Menelusuri Jejak Cerita Rama Dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R. Ng. Ranggawarsita

Pengantar
Ramayana adalah karya agung dari India, berbahasa Sanskerta, yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. Keagungan dan kemasyuran kisah Ramayana ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya,  bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri, sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Ramayana akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita, 1979: 1). Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini?
Ada seorang putra Brahmana, yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok, tumbuh menjadi seorang penjahat. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarsi), ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: mara, mara, mara, terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya, selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. Pada waktu Saptarsi menengoknya, si petapa tetap pada tempatnya semula, tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: mara, mara, mara sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rama, Rama, Rama. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah ‘onggokan sarang semut hutan’ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmika. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Walmiki (Padmapuspita, 1979: 1-2).
Pada waktu Walmiki akan menggubah Ramayana, ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriak-riak. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. Dalam mitologinya, Ramayana dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang, yaitu 400 tahun, dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. Adapun Mahabharata karya Mpu Vyasa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun, dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi.  Baik Ramayana maupun Mahabharata termasuk Itihasa, kitab suci Weda yang kelima, melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita, yang terdiri dari Rg-Weda, Sama-Weda, Yayur-Weda, dan Atharwa Weda. (Padmapuspita, 1979: 1-2).
Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Ramayana adalah: (a)  Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan.  Rama  melambangkan satria Arya yang, didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwaja, Atri, Sarabhangga, Agastya, Sutiksna), menyerang Langka hingga takluk. Dalam hal ini cerita Rama dianggap sebagai dokumen sejarah; (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah, dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi, pertentangan Subali melawan Sugriwa, dan politik tinggi Wibisana; (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih, kesetiaan, kesucian yang tiada taranya; (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat, lebih-lebih bagi golongan Waisnawa, yang menganggap bahwa Rama adalah penjelmaan Dewa Wisnu; (e)  Dasar pola cerita Rama merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta, 1963: 12-13; Surjohudojo, 1961: 4-10).
Di India, selain Walmiki yang berhasil menggubah Ramayana, penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rama–Sita tersebut, misalnya: Raghuvangsa (keturunan Raghu) karya Kalidasa, Ravanavadha (pembunuhan Ravana) oleh Bhatti, Janakiharana (penculikan Sita) oleh Kumaradasa;,  Uttara Rama oleh Bhavabhutti,  Ramacaritamanasa (telaga kisah Rama) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das), dan Ramayana Kathasara-manjari oleh Ksemendra (Darusuprapta, 1963: 48;  Surjohudojo, 1961: 10).
Cerita Ramayana dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Di Asia Tenggara cerita Rama terdapat di Vietnam, Kamboja, Laos, Birma, Filipina, Thailand, Melayu, maupun Jawa (Manu, 1998: 136-146). Di Indonesia cerita Rama digubah ke dalam Kakawin  Ramayana maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Serat Rama Keling, adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Ramayana. Dari berbagai penelitian para ahli teks, Kakawin  Ramayana diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M), ketika kekuasaan rajawi masih berpusat di Jawa Tengah. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar, Manomohan Ghosh, Camille Blucke, dan Hooykaas, diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin  Ramayana adalah Ravanavadha karya Bhattikâvya (Poerbatjaraka, 1957: 2-3; Surjohudojo, 1961: 11-12; Darusuprapta, 1963: 53-56;  Padmapuspita, 1979: 3; Zoetmulder, 1983: 288-290; Manu, 1998: 137;  Somvir, 1998: 19-20). Berkait-an dengan penulisan Kakawin Ramayana, pada mulanya para sarjana, seperti:  Kern, Juynboll, Berg, dan Hooykaas, mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Ramayana adalah Yogiswara (Darusuprapta, 1963: 60).  Baris kalimat yang memuat kata yogiswara tersebut berbunyi: “Sang yogiswara çista sang sujana çuddha manahira huwus mace sira”, yang artinya sang yogiswara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Ramayana ini) (Darusuprapta,  1963: 60). Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogiswara harus diartikan sebagai ‘pendeta besar’, bukan menunjuk pada penulis Kakawin  Ramayana, sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali.
Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogiswara sebagai pencipta Kakawin Ramayana menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir, 1998: 20). Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogiswara dalam memilih Bhattikâvya adalah bahwa penyair Bhatti tergolong ke dalam sekte Shiwa.  Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atribut-atribut Shiwa di candi Prambanan. Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogiswara untuk memilih Bhattikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin  Ramayana (Somvir, 1998: 20-21). 
Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Ramayana menurut tradisi Bali, Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin  Ramayana adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogiswara. Rangkaian kata-kata “çista sujana çuddha manahira” itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata  çista = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13).  Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çista yang artinya ‘terpelajar’ atau ‘pandai’ diberi arti ‘8’, sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata “guna” sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Ramayana tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Ramayana adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogiswara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogindra yang diberikan kepada Walmiki. Bhatti sendiri (pengarang Ravanavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari.  Dalam hal ini kata bhatti dapat dihubungkan dengan kata bhatta, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979:  14-15).
Dalam perkembangannya Kakawin  Ramayana digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Serat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152;  Darusuprapta, 1963: 43;  Ricklefs, 1997: 276). Kakawin  Ramayana juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Serat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Serat Arjunasasra atau Serat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138).
Bila cerita dalam Ramayana dan Mahabharata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam pewayangan.  Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Serat Kandha Lampahan Jayasemadi, Serat Kandha Lampahan Semar Boyong, Serat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya.
 
