Orangtua Swayempraba Ramayana Jawa Kuna 7.74.

Sebuah masalah metrum
Ramayana Jawa Kuna sarga 7 memuat kisah Swayempraba, raksasa perempuan yang membuat Hanuman dan kawannya melupakan tujuan mereka pergi ke Lengka untuk memastikan apakah Sita ditawan di sana. Teks Jawa Kuna dalam edisi Soewito Santoso [1980] tertulis demikian:

62  Hana ta manuk madulu-dulur, metu saka ri? giriwiwara,
     kapibala kadbuta ya mulat, pa?a ma?adeg ma?i?et-i?et.
63 Dadi ya manon wiwara guha, ikana lawa? nya katatakut,
     wigata bhaya ? prawagabala, tama ta ma?öb makakurutug.
64 Satama nika? kapi ri dalem, hana ta umah dhawala putih,
     atisaya bhaswara sumenö, ya ta tinemu nya pa?a masö.
65 Anemu ta yanakebi rara, rahayu sulak?ana manulus,
     kadi ta wulañ juga gumawa?, ya ta kumemit [t]ikana? umah.
66 Gumuyu masö ya tan atakut, teka ya mawèh phala matasak,
     wwayatisayè? maheni? atis, ya ta panamuy nya suci marum.
67 Dadi ya tumakwani ikana?, prawaga huwus nya ya tinamuy,
     suka paripur?na pa?a wareg, duga-duga yan pawara-warah.
68 Wwara sira Raghawa kare?ö, sira makaduta kami kabeh,
     lumaku kinon lumawada sañ, Janakasuta sira tinawan.
69 Kami ta tumakwanaken i sa?, gumawayika? giriwiwara,
     syapa uma?un [n]ikana? umah, ya tikana pajara ri kami.
70 Lawana ika sa? dumadi kita, syapa pa?aran nira kare?ö,
     kita ta rarahayu saphala, sa?apa ?aranta warahaken.
71 Na li? nikana? wré, mapre??a kabèh nya,
     mojar tikana? stri, kanya tanumadhya.
72 Wwara sira danawaraja, ?aran ira sa? Wiswakarmma tamoli,
     sira uma?un [n] ikana ? umah, ika? guha ?ké sira sumuk ya.
73 Sampun swarggasthana sira, prastawa binajra dé bha?aréndra,
     sa?ka ya tar pahi?an, umari??aken [n] ika? prethiwi.
74 Aku iki danawakanya, ?aranku kare?ö Swayemprabha nama,
    danawaraja bapa?ku, prasastébu?ku Mérusawar?ni.

Teks tersebut diterjemahkan Soewito Santoso ke dalam bahasa Inggris yang dapat diindonesiakan sebagai berikut:

62 Kemudian pasukan kera itu terkejut melihat burung-burung, berturut-turut, keluar dari sebuah gua. Mereka bangkit     dan memandangi [burung-burung itu] dengan penuh perhatian.
63 Dan mereka melihat mulut sebuah gua, sebuah celah yang tampak berbahaya. Tetapi kera-kera itu tanpa rasa takut memasuki [gua itu] bersama-sama untuk mencari tempat teduh.
64 Ketika para kera telah berada di dalam, mereka sampai ke sebuah rumah, putih dan bersinar sangat cemerlang. Mereka terus maju,
65 dan bertemu seorang gadis muda, sangat cantik dan santun. Gadis itu bercahaya bagaikan bulan. Dia adalah penjaga rumah itu.
66 Sambil tersenyum ia melangkah maju tanpa rasa takut, dan memberikan kepada mereka buah-buahan masak serta air, sangat jernih dan segar. Semua itu persembahannya [bagi para kera], tulus dan manis.
67 Lalu ia bertanya kepada para kera, setelah makan sampai kenyang, [tentang tujuan mereka] dan mereka memberitahu gadis itu dengan terus terang:
68 ‘Raghawa yang termasyhur itu mengirim kami semua untuk menyelidiki [keberadaan] Janakasuta yang menjadi tawanan.
69 Bolehkah kami bertanya siapa yang membangun gua, dan rumah? Ceritakan kepada kami.
70 Juga tentang orangtuamu. Siapa julukan mereka. Kau seorang gadis muda yang sempurna cantiknya. Siapa namamu? Tolong katakan!’
71 Demikianlah para kera itu berbicara, sambil bertanya. Gadis (berpinggang) langsing itu menjawab:
72 ‘Seorang raja raksasa, dikenal sebagai Wiswakarmma yang tiada tandingannya, yang membangun rumah dan gua ini.
73 Ia telah berpulang ke swarga, terbunuh oleh senjata dewa Indra, karena ia (raksasa itu) telah menyebabkan kerusakan yang melampaui batas di bumi.
74 Aku seorang gadis raksasa, dikenal dengan nama Swayamprabha.
Raja raksasa itu adalah ayahku dan ibuku yang termasyhur adalah Mérusawar?i.’

Teks yang disajikan Santoso sama dengan yang terdapat dalam naskah-naskah Bali. Bait 74 mengandung problema. Kern pernah menunjukkan bahwa naskah-naskah mengandung kesalahan metrum pada baris kedua, ketika Swayempraba menyebutkan ayah dan ibunya. Dengan bertolak dari bentuk metrum yang seharusnya, Kern mengusulkan sebuah perbaikan yang menjadikan si ibu hilang dari teks; kini Swayempraba hanya menyebutkan ayahnya (Kern 1898):

Aku iki danawakanya, ngaranku karengö Swayemprabha nama.
Danawaraja bapangku, prasasta sang Merusawar?i.

Aku seorang gadis raksasa, dikenal dengan nama Swayamprabha.
Seorang raja raksasa ayahku, Mérusawar?i yang termashyur.

Metrum yang digunakan di sini adalah yang dinamakan metrum Arya.  Pola metrum ini pada baris kedua adalah sebagai berikut:

Kern: – ? ? / – ? ? / – –, ? – ? / – – / ? / – – / –

Naskah:  – ? ? / – ? ? / – ?, ? – – / – ? – / ? / – – / ?

Masalahnya terletak pada suku-suku kata pertama setelah koma: prasasté pada naskah-naskah menampilkan pola ? – – padahal seharusnya adalah: ? – ?. Pola tersebut seharusnya diikuti dengan satu suku kata panjang, –, tetapi yang terdapat pada naskah-naskah justru dua suku kata, bu?ku, sesuai dengan pola – ?.

Solusi yang dipilih Kern sederhana dan cerdik. Dasar pemikiran Kern adalah bahwa Merusawarni adalah nama pria, bukan wanita, sehingga tidak seharusnya ada ibu di sana. Bisa jadi orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang nama pribadi dalam bahasa Sanskrit berpikir bahwa nama dengan akhiran –i pasti merupakan nama perempuan dan karenanya merasa perlu ‘memperbaiki’ teks tersebut dengan menyisipkan kata ibu?ku. Berkaitan dengan sandhi yang diawali dengan prasasta, hasilnya adalah prasastébu?ku. Kata prasasta diakhiri dengan a pendek sesuai dengan aturan metrum ? – ?, sementara kata sandang kehormatan sang diharapkan muncul di depan nama orang seperti Merusawar?i.
Kern memberi penjelasan yang masuk akal tentang mengapa kesalahan dapat terjadi, dengan mengacu ke metrum bait 74, Arya, yang memang dikenal sangat sulit:

Akan segera terlihat bahwa bait ini telah dikacaukan. Sesungguhnya, semua bait puisi ini yang ditulis dalam metrum Arya mengalami banyak kekacauan. Mengapa bait-bait dalam Arya mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan bait-bait dalam metrum lain, tak diragukan lagi disebabkan sulitnya metrum ini dan kekurangakraban para sarjana dan penyalin Bali dan Jawa dengan aturan-aturan metrum tersebut. Beruntung, Arya itu terikat pada aturan-aturan yang sangat ketat, yang sangat membantu memperbaiki kesalahan pembacaan. (Kern 1898:171)

Latar belakang Swayempraba
Soewito Santoso dalam Ramayana edisinya tidak menerima perbaikan Kern dan tetap mempertahankan si ibu, walaupun hal itu mengakibatkan adanya kesalahan metrum pada teks. Ia memberi catatan kaki yang panjang untuk bait 74. Tanpa memperdulikan masalah metrum ia mencari tokoh ibu tersebut dalam beberapa Ramayana versi India, namun tampaknya tokoh itu tidak disebut-sebut di sana (Santoso [1980]:746).

Walaupun demikian, sumber-sumber Soewito Santoso memberikan sebuah hasil lain. Dalam sumber-sumber tersebut didapati bahwa Swayempraba menyebutkan seorang teman dekatnya, wanita bernama Hema, sebagai pemilik gua, dan bahwa si raja raksasa disebut dengan nama Maya (cf. bait 72 pada teks Jawa Kuna). Hema, menurut Swayempraba, ahli dalam seni tari dan seni suara; Maya dikenal dalam mitologi Hindu sebagai arsitek kepala di kalangan raksasa dan merupakan murid Wiswakarma, dewa seni dan kerajinan yang disebut dalam bait 72 (Santoso [1980]:746).

Soewito Santoso seterusnya merekonstruksi jalur kejadian sebagaimana yang dimuat dalam versi Jawa Kuna kisah ini. Ia menulis:

Dalam Kakawin Ramayana Jawa Kuna, Maya tidak disebut, sehingga didapatkan kesan bahwa Wiswakarmma yang membangun gua, dan ia jugalah yang dibunuh Indra, dan bahwa Swayamprabha adalah putrinya dari Mérusawar??i. Menurut saya terjadinya drama tersebut adalah sebagai berikut. Maya, murid Wiswakarmma, suami Mérusawar??i dan ayah Swayamprabha, ingin mengawini Héma, setelah ia membuat bangunan dalam gua itu. Indra, raja para dewa, yang tampaknya jatuh cinta sendiri kepada Héma, membunuh Maya, dan menghadiahkan bangunan dalam gua itu kepada Héma. Héma, sebagai teman Swayamprabha, mengangkat Swayamprabha menjadi pejaga bangunan tersebut, sehingga gadis itu tidak perlu mencari tempat tinggal lain. (Santoso [1980]:746)

Saya serahkan kepada pembaca untuk memutuskan apakah pandangan Soewito Santoso terhadap jalur peristiwa ini dapat membantu memahami Ramayana Jawa Kuna atau tidak. Patut dicatat bahwa bukan ‘didapatkan kesan’ dari teks Jawa Kuna bahwa Wiswakarma membangun gua dan dikalahkan oleh Indra: hal itu secara gamblang dinyatakan dalam teks itu sendiri (lihat bait 72-73). Patut juga kita ingat bahwa versi Jawa Kuna tidak harus sesuai dalam segala hal dengan versi-versi lainnya.

Bait 74a
Teks Jawa Kuna diam tentang kedua tokoh yang diperkenalkan Soewito Santoso, Hema dan Maya: keduanya tidak ditemukan dalam naskah-naskah Bali yang mendasari edisinya (sebagaimana halnya edisi Kern tahun 1900).

Luar biasa dan cukup spektakuler, sebuah naskah teks Ramayana dari tradisi yang sampai sekarang dilalaikan justru tidak bungkam mengenai itu. Naskah tersebut merupakan bagian dari Koleksi Merapi Merbabu di Perpustakaan Nasional dengan nomor lontar 335 (lihat Setyawati, Wiryamartana dan Van der Molen 2002). Perhatian kita untuk naskah ini diminta oleh Poerbatjaraka dalam edisi beranotasi Ramayana Jawa Kuna yang diselesaikannya pada tahun 1952. Hasil jerih payah Poerbatjaraka ini, sayangnya, tidak terpublikasikan dan tidak sampai kepada masyarakat yang layak menjadi pembacanya. Baru pada tahun 2010 buku tersebut akhirnya diterbitkan atas usaha Perpustakaan Nasional di Jakarta bersama dengan dr I. Kuntara Wiryamartana dari Yogyakarta.

Sejauh menyangkut masalah metrum pada bait 74, lontar 335 sejalan dengan naskah-naskah Bali: bacaan prasastebungku juga terdapat di dalamnya.

Tokoh-tokoh Soewito Santoso, atau setidaknya salah satu di antaranya, muncul dalam sebuah bait tambahan pada lontar 335; dalam naskah-naskah Bali bait ini tidak ada. Diberi nomor 74a oleh Poerbatjaraka.  Sayang sekali bahwa bait ini telah rusak. Dilihat dari metrumnya jelaslah bahwa ada beberapa kata yang hilang. Teks berbunyi:

prawarapsari hana ngke, anakbi sang hema,
kumemit rika bhasa ngke, rikeng guha mwang alasnya kabeh.

Terjemahannya:

Ada seorang dewi terkemuka di sini, seorang perempuan bernama Hema.
Aku menjaga tempat ini, ditugaskan di sini, di gua dan seluruh belantara.

Perbandingan antara metrum baris pertama yang seharusnya dengan yang tertera dalam naskah menunjukkan seberapa banyak yang hilang:

Seharusnya ? ? – / ? – ? / – –, ? – ? / – ? ? / – – / – – / –
naskah   ? ? – / ? – ? / – –, ? – ? / –  /  – /  / ?

Masalahnya terletak setelah koma: anakbi sang … … … he … … ma. Poerbatjaraka, pada gilirannya menawarkan sebuah perbaikan, memperbaiki metrumnya sekaligus menyisipkan Maya sebagai suami Hema. Dalam edisinya, Poerbatjaraka mengikuti teks Kern 1900; jika perbaikan yang ditawarkannya diterapkan, teks Jawa Kuna tersebut berbunyi:

Prawarapsari hana ngke, anakbi sang Maya sang Hema nama

Diterjemahkan oleh Poerbatjaraka ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

(Dahulu) disini ada bidadari terkemuka, isteri sang Maya, sang Hema namanja
 (Poerbatjaraka 2010:320)

(anakbi dapat berarti ‘perempuan’ dan ‘istri’. Lihat Zoetmulder 1982 s.v.) Perbaikan Maya menjadi suami Hema didasarkan pada bukti dalam Uttaraka??a Jawa Kuna (Poerbatjaraka 2010:321).

Poerbatjaraka tidak membicarakan mengapa sebagian dari baris dalam naskah tersebut hilang. Menurut saya, disini telah terjadi yang dalam filologi klasik disebut saut-du-même-au-même, melompat dari satu kata ke kata yang sama di bawahnya sambil menghapuskan yang ada di antaranya. Kata sang muncul dua kali, demikian juga suku kata ma. Penyalin melompat dari sang pertama ke nama yang kedua, dan dari He- ke -ma yang kedua.

Baris kedua pada 74a juga tidak sesuai aturan, tetapi dalam hal ini masalahnya dapat dianggap sepele. Bandingkan pola yang benar dengan pola yang ada:

seharusnya ? ? – / ? – ? / – –, ? – ? / – – / ? / – ? ? / –
naskah ? ? – / ? ? ? / – –, ? – ? / – ? / ? / – ? ? / –

Perbedaannya terletak pada kata rika pada paro pertama, dan mwang pada paro kedua baris tesebut: rika ? ? seharusnya rika ? – dan mwang ? seharusnya mwang –. Cukup menambahkan tanda untuk a panjang dan cecak sebelum aksara ng. Tanda tambahan seperti itu dengan mudah terlampaui dalam salinan yang satu dan dengan semudah disisipkan dalam salinan berikutnya bila diperlukan. Kadang-kadang dilakukan koreksi seperlunya pada naskah yang sama. Dalam lontar 335 terdapat beberapa contoh perbaikan semacam itu yang tampaknya ditambahkan pada saat pengecekan ulang setelah naskahnya selesai ditulis.

Baris yang dikoreksi Poerbatjaraka berbunyi:

Kumemit rika bhasa ngke, rikeng guha mwangng alasnya kabeh.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia olehnya sebagai:

Mendjaga (lah aku) sekarang berkuasa disini, di ini guwa dengan hutannja semua.
    (Poerbatjaraka 2010:320)

Penutup
Masalah teks yang dibahas dalam tulisan ini bersumber pada masalah metrum yang ditemui dalam naskah-naskah pada saat dimulainya studi filologi Ramayana Jawa Kuna, lebih dari seratus tahun yang lalu. Solusi yang ditawarkan Kern saat itu masih tetap tak tergoyahkan, karena belum ada argumentasi yang mengalahkan pendapatnya. Cara Kern menangani masalah itu melibatkan dua prinsip penting dalam filologi: pengecekan terhadap metrum untuk mengidentifikasi ketidakteraturan tekstual (dalam hal teks-teks puitis), dan tugas filolog untuk menjelaskan mengapa dapat terjadi kesalahan, untuk menghindari kecurigaan tanpa dasar.

Penelaahan Soewito Santoso terhadap mitologi Hindu menambahkan dimensi tentang pembaca dengan latar belakang di bidang sastra dan kebudayaan (Inggris: informed reader). Sesungguhnya ide yang sama telah diterapkan Poerbatjaraka ketika ia mengacu ke Uttaraka??a Jawa Kuna guna menyisipkan nama Maya dalam 74a.

Poerbatjaraka mengarahkan perhatian kita kepada sebuah tradisi teks Jawa Kuna yang sejauh ini nyaris tidak diteliti, yaitu Koleksi Naskah Merapi Merbabu. Walaupun keunggulan tradisi penyalin Bali tak dapat disangkal, Ramayana Jawa Kuna membuktikan bahwa koleksi Merapi Merbabu dapat memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah Ramayana Jawa Kuna dengan informasi yang berbeda dari tradisi Bali.

Bibliografi

Bhikkhu, Anandajoti, 2005, ‘Articles about Indian prosody’. Laman dalam http://www.ancient-buddhist-texts.net/Textual-Studies/Prosody-Articles/index.htm (dikunjungi pada 30 Oktober 2011).

Kern, H., 1898, ‘Eene merkwaardige tekstverknoeiing in ’t Oudjavaansche Râmâya?a.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 49:171-173.

Kern, H., 1900, Râmâya?a. Oudjavaansch heldendicht. ’s-Gravenhage: Nijhoff.

Poerbatjaraka, 2010, Ramaya?a Djawa-Kuna. Teks dan terjemahan. [Jakarta:] Perpustakaan Nasional. 2 jilid.

Santoso, Soewito, [1980], Ramayana kakawin. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies; New Delhi: International Academy of Indian Culture. 3 jilid. Sata-Pi?aka Series 251.

Setyawati, Kartika; I. Kuntara Wiryamartana; Willem van der Molen, 2002, Katalog naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan Nasional Indonesia. Yogyakarta: Penerbitan Sanata Dharma; Leiden: Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden. Semaian 23; Pustaka Windusana 1.

Zoetmulder, P.J., with the collaboration of S.O. Robson, 1982, Old Javanese-English dictionary. ’s-Gravenhage: Nijhoff. 2 jilid. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.