Menelusuri Jejak Kehidupan Ulama dan Cendekiawan pada Masa Kolonial Dalam Teks Maulid Qashor H. Tabri di Surakarta

Pendahuluan
Maulid Qashor ditemukan dan tersimpan sebagai koleksi naskah pribadi keluarga El-Ghautz di desa Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen. Naskah ini ditulis jauh dari wilayah kerajaan karena H.Tabbri adalah seorang buronan Belanda. Saat itu Belanda mendominasi kerajaan dan memusnahkan orang-orang yang dianggap berbahaya. H.Tabbri merupakan salah satu tokoh yang dianggap berbahaya karena kritikannya terhadap penguasa yang pro Belanda.

Naskah H.Tabbri yang tersimpan sebagai koleksi pribadi keluarga El-Ghautz saat ini hanya tersisa dua. Hal ini dikarenakan tidak ada yang merawat pasca meninggalnya keturunan ke dua. Naskah tersebut tidak mempunyai judul. Kondisi naskah sudah sedikit rapuh, beberapa bagian tidak bisa terbaca karena sudah lapuk. Teks naskah ditulis pada kertas daluwang atau lebih dikenal dengan dluwang, berukuran 23 × 19 cm. dan tidak bergaris. Penomoran halaman ditambahkan kemudian, sejumlah 367 untuk memudahkan melihat isi naskah. Jumlah baris per halaman bervariasi antara 5-11. Dalam naskah juga terdapat gambar pada halaman 310 dan 314. Tulisan dalam naskah ini menggunakan aksara Arab, Pegon, dan Jawa.Aksara Arab terlihat pada halaman 1-62,68-93, 141-146, 318-327, 358-366, sementara aksara Pegon terdapat pada halaman 63-67, 94-97, 98-100, 103-133, 139-140, 148-156, 182-222, 315-317, 327.Tulisan pada halaman 134-138, 156-164, 166-181menggunakan aksara Arab dan Pegon, sementara pada halaman 223-314, 367 aksara Jawa. Pada halaman101-102 terdapat aksara Pegon dan tabel, sementara pada halaman 165 dan 353 aksara samar-samar.

Tanda-tanda yang digunakan dalam tulisan untuk mengoreksi kesalahan dalam tulisan, memulai bab baru, dan penanda kalimat baru tampak seperti dalam gambar berikut :

Warna tinta yang digunakan untuk menulis adalah warna hitam dan merah, cap kertas tidak ada, dijilid berbentuk buku menggunakan benang.Tahun penulisan tidak diketahui, namun pada halamanakhir di bagian tengah kalimat terdapat tulisan angka 1785 tahun Jawa.

Sejarah Surakarta mencatat dalam naskah Babad Pakepung-pakepang berisi pengepungan yang dilakukan Belanda pada tahun 1790 bulan Oktober-Desember hingga akhirnya Pakubuwana IV melakukan perjanjian yang merugikan kerajaan.Salah satu perjanjiannya adalah Jenderal Belanda mempunyai kedudukan sama dengan Raja Surakarta. Akibatnya Belanda mendominasi kekuasaan di Jawa, hingga akhirnya para ulama yang dulu menjadi penasehat Rajapun menjadi tersingkir.

Teks Maulid Qashor
Maulid Qashor adalah berasal dari kata (?? ??)maulid yang berarti kelahiran dan (???) qashor yang berarti meringkas yang berarti ringkasan kelahiran Nabi Muhammad saw. Maulid ini tidak seperti maulid pada umumnya yang diawali dengan Bismillah dan Qasidah akan tetapi diawali dengan pujian kepada Rasulullah untuk memulai cerita seperti:

Al-hasinu laisa az-kiya minka aslan qat ya jadda al-husaini…
(Tak seorang pun melebihi kesucianmu sama sekali, wahai Nabi eyangnya sayyid Husain…).

