Perpustakaan Sebagai Lembaga Pendidikan Dan Sarana Mencerdaskan Masyarakat Dan Bangsa

Secara harfiah perpustakaan merupakan sebuah kumpulan buku dan bahan pustaka tercetak dan terekam lainnya yang disediakan untuk masyarakat. Buku atau pustaka merupakan hasil karya intelektual manusia yang dituangkan secara sistimatis dan cermat sehingga merupakan suatu pesan atau informasi mengenai suatu masalah untuk para pembacanya. Namun batasan secara harfiah ini tidaklah menggambarkan secara hakiki mengapa manusia itu mendirikan dan terus berusaha mengembangkan perpustakaan. Arti hakiki sebuah perpustakaan justru tidak hanya terletak pada kondisi materiilnya, meskipun hal ini juga penting, tetapi pada aspek tujuan dan sasaran yang dicanangkan oleh yang mendirikan, yang bermanifestasi pada tugas dan fungsi setiap jenis perpustakaan.

Sejak awal diadakannya, sama seperti buku/pustaka perpustakaan mengemban fungsi sebagai sumber informasi dan ilmu pengetuhuan dan berperan sebagai sarana komunikasi dan sarana belajar antar manusia, antar bangsa, bahkan antar generasi.

Dengan sumber-sumber informasi dan ilmu pengetahuan, masyarakat dapat menambah pengetahuan dan wawasan perkembangan alam sekitarnya. Dengan demikian maka perpustakaan memperoleh fungsi sebagai sarana komunikasi untuk pendidikan. Jelaslah kiranya, bahwa dengan fungsi sebagai sarana komunikasi informasi dan pengetahuan hasil budidaya manusia, penampilan dan kinerja perpustakaan akan sangat dipengaruhi oleh irama perkembangan kebudayaan.

Kalau dalam awal sejarah perkembangannya, perpustakaan itu hanya tampil sebagai kumpulan tablets (tanah liat), gulungan kulit kayu atau kulit binatang bertulis tangan atau terpahat, dengan fungsi komunikasinya yang sangat terbatas, maka dewasa ini, seirama dengan kemajuan ilmu dan teknologi, funsi perputakaan telah berkembang menjadi pusat layanan informasi ilmu, teknologi dan budaya yang diatur dan dikelola secara ilmiah dan mempergunakan sarana dan alat yang canggih, sedang bahan pustakanya mencakup karya cetak, terutama buku, dan karya rekam.

Dengan segala potensi dan kemampuannya perpustakaan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan diarahkan untuk dapat berperan sebagai agen modernisasi masyarakat, sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat. Keberadaan perpustakaan oleh karena-nya sangat dibutuhkan sebagai sarana belajar, untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, dan meningkatkan ketrampilan bagi masyarakat, secara langsung atau tidak langsung perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana mencerdaskan masyarakat dan bangsa.

Berdasarkan penampilan dan fungsinya yang sangat strategis bagi sarana pendidikan dan kemajuan inilah maka perpustakaan dewasa ini dilukiskan orang antara lain sebagai berikut :

Buku (baca: perpustakaan) merupakan jendela ke dunia ilmu pengetahuan (Prof. Dr. Fuad Hasan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)     

Tidak ada hal yang lebih penting bagi umat manusia dari pada membawakan buku ke dalam jangkauan semua orang buku yang dapat meluaskan pandangan, dapat membebaskan kita dari diri kita sendiri, dapat mendorong kita kepenemuan-penemuan baru dan benar-benar dapat merubah kehidupan serta membuat seseorang menjadi anggota masyarakat yang lebih berharga. Satu-satunya jalan untuk melaksanakan ini, ialah perpustakaan-perpustakan (umum). Demikian pernyataan Pujangga Perancis Andrea Maurois tentang perpustakaan dalam bukunya Public Libraries and their mission.

Lebih lanjut unesco dalam deklarasinya tentang perpustakaan umum menyatakan antara lain bahwa perpustakaan (umum) merupakan manifestasi cita-cita demokrasi yang menyediakan hasil budi dan daya manusia bagi keperluan seluruh manusia tanpa memandang perbedaan bangsa jenis kelamin, keturunan latar belakang sosial dan pendidikan, dan bahasa.

Dalam laporan akhir rapat kongres Buku Se-Dunia di London tahun 1982, Unesco menyebut antara lain books (read libraries) retain their pre-eminence as the carriers of knowledge, and education, and cultural values in human society. They serve both national development and enrichment of individual human life.   

They foster better understanding between peoples and strengthen the desire for peace in the minds of men to which Unesco is dedi cated.

Dengan demikian jelas ada kaitan antara perpustakaan dengan pendidikan, kemajuan masyarakat dan bangsa, serta perdamaian dunia.

Di dalam dunia pendidikan, Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, dalam penjelasan pasal 3 antara lain menyatakan, bahwa “Salah sumber belajat yang amat penting adalah perpustakaan yang harus memungkinkan para tenaga kependidikan dan para peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan pustaka yang mengandung ilmu yang diperlukan”.

Dari lingkungan pendidikan tinggi kita banyak mendengar ungkapan yang  menyebut perpustakaan universitas sebagai “jantung universitas” dan merupakan urat nadi bagi kegiatan belajar mengajar di kampus.

Tentang fungsi perpustakaan bagi pembangunan nasional antara lain tersirat dalam pernyataan Presiden Soehartotentang buku, yang antara lain berbunyi : Terdapat kaitan yang erat antara perbukuan (baca perpustakaan) dan pembangunan. Melalui bacaan yang baik masyarakat dapat meningkatkan pengetahuannya, memperluas pandangannya, memperluas budi pekertinyadan mematangkan kebudayaannya. Dalam pidato yang sama di bagian yang lain Presiden Soeharto menyatakan: Buku dan bahan-bahan bacaan lainnya diperlukan sebagai alat komunikasi antar manusia maupun bangsa. Akan sulitnya kita menggambarkan kemajuan masyarakat secara menyeluruh tanpa adanya sarana pengetahuan dan komunikasi berupa buku. Buku yang mengungkapkan beraneka keterangan, yang ditulis untuk berbagai jenis lapisan kecerdasan masyarakat, merupakan alat yang penting dalam usaha kita memerangi kebodohan dan kemiskinan…

Salah satu cara untuk memungkinkan rakyat kita menikmati sumber-sumber pengetahuan ini, adalah terciptanya suatu sistem perpustakaan yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat, baik di desa maupun di kota dapat terjangkau oleh layanan perpustakaan.

Berbagai faktor yang berpengaruh dalam pengembangan sistem nasional layanan perpustakaan

Usaha pengembangan perpustakaan di Indonesia sudah dimulai sejak awal dasawarsa enam puluhan, dan hingga kini sudah berlangsung lebih dari 40 tahun.

Meskipun belum memenuhi harapan, namun sejumlah institusi perpustakaan yang mencakup berbagai jenis telah dapat didirikan. Secara teoritis istitusinal sebenarnya kerangka sistem nasional perpustakaan sudah ada. Koleksi nasional setiap tahun terus bertambah, lebih-lebih dengan diberlakukannya Undang-Undang No, 4 tahun 1990 tentang serah – simpan dan karya rekam. Jumlah tenaga pustakawan terdidik dewasa ini sudah jauh lebih banyak dari waktu awal pelita. Seperti halnya dengan pelaksanaan sector-sektor pembangunan yang lain, pelaksanaan pengembangan sistem layanan perpustakaan juga terlepas dari berbagai faktor, yang berupa pendorong (strengths), penghambat (weaknesses), penghalang (threats) dan tergantung pula dari tersedianya peluang (oportunities).

a.      Faktor pendorong (strengths)

         Secara idiil ada dua hal yang merupakan kekuatan pendorong pengembangan perpustakaan, yakni pertama:Sumpah Pemuda tahun 1928 yang melambangkan keinginan manusia Indonesia yang dengan berbagai kemajemukannya berkeinginan untuk bersatu dalam satu Tanah Air, satu kebangsaan dan menjunjung tinggi bahasa kesatuan bahasa Indonesia.

         Kedua adalah keinginan bangsa Indonesia untuk meningkatkan kecerdasan kehidupannya seperti tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan, PJP II usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya manusiayang tertuang dalam GBHN 1993.

  •          Sebagai kekuatan pendorong operasional dapat disebut :
  1. Pasal 31 ayat 1 UUD 1945yang berbunyi tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan ganjaran.
  2. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 35 beserta penjelasannya.
  3. Undang-undang  No.4 tahun1990, tentang serah-simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.
  4. Keputusan Presiden No. 11 tahun 1989, tentang Perpustakaan Nasional.
  5. Keputusan Mendagri No. 9 tahun 1988, tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan tatakerja Perpustakaan Umum beserta Inmendagri No. 21 tahun 1988 tentang Peraturan Pelaksanaannya, dan Keputusan Mendagri No. 56 tahun 1994 tentang Perpustakaan Umum Dati II.
  •  Faktor-faktor yang menghambat/melemahkan (weaknesses)

   Jumlah penduduk yang besar dan hidup berpencar dengan tidak merata di atas         ribuan pulau (300 pulau yang berpenduduk).

  1. Budaya dan tingkat kecerdasan bangsa yang sangat majemuk.
  2. Masih lemahnya kesadaran masyarakat akan arti peranan informasi bagi    pengembangan kehidupan seseorang dan pembangunan masyarakat dan bangsa.
  3. Masih lemahnya kesadaran masyarakat termasuk lemahnya kepedulian sejumlah penentu kebijaksanaan baik di pusat maupun di daerah terhadap arti dan peranan perpustakaan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
  4. Masih rendahnya minat dan kebiasaan membaca masyarakat.
  5. Masih tersendat-sendatnya pengembangan perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah, yang sudah ada umumnya kecil-kecil dengan bahan pustaka dan pengelolaan yang masih di bawah standar. Perpustakaan sekolah belum mampu berfungsi sebagai sumber belajar mengajar seperti yang dikehendaki undang-undang.
  6. Masih terbatasnya jumlah pustakawan terdidik. Banyak daerah dan sekolah tidak dapat menyelenggarakan layanan perpustakaan karena tidak tersedianya tenaga pustakawan.
  7. Masih terbatasnya institusi pendidikan pustakawan.
  8. Masih lemahnya sumber-sumber bahan pustaka nasional, terutama di bidang perbukuan dan usaha rekaman.
  •  Faktor-faktor yang membuka peluang pengembangan perpustakaan
  1. Besarnya jumlah sekolah-sekolah dalam setiap jenjang dan jenis pendidikan, dengan jumlah peserta didik yang ± 40.000.000 orang.
  2. Banyaknya berbagai program pendidikan luar sekolah dan program-program Pelita yang berkaitan dengan pengembangan serta peningkatan sumber daya manusia.
  3. Besarnya populasi pembaca potensial, baik yang berada di bangku sekolah, lebih-lebih yang sudah menamatkan jenjang pendidikan.
  •  Faktor yang dapat mengancam keberhasilan perpustakaan

Makin pesatnya perkembangan teknologi informasi non buku, seperti TV dan alat-  alat audiovisual lainnya, yang mendorong orang lebih senang melihat dan mendengar dari pada membaca.

Arah, Sasaran, dan Strategi

Seperti telah dikembangkan dalam paragraf  terdahulu pengembangan perpustakaan di Indonesia diarahkan kepada terbentuknyasebuahsistem nasional perpustakaan yang mampu melayani seluruh lapisan dan golongan masyarakat sampai kedesa-desa, akan kebutuhan sarana belajar informasi. Dalam kondisi umum nasional dewasa ini fungsi perpustakaan sangat erat dikaitkan dengan usaha-usaha untuk menigkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan mendorong keberhasilan program-program pembangunan nasional.

Berlandaskan pada fungsi tersebut dan dengan memperhatikan berbagai faktor yang berpengaruh seperti terurai dalam paragraf  sebelum ini, maka pengembangan sistem nasional tersebut perlu dilakukan secara rasional, antara lain dengan.   

  • Penetapan sasaran layanan yang potensial dan efektif terhadap akses informasi perpustakaan yang terutama dapat diperoleh melalui keinginan mereka.

Golongan masyarakat yang merupakan calon pemakai perpustakaan yang   potensial adalah mereka yang masih belajar di bangku pendidikan formal ditambah mereka yang sudah selesai pendidikan dan masuk ke pasar kerja yang jumlahnya cukup besar. Jumlah siswa pada tiga jenjang pendidikan formal saja diperkirakan sekitar 40.000.000 orang. Jumlah yang sudah selesai pendidikan dan berada dalam masyarakat jumlahnya lebih besar.

  • Penetapan prioritas dalam pengembangan institusi perpustakaan yang langsung mendukung sasaran layanan yang ditetapkan. Tolok ukur utama yang harus dijadikan pegangan bagi pengembangan institusi perpustakaan hendaknya didasarkan pertama pada besar kecilnya populasi dan jenis masyarakat yang akan dilayani serta daya dukung institusi-institusi tersebut bagi pelaksanaan sistem lnasional yang ditetapkan.

Dengan memperhatikan berbagai kondisi geografis dan demografis serta fungsi utama pengembangan perpustakaan di Indonesia, seperti telah dipaparkan di depan, dengan tidak mengurangi pengembangan jenis-jenis perpustakaan lain, maka mengembangan sistem perpustkaan nasional di Indonesia untuk jangka dekat sebaiknya memberikan prioritas kepada pengembangan perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

  • Dengan pengembangan kedua jenis perpustakaan tersebut, maka jaringan layanan yang dikembangkan pertama akan dapat menjangkau golongan terbesar masyarakat Indonesia (calon pembaca potensial). Dengan arah tersebut fungsi perpustakaan dapat diperankan sebagai sarana peningkatan kecerdasan kehidupan masyarakatdan bangsa, peningkatan hidup sumber daya manusia bagi pembangunan, pengentasan kemiskinan dan sebagai sarana pendidikan seumur hidup.
  • Pengembangan suatu sistem layanan yang efektif dan efien.

Berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama lebih kurang 20 terakhir, yang dikuatkan melalui hasil kajian dan percobaan, tampaknya sistem layanan perpustakaan koorperatif “ cukup tepat guna sehingga merupakan salah satu alternatif yang cukup refresentatif sebagai Suatu sistem Nasional Layanan perpustakaan di Indonesia.

Sistem layanan koorperatif bagi perpustakaan, dengan mekanisme Pusat layanan memberikan baik loan rotation kepada perpustakaan-perpustakaan anggota, maka kemampuan layanan perpustakaan secara keseluruhan dapat ditingkatkan. Dengan sistem peminjaman rotasi/bergilir maka khasanah judul buku di pusat layanan jauh lebih besar sehingga buku yang beredar jumlah judulnya lebih besar pula dan bisa menghindari duplikasi yang tidak perlu bagi perpustakaan anggota sehingga pelaksanaan layanan lebih efisien.

Pusat-pusat layanan diarahkan untuk dibentuk:

  • untuk layanan masyarakat umum pada Perpustakaan Umum Dati II (Kabupaten/Kotamadya)
  • untuk layanan perpustakaan sekolah dapat tergabung pada Perpustakaan  Umum Dati II atau perpustakaan pusat pada Kandep P& K Dati II.

Dengan sistem layanan terpusat ini tidak berarti menghilangkan perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah di masing-masing sekolah. Akan tetapi justru akan lebih memperkuat kemampuan layanan masing-masing perpustakaan tersebut dengan pengaturan dan koordinasi dalam pembinaan koleksi masing-masing untuk menghindari duplikasi yang tidak berguna. Sistem ini diperlukan mengingat perpustakaan perpustakaan umum desa dan perpustakaan sekolah jumlahnya sangat besar dengan kemampuan yang terbatas. Sistem layanan terpusat telah terbukti berhasil dengan pilot project sistem Layanan Terpusat Perpustakaan Sekolah (LTPS) yang diujikan pada tiga propinsi, yaitu Lampung, Banjarmasin, dan Nusa Tenggara Barat.