Perpustakaan di Universitas

Jadi teringat ketika masa-masa dimana saya mulai mengenal membaca. Pengalaman belajar ditemani ibu mengilhami saya untuk menulis Apa Kabar, Ibuku Perpustakaan Pertamaku (Warta edisi 3, tahun 2012). Masa dimana setiap pulang sekolah saya harus mengerjakan beberapa tugas sekolah didampingi oleh ibu. Selesai itu, barulah saya bisa bermain sore harinya.
Kesinambungan ini terus berlanjut hingga dewasa. Membaca menjadi salah satu rutinitas. Tiap kali pameran buku (book fair) berlangsung, bisa dipastikan saya pasti mendatanginya. Di masa kuliah pun, sebelum berangkat kuliah, selalu saya sempatkan membeli koran sebagai teman di pagi hari.
Entah kenapa, meski senang membaca, tapi aktivitas mengunjungi perpustakaan kampus jarang sekali dilakukan. Buku-buku semasa kuliah lebih sering saya dapati saat blusukan ke book fair atau tukar pinjam dengan mahasiswa lain. Intensitas kunjungan ke perpustakaan justru intens saat mendekati tugas seminar dan skripsi jelang wisuda. Syukurlah, perpustakaan kampus dimana saya kuliah termasuk lengkap. Justru saya kerap membantu petugas perpustakaan di saat senggang kuliah.
Perpustakaan memang jantungnya pendidikan. Ungkapan ini tidaklah salah. Sulit sekali melepaskan peran perpustakaan dari dunia pendidikan. Perpustakaan, khususnya di level sekolah memegang andil besar dalam pengembangan keterampilan siswa (life skill). Meski, di banyak tempat, perpustakaan sekolah masih kalah mentereng dibanding keberadaan ruang laboratorium dan ruang praktek.
Kenyataan ini dialami oleh banyak negara berkembang. Konferensi International Association of School Librarianship (IASL) yang ke-42 di Sanur, Bali, di tahun 2013 yang diikuti oleh 35 negara dunia pun mengangkat tema ‘Enhancing student’s life skills through the school library’ (meningkatkan keterampilan hidup siswa melalui perpustakaan sekolah) sebagai fokus utama bagaimana mengikutsertakan perpustakaan dalam pengembangan keterampilan siswa.
Perpustakaan mengambil peran krusial sebagai jantung pendidikan. Riset yang dilakukan New York Comprehensive Center di tahun 2011 menyebutkan kaitan perpustakaan dengan keterampilan siswa sekolah mampu mendongkrak prestasi siswa lebih tinggi 29%.
Bagaimana dengan di Indonesia. Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) meminta sekolah untuk tidak hanya menyesuaikan kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan global, tapi juga cara mengantisipasinya. Lewat kurikulum baru (2013), pemerintah sibuk menyiapkan generasi muda Indonesia di masa depan, lewat usia emasnya (golden age) menjadi insan produktif, kreatif, inovatif, dan beradab.
Lalu, bagaimana dengan perpustakaan universitas. Apakah juga turut andil dalam menyiapkan generasi mutakhir yang serupa dengan cita-cita pemerintah? Mestinya iya. Kepopuleran perpustakaan kampus di kalangan pegiat kampus (mahasiswa/dosen) sudah tidak diragukan. Tapi, tingkat kepopuleran tersebut kadang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Perpustakaan kampus acap terlihat ramai ketika lagi musim tugas kuliah, jelang UTS/UAS, dan tugas akhir/skripsi. Pengalaman serupa ketika saya kuliah. Jumlah bangku yang ada diruang perpustakaan masih lebih banyak dibanding mahasiswa/dosen yang berkunjung.
Hal itu sudah baik daripada tidak sama sekali. Namun, akan terasa lebih baik jika para mahasiswa dan dosen—dikenal sebagai kaum elit—dalam dunia pendidikan memberi contoh kalau budaya membaca di kalangan elit di universitas sudah sangat tinggi. Bukan sekedar kongkow-kongkow sambil menyeruput segelas jus atau bergaya hidup hedonisme.
Sebagian besar universitas, masih menitikberatkan konsep pembangunan kampus yang megah, ruang kelas berpendingin, kedai kantin yang nyaman, tapi lalai membangun perpustakaan. Sekalinya punya gedung perpustakaan bagus, malah tersandung dugaan korupsi. Seperti yang dialami salah satu kampus ternama. Haduh. Padahal, disepakati kalau perpustakaan adalah jantung universitas. Dari sana mahasiswa terdidik untuk membaca dan melakukan riset kepustakaan. Jika perpustakaan tidak menarik mana ada pengunjung yang singgah.
Jangan heran dengan kondisi perpustakaan kampus seperti saat ini, para lulusan perguruan tinggi yang ditelurkan kurang mampu menciptakan lulusan yang memiliki budaya kunjung perpustakaan, dan budaya membaca yang baik. Akibatnya, bisa jadi lulusan yang ada kurang memiliki daya saing. Masalah besar yang mesti diterima.
Jadi teringat ucapan Wakil Presiden Boediono di tahun 2011 lalu. Di dampingi Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih beliau mencanangkan Gerakan Nasional Indonesia Membaca di Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta. Wapres mengenalkan konsep membangun universitas dengan mencontohkan kisah mantan Presiden AS Thomas Jefferson.
Wapres Boediono mengisahkan bagaimana Thomas Jefferson, 250 tahun yang lalu, pasca mengundurkan diri dari Gedung Putih, ia memilih tinggal di Monticello untuk memikirkan main project berdirinya Universitas Virginia. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghibahkan sebidang tanahnya dalam cita-citanya membangun universitas yang difungsikan sebagai gedung perpustakaan. Mulanya, koleksi yang ada berisi buku-buku karangannya. Lalu, berkembang  hingga akhirnya menjadi cikal bakal perpustakaan besar dunia, Library of Congress.
Sayangnya, mayoritas universitas sudah merasa bangga memiliki gedung perkuliahan, laboratorium, dan dosen bermutu. Sementara, perpustakaannya dibiarkan lusuh, berdebu dan anggaran pengadaan buku cukup seadanya. Kalau tidak keadaan mendesak, seperti  kepentingan akreditasi, maka perpustakaan seolah kurang berharga dari yang lain. Jantung sebuah universitas adalah perpustakaan. Bukan kantor megah atau ruang kuliah mewah.
Perpustakaan memegang peran sebagai penyokong utama informasi pada perguruan tinggi sesuai perkembangan iptek, khususnya internet. Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan menyediakan akses terhadap sumber daya informasi membutuhkan kehadiran SDM yang mempunyai kemampuan mengelola dan menyediakan teknologi yang terus dinamis.
Hadirnya internet menyebabkan penyediaan sumber informasi berbasis cetak tak lagi memadai, tapi harus dilengkapi dengan sumber informasi berbasis digital (elektronik). SDM perpustakaan pun harus melengkapi kemampuannya untuk mengembangkan bahan-bahan digital tersebut.
Sebagai makhluk ciptaan Allah berpikir, maka alam pikir manusia hakekatnya mencerminkan buku-buku yang pernah dibaca. “You are what you read”, kata Wapres Boediono. Ungkapan yang bermakna “kamu adalah apa yang kamu baca”, sejujurnya berbicara tentang intelektual manusia. Bahkan, ayat pertama yang turun dalam Al Qur’an berbunyi iqro’ (bacalah).
Tahun 2014 adalah momen bagus untuk terus melanjutkan dan meningkatkan segala upaya pengembangan perpustakaan di perguruan tinggi, sekolah, rumah ibadah, sehingga minat baca masyarakat perlahan-lahan terangkat.