Ketut (2007). Ki Kertanah: Nama Kecil Nabi Muhammad SAW. Denpasar: Penerbit Universitas Udayana.
Riel, A.C.J. (1941). “Aanteekeningen naar aanleiding van het desafeest op den Poedjoetheuvel”. Mededeelingen van de Kirtya Liefrinck-van der Tuuk 16:63-80.
Supratno, Haris (1994). Sastra Sasak Pesisiran: Kajian Sosial Budaya Naskah Dewi Rengganis Versi Lombok. Simposium pertama Sastra Daerah Se-Indonesia di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Surakarta 17-18 Mei 1994).
TIM (V.J. Herman dkk.) (1990). Bunga Rampai. Kutipan Naskah Lama dan Aspek Pengetahuannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Van der Meij, Dick (2010). “The Shaving of the Prophet’s Hair (Nabi Aparas): The Philology of Lombok Texts”. Studia Islamika 17/3:441-486.
Van der Meij, Dick (2011a). “Kidung Dampati Lalangon: The philology of a Balinese text”. Dalam Titik Pudjiastuti dan Tommy Christomy (eds.), Teks, Naskah, dan Kelisanan Nusantara. Festschrift untuk Prof. Achadiati Ikram. Jakarta: Yanasa, pp. 334-361.
Van der Meij, Dick (2011b). “Sastra Sasak Selayang Pandang”. Jurnal Manassa 1/1:17-46.
Van der Meij, Theodorus Cornelis (2002). Puspakrema. A Javanese Romance from Lombok. Leiden: Research School of Asian, African, and Amerindian Studies, Universiteit Leiden.
Vickers, Adrian (2005). Journeys of Desire. A Study of the Balinese text Malat. Leiden: KITLV Press.
Wacana, Lalu et al. (1985). Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Zaelani, Kamarudin (2007). “Satu Agama Banyak Tuhan” Melacak Akar Sejarah Teologi Waktu Telu. Gomong Mataram: Pantheon Media Pressindo.