Pendidikan Karakter Dalam Naskah Layang Muslimin Muslimat

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yang intinya merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak dan tabiat siswa dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerja sama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kignitif (berpikir rasional), dan ranah skill (keterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerja sama) (Zubaedi, 2011: 25).

Secara konsepsional, pendidikan budi pekerti/karakter mencakup tiga hal. Pertama, usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya pada masa sekarang dan yang akan datang. Kedua, upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, dan pemeliharaan prilaku peserta didik agar mereka mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, dan seimbang (lahir batin, material spiritual, dan individual sosial). Ketiga, upaya pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi seutuhnya yang berbudi pekerti luhur melalui kegiatan bimbingan, pembiasaan, pengajaran, latihan, dan keteladanan (ibid).

Naskah Layang Muslimin Muslimat (LMM) merupakan dokumen otentik dan merupakan artefak budaya yang isinya sarat dengan nilai-nilai kepribadian seperti jujur, disiplin, berpikir rasional, dapat bekerja sama, dan tidak menyerah dalam menghadapi masalah. Informasi yang terkandung dalam naskah ini penting untuk disampaikan kepada generasi berikutnya agar mereka memahami warisan yang berharga ini. Pada kenyataannya masyarakat Indonesia umumnya tidak mengetahui isinya.

Kandungan naskah LMM menguraikan tentang perbedaan istilah wajib dengan fardu, rukun Islam, rukun iman, kitabullah yang berjumlah empat, jumlah hari dalam seminggu, jumlah bulan dalam setahun disertai isi bumi, serta empat unsur alam yakni tanah, angin, api, dan air. Selain itu, kandungan naskah LMM juga menguraikan tuntunan bagi manusia dalam bersikap terhadap sesama manusia dan makhluk lain. Manusia diharuskan mencari ilmu dan mencintainya, serta diwajibkan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia harus mempunyai kepedulian terhadap sesama manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lain seperti tanah, angin, api, dan air.

LMM berbentuk wawacan dan merupakan karya sastra tasawuf Sunda yang memiliki matra yang terikat dengan ciri khususnya, yaitu tanya jawab dan kreativitas bebas. Tokoh Muslimin melakukan tanya jawab dengan adiknya (Muslimat) yang secara bebas dalam kreativitasnya itu terukur di dalam wawacan. LMM merupakan naskah berbahasa Sunda baru yang unik. Keunikan naskah ini di antaranya terletak pada strukturnya yang terurai dalam beberapa episode. Masing-masing episode, di satu sisi, struktur ceritanya utuh dan berdiri sendiri dan, pada sisi lain, ceritanya bersambung dan terkait dengan episode lainnya. Naskah LMM menurut Kalsum (1998:50-51), terdiri atas lima jilid yang dalam hal ini disebut lima episode (pen.). Kelima jilid tersebut terdiri atas jilid kesatu sampai keempat yang berbentuk dangding/puisi pupuh dan jilid kelima yang, walaupun berbentuk prosa, isinya sama dengan jilid pertama.

Naskah LMM tersebar khususnya di kalangan masyarakat Jawa Barat. Selain di Kabupaten Kuningan, naskah LMM ditemukan juga di beberapa tempat seperti di Kabupaten Garut (Ekadjati, 1983: 498-499), Kabupaten Bandung (ibid, 1983: 440), Cirebon, dan Sumedang (hasil wawancara dengan Kalsum, 24 September 2012).

Berdasarkan pengamatan terhadap keberadaan naskah LMM yang tersebar di masyarakat itu, judul naskahnya sama dengan naskah Muslimin Muslimat dan Wawacan Muslimin Muslimat. Selain itu, tentang Muslimin Muslimat terdapat pada judul yang berbeda yaitu naskah Wawacan Jaka Ula Jaka Uli, Wawacan Jasadiyah, dan Seratan Nurani (Kalsum, 1998:50). Secara garis besar, isi teks dari naskah-naskah tersebut sama, kecuali tokoh Jaka Ula Jaka Uli dalam Wawacan Jaka Ula Jaka Uli diganti dengan Muslimin Muslimat dalam Wawacan Jasadiyah dan Seratan Nurani. Jumlah naskah tentang Muslimin Muslimat yang mencapai sekitar 20 naskah ini menunjukkan bahwa naskah tersebut populer dan disukai masyarakat, dan di antara naskah tersebut saling berkaitan dan memiliki hubungan kekerabatan.

Secara struktural, inti cerita dalam LMM ialah sebagai berikut:

1. Sehabis shalat Isya sampai menjelang Subuh, Raden Muslimin dan Raden Muslimat bertanya jawab mengenai ilmu agama. Selesai mengerjakan shalat Subuh, tanya jawab tersebut dilanjutkan di rumahnya, meliputi perbedaan istilah fardu dengan wajib dan rukun Islam.
2. Muslimat mulai bertanya tentang shalat lima waktu tetapi yang wajibnya ada empat perkara, Muslimin menjawab bahwa dalam shalat yang selalu memuliakan dan mengumandangkan asma Allah terdiri atas berdiri merupakan huruf alif, ruku merupakan huruf lam awal, sujud merupakan huruf lam akhir, dan duduk merupakan huruf ha/he. Sedangkan takbiratul ihram merupakan tanda tasydid. Dengan demikian, alif lam lam he/ha merupakan lafad Allah (????).
3. Alif lam lam he/ha yang disimbolkan pada cahaya/Nur Muhammad yaitu nur bersifat cahaya merah, hawa bersifat cahaya kuning, mangun bersifat cahaya putih, dan bumi bersifat cahaya hitam. Sedangkan simbol tasydid merupakan cahaya terang (matahari).
4. Muslimin menjelaskan kepada Muslimat bahwa manusia di zaman akhir bukan hanya menyebut asma Allah dan Al-Quran melainkan isi dan kandungannya harus dihayati dan dipelajari.
5. Muslimin menjelaskan pula tentang rukun iman, kematian manusia, alam Barjah, dan macam-macam nafsu.
6. Muslimat makin bingung karena merasa belum bertemu dengan Yang Maha Agung, tetapi Muslimin menjelaskan bahwa kalau ingin bertemu dengan-Nya harus melalui torikat sehingga dapat membuka pintu akhirat. Muslimin juga menyebutkan bahwa “manusia harus bisa mati sebelum wafat”.
7. Percakapan Muslimin dan Muslimat tentang makhluk di dunia yang berpasang-pasangan.
8. Muslimin juga menjelaskan tentang jumlah hari dalam seminggu yang dikaitkan dengan beberapa anggota tubuh manusia.
9. Percakapan dilanjutkan dengan membicarakan tentang jumlah bulan dan tahun, serta keadaan isi bumi.
10. Tanya jawab dilanjutkan dengan mengupas tentang alam batin yang akan dialami manusia, yaitu alam tempat manusia menerima kesaksian ketika hidup di alam dunia.
11. Karena hari sudah sore, kemudian Muslimin mengajak adiknya segera mandi dan melakukan shalat Magrib.

