Melahirkan Penulis Dari Perpustakaan

Jika saja setiap penulis mau bercerita tentang seberapa peran buku dan perpustakaan sehingga mereka bisa menghasilkan karya buku, mungkin akan lebih menarik dan membantu tentang pentingnya peran dan fungsi dari perpustakaan dalam melahirkan penulis.

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang hingga kini masih termarginalkan. Bahkan, dalam pelajaran Bahasa Indonesia masih lebih banyak berkutat pada tata bahasa. Sehingga proses untuk melahirkan satu kalimat saja terasa sulit. Takut menyalahi kaidah tata bahasa.

Menulis baru dianggap penting kala mendapat tugas menyusun makalah, skripsi, karya tulis dan tesis. Itu pun banyak diwarnai kebohongan intelektual dengan “membengkelkan” proses pembuatannya pada jasa pembuatan skripsi yang banyak bertebaran. Seolah menulis hanyalah proses untuk meraih formalitas belaka, demi selembar ijazah.

Perpustakaan merupakan titik temu antara budaya membaca dan budaya menulis. Keduanya merupakan hal yang berkaitan erat. Ibarat dua sisi mata uang. Bak kisah tentang ayam dan telur yang sangat berhubungan. Selalu mengundang perdebatan mana yang lebih dulu hadir di dunia.

Keberadaan sebuah tulisan tentu mengandung maksud agar dibaca oleh manusia dan informasi yang ada didalamnya tetap lestari serta memberi faedah bagi kehidupan manusia. Proses membaca tulisan jika dilakukan secara konsisten akan menambah tabungan intelektual dan spiritual si pembaca. Tumpahan dari tabungan informasi inilah yang melahirkan kristalisasi ide untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Perpustakaan sejatinya merupakan pabrik ide, gagasan, pengetahuan, dan informasi bagi siapa saja yang mau mendatanginya. Sejarah mencatat para penulis besar terlahir dari ruang ini. Proklamator RI, Bung Karno dan Bung Hatta adalah para penulis ulung yang sepanjang hidupnya mengakrabi perpustakaan. Ribuan koleksi buku menjadi santapan dwi tunggal tersebut.

Setiap ruang yang menjadi tempat pembuangan mereka oleh pemerintah Hindia Belanda selalu penuh dengan deretan buku yang tertata rapi di rak. Demi mengenang jasa keduanya, Perpustakaan Nasional mendirikan Perpustakaan Bung Karno (Blitar) dan Perpustakaan Bung Hatta (Bukittinggi).

Perpustakaan Baitul Hikmah yang berdiri pada 830 M (Baghdad) juga melahirkan banyak penulis. Dalam buku “12 Tokoh Pengubah Dunia” karya Khalid Al Hadad (2009) disebutkan bahwa Khalifah Al-Ma’mum memercayakan pengaturan Baitul Hikmah pada Al-Khawarizmi.

Al-Khawarizmi dikenal sebagai penulis tentang ilmu pengetahuan, seperti buku Al-Jabr wal Muqaabalah. Buku ini merupakan salah satu yang menjadi rujukan utama ilmu matematika terutama Ilmu Aljabar. Di cetak untuk pertama kalinya pada tahun 1831 di London. Lalu, buku Shuuratul Ardh yang merupakan buku geografi yang banyak berisi tentang peta. Buku ini dicetak dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1926 dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman pada tahun 1932.

Saat itu Perpustakaan Baitul Hikmah menjadi tempat berkumpul para penulis, ilmuwan, dan pecinta ilmu pengetahuan. Di sini, buku-buku terbitan Barat (Yunani) dan Timur (India, Persia, dan China) dibaca, ditelaah, didiskusikan, dikritisi, diterjemahkan dan kemudian ditulis ulang. Perpustakaan menjadi titik pertemuan buku-buku dari Barat dan dari Timur yang selanjutnya dikembangkan para cendekiawan Islam menjadi berbagai ilmu pengetahuan, seperti filsafat,  matematika, astronomi, kedokteran, fisika, bahkan ilmu metafisika.

Desain perpustakaan yang menarik diperlukan agar banyak muncul para penulis sesuai dengan keahliannya sendiri. Perpustakaan menunggu kepedulian para penulis yang sudah menikmati jerih payah melukis kata untuk hadir di perpustakaan. Memberi pelatihan menulis bermodalkan ribuan judul buku yang tertata rapi dalam deretan rak buku.

Perpustakaan menanti tersentuhnya hati para guru untuk mengajak anak didiknya berwisata hati, jiwa, dan pikiran membuka lembar demi lembar buku. Ibarat mencari mutiara berharga yang terkandung di dalamnya.

Fungsi buku adalah menggerakkan pikiran. Mensinergikan gagasan penulis yang berhasil diserapnya dengan gagasan yang sebelumnya telah tertanam di alam pikirnya.

Efektivitas memunculkan gagasan baru lewat pembacaan sebuah buku akan semakin menemukan bentuknya bila disertai dengan aktivitas menulis. Karena menulis adalah proses mengikat makna.

Untuk melahirkan penulis dari perpustakaan, perpustakaan di berbagai tempat memiliki jadwal rutin untuk mengundang para pelajar dari berbagai sekolah mengunjungi perpustakaan. Pelajar yang berkunjung ke perpustakaan harus disambut dengan “paket ramah pengunjung”.

Aktivitas mengunjungi perpustakaan mendidik pengunjung agar sadar akan sumber-sumber informasi, fasilitas yang tersedia di perpustakaan, serta melatih pengguna perpustakaan dalam memanfaatkan sumber-sumber tersebut secara tepat. Dengan dibimbing, para pengguna  diharapkan bisa dan mampu memanfaatkan perpustakaan dengan baik.

Setiap buku ada sasaran pembacanya yang tepat. Pengadaan buku di perpustakaan harus berorientasi pada pengunjung perpustakaan. Sehingga semua koleksi buku yang dimiliki perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh pembaca yang tepat. Setiap pembaca tersedia bacaan yang tepat. Pengguna perpustakaan memperoleh pilihan bacaan yang tepat dan semua buku yang ada di perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengguna.

Selain itu, tidak ada salahnya mengadakan permainan (game) perpustakaan. Sejenis permainan yang dirancang guna mengenalkan manfaat perpustakaan kepada pengunjung. Game dibuat menarik dan meriah. Aturan game mewajibkan setiap pemain yang terlibat harus berburu informasi tentang aneka ilmu pengetahuan dengan menelusuri judul-judul buku di perpustakaan. Ini menjadi cara yang mengasyikkan dalam mengenalkan manfaat buku kepada anak-anak.

Jangan lupa, setiap pelajar atau pengunjung yang datang ke perpustakaan wajib menuliskan kesan dan pesan tentang buku yang dibacanya. Khusus bagi pelajar, bisa menuliskan dalam bentuk sinopsis maupun resensi. Sinopsis adalah cara belajar menulis yang paling mudah untuk anak-anak SD dan SMP. Sedangkan, bagi pelajar SMA bisa menuliskan resensi buku untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sebuah buku.

Perpustakaan tak hanya melayankan buku namun juga melayankan informasi, pengetahuan, seni, dan sastra dalam bentuk film edukatif. Setelah menonton film, anak-anak diarahkan untuk menuliskan jalan cerita film tersebut sekaligus nilai-nilai edukatif yang bisa dipetik.

Dengan kegiatan ini perpustakaan mampu menyatukan budaya membaca, menonton, dan menulis. Saling melengkapi guna mencerdaskan anak bangsa!