Lontar: Tradisi Hidup Dan Lestari Di Bali

Sejumlah manuscript (lontar) menyebut istilah tal (rontal) sebagai bahan tulis yang ampuh dan tahan lama. Seperti terlihat dalam Lontar Saraswati: PNRI L.254, sebuah lontar Merapi-Merbabu, Singhalangghyala PazWPNRI 1 L.858: lp. 14 b), Kakawin Ramayana, II:67d dan VI: 157d-158a. Istilah “lontar” adalah untuk menyebut sebuah hasil karya (seni-sastra) yang berasal dari “rontal” {palm-leal)-, sedangkan istilah “rontal” adalah berupa bahan tulis (material-writting.) itu sendiri, dalam artian belum ada tulisan. Keberadaan tradisi lontar tentu sangat erat kaitannya dengan tradisi tulis.

Sebagai tradisi yang hidup, tradisi lontar di Bali didukung oleh bahan baku yang cukup tersedia, sampai kepada tradisi penulisan lontar dan kegiatan membaca lontar, yang masih hidup hingga kini. Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali sastra (baca: lontar) lebih dipandang sebagai suatu yang suci, arkais, dan sakral-religius. Dengan kata lain, seorang yang akan menggeluti dunia lontar, dituntut memiliki pengetahuan moral-spritual dan religius yang memadai serta harus disucikan (diinisiasi) secara lahir batin. Secara umum pada masyarakat Bali telah berkembang tradisi lisan dalam meresapi isi yang terkandung dalam lontar. Tradisi baru tentang budaya lontar dalam perkembangan masyarakat di Bali dewasa ini tidak hanya digunakan untuk menyalin dari lontar ke lontar baru, namun terjadi suatu kreativitas yang dinamis. Terbukti dengan adanya kegiatan menulis lontar dalam aksara Bali dan Latin berbahasa Bali dan Asing (Inggris, Jerman, dan lain-lain) berupa kartu nama yang dikemas sedemikian rupa dan nampak artistik.

Selain itu, dengan adanya program BaliSimbaryssig dirancang demikian apiknya oleh I Made Swacana, telah membawa angin segar terhadap perkembangan budaya lontar ke arah tradisi baru. Melalui peremajaan penyalinan lontar ke dalam aksara yang sama (aksara Bali), dapat menarik minat masyarakat pembaca aksara Bali lebih meningkat, karena dengan sistem komputerisasi aksara Bali, nampak standar sehingga dalam membaca terkesan lebih mudah. Di samping itu, program ini setidaknya dapat dijadikan penunjang dalam mempelajari atau membaca naskah aslinya yang berupa lontar.

I. Pendahuluan

Tradisi budaya tulis menulis di atas rontal di Bali sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman silam, yang oleh masyarakat Bali hal ini cenderung berkonotasi arkais atau sakral-religius. Sebagai sarana tulis-menulis dari dulu hingga kini, rontal telah terbukti dan dipercaya kekuatannya hingga ratusan tahun. Ribuan manuscript (baca: Lontar) yang kita warisi di Bali adalah ditulis di atas daun tal (rontal) dengan sistem pemeliharaan yang demikian sederhana sebelum mendapat sentuhan teori filologi dan kodikologi. Dengan sifat dan kekuatan rontal sebagai bahan pustaka yang handal, maka tidak mengherankan dari sejak dulu rontal {material-palm) sangat diindahkan oleh para rakawi (pujangga) sebagai sarana untuk menuangkan segala petuah- petuah suci, berupa ajaran budi pekerti dan sebagainya.

Di samping sebagai bahan tulis lontar {manuscript) dalam semua jenis (bentuk dan isinya), rontal juga digunakan digunakan sebagai bahan tulis yang bersifat ritual lainnya, seperti bahan tulis untuk bekel ari-ari dan bahan penulisan pretiti untuk memberikan nama seorang bayi baru lahir, namun ukurannya relatif kecil dan pendek jika dibandingkan dengan rontal untuk penulisan kakawin, kidung maupun karya sastra lainnya.

 

II. Lontar: Tradisi Hidup Dan Lestari Di Bali 2.1 Sumber istilah “lontar”

Sejumlah manuscript (lontar) menyebut istilah tal (rontal) sebagai bahan tulis yang ampuh dan tahan lama. Seperti terlihat dalam Saraswati: PNRI L.254, sebuah lontar Merapi-Merbabu, menyebutkan “lidah minangka gebhang…” Istilah gebhang yang identik dengan rontal sebagai bahan tulis di sini diberlakukan sebagai lidah yang merupakan alat artikulasi hakiki munculnya wakya (kata-kata) sebagai lambang untuk mengungkapkan isi sastra.

Sumber-sumber tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut:

1. Itih aji sarasoti kayatnakna de nira sang sewaka dharma, idep minaka mangsi, lidah minangka gebhang sara minaka sastra,….Artinya: Ini Aji Saraswati, (hendaknya) dipegang teguh oleh penghamba kebenaran (bahwa) pikiran itu sebagai mangsi (tinta tradisional), lidah sebagai gebhang {rontal), dan kata-kata sebagai sastranya,…. {Saraswati Merapi-Merbabu/ PNRI 1 L.254, lp 1: 1-2).

2.   … saksana matmahan wulakan nirmala Maharaja Kama rupini, satal gongnya mijil sakeng bhatari, …Artinya: Maharaja Kama Rupini segera alih rupa menjadi sumber air yang amat jernih sebesar pohon tal dari bumi (pertiwi), {Singhalangghyala Parwal PNRI 1 L.858: lp. 14 b).

3.   …panjangnyawaknirasata mamikul ta langkap. Artinya: badanya (Rama Parasu) setinggi pohon tal sambil memikul busur {Kakawin Ramayana, 11:67 d).

4. … prajnan sira n Raghusutar mamanah ta tal terus, kwehnya tatapitu katub tumuluy ikanghru. Artinya : … dengan cekatan Rama memanah pohon ta itu, semua (tujuh berjajar) tembus oleh anak panah {Ramayana, VI:157d-158a).

Kutipan di atas, menunjukkan betapa rontal/pohon tal itu diindahkan oleh rafcm’z/pujangga). Dalam lontar Saraswati Merapi-Merbabu, tertulis dengan istilah gebhang untuk menyebut rontal sebagai material-palm yang bersifat “sakral-religius”, karena rontal diberlakukan sebagai “lidah” yang merupakan alat artikulasi hakiki munculnya kata-kata yang dipakai lambang untuk mengungkapkan isi sastra. Kutipan ke- 2, menggambarkan betapa keras dan kuatnya batang pohon tal itu, sehingga rakawi memilih istilah satal untuk menyebut alih rupa prabu Kama Rupini (penganut Buddha) dalam dialog batin dengan prabu Caya Purusa (penganut Siwa). Sementara pada kutipan ke-3, melukiskan ketegapan dan ketinggian badan Rama Parasu sebagai satria sakti mandraguna, kata satal juga dipilih rakawi sebagai perbandingan allegori kesatria tersebut. Kutipan ke-4 menunjukkan betapa sucinya rontal sebagai bahan untuk menuliskan sastra suci. Dalam kutipan tersebut Sugriwa ketakutan akan kesaktian kakaknya (Subali) dalam merebut Dewi Tara, sehingga terlebih dahulu menguji kesaktian panah Rama (penegak kebenaran) untuk tempatnya berlidung.

 

