Pengembangan Kepribadian Pustakawan

Pendahuluan

Kalau saya perhatikan bahwa untuk saat ini topik yang sedang gencar dibicarakan di berbagai pertemuan ilmiah perpustakaan menitikberatkan pada ‘teknologi informasi’. Saya rasa apapun termasuk yang menyangkut tentang teknologi informasi, aplikasi, maupun pengembangannya. Baik itu e-journals, e-books, cara menelusur e-content, literasi informasi, UU Keterbukaan Informasi Publik, sampai pada etika kebebasan informasinya itu seperti apa.

Menurut pengamatan saya, sepertinya konsep kepribadian (personality) pustakav/an itu juga sangat penting untuk terus diperhatikan. Walaupun konsep kepribadian pustakawan ini sebenarnya merupakan konsep pemikiran dan agenda lama yang pernah ada dan pernah kita bicarakan. Namun saat ini seolah-olah hilang bagai ditiup angin. Padahal bukankah pustakawan menjadi garda terdepan yang memberikan layanan langsung kepada pemustakanya? Terlebih yang tugasnya di front liners seharusnya selalu memperha’.ikan aspek kepribadian ini. Etiket bagaimana cara berdiri, cara berjalan, cara melayani, cara berbicara, cara berbusana, dan lain sebagainya akan sangat me.nentukan citra pustakawan dan perpustakaannya.

Profesi sebagai pustakawan tidak saja dituntut cakap dalam bekerja, tetapi juga harus menarik dalam penampilan. Bagaimanapun penampilan itu penting di dalam pergaulan. Penampilan yang baik bersumber dari kepribadian yang menarik dan berkualitas. Bahkan untuk menjadi pustakawan profesional yang berkepribadian unggul, inklusif, dan humanis tidaklah mudah membalik telapak tangan. Akan tetapi perlu usaha yang ekstra keras untuk mencapainya. Humanis artinya memanusiakan orang dan bukannya mengobjekkan orang tersebut. Jadi seseorang yang humanis bisa diartikan bahwa orang tersebut bersifat, mendambakan dan memperjuangkan pergaulan hidup yang lebih baik berdasarkan perikemanusiaan atau orang yang mengabdi kepada kepentingan sesama manusia. Bisa juga diterjemahkan sebagai aliran yang menganggap manusia sebagai objek terpenting dengan tidak berpegang pada ajaran agama atau budaya tertentu.

Pustakawan diharapkan bisa mempunyai wajali humanis. Artinya bahwa pustakawan harus dapat memberikan layanan prima kepada pemustaka, sehingga pustakawan akan mendapatkan kepercayaan dari pemustakanya.

Permasalahan

Banyak sekali aspek yang ada jika membahas tentang pengembangan kepribadian pustakawan. Agar bahasan lebih fokus, maka permasalahan yang akan saya bahas dalam artikel ini hanya meliputi:

–              Mengapa pustakawan perlu mengembangkan kepribadian?

–              Bagaimana pustakawan mengenal konsep diri?

–              Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat kepribadian pustakawan?

–              Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan upaya pengembangan kepribadian pustakawan?

Renungan Diri….

Pernahkah kita mendengar bahwa pustakawan itu orangnya tua-tua, berkaca mata tebal, judes, galak? Ditambah lagi pribadi pustakawan yang suka mbandel, nglencer, mbalelo, mbolosan, dan berbagai stereotip miring lainnya. Coba tanyakan pada diri Ibu/Bapak sendiri, apakah pada saat bekerja sering mengalami hal-hal seperti di bawah ini:

•             Apakah Saudara senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang?

•             Apakah setiap kali berangkat kerja Saudara merasa berat dan mengalami masalah sewaktu akan memulai pekerjaan terlebih saat tiba di perpustakaan?

•             Apakah Saudara bingung mau mengerjakan apa pada saat berada di perpustakaan?

•             Apakah Saudara lebih mudah marah dan menjadi kurang sabar (temperamen) dengan sesama rekan pustakawan atau dengan pemustaka?

•             Apakah Saudara merasa bahwa selalu menghadapi masalah yang banyak sampai bertumpuk- tumpuk sehingga membuat frustasi?

•             Apakah Saudara bekerja di perpustakaan sulit untuk tertawa dan bahkan senyum sekalipun tidak bisa?

•             Apakah Saudara suka ‘ngrasani’ rekan pustakawan lainnya ataupun pimpinan perpustakaan?

•             Apakah Saudara sudah merasa puas atas prestasi saat ini, sehingga tidak mau mengembangkan diri lagi?

Hal-hal tersebut di atas merupakan beberapa contoh seorang pustakawan dengan tanda-tanda kepribadian yang kurang baik dan perlu diperbaiki. Kalau sudah menyadari kekurangan/kelemahan kita, maka pertanyaannya adalah “Apakah diri kita mau mengembangkan diri dengan menggunakan kemampuan dan kreativitas kita?” Jawabannya tentu kembali kepada pembaca sekalian.

Kepribadian Pustakawan

Kepribadian manusia akan diwujudkan dalam totalitas penampilan. Kepribadian merupakan sesuatu yang ‘unik’. Sifatnya individual sehingga tidak seorang pun mempunyai kepribadian yang sama. Bukan sesuatu yang salah atau benar maupun baik atau buruk. Namun setiap kepribadian mempunyai kelemahan dan kekuatan tersendiri, baik itu secara fisik maupun nonfisik. Oleh karena itu, kepribadian sebenarnya akan nampak dalam sikap seseorang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Kesan pertama pemustaka jika masuk ke perpustakaan bisa mengenai tempat, fasilitas, maupun orang yang melayani. Nah, berkaitan dengan kepribadian, maka dalam bahasan makalah ini menitikberatkan pada pustakawannya. Coba bayangkan apabila kita dilayani dengan mimik wajah yang cemberut, masam, tidak bersahabat, kusut, jutek, ataupun judes? atau bahkan sebaliknya jika dilayani dengan mimik wajah senyum, ceria, sumringah, bersahabat, ataupun ramah? Kira-kira Saudara pilih yang mana?

Ada ungkapan “Putihnya beras bukan dari alu tetapi dari gesekan beras dengan beras”, artinya kebaikan hati seseorang itu lebih ditentukan oleh gesekan antar orang lain di dalam pergaulan. Implikasinya bahwa seorang pustakawan dikatakan baik kalau ia dapat bergaul dan berinteraksi dengan lingkungannya dengan baik. Jadi pribadi pustakawan yang berkualitas itu dapat ditunjukkan oleh sikapnya yang senantiasa dapat mengendalikan diri.

Pengembagan kepribadian pustakawan merupakan pengembangan sifat hakiki seorang pustakawan ke arah yang lebih baik, demi terwujudnya suatu bentuk kepribadian diri yang dapat diterima oleh lingkungannya dalam segala situasi kehidupan. Saya rasa pustakawan akan mempunyai kepribadian yang baik jika paling tidak mempunyai 3G, yaitu: Good (Behaviour, Appearance, Performance).

Seorang pustakawan akan dapat merasakan betapa besarnya manfaat mengetahui pribadinya. Salah satu cara untuk memahami pribadi pustakawan tersebut adalah dengan mengadakan introspeksi diri. Dalam berpenampilan, pustakawan juga perlu menerapkan etiket yang dikenal dengan 3S (Sederhana-Serasi- Sop’an). Begitu juga untuk membentuk pribadi pustakawan yang unggul, inklusif, dan humanis paling tidak mempunyai “POWER”, yaitu: Positive, Others, Word, Expanse, dan Realistic.

Tujuan  pustakawan

mengembangkan kepribadian dirinya, antara lain adalah: memperoleh simpati orang sekitar, mampu mengenal diri sendiri, peka terhadap lingkungan,  tampil mempesona, disiplin dalam hidup sehari-hari, dapat mengatasi stres, mampu mengemukakan ide, terbiasa menghargai pendapat orang lain’, memiliki motivasi dalam mencapai tujuan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Banyak sekali teori yang mengelompokkan tipe kepribadian. Setiap diri pustakawan juga dapat melakukan tes kepribadian, sehingga akan memunculkan kecenderungan dirinya masuk tipe yang mana. Misalnya: 1). Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis; 2). Superior dan Inferior; 3). Introvert dan Ekstrovert; 4). Agreeableness, Openness to Experience, Extraversion, Conscientiousness, dan Neuroticism; 5). Pesimis, Pengecut, Optimis; dan berbagai tipe lainnya. Namun dalam bahasan artikel ini tidak saya sampaikan secara detail, dan saya harapkan para pembaca dapat melakukan pendalaman sendiri, sehingga bisa mengetahui kekurangan atau kelemahan diri ada dimana dan kemudian berusaha memperbaikinya.

Harapan pustakawan yang mempunyai kepribadian baik akan memberikan kemudahan, kecepatan, ketepatan, kenyamanan, kepuasan, maupun meningkatkan citra perpustakaan. Namun yang perlu diingat bahwa jangan pernah melihat orang dari penampilan fisiknya saja maupun dari siapa yang berbicara.

Konsep Diri Pustakawan

Terkadang masalah-masalah rumit yang dialami oleh pustakawan, seringkali dan bahkan hampir semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Benarkah demikian? Ya, setiap individu mempunyai masalah dalam kehidupannya. Perbedaannya hanyalah terletak pada ‘persepsi’ dalam menghadapi masalah tersebut seperti apa.

Konsep diri tidak langsung diperoleh saat kita dilahirkan. Namun, konsep diri diperoleh dari pengalaman hidup dan akibat hubungannya dengan orang lain. Konsep diri seorang pustakawan yang saat ini dibentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua kita tentunya turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk.

Konsep diri dapat didefmisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seorang pustakawan tersebut terhadap dirinya. Jadi seorang pustakawan dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai, dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Pustakawan dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Oleh karena itu, pustakawan dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang {quitters), dan jika gagal akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri atau malah menyalahkan orang lain (fiksasi). Disinilah perlunya suatu kecerdasan yang disebut dengan Adversity Quotient (AQ). AQ. dapat diartikan sebagai ‘daya tahan tinggi (endurance) ‘yang berarti kegigihan, keuletan, semangat tinggi, dan pantang menyerah. Tingkatan AQ dimulai dari quitters, campers, sampai pada climbers.

Sebaliknya jika pustakawan mempunyai konsep diri yang positif, maka akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, bahkan terhadap kegagalan sekalipun yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Bukankah kegagalan hanya merupakan kesuksesan yang tertunda? Pustakawan dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya, mempunyai tujuan hidup, dan akan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan pustakawan tersebut.

Faktor Pengaruh dan Penghambat Kepribadian Pustakawan

Faktor yang mempengaruhi dan menghambat kepribadian pustakawan bisa berasal dari individu (internal) maupun lingkungan (eksternal). Menurut Hutagalung (2007: 10), faktor internal biasanya disebabkan karena individu tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, kurang termotivasi dalam hidup, enggan menelaah diri, dan faktor usia.

Sedarmayanti (2004: 70), mengemukakan bahwa faktor kebiasaan dan tingkah laku, kemampuan berbicara, kesehatan, serta sikap yang menunjang pelaksanaan tugas adalah faktor yang mempengaruhi kepribadian. Selanjutnya beberapa faktor lain yang saya rasa juga dapat mempengaruhi kepribadian pustakawan, antara lain: pendidikan (formal, informal), kelamin, pembawaan dan pengalaman, keluarga (sosial ekonomi, perilaku introvert), agama/ kepercayaan, masyarakat, maupun lingkungan (budaya, makanan, iklim, udara).

Sementara faktor yang menjadi penghambat menurut Triwidodo & Kristanto (2004: 18), bahwa biasanya disebabkan antara lain oleh: fiksasi, frustasi, kurang pergaulan dan wawasan, sombong, dan rendah diri. Sebagai tambahan saya rasa faktor dorongan biologis (maaf ‘hobby onani ataupun masturbasi’) yang tinggi juga akan menghambat kepribadian.

Upaya Pengembangan Kepribadian Pustakawan “Be Yourself!” (Jadilah dirimu sendiri!) adalah kalimat bijak yang layak untuk kita renungkan. Untuk menjadi diri sendiri mengandung makna bahwa kita semua harus memahami bahwa tidak ada satu orang lainpun yang mampu untuk mengerti dan menghargai Saudara sekalian, kecuali Saudara sendiri.

Dengan demikian, yang namanya kepribadian itu ya tentang diri pribadi kita secara keseluruhan. Pengembangan pribadi merupakan suatu usaha yang perlu dilaksanakan dalam rangka tercapainya peningkatan mutu. Kepribadian itu senantiasa dapat dikembangkan ke arah yang lebih baik melalui proses belajar. Beberapa hal yang menurut saya sekiranya berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan kepribadian pustakawan adalah sebagai berikut:

a. Who Am I

Who Am I bagi seorang pustakawan berarti merupakan keyakinan, pandangan/penilaian seorang pustakawan terhadap dirinya sendiri. Hal ini bisa berupa penilaian secara fisik, psikis, sosial, maupun moral yang terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan dari kecil hingga dewasa. Cara untuk memahami diri bisa dilakukan dengan cara:

1.            Pengenalan diri, dengan cara:

•             Napak tilas masa lalu: dari manakah saya? dengan melakukan flashback ke masa lalu.

•             Mengetahui potensi sekarang: siapakah saya?

•             Merencanakan masa depan: akan kemanakah saya dan apa tujuan hidup saya?

2.            Memahami diri, dengan cara:

•             Memperhatikan apa-apa yang disenangi dan yang tidak disenangi.

•             Memahami apa yang menjadi ciri khas pribadi.

•             Mengetahui kemampuan khusus dan minat diri.

3.            Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, dengan cara:

•             Penilaian diri sendiri.

•             Penilaian menurut orang lain.

•             Harapan terhadap kekurangan diri sendiri. 

b.            Identitas >< Jati Diri

Identitas berbeda dengan jati diri. Identitas adalah tanda diri kita, yang menunjukkan siapa kita, tetapi hanya menampilkan hal-hal yang tampak secara lahiriah yang belum tentu menunjukkan pribadi kita sesungguhnya.

Sementara itu, jati diri adalah siapa diri kita sesungguhnya. Jati diri adalah sifat dasar manusia, diri kita yang asli, asli dari Tuhan. Bahkan orang Jawa mengatakan: “Sangkan Paraning Dumadi”. Jadi marilah kita renungkan! Bukankah apa-apa yang berasal dari Tuhan tidak mungkin tidak baik, tapi mengapa penampilan kita demikian parah?

Menurut Soedarsono (2004: 63), jati diri dalam tatanan kepribadian secara utuh dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: 1). Nilai tersier yang dididik, dibentuk, dan dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga dapat diubah. Misalnya: pengetahuan, ketrampilan, watak; 2). Nilai sekunder yang didapat secara genetik, sehingga sulit diubah. Misalnya: bakat, kecerdasan, temperamen; 3). Nilai primer yang asli didapat dari Tuhan, sehingga abadi/langgeng.

c.             Character Building

Pembentukan watak adalah proses yang tidak ada hentinya (character building is a never ending process). Temperamen dengan watak merupakan sesuatu yang berbeda. Temperamen adalan disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor biologis atau fisiologis, sehingga sedikit sekali mengalami perubahan di dalam perkembangan.

Sementara jika watak menunjukkan normatif yang mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu yang menjadi dasar individu atau perbuatannya dinilai oleh orang lain. Pola pikir membentuk watak secara bottom i/pdimulaidari diri sendiri, keluarga, lingkungan, masyarakat, sampai kepada bangsa.

d.            Mind Set

Pustakawan dalam bekerja harus mempunyai target pencapaian kinerja, sehingga tujuannya saat ini bekerja di perpustakaan sudah jelas arahannya akan kemana. Tanpa sebuah arah, pustakawan akan terjebak pada rutinitas kerja saja. Selain itu juga akan terjebak pada kondisi stres dan eksistensi monoton tanpa sebuah jalan hidup yang dirancang dan dipersiapkan dengan baik.

Pustakawan harus bisa membedakan kebutuhan yang mendesak (urgent) dan penting (important). Jadi kita perlu mengubah mindset agar bisa menjadi pustakawan yang profesional. Alasannya karena mind set adalah cara kita berpikir dan merupakan kunci sukses. Harapannya dengan mengubah mind set maka seorang pustakawan dalam berpikir dapat menentukan perilaku dan pandangan, sikap, serta rencana masa depannya.

e.            Courtesy

Courtesy is good service plus a little bit extra, and politness of manners combined with kindness. Jadi courtesy tu sebagai implementasi dari pelayanan seorang pustakawan. Courtesy dapat diartikan sebagai kesopan-santunan; kesopanan; rasa hormat; atau kebaikan. Dalam praktek sebenarnya courtesy tingkatannya di atas sopan santun, yaitu suatu perlakuan pelayanan yang baik kepada pemustaka dengan tujuan untuk menyenangkan, sehingga pemustaka merasa sangat puas dengan pelayanan pustakawan.

Bentuk aplikasi courtesy ada 2 (dua), yaitu: pelayanan secara langsung (face to face), dan pelayanan telepon (telephone service). Contoh pelayanan secara langsung misalnya: penampilan diri yang baik, perkataan dan tindakan yang sesuai, menggunakan panggilan hormat, jujur dalam ucapan dan tindakan, kekuatan nada (ucapan dan suara), bahasa tubuh yang sesuai, senyuman yang berkesan, mendengar secara aktif dengan ‘eye contact’. Sementara jika pelayanan telepon bisa saat pustakawan menerima telepon yang masuk ke perpustakaan maupun saat menelepon keluar.

Jadi implementasi dari courtesy pustakawan itu adalah etiket pelayanan yang baik, yang diberikan oleh pustakawan kepada pemustaka, misalnya dengan berkata sopan/ramah dan menghormati/menghargai. Untuk melakukan courtesy tersebut, maka pustakawan harus dapat menerapkan perilaku attentive, helpful, considerate, polite, dan respectful.

f.             Etiket

Kita sebagai pustakawan jelas dalam kegiatan sehari-hari tidak lepas dari interaksi sosial. Disinilah perlunya memahami dan menerapkan etiket. Orang lain biasanya akan bersikap baik kepada kita apabila kita juga bersikap baik kepada mereka. Agar tampil profesional pustakawan harus bisa membawa diri dalam setiap kesempatan, misalnya: bagaimana berkomunikasi dan menjaga bahasa tubuh yang baik, tata cara makan, menghadiri berbagai undangan, memadukan pakaian dan aksesori, maupun etiket lainnya.

Etiket bagi pustakawan berarti persetujuan bersama untuk menilai sopan atau tidaknya seorang pustakawan tersebut dalam pergaulan. Kita harus yakin bahwa cara kita membawa diri akan menentukan penilaian orang lain terhadap kita. Jadi etiket merupakan faktor yang ikut menentukan keberhasilan kita dalam pergaulan dan pekerjaan.

Hal penting lainnya adalah bahwa pustakawan harus banyak bersyukur, be humble, dan senantiasa dapat mengelola hidup serta merencanakan masa depan. Janganlah sombong dan merasa hebat. Hal ini ibarat “all we are is DUST in the wind….”. Pustakawan harus terbuka terhadap kritikan, sportif, inisiatif, bertanggung jawab, berani menyalahkan orang lain, berani mengambil keputusan, ikhlas membantu orang lain, mampu bersinergi dan bekerja sama dalam tim. Lalu kuncinya jika mau maju ya pustakawan harus belajar, introspeksi dan mau berubah.

Penutup

Banyak sekali aspek yang menentukan kualitas puctakawan agar menjadi pribadi unggul, inklusif, dan humanis. Salah satunya adalah aspek kepribadian pustakawan. Seorang pustakawan seharusnya dapat memahami kepribadiannya sendiri dan berusaha untuk menimbulkan kekuatan atau sisi kepribadian positif yang dimilikinya. Saya rasa, kepribadian yang dimiliki oleh pustakawan yang bertugas terutama di bagian layanan akan ikut mempengaruhi citra perpustakaan. Mengapa demikian? Alasannya karena pustakawan tersebut langsung berhadapan dengan pemustaka. Hal ini bisa dilihat bagaimana saat pustakawan tersebut bersikap, berperilaku, dan bereaksi terhadap pemustakanya.

Intinya bahwa untuk menjadi pustakawan yang profesional dengan pribadi yang unggul, inklusif, dan dinamis akan menuntut pengembangan diri terus-menerus tanpa henti, baik menyangkut pengetahuan, wawasan, ketrampilan maupun kepribadian pustakawan tersebut.

Daftar Pustaka

Hutagalung, Inge. 2007. Pengembangan Kepribadian: Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif. Jakarta: Indeks.

Ibrahim, Marwah Daud. Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan. Jakarta: MHMMD.

Irmim, Soejitno & Rochim, Abdul. 2004. Penampilan Pribadi Yang Simpatik: Self Improvement Series. Madani.

Lauster, Peter. 2005. Tes Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.

Littauer, F. 1992. Personality Plus: Bagaimana Memahami Orang Lain Dengan Memahami DiriAnda Sendiri. Jakarta: Binarupa Aksara.

Murdoko, E. Widijo Hari. 2004. Explore Your Personality-Plus. Jakarta: Gramedia.

Sedarmayanti. 2004. Pengembangan Kepribadian Pegawai. Bandung: Mandar Maju.

Soedarsono, Soemarno. 2004. Character Building: Membentuk Watak. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia.

Stoltz. Paul. 2003. Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta: Grasindo.

Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Uno, Mien R. 2005. Etiket: Sukses Membawa Diri diSegala Kesempatan. Jakarta: Gramedia.

Vallet, Robert E. 2001. Aku Mengembangkan Diriku. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.