Naskah Panji Koleksi Perpustakaan Nasional

1. Yang dimaksud cerita Panji adalah cerita dengan tokoh utama (laki-laki) Panji (Inu Kertapati) berikut variannya (misalnya Kudawaningpati, Raden Putra, Raden Ino, Inao, dan seterusnya) dan Galuh Candrakirana atau Sekartaji berikut variannya, dengan latar Kerajaan Jenggala (Keling), Kadiri (Daha), Gagelang, (ng)Urawan, dan Gagelang (Gelang-gelang), serta kadang-kadang ditambah Singasari. Kisahan terjadi seputar pengembaraan salah satu tokoh utama—yang diikuti kadean untuk tokoh Panji dan emban ‘dayang-dayang’ untuk tokoh Candrakirana—karena mencari tokoh utama lain yang oleh suatu sebab meninggalkan kediamannya. Tokoh utama tersebut bersalin rupa dan atau berganti nama dan nama samaran salah satu tokoh utama menjadi judul teks, misalnya Panji Angronakung, Wasengsari, dan Hikayat Panji Semirang; kecuali Panji Angreni (Angreni bukan nama samaraN salah satu tokoh utama). Berdasar kesamaan tata susun kisahan berikut nama tokoh dan latar, Robson (1971: 12–13) menyebut cerita Panji sebagai suatu genre.

2. Cerita Panji merupakan cerita yang terkenal pada zamannya, terbukti dengan keanekaragaman bentuk tekstual dan luas daerah persebarannya. Purwarupa teks Panji berbentuk lisan, kemudian muncul sebagai artefak berupa relief yang dipahatkan di beberapa dinding candi di Jawa Timur.  Teks yang “lebih bergaya” muncul dalam bentuk seni pertunjukan wayang beber  yang tampaknya muncul tak jauh setelah kemunculannya dalam bentuk relief; bahkan tampak bahwa wayang beber “sekedar” wahana yang berbeda dengan relief, sehingga sosok tokoh menjadi lebih luwes. Kelisanan kisah Panji kemudian berlanjut dalam bentuk lakon, semisal wayang gedhog, reyog (jathilan), pranasmara, kethoprak, dan wayang wong,  baik sebagai barangan ‘pertunjukan keliling’ maupun pertunjukan yang berlangsung pada waktu-waktu tertentu dan kadang-kadang bertaut dengan kegiatan (adat) tertentu.

Kelisanan cerita Panji baik dalam bingkai dongeng, cerita rakyat, maupun seni pertunjukandalam wujudnya yang lebih awal dapat dijelaskan melalui kondisi masyarakat Jawa tradisional yang pada saat itu berada pada tahap secondary oral culture ‘budaya kelisanan kedua’, yakni tahap keberaksaraan yang berdampingan dengan kelisanan.  Orang Jawa memang sudah memasuki “dunia” keberaksaraan sejak abad ke-10 dengan artefak Kakawin Ramayana sebagai tapak-tapak awal, namun keberaksaraan tersebut terbatas pada masyarakat atau lingkungan tertentu (pusat-pusat kebudayaan, seperti istana, mandhala, dan pesantren) dan untuk kegiatan tertentu (prasasti, surat-menyurat, administrasi kenegaraan). Dalam masyarakat “kelisanan kedua”, bagaimanapun kegiatan keberlisanan di berbagai segi kehidupan tetap berlangsung dan berdampingan dengan keberaksaraan. Pesan, nasihat, bahkan kagunan dan ngelmu, disampaikan melalui lisan. Itu pula sebabnya sekar atau tembang macapat  menjadi bingkai dan sarana penyampaian secara verbal bagi orang Jawa. Demikian pula perangkat kelisanan kebudayaan lain. Jejak-jejak kelisanan semacam itu masih dapat kita jumpai hingga dewasa ini, walaupun semakin jarang dan semakin menyusut.