Maulid ini dituliskan secara terperinci oleh penulis, hal ini terlihat dari larik-larik kalimat didalamnya.Setiap halaman ditulis sebanyak sembilan kalimat dari halaman awal sampai halaman terakhir, sebanyaksembilan puluh tujuh halaman. Tulisan ada yang diberi harakat dan ada yang tidak, seperti pada halaman 30-55 yang ditulis tanpa mengunakan harakat.Tinta warna merah digunakans ebagai penekanan dan tanda berhenti dalam cerita.
Penulisan maulid tidak hanya menggunakan bahasa Arab, namun juga diselingi wejangan-wejangan ketauhitan berbahasa Jawaseperti pada halaman 63-67 yang berbunyi:

Kalau ditanya sapa pangeran * nuli ajawab Allah pangeranku

Kondisi kertas yang robek terdapat di dalam kalimat maupun dipinggir,seperti pada halaman 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan tulisan masih bisa terbaca. Penyebab kerobekan kertas dimungkinkan karena lapuk atau hewan pemakan kertas, karena naskah ini pernah dikubur dalam tanah. Halaman 26, 34, dan 39 pada naskah mengalami kerusakan berupa lubang kecil yang berada di atas dan di samping tulisan. Tulisan masih bisa dibaca dengan baik dan hampir keseluruhan teks pinggirnya rusak karena dimakan rayap.

H.Tabbri
Dari informasi yang diperoleh penulis dan dari analisa penelitian penulis, H.Tabbri masih ada hubungan dengan ulama Tegalsari Ponorogo. Hal ini bisa dijelaskan dengan cerita dari cucu menantu H.Tabbri yaitu mbah Wasirah. Beliau mengatakan bahwa H.Tabbri adalah orang solo tepatnya di desa Tegalsari, ia lari dari kejaran Belanda bersama keluargannya ke desa Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen.

Dalam kasus ini bisa kita lihat bahwa Tegalsari Ponorogo merupakan tempat pelarian orang-orang penting di Kerajaan dan tempat para santri. Orang penting itu adalah Pakubuwana II, yang saat pemberontakan Cina dia lari ke Ponorogo tepatnya di Tegalsari. Kemudian ada santri yang sangat terkenal yaitu Raden Sastranegara atau dikenal dengan nama Ranggawarsita, beliau merupakan salah satu santri di Tegalsari Ponorogo. Pondok Pesantren Tegalsari didirikan oleh Mohammad Khasan Besari sekitar abad ke 18 kemudian diteruskan oleh cucunya, kyai Ageng Mohammad Besari. Dari penelitian maulid qashor yang dilakukan penulis, diperoleh informasi bahwa H.Tabbri ini masih keturunan Wali walaupun tidak disebut secara jelas namun dari cerita mbah Wasirah bisa kita simpulkan secara etnografi bahwa keturunan Wali di Tegalsari hanyalah Kyai Ageng Mohammad Khasan Besari, maka H.Tabbri kemungkinan besar masih ada darah dari mbah Khasan Besari.

Penelitian itu juga menemukan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan H.Tabbri yaitu dalam teks maulid terdapat do’a yang mengambarkan keadaan Surakarta pada masa itu seperti: berikanlah keadilan terhadap para ulama dan cendekiawan, tunjukkanlah kebenaran terhadap pemimpin kami, dan cegahlah dari sifat suka bicara. Dari salah satu penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kejadian di Negara Surakarta sangatlah kacau terutama para ulama dan cendekiawan yang merasa terancam semenjak adanya dominasi Belanda di Kerajaan dan sikap pro Belanda dari Raja yang berakibat fatal terhadap Negara dan rakyatnya.Belanda menjadi sewenang-wenang dalam perekonomian diJawa, dari segi pajak mereka sudah tidak mau lagi membayar karena perannya membantu kerajaan melawan kerajaan-kerajaan di sekitarnya demi merebut wilayahnya kembali.

Kehidupan H.Tabbri tidak lepas dari unsur politik yaitu sebagai seorang pengkritik Istana yang sudah keluar dari jalur pemerintahan yang baik. Karena sikap pro Belanda maka pemerintahan Surakarta mendapat banyak kritikan yang membuat Belanda geram dan dengan dalih sebagai provokator pemberontakan rakyat akhirnya para pengkritik diburu untuk diasingkan atau dibunuh. Akhirnya H.Tabbri berhasil lolos dari kejaran Belanda, ia lari bersama keluargannya ke desa Blagungan, Donoyudan, Kalijambe, Sragen. Kemudian ia tinggal di sana dan tidak pernah kembali ke Surakarta karena ditempat barunya ia menyebarkan ajaran Islam dan hari-harinya digunakan untuk menulis.Salah satu karyanya adalah maulid qashor ini. Dalam naskah ini ia juga merasakan sebuah kekecewaan yang amat mendalam terhadap pemimpinnya, karena ketidakmampuannya dalam menstabilkan Negara terhadap masuknya propaganda dari imperialisme Belanda dan perjanjian-perjanjian yang menghancurkan Negara. Bentuk kekecewaan itu ia ungkapkan melalui tulisan-tulisan dan do’a-do’a.Salah satu do’anya terdapat pada naskah halaman 76 :

Dengan rahmat dan kasih sayang (yang terus mengalir). Beliau membawa kebahagiaan hidup dengan penuh kenikmatan*tamat. Allah Allah Allah*Dialah Allah Allah Allah, tuan kami, (aku hanya seorang) hamba ya Allah*kenikmatan yang tersembunyi, kebajikan yang terus menderaku, sembuhkanlah hatiku yang sakit ini*Engkau menjagaku tanpa batas seperti Engkau menolongku (tanpa batas). Ambillah penyakit yang menderaku* pada hari itu, jadikan hatiku tempat berlindung pemimpin yang berkuasa dengan kasih sayang*wahai penghuni lembah, keberkahan telah datang. Wahai orang yang minum dan tenggelam dalam cintanya

Di sana kita melihat bentuk kepasrahan dengan segala kekurangan dari seorang hamba yang kerdil di hadapan Allah yang meminta kesembuhan sakit hatinya. Itulah gambaran yang dialami H.Tabbri bahwa rasa sakit di dalam hatinya adalah sebuah ungkapan kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan sebelumnya, sehingga ia memasrahkan segala urusan dan menemukan pemimpin sejati yang memberikan kasih sayang yang tiada batas hingga ia tenggelam dalam cintanya kepada Muhammad sebagai suri tauladan dan pemimpin dalam kehidupannya, karena ia telah memberikan kedamaian dalam kehidupannya. Dari kekecewaan H.Tabbri atas perlakuan pemimpinnya di Surakarta membuatnya mengerti bahwa segala sesuatu itu pasti akan kembali kepada Allah, maka ia memasrahkan segala urusan kepada Tuhan dan mengabdikan diri pada agamanya untuk menyebarluaskan ajaran demi rasa cintanya kepada Tuhan dan panutannya di dunia, Muhammad.

Pujian-pujian itu tercipta melalui proses kepasrahan yang membuat H.Tabbri meninggalkan keduniawiannya. Seperti cerita mbah Wasirah bahwa dulu H. Tabbri suka berada di mushola ketimbang dalam rumah. Ia sering menulis, beribadah, dan menyebarkan agama Islam di lingkungan sekitar. Dari salah satu kegiatannya yang bisa kita lihat saat ini yaitu amalan-amalannya dan juga bentuk kepasrahannya kepada Tuhan. Gambaran kepasrahan dalam pujian dan do’annya merupakan rasa ketidakmampuannya di dunia ini dalam mengatasi segala hal, karena segala urusan di dunia ini mampu ia tuntaskan melalui petunjuk dari Tuhannya dan segala urusannya di dunia ini tidak akan lepas dari campur tangan Tuhan. Maka dari itu ia mengabdi dalam menyebarkan ajarannya yaitu Islam, seperti dalam naskah maulid ini, terdapat ajaran ketauhidan yang ia tulis mengunakan bahasa Jawa pada halaman 63-65:

Kalau ditanya siapa pangeran * kemudian kamu jawab Allah Pangeran* kalau ditanya siapa nabimu kemudian kamu jawab nabi Muhammad * Kalau ditannya dimana kiblatmu kemudian dijawab ka’bah kiblatku * kalau ditanya siapa agamamu kemudian dijawab agama Islam * kalau ditanya siapa saudaramu kemudian dijawab Mukmin saudaraku * kalau ditanya mana Imammu* kemudian kamu jawab imam Syafi’i* kalau ditanya siapa panutanmu kemudian kamu jawab Qur’an panutan ku.

Inilah salah satu ajaran yang terdapat dalam teks Maulid Qashor. Ia mengajarkan ketauhidan kepada masyarakat sekitar dengan bahasa Jawa. Kemungkinan bahasa ini digunakan untuk mempermudah masyarakat awam mengetahui isi ajaran dan dapat memahami untuk diamalkan dalam kehidupan. Bahwa segala yang wajib kita sembah adalah Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, sementara kiblat umat Islam adalah Ka’bah. Dia juga mengajarkan madzhabSyafi’i, dan Al-Qur’an adalah pedoman yang dipakai umat muslim sebagai landasan kehidupan dan petunjuk di dunia ini.

Pemberontakan ulama dan cendekiawan
Berawal dari peristiwa tahun 1790 ketika Sinuhun Paku Buwono IV baru dua tahun dinobatkan sebagai Raja Surakarta. Peristiwa ini tidak saja mempunyai latar belakang politis, yaitu adanya persaingan antar kerajaan penerus dinasti Mataram, namun juga latar belakang keagamaan. Adanya latar belakang semangat keagamaan yang kuat dari peristiwa ini menyebabkan banyak penulis menyebutnya sebagai peristiwa gerakan keagamaan. Misalnya, menyebut peristiwa tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan gerakan Wahabiyah di tanah Arab. Peristiwa besar itu adalah Geger Pakepung antara bulan Oktober-Desember 1790, sebagaimana diceritakan dalam Babad Pakepung, berawal dari pengangkatan kyai dan santri yaitu; Kyai Wiradigda, Panengah, Bahman, Kandhuruhan dan Nur Saleh sebagai abdi dalem. Keempatnya menjadi abdi dalem kinasih atau abdi dalem terpercaya.

Pengaruh keempat abdi dalem kyai ini ternyata begitu besar pada Sinuhun sehingga banyak keputusan politik berdasarkan pada nasihatnya. Sinuhun Paku Buwono IV kemudian mulai mengadakan perubahan, seperti: abdi dalem yang tidak patuh pada syariat agama ditindak, digeser dan bahkan ada yang dipecat seperti yang dialami Tumenggung Pringgoloyo dan Tumenggung Mangkuyudo. Dan juga, Sinuhun Paku Buwono IV juga mengharamkan minuman keras dan madat atau menghisap candu sebagaimana ajaran agama Islam. Setiap hari Jumat Raja pergi ke Masjid Agung untuk melaksanakan shalat Jumat, bahkan sering bertindak sebagai khatib atau pemberi khutbah Jumat.

Perubahan abdi dalem yang terjadi di Keraton Surakarta ini menimbulkan kekhawatiran pihak Kompeni dan Kasultanan Yogyakarta. Kompeni kemudian mengirim utusannya. Utusan ini dipimpin langsung oleh Gubernur dan Direktur Java’s Noorden Ooskust yang berpusat di Semarang, yaitu Jan Greeve. Dari tanggal 16 September hingga 6 Oktober 1790, Jan Greeve berada di Surakarta. Tuntutannya satu, yakni Sinuhun harus menyerahkan keempat orang abdi dalem kepercayaannya karena mereka inilah yang dianggap sebagai biang keladi peristiwa. Sumber Kolonial menyebut Kyai Wiradigda, Bahman, Kandhuruhan, Panengah dan Nur Saleh sebagai panepen yang berarti alim ulama. Sumber dari tradisional Jawa, seperti Babad Pakepung dan Serat Wicara Keras menyebutnya dengan istilah abdi dalem santri.

Dari pengepungan itu membuat Sultan merasa ketakutan dan akhirnya menyerahkan para abdi dalem demi kedamaian di Keraton. Akan tetapi dari rentetan ini semua babak baru pemberontakan didalam Keraton mulai bermunculan yaitu ketika Paku Buwono IV mengadakan perjanjian dengan Belanda tentang penyerangannya terhadap Keraton Yogyakarta. Akibatnya Belanda mendominasi kerajaan dengan meminta imbalan semua pantai utara Jawa untuk dikelola. Setelah Belanda membentuk perusahaan komoditiyang membuat masyarakat harus menjual segala hasil panen kepada pemerintah Hindia Belanda dengan murah dan kemudian akan diekspor ke Eropa.

Kejadian-kejadian itu membuat para ulama geram. Beberapa tokoh yang kita kenal adalah Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo. Mereka mewakili rakyat untuk melawan tirani Belanda yang semakin meresahkan masyarakat dan ulama hingga perlawanan dicetuskan oleh mereka demi masyarakat Jawa. Pertempuran ini melibatkan beberapa orang Keraton, Santri, dan Ulama yang berjuang mengusir Belanda dari tanah Jawa. Perang ini berlangsung bertahun-tahun hingga pemerintahan Hindia Belanda mengulas taktik yang lebih fleksibel, yaitu mereka menawarkan perjanjian kepada Pangeran Diponegoro. Setelah bulan November 1828 Kyai Mojo , penasihat Diponegoro, tertangkap Belanda. Akhirnya pada bulan Maret 1830 Diponegoro menerima perjanjian itu di Magelang. Perjanjian itu merupakan strategi Belanda untuk memancing Diponegoro datang berunding, namun sebenarnya itu hanyalah umpan supaya memudahkan Belanda dalam menangkapnya.