Gambaran Pendidikan Karakter dalam Naskah Islam
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (KBBI, 1993: 232). Sedangkan kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperi laku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sedangkan orang yang berperi laku jujur dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila peri lakunya sesuai dengan kaidah moral (Zubaedi, 2011:12).

Karakter itu pun merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi setiap manusia sebagai pembeda antara dirinya dengan binatang. Secara individual maupun sosial, orang-orang yang berkarakter baik memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik pula. Sebaliknya orang-orang yang berkarakter buruk memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang buruk pula. Karenanya karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat (ibid, 2011: 10).

Mengacu ada penjelasan di atas, pendidikan karakter adalah proses pengubahan sikap seseorang/sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang meliputi nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Mengingat begitu pentingnya karakter dalam kehidupan, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkannya melalui proses pembelajaran. Pendidikan dalam berbagai jalur dan jenjangnya merupakan faktor terpenting bagi hidup dan kehidupan manusia. Tidak terbayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa pendidikan, artinya sikap dan prilakunya tidak akan berbeda dengan hewan. Semua manusia pasti mengalami pendidikan baik itu di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam lembaga-lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat proses pewarisan dan penanaman nilai-nilai hidup dan kehidupan (Suharsaputra, 2011: 36).

Pada era globalisasi di Indonesia saat ini berbagai peristiwa sangat mengkhawatirkan. Korupsi merajalela begitu pula ketergantungan para remaja pada narkoba, tawuran antarpelajar, serta anak-anak yang semakin kurang menghormati orang tua dan guru. Akibatnya, sebagian orang tua mengirim anaknya ke sekolah khusus, sementara sebagian lagi mendidik anaknya di rumah. Dalam hal itu, pendidikan karakter menjadi mutlak diperlukan mengingat apabila kecerdasan yang ada pada diri peserta didik tidak diimbangi dengan pendidikan karakter maka tidak akan berhasil dengan baik dan maksimal, sesuai dengan apa yang diharapkan semua pihak. Salah satu contoh di bidang pendidikan di sekolah-sekolah, seorang siswa tidak akan mendapatkan nilai mencapai/melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) apabila siswa tersebut tidak melalui tahapan pembelajaran yang mengindikasikan adanya pendidikan karakter dalam setiap kegiatan pembelajarannya.

Pengkajian pendidikan karakter yang bersumber dari naskah LMM ini sejalan dengan kajian pendidikan karakter yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW dalam penelitian yang dilakukan oleh Ma’mun pada naskah ”Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW” (2008: 192-197). Karakter Nabi Muhammad SAW tersebut yang pertama siddiq, artinya jujur, bersih, dan benar, kedua amanah yang artinya dapat dipercaya dan bertanggung jawab, ketiga fathanah yang artinya cerdas dan cakap, dan yang keempat tabligh yang artinya menyampaikan/informatif.

Pesan moral yang ada dalam karakter Nabi Muhammad SAW itu adalah bahwa seorang pemimpin dan kaum muslimin umumnya, hendaknya bersifat terbuka, ksatria, dan mau berbagi informasi. Para pemimpin didorong untuk membuka pintu lebar-lebar dan menerima saran serta pengaduan rakyatnya, sehingga rakyat pun dengan aman menyampaikan kritik, saran, dan keluhannya tanpa merasa terancam. Para pemimpin dituntut pula untuk tabligh yaitu mengajarkan supaya hak mendapatkan informasi yang utuh dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Empat kombinasi unsur kekuatan kepemimpinan tersebut merupakan bekal penting bagi umat manusia dalam menempuh kehidupan agar hidup menjadi lebih berarti baik di dunia maupun di akhirat. Bertindak dalam kebenaran serta jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, berbuat penuh rasa tanggung jawab, cakap dalam memperhitungkan dan mempertimbangkan baik dan buruk yang akan timbul di kemudian hari, serta bersifat ksatria dan transparan dalam memberikan informasi kepada khalayak umum (Ma’mun, 2008: 198).

Kajian Semiotik Naskah LMM sebagai Gambaran Pendidikan Karakter
Untuk mengkaji makna dari teks LMM yang berupa wawacan, salah satu teori yang digunakan sebagai pendekatan sastra adalah semiotik. Kajian Semiotik merupakan lanjutan dari pendekatan strukturalisme. Pendekatan strukturalisme tidak dapat dipisahkan dari semiotik karena karya sastra merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda, dan maknanya, serta konvensi tanda, suatu karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal (Pradopo, 1995:118).

Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. (Pradopo, 1995: 119). Metode yang lebih khusus untuk meneliti karya sastra secara semiotik yaitu pembacaan heuristik, retroaktif, dan hermeneutik.

Kajian semiotik dilakukan terhadap teks LMM yang seluruhnya berjumlah 512 bait. Sebagai sampel kajian diambil empat bait di awal, empat bait di tengah, dan empat bait di akhir. Analisis yang digunakannya ialah pembacaan heuristik, retroaktif, dan hermeneutik.

Bagian Awal
Bait/pada ke-1
Ieu teh cariosna kitab                Ini cerinyanya kitab
Nyarioskeun Raden Muslimin      Menceritakan Raden Muslimin
Sinareng Raden Muslimat           Dan Raden Muslimat
Keur mufakat bab elmu              Sedang membicarakan bab ilmu
Tina teu acan sisip                     Dari sebelum disisihkan/lengkap
Panarosna tacan tutup               Pertanyaannya belum ditutup
Narosna masih kebat                 Bertanya dengan langsung
Ku rakana teu dipenging            Tidak dilarang oleh kakaknya
Teras bae dijawab sakuat-kuat   Terus saja dijawab sekuat-kuatnya.

Bait/pada ke-2
Tina ba salat isa                        Dimulai setelah Isya
Meh bae cacap sawengi             Hampir semalam penuh
Liren dina tabuh opat                Berhenti pukul empat
Lajeng arangkat ka cai              Kemudian pergi berwudu
Rakana sareng rayi                   Kakak dan adik
Pada naretepan subuh               Melaksanakan shalat Shubuh
Saparantos naretepan               Setelah shalat
Lajeng marulih ka bumi             Kemudian pulang ke rumah
Tuang leueut papayun-payun     Makan minum berhadapan
duaan berdua

Bait/pada ke-3
Kocap Rahaden Muslimi             Diceritakan Raden Muslimin
Ka rakana madep deui              Kepada kakanya menghadap lagi
Hormat tilawat ka raka              Hormat sekali kepada kakaknya
Madep tungkul sareng ta’dim     Menghadap dengan santun
Miunjukkeun langkung ajrih       Menunjukkan keseganan
Muga Engkang ulah bendu         Semoga kakak tidak marah
Rehna rayi kumalanjeng            Karena adik lancang
Kumawantun naros deui            Berani-beraninya bertanya lagi
Isinna mah Kang rayi teh           Walaupun sangat malu
sakalintang

Bait/pada ke-4
Tina langkung panarosna           Dari semua pertanyaannya
Ku rayina can kapikir                 Oleh adiknya belum terpikir
Dina pasal sembahyang             Dalam masalah sembahyang
Ibadah ka Mahasuci                   Ibadah kepada Yang Mahasuci
Naha kalebet wajib                    Apakah termasuk wajib
Atawa kalebet pardu?                Ataukah termasuk fardu?
Lima waktu sapoena                  Lima waktu seharinya
Pada dilakonan sami                  Semua sama melaksanakannya
Ka sadaya nu kasebut kaum       Ke semua umat Islam
Islam

Bagian Tengah
Bait/pada ke-200
Aya orok-orok pupus                 Ada yang bayi-bayi meninggal
Aya nu geus aki-aki                  Ada yang sudah kakek-kakek
Aya nu geus jadi bujang            Ada yang masih bujangan
Nu keur tengah tuwuh deui        Yang setengah tua juga
Rupa-rupa teu sarua                 Bermacam-macam tidak sama
Tah eta kumaha margi              Itulah bagaimana sebabnya

Bait/pada ke-201
Naha kersa Yang Agung           Mengapa kehendak Allah
Mun enya kersa Yang Widi        Apabila benar kehendak Allah
Naha bet ngabeda-beda           Mengapa membeda-bedakan
Kawas anu pilih kasih              Seperti yang pilih kasih
Kapan tadi Gusti Allah             Padahal Allah
Asih ka sadaya sami                Mengasihi semuanya

Bait/pada ke-202
Rahman Rahim Maha Agung     Rahman Rahim Allah
Ka sadaya murah asih              Ke semuanya mengasihi menyayangi
Nu rata ka sadayana                Secara rata semuanya
Nu kumelip jero bumi               Yang hidup di alam dunia
Geus ngayakeun lima rupa       Sudah menciptakan lima macam
Hiji seuneu dua angin              Satu api dua angin

Bait/pada ke-203
Tilu bumi opat banyu              Tiga bumi empat air
Kalimana matahari                  Kelimanya matahari
Eta kamurahan Allah               Itu kemurahan Allah
Kasadaya mahlukna Gusti        Kepada semua makhluk-Nya
Mahi ku lima perkara               Cukup dengan lima perkara
Geura mun taya sarup             Coba kalau tidak ada satu macam

Bagian Akhir
Bait/pada ke-509
Nu tetela langgeng tangtu      Yang sudah pasti tetap kekal
Teu dipilari ku jalmi               Tidak dicari oleh manusia
Atuh kumaha rek ngeunah      Bagaimana akan terasa enak
Engke urang teh di batin        Nanti kita di alam batin
Poek mongkleng butarata       Gelap gulita
Sarta langgeng henteu gingsir Serta tetap tidak berubah

Bait/pada ke-510
Geus taya tanyaeun kitu        Sudah tak ada lagi tempat bertanya
Da geus lain tempat ngilmi     Sudah bukan tempat menuntut ilmu
Lain tempat keur ibadah         Bukan tempat untuk beribadah
Engke dina alam batin            Nanti di alam batin
Ngan pikeun nampa siksaan    Hanya untuk menerima siksaan
Ganjaran pon kitu deui           Dan pahala juga

Bait/pada ke-511
Rayina lajeng ngawangsul      Adiknya kemudian menjawab
Rayi nuhun laksaketi             Adik berterima kasih banyak
Engkang mani seseepan        Kakak sangat bekerja keras
Miwejang ka diri rayi             Mengajarkan kepada adik
Nya nuhun alhamdulillah       Terima kasih dan Alhamdulillah
Laksa keti rayi nampi            Adik sangat menerimanya

Bait/pada ke-512
Mung bae engke kapayun       Tapi nanti ke depan
Upami Rayi can ngarti            Kalau Adik belum mengerti
Engkang kersa miwejang       Kakak mau mengajarkan lagi
Margi ayeuna geus burit         Karena sekarang sudah sore
Mangga urang cuang siram     Mari kita mandi
Urang naretepan Magrib         Kita laksanakan shalat Magrib

Pembacaan Heuristik
Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama (Pradopo, 1995:135). Pembacaan heuristik pada penggalan LMM ialah sebagai berikut.

Bait/pada ke-1
Ini ceritanya kitab, (yang) menceritakan Raden Muslimin dan Raden Muslimat. (Keduanya) sedang membicarakan bab ilmu. Sebelum lengkap, pertanyaannya belum ditutup/diakhiri. (Muslimat) bertanya dengan penuh semangat, (dan) kakaknya tidak melarangnya, terus saja dijawab sekuat-kuatnya (dengan maksimal).

Bait/pada ke-2
Dimulai setelah (shalat) Isya, hampir (saja) semalam penuh, baru berhenti pada pukul empat, kemudian (mereka) pergi berwudu, (kedua kakak beradik itu) melaksanakan shalat Shubuh, setelah shalat, kemudian (mereka) pulang ke rumah, makan (dan) minum berhadapan berdua.

Bait/pada ke-3
Diceritakan (lah) (bahwa) Raden Muslimat, menghadap kakaknya lagi, (dia) sangat menghormati kakaknya, menghadap dengan santun, menunjukkan keseganan, (kemudian di berkata) “Semoga Kakak tidak marah, karena adik lancang dan berani-beraninya bertanya lagi, (walaupun sebenarnya) sangat malu.

Bait/pada ke-4
Dari semua pertanyaan, (ada) yang belum terpikirkan oleh adiknya, (yaitu) dalam masalah (shalat), ibadah kepada (Allah). (Muslimat bertanya), (Apakah yang) lima waktu dalam sehari, (dan) semua orang Islam harus melaksanakannya (itu), “termasuk wajib ataukah fardu?”

Bait/pada ke-200
Ada (yang) meninggal (masih) bayi, ada yang sudah kakek-kakek, (dan) ada pula yang masih bujangan, (bahkan) ada pula yang separuh baya, semuanya (berbeda-beda) tidak sama, itulah sebabnya.

Bait/pada ke-201
Mengapa kehendak Allah (seperti itu?), apabila (memang) benar kehendak Allah, mengapa (Allah) membeda-bedakannya? Sepertinya (Allah) pilih kasih kepada makhluknya, padahal (Allah) (sangat) mengasihi semuanya.

Bait/pada ke-202
Allah (bersifat) Rahman (dan) Rahim, (pasti) ke semua makhluk mengasihi (dan) menyayangi, secara (sama) rata ke semuanya, (kepada semua) yang ada di dalam isi bumi, (Allah sudah) menciptakan lima macam yaitu satu api, dua angin.

Bait/pada ke-203
(Yang) ketiga bumi, dan empat air, serta yang kelimanya (adalah) matahari, itu (lah) (tanda) kemurahan Allah, kepada semua makhluknya, cukup dengan (yang) lima perkara (itu), coba (saja) kalau tidak ada satu macam.
Bait/pada ke 509
Muslimin menjelaskan kepada Muslimat bahwa (Manusia betah di alam dunia itu karena ada cahaya terang). Tapi yang sudah pasti tetap (kekal) itu terangnya alam batin, (dan) tidak dicari oleh manusia. Bagaimana akan terasa enak? (Karena) nanti di alam batin, (yang ada hanya) gelap gulita yang akan tetap dan tidak akan berubah.

Bait/pada ke-510
(Pada saatnya nanti), sudah tak ada (lagi) tempat bertanya, sebab sudah bukan tempatnya lagi (untuk) menuntut ilmu, (bahkan) bukan (lagi) tempat (untuk) beribadah (kepada Allah). (Tetapi di sana manusia) hanya untuk menerima pahala dan siksaan.

Bait/pada ke-511
Kemudian adiknya (Muslimat) berbicara lagi, adik (mengucapkan) banyak terima kasih, (karena) kakak (sudah) sangat bekerja keras, mengajarkan (tentang ilmu) kepada adik, sekali lagi adik berterima kasih dan (mengucapkan syukur) Alhamdulillah, adik sangat menerimanya.

Bait/pada ke-512
(Muslimin menjawab), tapi nanti ke depan (nya), kalau adik belum mengerti (mengenai ilmu agama), kakak (masih) mau mengajarkannya lagi, Sekarang, karena (hari) sudah sore, mari kita mandi, (dan) melaksanakan shalat Magrib.

Pembacaan Retroaktif/hermeneutic
Pembacaan retroaktif/hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik atau pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya (Pradopo, 1995:135). Pembacaan retroaktif/heremeneutik pada penggalan LMM ialah sebagai berikut.

Bait/pada ke-1
Kitab ini menceritakan kedua kakak beradik yang bernama (Raden Muslimin dan Raden Muslimat). Keduanya sedang membicarakan bab ilmu (perbedaan istilah wajib dengan fardu). Sebelum disisihkan dan dijawab dengan lengkap oleh Muslimin, pertanyaan Muslimat terus dilontarkan dengan semangat yang menggebu (tidak segera ditutup). Hal itu tidak dilarang oleh kakaknya (Muslimin), terus saja dijawab dengan sekuat tenaga dan pikirannya secara maksimal.

Bait/pada ke-2
Kegiatan tanya jawab itu dimulai setelah Isya hampir semalam penuh karena baru berhenti pada pukul empat pagi. Kemudian keduanya pergi untuk membersihkan diri (berwudu) dan melaksanakan shalat Shubuh di masjid. Setelah itu, akhirnya Raden Muslimin dan Raden Muslimat pulang ke rumah, mereka sarapan pagi berdua.

Bait/pada ke-3
Diceritakan dalam kisah ini bahwa sambil sarapan pun, Raden Muslimat melanjutkan perbincangannya semalam. Dia menghadap kakaknya dengan santun, dia sangat menghormati kakak yang sangat diseganinya itu. Kemudian dia berkata dengan malu-malu, “Semoga Kakak tidak marah karena adik lancang dan berani-beraninya terus bertanya lagi tentang masalah ilmu”.

Bait/pada ke-4
Dari semua pertanyaan yang sudah dijawab oleh Raden Muslimin, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Raden Muslimat yaitu dalam hal shalat lima waktu (ibadah kepada Allah) yang harus dilaksanakan oleh semua umat Islam. Raden Muslimat bertanya apakah ibadah tersebut termasuk wajib ataukah fardu?

Bait/pada ke-200
Dalam hal usia/umur, setiap orang berbeda-beda. Ada yang masih bayi sudah meninggal, ada juga yang meninggal dalam usia yang masih bujangan, dan ada yang meninggal dalam usia separuh baya, bahkan ada pula yang sudah kakek-kakek (berusia uzur) baru dipanggil oleh Allah. Hal itu berkaitan dengan berbagai penyakit yang dideritanya. Itulah penjelasan Raden Muslimin kepada Raden Muslimat.

Bait/pada ke-201
Mengapa kehendak Allah seperti itu? Tanya Raden Muslimat kepada kakaknya. Apabila benar itu memang kehendak Allah, mengapa Allah membeda-bedakannya? Sepertinya Allah pilih kasih kepada makhluk ciptaannya. Yang jelas Allah sangat mengasihi semuanya (tanpa kecuali).

Bait/pada ke-202
Raden Muslimin menjelaskan lagi bahwa sesungguhnya Allah bersifat Rahman dan Rahim kepada semua makhluk. Artinya Allah mengasihi dan menyayangi semua makhluk secara adil dan sama rata, bukan hanya kepada manusia melainkan kepada semua ciptaannya termasuk isi bumi dan alam sekitarnya. Allah juga sudah menciptakan lima unsur alam yang sama dikasihinya yaitu yang pertama api dan yang kedua ialah angin.

Bait/pada ke-203
Raden Muslimin melanjutkan lagi bahwa unsur yang ketiga yaitu bumi dan yang keempat yaitu air, serta yang kelimanya ialah matahari. Itulah tanda-tanda kemurahan Allah kepada semua makhluknya, cukup hanya dengan hal yang lima itu (unsur alam tadi) kita dapat hidup. Coba saja kalau kalau tidak ada satu macam, papar Raden Muslimin lagi, tidak akan ada kehidupan di dunia ini.

Bait/pada ke 509
Dengan tegas Muslimin menjelaskan kepada Muslimat bahwa (Manusia betah di alam dunia itu karena ada cahaya terang). Tapi yang sudah pasti tetap (kekal) itu terangnya batin kita yang tidak dicari oleh manusia. Muslimin berkata pula bahwa di alam batin itu akan terasa tidak enak, karena (yang ada hanya) gelap gulita dan akan tetap tidak akan berubah.

Bait/pada ke-510
(Raden Muslimin) menjelaskan lagi bahwa pada saatnya nanti di alam batin/rohani tidak ada lagi tempat untuk bertanya, dan di alam itu bukan lagi tempat untuk menuntut ilmu, bahkan lebih jauh lagi bukan tempat untuk beribadah kepada Allah. Tetapi di tempat itu manusia akan menerima pahala dan siksaan sesuai dengan amal perbuatannya ketika hidup di alam dunia.

Bait/pada ke-511
Setelah mendengarkan penjelasan (Raden Muslimin yang baru saja dipaparkan), akhirnya Raden Muslimat berkata mengucapkan terima kasih atas penjelasan yang panjang lebar dan kerja keras kakaknya selama mengajarkan berbagai ilmu yang diberikan kepadanya. Selain mengucapkan terima kasih, Raden Muslimat juga mengucapkan syukur Alhamdulillah karena apa yang telah dijelaskan oleh kakaknya (Raden Muslimin) telah diterima sekaligus dipahaminya.

Bait/pada ke-512
Mendengar itu semua, Raden Muslimin menjawab bahwa apabila di kemudian hari ada hal yang belum dimengerti terutama mengenai ilmu agama, ia bersedia untuk mengajarkan dan menjelaskannya lagi sampai Raden Muslimat mengerti benar. Kemudian, berhubung (hari) sudah sore, maka Raden Muslimin mengajak adiknya (Raden Muslimat) agar segera mandi (dan) melaksanakan shalat Magrib.

Berdasarkan pembacaan heuristik dan retroaktif/hermeneutik pada penggalan teks LMM tersebut, dapat ditemukan berbagai pendidikan karakter di dalamnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya ada pada masa kini, tetapi sudah ada dan diaplikasikan sejak dahulu. Pendidikan karakter tersebut ditanamkan pada diri setiap insan terutama yang beragama Islam dengan dibuktikan dalam teks LMM. Kenyataannya dapat dilihat pada bagian awal, tengah, dan akhir teks LMM dalam tabel berikut.

Berdasarkan pembacaan heuristik, retroaktif/hermeneutik pada tabel tersebut maka pola/gambaran lengkap pendidikan karakter yang terdapat pada teks LMM dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Peduli
Peduli adalah memperhatikan, mengindahkan, dan menghiraukan sesuatu yang terjadi dalam masyarakat (KBBI, 1993: 740).
Sikap ini ditunjukkan dalam bait/pada ke-4 larik terakhir “Semua orang Islam harus melaksanakan shalat”.
Pelaksanaaan shalat merupakan representasi dari sikap peduli terhadap titah Maha Kuasa. Rutinitas melaksanakan shalat dapat membentuk pribadi yang peduli terhadap Sang Pencipta. Secata otomatis, kepedulian terhadap Sang Pencipita berdampak positif terhadap manusia/makhluk lain. Muslimin merasa peduli tentang hal itu sehingga menjelaskan kepada Muslimat bahwa setiap orang Islam harus melaksanakan shalat.

2. Kreatif
Kreatif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; bersifat (mengandung) daya cipta (KBBI, 1993: 530).
Sikap kreatif ditunjukkan dalam bait/pada ke-2 larik pertama sampai dengan ketiga “Dimulai setelah Isya, hampir semalam penuh, berhenti pukul empat”.
Memiliki daya cipta merupakan suatu sikap yang positif bagi setiap manusia karena dapat menciptakan sesuatu yang baru dan bersifat inovatis tanpa selalu dicontohkan oleh orang lain sehingga manusia dapat menghibur dan mengisi khidupannya sendiri dan orang lain dengan sebaik-baiknya. Muslimin dan Muslimat berdiskusi tentang ilmu pengetahuan agama setelah shalat Isya sampai dengan pukul empat. Kegiatan tersebut tidak ada yang memerintahkannya tetapi dengan kekreativitasan Muslimin dan Muslimat, mereka ciptakan sendiri kegiatan diskusi yang memakan waktu lama itu.

3. Berani
Berani adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dan sebagainya; tidak takut/gentar (KBBI, 1993: 121).
Sikap ini ditemukan pada bait/pada ke-1 larik ke-7 “ Bertanya dengan langsung”.
Keberanian sangat diperlukan oleh setiap manusia. Dengan keberanian, manusia dapat mengatasi semua tantangan, halangan, dan hambatan sehingga manusia dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya ke arah yang lebih maju. Seperti pepatah mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan”, artinya bila setiap manusia berani bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka pencerahanlah yang akan didapatkan dan selalu mendapatkan solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Dengan semangat dan keberanian yang tinggi, Muslimat bertanya kepada kakaknya tantang ilmu pengetahuan yang belum dipahaminya.

4. Bertanggung jawab 

Bertanggung jawab adalah berkewajiban menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya) (KBBI, 1993: 1006).

Sikap bertanggung jawab ditunjukkan pada bait/pada ke-510 larik keempat sampai dengan keenam “Nanti di alam batin, hanya untuk menerima siksaan, dan pahala juga”.
Bertanggung jawab merupakan sikap positif yang harus dimiliki manusia. Dalam mengerjakan segala sesuatu dengan rasa tanggung jawab, setiap manusia dapat menerima hasil yang maksimal sesuai dengan harapan. Apabila manusia melaksanakan dan berbuat baik terhadap sesama manusia dan makhluk lain, minimal manusia dapat perlakuan baik pula dari sesamanya bahkan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Seperti penjelasan Muslimin kepada Muslimat bahwa di akhirat nanti, kita akan menerima siksa dan pahala sesuai dengan perbuatan yang dilakukan ketika hidup di alam dunia.

5. Teliti
Teliti adalah cermat; saksama; hati-hati; ingat-ingat (KBBI, 1993: 1028).
Sikap teliti ditunjukkan pada bait/pada ke-4 larik kesatu sampai keenam “Dari pertanyaannya, yang belum terpikirkan oleh adiknya, dalam masalah sembahyang, ibadah kepada Allah, apakah termasuk wajib, ataukah fardu?”.
Ketelitian mutlak diperlukan oleh manusia dalam setiap pekerjaannya. Dengan ketelitian, manusia dapat memperoleh hasil yang sempurna dari apa yang dikerjakannya. Hal itu akan sangat bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan bermanfaat pula bagi orang lain.
Dengan ketelitiannya, Muslimat bertanya tentang shalat yang lima waktu apakah termasuk wajib ataukah fardu.

6. Santun
Santun adalah halus dan baik budi bahasa dan tingkah lakunya; sopan; sabar dan tenang; penuh rasa belas kasihan; suka menolong (KBBI, 1993: 878).
Sikap santun ditemukan pada bait/pada ke-3 larik ketiga sampai dengan kelima “Hormat sekali kepada kakaknya, menghadap dengan santun, menunjukkan keseganan dan hormat”.
Sikap santun yang ditunjukkan Muslimat kepada kakaknya (Muslimin) merupakan bukti bahwa dia mempunyai karakter baik yang harus ditiru. Setiap manusia harus punya sikap santun terhadap sesama manusia maupun makhluk lain terutama kepada orang yang lebih tua. Kebiasaan santun akan membuat orang lain berbuat hal yang sama, begitu pula sebaliknya.

7. Religius
Religius adalah bersifat religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut-paut dengan religi (KBBI, 1993: 830).
Sikap religius ditemukan pada bait/pada ke-2 larik keempat sampai dengan keenam “Kemudian pergi berwudu, kakak dan adik, melaksanakan shalat Shubuh”.
Setiap insan beragama terutama agama Islam hendaknya mempunyai sifat religius. Hal ini menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Dengan melaksanakan rutinitas shalat lima waktu misalnya, yang ditunjukkan dengan perbuatan bukan hanya dengan perkataan, manusia dapat meningkatkan keimanannya terhadap Sang Pencipta dan menjadi teladan bagi orang lain. Muslimin dan Muslimat menunjukkan sifat religius dengan berwudu untuk kemudian melaksanakan shalat Shubuh berjamaah.

8. Bekerja sama
Bekerja sama adalah memiliki kemampuan melakukan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama (KBBI, 1993: 488).
Sikap ini ditemukan pada bait/pada ke-1 larik kedua sampai dengan keempat “Menceritakan Raden Muslimin dan Raden Muslimat sedang membicarakan bab ilmu”.
Ada peribahasa mengatakan “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Setiap pekerjaan berat tentu akan terasa ringan bila dikerjakan secara bersama-sama. Sikap mau bekerja sama merupakan sikap positif yang harus dimiliki manusia. Apabila peserta didik menghadapi pekerjaan misalnya melaksanakan kebersihan di kelas yang dikerjakan secara bergotong-royong, maka pekerjaan tersebut dilaksanakan lebih cepat, mudah, dan ringan. Begitu pula apabila menghadapi materi pelajaran yang rumit, apabila didiskusikan bersama kelompok, akan terasa mudah karena sumbangsih pemikiran dari para anggotanya.
Pada teks tersebut mengindikasikan bahwa Muslimin dan Muslimat bekerja sama, berdiskusi tentang ilmu pengetahuan agama. Muslimat bertanya tentang segala sesuatu yang belum dipahaminya sedangkan Muslimin menjawabnya dengan jelas.