Dalam budaya kelisanan kedua, suatu teks berkemungkinan saling bertukar wahana: teks tulis berasal dari teks lisan atau teks lisan berasal dari teks tulis, baik secara langsung maupun melalui proses sanggit ‘kreativitas’ penggubahan. Proses itu tampaknya terjadi pada cerita Panji. Cerita yang semula berbentuk cerita lisan itu kemudian dipanggungkan sebagai dasar lakon, kemudian digubah dalam bentuk tulis, dan digubah lagi ke dalam bentuk seni pertunjukan, baik seni pertunjukan tradisional (drama tari, kethoprak) maupun seni pertunjukan modern (drama tari, drama modern, film). Akan halnya teks tulis Panji digubah dari lakon pertunjukan tampak pada sebagian besar teks tulis Panji Jawa, yang sangat dekat hubungannya dengan wayang gedhog, baik pada tata susun kisahan maupun perangkat kisahannya.

Keberaksaraan kisah Panji memang baru muncul di kemudian hari setelah bentuk kelisanannya. Bukti-bukti tertulis menunjukkan bahwa sebagian besar teks tulis cerita Panji merujuk pertanggalan abad ke-17 hingga abad ke-18 Masehi, walaupun ada kemungkinan bahwa pertanggalan tersebut merujuk pada titimangsa penyalinan dan/atau penggubahan dari teks yang lebih tua, yang sangat mungkin bersumber pada lakon atau teks lisan. Pertanggalan teks tulis Panji tersebut dibicarakan, misalnya, oleh Poerbatjaraka (1968: 403–405), Pigeaud (1967), Robson (1971) dan Zoetmulder (1983). Pigeaud (1967: 233) menyebut bahwa cerita Panji sebagai roman yang berkembang di pesisir  Jawa Timur pada abad ke-16 sampai abad ke-17 sebelum masa kesusastraan Islam.

Teks Panji tulis, pada masa “budaya kelisanan kedua”, terekam ke dalam “naskah” pada tahap chirographic ‘tulis tangan’. Pengertian naskah dalam studi sastra lama adalah “peninggalan tertulis budaya masa lalu?yang dengan demikian memiliki matra jarak waktu dan sekaligus jarak budaya?dalam bentuk lembaran-lembaran alas tulis yang disatukan (dijilid) sesuai dengan bahannya” (Karsono, 2013: 2–4). “Jarak budaya” merujuk pada bahan berikut teknologi pembuatannya. Oleh karena itu kemudian ada naskah dengan alas tulis ron tal (yang kemudian lebih sering disebut dengan metatesisnya: lontar), daun nipah, kertas tela atau dluwang, kertas kaeh, dan seterusnya; ditulis dengan aksara Jawa atau Pegon, Bali, Sunda, Bugis, Kaganga, dan seterusnya; serta dengan bahasa daerah tempat teks tersebut digubah. Naskah dengan matra masa lalu itu pun dengan sendirinya mengandung teks yang juga memiliki matra masa lalu: bahasa, aksara, serta unsur-unsur tekstualnya.

Teks Panji tulis yang semula berasal dari pantai utara Jawa bagian timur itu pun kemudian dikenal pula di luar geografi budaya Jawa, antara lain Lombok, Bali, Bugis, dan sebaran wilayah budaya Melayu (termasuk Betawi); bahkan juga dikenal pula di beberapa negara Asia Tenggara Daratan. Apa pun alasan yang melatarbelakanginya, persebaran teks Panji menunjukkan bahwa cerita itu digemari oleh banyak suku bangsa dan budaya di luar orang Jawa dan berkemungkinan?baik secara langsung maupun tidak langsung?ada hubungan budaya antara Jawa dan tempat-tempat yang terdapat cerita Panji. Hal ini terbukti, berdasar informasi katalog-katalog koleksi naskah yang ada, terdapat banyak naskah yang mengandung teks (cerita) Panji yang tersebar di berbagai perpustakaan dan koleksi, antara lain Jakarta (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia/Perpusnas), Depok (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia atau FIB UI, yang sekarang menjadi bagian Perpustakaan UI), Surakarta (Sasana Pustaka dan Radya Pustaka), Yogyakarta (Museum Sono Budoyo), Singaraja (Gedong Kirtya), serta Leiden, Negeri Belanda (Perpustakaan Univeritas Leiden dan Perpustakaan KITLV).  Di samping itu kemungkinan ada naskah yang menjadi koleksi pribadi yang belum terdata atau terinformasikan kepada masyarakat umum.

Berdasar keluasan isi, nama tokoh, alur dan unsur-unsur naratif lainnya, redaksi korpus teks Panji yang terekam ke dalam berbagai naskah itu dapat dikelompokkan ke dalam subkorpus-subkorpus. Yang dimaksud dengan subkorpus, biasanya, berkait dengan judul teks dan atau naskah, misalnya Panji Angronakung, Panji Jaya Kusuma, dan Panji Jaya Lengkara (Jawa); Malat, Bagus Umbara, dan Cilinaya (Bali atau Lombok); serta Syair Ken Tambuhan, Hikayat Cekel Wanengpati, dan Hikayat Panji Kuda Semirang (Melayu). Setiap subkorpus teks seringkali, dan biasanya, dapat dikelompokkan lagi ke dalam versi dan varian subkorpus bersangkutan, sehingga kemudian muncul banyak naskah mengandung redaksi cerita Panji sebagai akibat adanya penyalinan dan/atau gubahan kembali.

3. Sebagai suatu “kolektor naskah” yang sangat besar, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memiliki lebih dari seratus buah naskah yang mengandung teks Panji, meliputi naskah-naskah Jawa, Bali, Lombok, dan Melayu. Jumlah tersebut tidak kecil mengingat masalah teknologi produksi dan reproduksi teks dan naskah yang masih sangat sederhana pada masa chirographic saat itu. Jumlah naskah itu sudah barang belum termasuk naskah yang mengandung balungan ‘kerangka’ lakon. Beberapa naskah mengandung teks yang lengkap atau utuh, tetapi beberapa di antaranya mengandung teks yang tidak lengkap karena sebagian naskah telah rusak; beberapa naskah masih sangat baik—dalam pengertian secara kasat mata naskah masih utuh dan masih terbaca, tetapi beberapa yang lain sudah rusak, baik karena masalah umur maupun karena serangga; beberapa di antaranya mengandung pertanggalan baik untuk penciptaan teks maupun penyalinan naskah; beberapa di antaranya berjilid; dan sebagian besar di antara naskah-naskah tersebut sudah dibuat salinannya dalam bentuk microfilm. Beberapa di antara naskah tersebut sesungguhnya tidak dapat dikelompokkan ke dalam “naskah” dalam kawasan studi sastra lama sebab sudah merupakan salinan ketik. Nomor panggil atau nomor koleksi untuk “naskah ketikan” ini ditandai dengan huruf “G”. Berikut paparan secara singkat naskah-naskah Panji tersebut.

4. Kelompok naskah Panji pertama adalah naskah-naskah Panji Jawa, meliputi sembilan subkorpus atau judul dan lima buah yang tidak ditemukan judul baik di luar maupun di dalam teks, yang secara keseluruhan berjumlah 47 buah naskah. Kesembilan judul atau subkorpus tersebut adalah Panji Jayakusuma (Br 150a, Br 150b, Br 150c, dan KBG 139),  Panji Angreni (KBG 185, Br 214a dan Br 214b), Panji Angronakung (Br 379 dan G 99), Panji Jayalengkara (Br 76, CS 104, CS 110,  KBG 226, Br 353, Br 628a, Br 628b, Br 628c; Br 423, KBG 362, KBG 370, KBG 236, G 101, dan KBG 596), Panji Dewakusuma (Br 611a, Br 611b, dan Br 611c), Panji Dewakusuma Kembar (KBG 19 dan CS 86), Panji Murtaswara (G 103), Panji Suryawisesa (KBG 692), serta Panji Kuda Narawangsa (Br 295a dan Br 295b). Di samping itu terdapat empat naskah (Br 644a, Br 644b, Br 644c, serta Br 159) mengandung teks Panji namun tidak secara tersurat judulnya, baik di luar maupun di dalam teks, serta sebuah naskah (KBG 46) yang disebut Panji Cirebon pada kelopak depan.

