Naskah Usadha Rare: Teknik Menjaga Kesehatan Secara Herbal Terhadap Anak-anak di Bali

Pendahuluan
Sejak jaman dahulu, pengobatan tradisional telah mendapat tempat dalam kehidupan para leluhur bangsa Indonesia dan secara alami diyakininya, dapat memberi kebahagiaan untuk seluruh keluarga melalui perawatan kesehatan yang sederhana. Begitu pula telah ada di Bali, terkait dengan perawatan tubuh untuk menjaga kesehatan telah berakar dan dipraktekkan guna kesembuhan anak-anak di Bali saat itu. Hingga kini masih dipraktekkan teknik pengobatan untuk menjaga kesehatan tetap menjadi hal utama yang harus diperhatikan, mengingat biaya pengobatan pada masa kini sangat mahal dan banyak mengandung zat kimia di dalamnya. Tertarik dengan situasi seperti itu maka penulis mengangkat topik ini  untuk dibahas selanjutnya.
Untuk itu teknik menjaga kesehatan harus dipahami oleh orang tua, agar tidak mengeluarkan biaya yang lebih mahal atas sakit yang ringan dideritanya. Pada dasarnya teknik pengobatan ini sangat sederhana namun cukup agak sibuk untuk menyiapkan bahan-bahannya yang pada umumnya tidak tersedia di pasar, terkadang bahan tersebut ada di lingkungan kita tinggal, penting diketahui nama jenis bahan-bahan obat tradisional itu beserta fungsi kegunaannya untuk segala penyakit.
Oleh karena itu akan dibahas beberapa pertanyaan dibawah ini, sebagai berikut. (1) Bagaimana jenis penyakit dan obat yang digunakan untuk menyembuhkannnya serta bagaimana ucapan mantranya (jika  ada). (2) Bagaimana kaitannya dengan teologi?  Adakah Dewa yang dapat menghalangi atau  mencegah agar penyakit terhalangi masuk ke tubuh manusia?

Pembahasan
Pada kehidupan ini manusia selalu dihadapi oleh jalan yang berbeda dari masing-masing orang. Terkait dengan hal itu setiap orang akan merasakan bahagia maupun derita yang dialami sesuai dengan perbuatannya di masa lalu ataupun di masa kini. Hal ini tercermin dari bekal manusia dari alam sana untuk dibawa dalam kehidupan ini hingga akhirnya kembali pulang ke alam nirwana, yang disebut dengan Catur Bekel Dumadi, bahwa manusia lahir membawa empat macam bekal yang sukar dihindari, yaitu :
1. Suka. Siapapun dalam hidup ini pasti menikmati rasa suka.
2. Dukha. Demikian pula tak seorangpun  terhindar dari rasa dukha atau kesedihan.
3. Lara. Bila orang sudah lanjut usia, dimana indriyanya sudah tidak berfungsi dengan sempurna maka lara-lah atau sengsara-lah ia.
4. Pati. Akhirnya manusia itu mati.

Hal tersebut di atas merupakan jalan kehidupan manusia namun ada yang keras dihadapinya atau lama ada pula yang hanya sebentar saja mengalami penderitaan. Rasa suka dalam hidup ini merupakan hal yang paling diharapkan, ditunggu-tunggu dan kebahagiaan itu jangan sampai sirna bahkan sampai demikian harapannya. Karena siapapun tidak mengharapkan kesedihan atau duka apalagi berlarut-larut. Begitu pula lara yang dialami para orang tua yang pada masa menuju usia senja yang dirasakan cukup menderita ketika mulai mengalami sakit-sakitan, makin lupa hingga tidak sadarkan diri dalam berkata maupun bertindak yang pada tahap akhirnya manusia itu akan mengalami kematian atau pati. Oleh karena itu walaupun siklus kehidupan seperti itu tidak ada salahnya jika sedini  mungkin atau sejak masa kecil dirawat, dilindungi dari berbagai macam penyakit, segala penyakit dihindari serta dicegah agar kelak hidupnya semakin kebal akan penyakit, kuat dan panjang umur. Selain pengobatan juga terkait dengan pola makan yang mengandung cukup gizi serta mampu memahami situasi tubuh. Misalnya ketika tubuh begitu dingin jangan lantas disiapkan es, buah ketimun ataupun sayur-sayuran yang dingin sifatnya sehingga tubuh akan menggigil yang disebabkan karena suhu tubuh makin menurun maka timbullah penyakit batuk, pilek, yang disebabkan dengan diawali oleh kaki dingin lalu makin ke tubuh bagian atas hingga kepala pening lalu mulailah suhu tubuh makin menggigil serta timbullah badan menjadi hangat hingga suhu tubuh meningkat jadi badan panas. Kalau sudah demikian pada umumnya langsung ke dokter terdekat untuk segera menurunkan atau menetralkan suhu tubuh dahulu hingga hilangkan batuk dan pilek. Mengenai batuk dijelaskan kemudian sedangkan pilek biasanya cukup hidungnya dioleskan minyak kelapa asli saja oleh sesepuh atau orang tua dahulu. Oleh karena itu jika keadaan tubuh dingin begitu maka yang paling alami lebih awal dengan meminum wedang jahe dan minyak kayu putih selalu diusap pada kaki yang utama pada jerijinya sebagai tempat keluar masuk suhu hingga kaki dan suhu tubuh kembali menjadi hangat Keterangan diatas terkait dengan sikon tubuh yang dingin. Namun jika suhu tubuh sudah panas yang dibarengi dengan jampi atau bibir pecah-pecah hingga luka atau gigi mudah sakit, perut panas rongga mulut bau karena panas dalam, usus panas yang disebabkan makanan terlalu pedas dan sifatnya panas, hingga anus menjadi ambeien. Maka jalan keluarnya adalah dengan meminum-minuman yang sejuk, buah-buahan yang segar banyak dikonsumsi, seperti timun, papaya, melon serta apel puji, selain itu buah tersebut jangan dikonsumsi lebih dahulu. Buah-buahan tersebut harus cepat dicari dan dimakan untuk menghindari suhu panas tubuh semakin naik. Yakinlah dengan buah tersebut suhu tubuh makin netral. Demikianlah diharuskan untuk dipahami keadaan suhu tubuh kita agar terhindar dari berbagai penyakit. Hal ini bisa dilakukan untuk anak-anak maupun orang dewasa.
Jenis penyakit yang pada umumnya diderita oleh anak-anak seperti batuk, tidak bisa tidur, pusing, diare, muntah, perut kembung, kencingnya seret, hal itu dijelaskan dengan sarana obat sebagai berikut.

1) Untuk Penyakit Batuk.
–> Ta. Rare watuk sa, cekuh, temu tis, tingkih, atin bawang, bras mes, sembar dadanya.
Terjemahannya :
–> Ta atau tamba disebut juga obat batuk dengan sarana kencur, temu tis, kemiri, bawang merah bagian yang paling dalam yang sering disebut hatinya bawang, beras yang sudah direndam lama sehingga mudah remuk. Semua sarana tersebut dikunyah dan disemburkan pada dada si anak, maka akan segera sembuh.
Selain itu ada juga jenis obat yang lain untuk menyembuhkan batuk biasa yaitu :

–> Ta rare watuk sa. Sulasih miik, padang lepas, temu tis, katumbah sembar awaknya.
Terjemahannya :
–> Obat untuk anak-anak yang batuk dengan sarana daun Tulasi, rumput lepas, temulawak, ketumbar dan semua itu dikunyah untuk disemburkan pada dada si anak.

–> Ta rare watuk giningan. Sa rwaning blimbing wesi , trikatuka, sembar tangkah nya.
Terjemahannya :
–> Obat untuk anak-anak yang batuk gatal dengan sarana daun pohon belimbing besi, tiga ramuan bumbu atau rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, dan jangu) semburlah dadanya dengan adonan itu.

–> Ta rare dekah. Sa padang lepas temutis, adas, putih taluh anyar, lengis tanusan sadidik, tahap.
Terjemahannya:
–> Obat untuk anak-anak yang sakit batuk kering, dengan sarana rumput sembarang, temulawak, adas, putih telur yang baru, minyak goreng asli bukan pabrik sedikit, semua diaduk jadi satu dan diminumnya.

2) Untuk Anak Menangis Semalaman.
–> Rare nangis sawengi, Sa lontar tulisin mantra : Iki Ong Si Barbang Biar, Ong ah siah, genahang soring aturu.
Terjemahannya :
–> Anak menangis semalaman, dengan sarana daun lontar bertuliskan mantra : Iki Ong Si Barbang Biar, Ong ah siah. Letakkan lontar tersebut dibawah tempat tidurnya.

