Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda Dalam Karya Sastra Aceh Hikayat Teungku Di Meukek: Tinjauan Poskolonial

Pendahuluan
Karya sastra adalah refleksi pengarang tentang hidup dan kehidupan yang dipadu dengan gaya imajinasi dan kreasi yang didukung oleh pengalaman dan pengamatannya atas kehidupan tersebut (Djojosuroto, 2006:77). Hakikat karya sastra adalah bercerita yang merupakan bentuk dari hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Djojosuroto, 2006:77). Di Indonesia terlalu banyak peninggalan warisan budaya nasional yang saat ini belum terungkapkan berserakan di seluruh pelosok tanah air, baik yang berada di tangan masyarakat tanpa perawatan yang berarti maupun yang masih terpendam tanpa diketahui di mana adanya. Warisan budaya nasional yang masih banyak disimpan oleh masyarakat tersebut di antaranya adalah naskah-naskah kuno, yang merupakan warisan intelektual bangsa Indonesia.
Hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya merupakan bagian dari cagar budaya nasional kita. Semua itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan bahan penelitian untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan berbagai bidang ilmu. Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.
Naskah merupakan salah satu warisan kebudayaan Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Naskah mempunyai dimensi dan makna yang sangat luas karena merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan dan sikap budaya. Isi naskah tidak terbatas hanya pada kesusastraan, akan tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti pengetahuan agama, sejarah, hukum adat, obat-obatan, teknik dan lain-lain. Salah satu naskah kuno yang mengandung warisan rohaniah, pemikiran dan cita-cita nenek moyang bangsa Indonesia adalah Hikayat Teungku di Meukek.
Hikayat dalam bahasa Aceh berarti penyampaian cerita secara lisan. Hikayat sering disampaikan dalam irama lagu yang indah agar dapat menarik perhatian para pendengarnya. Terdapat banyak jenis hikayat di Aceh. Dalam ungkapan Aceh beuet-(ba-) berarti membaca hikayat; peugah, berarti menceritakan hikayat; ruhe, berarti hikayat jenaka yang tidak mengisahkan sesuatu, tetapi merupakan fantasi pengarang yang kadang-kadang didasarkan kepada pengalamannya sendiri atau orang lain; neuba mangat that s., Ia Meu-, mempunyai Hikayat. Membaca hikayat oleh orang yang mengisahkan Nadham dan Sanjak (Sakti dan Dally, 2002:7). Hikayat masih tetap eksis dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Aceh sampai sekarang sebagaimana terlihat dalam resitasi  yang dilakukan masyarakat bahkan untuk mempermudah dalam membacanya banyak hikayat yang sudah dicetak yang disebut dengan “litho graphi”  dan ditransliterasi ke latin seperti melalui peredaran yang dilakukan oleh berbagai penerbitan atau toko buku di Aceh sekarang (Seno, 2002:19).
Hikayat ini merupakan salah satu hikayat populer dan diminati masyarakat Aceh. Naskah ini juga memberi pengaruh yang kuat bagi masyarakat Aceh, terutama bidang kebudayaan yang terkandung dalam naskah, sehingga hampir seluruh masyarakat Aceh, terutama tokoh-tokohnya, mengadopsi ilmu yang terdapat dalam naskah lama tersebut, terutama pengetahuan tentang adatnya. Naskah ini memuat nilai-nilai penting yang perlu dipelajari masyarakat Aceh sejak dulu, yang hingga sekarangpun masih berlaku di dalam masyarakat Aceh. Hikayat juga mengisi waktu senggang masyarakat Aceh, sehingga Aceh terkenal dengan kekayaan literaturnya.
Teungku adalah gelar tokoh agama atau orang yang taat beribadah dalam masyarakat Aceh, sedangkan Meukek adalah nama tempat atau daerah yang terdapat di Kabupaten Aceh Selatan. Teungku di Meukek datang ke Rundeng  untuk menyebarkan agama Islam dan akhirnya menetap di daerah Rundeng. Beliau sangat disegani oleh masyarakat Rundeng, sehingga para penguasa disekitar wilayah tersebut tidak senang dengan kehadirannya. Hikayat Teungku di Meukek ini merupakan salah satu karya sastra lama yang dikarang oleh masyarakat Aceh karena melihat persengketaan yang terjadi di kalangan masyarakat Aceh pada masa itu. Terjadi konflik antara masyarakat Aceh dengan para Uleebalang  di bawah pemerintahan Belanda, karena Belanda menghasut para Uleebalang untuk menyerang Teungku di Meukek.
Dari hikayat di atas kita bisa melihat bahwa ada pengaruh poskolonial dalam hikayat tersebut, yaitu campur tangan Belanda untuk menghasut para Uleebalang yang iri dan tidak senang dengan kehadiran Teungku di Meukek. Atas bantuan pemerintahan Belanda para Uleebalang kemudian menyerang daerah Rundeng.

Isi ringkas Hikayat Teungku di Meukek
Hikayat Teungku di Meukek ini berasal dari naskah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh G W.J. Drewes pada tahun 1980 dengan judul Two Achehnese Poems. Terjemahan tersebut diperoleh dari Wamad Abdullah di Banda Aceh pada bulan Juni 1982. Buku terjemahan setebal 99 halaman dengan ukuran 23 X 16 cm. ini teks bahasa Acehnya telah disunting dengan menyesuaikan ejaannya dengan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Hikayat ini merupakan hikayat lama dan sudah pernah dibicarakan oleh Dr. Snouck Hurgronje dalam bukunya, edisi Inggris The Achehnese (Harun,1983:7). Drewes mencatat dua buah naskah hikayat Teungku di Meukek di Leiden University Library. Menurut Drewes hikayat ini merupakan karya asli pengarang Aceh, bukan terjemahan atau saduran dari karya asing, seperti hikayat Aceh lainnya. Tidak ada catatan mengenai tahun penulisan kedua karya tersebut (Harun,1983:7).
Penyalin hikayat ini ialah Panglima Nyak Amin yang mendapat naskah aslinya dari Juhan Muda Pahlawan, yaitu putra Lila Peukasa, penguasa Meulaboh pada masa itu. Pengarang aslinya adalah Teungku Malem, penduduk asli Trumon  yang tinggal di kampung Peunaga  karena kawin dengan seorang wanita dari Peunaga (Harun,1983:7). Penyair mengabadikan sengketa yang berlangsung dalam tahun 1893 dan 1894 antara tokoh-tokoh penguasa Meulaboh yang bersahabat dengan Belanda, dan kelompok perlawanan yang bermarkas utama di Rundeng dan dipimpin oleh tokoh suci Teungku di Meukek (Hurgronje,1985:124).
Syekhuna, demikian sebutan ulama yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Teungku di Meukek karena perlawanannya terhadap Belanda. Ulama tersebut memperkuat kedudukannya di Rundeng, dekat Meulaboh, sambil menyebarluaskan ilmu agama serta mendirikan kubu-kubu pertahanan dengan tujuan melawan Belanda. Dari berbagai kampung orang berdatangan untuk memuliakan Teungku di Meukek dengan membawa berbagai buah tangan sebagai hadiah. Kegiatan Teungku di Meukek memperkuat negeri Rundeng dianggap oleh para Uleebalang yang berkuasa sekitar negeri itu sebagai mengganggu ketertiban dan keamanan. Belanda yang mengetahui hal itu segera memanggil para Uleebalang dan menghasut mereka supaya menyerang negeri Rundeng dan melawan Teungku di Meukek, seraya membekali mereka dengan alat senjata yang diperlukan. Para Uleebalang yang berkedudukan sebagai raja menyambut baik bantuan Belanda dan mempersenjatai anak negeri.
Di bawah pimpinan Raja Lila Perkasa dari Meulaboh, rakyat siap menyerang Rundeng. Begitu rakyat Rundeng dan Teungku di Meukek mendengar berita bahwa pihak Belanda akan membantu para Uleebalang, mereka semakin giat memperbanyak benteng-benteng pertahanan dan mengatur siasat perang di masing-masing tempat. Dengan semangat yang tinggi dan dengan khutbahnya yang berapi-api, Teungku di Meukek mengumumkan perang jihad fisabilillah melawan Belanda dan kaki tangannya, Lila Perkasa. Tanggal enam dianggap hari yang paling baik untuk memulai perang menyerang Rundeng. Di bawah pimpinan Teuku Panglima Dalam, Teuku Haji Ben, Panglima Nyak Yeb dan berpuluh-puluh panglima lainnya secara serentak rakyat Meulaboh menyerang Rundeng dari segala jurusan. Selama beberapa hari pertempuran berlangsung, satu demi satu kubu pertahanan Rundeng jatuh ke tangan Uleebalang, antara lain: Kuta Nibong, Kuta Asan, Padang Sirahet dan Kuta Sijaloh.  Ketika peperangan sedang berlangsung di Rundeng, para pembesar Belanda di Kutaraja memutuskan untuk mengirimkan bala bantuan guna membantu Raja Lila Perkasa melawan Teungku di Meukek. Beberapa hari kemudian tiga buah kapal perang Belanda berlabuh di Lhok Meulaboh. Sejumlah serdadu didaratkan dan langsung menyerang Rundeng, sementara meriam-meriam kapal terus menerus menembaki kubu-kubu pertahanan kaum pejuang. Korban berjatuhan di pihak kaum muslimin. Kemudian peperangan terhenti seketika.
Di dalam tubuh pejuang sendiri terjadi keretakan. Orang-orang yang berasal dari Woyla  dan Bubon meninggalkan Teungku di Meukek. Tanggal dua puluh tujuh bulan Ramadan, Teungku di Meukek keluar dari benteng pertahanannya setelah melakukan sembahyang dan berdoa kepada Tuhan agar dapat mengusir musuh. Sambil berzikir, di malam yang gelap itu Teungku di Meukek pergi dari satu benteng ke benteng musuh yang lain. Dalam malam yang gelap gulita disertai hujan lebat Teungku di Meukek masuk ke dalam benteng Kuta Haji Sarong seraya menanyakan kepada seorang pengawal di mana Haji Sarong dan Teuku Panglima Dalam berada. Sebelum sempat memberi jawaban pedang Teungku di Meukek sudah merengut nyawa pengawal itu. Maka terjadilah keonaran dan huru-hara di malam yang gelap itu. Teungku di Meukek melawan para pengawal benteng. Setelah terjadi pertarungan singkat, para pengawal terpaksa melarikan diri meninggalkan benteng yang dikuasai Teungku di Meukek.
Beberapa saat kemudian Teuku Panglima Dalam dan Teungku Haji Sarong, yang sedang mengunjungi Kuta Nibong datang mencari Teungku di Meukek setelah mendengar peristiwa yang baru saja terjadi. Ketika Teuku Panglima Dalam berhadapan dengan Teungku di Meukek di kegelapan malam itu, tiba-tiba Panglima Muda yang ikut serta dengan Teuku Panglima Dalam melepaskan tembakan. Teungku di Meukek roboh dan tewas seketika. Keesokan harinya mayat Teungku di Meukek diambil oleh Belanda dan dibawa berlayar. Tidak ada orang yang mengetahui ke mana mayat Teungku di Meukek dibawa dan di mana dikuburkan. Dengan syahidnya Teungku di Meukek, para Uleebalang dan Belanda dapat berkuasa kembali dengan leluasa (dikutip dari transliterasi Hikayat Ranto ngon Hikayat Teungku di Meukek, transliterasi Ramli Harun, 1983). Hikayat ini berakhir dengan kematian Teungku di Meukek. Di sini nampak salah satu kekhasan orang Aceh. Sang penyair, walau berada di pihak pemerintah Belanda, menggambarkan Teungku di Meukek sebagai seorang syahid dan para pengikutnya sebagai wakil-wakil agama. Tidak peduli di pihak mana seorang Aceh berada, ia selalu menggambarkan musuh kaum kafir sebagai pendukung perjuangan yang benar (Hurgronje,1985:124).
Untuk menafsirkan atau mengkaji persoalan ini, teori yang cukup relevan digunakan adalah Teori Poskolonial. Teori Poskolonial adalah teori kritis yang mencoba mengungkapkan kesadaran bahwa sesudah sekian lama waktu berjalan, ada masalah-masalah yang perlu dipertimbangkan yang sebelumnya belum disadari, akibat negatif yang ditinggalkan oleh kolonialisme Barat. Akibat yang dimaksudkan adalah tidak lebih bersifat degradasi mental.
Poskolonial mencakup tiga kemungkinan pilihan perhatian, yaitu: pertama, pada kebudayaan masyarakat yang pernah mengalami penjajahan Eropa, baik berupa efek penjajahan yang masih berlansung sampai pada masa poskolonial maupun transformasinya ke dalam bentuk-bentuk yang disebut neokolonialisme (internal maupun global); kedua, respon perlawanan atau wacana tandingan dari dalam masyarakat terjajah ataupun yang lainnya terhadap penjajahan itu, tanpa menghilangkan perhatian pada kemungkinan adanya ambiguitas atau ambivalensi; dan ketiga, segala bentuk marginalitas yang diakibatkan oleh segala bentuk kapitalisme (Faruk, 2007:15)
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa poskolonial ingin menggugat praktik-praktik kolonialisme yang telah melahirkan kehidupan yang penuh dengan propaganda peperangan dan kekerasan fisik, tetapi didialektikakan melalui kesadaran atau gagasan. Dengan perkataan lain, poskolonial sebagai alat atau perangkat kritik yang melihat secara “jernih” bagaimana sendi-sendi budaya, sosial dan ekonomi digerakkan untuk kepentingan kelas dominan atau pusat. Poskolonial mencoba membongkar mitos-mitos yang “mengerdilkan” daya kritis dari penguasaan hegemoni melalui gerakan budaya dan kesadaran yang subtil (Anderson,1999:8). 
Untuk itu dapat dikatakan bahwa poskolonial adalah perlawanan sehari-hari, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ben Anderson bahwa sebentuk mode atau siasat perlawanan massa rakyat kecil tanpa politik yang dilakukan dengan gerakan “picisan” untuk mengkaji ulang “politik modern” identitas adiluhung kalangan elite yang (sedang) berkuasa (Anderson,1999:9).

Pengaruh poskolonial dalam hikayat Teungku di Meukek
Kajian poskolonial adalah salah satu kajian akademis yang berkembang setelah tahun 1980-an. Perkembangan ini sebagai dampak pemikiran teori kritis dan posmodern yang mewarisi pemikiran Nietszhe, seperti: Heidegger, Derrida, Michel Foucault, Bataille dan lain sebagainya. Ada karakteristik yang sama dan menjadi ciri utama teori kritis dan postmodern yaitu bahwa teori sosial berguna untuk meningkatkan kesadaran dan wawasan yang lebih memungkinkan perubahan lingkungan sosial budaya secara rasional dan lebih manusiawi. Hal ini terlihat jelas pada kajian poskolonial. Oleh karena itu, Akhyar mengemukakan bahwa teori kritis dan posmodern berjasa besar dalam menumbuhkan kesadaran di kalangan ilmuwan bahwa dalam praktek-klasifikasi ilmiah, pemahaman dan penelitian tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kepentingan, kekuasaan, dan ideologi (Ahyar,2006:199).
Menurut Said, pandangan kaum kolonialis Barat (khususnya kaum oriental) yang merendahkan pandangan Timur (masyarakat jajahannya) sebagai konstruksi sosial-budaya yang tidak terlepas dari kepentingan dan kekuasaan mereka. Karena itu pandangan dan teori-teori yang dihasilkannya tidaklah netral dan obyektif sebagaimana mereka duga. Edward Said menggunakan pemikiran Foucault dan Teori Kritis sebagai dasar untuk teori poskolonialnya. Edward Said menggunakan pemikiran tokoh tersebut untuk membongkar narsisme dan kekerasan epistemologi Barat terhadap Timur dengan menunjukkan bias, kepentingan, kuasa yang terkandung dalam berbagai teori yang di kemukakan kaum kolonialis dan orientalis (Baso,2005:59). Foucault, menyatakan bahwa semua ilmu pengetahuan adalah satu bentuk ekspresi “kehendak untuk berkuasa”. Ini berarti bahwa kita tidak mungkin berbicara tentang kebenaran yang mutlak atau tentang pengetahuan yang objektif.
Bukan lagi rahasia umum bahwa segala sesuatu yang dipaksakan Barat pada negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, selalu bersifat subjektif. Naskah hikayat Teungku di Meukek merupakan salah satu hikayat yang membahas persengketaan antara masyarakat Aceh pada masa itu terhadap Belanda, sehingga masyarakat Aceh pun melakukan perlawanan. Perlawanan terhadap pemerintah kolonial telah terjadi naratif heroik baik di Indonesia maupun di tempat-tempat lain, perjuangan melawan para penjajah dan kobolator mereka tidak hanya menggerakkan banyak orang, tetapi juga memberikan tujuan moral yang jelas (Faulcher dan Day, 2002:468). Pemerintah pascapenjajahan tetap juga pemerintah, dan ketika para pemegang kekuasaan bergandengan tangan dengan militer yang kuat serta modal internasional untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan mereka, kemungkinan besar jauh lebih eksploitatif dan membelenggu daripada yang pernah dicapai oleh pemerintah penjajah itu sendiri (Faulcher dan Day, 2002:468). Mengenang kembali revolusi bisa menjadi salah satu cara bagi suatu rezim untuk mengklaim legitimasi, tetapi juga menjadi cara untuk mengkritik rezim sekarang karena mengkhianati cita-cita terdahulu (Faulcher dan Day, 2002:468).
Hikayat Teungku di Meukek menyajikan suatu ulasan yang jelas tentang sejarah Aceh dan wawasan yang cemerlang mengenai kondisi Aceh pada saat itu, bahkan mempunyai nilai sejarah khusus. Karya ini mempunyai latar belakang sejarah yang cukup jelas walaupun fakta-faktanya dicerminkan melalui medium imajinatif yang seluruhnya bersesuaian dengan ciri-ciri khas Aceh. Penjelasan-penjelasan menarik tentang kejadian-kejadian sederhana, fakta sejarah yang sebenarnya.
Kita dapat lihat bagaimana Belanda menghasut Uleebalang untuk memerangi Teunku Meukek di Rundeng, seperti kutipan di bawah ini,

Raja Beulanda atejih sosah
Jikeumeung pinah sinan Syekhuna
Jimupakat sabe keudroe-droe
Tapangge jinoe raja raja

‘Oh ka tapangge dum Uleebalang
Dudoe tayue prang bakjih teuma
Meunankeu pakat di kompeuni
Ban narit jibri ka ubak raja

Nanggroe Rundeng jak leh taprang
Beulanja tuan ulon peuna
Han sep siribee dua lhee ribee
Bek kamalee kaprang lanja

Peue meusaket atra kompeuni
Jinoe kubri keu beulanja
Nyankeuh teuku cuba pike
Ubat beude ulon peuna

Artinya:
Raja Belanda hatinya susah
Dia ingin mengusir syekhuna atau Teungku di Meukek
Mereka melakukan muwafakat dengan sesamanya(Belanda)
Untuk memanggil setiap para raja atau para Uleebalang

Setelah dipanggil para Uleebalang
Kemudian kita ssuruh perang sama mereka
Begitulah muwafakat para kompeni
Begitulah khabar yang disampaikan sama raja

Negeri Rundeng mari kita perang
Semua keperluan tuan akan kami sediakan
Tidak cukup siribu dua ribupun kami kasih
Jangan kalian pikirkan kita perang saja

Jangan kalian susah dengan harta kompeni
Sekarang kami berikan untuk belanja
Sekarang coba anda pikirkan
Kalau masalah senjata ada sama kami

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Belanda mengajak dan menghasut para Uleebalang untuk menyerang Teungku di Meukek di Rundeng, bahkan Belanda juga menyiapkan semua fasilitas yang diperlukan para Uleebalang baik uang maupun senjata seperti yang digambarkan dalam hikayat. Belanda berhasil menghasut para Uleebalang karena para Uleebalang juga sangat membenci Teungku di Meukek karena Teungku di Meukek adalah seorang pendatang yang datang ke daerah Rundeng untuk menyebarkan ajaran Islam. Selain itu Teungku di Meukek juga telah membuat daerah Rundeng maju dan terkenal. Sebab lain yang membuat para Uleebalang membenci Teungku di Meukek karena orang dari wilayah-wilayah yang dekat dengan Rundeng juga banyak yang berdatangan untuk belajar pada Teungku di Meukek, terutama belajar ilmu agama.
Dalam hikayat tersebut digambarkan bahwa Belanda sudah lama ingin menguasai wilayah Rundeng serta sudah pernah mencoba mejajah Rundeng dan wilayah di sekitarnya, tapi tidak pernah berhasil karena orang Rundeng tidak terpengaruh dengan kedatangan Belanda di wilayah tersebut. Masyarakat juga menolak kedatangan kolonialis ke wilayah mereka. Oleh karena itu, Belandapun menghindar dan tidak berani melawan Teungku di Meukek yang memimpin wilayah Rundeng pada masa itu, karena Teungku di Meukek terkenal sangat kuat dan sangat sukar untuk ditaklukkan. Meski demikian, Belanda mengetahui bahwa para Uleebalang Meulaboh merasa sakit hati pada Teungku di Meukek dan ingin menyerang wilayah Rundeng tersebut, maka Belanda mulai mengatur siasat, yaitu menggunakan kesempatan untuk bekerja sama dengan para Uleebalang.
Hikayat Teungku di Meukek menunjukan adanya ketidaksesuaian antara masyarakat Aceh di satu wilayah dengan wilayah yang lain, sehingga muncul perlawanan masyarakat Aceh pada saat itu. Hikayat ini juga menggambarkan bagaimana sosok seorang ulama dalam menyebarkan Islam di jalan Allah. Hikayat ini memberikan gambaran perjuangan seorang dalam menghadapi penjajahan dan secara tegas menggambarkan bahwa musuh utama adalah orang Belanda yang tampil sebagai wakil semua bahaya yang mengancam mereka dari Eropa.
Hikayat Teungku di Meukek juga menggambarkan kesabaran kepada kita, bahwa walaupun Teugku di Meukek dihina dan dicemoohkan oleh para Uleebalang dan Belanda, beliau tetap menjalankan tugasnya sebagai ulama. Bahkan Teungku di Meukek dalam peperangan melawan Belanda dan Uleebalang dibantu oleh para ulama-ulama lain dan oleh seluruh warga Rundeng dan sekitarnya. Hampir setiap masyarakat dan para ulama membantunya dalam melawan para penjajah. Hal ini menunjukkan adanya semangat yang luar biasa pada masyarakat dalam membantu Teungku di Meukek untuk melawan para Uleebalang dan penjajah.
Oleh karena itu hikayat ini menampilkan ideologi berupa seruan dalam menyongsong ke arah perbaikan, melawan penjajahan, dan mempertahankan wilayahnya dari tangan penjajahan. Hikayat ini menunjukkan perjuangan masyarakat dalam praktek politik nyata serta berhasil menunjukkan adanya permainan kuasa dan pengetahuan dalam berbagai teori yang dikemukakan kaum kolonialis atau orientalis.
Sebagaimana telah dijelaskan oleh Chatterjee tentang identitas kultural yaitu sebagai salah satu cara untuk melawan campur tangan kolonial (Faulcher dan Day, 2002:253). Perjuangan-perjuangan sosial dalam praktek politik nyata. Ia berhasil menunjukkan adanya permainan kuasa dan pengetahuan dalam berbagai teori yang dikemukakan kaum kolonialis atau orientalis.
Dalam Hikayat ini terdapat paparan yang cemerlang, tentang bagaimana sikap para penjajah terhadap masyarakat Aceh, dan menunjukkan bagaimana respon masyarakat Aceh yang tertindas pada masa itu. Kesabaran yang kuat dalam ketertindasan memunculkan semangat dan bekerja sama melawan penjajahan.

Simpulan
Hikayat Teungku di Meukek merupakan salah satu karya sastra lama yang ditulis dalam bahasa Aceh. Hikayat ini menggambarkan tentang perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintahan kolonial yang menghasut para Uleebalang. Dalam hikayat ini terlihat adanya perjuangan-perjuangan sosial dalam praktek politik nyata. Ia berhasil menunjukkan adanya permainan kuasa dan pengetahuan dalam berbagai teori yang dikemukakan kaum kolonialis atau orientalis. Adapun naskah ini menceritakan tentang perlawanan terhadap para penjajah maka poskolonial ingin menggugat praktek-praktek kolonialisme yang telah melahirkan kehidupan yang penuh dengan propaganda peperangan dan kekerasan fisik, tetapi didialektikakan melalui kesadaran atau gagasan. Teori poskolonialisme dianggap dapat memberikan pemahaman terhadap masing-masing pribadi agar selalu mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan, kepentingan golongan di atas kepentingan pribadi.

Daftar Pustaka
Anderson, Benedict, 1999, Komunitas imajiner; Renungan tentang asal-usul dan penyebaran nasionalisme (terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar- Insist.
Baso, Ahmad, 2005, Islam pasca-kolonial: perselingkuhan agama. Kolonialisme dan liberalisme. Bandung: Mizan Pustaka.
Dally, Ramli A. dan Teuku Abdullah Sakti, 2002, Hikayat Akhbarul Karim.  Transliterasi dan terjemahan. Banda Aceh: Dinas Kebudayaan Provinsi NAD.
Djojosuroto, Kinayati, 2006, Analisis teks sastra dan pengajarannya. Cet 1.  Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Faruk, 2007, Belenggu pasca-kolonial. Hagemoni dan resistensi dalam sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Faulcher dan Tony Day, 2006, Clearing a space. Kritik pasca-kolonial tentang sastra Indonesia modern (terj). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Harun, Ramli, 1983, Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek. Jakarta:  Departemen Pendidikan dan Kebudaya-an.
Hurgronje, C. Snouck, 1985, Aceh dimata kolonialis. Jilid II. Jakarta: Yayasan Soko Guru.
Seno, 2002, ‘Mitos dan fakta Hikayat Raja-raja Pasai (Kisah tentang pelanggaran hukum yang menyebabkan kehancuran)’. Buletin Haba edisi 24. Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Aceh.
Yusuf Lubis, Akhyar, 2006, Dekonstruksi epistemologi modern. Jakarta: Pustaka  Indonesia Satu.