Serat Pustakaraja
Sebelum dikemukakan jejak cerita Rama dalam Serat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Serat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Serat Ajipamasa maupun Serat Witaradya. Bedanya, kalau Serat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Serat Ajipamasa dan Serat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakemipun panjenengan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan ‘Rajanya Kitab’, karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Serat Raja, amargi dados tetunggul tuwin dados baboning Serat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7).
Serat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Serat Pustakaraja Purwa dan Serat Pustakaraja Puwara. Serat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu:
1. Serat Maha Parwa, meliputi: a. Serat Purwa Pada; b. Serat Sabaloka.
2. Serat Maha Déwa, meliputi: a. Serat Déwa Buddha; b. Serat Dewa Raja.
3. Serat Maha Resi, meliputi: a. Serat Resi Kala; b. Serat Buddha Kresna.
4. Serat Maha Raja, meliputi: a. Serat Raja Kanwa; b. Serat Palindria; c. Serat Silacala; d. Serat Sumanasantaka.
5. Serat Maharata, meliputi: a. Serat Dyitayama; b. Serat Tritarata; c. Serat Sindula; d. Serat Rukmawati; e. Serat Sri Sadana.
6. Serat Maha Tantra, meliputi: a. Serat Sri Kala; b. Serat Raja Watara; c. Serat Crita Kaprawa; d. Serat Ariawanda; e. Serat Para Patra.
7. Serat Maha Putra, meliputi: a. Serat Mahandya Purwa; b. Serat Suktinawyasa; c. Serat Hariwangsa; d. Serat Darma Sarya; e. Serat Kumbayana; f. Serat Wanda Laksana; g. Serat Darma Mukta; h. Serat Dreta Negara.
8. Serat Maha Dharma, meliputi: a. Serat Kuramaka; b. Serat Smara Dahana; c. Serat Ambarawaja; d. Serat Krida Kresna; e. Serat Kunjarakarna; f. Serat Kunjara Kresna; g. Serat Partayagnya; h. Serat Manik Harya Purwaka; i. Serat Sumantri Parta; j. Serat Dewa Ruci; k. Serat Parta Wiwaha/Mintaraga; Serat Indra Naraga; m. Serat Urubaya; n. Serat Domantara; o. Serat Bomantaka; p. Serat Baratayuda; q. Serat Kirimataya;   r. Serat Darmasarana; s. Serat Yudhayana.

Serat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu:
1. Serat Maha Parma, meliputi; a. Serat Budhayana; b. Serat Sariwahana; c. Serat Purusangkara; d. Serat Partakaraja; e. Serat Ajidharma; f. Serat Ajipamasa.
2. Serat Maharaka, meliputi; a. Serat Witaradya; b. Serat Purwanyana; c. Serat Bandawasa; d. Serat Déwatacèngkar.
3. Serat Maha Prana, meliputi: a. Serat Widayaka; b. Serat Danèswara; c. Serat Jaya Lengkara; d. Serat Dharma Kusuma; e. Serat Catasi Panuaka.
4. Serat Maha Krasma, meliputi: a. Serat Surya Wisésa; b. Serat Raja Sunda; c. Serat Madu Sudana; d. Serat Panca Prabanggana.
5. Serat Maha Kara, meliputi: a. Serat Mundingsari; b. Serat Raja Purwaka; c. Serat Maha Kara.
6. Serat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49;  Sri Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Serat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongeng-dongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa:
“Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek  Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitab-kitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Resi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186).

C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil   tidaklah penting. Apabila R.Ng. Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern, maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu, karena yang disebut belakangan ini (R.Ng. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah, akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra, pujangga dalam arti yang asli, “manusia ular”. Di sini C.C. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg, 1974: 87).
Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan:

“Rangga Warsita’s books on mythology and ancient history, which he called Pustaka Raja, Books of Kings, impress the reader in a remarkable way. 

The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology, solar and lunar years, of Rangga Warsita’s own invention, and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable, which it is not. Rangga Warsita’s chronicles of creation, cosmogony, myth and epics have parallels in the literatures of other peoples. His, at first sight preposterous, idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order, which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud, 1967: 170).
 
Menurut Sri Mulyono, Serat Pustakaraja, khususnya Serat Pustakaraja Purwa, adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahabharata dengan berbagai adaptasi dan inovasi. Serat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahabharata versi Indonesia) (Mulyono, 1989: 202). Serat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramayana maupun Mahabharata. Keanehan dalam Serat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R.Ng. Ranggawarsita sendiri. Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Serat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya. Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R.Ng. Ranggawarsita (Serat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah, yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono, 1989: 202; Wiryamartana, 1980: 2).

Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja
Di dalam Serat Pustakaraja jejak cerita Rama terdapat di dalam: 1) Serat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa), 2) Serat Suktinawyasa bagian Serat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa), 3)  Serat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Serat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Serat Maha Parma (bagian Serat Pustakaraja Puwara), 4)  Serat Purusangkara maupun Serat Mayangkara  yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Serat Maha Parma (bagian Serat Pustakaraja Puwara). 
Adapun jejak cerita Rama dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut:

Cerita Rama dalam Serat Rukmawati
Pujangga R. Ng. Ranggawarsita di dalam Serat Pustakaraja menyatakan:

Serat Rukmawati, wiyosipun punika cariyos lalampahan-ipun Dèwi Rukmawati, putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amemeca saha mitulungi sarana dha-teng sadhengaha ingkang nedha tulung.  Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamenang, panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853, kaétang ing taun Candra-sangkala amarengi 879 (Ranggawarsita, 1938: 17).

(Serat Rukmawati, inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati, putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang, penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853, dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879).
 
Adapun cerita dalam Serat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau  terhitung tahun Candrasangkala 467 (Resi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya, 1994: 33).
Dikemukakan dalam Serat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali, Madura dan Sumatra. Di Jawa ada empat raja: (1)  Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma), kerajaannya di Gilingwesi tanah Prayangan (Priangan). (2)  Prabu Sri Mahapunggung, kerajaannya di Purwacarita, termasuk tanah Kendal atau Pekalongan.  (3)  Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung), kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita, 1939: 2-3;  Kamajaya 1994: 2).  Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati, putra Sang Hyang Anantaboga, turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur sampai ke mancapraja (mancanegara).  Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa.  Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana, cicit Sang Hyang Pancaresi, menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. Oleh Dewi Rukmawati, Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi, termasuk dalam wilayah  negara Ngayodya,  sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Resi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Resi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata, sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. Permintaan Resi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba, terutama kepala seseorang, seketika akan menjadi abu. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata, akan tetapi Resi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata menolak, tetapi terus dikejar oleh Resi Anggira. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. Ketika Resi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. Ketika membersihkan rambutnya, Resi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat, sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita, 1939: 12-14;  Kamajaya, 1994:  3-10). Di dalam Serat Pustakaraja kisah mengenai Resi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut:
Sareng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata, aturipun Dèwi Rukmawati: ‘Kakang Prabu, menggah ingkang dados karsa paduka angudi wekasing tumuwuh ambabaraken wiji punika, sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa, nanging wonten sarananipun; panggénanipun sarana dumunung wonten sabrang ing wana Madura tanah Hindi, talatahipun nagarai Ngayodya.’
Ing ngrika wonten Jamur-dipa, kadadosan awunipun Resi Anggira, ugi sinebat nama Maharsi Paspa. Déné dados awu, bubukanipun makaten: ‘Kala ing kina Resi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sepuh. Kala semanten nuju dhateng kanugrahanipun Resi Anggira katedhakan Sang Hyang Jagadnata. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: ‘Heh Anggira sutaning Sakru, putuning Sakutri, ba-nget temen eggonnira kapati-brata, apa kang dadi sedyanira ing mengko sayekti sun-turuti’
Aturing Resi Anggira: ‘Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad, mugi kasembadanana ing panuwun-amba. Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna, menawi anggepok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau, sageda lajeng dados awu sami sanalika.’
Sang Hyang Jagadnata angandika: ‘Lah iya ingsun wus anembadani.’ Resi Anggira umatur: ‘Dhuh Pukulun, sarèhning sampun kasembadan ing sapanuwun amba, kawula kamipurun anunuwun tandha, manawi amarengaken kawula kalilana anggrayang mustaka paduka.’
Sang Hyang Jagadnata boten amarengi, nanging Resi Anggira adreng badhé pari-peksa. Sarèhning tedhakipun Sang Hyang Jagadnata boten wonten ingkang ndhèrèkaken, Sang Hyang Jagadnata lumajeng, lajeng binujeng. Sareng mèh kacandhak, Sang Hyang Jagadnata lajeng muksa. Boten watawis dangu, rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. Resi Anggira sareng aningali langkung kasmaran, lajeng pitakèn nam-anipun. Rama-paduka angaken nama Dèwi Anggarini. Resi Anggira boten darana Dèwi Anggarini lajeng rinarurum ingarih-arih. Dèwi Anggarini darbé panedha, sarèhning Resi Anggira mentas tapa lami, kinèn adus karamas rumiyin. Manawi sampun suci badan, sumanggèng karsa. Resi Ang-gira langkung suka lajeng dhateng ing lèpèn sumedya adus karamas. Saking déné srenging karsa, supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna. Sareng karamas tanganipun kadamel anguyeg sirah, sami sanalika wau Resi Anggira la-jeng dados awu, Dewi Anggarini uninga manawi Resi Ang-gira pejah dados awu, lajeng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih, sarwi angandika makaten: ‘Hèh Resi Anggira ing mengko sira nemu wewelèh dadi awu dhéwé. Sira mari aran Resi Anggira, sayektiné ing mengko sira aran Maharsi Paspa, awit sira wujud awu.’ Sasampunipun ngandika makaten, rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. Punika kakang Prabu, bubukanipun ing kina. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katelah sinebut Jamur-dipa. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamel sarananipun tiyang ig-kang sumedya angudi wekasing tumuwuh ambabaraken wiji.
 
Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. Di dalam Serat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut:

… gentos kacariyos, nagari ing Ayodya, ing nalika punika ingkang jumeneng nata ajujuluk Prabu Dhasarata, terahipun Ikswaku, ratu limpad ing Serat Wéddha, akaliyan Serat Weddhangga, sidik ing paningal, bijaksana, mandraguna sinekti, kinèdhepan samaning tumuwuh, putus dhateng kawajiban suci. Ratu pinandhita, mèh anyamèni para maharsi, kekah ing adilipun, kawasa amenggak budi hawanipun, saking anggènipun mungkul ing katemenan sarta anetepi agami tigang prakawis.
Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga, prasasat sami akaliyan para déwa. Lulus tata-raharjaning praja. Ing kitha wau titiyangipun sami begja, boten wonten tiyang bodho, boten wonten tiyang kesèd, boten wonten tiyang musakat, boten wonten tiyang awon warninipun. Boten wonten tiyang ingkang drengki, boten wonten tiyang ingkang tanpa aji. Boten wonten tiyang ingkang awon griyanipun, boten wonten tiyang ingkang alit manahipun, boten wonten tiyang celak umuripun. Boten wonten tiyang sakedhik anakipun, boten wonten tiyang murtad, boten wonten tiyang ingkang boten netepi wajibing ngagesang. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni, tani-tani sarta bekti-bekti ing laki, boten wonten tiyang ingkang manganggé lungsed. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinengga ing kancana sosotya nawaretna, sarwi agaganda amrik arum. Kitha wau rineksa ing prajurit éwon, anggigirisi kados latu murub, sarta boten saged kawon perang. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu, ingkang sampun misuwur ing kautamanipun, bijaksana, sami limpad ing kawruh wéddha, putus dhateng wajib pangerèhing praja, boten pegat anggenipun ambudi wewahing kaluhuraning ratunipun.

 ( … kemudian diceritakan, nagari di Ayodya, pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata, keturunan Ikswaku, raja yang (telah) ahli dalam Serat Wéddha dan Serat Wéddhangga, tajam penglihatannya, bijaksana, sangat sakti, disegani oleh sesama makhluk,  putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci.  Raja (yang bersifat) pendeta, hampir menyamai para maharsi, kokoh dalam keadilan, kuasa menahan hawa nafsunya, karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam.
Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia, bagaikan sama dengan para dewa. Mumpuni mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia, tidak ada orang yang bodoh, tidak ada orang yang malas, tidak ada orang yang hina, tidak ada orang yang buruk wajahnya. Tidak ada orang yang dengki, tidak ada orang yang tanpa harga diri. Tidak ada orang yang buruk rumahnya, tidak ada orang yang  kecil hatinya, tidak ada orang yang pendek umurnya. Tidak ada orang yang sedikit anaknya,  tidak ada orang yang murtad, tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya, para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya, tidak ada orang yang berpakaian lusuh. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata, serta berbau harum semerbak. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit, menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8, (mereka) sudah termashur keutamaannya, semua ahli dalam ilmu Wédha, putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara, tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya).
 
Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap, Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu.  Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya, bersama para raja di kerajaan Prawa, Mantili, dan Malawa. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan, Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Dasarata. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa, Rahwana, yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita, 1938:  24-29;  Kamajaya, 1994: 14-18).
Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyala-nyala. Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat. Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya, niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama.  Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka.  Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. Di dalam Serat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut:

… Sareng sampun rerem sawatawis dinten, Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhekah netepi ingkang kasebut ing sastra tuwin adat waton. Ingkang dados pangageng tumandang pangruktining sidhekah Resi Srengga. Wujudipun sidhekah, barang pèni raja pèni, tetedhan awarni-warni, amepeki, sabarang ingkang kinarsakaken wonten.
Kalanipun Prabu Dhasarata anggelaraken sidhekah, saking katrimahing sidhekahipun, Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinebut Bathara Prayapati, anedhaki dhateng panggènan sidhekah kadhèrèkaken para déwa. Sareng para déwa aningali sidhekahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang, sami matur dhateng Bathara Prayapati, mugi kaparenga amaringi putra dhateng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhateng Bathara Wisnu, anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata, sageda anyimakaken ratuning danawa ingkang nama Rahwana, ingkang sakalangkung kumalungkung dados gegelahing bumi, angrisak samining tumuwuh. Bathara Pryapati amarengi panuwun wau.
Sasampunipun sidhekah, Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anedhaki panggènanipun Jamur-dipa. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. Sareng Prabu Basurata, Prabu Dhasarata anyelaki, urubing Jamur-dipa sirep. Karsaning déwa angkeripun Jamur-dipa dados cabar, jamur katingal amaya-maya kados musthika.
Bathara Wisnu lajeng amaringi “Payasa” kadunungaken sanginggiling jamur. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: ‘Hé ratu sudibya, kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata, sira ingsun wenangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku. Banjur sira pangana lan somahira. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta, agawé undhaking kautaman lan kamulyan’.
Prabu Basurata, Prabu Dhasarata, andheku sumembah ing Sang Hyang Wisnu, lajeng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa, pinundhi ing mastaka, dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. Sang Hyang Wisnu muksa.
Ratu kalih lajeng kondur dhateng pasanggrahan. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata, tumunten kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. Jamur-dipa dipun dum waradin dhateng para ratu. Pamukartaning sidhekan kendel.
Para ratu tuwin para resi, para brahmana sapanung-gilanipun, sasampunipun anampèni pandumaning sidhekah, lajeng sami bibaran. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhateng praja. Prabu Basurata kaaturan tedhak kampir dhateng Ayodya. Naréndra ing Mantili, ing Malawa, ing Prawa, sami tumutur angurmati. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba….
 
Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata, sekembalinya ke Wiratha, memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah, yaitu rajah Purusa dan rajah Kani.  Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula.  Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita, 1938: 28-32;  Kamajaya, 1994: 18-21). 
Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sengkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candra-sengkala) dengan ditandai sengkalan: Sarira-angrasa-suci. Bertepatan masa Manggakala, permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka, sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. Dewi Kusalya berputra Rama, Dewi Kekayi berputra Bharata, adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili, Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Rangga-warsita, 1938: 34;  Kamajaya, 1994: 22).  Di dalam Serat Rukmawati kelahiran Rama bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut:

Kacariyos, kadi sareng lampahanipun, ananging cariyosipun kadamel gentos, ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya, sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. Ingkang miyos saking Dèwi Kekayi pinaringan nama Barata. Ingkang miyos saking Dewi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana, akaliyan Satrugna.
Prabu Dhasarata andhatengngaken suka pari suka. Sareng sampun dumugi anggenipun amangun suka, kabekta saking renaning panggalih déné kadumugen ingkang dados karsanipun, Prabu Dhasarata karsa tedhak cangkrama dhateng nuswa Jawi, kanthi ratu ing Mantili, ing Malawa lan ing Prawa. Lajeng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita.
 
Demikian jejak cerita Rama (Rama) yang terdapat dalam Serat Rukmawati,  terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata, raja Ayodya, dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rama bersaudara).

Cerita Rama dalam Serat Sutiknawyasa
Pujangga R. Ng. Ranggawarsita di dalam Serat Pustakaraja menyatakan:

Serat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjenengan nata Prabu Kresna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamenang. Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853, kaétang ing tahun Candrasangkala amarengi 879. (Ranggawarsita, 1938: 21).
 
(Serat Sutiknawyasa, inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang, penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853, terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879).
 
Jejak cerita Rama (Rama) dalam Serat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan, hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana, seperti tampak pada kutipan berikut:

“Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu  Dasarata jumeneng nata ing Ayudya, boten lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. Lajeng kinèn tetaki dhateng wana pringga kawewahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabekta dhateng Alengka. Sapinten kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya, parandosipun boten amegeng pangandika kajawi amung tansah amesu cipta salebeting samadi kémawon. Dumadakan angsal wasita sawantah, kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. Ing wekasan dados saraya sagedipun kapanggih kaliyan garwa Dewi Sinta. Lajeng jumeneng nata malih wonten ing Ayudya, punika among saking dènira taberi amarsudi rembaging janma. Mila bebasanipun tiyang kadhatengan sungkawa, angger lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. “ (Karyarujita dan Sastranaryatmo, 1981: 443-444).
 
(Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya, tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara, ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka.  Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya, meskipun demikian ia tidak diam membisu, namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi.  Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta.  Kemudian akan menjadi raja kembali di Ayodya, inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih, apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan).
 
Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Resi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara), karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi. Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Resi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai.  Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharesi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja, ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya  ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya, Bathara Guru, serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo, 1981: 442-443).
 
Cerita Rama dalam Serat Prabu Gendrayana
Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja, Serat Prabu Gendrayana dapat dijajarkan dengan Serat Budhayana.  Dengan demikian Serat Prabu Gendrayana termasuk dalam kelompok Serat Mahaparma Bagian Serat Pustakaraja Puwara. Naskah Serat Prabu Gendrayana terdiri dari 2 jilid, yaitu Serat Prabu   Gendrayana I  dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 halaman dan pernah ditranskripsi oleh K.R.T. Soemarso Pontjo Soetjipto.  Adapun naskah Serat Prabu Gendrayana II  dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. Jadi Serat Prabu Gendrayana terdiri atas 1.849 halaman. Naskah-naskah Serat Prabu Gendrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta.
Adapun waktu yang diceritakan dalam Serat Prabu Gendrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina.
Adapun jejak cerita Rama (Rama) dalam Serat Prabu Gendrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda, yaitu Raden Narayana, mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen.  Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng, tikus, walang, burung, ludhep,  leladhoh, bekocok, menthèk, ganggengan, ulat, jamur dan lain sebagainya. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa  keturunan Sang Hyang Kala. Misalnya:  Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang, Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhep, Bathara Printanjala merajai segala jenis burung, Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng,  dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus.
Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa, yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana, putra Prabu Gendrayana, karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti, pemelihara dunia. Apalagi pada waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. Akan tetapi, Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan, karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. Menurutnya, sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya, Laksmana, yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Serat Prabu Gendrayana II  seperti pada kutipan berikut:

“Dhuh dhuh Pukulun Kangjeng Déwaji, manawi kados makaten pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun, dados kénging sinebut tilar kasantosaning galih supé dhateng kawasaning déwa, saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan, manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamel unggul sayekti boten sangsaya dènira hamisésa ing ama, ingkang saupami tiyang sepuh ingkang sampun sura sekti mandraguna, utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda, manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apesipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau, yekti boten dangu lajeng dhadhal larut sadaya, kaliyan malih Pukulun, panjenengan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu, yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti, sareng saweg yuswa wolung warsa lajeng kasuwun dhateng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Dhandhaka, panuwunipun badhé kaaben kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhateng patapaning para wiku, danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalengka, Bathara Ramawijaya kalampahan kabekta dhateng Bagawan Sutiksnayogi, lampahipun saking nagari ing Ngayodya boten ambekta wadya bala aming kadhèrèkaken ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda, sareng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa teka lajeng saged anirnakaken sagunging raksasa tanpa étangan tumpes déning satriya kalih kémawon, boten antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajeng amedali sayembara dhateng nagari ing Mantilidirja, panjenenganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun, nama Dèwi Sinta, dènten sayembaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang saged amenthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau, kala semanten sagunging para nata sèwu nagari boten wonten ingkang lebda karya wekasan sami kawangsulaken, sareng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa saged amenthang, malah punang langkap pusaka lajeng tugel tanpa karana, Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupaken kaliyan Dèwi Sinta, sareng bidhal saking Mantili kadhèrèkaken para punggawa langkung kathah, dupi wonten  ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna, wasta Resi Ramaparasu, inggih punika kang angawonaken Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni, Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajeng kasor déning Bathara Ramawijaya, manawi ing yuswanipun nalika numpes sagunging diyu ditya reksasa wil danawa murka kang wonten ing wukir Dhandhaka nguni inggih saweg yuswa wolung warsa, saèstunipun sepuh putra paduka Radèn Narayana punika (Serat Prabu Gendrayana II, D 46 B, hal. 848-853;  Hadisuparto, 2007: 158-159;  Karyarujita dan Sastranaryatmo, 1981: 480-481).
(“Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji, jika demikian ini pendapat paduka Pukulun, dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati, lupa pada kekuasaan Dewa, sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh, apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang, tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman), sekalipun seumpama orang sudah tua, berani lagi sangat sakti, atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan, apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apes (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu, tentu tidak lama juga akan tumpas semua, dan lagi Pukulun, apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya, putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu, bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti, ketika baru berumur 8 tahun, kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka, permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku, raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka, Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi, perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara, (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda, sesampainya di pertapaan, kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta.  Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut, bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka, sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya, akhirnya mereka semua disuruh kembali (ke kerajaannya). Bathara Ramawijaya, karena kehendak Dewa berhasil membentangkan, bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta.  Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak.  Pada waktu mereka di tengah jalan, dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa, wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka, Raden Narayana).
 
Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rama) dalam Serat Prabu Gendrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya, yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti, sebagaimana Bathara Ramawijaya), untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa, yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa.  Dalam hal ini, ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. Kalau di dalam teks naskah Prabu Gendrayana II, kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853, Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa),  namun dalam Serat Paramayoga (Serat Kalempakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. Ng. Karyarujita dari Serat Paramayoga dan Serat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa), sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. Jadi ada selisih waktu 10 tahun. Jika dikatakan bahwa Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya, maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala), seperti yang tersurat dalam naskah Serat Prabu Gendrayana II  halaman 112 – 139 (Hadisuparto, 2007: 20-25). Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008;  Hadisuparto, 2007: 152-187).
Di sini pun terdapat kejanggalan. Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun, maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja, sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila  ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil, jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka.

Cerita Rama dalam Serat Purusangkara dan Serat Mayangkara
Di dalam Serat Pustakaraja, maka Serat Purusangkara dan Serat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara). Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala).  Namun pada halaman depan Serat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. Ng. Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tembung pangiketipun sang misuwuring jagad: R. Ng. Ranggawarsita, pujangga Dalem ing Kraton Surakarta Adiningrat).
Pujangga R. Ng. Ranggawarsita sendiri di dalam Serat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: 

“Serat Purusangkara, wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina, kala krama antuk putri ing Mamenang, ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kelem anjemblong dados samodra. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pengging, panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920, kaétang ing tahun Candrasangkala amarengi 948.” (Ranggawarsita, 1938: 35).
 
(Serat Purusangkara, inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina, ketika kawin dengan putri dari Mamenang, sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging, penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920, terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948)
 
Adapun waktu yang diceritakan dalam Serat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. Pada bagian permulaan, antara Serat Purusangkara dan Serat Mayangkara isinya hampir sama, yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Hanya saja cerita di dalam Serat Purusangkara masih cukup panjang, karena jika waktu penceritaan di dalam Serat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun, maka waktu penceritaan dalam Serat Mayangkara hanya selama 1 tahun, dengan  titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara.  Adapun penceritaan di dalam Serat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1)  Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi, 2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara, sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina,  3)  Kisah Madrim dan Madrika, 4)  Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra, dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan, 1985:  33-40). Adapun garis besar cerita di dalam Serat Mayangkara dan Serat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut:
Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya.  Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba.
Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba).  Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Resi Anoman). Resi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. Sang Maharsi Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya, sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang  memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina.  Sesampainya di Yawastina, ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar.
Pada waktu itu, ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin, maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma.  Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba.  Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu.
Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa), akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya.
Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya, Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi, anak Ajar Subrata.  Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba, akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa.
Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa, utusan Prabu Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi.  Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut.  Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. 
Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa, maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. Pertempuran tak dapat dielakkan.  Raden Jayaamijaya, Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan.  Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya, yaitu raja di Yawastina.
Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra, keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara, tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba.  Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu, maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa.  Terjadilah pertempuran yang sangat hebat, namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma, dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma.
Raden Jayaamijaya, Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma.  Dikemuka-kannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba.  Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut, tetapi akhirnya baginda meluluskannya. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya.  Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana, Raja Alengka.  Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi.
Di dalam Serat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut:
Sasampunipun makaten Prabu Jayapurusa andangu malih dhateng Sang Maharsi Mayangkara, rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskendha tanah Hindhu, bokmanawi ènget ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala, dénya ambedhah nagari Ngalengka nguni.  Sang Resi Anoman matur:  “Dhuh-dhuh Pukulun Kanjeng Déwaji, manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambedhah nagari ing Nglengka nguni, saèstunipun kawula nguni ènget sadaya, malah kala semanten kawula inggih kinarya sénapatining ayuda, kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sepuh wasta Prabu Subali, ing Guwakiskendha, mila kawula dados sénapati, amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika, kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau, dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya, dhateng nagari ing Ngalengka.  Prabu Jayapurusa langkung suka angungun, sukanipun dènten badhé angsal wewahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni, ingkang dados pangungunipun, dènten Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun.  Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata, yèn sambada karsanipun sang wiku, mugi kagancarena sadaya, ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambedhah nagari Ngalengka wau, mila makaten awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu, ngantos kaping kalih, ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi, punika sami anyariyosaken ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni, sakalangkung remen kula, malah ing mangké sampun kaanggit déning empu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa, ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkeping cariyosipun, amargi boten sumerep piyambak kados Sang Maharsi wau, milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosaken lalampahanipun Prabu Ramawijaya, saèstu badhé andadosaken sukaning manah kula, awit bokmanawi wonten wewahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni, ananging panuwun kula mugi kagancarena dalah lalampahanipun wonten ing margi sadaya, sampun ngantos wonten ingkang kalangkungan cariyosipun”. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika, lajeng anyariyosaken kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wonten ing Ngayudyapala, ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura, kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala, salalampahanipun sampun sami kagancaraken sadaya, miwiti mekasi. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun, lajeng dhawuh dhateng Empu Pulwa kinèn amewahaken panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. Émpu Pulwa matur sandika, nulya cinathetan sadaya.
 
(Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara, karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu, barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala, ketika dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka. Sang Resi Anoman berkata:  “Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji, jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka, sesungguhnya hamba teringat semuanya, bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang, bersama adik sepupu hamba, putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda, makanya hamba menjadi senapati, karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya, jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka.  Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran, gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya, (sedangkan) yang menjadi keheranannya, bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. Kata Prabu Jayapurusa: “Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata, jika sang wiku berkenan, semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu, oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu, sampai dua kali, yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman, yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi, keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu, saya sangat gembira, bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa, akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya, sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi, maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya, sungguh sangat menyenangkan hati saya, sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu, akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan, jangan sampai ada cerita yang terlewat.”  Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya, kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala, sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala, semua peristiwa sudah diceritakan, mengawali mengakhiri. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya, kemudian memerin-tahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya, kemudian semua dicacat.)
 
Beberapa waktu kemudian, Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi.  Pada waktu malam pengantin tiba, Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba.  Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi, Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni, dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti.  Akan tetapi, pertemuan itu diketahui oleh seorang emban ‘inang pengasuh’ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu.  Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma, ia kalah.  Oleh karena itu, Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri, akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara.  Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan, bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja.  Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana. Mendengar penjelasan itu, Prabu Jayapurusa bergembira, karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi, Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan.
Sementara itu, Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur.  Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah.  Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara.  Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga.  Prabu Astradarma, Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela, maju melawan Prabu Yaksadewa, tetapi mereka pun gugur.
Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa.  Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala, sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma.  Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa.  Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala, sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma.  Sang Hyang Narada pun menjelma kembali.  Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa.  Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa.  Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba).  Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga.  Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu, kecuali Sang Maharsi Mayangkara.  Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan, 1985: 29-32).
Dengan demikian, jejak cerita Rama (Rama) dalam Serat Purusangkara dan Serat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup, sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma, yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala.

Simpulan
Cerita Rama (Rama) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogindra Walmiki, setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1.000 tahun.  Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rama–Sita, misalnya: Raghuvangsa karya Kalidasa, Ravanavadha oleh Bhatti, Janakiharana oleh Kumaradasa, Uttara Rama oleh Bhavabhutti, Ramacaritamanasa oleh Tulasi Dasa,  Ramayanakathasara-manjari oleh Ksemendra.
Cerita Ramayana dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Di Asia Tenggara cerita Rama terdapat di Vietnam, Kamboja, Laos, Birma, Filipina, Thailand, Melayu, maupun Jawa. Salah satu versi cerita Rama dari India yaitu Ravanavadha karya Bhatti, di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin  Ramayana oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. Kakawin Ramayana tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana, terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Kakawin  Ramayana kemudian digubah menjadi Serat Rama oleh R.Ng. Yasadipura I.  R.Ng. Yasadipura II menggubahnya menjadi Serat Arjuna Sasrabahu, sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Serat Arjuna Sasra dan Serat Lokapala.
Cerita Rama ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Serat Pustakaraja, terutama di dalam Serat Rukmawati, Serat Suktinawyasa, Serat Prabu Gendrayana, Serat Purusangkara maupun Serat Mayangkara. Dalam Serat Rukmawati jejak cerita  Rama terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rama). Dalam Serat Suktinawyasa jejak cerita Rama dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Resi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina, melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Di dalam Serat Prabu Gendrayana jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Daneswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Adapun dalam Serat Purusangkara dan Serat Mayangkara, jejak cerita Rama tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma, yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri).

Daftar Pustaka
Berg, C.C. (1974). Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bharata.

Darusuprapta (1963). Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Ramayana Kakawin (Tesis). Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa, Fakultas Sastra dan Kebudajaan, Universitas Gadjah Mada.

Hadisuparto, Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Serat Prabu Gendrayana II (46 B). Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Karyarujita, R.Ng. (1981). Serat Paramayoga: Serat Kalempaking Piwulang, Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.

Mangkunegara IV (1914). Lampahan Jayapurusa.

Padmapuspita, Y. (1979). “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Ramayana”. Makalah Ceramah. Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Pigeaud, Th. G., Th. (1967). Literature of Java Vol. I. The Hague: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, R.M. Ng. dan Tardjan Hadidjaja (1957). Kepustakaan Djawa. Cetakan Kedua. Djakarta: Djambatan.

Ranggawarsita, R. Ng. (1908). Witaradya. Surakarta: Albert Rusche.

_______. (1910). Hadji Pamoso Jilid I-X. Soerakarta: Albert Rusche.

_______. (1924). Serat Mayangkara. Solo: Boekhandel M. Tanojo.

_______. (1938). Serat Pustakaraja Purwa Jilid I – III, Cetakan Keempat. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning.

_______. (1979). Serat Witaradya I & II. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya, Z.H. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud.

_______. (1993). Serat Ajipamasa, Disalin oleh Soetomo W.E., dkk. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa “Kanthil”.

_______. (1994). Serat Pustakaraja Purwa Jilid III, Alih Aksara Kamajaya. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan “Mangadeg” dan Yayasan “Centhini”.

Ricklefs, M.C. (1997). “The Yasadipura Problem”. BKI 153-II.

Soetjipto, Soemarso Pontjo, K.R.T. (Pengalih Huruf) (2007). Serat Prabu    Gendrayana I (46 A). Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Somvir (1998). ‘Ramayana: Asal-usul, Sejarah dan Transformasi dari India ke Indonesia’ dalam Ramayana, Pengembangan dan Masa Depannya.  Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, FPBS IKIP Yogyakarta.

Sri Mulyono (1989). Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, Cetakan III. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Surjohudojo, Supomo (1961). Rama Katha. Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada.

Tedjowirawan, Anung (1985). Analisis Struktural Serat Purusangkara, Satu Kajian Pada Karya Sastra R. Ng. Ranggawarsita. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi).

_______ (1986). Serat Mayangkara Karya R. Ng. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

_______ (2008). “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita”. Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara, Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Widyaseputra, Manu Jayaatmaja (1998). “Persebaran Ramayana di Asia Tenggara”, dalam Ramayana, Pengembangan dan Masa Depannya.  Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, FPBS IKIP Yogyakarta.

Zoetmulder, P.J. (1983). Kalangwan, Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang, terjemahan Dick Hartaka. Jakarta:  Djambatan.
 
Naskah
Serat Gendrayana, Naskah 157. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta.

Serat Prabu Gendrayana I, Naskah 46 A. Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Serat Prabu Gendrayana  II, Naskah 46 B. Surakarta: Reksapustaka, Pura Mangkunegaran Surakarta.

Serat Purusangkara, Naskah 155. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta.

Serat Yudayana, Naskah 153. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta.