Masalah Kita

Banyak keluhan yang disampaikan para Pustakawan yang mengajukan Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) kepada Tim Penilai mengenai penolakan angka kredit, karena angka kredit yang disetujui ternyata tidak seperti yang diharapkan. Hal tersebut kemudian menimbulkan kesan seolah-oleh Tim Penilai telah berbuat sewenang-wenang, dan tidak obyektif terhadap Pustakawan.

Kesan tersebut apabila dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan ketidakpercayaan Pustakawan kepada Tim Penilai. Tim Penilai tidak dapat sembarangan menolak angka kredit yang diusulkan tanpa alasan yang jelas, karena setiap alasan penolakan harus tertuang pada berita acara yang ditandatangani oleh semua anggota Tim Penilai. Demikian pula Tim Penilai dibentuk dengan tujuan untuk menunjang kelancaran proses kenaikan pangkat/jabatan Pustakawan, bukan sebaliknya, sehingga Tim Penilai tidak beralasan untuk menghambat atau mempersulit Pustakawan

Untuk menghilangkan kesan negatif dan salah persepsi, maka perlu diketahui syarat apa saja yang diperlukan sehingga angka kredit yang diajukan tidak ditolak, antara lain:

  • Bukti kegiatan tidak terlampir.

Misalnya Pustakawan mengajukan angka kredit dari kegiatan pendidikan, seminar, penghargaan dll. yang memerlukan lampiran bukti, ternyata bukti yang dimaksud seperti ijazah, piagam, dan sertifikat tidak terlampir.

 

Kegiatan yang dilakukan sudah kadaluarsa.

Tim Penilai menilai angka kredit dari kegiatan Pustakawan yang dilakukan sejak t.m.t. kenaikan pangkat atau jabatan terakhir, sehingga apabila ada kegiatan yang diusulkan oleh Pustakawan ternyata pelaksanaannya sebelum t.m.t. kenaikan pangkat/jabatan terakhir, maka oleh Tim Penilai angka kreditnya ditolak. Dalam hal ini belum ada kesamaan pendapat di antara Tim penilai dengan instansi terkait (BAKN) dalam proses kenaikan pangkat/jabatan Pustakawan. Perpustakaan Nasional RI sedang mengupayakan pemecahan masalah ini sehingga tidak merugikan Pustakawan.

 

  • Kegiatan yang dilakukan tidak termasuk tugas pokok jabatan.

Walaupun kegiatan tersebut benar-benar dilakukan, namun karena tidak termasuk tugas pokok menurut jabatannya, oleh Tim Penilai angka kreditnya ditolak. Contohnya Pustakawan dengan jabatan Asisten Pustakawan melakukan klasifikasi.

 

  • Kegiatan yang dilakukan oleh suatu tim tetapi diajukan sebagai kegiatan yang dilakukan sendiri.

Misalnya satu tim terdiri dari 3 orang Pustakawan menyusun bibliografi yang berisi 1.200 entri. Kemudian masing-masing Pustakawan mengajukan DUPAK dari kegiatan menyusun bibliografi tersebut sebanyak 1.200 entri. Seharusnya prestasi dibagi tiga yaitu 1.200 : 3 = 400 entri.

 

  • Kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan pengertian menurut SK MENPAN no. 18 tahun 1988.

Misalnya seorang Pustakawan melakukan kegiatan “menyediakan bahan pustaka”. Seperti diketahui kegiatan ini biasa di perpustakaan yang memakai sistem pelayanan tertutup. Kegiatan mengembalikan buku ke rak, kadang-kadang oleh pustakawan yang bekerja  di perpustakaan dengan sistem terbuka disamakan dengan kegiatan menyediakan bahan pustaka. Karena kegiatan ini tidak secara penuh “menyediakan bahan pustaka”, oleh Tim Penilai angka kreditnya juga tidak dihargai secara penuh.

 

  • Prestasi yang diajukan Pustakawan dalam DUPAK tidak wajar.

Misalnya seorang Pustakawan mengajukan angka kredit dari berbagai macam kegiatan. Setelah diperiksa dan dinilai oleh Tim Penilai, ternyata kegiatan tersebut apabila benar-benar dikerjakan. Pustakawan yang bersangkutan tidak pernah istirahat bahkan tidak sempat tidur.

 

  • Angka kredit dari unsur penunjang melebihi 30%.

Pengurangan angka kredit dilakukan agar perbandingan antara unsur utama dan unsur penunjang proporsional (70% : 30%), sehingga apabila ada Pustakawan yang mengajukan angka kredit dari kegiatan penunjang lebih dari 30%, oleh Tim Penilai terpaksa sebagian ditolak.

 

  • Terdapat kesalahan menghitung angka kredit.

Kadang-kadang Pustakawan dalam menghitung angka kredit yang dicantumkan pada DUPAK terdapat kesalahan, sehingga kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya. Apabila terjadi demikian, Tim Penilai akan membetulkan dan konsekuensinya angka kredit yang disetujui bisa lebih kecil atau lebih besar. Bagi Pusatakawan yang menghitung angka kredit terjadi kesalahan sehingga lebih besar dari yang seharusnya, maka yang akan disetujui oleh tim Penilai akan lebih kecil, sehingga seolah-olah ditolak/dikurangi. Sebaliknya, bagi Pustakawan yang menghitung angka kredit lebih kecil dari yang seharusnya, maka yang disetujui oleh Tim Penilai akan lebih besar.

 

Itulah beberapa penyebab ditolaknya angka kredit Pustakawan. Untuk menghindari hal-hal tersebut, alangkah baiknya Pustakawan meneliti kembali SK MENPAN No. 18/1988 serta tata cara pengajuan angka kredit.