Sebagian besar naskah-naskah Panji Jawa koleksi Perpusnas menggunakan alas tulis kertas Eropa dan hanya sebagian kecil menggunakan alas tulis kertas tela. Di samping itu hanya sedikit naskah yang menyebut nama penulis dan/atau penyalin serta skriptorium tempat penulisan dan/atau penyalinan. Di antara yang sedikit itu, misalnya, naskah Panji Dewakusuma Kembar KBG 19 memberitakan bahwa naskah disalin oleh Bagus Sarodin (Kyai Merjan) sekitar tahun 1850 di Desa Sekayu, Semarang. Tradisi penyebutan nama penulis dan atau penyalin serta skriptorium dalam ranah naskah Jawa memang sangat jarang. Oleh karena itu informasi sebagaimana diberikan oleh Manggala KBG 19 menjadi sangat berharga dalam rangka studi scriptorium naskah-naskah Jawa.

Seluruh teks Panji Jawa dibingkai dengan macapat dan dengan bahasa pesisiran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Pigeaud bahwa cerita Panji (tulis) merupakan sastra pesisir utara Jawa. Beberapa di antaranya sudah dialihaksarakan, baik dengan ataupun tanpa prinsip filologis, serta dibicarakan dalam kaitan penelitian akademis.

KBG 185 oleh Poerbatjaraka (1968) disebut sebagai salinan dari suatu naskah yang diterima sebagai hadiah dari residen Palembang—sehingga naskah ini kemudian oleh disebut sebagai “panji Palembang”—tetapi naskah babon dari Palembang tidak diketahui keberadaannya. Naskah KBG 185, yang kemudian disalin ke dalam Br 214a dan Br 214b, menyebut sengkala ‘kronogram’ guna paksa kaswareng rat (1723 AJ atau 1795 AD) pada Manggala yang merujuk pada penggubahannya. Naskah ini sudah dialihaksarakan oleh Karsono (1998), meski tanpa edisi kritis, sebagai pijakan untuk menganalisis aspek kesastraannya. Demikian pun Panji Angronakung telah diterbitkan oleh Karsono (2011) dengan edisi kritis. Sementara itu naskah Panji Jayakusuma KBG 139 dan Br 150a-c dibicarakan oleh Yudi Irawan (2004) dalam skripsinya dan Panji Narawangsa dibicarakan oleh Abdur Rahman Kaeh (1989) dalam disertasinya yang kemudian juga diterbitkan.

Jumlah subkorpus cerita Panji Jawa koleksi Perpusnas tersebut ternyata kalah jumlah dengan subkorpus naskah Melayu yang terdiri atas 12 subkorpus, meliputi Syair Ken Tambuhan (ML 247 dan W 247),  Hikayat Cekel Wanengpati (W 136a, W 136b; Br 1765a, Br 1765b, Br 1765c; Ml 139; Ml 142a, Ml 142b; CS 113a, CS 113b; Br 168; Br 281; dan  Br 303), Hikayat Panji Kuda Semirang (Ml 177a, Ml 177b; Br 126; CS 125), Hikayat Mesa Urip Panji Jaya Lelana (ML 187), Hikayat Jaran Kinanti Asmaradana (Ml 181 dan Br 158),  Hikayat Kelana Anakan (Ml 507a dan Ml 507), Hikayat Kelana Anakan Raden Galuh Daha (Ml 525), Roman Panji (Ml 529a dan Ml 529b), Sri Tanjung dan Pramusinta (Ml 531), Hikayat Mesa Gimang (W 139),  Hikayat Nayakesuma (Kemurung) (W 140 dan W 130), serta Tumenggung Ariwangsa (ML 516 dan ML 150).

Sebagaimana tertera pada judul setiap subkorpus, cerita Panji yang termaktub dalam naskah-naskah Panji koleksi Perpusnas terdiri atas puisi (syair) dan atau prosa (hikayat), ditulis dengan aksara Jawi (aksara Arab yang direkayasa untuk menuliskan bahasa Melayu), dan dengan alas tulis kertas Eropa. Beberapa di antaranya menyebut titimangsa penyalinan atau penulisan serta penyalin atau penulisnya. Contoh naskah semacam itu     misalnya Syair Ken Tambuhan ML 247. Kolofon pada  hlm. 115 menyatakan naskah bahwa  teks selesai ditulis pada malam Sabtu jam 1 malam, 26 Ruwah 1314 tahun Jumadil Akhir, bertepatan dengan 30 Januari 1897.

Selain naskah-naskah Jawa dan Melayu, Perpusnas juga memiliki koleksi naskah-naskah Panji Bali, terdiri atas lima judul atau subkorpus, meliputi Malat (dengan jumlah koleksi paling banyak, yakni delapan buah, meliputi naskah-naskah 34 L 659, 34 L 660, 34 L 663, 60 L 885, 61 L 896e, 86 L 715, Br 54, Br 533, KBG 391, dan Br 324),  Bagus Umbaran (18 L 552, 35 L 682, dan 80 E 124), Cilinaya (39 L 761, 57 L 865, 80 E 124),  Wasengsari 34 L 662, 57 L 865, Br dan 539), serta Panji Jayakusuma (E 27).

5. Jumlah naskah Panji yang menjadi koleksi Perpusnas membuktikan, setidaknya, bahwa cerita Panji merupakan teks sastra yang digemari pada masanya, sekaligus Perpusnas terlibat dalam pendokumentasian cerita Panji tulis Melayu, Jawa, dan Bali.

Daftar Pustaka

Baried, Siti Baroroh, dkk. 1987. Panji: Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa, diterjemahkan oleh Gunawan. Jakarta: Bhratara.

Yudi Irawan. 2004. “Suntingan Teks Panji Jayakusuma”, skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Kaeh, Abdur Rahman. 1989    Panji Narawangsa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Karsono H Saputra. 1998. Aspek Kesastraan Serat Panji Angreni. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

————-. 2005. Percik-percik Bahasa dan Bahasa Sastra Jawa. Cetakan Kedua. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

————-. 2011. Panji Angronakung. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

————-. 2013. Pengantar Filologi Jawa. Cetakan Kedua. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Kieven, Lydia. 2014. “Simbolisme dalam Relief-relief di Candi Zaman Majapahit”, makalah Seminar Cerita Panji sebagai Warisan Dunia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 28-29 Oktober 2014.

Madiono. 2014. Jaran Kinanti Asmaradana. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Munandar, Agus Aris. 1992. “Cerita Panji dalam Masyarakat Majapahit Akhir” dalam Lembaran Sastra Universitas Indonesia 17/Juli 1992, hlm. 1-16. Depok: Fakultas Sastra UI.

Ong, Walter J. 1996. Orality & Literacy. The Technologyzing of the World. London and New York: Roudledge.

Pigeaud, Theodore G. Th. 1967. Literature of Java. Catalogue Raisonné Javanese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Public Collections in the Netherlands. The Hague: Martinus Nyhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1968. Tjerita Pandji dalam Perbandingan, diterjemahkan oleh Zuber Usman dan H.B. Jassin. Djakarta: Gunung Agung.

Robson, S.O. 1971. Wa?ba? Wideya. The Hague: Martinus Nijhoff.

Sanwani, dkk. 2014. Hikayat Mesa Gimang (edisi revisi). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ. Jakarta: Penerbit Djambatan.