9. Tekun
Tekun adalah rajin, keras hati, dan bersunguh-sungguh (KBBI, 1993: 1025).
Sikap tekun ditunjukkan pada bait/pada ke-1 larik kedua sampai dengan keempat “Menceritakan Raden Muslimin dan Raden Muslimat sedang membicarakan bab ilmu”.
Sikap tekun merupakan sikap yang positif dan harus dimiliki setiap orang. Dengan ketekunannya, manusia dapat memperoleh apa yang diangan-angankannya dengan hasil yang memuaskan. Kegiatan Raden Muslimin dan Raden Muslimat yang sedang membicarakan/berdiskusi tentang ilmu pengetahuan itu akan menjadikan mereka orang pintar/cerdas dan menjadi teladan bagi orang lain yang menginginkan kecerdasan baik cerdas intelegensi, emosi, dan spiritualnya, dengan catatan apabila dia tekun mengerjakannya. Hal ini akan bermanfaat bagi dirinya dan menjadi teladan bagi orang lain.

10. Jujur
Jujur adalah lurus hati; tidak berbohong; tidak curang; tulus; ikhlas (KBBI, 1993: 420).
Sikap jujur ditemukan pada bait/pada ke-511 larik ke-3 larik keenam sampai dengan kedelapan “Semoga kakak tidak marah, bahwa adik lancang, berani-beraninya bertanya lagi”.
Sikap jujur pada diri manusia mutlak diperlukan. Hal ini bukan saja akan bermanfaat bagi kehidupannya di dunia melainkan juga di akhirat nanti. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memberikan teladan kepada kita melalui kejujurannya. Dengan kejujuran yang dimiliki Muslimat, Muslimin percaya bahwa pertanyaan yang dilontarkan kepadanya bukan berarti lancang melainkan karena Muslimat benar-benar ingin mengetahui ilmu agama tersebut.

11. Disiplin
Disiplin adalah tata tertib; ketaatan (kepatuhan) pada peraturan (KBBI, 1993: 237).
Sikap disiplin ditemukan pada bait/pada ke-2 larik keempat sampai dengan keenam “Kemudian pergi berwudu, kakak dan adik, melaksanakan shalat Shubuh” dan bait ke-512 larik keempat sampai keenam “Karena sekarang sudah sore, mari kita mandi, melaksanakan shalat Magrib”.
Sikap disiplin/taat/patuh merupakan sikap positif yang harus dimiliki manusia. Contohnya, dalam melaksanakan perintah Allah SWT (shalat). Kebiasaan melaksanakan shalat menunjukkan pribadi yang patuh terhadap titah Sang Pencipta sekaligus menjadi teladan bagi orang lain untuk melaksanakannya. Hal ini ditunjukkan pada sikap Muslimin dan Muslimat dalam melaksanakan shalat Shubuh dan Magrib berjamaah yang didahului dengan membersihkan badan.

12. Sabar
Sabar adalah tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu (KBBI, 1993: 857).
Sikap sabar ditemukan pada bait/pada ke-1 larik ketujuh sampai kesembilan “Bertanya dengan langsung, tidak dilarang oleh kakaknya, terus saja dijawab sekuat-kuatnya”.
Dalam setiap kehidupannya, manusia tentu dihadapkan dengan berbagai halangan, cobaan, dan rintangan. Keadaan demikian membutuhkan kesabaran dalam menghadapinya. Begitu pula halnya dengan Muslimin yang dengan sabar menjawab pertanyaan Muslimat yang ditunjukkan dengan semangat yang tinggi. Dengan kesabaran yang dimiliki Muslimin semua pertanyaan Muslimat tak satu pun dilarang oleh Muslimin.

13. Rasional
Rasional adalah menurut pikiran dan timbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal (KBBI, 1993: 820).
Sikap ini tercermin dalam bait/pada ke-59 larik ketujuh sampai dengan kesepuluh “Sambil menunggu, alam dunia qiamat, yaitu saat Yaumil Akhir, rusaknya alam dunia”.
Muslimin menjelaskan kepada Muslimat bahwa manusia hidup sambil menunggu alam dunia qiamat, yaitu keadaan saat rusaknya alam dunia. Muslimin menunjukkan sikap rasionalnya dalam hal tersebut. Manusia khususnya Muslimat harus percaya bahwa akan adanya Yaumil akhir yakni saat rusaknya alam dunia ini (qiamat) sebagaimana bunyi rukun iman yang kelima.

14. Kritis
Kritis adalah bersifat tidak lekas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam dlam penganalisisan (KBBI, 1993: 531).
Sikap kritis tercermin dalam bait/pada ke-4 larik ketiga sampai dengan keenam “Dalam masalah sembahyang, ibadah kepada Allah, apakah termasuk wajib, ataukah fardu?”
Dalam teks tersebut, sikap Muslimat yang kritis ditunjukkan dalam pertanyaan yang dilontarkannya kepada Muslimin tentang masalah shalat yang lima waktu itu apakah termasuk wajib ataukah fardu. Masalahnya, dikatakan Muslimin bahwa shalat itu lima waktu tetapi wajibnya ada empat. Oleh karena itulah pertanyaan-pertanyaan yang membuat Muslimat belum paham dilontarkan terus dengan maksud agar dia lebih mengerti tentang istilah wajib dan fardu yang dimaksud oleh Muslimin.

15. Cinta ilmu
Cinta ilmu adalah suka sekali akan pengetahuan atau kepandaian ( soal duniawi, akhirat, lahir, batin) (KBBI, 1993: 190 & 370-371).
Sikap cinta ilmu terdapat pada bait/pada bait ke-1 larik ketiga sampai dengan keempat “ Menceritakan Raden Muslimin, dan Raden Muslimat, sedang membicarakan bab ilmu”.
Dalam teks tersebut menunjukkan bahwa Raden Muslimin dan Raden Muslimat merupakan dua tokoh yang mencintai ilmu pengetahuan, mereka berdiskusi tentang ilmu pengetahuan. Sikap ini harus menjadi teladan bagi orang yang membaca LMM bahwa manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu. Ada pepatah mengatakan bahwa tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China. Ilmu merupakan pengetahuan atau kepandaian yang harus dimiliki manusia. Dengan ilmu manusia dapat mengetahui yang mereka tidak tahu/bisa, walaupun harus melangkah ke tempat yang jauh. Hal itu merupakan bekal hidupnya agar melangkah ke arah yang lebih maju dan menjadi pribadi yang unggul/berkualitas.

16. Rela berkorban
Rela berkorban adalah bersedia dengan ikhlas hati; tidak mengharap imbalan menjadi korban/menderita (KBBI, 1993: 829 & 526).
Sikap rela berkorban terdapat pada bait/pada ke-512 larik kesatu sampai dengan ketiga “Tapi nanti ke depan, kalau Adik belum mengerti, kakak mau mengajarkannya lagi”.
Sikap rela berkorban ditunjukkan oleh Raden Muslimin yang rela meluangkan waktunya untuk mengajarkan ilmu lagi kepada adiknya (Muslimat) apabila hal itu dibutuhkan. Muslimin akan dengan ikhlas mengajarkan apa yang belum dimengerti oleh Muslimat. Sikap ini tentunya harus dimiliki oleh setiap orang apalagi sebagai seorang guru.

17. Bekerja keras
Bekerja sungguh-sungguh/gigih (KBBI, 1993: 484 & 488).
Sikap bekerja keras terdapat pada bait/pada ke-511 larik ketiga dan keempat “Kakak sangat bekerja keras, mengajarkan kepada adik”,
Sikap bekerja keras merupakan hal positif yang dimiliki Muslimin dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada adiknya (Muslimat). Dalam setiap pekerjaan yang dihadapi tentu membutuhkan kerja keras agar memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Muslimin mengharapkan agar apa yang diajarkannya kepada adiknya dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

18. Berpikir positif
Berpikir positif adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbang- kan dan memutuskan sesuatu yang pasti, yakin, bersifat nyata, dan membangun (KBBI, 1993: 767 & 783).
Sikap berpikir positif tergambar pada bait/pada ke-58 larik kesembilan dan kesepuluh “Seperti ketika di alam dunia, ada yang menjadi pemimpin”.
Dalam pegaulan dengan sesama manusia, berpikir positif sangat diperlukan. Manusia dapat mempertimbangkan dan memutuskan segala sesuatu dengan yakin, percaya, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal ini Muslimin menjelaskan kepada Muslimat bahwa pada kenyataannya di alam dunia, manusia ada yang menjadi pemimpin dan ada yang dipimpinnya. Pemimpin dalam lingkungan terkecil ialah pemimpin dalam keluarganya yakni seorang suami/kepala keluarga. Seorang pemimpin harus dapat mencintai dan mengayomi anggotanya.

BERDASARKAN uraian di atas, penanaman pendidikan karakter dalam naskah LMM tersebut sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang terjadi saat ini. Disadari atau tanpa disadari, terjadinya berbagai krisis yang menghawatirkan dalam masyarakat akan melibatkan anak-anak. Krisis tersebut antara lain berupa mencontek, pencurian, maraknya tawuran antarpelajar, meningkatnya pergaulan bebas, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Hal itu sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa LMM merupakan karya sastra tasawuf Sunda yang keberadaannya di Kuningan dapat dikatakan langka tetapi cukup populer di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Bandung, Sumedang, Cirebon, dan Garut. Selain itu, LMM memiliki kekhasan tersendiri sebagai cerita berbingkai yakni berbentuk wawacan yang merupakan karya sastra yang memiliki matra yang harus dipatuhi dengan ciri khususnya yaitu tanya jawab dan kreativitas bebas.
Setelah dikaji lebih mendalam, LMM berisi tentang pendidikan karakter (nilai/moral) yang sangat relevan dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia terutama untuk mengatasi krisis moral yang terjadi pada masa kini. Pendidikan karakter tersebut ialah jujur, kreatif, religius, bertanggung jawab, santun, teliti, bekerja sama, saling menghargai, tekun, kritis, rasional, berani, rela berkorban, cinta ilmu, bekerja keras, sabar, disiplin, dan berpikir positif. Di samping itu, pendidikan karakter sangat relevan dengan sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW yaitu siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

DAFTAR PUSTAKA
Affifi, A.E. 1995. Filsafat Mistis Ibnu ‘Arabi. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Burckhardt, Titus.1984. Mengenal Ajaran Kaum Sufi. Diterjemahkan oleh Azyumardi Azra dan Bachtiar Efendi dari buku: an Intriduction to Sufi Doctrine. Second Impression. 1981. Wellingborough. Great Britain: The Aquarian Press. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Danadibrata, R.A. 2009. Kamus Basa Sunda. Bandung: PT, Kiblat Buku Utama.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

Ekadjati, Edi. S. 1988. Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Universitas Padjajaran.

––––– & Darsa, Undang Ahmad. 1999. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5A Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga. Jakarta EFEO dan YOI.

Hidayat, I. Syarief. 2012. Teologi dalam Naskah Sunda Islami. Bandung: Sygma Creative Media Corp.

Hidayat, Rachmat Taufiq, spk. 2005. Peperenian Urang Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.

Kalsum. 1998. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli: Kajian Filologis. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Ma’mun, Titin Nurhayati. 2008. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Naskah Sunda (Suntingan Teks dan Kajian Struktur). Bandung: Risalah Press.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2012. Jumantara (Jurnal Manuskrip Nusantara). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharsaputra, Uhar. 2011. Menjadi Guru Berkarakter. Yogyakarta: Paramitra

Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana.