Perpustakaan Dan Kepustakawanan Di Dunia Islam Pada Masa Klasik

 

Pendahuluan

 

Zaman keemasan Islam yang dicapai pada masa klasik ini telah mewariskan berbagai kemajuan di berbagai bidang kehidupan, baik sosial, politik, maupun intelektual. Kemajuan tersebut dinyatakan oleh Hitti (1774) sebagai pencapaian yang luar biasa sehingga ia menyebutka sebagai sebagai abad keemasan atau the golden Age of Islam. Salah satu indikator dari kemajuan tersebut adalah pencapaian umat Islam dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang diraih umat Islam masa klasik tersebut juga banyak diakui oleh para ilmuwan maupun sejarawan lain seperti Kneller [1978], Hill [1993], Sarton [1927], Nasr [1968], dan lain-lain. Para ilmuwan tersebut semua mengakui bahwa orang Islam tidak saja telah berhasil dalam melakukan transmisi ilmu asing ke dalam dunia Islam, tetapi juga telah berhasil dalam melakukan kreasi baru yang sangat berharga dalam membangun peradaban

Bahkan, para ilmuwan muslim tersebut j telah berhasil meletakan dasar yang penting t tradisi ilmiah Islam yang spesifik. Landasan teol yang didasarkan atas prinsip tauhid telah mewa bangunan epistemologi ilmu pengetahuan di d Islam. Konsep ilmu yang – memang – seharusj ‘membumi’ untuk kemaslahatan umat manusia ti tercerabut dari akar teologis atau spiritualnya, y i Allah SWT sebagai sumber dari segala sumber i pengetahuan.

Menarik untuk dicermati bahwa perkemban ilmu pengetahuan yang dicapai pada periode ini j ditandai dengan perkembangan perpustakaan yang sangat pesat di tengah masyarakat. Perpusta telah berkembang menjadi institusi akademis yang menjadi pusat kajian, di samping perannya seb< gerbang dan tempat pelestarian ilmu pengetahi Hal ini bukanlah merupakan fenomena y; ‘kebetulan’, akan tetapi jika dicermati mem terdapat hubungan yang erat antara perpustak dengan ilmu pengetahuan. Pada satu perkembangan ilmu pengetahuan di dunia mana memerlukan dukungan suatu lembaga yang sec khusus mampu menyimpan dan menyebarluas ilmu pengetahuan. Di sisi lain, sesungguh perpustakaan hanya akan berkembang pada masyarakat yang menaruh perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sebagaimana yang dapat disaksikan dalam sejarah Islam.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan sejarah kepustakawanan Islam, terutama menekankan pada sejarah berdiri dan berkembangnya perpustakaan di dunia Islam pada masa klasik.

Tentang Kepustakawanan Islam

Sebelum menguraikan sejarah kepustakawanan Islam, penulis merasa penting untuk menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu kepustakawanan Islam. Merujuk pada pengertian bahasa, istilah kepustakawanan merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris, yaitu librarianship yang berasal dari kata librarian. Librarian dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan pustakawan, yaitu seseorang yang bekerja di perpustakaan atau petugas perpustakaan yang mendapat pendidikan ilmu perpustakaan (Neufeldt, 1996:779). Sulistyo-Basuki (1993:3) mengartikan kepustakawanan adalah penerapan pengetahuan atau ilmu perpustakaan dalam kegiatan perpustakaan, dan perluasan jasa perpustakaan. Kepustakawanan menyangkut segala aspek perpustakaan, mulai dari kegiatan pengadaan, pengolahan, temu balik, hingga penyebaran informasi untuk pembaca serta penerapan pengetahuan (ilmu perpustakaan) dalam berbagai kegiatan tersebut.

Dengan merujuk pada uraian di atas, sesungguhnya kepustakawanan merujuk pada tugas atau kegiatan pustakawan dalam kaitannya dengan perpustakaan, atau kegiatan dalam upaya pelaksanaan tugas dan pengembangan perpustakaan. Ilmu perpustakaan sebagaimana disiplin ilmu lainnya diciptakan tidaklah semata-mata ditujukan untuk keilmuan belaka, tetapi juga harus dapat diaplikasikan untuk kemanfaatan hidup manusia.

Selanjutnya, jika istilah kepustakawanan tersebut dikaitkan dengan Islam, yaitu kepustakawanan Islam {Islamic librarianship) maka dalam hal ini dapat menunjukkan dua aspek utama. Pertama bahwa kepustakawanan Islam menunjukkan aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan teori atau ilmu perpustakaan. Sebagaimana keilmuan lainnya, seperti sains, sosiologi, ekonomi, politik, dan hukum, maka perpustakaan juga merupakan bagian dari keilmuan yang memiliki landasan teologis dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam bukanlah kitab atau buku sosiologi, bukan buku ekonomi, dan juga bukan buku ilmu lainnya termasuk juga bukan buku tentang perpustakaan, tetapi dalam Al-Qur’an terdapat isyarat ilmiah yang berkaitan dengan beragam disiplin ilmu, termasuk ilmu perpustakaan. Al-Qur’an merupakan sumber dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Bagi seorang sosiolog, al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dan landasan dalam pengembangan keilmuan di bidang sosial. Bagi ahli ekonomi maupun politik, al-Qur’an merupakan kitab yang telah berisi dasar tentang ekonomi dan politik. Demikian juga bagi ahli di bidang keilmuan lainnya termasuk di bidang perpustakaan. Al-Qur’an telah memberikan dasar bagi keilmuan perpustakaan.

Kedua, istilah kepustakawanan Islam menunjukkan pada tradisi atau praktek di bidang ilmu perpustakaan yang berlangsung di dunia Islam. Dalam kerangka ini, maka kepustakawanan Islam berarti sejarah tentang perpustakaan di dunia Islam, baik yang menyangkut lembaga perpustakaan, tugas dan fungsi perpustakaan, profesi pustakawan, dan hal-hal lain yang menyangkut penyelenggaraan perpustakaan. Meskipun demikian, di dunia Islam, tradisi kepustakawanan Islam tidaklah terlepas dari ajaran Islam sebagai landasan keilmuan. Oleh karena itu, kepustakawanan Islam merupakan sesuatu yang khas yang tidak terdapat dalam tradisi kepustakawanan pada agama lain. Hal ini karena tradisi keilmuwan pada masyarakat di luar Islam merupakan sesuatu yang terpisah dari ajaran agama (sekular), dan oleh karenanya sering terjadi pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, tradisi ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat di luar Islam kurang atau tidak memiliki landasan yang kuat dalam ajaran agama.

Menurut Makdisi (1981: 25, 1990: 54), dalam sejarah kepustakawanan Islam terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu perpustakaan. Berdasarkan penelitiannya, nama yang digunakan untuk menyebutkan suatu perpustakaan adalah kata-kata seperti dar (house), bait (room), dan khizanah (closet) yang dikombinasikan dengan kata-kata seperti ‘ilm (knowledge), hikmah (wisdom), dan kutub (books). Dari penggabungan kedua kata tersebut kemudian terbentuk istilah seperti bait al-hikmah, khizanah al-hikmah, dar al-hikmah, bait al-ilm, khizanah al- ilm, dar al-ilm, bait al-kutub, khizanah al-kutub, dan dar al-kutub. Pada masa pemerintahan Dinasti

Abbasiyah terdapat satu perpustakaan yang sangat tersohor yang disebut bait al-hikmah, atau ada juga yang menyebutnya khizanah al-hikmah yang merupakan perpustakaan terbesar pada masanya yang awal pendiriannya dilakukan oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan kemudian dikembangkan oleh khalifah al-Ma’mun (Amin, 1984: 61). Di Kairo, Mesir, pada masa Dinasti Fatimiyah berdiri Perpustakaan Dar al-Hikmah atau Dar al-Ilm oleh khalifah al-Hakim Ibn Amr Allah tahun 395 H. (Syalabi, 1954: 101). Di Naisabur terdapat perpustakaan dengan nama Dar al-Ilm atau Khizanah al-Kutub yang didirikan oleh Abu Naser Sabur Ibn al-Dasyir (Al-Baghdadi, 1996: 110). Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang berfungsi sebagai layanan tempat baca, akademi, dan tempat pertemuan untuk diskusi.

Perkembangan Perpustakaan di Dunia Islam

Sejarah perpustakaan di belahan dunia manapun berasal dari tradisi tulisan yang berkembang di dalam masyarakat. Sangat sulit menentukan kapan lahirnya perpustakaan di dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa lahirnya perpustakaan adalah seiring dengan dikenalnya budaya tulisan oleh manusia (Sulistyo-Basuki, 1993: 19). Budaya tulisan menghasilkan tanda-tanda atau simbol-simbol yang digunakan manusia dalam berkomunikasi, dan selanjutnya direkam dalam berbagai media seperti kulit pohon, daun, bebatuan, tanah lihat, papirus, kertas, disket, piringan hitam, CD-ROM, dan lain sebagainya. Berbagai media penyimpan informasi tersebut kemudian disimpan di dalam suatu tempat untuk berbagai keperluan di masa mendatang. Dengan demikian perpustakaan sebagai tempat penyimpanan catatan-catatan atau rekaman-rekaman informasi telah tumbuh bersama tradisi penulisan di berbagai benda.

Dalam sejarah Islam, tradisi tulisan sebagai cikal bakal berdirinya perpustakaan telah berlangsung sejak kelahiran Islam, dan bahkan sebelumnya. Menurut Pedersen (1996:15-16), berdasarkan bukti berupa catatan yang digoreskan di atas batu berupa doa persemabahan, nama bangunan, hukum, dokumen, dan ungkapan keagamaan menunjukkan bahwa masyarakat Arab pra Islam telah mengenal tradisi tulisan. Hasil penelitian al-Khatib (1998:127) terhadap benda purbakala pada abad ke-3 Masehi menyebutkan telah adanya tulisan bangsa Arab terutama yang berada di kawasan Selatan semenanjung Arabia. Di kalangan orang Arab sendiri terdapat sebutan al-kamil yang ditujukan pada ora yang bisa menulis, mahir memanah, dan berena] Meskipun demikian, pada umumnya orang Ai sangat malu menampakkan kepandaian tulisann Para penyair sangat membanggakan hafalan d kekuatan ingatan mereka. Sekalipun mereka da] membaca dan menulis, mereka ak menyembunyikan kepandaiannya tersebut.

Kehadiran Islam bagi masyarakat Arab tel memberikan pencerahan sekaligus memba- perubahan dalam tatanan sosial dan intelektu Kehadiran Islam telah mendorong munculnya trac baru, yaitu tradisi tulisan. Sebagaimana diketal bahwa masyarakat Arab sebelum datangnya Isl; dikenal sangat kuat dengan tradisi lisan (o tradition). Kegiatan kepustakawanan berupa trac penulisan dan pelestarian informasi dalam su; media tertentu sejak kehadiran Islam mu berkembang, yaitu mula-mula berupa penulis wahyu al-Qur’an, dan pelestariannya dalam me penyimpan informasi seperti kulit binatang, ba daun, dan lain-lain. Muhammad SAW, baik seba rasul maupun pemimpin negara, sanj memperhatikan perlunya menyimpan d melestarikan dokumen. Selain untuk keperlr pencatatan wahyu, Nabi juga menaruh perhat: perlunya membuat catatan tertulis sebagai bag: dari kegiatan administrasi. Hudzaifah ra, sal seorang sahabat nabi, menuturkan bahwa Nabi S/ meminta dituliskan nama orang yang masuk Isle dan kemudian ia menuliskannya sebanyak 1! orang. Nabi juga meminta mencatat nama ors yang mengikut peperangan. (Azami, 2000: 1C Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa N Muhammad SAW banyak mempunyai sekreti pribadi untuk berbagai keperluan. Khalid Sayyed (1994: 13) menyebutkan bahwa Nabi S^ mempunyai 49 orang juru tulis atau penyalin. P juru tulis tersebut diperlukan untuk keperli berbagai bidang seperti utang-piutang, perjanji inventarisasi, surat untuk raja-raja atau pengu wilayah lain, dan untuk penulisan wahyu. P penulis tersebut sangat beragam dengan kepanda berbahasa asing masing-masing.

Meskipun demikian, pada periode ini tic ditemukan tempat khusus yang befungsi seba suatu perpustakaan. Perpustakaan baru tumbuh pi masa Daulah Bani Umayyah. Menurut Azami [ 19 104] sejarah berdirinya perpustakaan di dunia Isl terjadi pada dekade keenam abad pertama Hijr Abd al-Hakam bin Amr bin Abdullah bin Sufw al-Jumahi mendirikan perpustakaan umum y;

berisi berbagai koleksi buku, serta dilengkapi ruangan untuk bermain. Di dinding dipasang gantungan baju sehingga orang yang masuk dapat menggantungkan bajunya di situ, lalu membaca atau bermain. Keterangan Azami ini dapat dilihat pada Kitab Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Ashfahani (1995) jilid 4 halaman 250. Di samping itu terdapat juga perpustakaan khusus untuk membaca al-qur’an yang didirikan oleh Abd al-Rahman bin Abu Laila. Pada perpustakaan tersebut terdapat mushaf-mushaf di mana para qura’ berkumpul untuk membaca al- Qur’an. Mereka tidak keluar, kecuali untuk suatu keperluan seperti makan. Berbeda dengan Azami, Menurut Mackensen seperti dikutip oleh Sardar [2000: 163], sejarah awal berdirinya perpustakaan di dunia Islam dimulai dengan berdirinya perpustakaan oleh Al-Zuhri yang hidup antara tahun 51 H- 124 H. Al-Zuhri disebutkan telah mengoleksi buku-buku yang dikumpulkan dari murid-muridnya dan beberapa surat, dan banyak digunakan oleh murid-muridnya dan masyarakat.

Meskipun demikian, keterangan yang lebih dikenal sebagai awal berdirinya perpustakaan di dunia Islam adalah perpustakaan yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Menurut penelitian yang dilakukan oleh J. Pedersen (1996:150) bahwa Khalid Ibn Yazid Ibn Muawiyah telah mendirikan perpustakaan. Latar belakang pendirian tersebut disebutkan Pedersen karena ia kecewa tidak mendapatkan kekhalifahan. Oleh karena itu untuk menghibur diri, ia mendirikan perpustakaan. Keterangan yang sama diberikan oleh Mansoor A. Quraishi (1970: 150) bahwa sejarah perpustakaan telah ada semenjak masa Bani Umayyah yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Ibn al-Nadim (1970: 581) menyebutkan bahwa Khalid Ibn Yazid Ibn Muawiyyah adalah seorang baik dan bijaksana, dan ia sering disebut sebagai the Wise Man of the Family Marwan, lelaki yang bijaksana dari keluarga Marwan. Ia sangat gemar dan mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan diceritakan bahwa ia sengaja mengumpulkan sekelompok ahli filsafat Yunani yang tinggal di Mesir untuk datang kepadanya. Kemudian ia menyuruh mereka menerjemahkan karya-karya Yunani tersebut ke dalam bahasa Arab. Menurut Ibn al-Nadim, inilah awal dimulainya kegiatan penerjemahan dalam dunia Islam. Untuk keperluan kegiatan penerjemahan dan untuk menyimpan hasil-hasil dari terjemahan tersebut ia mendirikan perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan di dunia Islam mencapai puncaknya terjadi pada masa kekuasaan

Bani Abbas atau Daulah Abbasiyah. Berbeda dengan masa pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah, pada masa kekhalifahan Daulah Abbasiyyah, tradisi ilmiah dan ilmu pengetahuan berkembang demikian pesat sehingga mendorong tumbuhnya pusat-pusat studi ilmu pengetahuan termasuk perpustakaan. Seperti diketahui, bahwa pada masa Daulah Umayyah, kebijakan pemerintahan lebih banyak diorientasikan pada pengembangan (expansi) wilayah kekuasaan, dan pembangunan infrastruktur kepemerintahan. Dr. Yusuf Qardlawi (2005: 81) dalam salah satu bukunya Tarikhuna al-muftara ‘alaih yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Meluruskan Sejarah Islam secara khusus menyebutkan bahwa Dinasti Bani Umayyah sebagai dinasti perluasan wilayah kekukasaan Islam sebagai pilar peradaban. Menurut Yusuf Al-Isy (2007: 427), Bani Umayyah berambisi menjadikan pemerintahannya sebagai negara adidaya, mereka tidak ingin tersaingi bangsa lain. Oleh karena itu mereka berusaha kuat untuk menguasai seluruh negeri, dan membangun kekaisaran yang agung. Bosworth (1993: 26) menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah, wilayah kekuasaan Islam hampir menguasai sebagian besar dunia, dari mulai kawasan Arab sendiri, Afrika, Eropa, dan Asia.

Selain itu, pada masa Daulah Umayyah kondisi politik pemerintahan juga masih banyak diwarnai dengan perbagai konflik, terutama dari kalangan atau kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan pemerintahan seperti pengikut setia Ali yang dikenal dengan kelompok Syi’ah, golongan Khawarij, dan kelompok lainnya yang tidak senang dengan pemerintahannya. Menurut catatan Watt (1999:28), pembrontakkan terpenting dari kalangan Khawarij adalah yang dilakukan oleh Salih Ibn Musarrih dan Shabib Ibn Yazid al-Syaibani. Dengan demikian, kebijakan pemerintahan juga lebih banyak ditujukkan untuk menciptakan stabilitas. Oleh karena itu, akibatnya, upaya-upaya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan tidak banyak diperhatikan. Situasi dan kondisi seperti ini telah mempengaruhi perkembangan perpustakaan.

Berdasarkan keterangan sejarah, pada masa Daulah Umayyah kegiatan intelektual kurang menjadi perhatian. Hampir sebagain besar masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan sehingga seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk tujuan tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Ummayah masih sangat terbatas, baik ragam maupun jumlahnya. Pada umumnya ilmu pengetahuan yang berkembang adalah ilmu-ilmu agama atau syariah dan terbatas pada tujuan praktis untuk keperluan pengajaran agama masyarakat terutama terhadap kalangan yang baru memeluk agama Islam. Menurut Muhammad Munir Marasi (1988:74), sampai akhir masa Umayyah kegiatan intelektual lebih menekankan pada pengajaran dasar-dasar agama terutama ditujukkan pada daerah- daerah yang baru ditaklukkan. Para khalifah pada masa ini sengaja mengirim ulama ke penjuru daerah yang disertai dengan pasukan untuk menyiarkan (dakwah) agama Islam. Umar Ibn Abdul Aziz, salah seorang khalifah Umayyah mengirim sepuluh orang fuqaha ke Afrika Utara untuk mengajarkan ilmu- ilmu agama. Pada umumnya mereka yang diutus oleh khalifah mengajarkan ilmu-ilmu agama di masjid-masjid. Oleh karena itu pada masa ini berkembang khalaqa-khalaqah di berbagai masjid di wilayah kekuasaan Islam. Masjid pada masa ini merupakan pusat studi utama untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. J. Pedersen menyebutkan bahwa Yazid Ibn Habib diutus oleh khalifah Umar Ibn Abdul Aziz untuk menjadi mufti di Mesir, dan disebut sebagai pengajar pertama di daerah tersebut. Bersama seorang guru, al-Laits, ia mengajar di wilayah tersebut pada sebuah khalaqah di masjid

Situasi ini sangat berbeda dengan masa pemerintahan Daulah Abbasiyah yang relatif stabil sehingga kebijakan pemerintahan lebih mendorong pada upaya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Hasilnya, pada masa ini masyarakat hidup dalam kesejahteraan dan ilmu pengetahuan mencapai tingkat kemajuan yang membangggakan. Para sejarawan kemudian menyatakan bahwa pada masa Daulah abbasiyah merupakan masa keemasan yang pernah dicapai umat Islam. Pencapaian ini tidak semata-mata didasarkan atas telah terciptanya tatasan kehidupan sosial yang relatif mapan dan tingkat ekonomi yang tinggi, akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan telah mencapai puncak kejayaan.

Menurut al-Baghdadi (1996: 107), di masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad tersebar majli- majlis ta’lim yang diadakan di rumah-rumah, gedung-gedung pemerintahan, masjid-masjid yang diisi oleh para ulama yang senantiasa mendiskusikan berbagai ilmu pengetahuan. Di samping itu, lanjut al-Baghdadi, bahwa pada masa kejayaan khilafah Islam diberbagai kota tersebar perpustakaan- perpustakaan besar yang dibanggakan. Pada perpustakaan-perpustakaan itulah terdapat berbagai buku-buku dan bahan-bahan rujukan yang langka serta berbagai aktifitas ilmiah dilakukan.

Perkembangan perpustakaan pada masa Abbasiyah menunjukkan suatu hal yang sangat fenomenal. Bukan hanya kuantitas atau jumlah perpustakaan yang menyebar hampir di seluruh wilayah kekuasaan Islam, akan tetapi karena perpustakaan tidak semata-mata sebagai tempat penyimpanan buku-buku, tetapi lebih dari itu perpustakaan merupakan pusat belajar, pusat penelitian, dan pusat kegiatan ilmiah lainnya.

Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap ilmu pengetahuan menunjukkan hal yang luar biasa. Penghormatan masyarakat terhadap para cendekiawan atau ulama, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan telah mendorong untuk mendirikan perpustakaan, baik bersifat pribadi, umum, maupun semi umum. Mehdi Nakosteen (1996 : 87) dalam karyanya tentang perpustakaan sebagai pusat pendidikan dalam Islam menyebutkan sebagai berikut:

“Semua muslim, baik kaya ataupun miskin, penguasa maupun rakyat biasa, Persia atau Arab, dan tua atau muda, telah menunjukkan penghormatan yang besar terhadap cendekiawan. Namun lebih besai penghormatan mereka terhadap karya-karyi ilmu pengetahuan atau masterpies yang berkenaan dengan kesusastraan. Kepadanyi sekaligus, ketika buku-buku disalin dengan tulisan tangan oleh para penyalin khusus, kesetiaan kepada buku-buku terkenal, nyarn sama dengankesetiaannya terhadap religiusitas, hal-halyang bersifat mistik.”

Pernyataan Nakosteen tersebut menunjukkan bahwa masyarakat muslim telah mempunyai perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan Perpustakaan sebesar atau semodern apapun tidak terlepas dari perkembangan buku-buku sebagai salali satu bentuk media penyimpan informasi yang paling dikenal masyarakat dan lazimnya memnjadi koleksi suatu perpustakaan. Pernyataan Nakosteen tersebut juga didukung oleh penulis sejarah intelektual Islam lainnnya. Pedersen (1996:149) dalam bukunya yang terkenal yaitu The Arabic Book yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Fajar Intelektualisme Islam mengemukakan bahwa perkembangan seni produksi buku yang tak ada duanya dalam Islam disebabkan karena ketertarikai para hartawan yang penuh semangat terhadap buku. Dunia ilmu pengetahuan telah sedemikian besai mendapat perhatian dari masyarakat dari berbagai kalangan, sehingga bagi kalangan yang mampu kemudian mendirikan perpustakaan.

Ahmad Syalabi (1954 : 132) secara lebih jelas menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan dalam dunia Islam masa klasik. Menurut Syalabi berkembangnya perpustakaan dalam dunia Islam tidak terlepas dari usaha pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan adalah suatu sarana yang ditempuh umat Islam pada masa lalu untuk menyiarkan ilmu pengetahuan. Hal ini karena pada masa itu harga buku-buku sangat mahal karena ditulis tangan, dan hanya orang-orang kaya saja yang dapat membeli buku. Oleh karena itu salah satu jalan bagi orang yang ingin memberi pelajaran dan menyiarkan ilmu pengetahuan adalah dengan mendirikan perpustakaan. Perlu diketahui bahwa penerbitan buku pada masa itu memerlukkan waktu yang lama dan melalui proses yang panjang. Penulis atau pengarang yang dengan ikhlas atau sukarela  mengerahkan segenap waktu dan kemampuannya untuk menghasilkan suatu karya. Menurut Pedersen (1996: 65), di samping penulis atau pengarang, masih terdapat lagi seorang waraq (penyalin atau juru tulis) yang bertugas menyalin suatu buku. Waraq pada masa itu telah menjadi profesi tersendiri yang berbeda dari pengarang atau penullis buku. Bahkan banyak para pengarang buku sebelumnya berprofesi sebagai penyalin. Waraq ini bekerja untuk para pengarang atau pejabat tinggi serta orang-orang kaya yang ingin membangun perpustakaan. Diceritakan bahwa pada sekitar tahun 800-an ketika gerakan penulisan memperoleh momentum dan gerakan penerjemahan literatur kuno mulai digiatkan, pemerintahan Bani Abbasiyah banyak memperkerjakan para penyalin ini. Begitulah, tradisi ilmiah dan ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah benar-benar berkembang secara luar biasa, dan telah mendorong tumbuh dan berkembangan institusi-institusi ilmiah seperti perpustakaan.

Tradisi ilmiah yang berperan sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan ini tidak terlepas dari kondisi sosial, politik, dan budaya yang terjadi pada masa itu. Secara sosial ekonomi, masyarakat pada masa keemasan Islam hidup dalam kecukupan dengan tingkat ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya secara sosial politik, stabilitas negara relatif terjaga. Konflik sosial yang terjadi sebelumnya juga berhasil diatasi sehingga pemerintahan berjalan dengan baik. Stabilitas politik ini telah mendorong pemerintahan Daulah Abbasiyyah untuk mengarahkan pada upaya-upaya kemajuan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan.

Secara kultural, kebebasan berpendapat juga mendapatkan yang tinggi. Kebebasan pendapat ini telah mendorong bagi tumbuh dan berkembanganya kreatifitas berfikir di kalangan masyarakat muslim yang melahirkan berbagai ilmu pengetahuan. Akibatnya, berbagai ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu sekuler (umum) tumbuh dan berkembang dengan pesat. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila pada masa ini telah melahirkan banyak ilmuwan muslim yang karya-karyanya masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Selain itu, di kalangan para khalifah dan para penguasa wilayah lainnya, tumbuh kesadaran yang tinggi akan pentingnya ilmu-ilmu pengetahuan. Kesadaran ini telah mendorong mereka untuk mendirikan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, termasuk perpustakaan. Perpustakaan bahkan telah menjadi lembaga kebanggaan bagi para khalifah atau penguasa wilayah di berbagai kota. Mereka mendirikan perpustakaan dengan maksud menyebarluaskan ilmu pengetahuan di kalangan orang yang kurang mampu, dan haus akan ilmu pengetahuan. Bukan hanya para pejabat, menurut Al-Abrasyi (1993: 86), orang kaya atau hartawan juga banyak mendirikan perpustakaan yang cukup mewah dan lengkap guna menyediakan fasilitas bagi masyarakat dan para penuntut ilmu untuk mengambil manfaat dari perpustakaan yang didirikan. Para hartawan tersebut bahkan tidak jarang menyediakan berbagai fasilitas seperti alat tulis dan makanan yang diperlukan oleh para pengunjung perpustakaan. Mustafa al-Siba’i (1992: 179) menyebutkan bahwa para ulama, haitawan, dan amir pada masa Abbasiyah sangat mencintai buku. Mereka, lanjut al-Siba’i, mengumpulkan buku dari berbagai daerah untuk dipelajari, dan bahkan diceritakan bahwa mereka merasa lebih senang kehilangan harta bendanya dari pada harus kehilangan buku mereka. Dari kecintaan kepada buku atau ilmu pengetahuan inilah tumbuh dan berkembang perpustakaan di berbagai penjuru dunia Islam. Amat jarang sekolah yang tidak mempunyai perpustakaan, dan hampir tak ada sebuah desa yang tidak memiliki perpustakaan. Ibukota dan kota-kota besar penuh dengan perpustakaan dengan bentuk yang tidak ada bandingannya dalam sejarah masa pertengahan.

Mengenai penghargaan umat Islam terhadap buku sebagai media atau sumber ilmu pengetahuan dikemukakan oleh banyak kalangan. Al-Jahiz yang oleh Syalabi (1954:75) dipandang sebagai salah seorang pecinta buku dan tradisi tulisan menyebutkan bahwa buku akan diam selama anda membutuhkan kesunyian atau keheningan, akan fasih berbicara kapan pun anda membutuhkan wacana. Ia tidak pernah menyela anda jika anda sedang berbicara, tetapi jika anda merasa kesepian maka ia akan menjadi teman yang baik. Ia adalah teman yang tidak pernah mencurangi atau memuji anda, dan ia adalah teman atau saudara yang tidak pernah membosankan anda. Muhyiddin Ibn al- ‘Arabi menceritakan perkataan seorang ulama mengenai buku bahwasannya buku adalah penyambung lidah bagi orang yang sudah meninggal, juru bicara bagi orang yang masih hidup. Ia bagai seorang tamu yang tidak pernah tidur ketika anda tidur, tidak mengucapkan kata kecuali hanya yang menyenangkan, ia lebih pandai menyimpan rahasia daripada tuannya, Ia adalah tetangga yang setia, ia adalah teman yang jujur, guru yang ramah, dan teman yang tidak membosankan

Menurut Asari (1994:12) bahwa perkembangan buku-buku semakin meningkat setelah ditemukannya teknologi kertas di dunia Islam. Sou’yb, seperti dikutip A. Syafi’i (1999:48), mengemukakan bahwa Spanyol Islam (Andalusia) ketika dipimpin oleh Abdurrahman III pada sekitar abad ke 10 pernah menjadi industri kertas terbesar yang perdagangannya sampai ke luar negeri. Pada saat itu di Cordova, ibu kota Andalusia, berdiri perpustakaan-perpustakaan besar sehingga dikenal sebagai pusat intelektual Eropa.

Tidak diketahui secara pasti jumlah perpustakaan yang berkembang pada masa itu. John F. Draper dalam Intellectual Development of Europe melukiskan dengan penuh kagum bagaimana orang- orang Islam mendirikan perpustakaan di kota-kota utamanya. Pada akhir abad kedua (hijrah) Islam telah mendirikan tidak kurang dari 70 perpustakaan (Altwajri, 1997: 80). Mehdi Nakosteen (1996: 93) mencatat beberapa perpustakaan penting Islam. Menurutnya, perpustakaan di Timur yaitu dari Baghdad sampai Nisabur pada masa kejayaan sampai sebelum bangsa Mongol menghancurkannya terdapat tiga puluh enam (36) perpustakaan, yaitu antara lain :

1.            Perpustakaan Umar al-Wakidi (736-811), diperkirakan memiliki sebanyak seratus dua puluh ekor unta beban buku- buku.

2.            Bait al-Hikmah dari al-Ma’mun

3.            Dar al-Ilm dari Ardeshir (991)

4.            Perpustakaan Madrasah Nizhami (1064)

5.            Perpustakaan Madrasah Mustanshiriyah (1233)

6.            Perpustakaan al-Baiqani dengan ko! sekitar enam puluh tiga kerangjang dua kopor.

7.            Perpustakaan Muhammad Ibn Hi: dari Haditsa dengan koleksi manusl manuskrip langka yang disimpa tempat terkunci

8.            Perpustakaan Ibn Kamil dengan ko 10.000 buah buku.

Di Persia juga terdapat perpustak perpustakaan penting seperti perpustakaan Ibn Mansur yang koleksinya mencapai 400 unta untuk mengangkutnya, dan del katalognya terdiri dari sepuluh voli perpustakaan Ibn Hamid di Rayy, perpusta Ibn Hamdan, seorang penyair di Mosul, perpustakaan Adud Daulah di Basrah dan S yang sebagian koleksinya terdiri dari buku- atau literatur ilmiah Di Afrika Utara, di san Dar al-Ilm (House of Science) di Kairo, terdapat perpustakaan lain seperti perpustf Bait al-Hikmah yang didirikan oleh Al- seorang khalifah Fatimiyah, pada tahui yang mempunyai koleksi sekitar 100.000 vc atau 600.000 jilid buku termasuk 2.400 bu, Qur’an berhiaskan emas dan perak, perpust al-Fadhil, perpustakaan pengeran Ben Fati< perpustakaan al-Ma’arif. Di san perpustakaan-perpustakaan tersebut, ter lagi banyak perpustakaan di wilayah Timui di Spanyol dan Sisilia. Di antara tujuh ] perpustakaan yang yang ada di Spanyol, me Nakosteen, terdapat dua di antaranya memiliki peran strategis bagi keg intelektual. Dua perpustakaan tersebut 2 Perpustakaan Khalifah al-Hakim di Co yang mempunyai koleksi sekitar 600.000 v dengan jumlah staf yang cukup besar yang1 dari para pustakawan, penyalin, dan penjili Perpustakaan Abul Mutrif, seorang 1 Cordova, yang sebagian besar koleksinya dari buku-buku langka, dan masterpies ka: serta memperkerjakan enam penyalin bekerja penuh (Nakosteen, 1996: 94-95).

Demikian pertumbuhan dan perkemt perpustakaan di dunia Islam menunjukan pencapaian yang luar biasa pesat sehingga perpustakaan menjadi suatu kebanggaan di kalangan masyarakat muslim.

Kesimpulan

Uraian di atas memberikan beberapa hal penting sebagai suatu kesimpulan, yaitu :

1.            Kepustakawanan Islam merupakan suatu tradisi yang telah berkembang sejak kelahiran agama Islam.

2.            Melalui tradisi kepustakawanan, Islam telah memberikan pengaruh yang kuat bagi berkembangan tradisi tulisan di kalangan masyarakat Arab yang pada saat kelahirannya sangat kuat memegang tradisi lisan.

3.            Sejarah kepustakawanan memiliki hubungan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terutama pada masa keemasan. Hubungan antara perpustakaan dan ilmu pengetahuan di dunia Islam terlihat dalam beberapa hal, yaitu ;

a.            Perpustakaan akan berkembang pada masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

b.            Perpustakaan merupakan pusat kajian ilmu pengetahuan

c.             Perpustakaan menjadi barometer bagi perkembangan literatur ilmu pengetahuan

d.            Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan dukungann perpustakaan.

Daftar Pustaka

Al-Abrasyi, M. Athiyah.1993. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1996. Sistem Pendidikan di. Masa Khilafah Islam, Surabaya: Al-Izzah.

Ali, Khalid Sayyed.1994. Surat-Surat. Nabi Muhammad, Terjemahan dari Rasa’ilal-NabiIla al-Muluk oleh A. aziz salim Basyarahil. Jakarta: Gema Insani Press.

Al-Isy, Yusuf. 2007. Dinasti. Umawiyyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Al-Khatib, Muhammad Ajjaj.1998. Ushul. al-Hadits. Jakarta; Gaya Media Pratama.

Al-Qardlawi, Yusuf. 2005. Meluruskan Sejarah Islam. Jakarta : Srigunting.

Al-Siba’i, Mustafa. 1992. Peradaban Islam: Dulu, Kini, dan Esok, Diterjemahkan dari Min Rawai’I Hadharatina oleh R.B. Irawan & Fauzi Rahman. Jakarta: Gema Insani Press.

Altwajri, Ahmed 0.1997. Academic Freedom in Islam and the West : A Study of Fundamental Philosophy of Academic Freedom in Islam and the West Liberalism. Terjemahan Islam, Barat

dan kebebasan akademis oleh Mufid. Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

Amin, Ahmad. 1984. Dluha al-Islam„ Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Misriyyah.

Asari, Hasan. 1994. Menyingkap Zaman Keemasan Islam: Kajian atas lembaga-lembaga Pendidikan. Bandung: Mizan.

Azami, MM. 2005. Sejarah teks al-qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi. Jakarta; Gema Insani Press.

Bosworth, C.E. 1993. Dinasti-Dinasti Islam. Bandung : Mizan.

Hill, Donald R. 1993. Islamic Science and,Engineering. Edinburgh: The University Press.

Hitti, Phillip K.,1974. History of The Arab From the Earliest Times to The Present, Ed. 10. London: Macmillan.

Ibn al-Nadhim, Abul Faraj Muhammad. 1970. The air Fihrist of al-Nadim : A Tenth-Century Survey of Muslim Culture, editor and translator Bayard Dodge, (New York: Columbia University Press.

Kneller, Gerge F. 1978. Science as Human A Human Endeavor. New York: Columbia University Press.

Makdisi, George, 1981. The Rise of College : Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh: The University Press.

Nakosteen, Mehdi. 1996. History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350: With an Introduction to Medieval Muslim Education. Terjemahan Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat : Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam oleh Joko S. Kahhar & Suriyanto Abdullah. Surabaya: Risalah Gusti.

Nasr, Seyyed Hossein.1970. Science and Civilization in Islam. New York: New American Library.

Neufeldt, Victoria (ed.). 1996. Webster’s New. World College Dictionary. USA: Macmillan.

Pedersen, J. 1996. Fajar. Intelektualisme Islam : Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab. Bandung: Mizan.

Quraishi, Mansoor A. 1970. Some Aspects of Muslim Education. Lahore: Universal Books.

Sardar, Ziauddin. 2000. “Peradaban Buku”, dalam Merombak Pol a Pikir Intelektual Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarton, George. 1972. Introduction to the History of Science. Balitmore: Wilkins and Wilkens.

Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Syalabi, Ahmad. 1954. History of Muslim Education. Beirut: Dar al-Kashshaf.

Watt, W. Montgomery. 1999. Studi. Islam Klasik: Wacana Kritik Sejarah. Yogta: Tiara Wacana Yogya.