Dominasi pemerintahan Hindia Belanda semakin kuat hingga para ulama dan cendekiawan tidak mampu berkutik dalam pemerintahan. Karena semenjak Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan di Ambon para ulama dan cendekiawan harus patuh terhadap dominasi Belanda di kerajaan. Kejadian tersebuat membuat para santri mulai kendur dalam melawan Belanda, karena konsep orang Jawa yang mengagungkan pemimpin yang mempunyai sifat linuwih atau kelebihan dibanding manusia lainnya ini yang membuat mereka selalu patuh dan tunduk dan juga menjadi abdi bagi mereka. Ketakutan ini dimanfaatkan Belanda untuk mengukuhkan kedudukannya di kerajaan, di kalangan para ulama yang mereka anggap sebagai orang yang berbahaya karena gerakan-gerakan mereka yang mampu memobilisasi masyarakat dan kalangan santri untuk melawan Imperialisme Belanda. Sikap ini dinamakan sikap Pan Islamisme yang dibawa oleh ulama-ulama yang sudah pergi berhaji. Untuk membendung gerakan tersebut Belanda menetapkan kebijakan bagi ulama yang ingin berhaji untuk membuat paspor, sehingga mereka tidak jadi berangkat karena segala urusan telah dikuasai Belanda. Hal ini terlihat dari segala urusan kekuasaan di Kerajaan Jawa yang dipegang olehpemerintah Belanda dan kerajaan hanyalah Negara protektoratBelanda. Pada tahun 1842 ada kejadian, Belanda menuduh para bangsawanmenghasutkan pemberontakan yang mengakibatkan penangkapan terhadap mereka, dari kejadian tersebut Belanda mulai membatasi ruang gerak para ulama dan cendekiawandemi stabilisasi kekuasaan Belanda di Jawa hingga perburuan pemerintah Belanda terhadap pemberontak yang masih berada di lingkup kerajaan dan sekitarnya.

Kesimpulan
Demikianlah tulisan ini dibuat, mungkin belum memberikan informasi yang akurat karena penelitian yang penulis lakukan hanya menemukan sedikit gambaran mengenai naskah teks maulid qashor. Ini dikarenakan belum semua isi naskah H.Tabbri dikaji, baru hanya sebatas teks maulid qashor. Namun dari semua itu penulis menemukan beberapa kejadian di dalamnya yaitu kehidupan ulama yang sudah tidak mengikuti hingar bingar politik pasca mereka telah diburu oleh Belanda dan mengabdikan diri mereka kepada agama yang telah mereka pelajari. Hal itu disebabkan karena dominasi Belanda yang telah menguasai segala aspek didalam Kerajaan dan juga menyempitkan ruang gerak para ulama dan cendekiawan yang berada didalam istana guna menstabilkan kekuasaan Belanda karena adanya gerakan Pan Islamisme yang dibawa oleh ulama-ulama membuat Belanda geram dengan adannya perlawanan dari masyarakat dan juga kaum santri yang mengabdi kepada para ulama. Harapan saya adalah dengan adanya tulisan ini akan ada peneliti yang mau mengkaji naskah ini, karena naskah H.Tabbri ditulis jauh dari Keraton akan tetapi ada hubungannya dengan pusat pemerintahan Kerajaan supaya diperoleh informasi baru mengenai kejadian masa lampau terkait pemerintahan keraton Surakarta dan juga sebagai bahan kajian sejarah Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA
AL-Husaini,H.M.H. AL-Hamid. 2000. Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah . Bandung : Pustaka Hidayah.

Djamil, Abdul. 1995. Studi Islam Dalam Tradisi Kesarjanaan Belanda, dalam Sudarnoto dkk (ed.), Islam berbagai Perspektif. Yogyakarta: LPMII.

Juwita, Dewi. 2005. ‘Kebijakan Politik Pemerintah Kolonial Belanda dan Reaksi Umat Islam Indonesia Tahun 1889-1942’. Skripsi. Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Nurhayati, Titik. 2001. ‘Islamofobia dan Akibatnya Terhadap Umat Islam Pada Masa Kolonialisme Belanda Abad XIX’. Skripsi. fakultas adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Santoso, S.J. Budi. 2008. Membaca Post Kolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Serat Babad Pakepung, Alih aksara oleh Sri Sulistiyowati. (Museum Sanapustaka Keraton Surakarta, No. 74 ca-KS#60-Reel 101 #2)

Simuh. 1988. Mistik Islam Kejawen. Jakarta: UI-Press.

Wahyu Sudrajad, Ahmad. 2013. Maulid Qashor dalam Naskah H.Tabbri. Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta