Napak Tilas Jelajah Persebaran Cerita Menak

Cerita Menak yang berinduk dari Hikayat Amir Hamzah (Sastra Melayu) berkembang luas, tidak hanya di bidang sastra saja tetapi juga merambah ke bidang seni pertunjukan: wayang dan tari. Sebuah penggalan teks bertembang Asmaradana tersebut berikut ini: “Pratikele wong akrami, dudu brana dudu rupa, amung ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang luwih gampang, yen angel angel kelangkung, tankena tinambak arta.”. (Menak Cina, Jilid I, Bale Pustaka 1934). Kutipan satu bait tembang asmaradana di atas adalah sepenggal cerita menak yang pernah dikenal masyarakat penggemarnya secara lisan maupun tertulis. Di dalam tradisi tulis, cerita Menak terungkap di dalam Serat Menak, sebuah karya sastra Jawa bernafaskan Islam yang berisi kisah kepahlawanan tokoh cerita Amir Ambyah. Serat Menak merupakan transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah.

Tradisi sastra Jawa lama mengenal tiga wiracarita, yaitu kisah kepahlawanan yang bersuasana Hindu, epos yang berasal dan tumbuh berkembang di negeri sendiri, dan kisah kepahlawanan yang bernuansa Islam. Contoh wiracarita yang bersuasana Hindu adalah Ramayana dan Mahabharata. Contoh epos yang berasal dan berkembang di negeri sendiri adalah cerita Panji, sedangkan wiracarita yang bernafaskan Islam adalah Serat Menak, Serat Iskandar dan Serat Yusuf.

Transformasi cerita kepahlawanan Islam tersebut ada yang dilakukan di lingkungan kraton, misalnya: kraton Kartasura. Ada juga yang penggubahannya dikerjakan oleh penggubah ahli di Jawa Timur, yaitu di Giri dan Surabaya. Penyebaran wiracarita keislaman berbahasa Jawa tersebut meluas sampai ke sepanjang pesisir utara pulau Jawa, Palembang, Lampung, Madura, Bali bahkan sampai ke Lombok.

Di dalam tradisi naskah, sebuah naskah selalu mengalami penyalinan untuk tujuan penggandaan atau pelestarian. Penyalinan naskah ini berdampak timbulnya variasi teks atau perbedaan bacaan. Serat Menak yang hadir di ranah sastra Jawa bersumber dari Hikayat Amir Hamzah, sebuah kisah dalam sastra Melayu. Tokoh utamanya, Amir Hamzah, berubah menjadi Amir Ambyah, Bagendha Amir, Wong Agung Menak, Jayengrana, Jayadimurti dan sebagainya. Hikayat Amir Hamzah yang menjadi sumber penggubahan Serat Menak pada awalnya berinduk pada sastra Parsi Qissa il Emir Hamza, sebuah cerita kepahlawanan Parsi yang meriwayatkan tokoh cerita Amir Hamzah (Ronkel, 1895). Tokoh cerita Amir Hamzah digambarkan sebagai pahlawan yang gagah berrani dan perkasa. Ia merupakan tokoh penyebar agama yang dibawa Nabi Ibrahim. Penuturannya disesuaikan dengan suasana di tanah Jawa. Di Jawa Barat dan Jawa Timur kata menak merupakan sebutan untuk gelar bangsawan di daerah di Blambangan, Lumajang, seperti: Menak Prasanta, Menak Sangkan, Menak Supala (Pigeaud, 1970). Di dalam cerita Menak dikatakan bahwa Amir Ambyah adalah putra Abdul Mutalib, seorang bangsawan pejabat di Mekah. Ia ditampilkan sebagai seorang pahlawan Islam yang berperang dari satu negeri ke negeri lain untuk menyebarkan agama dan memerangi raja kafir. Serat Menak sangat populer di kalangan masyarakat Jawa pada abad ke-19 dan ke-20, dengan pemakaian nama-nama diri meminjam dari nama tokoh cerita menak, seperti: Amir Ambyah, Maktal, Jayusman, Jumiril, Lukman, Aruman, Kuraisin, Sulasikin, Sudarawerti, Muninggar, dan Kadarwati. Hal itu merupakan sebuah pilihan yang bijak.

Cerita menak yang menjadi kandungan muatan Serat Menak didukung oleh banyak naskah tertulis yang tersimpan dan menjadi koleksi perpustakaan, lembaga, museum, baik yang merupakan instansi negeri atau swasta, atau menjadi koleksi perorangan, di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia koleksi naskah Menak yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Universitas Indonesia (Pusat), koleksi naskah Serat Menak milik Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Museum Sana Budaya di Yogyakarta, Kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunagaran, Museum Radyapustaka Surakarta, berjumlah cukup banyak, belum lagi naskah-naskah serupa yang dikelola di tempat-tempat lain di luar Indonesia (Poerbatjaraka, 1933, 1940, 1950; Pigeaud 1967, Florida 19, Behrend 1997).

Cerita menak diperkirakan masuk ke dalam sastra Jawa pada abad ke-17, pada masa kerajaan Mataram Islam (Poerbatjaraka 1940 dan 1950). Pada abad ke -16 dan ke-17 cerita menak banyak ditulis di pesisir utara Jawa Timur, Madura, Bali dan Lombok. Pada abad ke-18 serat menak versi Jawa ditulis di keraton Jawa Tengah. Penulisan pertama dilakukan di kerajaan Kartasura. Serat Menak Kartasura merupakan hasil gubahan dari Sastra Melayu, Hikayat Amir Hamzah. Gubahan Serat Menak itu ditulis pada hari Jumat tanggal 17 Rajab tahun Dal, Tahun 1839 AJ (Juli 1717 M), dengan sengkalan: Lenging Welut Rasa Wani (liang belut rasa berani), ditulis oleh Carik Narawita, menantu Waladana.

Teks serat Menak Kartasura masih dekat sekali dengan hikayat Amir Hamzah berbahasa Melayu, ditengarai masih ada kata-kata Melayu di dalam teks Menak Kartasura, di antaranya: temen sira nora kasih, tumpesen donemu(=olehmu), sang nata dhateng turut, Ambyah kang dipun beri (Poerbatjaraka, 1940). Selain itu masih terdapat juga bahasa pesisir. Sedangkan dalam kidungnya masih berbekas kata-kata dari kidung bahasa Jawa pertengahan, yang terlihat dari seringnya digunakan kata-kata : reke, reko, tan asari, tan asantun,dan katengsun. Teks yang bertembang sinom di larik ketiga di setiap bait, pada akhir larik bersuara vokal masih sering bersuara “taling tarung” (o) (Poerbatjaraka, 1957).

Naskah Menak Kartasura dikelola oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor koleksi BG 613. Naskah ini ditulis pada kertas daluwang (dlancang), sebanyak 1188 halaman, ukuran 24 x 35 cm disusun dalam bentuk tembang, beraksara Jawa corak keraton, pada saat itu (Poerbatjaraka, 1940). Pigeaud menyatakan bahwa pada abad ke 18 masa kepujanggan di Surakarta, Yasadipura melakukan penyusunan Serat Menak (1967) Yasadipura menyusun Serat Menak dalam bentuk gubahan bersumber dari Menak Kartasura (Poerbatjaraka, 1957). Menak Kartasura itu telah ditranskripsi lengkap.

Bahasa serat menak gubahan Yasadipura (selanjutnya disebut Menak Yasadipura) lebih diperluas, disusun dalam tembang macapat sehingga menjadi karya sastra yang indah. Di antara teks serat menak, teks Menak Yasadipura adalah yang terpanjang, yang disusun sendiri oleh penggubahnya di keraton Surakarta. Teks tersebut merupakan saduran langsung dari Menak Kartasura. Teks ini terdiri dari 5200 halaman di naskah Lor 1787.

Sebuah naskah Serat Menak lain lagi adalah naskah Br 27, koleksi Perpustakaan Nasional, ditulis dengan aksara Pegon dalam bentuk tembang. Isinya lebih kurang pararel dengan Menak Kartasura (Poerbatjaraka, 1940). Sujarah Darma PA 0020 merupakan versi Serat Menak yang lebih ringkas ketimbang Serat Menak versi Yasadipura dan berangka tahun 1720 AJ atau 1794 AD. Sujarah Darma merupakan kitab yang utuh seperti Menak Kartasura, sedangkan Menak Yasadipura terbagi menjadi episode-episode, masing-masing merupakan satu lakon penuh. Naskah Sujarah Darma dikoleksi oleh Pura Pakualaman, Yogyakarta.

Pada awal abad ke 17 terdapat naskah serat menak berbahasa Jawa dalam lontar sebanyak 119 lempir. Pada tahun 1627 Andrew James menyerahkan naskah itu ke Bodleian Library. Dengan demikian dua abad sebelumnya Yasadipura menggubah Serat Menak, sastra Amir Hamzah telah masuk ke Sastra Jawa (Ricklefs & Voorhoeve, 1977, dikutip Sedyawati et al, 2001. Karya sastra Jawa pesisiran bertembang macapat, termasuk Serat Menak, memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan kaidah tembang macapat yang baku. Perbedaan ini terlihat pada jumlah suku kata di setiap larik dan sistim ejaan yang tidak konsisten (Sedyawati et. Al, 2001). Pada Sastra Jawa Pesisiran lazim terdapat wadana. Wadana merupakan metrum pendahulu atau tembang pemula pembuka pada sastra Jawa Pesisiran. Tembang pendahulu itu lazimnya menggunakan metrum Asmaradana. Poerbatjaraka menyatakan bahwa penggunaan wadana dimaksud untuk menandai bahwa karya sastra bersangkutan adalah karya sastra Jawa Islam, terutama yang berasal dari kalangan pesantren, seperti wadana dalam cerita Lahad, Asmarasupi, Aruman dan cerita menak Versi Kartasura. Pernyataan Poerbatjaraka itu merupakan hasil pengamatannya terhadap sastra Jawa pesisir dan sastra Jawa bukan produk pesisir. Wadana yang menjadi penanda sastra Jawa pesisir dengan tembang Asmaradana kelanjutannya berubah menjadi metrum Dandanggula. Dengan perubahan itu, diperkirakan sastra pesisiran telah mendapat pengaruh dari sastra keraton (Sedyawati et al, 2001).

Kembali ke cerita Menak, cerita Menak lainnya yang bukan cerita induk adalah “Menak Pang” atau “Menak Sempalan”. Dari jenis cerita menak ini yang paling digemari adalah Rengganis dan Prabu Lara. Sedangkan Menak Carangan naskahnya banyak tesebar di Lombok dalam bentuk naskah lontar (Pigeaud, 1967, Poerbatjaraka 1940, dikutip Sedyawati et al, 2001).

Penulisan sastra dimaksud sebagai sarana peningkatan kwalitas manusia. Sastra harus membawa manfaat dan kenikmatan kepada masyarakat dan hendaknya memberi kenyamanan estetik kepda peminatnya (Sedyawati, 1989). Karya penulisan itu merupakan buah kecerdasan manusia. Dengan pemikiran yang dilandasi oleh kearifan mampu memberi ketenteraman dan kebahagiaan hidup (Rahyono, 2009). Dalam penggubahan cerita Menak dari Hikayat Amir Hamzah ke Serat Menak penuturannya disesuaikan dengan suasana di tanah Jawa, dan pengisahannya lebih diperluas. Pemakaian nama-nama tokoh cerita di dalam Serat Menak untuk nama diri di kalangan masyarakat Jawa dan Sunda merupakan salah satu cara populerisasi.

Di sisi lain nama tempat dan tokoh cerita Jawa acap diikut-sertakan di dalam Serat Menak, misalnya: Purwakandha, Tasikwaja, Parangteja, Tlaga Madirda, Ismaya, Banjaransari, Kaladitya, Kadamingsih. Bahkan nama tokoh cerita Menak dipertukarkan dengan nama-nama di keraton, seperti: Nuserwan, Adiwinata, Bertak = Mangkuyuda, Ambyah=Sasraningrat, atau Pakuningrat, Umarmaya = Tirtanagara; tersebut di dalam Menak Suryanglembara (Poerbatjaraka, 1940). Dari segi struktur cerita kisah menak sama dengan cerita Panji. Bentuk, alur, sifat dan karakter serta nama-nama tokoh ceritanya mengacu kemiripannya dengan cerita panji.

Cerita menak pada hakekatnya merupakan cerita panji dengan pelaku cerita tokoh asing. Nama-nama tokoh cerita Menak mirip dengan tokoh cerita Panji. Beberapa nama yang dipadankan antara lain: Dewi Muninggar dipersamakan dengan Galuh Candrakirana. Amir Ambyah dipadankan dengan Panji Inu Kertapati. Dalam hal pengembaraannya Panji dan Amir Ambyah keduanya sama-sama gagah berani, selalu unggul dan berjaya di peperangan. Karena kejayaannya di medan laga itu Amir Ambyah diberi julukan seperti julukan terhadap Panji: Jayengrana, Jayengpalugon, Jayadimurti, yang bermakna unggul berjaya di medan perang (Poerbatjaraka, 1952). Kesamaan lainnya, panji yang dalam pengembaraannya diiring oleh dua orang “panakawan”, Wong Agung Menak atau Amir Ambyah juga diiring oleh dua panakawan Umarmaya dan Umarmadi (Pigeaud, 1970).

Sebuah rekayasa yang bijak di bidang senirupa, yaitu tokoh-tokoh cerita menak ditransformasikan dalam wujud boneka wayang tiga dimensi, dalam bentuk wayang golek. Wayang golek ini menampilkan repertoar cerita menak, disusun dalam lakon-lakon. Oleh karena wayang golek tersebut menggelar lakon cerita menak, maka disebut wayang golek menak. Penyajian wayang golek menak dengan iringan gamelan slendro dan pelog, terbagi tiga pathet: pathet nem, pathet sanga dan pathet manyura. Iringan sama dengan iringan wayang kulit purwa. Wayang golek menak terdapat di Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta, dengan dalang ki Widiprayitna; dan di Mirit, Kebumen Jawa Tengah, dengan dalang terkenal Ki Sindu Jotaryono (alm) dan sekarang dilanjutkan oleh Soenarto Sindhu, puteranya.Wayang golek Menak tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah berkembang di Brebes, Cilacap, Kebumen, Purwareja, Blora, Pati, Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Demak dan Kudus. Di Jawa Timur tersebar di daerah Situbondo, Tuban dan Bojanagara, di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, selain di Kulonprogo, wayang golek menak juga terdapat di Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta. Di Jawa Barat wayang golek menak terdapat di Cirebon dan Priangan (Soetrisno, 1970).

Timbulnya wayang golek, menurut tradisi lisan menurut M. Ng. Atmatjendana (dikutip Soetrisno, 1970), berawal pada tahun 1659, ketika keraton Kartasura membangun dan menyempurnakan berbagai seni pertunjukan istana. Sedangkan di kalangan masyarakat di luar istana, banyak seni pertunjukan yang datang dari pesisir (Soetrisno, 1970, dikutip oleh Soetarno, 2004). Soetrisno yang mengutip dari Priyohutomo menyatakan, setelah kerajaan jatuh tahun 1580, kebudayaan Sunda tidak berkembang di istana, kemudian sedikit demi sedikit kebudayaan Jawa Tengah masuk ke daerah Priangan (Soetrisno, 1970). Pendapat lain menyatakan bahwa wayang golek (Menak), berasal dari wayang China “ko-lei-hi, teater boneka wayang “ko-lei-hi” dibawa orang-orang China yangberagama Islam ke daerah pantai utara Jawa Timur (Setiodarmoko, 1988). Wayang golek di Cirebon diciptakan pada jaman Walisanga. Saat itu Kasultanan Cirebon diperintah oleh Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) tahun 1479-1568 M. (Pekan Wayang V, 1988, dikutip Soetarno, 2004). Wayang golek Cirebon disebut “Wayang Golek Papak”. Menurut penuturan Tunggul Gunawijaya, dalang wayang golek papak dari desa Sumber, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, bahwa seorang Senapati kesultanan Cirebon dari keraton Gebang bergelar Pangeran Papak (1649-1655), memerintahkan pembantunya agar mempergelarkan wayang golek seraya memberikan dakwah agama Islam. Selanjutnya wayang itu disebut wayang golek papak, atau wayang golek cepak, dengan repertoar cerita menak (Soetarno, 2004).

Ki Widiprayitno dari Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, semula adalah seorang dalang wayang golek purwa. Setelah menyaksikan tampilan Ki Marda Rediwiyana yang mempergelarkan wayang golek menak, ia sangat berminat menggelar pertunjukan wayang golek menak. Kemudian ia berguru kepada Ki Marda. Jadilah ia seorang dalang wayang golek menak yang terkenal di daerah Yogyakarta (Setiodarmoko, 1988, dikutip Soetarno, 2004).

Wayang golek Kebumen menampilkan repertoar cerita menak, kemudian lazim dikenal sebagai wayang golek Menak Kebumen, wayang golek Menak Kebumen diperkirakan perembesan dari wayang golek Pekalongan (Soetarno, 2004 mengutip dari Kunangsari, Warta Wayang 3, tt).

Sindu Jotaryono, dalang terkenal wayang golek Menak Kebumen menyatakan pendapatnya (dikutip oleh Sumanto); wayang golek di daerah ini berasal dari daerah pesisir: “Saya dapat menyatakan begitu karena jaman dahulu wayangnya memakai groda, wayang memakai groda itu terdapat di daerah Tegal” (Soetarno 2004, mengutip dari Sutarman 1990). Pergelaran wayang golek Menak Kebumen diiringi gamelan berlaras slendro dan pelog. Seluruh pertunjukan terbagi atas tiga pathet: pathet nem, pathet sanga dan pathet manyura. Gendhing dan sulukannya merupakan ciri garap khusus. Srepeg Kembang Jeruk dipakai sebagai srepeg baku, bagian pathet nem. Srepeg Rujak Beling untuk iringan perang pathet sanga,dan srepeg Semarangan untuk pathet sanga. Srepeg Rujak Beling pathet manyura digunakan untuk iringan perang pada bagian pathet manyura, Srepeg Bribil Buntung dipakai untuk iringan perang putri. Ladrang Godril dipakai untuk iringan perang tokoh “gecul” (Sindhu, 2004).Pada awal pergelaran adegan jejer, selalu dibarengi gendhing Bondhet kethuk kalih kerep, dilanjutkan Monggang Sekaten cengkok Kebumen, mengiringi adegan pasewakan raja. Untuk adegan raja gagah diiringi Lancaran Bendrong.Wayang golek Menak Kebumen juga mengenal tokoh panakawan, pengasuh tokoh protogonis Iman Suwangsa, Jayengrana, Jayusman dan lain-lain (Sindhu, 2004).

Cerita menak diperkirakan mulai dikenal pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), jaman kerajaan Mataram Islam. Penulisan cerita menak pada abad XV dan XVI, saat itu telah dikenal nama Menakjingga di dalam Serat Damarwulan. Menak berarti berbudi luhur, mulia, tampan dan sebagainya (Sindhu, 2004). Cerita menak tersebar luas, dikenal melalui karya gubahan Yasadipura I, berdasarkan Menak Kartasura buah tangan Ki Carik Narawita, (Sindhu 2004). Menak karya gubahan Yasadipura diterbitkan oleh Balai Pustaka menjadi 24 bagian, sebanyak 46 jilid, masing-masing bagian diberi nama atas dasar nama tokoh utama atau nama tempat, di antaranya:

1.Menak Sarehas           13. Menak Kandhabumi
2. Menak lare                14. Menak Kuwari
3. Menak Srandhil          15. Menak Cina
4. Menak Suluh             16. Menak Malebari
5. Menak Ngajrak          17. Menak Purwakandha
6. Menak Demis            18. Menak Kustub
7. Menak Kaos              19. Menak Kalakodrat
8. Menak Kuristam        20. Menak Sorangan
9. Menak Biraji              21. Menak Jamintoran
10. Menak Kanin           22. Menak Jaminambar
11. Menak Gandrung     23. Menak Talsamat
12. Menak Kanjun         24. Menak Lakat.

Dalang wayang golek Menak Kebumen mengolah lakon-lakon di atas menurut kemampuan masing-masing, baik garap adegan maupun sanggitnya, sehingga dari satu lakon digarap lain dalang terjadi lain olahan lain sanggit (Sindhu, 2004).

Sindhu Jotaryono, dalang kondang wayang golek Menak Kebumen, mempergelarkan lakon yang tidak terdapat di Serat Menak edisi Balai Pustaka, atas dasar garap sendiri, lakon-lakon itu adalah :

1. Ngembajati                                       10. Imanjaka takon bapa
2. Dewi Nawangwulan                            11. Resakusuma takon bapa
3. Dewi Mandhaguna-Mandhagini            12. Kendhit Birayung
4. Mandarpaes                                       13. Ganggakusuma takon bapa
5. Jayengrana wayuh                              14. Dewi Sri
6. Gendreh Kemasan                              15. Umarmaya kembar
7. Bambang Sekethi lair                          16. Menak Sathit
8. Ganggamina-Ganggapati                     17. Jayengrana kembar
9. Iman Suwangsa kembar                      18. Kadarwati ranjam.

Wayang Golek Menak Kebumen, juga mengenal lakon-lakon tabu. Mereka beranggapan apabila lakon-lakon itu dipergelarkan akan terjadi malapetaka. Lakon-lakon itu adalah: Umarmaya ngemis, Menak Lakat, Menak Jaminambar (Soetarno, 2004; Sindhu, 2004).

Kisah perjalanan berkembangnya cerita menak tidak hanya berkembang di pulau Jawa saja, tetapi menyeberang ke Bali bahkan sampai di pulau Lombok. Di Lombok cerita Menak menjadi repertoar lakon wayang kulit Sasak di Lombok.Perihal wayang kulit Sasak, Sadarudin, pengurus PEPADI komisaris daerah Nusa Tenggara Barat di Ampenan, Lombok, dalam makalahnya memaparkan: Agama Islam masuk ke pulau Lombok pada abad ke-16 dibawa oleh Sunan Prapen, putera Sunan Giri. Sunan Prapen banyak memanfaatkan wayang kulit sebagai media penyebaran agama Islam di Lombok. Keberadaan wayang di Lombok memiliki peranan penting bagi pengembangan masyarakat (Islam) Lombok, pertunjukan yang sangat digemari oleh suku Sasak karena fungsinya bukan saja sebagai hiburan semata, melainkan juga banyak memberikan manfaat melalui amanat yang disampaikan melalui pertunjukan itu. Pertunjukan wayang kulit Sasak mempergelarkan lakon dari cerita Menak, bersumber dari cerita Amir Hamzah. Sementara itu informasi lain menyatakan konon wayang di Lombok diciptakan oleh Pangeran Sangupati, seorang mubalig Islam di Lombok.

Tentang cerita wayang di Lombok versi lain mengatakan kemungkinan ceritanya berasal dari Parsi (Iran) yang masuk ke Indonesia melalui tanah Melayu, kemudian masuk ke tanah Jawa, selanjutnya menyebar ke Lombok (Sadarudin, tt). Cerita pewayangan di Lombok sebagai lakon pergelaran wayang Sasak berasal dari Serat Menak, terdiri dari tujuh jilid lontar berbahasa Jawa dengan huruf Jajawan, salinan dari Jawa, cerita pewayangan Menak di Lombok ditulis sesuai dengan kawiannya, hingga didapatkan berbagai judul:

1. Bang Bari
2. Gendit
3. Birayung
4. Ruham
5. Bansinah

Di dalam cerita wayang Menak Sasak tokoh cerita Amir Hamzah memiliki banyak nama (jujuluk), seperti:

1. Wong Menak
2. Jayeng Rana
3. Jayeng Tinon
4. Jayeng Palugon
5. Jayeng Palupi

Selain jujuluk tersebut di atas Amir Hamzah juga memiliki gelar yang diberikan oleh pendeta sakti Betal Jemur, yaitu:

1. Kelana Jaya Dimurti
2. Amiril Mukminin
3. Khamidil Ngalam

Di dunia pewayangan Menak Sasak, tokoh-tokoh pewayangan di bagi atas tokoh kanan dan bersifat baik dan tokoh kiri berwatak buruk. Sebagi contoh tokoh kanan adalah: Wong Menak, Umarmaya, Maktal, Taptanus, Saptanus, Umar Madi, Alam Daur (serandil), sedangkan tokoh sebelah kiri adalah: Nuserwan, Baktak. (Sadarudin, tt). Pergelaran wayang Menak Sasak diiringi bunyi-bunyian yang terdiri dari: gong, gendang lanang, gendang wadon, kajar, cenot, Rincik dan suling besar. Sakehe sebanyak tujuh orang ditambah dua orang selaku asisten dalang (Sadarudin,tt). Tabuh atau Nabuh itu memainkan gending. Dari awal pertunjukan hingga akhir pergelaran meliputi: Rangsangan, sebagai gending pembuka; Selutur, mengiringi Jayeng Rana tampil di pentas; Janggel, mengiringi pengabut, disusul pengucul; Baten/Batel, gending mengiringi wayang berjalan; Cirbon, gending mengiringi raksasa; Balik Rondon, mengiringi Wong Menak; Janggelan Prabu, mengiringi raja; janggelan Wadon, mengiringi perjalanan dalam suasana sedih; Laderan, mengiringi adegan Umarmaya.Wayang Menak Sasak hingga saat ini masih digemari oleh masyarakat Sasak di Lombok. Selain sebagai hiburan, dari gelar wayang Sasak itu dapat dipetik amanat yang terkandung, berupa nilai ajaran hidup yang tinggi. Wayang Menak Sasak juga menyiratkan makna-makna simbolis (Sadarudin, tt).

Van ronkel dalam De Roman van Amir Hamza melacak jejak persebaran Hikayat Amir Hamzah dimaksud untuk membangkitkan keberanian dan semangat juang para prajurit yang akan maju perang. Karya sastra dari hasil “ambil alih” dari sastra Persia Qissa’il Emir Hamza itu pada hakekatnya sejajar dengan Hikayat Amir Hamzah, dengan tambahan beberapa eposode. Apabila dicermati episode-episode itu hampir semua berkisah tentang perang (Ronkel, 1895; Sedyawati, 2001). Hikayat amir Hamzah tersebar di beberapa sastra daerah. Dalam sastra jawa, melalui Menak Kartasura, Hikayat Amir Hamzah merambah ke Menak Yasadipura (berlanjut ke serat menak edisi Balai Pustaka), berikut Menak Pang dan Menak Sempalan lainnya.

Dalam sastra Makassar Bugis dikenal Hikayat Amir Hamzah. Sastra Sunda mengenal Serat Menak, yang merupakan alih bahasa dari Serat Menak berbahasa Jawa dan versi lain dengan nama Amir Hamjah (Ronkel 1895). Persebaran cerita Menak melalui karya sastra merambah juga ke Lampung, Palembang, Madura dan Sasak, Lombok serta kalangan masyarakat Melayu di Sumatra dan Kalimantan. Kitab Menak Sasak dan Palembang berbahasa Jawa murni. Di dalam kitab Menak Sasak yang lebih muda sudah masuk kata-kata bahasa Sasak (Ronkel 1895, dikutip Sedyawati 2001). Tokoh cerita Amir Hamzah dalam sastra dari daerah lain sebutan nama Melayu masih dipertahankan, sedangkan di Sastra Jawa tokoh cerita menak telah dianggap sebagai tokoh Jawa dengan nama Menak Amir Ambyah, Wong Agung Menak, bagendha Amir (Rochkyatmo, 2002).

Cerita menak bersosialisasi dengan khalayak peminatnya tidak hanya melalui jalur sastra. Transformasi cerita menak ke seni pertunjukan dimulai merambah ke seni wayang, dengan beberapa jenis wayang kedaerahannya, masing-masing dengan repertoir cerita menak (Rochkyatmo, 2002). Merambahnya Cerita Menak ke seni wayang berlanjut ke bidang seni tari. Tari wayang golek (menak) adalah tari yang ragam geraknya berpangkal dari gerak wayang golek (menak). Tahun 1941 Sri Sultan Hamengkubuwana IX (alm) sangat terkesan akan pergelaran wayang golek menak oleh ki dalang Widiprayitno dari Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta. Timbullah gagasan untuk menciptakan tari dan dramatari yang mengacu pada wayang golek menak, sebuah angan-angan yang arif. Pada tahun 1943 gagasan yang bijak itu mulai terwujud, dengan dituangkannya tiga watak tari: tari putri, tari putra alus dan putra gagah. Tahun 1987 gagasan untuk terciptanya gerak tari wayang golek muncul kembali. Dikumpulkanlah para pakar tari, sastra, karawitan dalang wayang golek dan sebagainya. Melalui sarasehan, lokakarya, lahirlah tambahan ragam gerak tari dari tiga tari, bertambah menjadi sepuluh karakter tari selanjutnya terwujud menjadi enam belas watak tari. Untuk menarikan tari wayang golek setiap penari wajib mematuhi patokan dan harus tetap berpijak pada kaidah-kaidah di dalam tari klasik Yogyakarta. Tuntutan menarikan tari tari golek menak, bukanlah “golek ambeksa” (=boneka menari) melainkan “ambeksa golek” (=menarikan boneka). Gerak-gerak tari wayang golek mengacu pada gerak wayang golek menak, tetap dijiwai “joged mataram”, titik berat terletak pada gerak lambung dan gerak kaki diperingan (Dinusatomo, 2004).

Yayasan Siswa Among Beksa pada tahun 1972 melakukan pencatatan gerak-gerak tari dan ragam gerak tari wayang golek menak secara deskriptif, meliputi tari alus impur, tari alus kalang kinantang, tari gagah kalangkinantang dan tari gagah bapang (Dinusatomo, 2004). Yayasan Siswa Among Beksa, Yogyakarta telah beberapa kali menyelenggarakan pentas uji, berupa fragmen tari atau pergelaran tari berlakon, misalnya:

– pada tahun 1958 digelar fragmen tari Raden Tocharam kawin,
– pada tahun 1959 digelar pentas tari lakon Negeri Kobar Jatuh,
– pada tahun 1974 digelarpentas tari lakonNegeri Mukadam jatuh, diselenggarakan Pusat Kesenian Jakarta,
– pada tahun 1978 digelar pentas tari Negri Mukadam Jatuh, oleh Yayasan Siswa Among Beksa,
– pada tahun 1984 digelar pentas tari lakon Rengganis Senapati, penyelenggara Direktorat Kesenian Jakarta,
– pada tahun 1985 digelar pentas tari lakon: Kadarwati Senapati; tahun 1986, pentas tari lakon: menak Purwakandha.

Selain pementasan tari berlakon, Yayasan Siswa Among Beksa juga membuat tari Beksa berpasangan, di antaranya: Beksan Rengganis Widaninggar, Beksan Kelaswara Adaninggar, Beksan Sudarawerti-Sirtupilaheli.

Selain tari golek Menak yang dibina oleh Yayasan Siswa Among Beksa, di Yogyakarta juga brekembang tari wayang golek yang lebih cenderung menitik beratkan “gerak tari kayu” yang kaku, bukan pada keindahan dan keluwesan gerak. Pada tari itu berlaku istilah ‘golek anjoged” (boneka menari). Tari yang berkembang itu berupa petikan fragmen tari, berupa tari berpasangan, Umarmaya-Umarhadi. Tari Golek menak Dagelan itu lebih dipengaruhi tarian Ki Bekel Lebdajiwa (bekel tembong) dan Ki Bekel Atmonadi.

Cerita menak bersosialisasi dengan masyarakat peminatnya tidak hanya melalui jalur literer, transformasi cerita menak ke seni petunjukan pun ikut menunjang proses bermasyarakatnya cerita menak dengan khalayak sutresnanya. Penampilan repertoar cerita menak ikut mempercepat pencapaian sasaran penyebar luasan dan peningkatan wawasan. Beberapa seni pertunjukan yang menampilkan lakon menak adalah: wayang golrk Cepak Cirebon, Teater Tutur Jemblung di daerah Banyumas dan Kedu, Wayang Golek Menak di Kebumen, Wayang Golek Menak di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta, Teater Tutur di pesisir utara pulau Jawa, Wayang Krucil di Kediri, Jawa Timur dan di pesisir utara pulau Jawa Timur, wayang Thengul kelompok pengamen (sekarang kesenian ini telah langka), wayang kulit Sasak di Lombok, tari wayang golek di kraton Yogyakarta, berbagai nomor tari lepas. Pergelaran padat fragmen wayang golek menak, lakonnya dikembangkan dari episode-episode tari wayang golek lepas. Siaran auditif, pentas wayang golek menak, dalang Ki Widiprayitno, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta disiarkan melalui RRI Yogyakarta, satu kali sebulan.

Sastra menak merupakan salah satu karya penulisan sastra pada masa itu (masa Kartasura). Penulisan sastra, selain didorong oleh kesadaran sastra juga dimaksud sebagai sarana pemersatu umat dan penumbuh semangat kebersamaan, di samping untuk meresapi nilai luhur yang terkandung yang layak dihayati dan diteladani (Rochkyatmo, 2002).

KEPUSTAKAAN
Dinusatomo, RM. 2004. “Tari golek menak Daerah Istimewa Yogyakarta”. Makalah. Yogyakarta.

Menak Cina. 1934. Batavia Centrum: Bale Pustaka,

Pigeaud, Th.P. 1967. 1970. Literatur Of Jawa I, II. The Hague: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka. 1940. Beschrijving der Handschriften Menak. Bandung: AC Nix & co.

––––– . 1957. Kapustakan Jawi. Jakarta: Penerbitan Jambatan

Poerbatjaraka, Voorhoeve, Hooykaas. 1950. Indonesiche Handscriften. Bandung:AC Nix & co.

Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja. 1952. Kepustakan Jawa. Jakarta: Penerbit Jambatan.

Rahyono, FX. 2009. Kearifan Budaya dalam kata. Jakarta:Wedatata Widya Sastra.

Rochkyatmo, Amir. 2002. Pengantar penerbitan Menak Sareas. Jakarta: Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti

Ronkel, Ph van. 1895. De Roman van Amir Hamza. Leiden: EJ Brill

Sadarudin, Ki. “Mengenal wayang menak Sasak” (Makalah).

Sedyawati, Edi. 1989. ‘Laporan Seminar Sastra Jawa abad 18 dan 19’. Depok: Universitas Indonesia.

Sedyawati, Edi, dkk. 2001. ‘Laporan Seminar Sastra Jawa abad 18 dan 19’. Depok: Universitas Indonesia.

Sindhu, Soetrisno. 2004. ‘Pergelaran wayang golek menak Kebumen’. Makalah Pekan Wayang Menak, Jakarta.

Soetarno. 2004. Wayang Golek Menak. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.