Menggali Konsepsi Tri Hita Karana Dalam Geguritan Sekar Mulat Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Bangsa

Pendahuluan
Geguritan merupakan salah satu hasil kesusastraan Bali. Dilihat dari penggolongannya, geguritan tergolong ke dalam genre kesusastraan Bali Purwa  yang berbentuk tembang. Geguritan berasal dari kata gurit, dalam bahasa Jawa Kuna kata gurit berarti “tulis, gubah, karang” dan anggurit yang artinya menggubah puisi (ZOETMULDER, 2006: 320). Sedangkan dalam Kamus Bahasa Bali-Indonesia Beraksara Latin dan Bali, gurit berarti gubah, karang, sadur atau gubahan, karangan dan saduran. Kata gurit  mengalami proses reduplikasi dwipurwa dan mendapat sufiks -an menjadi geguritan (ANOM, DKK., 2008: 251). Jadi, hakikat geguritan adalah suatu karangan yang berbentuk puisi.
Geguritan merupakan karya tradisional menggunakan bahasa Bali, dan diikat oleh kaidah matra yakni tembang macepat, sekar alit atau pupuh. Adapun aturan tembang macepat (sekar alit atau pupuh),  meliputi jumlah suku kata dalam satu baris yang disebut guru wilangan, jumlah baris dalam satu bait yang disebut guru gatra, dan pola rima yang tetap atau nada akhir setiap baris yang disebut guru ding-dung (SUARKA, 2007a: 11).  Pendapat tersebut sejalan dengan AGASTIA (1980: 17) bahwa bunyi akhir setiap baris menyebabkan pupuh tersebut harus dinyanyikan. Keseluruhan aturan tersebut disebut dengan padalingsa. Geguritan sering disebut dengan tembang macepat. Tembang macepat juga disebut dengan sekar alit, karena dalam menembangkannya, macepat menggunakan suara ringan atau disebut dengan suara nantya (SUARKA, 2007a: 11). Menurut AGASTIA (1980: 18) sekar alit dalam geguritan itu terdiri dari berbagai macam pupuh. Diperkirakan ada sekitar 45 macam pupuh, tetapi yang populer di Bali ada sepuluh macam pupuh, yaitu: sinom, pangkur, ginada, ginanti, maskumambang, durma, mijil, pucung, semarandana, dan dangdang.
Di Bali, umumnya pengarang menciptakan geguritan berdasarkan wujud kreatif murni, pengalaman maupun autobiografi pengarang; yang melatarbelakangi munculnya karya-karya baru. Beberapa karya tersebut, antara lain: Geguritan Babad Segara Rupek (karya I NENGAH KARDA), Geguritan Unuh Galih (karya JERO MANGKU WAYAN SULENDRA, terbitan Toko Buku Indra Jaya Singaraja tahun 2001), Geguritan Kaki Manuh Nini Manuh (karya GEDE NYOMAN ARDHANA RIYASA, terbitan Paramitha Surabaya 2003), Geguritan Bagawan Dawala (karya Ketut Putru, terbitan Toko Buku Indra Jaya Singaraja tahun 2005), Geguritan Runtuhnya Sri Dalem Dukut (karya I GUSTI MADE KERTHAYASA), Geguritan  Sekar Mulat (karya I WAYAN KAWI ARCANA) dan lain sebagainya.     
Geguritan Sekar Mulat merupakan karya I WAYAN KAWI ARCANA (selanjutnya disingkat dengan GSM). GSM sebagai karya sastra geguritan dibangun atas tiga pupuh yaitu pupuh sinom, pupuh ginada, dan pupuh durma.  GSM dilihat dari isinya merupakan geguritan yang mengandung tutur. Dalam Kamus Bali – Indonesia Beraksara Latin dan Bali tutur berarti nasihat (ANOM, DKK., 2008: 779). Sepadan dengan pendapat ZOETMULDER DAN ROBSON (2006: 1307), bahwa tutur berarti ingatan, kenang-kenangan, kesadaran. Jadi, tutur merupakan suatu ajaran yang harus diingat. Ajaran-ajaran yang terkandung di dalam karya tersebut telah berkembang di masyarakat dari sejak dahulu dalam bentuk lisan. Sejalan dengan pandangan ROBSON (1978: 5-6) yakni bahwa karya-karya klasik Indonesia mengandung nilai-nilai yang sangat penting dan berharga sebagai warisan rohani bangsa Indonesia berupa perbendaharaan pikiran dengan cita-cita nenek moyang yang dahulu kala dijadikan pedoman utama kehidupan (dalam SUARKA, 1987 : 4).
Dalam penciptaan karya tersebut terlihat suatu proses perubahan bentuk dari ajaran yang bersifat tulisan menjadi lisan, kelisanan tersebut kembali ditransformasi, tetapi tetap mempertahankan ide pokoknya yang dihadirkannya ke dalam bentuk geguritan.  Kelisanan yang diangkat oleh pengarang yakni konsep-konsep mengenai filosofi kehidupan. Filosofi tersebut dirangkai dalam ajaran-ajaran, hal ini sejalan dengan salah satu ciri-ciri mitologi yang diuraikan oleh DANANDJAJA (1984: 50) yakni bahwa cerita yang dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat tergolong ke dalam mitos. Meninjau pengertian mitologi secara luas, dipahami bahwa mitos  tidak hanya  mengacu pada mitologi dalam pengertian sehari-hari, seperti halnya cerita-cerita tradisional, melainkan sebuah cara pemaknaan (BARTHES, 2009: 155 – 157).
Mitos merupakan suatu ideologi tertentu yang diangkat melalui bentuk dan makna. Beroperasinya ideologi melalui sistem semiologi ini dapat ditengarai melalui asosiasi yang melekat dalam bahasa konotatif (BARTHES, 2010: 308–310). Ideologi yang dibentuk melalui ajaran mengenai konsep filosofi kehidupan akan membentuk suatu pedoman hidup. Berdasarkan hal tersebut maka mitos dapat dipandang sebagai suatu konsep, yaitu berjalan dari semiologi menuju ideologi.
Ideologi sebagai suatu pandangan hidup, yang dewasa ini mulai senantiasa terkikis, sehingga terciptalah degradasi moral bangsa. Degradasi moral dapat dilihat dengan banyaknya selisih paham antarsuku, ras, dan  agama hingga perselisihan di ranah politik yang dilakukan secara anarkis. Tentunya semua itu bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika. Degradasi moral hanya dapat diatasi dengan pembentukan karakter bangsa dengan menggali nilai-nilai yang telah diwarisi secara turun-temurun. Permasalahannya karakter bangsa yang bagaimana yang harus diteladani oleh generasi muda untuk mengatasi degradasi moral yang telah terjadi.

Pembentukan Karakter dengan Konsepsi Tri Hita Karana
Hakikat pendidikan karakter sesungguhnya adalah memberikan kesadaran kepada setiap individu mengenai pentingnya melakukan suatu hubungan yang harmonis. Hubungan yang harmonis bukan hanya dijadikan sebagai konsep namun dilaksanakan sehingga dapat membangun suatu ideologi. Konsep hubungan harmonis tidak hanya dilakukan dengan sesama manusia (Pawongan), sebagai hubungan harmonis yang  horisontal saja, namun sepatutnya juga mengadakan hubungan harmonis ke arah vertikal, yakni mengadakan hubungan harmonis dengan pencipta (Parhyangan) dan alam sekitar (Palemahan). Hubungan harmonis secara vertikal dan horisontal akan menciptakan suatu keseimbangan di dalam menjalani hidup. Keseimbangan hubungan itu disebut konsep Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana sebagai hakikat kehidupan dalam pembentukan karakter  haruslah dijalankan secara harmonis oleh manusia melalui hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Keseluruhan ajaran tersebut diuraikan dalam bentuk tutur atau nasihat dengan menggunakan genre geguritan yang berjudul Geguritan Sekar Mulat.   
Pembentukan hubungan harmonis sebagai karakter bangsa merupakan pengamalan dari empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengamalan empat pilar kebangsaan tersebut dimulai dari pengamalan Bhineka Tunggal Ika sebagai  ideologi bangsa. Ideologi bangsa tidak serta merta muncul, namun melalui suatu proses yang digali dari ideologi masyarakat sebagai suatu akar budaya bangsa. Berdasarkan hal itu Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 7 (1997: 8) membedakan ideologi dari segi bentuk, yakni ideologi formal dan ideologi non formal. Ideologi formal merupakan ideologi resmi yang dijadikan paham dalam memberi bobot kenegaraan resmi. Ideologi formal juga dapat diartikan sebagai ideologi suatu negara. Ideologi non formal merupakan pandangan suatu masyarakat yang diajarkan secara tidak resmi melalui kisah-kisah atau dongeng-dongeng serta melalui penanaman konsep-konsep yang telah diwarisi sejak dahulu.
Proses pencapaian konsep Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi bangsa Indonesia dari ideologi tak resmi menjadi ideologi resmi tampak pada penggalian tataran desa adat. Desa adat diikat  oleh desa (tempat), kala (waktu), dan patra (situasi kemanusiaan). Konsepsi desa, kala, patra,  merupakan suatu  tradisi dalam budaya Bali sebagai wujud konkret dari pemahaman akan keberadaan ruang dan waktu. Desa, kala, patra dianggap sebagai kesadaran yang tinggi akan tempat, waktu, dan situasi kemanusiaan. Ruang dan waktu dianggap sebagai daya kekuatan yang misterius dan maha besar yang mengatur siapa saja, mengatur dan menentukan kehidupan di dunia fana, serta kehidupan para dewa.
Desa (tempat), kala (waktu), dan patra (situasi) yang mengikat desa adat menyebakan terjadi keberagaman dari tradisi masyarakatnya. Tiap desa adat memiliki tradisi yang berbeda, akan tetapi memiliki inti pelaksanaan yang sama. Hal inilah yang perlu disikapi dan dipahami sehingga hubungan harmonis tersebut tetap terjalin. Pada hakikatnya ’yang satu itu adalah banyak’ dan ’yang banyak itu adalah satu’. Satu itulah yang merupakan inti dari kebenaran. Seperti yang tertuliskan dalam GSM  “Bhinékà tunggal kaucap patut pisan, rwa bhinéda kawastanin, mulà bhina basà, nanging wakyà tunggal… (Pupuh Durma, Bait 16, Hal. 45 – 46)”, terjemahan: sangatlah patut disebut sebagai Bhineka Tunggal Ika, Rwa Bhineda namanya, memang namanya berbeda, namun maknanya tunggal …. Sejalan dengan petikan Kakawin Sutasoma  “Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” yang terjemahannya: berbeda-beda tetapi tetap satu tiada  kebenaran yang kedua. Perbedaan muncul dari pengaruh lingkungan karena setiap daerah menghasilkan hasil alam yang berbeda, inilah yang diolah oleh kreativitas masyarakat sehingga menghasilkan kebudayaan yang berbeda namun semuanya tetap berlandaskan atas sastra.
Pandangan tersebut jika ditinjau dari ideologi formal atau dianggap sebagai pandangan hidup suatu negara, konsep Bhineka Tunggal Ika dapat dikatakan sebagai ideologi bangsa Indonesia. Ideologi tersebut mencerminkan bahwa Bangsa Indonesia dalam pandangan hidupnya menginginkan terbentuknya suatu hubungan harmonis, karena Bangsa Indonesia terdiri dari suku, agama, dan ras yang beraneka ragam. Ideologi tersebut digali melalui khazanah kebudayaan bangsa. Berdasarkan hal tersebut untuk dapat memperkuat ideologinya, Bangsa Indonesia haruslah memperkuat dan menghayati nilai-nilai budaya bangsa sehingga terbentuk suatu karakter Bangsa Indonesia. Konsep Bhineka Tunggal Ika sebagai suatu pandangan hidup yang akan memberikan pencerahan dalam kehidupan muncul melalui suatu proses yang cukup panjang. Mpu Tantular  sebagai pengarang Kakawin Sutasoma yang menjadi sumber penulisan frasa tersebut merumuskan pandangannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Konsep tersebut pertama kali dicetuskan dalam Kakawin Arjunawijaya yang ditulis pada tahun 1370, dalam frasa “kalih sameka” yang berarti ‘dua sama itu’ terus berkembang dalam pandangan hidup, hingga tahun 1380 baru terlontar frasa Bhineka Tunggal Ika ‘berbeda itu satu itu’ (AGASTIA, 1987: 67 – 68). Pada tahun 1945 konsep tersebut diserap sebagai ideologi Bangsa Indonesia. Penetapan Bhineka Tunggal Ika berarti ‘berbeda itu satu itu’ sebagai ideologi bangsa muncul dari kesadaran para pendahulu akan perbedaan  suku, ras, agama namun dibalik perbedaan itu memiliki tujuan yang sama yakni menciptakan hubungan harmonis, hanya saja cara untuk mencapainya berbeda-beda. Jika proses penggalian ideologi tersebut disadari dan dipahami sebagai suatu karakter, maka pertikaian antar suku, ras, agama di Indonesia tidak akan terjadi.
Konsep Bhineka Tunggal Ika ‘berbeda itu satu itu’ juga melandasi penyusunan peraturan perundang-undangan yang mengutamakan keadilan dan tidak terlepas dari UUD 1945. Keadilan dalam perundang-undangan belum dapat diterapkan secara maksimal. Hal ini tidak terlepas dari karakter masyarakat yang telah mengalami degradasi moral. Ungkapan akan penyimpangan hukum tersebut juga dikritisi dalam GSM.
Wilayah pemerintahan terkecil secara formal disebut desa, secara tradisi disebut sebagai desa adat. Desa adat sebagai pranata masyarakat memiliki aturan yang dijabarkan melalui peraturan di atasnya untuk mengatur pola perilaku masyarakat, yang dibatasi  oleh desa (tempat), kala (waktu),  patra (situasi). Pola pengaturan perilaku masyarakat diatur oleh adat, karena di dalam adat itu sendiri terkandung agama, dresta, dan awig-awig. Hal tersebutlah yang digunakan sebagai cermin di dalam bertindak, sehingga terwujud keharmonisan, sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:

Nanging cening mangda tatas/
indik adaté puniki/
anggén suluh ring lakûaóà/
mangda manggih sane jàtì/
adàt ipun teges iki/
A màrti agama iku/
De artos ipun dresþà/
A dasar awig-awig/
T puniki/
wantah titi mautamà// (Pupuh Sinom, Bait 19, Hal. 28 – 29)

Terjemahan:
Namun anakku supaya tahu,
mengenai adat itu,
jadikan sebagai cerminan dalam berperilaku,
supaya bisa menemukan apa yang sesungguhnya,
arti dari adat itu,
A, berarti agama,
D, berarti dresta,
A, berarti dasar atau awig-awig,
T, itu berarti,
sebagai jalan yang utama.

Wujud konkret aturan tersebut tertuang di dalam awig-awig, sehingga di kalangan masyarakat sering berkembang pandangan “awag-awagine nganggo awig-awig dadi uwug”, yang terjemahannya adalah: sembarangan menggunakan awig-awig (aturan-aturan) dapat merusak. Yang dimaksudkan dengan merusak adalah rusaknya tata pranata yang telah diwarisi dan disepakati sebagai suatu sistem aturan berperilaku di dalam masyarakat. Oleh karenanya,  pandangan itu didekonstruksi kembali menjadi “eda ngawg-awag nganggo awig-awig apang tusing dadi uwug”, yang terjemahannya adalah: supaya tidak merusak, janganlah sembarangan menggunakan aturan. Uraian tersebut mengingatkan bahwa aturan dibuat bukan untuk dilanggar melainkan untuk ditaati. Menaati aturan secara tidak langsung menciptakan suatu keharmonisan tataran kehidupan atau pola perilaku di masyarakat. Hubungan yang tidak harmonis akan muncul jika dalam penerapan peraturan terjadi penyimpangan hukum sehingga azas hukum yang adil akan semakin bergeser. Penyimpangan ini berdampak munculnya kasus KKN (Kolusi Korupsi Nepotisme).
Persoalan ekonomi dan politik bangsa menimbulkan permasalahan tata ruang, yang berdampak pada kurang nyamannya suatu wilayah, sehingga wilayah tersebut akan menjadi rawan konflik. Sesungguhnya hal itu tidak perlu terjadi jika penggunaan lahan disesuaikan dengan amanah yang telah diwarisi sejak dahulu sebagai suatu sistem kebudayaan. Seperti halnya pengaturan lahan yang disesuaikan dengan ajaran Asta Bumi, dan pendirian bangunan yang disesuaikan dengan ajaran Asta Kosala Kosali.
Pada GSM pupuh durma bait 41 disebutkan “Asta kosala, Asta Kosali, Asta Bumi” merupakan sastra yang berisikan hakikat tata ruang dan tata bangunan. “Asta Kosala, Asta Kosali” berisikan hal-hal yang berkaitan dengan tata bangunan, terutama dengan ukuran bangunan, sedangkan “Asta Bumi” berisikan hal-hal yang berkaitan dengan tata letak bangunan. Dengan pengaturan tata ruang berdasar atas Asta Kosala, Asta Kosali, dan Asta Bumi diharapkan alam beserta isinya dapat berjalan seimbang sesuai dengan kodratnya sehingga tercipta hubungan yang harmonis.
Semua permasalahan tersebut sesungguhnya dapat teratasi dengan kebijaksanaan yang didasari atas ilmu pengetahuan (widya), bukan atas dasar keinginan (kama) yang akan menyebabkan kebodohan (awidya). Kesadaran akan diri ditandai  dengan kesadaran hasil perbuatan (karma phala). Karena hanya karma phala yang kekal adanya, dan itu dapat membuat manusia bahagia atau sengsara.

Uduh cening pianak bapa/
lacur cening numadi/
tusing ada ngelah nyama/
memen cening ngalin mati/
barak cening katinggalin/
ingetang awake lacur/
plajahin masolah melah/
anggon bekel kayang mati/
ipun nuntun /
sang hyang atma kala budal//  (Pupuh Sinom, Bait 3, Hal. 5-6)

Terjemahan:
Hai engkau anakku,
sangat miskin lahir di dunia ini,
tidak mempunyai saudara,
ibumu juga telah meninggalkanmu mati,
pada saat engkau masih bayi,
ingatlah bahwa dirimu miskin,
pelajarilah cara berperilaku yang baik,
untuk bekal hidupmu setelah kau mati,
karmamulah yang akan menuntunmu,
ketika atmamu kembali pada Sang Hyang Widhi.

Bapa lacur lintang nista/
tusing nyidayang mekelin/
ane magoba kasugihan/
napi malih karang carik/
tegak umah baan nyilih/
mula tumbuh liwat lacur/
ede cening maseselan/
krane kene jani tampi/
ane malu/
bapa tusing ngelah apa// (Pupuh Sinom, Bait 4, Hal. 6-7)

Terjemahan :
Bapak miskin dan sangat kecil,
tidak bisa memberikan bekal,
dalam bentuk harta,
terlebih lagi tanah sawah,
tanah tempat berdirinya rumah pun hasil meminjam,
memang hidup kita terlalu miskin,
janganlah engkau menyesal,
karena inilah yang engkau warisi,
sebelumnya,
bapak tidak memperoleh hasil kerja yang baik.

Berdasarkan kutipan di atas tampak bahwa pengarang menguraikan suatu konsepsi yang sederhana dan realita di masyarakat. Sesungguhnya konsepsi itu memiliki makna yang mendalam apabila kata-kata yang membangun tanda tersebut dipandang sebagai suatu sistem semiologi yang nantinya akan membentuk ideologi. Secara semiologi pengarang sesungguhnya ingin memberikan pemahaman kepada pembaca sebagai suatu proses belajar. Pada hakikatnya manusia hidup untuk belajar. Belajar yang dimaksud mencakup seluruh aktivitasnya. Proses belajar yang, oleh pengarang diungkapkan melalui percakapan seorang ayah dengan anaknya, memberikan pandangan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya tidak membawa apa. Manusia dilahirkan tanpa menggunakan apa-apa dan ketika matipun manusia tidak akan membawa apa-apa.
Manusia ketika mati hanya ditemani oleh karma phala dalam bentuk subhakarma (perbuatan baik) dan asubhakarma (perbuatan jahat). Harta benda hanya dapat mengantarkannya sampai pada waktu ia meninggal dunia, sedangkan sanak keluarga dan kerabat hanya dapat mengantarkan sampai di kuburan. Karma phala setia mengantarkan manusia sampai di alam sana. Pada hakikatnya manusia (atman) lahir ke dunia, nantinya akan kembali kepada pada penciptanya (paramatman), maka Tuhan dan ciptaan-Nya  menjadi satu dalam kekekalan yang abadi. (ZOETMULDER, 1991: 21). Sejalan dengan uraian Sarasamuscaya ”Apanikang kadang warga rakwa, ring tunwan hinganikan pangatêrakên, kunang ikang tumut, sahayanikang dadi hyang ring paran, gawenya úubhàúubha juga, matangnyan prihên tiking gawe hayu, sahayatna anuntunakêna ri pênadlàha”, yang terjemahan: adapun sanak saudara, sesungguhnya batasnya untuk mengantar hanyalah sampai di kuburan, namun yang akan menemani sebagai sahabat dari roh mendiang (atman) sepanjang perjalanannya, adalah perbuatan baik dan buruk yang pernah dilakukannya selama hidup, sehingga berusahalah untuk selalu berbuat baik, sebagai sahabat yang akan menemani manusia (atman) utuk kembali kepada penciptaannya (paramatman)  (MENAKA, 2002: 58 – 59).
Manusia hidup di dunia tidak dapat melepaskan diri dari karma phala. Walaupun manusia dilahirkan sebagai seorang yang miskin dalam artian tidak memiliki arta benda dan tanah, tetapi ia dapat menjadi orang yang kaya, yaitu  kaya akan ilmu pengetahuan, yang akan digunakan untuk mengabdi kepada masyarakat. Ida Pedanda Made Sidemen, seorang pengarang besar pada abad ke-20 (AGASTYA, 2006: viii);  memiliki semboyan  yang tertuang dalam geguritan salampah laku  pada pupuh sinom bait 11“…tong tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo di desa-desa” (BAGUS, 1988: 100), yang artinya: … tidak memiki tanah sawah, maka badanmulah yang ditanami, pengetahuan dan keterampilan desa, yang dapat diterapkan di desa-desa. Yang dimaksud dengan ’badanmulah yang ditanami’ adalah bahwa manusia harus senantiasa belajar untuk mengisi diri, karena ilmu pengetahuan tidak pernah ada habisnya. Ilmu pengetahuan ini yang akan dijadikan sarana untuk mengabdi kepada masyarakat. Diibaratkan seperti orang yang memiliki harta berlimpah, apabila diberikan kepada orang lain, walaupun sedikit demi sedikit, lama kelamaan harta tersebut akan semakin habis. Sebaliknya,  orang yang  memberikan bantuan kepada orang lain berupa pengamalan ilmu pengetahuan, ilmunya tidak akan habis. Ilmu tersebut justru akan semakin berkembang karena semakin banyak orang yang menguasainya.
Ilmu pengetahuan (widya) sesungguhnya menjadi dasar dalam pembentukan karakter bangsa yang, tentunya, akan membangun ideologi. Ilmu pengetahuan (widya) digali dari kearifan lokal dengan tujuan menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan. Hubungan harmonis akan menimbulkan toleransi sehingga perselisihan antar suku, ras, agama tidak akan terjadi. Keadilan dalam bidang hukum, pengelolaan tata ruang yang sesuai dengan budaya bangsa. Jika semua itu dapat dipahami dan dilaksanakan maka karakter bangsa akan terbentuk, sehingga tercipta masyarakat yang adil dan makmur.

Simpulan
Geguritan Sekar Mulat (GSM), tergolong kedalam karya sastra geguritan, dibangun atas tiga pupuh yaitu pupuh sinom, pupuh ginada, dan pupuh durma.  Berdasarkan isinya GSM merupakan suatu geguritan yang mengandung ajaran yang harus diingat (tutur). Ajaran-ajaran yang terkandung di dalam karya tersebut telah berkembang di masyarakat dari sejak dahulu dalam bentuk lisan.
Tri Hita Karana merupakan ajaran yang terkandung dalam Geguritan Sekar Mulat (GSM). Di dalam ajaran tersebut memaparkan bagaimana membina suatu hubungan yang harmonis antara Tuhan, lingkungan, dan antar sesama manusia. Tri Hita Karana sebagai hakikat kehidupan dalam pembentukan karakter  haruslah dijalankan secara harmonis oleh manusia melalui hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Hubungan yang harmonis tersebut membentuk karakter bangsa sebagai realisasi dari ideologi yang telah diwariskan dari generasi sebulumnya. Karakter bangsa yang ditawarkan dalam Geguritan Sekar Mulat (GSM) meliputi : 1) Pengejewantahan konsep Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi bangsa Indonesia; 2) Taat akan hukum yang berlaku; 3) Pengelolaan tata ruang; 4) Peningkatan sumber daya manusia; 5) Percaya akan adanya hukum sebab akibat (karma phala) sebagai sarana pengendalian diri.

DAFTAR PUSTAKA
AGASTIA, IDA BAGUS GEDE. 1980. “Geguritan Sebuah Bentuk Karya Sastra Bali”. Denpasar.
–––––. 1987. Sagara Giri: Kumpulan Esei Sastra Jawa Kuna. Denpasar: Wyasa Sanggraha.
–––––. 2006. Ida Cokorda Mantuk Ring Rana Pemimpin yang Nyastra. Denpasar: Dharma Sastra.
ANOM, DKK. 2008. Kamus Bali-Indonesia Beraksara Latin dan Bali. Denpasar: Kerjasama Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dengan Badan Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Provinsi Bali.
ARCANA, I WAYAN KAWI. 1992. “Geguritan Sekar Mulat”. Denpasar.
BAGUS, I GUSTI NGURAH, DKK. 1988. Analisis Geguritan Salampah Laku Karya Ida Padanda Made Sidemen. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.  
BARTHES, ROLAND. 2009. Mitologi (terj. Nurhadi dan A. Sihabul Millah). Yogyakarta: Kreasai Wacana.
–––––. 2010. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi (terj. Ikramullah Mahyuddin). Yogyakarta: Jalasutra. Danandjaja
DANANDJAJA, JAMES. 1984. Foklor Indonesia (Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain). Jakarta:  Grafiti Pers.
DINAS PENDIDIKAN DASAR PROPINSI DATI I BALI. 1986. Kakawin Sutasoma. Denpasar.
MENAKA, I MADE, 2002. Sarasamuscaya. Denpasar: Indra Jaya.
NOVAENI, GUSTI AYU. 2011. “Konsepsi Tri Hita Karana dalam Geguritan Sekar Mulat : Analisis Mitologi”. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana (Sebuah sekripsi sarjana pada Jurusan Sastra Bali).
SUARKA, I NYOMAN. 1987. “Babad Mpu Bharadah Mwang Rangdeng Dirah Analisis Struktur dan Fungsi”. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana (Sebuah sekripsi sarjana pada Jurusan Sastra Daerah).
–––––. 2007a. “Kesusastraan Bali Purwa”.   (Makalah dibawakan pada Penataran Guru Mata Pelajaran Bahasa Bali Tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK Negeri /Swasta Se-Bali di Denpasar).
–––––. 2007b. Kidung Tantri Pisacarana. Denpasar: Pustaka Larasan.
TERA, R.I. 2010. Panduan Pintar EYD. Yogyakarta: Indonesia Tera.
ZOETMULDER, P.J. 1991. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
ZOETMULDER, PJ. DAN ROBSON, S.O. 2006. Kamus Jawa Kuna Indonesia Penerjemah Darusuprapta Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.