3) Untuk Penyakit Diare.
–> Ta rare mising sa, kulit buah delima, bras bang, urap akena wetengnya. Yanya grah sa, don bulun bawang, adas jamokena.
Terjemahannya :
–> Obat anak diare dengan sarana kulit buah delima, beras merah, semua itu diaduk diruap pada perutnya, kalau badannya panas dengan sarana daun bawang merah, minyak adas diusap didadanya.

–> Ta rare mising  sa, miana cemeng, uyah, pamor bubuk, urap akena wetengnya. Pupuknya sentul sakawit.
Terjemahannya :  
–> Obat anak diare dengan sarana, daun miana cemeng, garam, bubuk kapur sirih diruap pada perutnya.

–> Ta rare missing sa, don blimbing wesi, atin bawang, tahap. Pupusernya : gamongan, musi.
Terjemahannya :
–> Obat untuk anak yang diare dengan sarana berupa daun blimbing besi, bagian paling dalam dari bawang merah, dihaluskan dan diminum. Dioleh pada perutnya dengan buah gamongan dan musi yang dihaluskan.

4) Untuk Perut Kembung.
–> Ta rare bengka sa, padang blulang, uyah areng, tahap.
Terjemahannya :  
–> Obat untuk anak yang perut kembung dengan sarana berupa rumput dan garam hitam diaduk dan diminum.

–> Ta rare bengka sa, mbung muncuk jarak, we arak, pipis urap akena ring weteng. Malih wangwange kayu manis, wayaning jasa pinge.
Terjemahannya :   
–> Obat untuk anak yang perut kembung dengan sarana bambu yang muda, pucuk daun jarak, minuman arak, semua diulek dan diraup pada perut disertai daun kayu manis (daun katuk).

5) Untuk Kencing Seret atau Sedikit.
–> Ta rare sret awarih mwang bengka sa, don ketimun gantung, jambe nguda, mahmah sami raris tambus wus rateng, pres kacerin lengis tanusan, tahap.
Terjemahannya : 
–> Obat untuk anak yang kencingnya sedikit atau seret serta perutnya kembung dengan sarana berupa daun buah ketimun gantung, buah jambe yang muda, diaduk dibungkus  dengan daun seperti pepes dan dibakar setelah matang diperas diisi minyak kelapa asli beberapa tetes dan diminum.

6) Untuk Badannya Kaku.
–> Ta rare awaknya anganceng (kekeh) sa, lengis bawang bang, cekuh, we cuka, lengis tanusan urap akena.
Terjemahannya :  
–> Obat untuk anak yang badannya kaku dengan sarana berupa minyak bawang merah, kencur, air cuka, minyak kelapa asli diraup ke bagian tubuh yang kaku.

7) Untuk Anak Muntah – Muntah.
–> Ta rare ngutah sa, jangan ulam,kunyit katumbah, sebar wetengnya.
Terjemahannya :
–> Obat untuk anak yang muntah dengan sarana berupa daun salam, kunir, ketumbar dihaluskan dan diraup pada perutnya.

8) Penjagaan Pada Bayi.
–> Untuk membuat kekuatan dan daya tahan pada tubuh bayi dengan sarananya adalah masui. Cara pemakaiannnya adalah dengan dirajah, dikunyah, lalu disemburkan pada ubun-ubun bayi.
–> Mantranya :
Ong idep aku Sanghyang Guru Reka, ang Hyang Dasa Bayu Premana, anguripaken bayu kasasar, bayu karogan, bayu kadesti. Teka urip, Ang Ung Mang, waras, teka waras, teka waras, teka waras.
–> Penjaga atau sesuruk bayi, dengan sarana berupa : selembar kecil perak diikat dengan benang tridatu (merah, putih, hitam) uang kepeng satak selawe (225), canang tubungan, sasari / uang perak 11 buah (jika diuangkan Rp. 1.100,-).

–> Mantranya:
Ong rare dipada swaha ya, Ong sang Hyang Bayu, Sang Hyang Samaun, Ong sang Hyang Galih, Sang Hyang daging, ong otot Sang Hyang Banyu ring raga, Ong Sang Hyang Amanca Warna, I sang Peluh rare tane purna, Ong sang Lara idep sidhi waras.

–> Penjaga bayi, dengan sarana kalung perak.
–> Mantranya :
Ong Durga Detya sura ya namah swaha
Ung wong apretta ya namah
Ong semung yung sah pat nama swaha.

Demikianlah beberapa penyakit yang dialami rare atau anak – anak semasih kecil dengan menggunakan beberapa teknik pengobatan herbal atau tradisional yang pada umumnya digunakan di Bali sejak jaman dahulu. Siapapun jika anak-anaknya mengalami sakit seperti tersebut di atas, jika percaya maka dipersilahkan menggunakan sarana dan doa yang telah ada tersebut. Kiranya jika tidak ada halangan pasti akan sembuh dari penyakit yang dideritanya. Terkait dengan hal tersebut, dihubungkan dengan teologi serta untuk memahami Dewa yang disembah untuk menangkal penyakit.
Manusia selalu berusaha untuk menangkal berbagai jenis penyakit agar tidak masuk pada tubuhnya. Namun jika hal tersebut terjadi ada beberapa usaha terhadap penangkalan atau pencegahan terhadap penyakit aneh sebagai berikut.

–> Mencegah masuknya penyakit ke dalam tubuh dengan sarana berupa daun beringin 7 lembar, ketumbar 7 butir. Ada rerajahan-nya sesuai dengan keyakinan masing-masing.

–> Mantranya:
Ong Brahma ngelaranin, teka waras, (diucapkan 2x).
–> Untuk Penyakit yang telah lama diderita dengan sarana berupa tembaga  serta daun lontar. Ada rerajahannya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Pemakaiannya disimpan pada ikat pinggang yang selalu dipakai.

–> Mantranya :
Ong ta kita bhuta pisaca sang pulung dengen
sanak sahana wus momo denta anganti kulit
daging, dalem atine wong angering, apan aku
weruh ring katatuanmu ko yogan batara lawan
paduka bhatara do tang ko mulih maring
Kahyanganmu, waras.
–> Diganggu desti atau setan, setiap malam mengigau, serta berteriak-teriak ketakutan, badan gemetar. Sarananya banten atau sesajen berupa tumpeng merah 2 buah, ayam merah dipanggang, tuak dan berem minumannya desti. Ada rerajahan-nya pada kain putih, jimat pada ikat pinggang sesuai dengan keyakinan masing-masing.

–> Mantranya :
Suetambara hredana dewi, sweta palianu lepana,
Sueta posia priadewi, priatame Saraswati, raktam
Bara hreddan dewi, pita palianu lepana, pita posia
Priadewi, priatame Saraswati, kresnam – barah
Hreddan  dewi, kresna palianu lepana, kresna posia
Priadewi, priatame Saraswati.
–> Selalu sedih, resah tak menentu atau uyang.
Banten atau sesajennya : suci, guling bebek 1 ekor, ayam panggang 5 ekor, tumpeng 7 buah, buah-buahan, ayam putih dan merah kekuning-kuningan yang masih hidup, segehan 9 tanding, daksina dengan sesari satus dasa kepeng (110 buah uang kepeng /bolong) kalau tidak ada dengan uang Rp. 1.100,-)). Ada rerajahan pada daun lontar sesuai dengan keyakinan masing-masing.

–> Mantranya :
Ong Pranawa baskara dewam, Surya swaha
atilocanem, puja su sua wasubarcanem, rsi
salokem, Ongkarem praja astawa mahasakti,
sarogarem pala wiaksarem, pranidieng praja
sawakrem, tripuja waksiem si engkarem, gnia jala
kreta prajem, weda praga saduarem. Hrung tang
wrekah. Wuh wah mulajit mas, tregung buminca
lombawa apiem, way, way, way
Ting wrung ngkah grigah griguh e, e, e.

Terkait dengan hal tersebut di atas sebagai usaha atau cara untuk menangkal berbagai penyakit, namun sebagai manusia semestinya tidak melupakan Sang Pencipta dari segala yang ada di dunia ini, termasuk jenis penyakit yang ada sesungguhnya bersumber dari Tuhan dan kembali lagi kepada Tuhan. Kadangkala penyakit itu sebagai hukuman dari masa lalu, karena kesalahan ego manusia itu, bisa sebagai petunjuk untuk mulat sarira (rendah hati) sehingga manusia merasa kecil atau rendah diri di mata Tuhan, bisa juga karena lingkungan orang yang terlalu rasa iri hatinya tinggi akan kebahagiaan, ataupun kesuksesan orang, bisa juga penyakit tersebut karena faktor  keturunan. Selain itu bisa juga penyakit itu muncul karena Tri Capala  (tiga macam kedurhakaan, seperti :
1) Wak Capala = Durhaka kepada orang tua dengan menggunakan kata-kata kasar seperti memaki, dan sebagainya.
2) Hasta  Capala = Durhaka kepada orang tua dengan menggunakan tangan, seperti memukul, dan sebagainya.  
3) Pada Capala = Durhaka kepada orang tua dengan menggunakan kaki, seperti  menyepak, dan sebagainya.
Ketiga hal tersebut juga bisa memicu timbulnya penyakit sebagai karma phala si anak terhadap orang tuanya. Diusahakan hal tersebut dihindari guna keselamatan hidup. Sehingga diusahakan agar selalu berjalan pada Dharma melalui Tri Danti  merupakan tiga pengekangan diri yang bersumber pada :
1) Manah = Pikiran harus dikendalikan agar tidak menyimpang dari dharma.
2) Wak  =  kata-kata hendaknya selalu sopan santun dan berlandaskan kebenaran.
3) Kaya = Perbuatan. Segala tindak tanduk menyenangkan orang lain, karena bersumber pada hukum / aturan Negara maupun Agama.

Ketiga hal tersebut amatlah penting, sebab pada dasarnya manusia mempunyai kebiasaan yang dinilai negatif sifatnya ataupun kurang berpatokan pada dharma. Namun dengan hal tersebut di atas setidaknya akan dipikirkan serta dilaksanakan untuk kerahayuan dalam menjalani hidup hingga keturunan nantinya lebih sempurna dari sebelumnya dalam lahir maupun bhatin dan menjadi panutan di lingkungan tempatnya berada. Untuk itu diperlukan jalan untuk memahami pencapaiannya melalui Tri Parartha yang merupakan tiga cara dalam mencapai tujuan hidup, terutama Tri Bhoga sebagai tiga macam kebutuhan hidup berupa :
1) Bhoga = Pemenuhan kebutuhan makan dan minum.
2) Upa Bhoga = Pemenuhan akan kebutuhan sandang (pakaian).
3) Pari Bhoga = Pemenuhan akan kebutuhan rumah tangga dan perabot-perabotannya, hal ini akan didapat melalui Tri Parartha :
1) Asih = sayang sesama hidup seperti menyayangi diri sendiri.
2) Punia = memberikan dana dengan tulus ikhlas kepada orang lain yang memerlukan.
3) Bhakti = cinta kasih dan sujud bakti kepada Ida Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa dengan melakukan sembahyang.
Semua hal tersebut di atas sebagai pedoman hidup  (bisa dilakukan sesuai dengan kepercayaaan dan keyakinan masing – masing) untuk dijauhi dari berbagai ancaman, marabahaya serta penyakit dalam menjalani kehidupan yang berkesinambungan. Pada dasarnya sebagai usaha manusia untuk memahami asal segala yang ada dengan memuja  Dewa  Ga?esa yang mampu untuk mencegah rintangan termasuk penyakit.
Ganesa putra Dewa Siwa yang pertama digambarkan sebagai Pemimpin Utama Vinayaka (yang memindahkan rintangan), disebut juga Vighnesvara serta Vighnaraja yang berarti “penguasa rintangan” (vighna = halangan, rintangan; isvara / raja = tuan, penguasa) atau sebagai pemimpin para gana (Ganapati), yang selalu menyertai dan mengikuti Dewa Siwa. Dari nama tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa ia adalah Penguasa dari segala situasi dan kekuatan Tuhan sekalipun tak dapat menghalangi jalannya. Gañesa memiliki penanda khusus sehingga memudahkan dalam membedakan dengan penanda dewa-dewa lainnya.dalam pantheon agama Hindu. Gañesa sering digambarkan dengan berperut buncit, berbadan gemuk, bermata tiga, bisa dalam posisi duduk maupun berdiri. Penanda Gañesa bermata tiga menunjukkan bahwa Gañesa adalah putra ?iwa, yang digambarkan bertangan empat dengan masing-masing tangannya memiliki laksana atau sikap atau memegang senjata tertentu berupa kapak, patahan taring, tasbih dan mangkok. Kapak berada pada tangan kiri atau kanan bagian belakang. Kapak berfungsi untuk mengingatkan bahwa Gañesa adalah putra ?iwa karena kapak merupakan pemberian ?iwa. Fungsi kapak lainnya adalah lambang keperkasaan dan kepahlawanan Gañesa dalam melawan musuh, dengan mengingat bahwa dengan kapak itu Gañesa berhasil mengalahkan raksasa Nilarudraka yang timbulkan keonaran di sorga, dengan kekalahannya berakibat sorga terhalang dari bahaya kehancuran. Karena dianggap sebagai penguasa segala rintangan, maka tak ada upacara Hindu atau pemujaan yang dapat dilakukan tanpa memuja atau memanggil-Nya terlebih dahulu. Dengan anugerahnya maka orang yang mengabaikannya akan mengalami rintangan baik secara subyektif maupun obyektif. 
Rintangan tersebut juga terkait dengan timbulnya penyakit yang dialami manusia. Rintangan disebabkan oleh tiga sumber :
1) Dari gangguan dunia luar, istilahnya adhibhautika dalam bahasa Sansekerta (rintangan lingkungan), yang bisa diatasi dengan segala usaha seperti pindah ke tempat yang lebih tenang, lingkungan yang kon-dusif, dan lain sebagainya.
2) Dari gangguan dunia luar dengan istilah adhidaivika, yang berada di luar kendali manusia (tangan Tu-han), misalnya bencana alam seperti topan, banjir, gempa bumi dan sebagainya.
3) Dari gangguan subyektif yang berasal dari dalam diri manusia dengan istilah adhyatmika, seperti gangguan kesehatan pada tubuh dan hasutan, kecemasan dan  kebingungan dalam tingkat mental dan intelektual. 
Ketiga hal tersebut pula membawa orang dengan penuh kekhawatiran sehingga kembali lagi manusia pada jalan yang benar untuk mengamankan diri dari segala gangguan tersebut.
Demikianlah tulisan singkat saya semoga berguna bagi siapapun yang akan mencoba menggunakan cara-cara tersebut di atas guna kesembuhan pasien serta untuk menyelamatkan umat manusia di muka bumi ini dari derita yang dialaminya.  Karena dengan turut membantu selamatkan dengan kasih sayang terhadap mahluk hidup walaupun sedikit saja, dan rajin untuk berderma atau sedekah serta berbakti pada Tuhan maka akan terhindar dari segala rintangan niscaya keturu-nannya akan menemui karma phala sebagai budi  dan amal baik kita dikemudian hari. Asungkara.  

Kesimpulan
Yang dapat penulis simpulkan dari pembahasan di atas bahwa, di dunia ini tidak ada yang sempurna, oleh karena itu manusia diusahakan untuk selalu menjaga diri dengan kerendahan hati terhadap berbagai penyakit dengan memahami Catur Bekel Dumadi, dengan menghindari Tri  Capala, dengan melaksanakan Tri Danti, dengan menyadari betapa perlunya Tri Boga yang didasari oleh Tri Parartha, dan tidak melupakan Dewa Ga?esa  atau Vinayaka sebagai Dewa Penghalang dari segala rintangan dengan tiga sumber di atas, serta melaksanakan apa yang menjadi pedoman penyembuhan terhadap penyakit yang dideritanya, dengan penuh keyakinan atau sesuai dengan keyakinannya masing-masing, maka Asungkara atau atas ijin Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan yang maha Esa, Om Awighnam Astu Namo Siddham, semoga sembuh dan terhindar dari marabahaya.

Daftar  Pustaka

Bawa Atmadja, Nengah. 1999. Ganesa Sebagai Avighnesvara, Vinayaka dan Penglukat. Surabaya: Paramita.
Bidja, I Made. 1991. Usadha Rare. Denpasar : PT Empat Warna-Warni Komunikasi.
Chinmayananda, Svami. 2002. Kejayaan Ga?esa. Surabaya : Paramita.
Dunia, I Wayan. 2009. Kumpulan Ringkasan Lontar. Surabaya : Paramita.
Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali Dalam Usadha. Surabaya : Paramita.
Pulasari, Jro Mangku, Artana, Jero Mangku Nyoman. 2011. Usadha Bali Agung. Surabaya : Paramita.
Pulasari, Jero Mangku. 2009. Nawa Usadha Bali. Surabaya : Paramita.
Titib, I Made. 2003. Teologi & Simbol – Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya :  Paramita.
Tim Penyusun, 1997. Ragam Istilah Hindu. Denpasar : Bali Aga.
Wirawan, I Made Adi. 2010. Dewa Ga?esa. Surabaya : Paramita.