2.2 Tradisi yang Hidup

Dewasa ini penyebutan istilah “lontar dan rontal” sering rancu. Hal ini terjadi karena hanya dilihat dari gejala metatesis yang terjadi pada kedua istilah tersebut. Namun, jika direnungkan secara mendalam sesungguhnya makna yang diacu jelas-jelas berbeda. Istilah “lontar” adalah untuk menyebut sebuah hasil karya (seni-sastra) yang berasal dari “rontal” {palm-leaf)-, sedangkan istilah “rontal” adalah berupa bahan tulis (material-writting) itu sendiri, dalam artian belum ada tulisan. Dengan kata lain, istilah “lontar” lebih mengacu kepada teksnya {manuscript), yakni segala sesuatu yang ditulis di atas “rontal”. Sementara istilah “rontal” lebih mengacu kepada bahan yang ditulisi, sebagaimana makna yang tersirat di dalam kata “rontal” itu sendiri, yakni: ron ‘daun’ dan fa/’pohon tal’. Dengan demikian, jika seseorang menyebut “lontar”, jelas yang dimaksudkan adalah manuscript (naskah) yang ditulis di atas “rontal”, bukan rontalnya (daun tal). Kaitannya dengan adanya “budaya lontar” di Bali, istilah “lontar” digunakan untuk menyebut tradisi sastra Bali (klasik) maupun tradisi budaya tulis-menulis masyarakat tradisional Bali yang cenderung berkonotasi arkais atau sakral-religius.
Sebuah kesepakatan masyarakat bahasa, bahwasannya di Bali pemberian nama untuk naskah kuna yang ditulis dari bahan daun tal (rontal) disebutnya sebagai naskah atau lontar, sehingga penyebutan antara lontar sebagai naskah kuna dengan rontal sebagai bahan tulis sering rancu, bahkan dalam membuat jejahitan berupa lamak, cili, tikar, aneka ragam anyam- anyaman dan sejenisnya adalah daun tal (rontal). Sebuah perbandingan untuk naskah Jawa, Batak, Sunda, Sumatra, dan sebagainya yang sebagian besar ditulis di atas kertas/daluang, kulit kayu alim, daun nipah, maupun bambu penyebutannya tidak mengacu kepada bahan yang digunakan, melainkan cenderung dengan menyebut nama daerah masing-masing. Tradisi penulisan diperkirakan sudah berusia sangat tua. Berdasarkan data-data dalam prasasti Bali Kuna disebutkan bahwa sebelum suatu tulisan dibuat di atas batu atau tembaga, pertama-tama ia ditulis di atas suatu bahan yang lain, yang diperkirakan berupa rontal, meskipun proses pembuatan/ pengolahannya tidak sesempurna ketika rontal menjadi bahan atau alat tulis utama. Keberadaan tradisi lontar tentu sangat erat kaitannya dengan tradisi tulis. Prasasti tertua di Bali berangka tahun Saka 884, menggunakan aksara Palawa berbahasa Sanskerta. Setelah itu, prasasti-prasasti Bali ditulis dalam bahasa Bali Kuna. Ketika Raja Udayana mulai berkuasa bersama istrinya, Sri Gunapriya Dharmapatni, prasasti-prasasti di Bali ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuna. Pada zaman Majapahit tradisi penulisan di atas daun tal agaknya berkembang luas. Hal ini terbukti bahwa tradisi penulisan di atas rontal juga ditemukan di Jawa, Madura, Jawa Barat, Sasak, dan juga Sulawesi. Namun demikian tradisi penulisan
lontar kini hanya hidup dan lestari di Bali. Sebagai tradisi yang hidup, tradisi lontar di Bali didukung oleh bahan baku yang cukup tersedia, sampai kepada tradisi penulisan lontar dan kegiatan membaca lontar, yang masih hidup sampai sekarang. Tradisi lontar di Bali dapat dikatakan sebagai tradisi yang sudah berkembang lebih dari satu millennium (seribu tahun).
Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali sastra (baca: lontar) lebih dipandang sebagai suatu yang suci, arkais, dan sakral-religius. Dengan kata lain, seorang yang akan menggeluti dunia lontar, dituntut memiliki pengetahuan moral-spritual dan religius yang memadai serta harus disucikan (diinisiasi) secara lahir batin. Setidaknya telah diupacarai pawintenan alit (tingkat upacara ritual/ penyucian yang paling sederhana). Di samping itu, seseorang yang telah mendalami lontar seyogyanya mampu mengendalikan diri, terutama dalam hal brata dengan sejumlah pantangan yang ada di dalamnya, baik itu berupa makanan, minuman, dan hal-hal lain yang terkait, sehingga tan kacakra de Hyang Saraswati.
Pentingnya upacara (pawintenan) ini dilaksanakan karena dalam konsepsi masyarakat Bali memandang aksara Bali (termasuk aneka tipografi yang dikenal) merupakan wahana Dewi Saraswati, yakni perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang maha Esa) dalam manifestasi dan fungsi-Nya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Sehingga ketika Hari Raya Saraswati yang datangnya setiap 210 hari, yakni pada Saniscara (Sabtu) Umanis Watugunung, diselenggarakan upacara khusus sebagai rasa sujud dan bakti kepada-Nya atas rahmat yang dilimpahkan berupa pengetahuan suci; yang pada hakikatnya menuntun umatnya ke jalan yang benar, penuh kedamaian.
Mengingat lontar sangat sarat akan pelbagai isi dan ajaran yang adiluhung, sehingga hampir setiap aspek kehidupan keseharian tercermin di dalamnya, maka tidak mengherankan hingga kini lontar sangat berfungsi dalam masyarakat Bali. Hal ini terbukti dalam pelaksanaan upacara yadnya di Bali. Hampir setiap upacara (piodalan) di Pura seluruh Bali terdapat kegiatan pembacaan kakawin, kidung, dan terkadang geguritan, yang semuanya bersumber pada lontar. Lebih konkret lagi terlihat pada upacara Pitra Yadnya (terutama upacara Asti Wedana), lontar Adiparwa bagian cerita Jaratkaru, wajib dibacakan yang disebut mamutru. Juga dalam pelaksanaan upacara dan kegiatan lainnya, peran lontar dalam segala bentuknya sangat fungsional bagi masyarakat Bali. Bagi tukang rumah Bali tradisional misalnya, tentunya membekali dirinya dengan pengetahuan yang tertera dalam lontar Asta Kosala Kosali. Juga bagi para tukang sajen {banten), wajib mengetahui dan menerapkan apa yang termuat dalam lontar jenis plutuk, dan tidak ketinggalan bagi penekun pengobatan tradisional Bali, wajib memahami lontar usada, demikian seterusnya sesuai dengan ilmu yang ditekuninya.

2.3 Antara Tradisi Lisan dan Tulis

Secara umum pada masyarakat Bali telah berkembang tradisi lisan dalam meresapi isi yang terkandung dalam lontar. Bagi peminat dan pencipta seni pertunjukkan sesungguhnya telah tersirat pemahaman terhadap lontar lewat dialog-dialog para tokoh yang ada di dalamnya sekaligus mencerminkan ajaran budi pekerti dan kebenaran yang pada intinya bersumber pada lontar sebagai bahan rujukan atau pedoman dalam perannya selaku tokoh seni pertunjukan. Hal ini terlihat pada sejumlah lakon sendratari Ramayana, Mahabharata, Tantri, seni Arja, Wayang, Drama Gong, dan sebagainya. Dengan sebutan sejumlah kutipan yang bersumber dari lontar, masyarakat selaku penonton seni pertunjukan turut diajak meresepsi makna sebagaimana yang tersurat dalam lontar yang dipakai babon seni pentas tersebut, termasuk konsep-konsep rwa-bhinneda (dua yang bertentangan) sebagai simpulan akhir dari misi yang disampaikan dalam sebuah pertunjukan. Juga dalam tradisi masatuayang sering dilakukan oleh para kakek dan nenek untuk anak cucunya adalah sebuah tradisi lisan yang bersumber pada lontar, dalam penanaman pendidikan budi pekerti dilakukan lewat makna yang terkandung dalam ceritanya yang sarat akan nilai-nilai agama dan kemanusiaan sehingga dapat dijadikan landasan berpijak dalam berpikir, berkata, dan berperilaku.
Lebih konkret lagi terlihat dalam kegiatan seni mabebasan yang dilakukan oleh sejumlah sekaha santi dalam upacara piodalan di Pura (tempat suci Hindu). Di sinilah sesungguhnya terjadi demikian kuat antara tradisi lisan dan tulis terhadap lontar tersebut. Seseorang yang mampu membaca teks kakawin dalam lontar atau buku yang bersumber dari lontar, akan tercermin sebuah tradisi tulis yang sangat kuat. Juga terhadap penerjemah {tukangartos) termasuk seluruh peserta dan masyarakat penikmat yang tengah melakukan persembahyangan pun dapat merasakan ajaran suci yang bersumber pada lontar tersebut, sehingga pikirannya menjadi semakin suci dan damai {sudha manah ira wusmaca sir a). Hal ini sesuai dengan makna yang dikandung dalam kata

pasantian, yakni tempat mencari kedamaian hati. Demikian juga yang terjadi pada pasantian udara lewat radio/ TV merupakan cerminan tradisi lisan dan tulis yang demikian kuatnya, dengan lontar sebagai sumbernya.

2.4 Aksara dan Bahasa Lontar

Aksara merupakan lambang bahasa. Hanya lewat aksaralah suatu bahasa dapat dibaca dan didokumentasikan. Sebagai sebuah lambang bahasa, aksara Bali telah berfungsi sebagai lambang identitas masyarakat Bali, sekaligus sebagai wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali. Tidak sedikit koleksi lontar, baik yang berada di Indonesia seperti: Perpustakaan Nasional RI Jakarta, Fakultas Sastra Universitas Indonesia Depok, Museum Sono Budoyo Yogyakarta, Radya Pustaka Surakarta, Lombok, dan sebagian besar di pulau Bali sekitar 50 ribu lontar, bahkan yang tengah mengembara di luar negeri tak terhitung jumlahnya, menggunakan aksara Bali sebagai sarananya.

Dari demikian banyak lontar yang tersebar di seluruh Indonesia (khususnya Bali, Lombok, Jawa) membuktikan betapa besar loyalitas orang Bali terhadap aksaranya (wrehasta, swalalita, modre), yang didasari atas tekad mempertahankan dan mengajarkan secara terus-menerus kepada generasi muda. Masyarakat Bali memandang bahwa pelestarian aksara Bali dengan segala bentuk dan sifatnya, berfungsi sebagai lambang alam semesta (makrokosmos), yang selanjutnya diyakini berkedudukan pada bhuwana alit/ badan manusia (mikrokosmos). Selain itu, adalah untuk mempelajari semua pustaka lontar yang sarat akan pelbagai ajaran ketuhanan, kesunyataan, dan kediatmikan. Hal ini terlihat dalam sejumlah bentuk ulap-ulappada setiap bangunan di Bali.

Lontar dengan aksara Bali sebagai sarana pengungkapnya sebagaian masih menggunakan bahasa Sanskerta, Jawa Kuna, Kawi-Bali/Bali Tengahan, dan yang paling banyak adalah menggunakan bahasa Bali. Untuk jenis lontar yang menggunakan jenis aksara Modre/ Suci menggunakan bahasa Sanskerta, sementara lontar yang ditulis dengan aksara Bali wrehasta sebagian besar menggunakan bahasa Bali walau terkadang masih nampak pengaruh bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna. Hal ini terbukti dalam karya sastra Bali yang berbentuk geguritan atau sekar alit. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa betapa pentingnya pemahaman aksara dan bahasa yang menjadi sarana pengungkap lontar Bali. Mengenali aksara lontar (Bali) adalah pekerjaan yang tidak mudah, yang tentunya didasari ketekunan dan kesabaran yang mendalam. Sebab aksara Bali yang ada dalam lontar bentuknya tidak standar, terkandung ciri khas aksara atau kebiasaan yang dimiliki oleh setiap penulis lontar. Sementara untuk dapat mengenal secara mendalam tentang bahasa lontar dapat dibantu dengan kamus Bali-Indonesia, kamus Sanskerta- Indonesia, kamus Jawa Kuna-Indonesia, atau setidaknya pernah membaca lontar Kerta Bhasa, Bhasa Ekalawya, dan sejenisnya, karena lontar jenis ini sama fungsinya dengan kamus. Barangkali identik dengan sebutan kamusnya lontar. .

2.5 Penulisan dan Wilayahnya

Sebagaimana halnya seorang pengarang karya Sastra Bali, maka seorang penulis/penyalin lontar pun dituntut kemampuannya dalam bidang salin- menyalin ke lontar baru. Setidaknya juga telah melaksanakan upacara pawintenan. Selain itu, seorang penulis lontar harus menyiapkan peralatan seperti: rontal/daun tal siap tulis, pangrupak/ pangutik, bantalan berupa kasur kapuk ukuran kecil sebagai alas menulis, dulangdari kayu (sejenis meja bundar) sebagai tempat menulis berikut sesajen (pejati), penggaris dan pensil, serbuk kemiri/nagasari yang dibakar sebagai tinta pekat, penakep dari kayu sawo, dan sebagainya.

Dalam Lontar Saraswati FSUI, Lt 147:6a, ada sejumlah persyaratan yang mesti direnungkan oleh seorang penulis lontar. Disebutkan bahwa sebelum memulai menulis terlebih dahulu harus memohon keselamatan kepada Hyang Yogiswara yang difilsafatkan pada kedua mata penulis; Bhagawan Mredhu di kedua tangan; dan Bhagawan Reka pada ujung pangrupak, sehingga tercapai sebuah teks yang utama, bermakna, dan memiliki taksu atau jiwa. Selanjutnya, seorang penulis lontar sama sekali tidak boleh mematikan aksara dengan sembarang mencoret (Bali: ngucek), karena akan berakibat buruk atau umur pendek. Jika mencoret sandangan/ pangangge aksara yang berada di atas aksara danti atau pokok, seperti ulu, akan berakibat buta atau sakit kepala; mencoret suku, akan berakibat sakit lumpuh; sedangkan mencoret talengdan wisah akan berakibat sakit pancek (pamali: sakit yang terasa tertusuk).

Uraian di atas membuktikan bahwa lontar jarang sekali bahkan hampir tidak pernah ditemukan aksara (Bali) yang dicoret begitu saja (bukan berarti tidak ada salah penulisan). Seandainya terjadi salah tulis, penulis dengan sendirinya membubuhkan dua sandangan!pangangge sehingga aksara yang ditulis salah tidak berbunyi apa-apa atau disebut dengan aksara mati. Dalam hal inipembaca lontar sepertinya harus tanggap bahwa jika bertemu dangan hal tersebut, semestinya secara cepat melirik aksara berikutnya yang menjadi sambungan aksara di depannya. Perlu diketahui, bahwa menulis di atas rontal berbeda dengan menulis di atas kertas biasa. Alat tulis yang terbuat dari besi yang disebut dengan pangrupak/pangutik berbeda dengan alat ukir atau pertukangan lainnya ia terdiri dari tiga sisi dengan ketajaman yang sama. Ketiga sisi ini akan dapat menghasilkan bentuk aksara yang arkais, artistik dan berjiwa. Selain peran tangan kanan, peran tangan kiri terutama ibu jari kiri sangat penting karena dapat memainkan pangrupakke arah atas bawah, digoresi secara terampil dengan penuh kesabaran, yang biasanya menggunakan sistem penomoran pada sisi b (ganda).

Jenis-jenis pangrupak yang dikenal, antara lain:

(1)  pangrupakuntuk menulis (kelancipan 45 derajat);

(2)    pangrupak untuk menggambar di Bali disebut dengan membuat prasi (lontar bergambar) memiliki kelancipan 70 derajat); dan (3) pangrupak untuk memotong daun tal, bentuknya agak lebar dan sangat tajam. Masing-masing memiliki hiasan yang berbeda-beda, seperti menyerupai ekor ular, burung merak, Ongkara, dan sebagaianya.

Sebagai gudangnya lontar, di Bali telah tumbuh secara berkelanjutan penulis-penulis lontar yang begitu handal. Mereka terdiri dari kelompok tua hingga anak-anak, bahkan sering di antara mereka mendapat piagam penghargaan, melalui Pesta Kesenian Bali sebagai ucapan terima kasih pihak pemerintah kepada para pemenang lomba. Selanjutnya, prestasi yang diperoleh secara profesional itu dapat dilestarikan dan dikembangkan di daerahnya masing-masing.

Di belahan Bali Timur (Karangasem) dijumpai penulis lontar yang masih produktif. Beranjak dari Desa Culik, Bongaya, Pendem, Budakeling, Sibetan, Tenganan Pegringsingan hingga Sidemen, dijumpai sederetan penulis lontar kenamaan. Di Geria Demung Culik misalnya terdapat seorang pendeta sangat aktif menulis lontar, juga mengolah rontal siap tulis. Selanjutnya, Wayan Muditadnyana (asal Tenganan Pegringsingan), Ida I Dewa Gde Catra, yang kini berada di kota Karangasem Utara, sangat banyak jasanya dalam menyalin lontar ke lontar baru. Juga Made Degung, yang berada di sebuah bukit di antara pohon salak (sekitar 3 kilometer) ke arah utara dari jalan raya Sibetan, nampak sangat aktif dalam kegiatan tulis-menulis di atas daun tal. Tidak saja kegiatan penyalinan ke lontar baru yang dilakukan bersama istrinya, melainkan telah berpredikat sebagai pengarang karya sastra berupa puisi Jawa Kuna {kakawin), yakni Kakawin Eka Dasa Siwa, Kakawin Nilacandra, dan Candra Banu {Dharma Acedya) yang kini tengah dirampungkan.

2.6 Lontar dan Tradisi Baru dalam Masyarakat

Bali

Tradisi baru tentang budaya lontar dalam perkembangan masyarakat di Bali dewasa ini tidak hanya digunakan untuk menyalin dari lontar ke lontar baru, namun terjadi suatu kreativitas yang dinamis. Terbukti dengan adanya kegiatan menulis lontar dalam aksara Bali dan Latin berbahasa Bali dan Asing (Inggris, Jerman, dan lain-lain) berupa kartu nama yang dikemas sedemikian rupa dan nampak artistik. Hal ini membuat para wisatawan (domestik maupun mancanegara) tertarik hatinya dan sekaligus memesan kartu nama/alamatnya sendiri sebagai souvenir selama kunjungannya di Bali.

Pada masyarakat Sidemen Karangasem misalnya nampak kelompok muda yang mampu menggambar di atas rontal secara profesional dengan menggunakan sarana pangrupak yang beraneka ragam bentuk dan hasilnya dipasarkan ke Tenganan. Hampir sepanjang Desa Tenganan digelar lontar bergambar {prasi), yang sebagian besar berisi cuplikan cerita yang bernuansa Bali dengan keterangan yang ditulis dalam aksara Bali. Cuplikan- cuplikan tersebut diambil dari cerita Ramayana Mahabharata, Sutasoma, Tantri, dan sebagainya yang sekiranya menarik untuk pariwisata.

Selain itu, dengan adanya program Bali Sim bar yang dirancang demikian apiknya oleh I Made Swacana, telah membawa angin segar terhadap perkembangan budaya lontar ke arah tradisi baru. Melalui peremajaan penyalinan lontar ke dalam aksara yang sama (aksara Bali), dapat menarik minat masyarakat pembaca aksara Bali lebih meningkat, karena dengan sistem komputerisasi aksara Bali, nampak bentuk-bentuk aksara Bali yang demikian standar sehingga dalam membaca terkesan lebih mudah. Di samping itu program ini setidaknya dapat dijadikan penunjang dalam mempelajari atau membaca naskah aslinya yang berupa lontar.

2.7 Antara Buku dan Lontar

Walau secara umum antara naskah (salinan atau asli) yang beraksara Bali yang tersurat di buku-buku dengan yang tersurat di atas daun tal nampak sama dari segi isinya. Namun, nilai yang terkandung dari kedua naskah dengan bahan yang berbeda itu sepertinya berbeda. Seseorang yang tengah membaca sebuah teks lontar sangat yakin akan adanya suatu nilai yang kramat, suci, dan seolah teks yang sedang dihadapi memiliki jiwa.

Tentunya hal ini dapat diterima akal sehat, karena sebagaimana disaksikan bersama bahwa setiap pustaka lontar yang telah siap untuk dibaca di khalayak umum, telah dilakukan sebuah upacara pasupati, yakni upacara yang diyakini oleh masyarakat Bali untuk mohon kepada Sanghyang Aji Saraswati agar berkenan menjadikan stana/wahana setiap aksara yang telah tersurat di atas rontal, sehingga menjadi sebuah lontar yang memiliki jiwa.

Memang jika dipandang dari segi kemudahan, kebebasan atau kepraktisan dalam proses membaca, mempelajari, atau membawanya ke mana-mana nampak lontar agak sulit. Namun, lontar tetap mempunyai nilai lebih, yakni teks yang berjiwa atau mataksu, walau telah disadari bahwa aksara Bali dalam bentuk buku pun sama-sama merupakan wahana (palinggih) Ida Sanghyang Aji Saraswati. Yang terpenting di sini adalah bagaimana ilmu pengetahuan yang diserap dari hasil membaca teks lontar ataupun berupa buku tersebut, dapat dihayati nilainya ke dalam lubuk hati pembaca yang pada gilirannya mampu mengamalkan atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

III. Penutup

Demikian uraian ringkas tentang lontar, sebagai sebuah tradisi yang masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat Bali sejak zaman silam hingga kini. Sebagai daerah yang kini telah mendapat pengaruh luar dan globalisasi, namun tradisi lontar masih tetap eksis dan merupakan salah satu aset atau kekhasan budaya Bali yang perlu mendapat perhatian secara berkelanjutan terutama bagi pencinta sastra klasik, cendekiawan, para filolog, dan yang terkait lainnya.

Daftar Pustaka

Agastia, IBG. 1987. “Kepustakaan Bali sebagai Sumber Nilai-nilai Spritual”. Makalah pada Bulan Bahasa Denpasar.

Bagus, IGN. dkk. 1987/1988. Analisis dan Kajian Geguritan Salampah Laku, Karya Ida Padanda Made Sidemen. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

_________ . 1980. Aksara dalam Kebudayaan Bali.

Suatu Kajian Antropologi. Denpasar: Universitas Udayana.

Damono, Sapardi Joko. 1978. SosiologiSastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ikram, Achadiati. 1982. “Beberapa Masalah Perkembangan Ilmu Filologi Dewasa ini. Jurusan Sastra Indonesia FSUI.

Mangunwijaya, Y.B. 1982. Sastra dan Religiusitas. Jakarta: Sinar Harapan.

Subadio, Haryati. 1991. “Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu dalam Naskah dan Kita” Jakarta: Lembaran Sastra Nomor Khusus 12 Januari FSUI, Depok.

Swastika, I Made. 1985. “Konsepsi Kelepasan Seorang Penyair (Studi Pendahuluan Karya- karya Ida Pedanda Made Sidemen)”. Makalah yang disajikan dalam seminar Baliologi Denpasar.

Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Warna, I Wayan. dkk. 1978. Kamus Bali-Indonesia.

Dinas Pengajaran Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan Sastra JawaKuna SelayangPandang. Jakarta: Djambatan.

 

Dewasa ini penyebutan istilah “lontar dan rontal” sering rancu. Hal ini terjadi karena hanya dilihat dari gejala metatesis yang terjadi pada kedua istilah tersebut. Namun, jika direnungkan secara mendalam sesungguhnya makna yang diacu jelas-jelas berbeda. Istilah “lontar” adalah untuk menyebut sebuah hasil karya (seni-sastra) yang berasal dari “rontal” {palm-leaf), sedangkan istilah “rontal” adalah berupa bahan tulis (material-writting) itu sendiri, dalam artian belum ada tulisan. Dengan kata lain, istilah “lontar” lebih mengacu kepada teksnya {manuscript), yakni segala sesuatu yang ditulis di atas “rontal”. Sementara istilah “rontal” lebih mengacu kepada bahan yang ditulisi, sebagaimana makna yang tersirat di dalam kata “rontal” itu sendiri, yakni: ron ‘daun’ dan fa/’pohon tal’. Dengan demikian, jika seseorang menyebut “lontar”, jelas yang dimaksudkan adalah manuscript (naskah) yang ditulis di atas “rontal”, bukan rontalnya (daun tal). Kaitannya dengan adanya “budaya lontar” di Bali, istilah “lontar” digunakan untuk menyebut tradisi sastra Bali (klasik) maupun tradisi budaya tulis-