Profesi Dan Konsep Pustakawan Dalam Konteks Indonesia

l.Pendahuluan

 

2. Asal usul

Untuk memahami pengertian profesi dalam arti sesungguhnya pembaca hendaknya memahami asal usul kata profesi dan syarat profesi agar pembaca mampu membedakan pengertian profesi dan pekerjaan. Profession yang digunakan dalam makalah ini berasal dari bahasa Inggeris “profession”. Kata tersebut sudah dikenal sejak tahun 1541 sebagaimana dibuktikan dalam kamus bahasa Inggeris berjudul Oxford English Dictionary. Kata tersebut tidak ada padanannya dalam bahasa kuno lainnya. Seorang penulis Inggeris abad 17 bernama Addison menyebutkan “three great professions of Divinity, Law and Physick” yang mengungkapkan adanya tiga profesi besar profesi dalam masyarakat pada masa itu yaitu pendeta, pengacara, dan dokter. Istilah profession juga berkali-kali diungkapkan oleh Roger Bacon, seorang ilmuwan terkenal abad 17 dan dianggap sebagai bapak Sosiologi.

Menyangkut ucapan Addison tadi, tepatnya pada setiap masyarakat pasti memiliki pendeta atau sebutan lainnya; masyarakat juga mengenal pengacara dan dokter bahkan masyarakat primitifpun mengenal dukun, yang sesungguhnya tokoh masyarakat yang bergerak dalam bidang pengobatan. Pada masyarakat Yunani purba, pengacara bukanlah advokat yang dilatih khusus sebelum membuka praktek yang membela perkara di pengadilan. Pengacara pada masyarakat Yunani purba adalah kenalan penggugat yang mempertahankan kepentingan penggugat di pengadilan. Juga dalam masyarakat Yunani purba, dokter bukanlah seseorang yang memperoleh pendidikan khusus dan tidak pernah memperoleh pendidikan formal. Seseorang menjadi dokter karena dia murid seorang dokter yang sudah praktek sebelumnya. Pada masyarakat Roma, kedudukan pengacara sama dengan kedudukan pengacara pada masyarakat Yunani purba, sedangkan dokter umumnya seorang budak yang diperbantukan ke rumah tangga orang kaya. Adapun akuntan, arsitek dan insinyur biasanya administrator yang digaji oleh negara. Tampaknya pada masa Romawi maupun Yunani tidak terdapat sekolah khusus untuk melatih mereka, praktisi jarang atau tidak pernah membentuk kelompok sosial yang khas dan mereka seringkali berada dalam posisi tidak bebas serta tidak membentuk asosiasi keahlian seperti sekarang ini.

Eropa mengalami Masa Kegelapan sekitar abad 8 sampai 12 menyusul munculnya Renaisans pada abad 13. Sampai abad menengah banyak orang yang

kita sebut profesional ada dalam kedudukan kependetaan sedangkan tenaga profesional lainnya berkumpul dalam gilda. Penjelasan tentang hal tersebut perlu pembaca pahami untuk memahami terjadinya asosiasi di Eropa selama abad 12 dan 13 yang terbentuk pada universitas dan gilda. Universitas sebenarnya berasal dari gilda guru dan mahasiswa, namun karena kultur abad menengah di Eropa pada dasarnya keagamaan maka gilda berada di bawah pengaruh gereja dan anggota gilda umumnya diwajibkan menjadi anggota ordo minor. Organisasi universitas pada umumnya seragam; biasanya terdapat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ( sering disebut Faculty of Arts) dan tiga fakultas lain yang lebih unggul yaitu Fakultas Teologi, Hukum dan Kedokteran. Lama pengajaran umumnya panjang dan lulusannya yang umumnya memperoleh pengajaran yang lama membentuk kumpulan orang-orang terpelajar. Lulusannya ada yang mengkhususkan diri pada hukum, ada yang bekerja dalam bidang kedokteran, sedangkan sisanya melanjutkan karier mereka dalam bidang keagamaan. Universitas pada Eropa abad menengah sebenarnya merupakan sekolah yang menghasilkan apa yang kita sebut profesional. Ilmuwan Bacon sampai mengeluh “Among so many great foundations of colleges in Europe, I find it strange that they were all dedicated to professions, and none left free to arts and sciences at large.”

Jadi perbedaan antara zaman purba dan abad menengah di Eropa menyangkut profesi ialah pada abad menengah para guru, administrator, pengacara dan dokter telah memperoleh pelatihan formal yang lama dan membentuk sebuah kelas khusus. Dari sifat ini yaitu penguasaan teknik intelektual yang diperoleh dari pelatihan khusus yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang membentuk ciri dari profesi. Hal tersebut dianut oleh Oxford English Dictionary yang memberikan definisi profesi sebagai “pekerjaan yang merupakan pengetahuan yang diakui yang diperoleh dari lembaga pendidikan dan pengajaran digunakan dalam penerapannya pada masalah orang lain atau berdasarkan praktek yang didasarkan atas pengetahuan tersebut”. Jadi profesionalisme muncul dengan berkembangnya universitas dan pada mulanya bekerja sama dengan gereja.

Sepanjang gereja di Eropa mempertahankan dominasinya atas profesi maka berbagai profesi yang dihasilkan universitas tidak menjadi jelas karena semua profesional yang dihasilkan oleh universitas adalah rohaniwan. Ketika budaya Abad Menengah di Eropa secara lambat laun mengurangi karakter keagamaannya, maka profesi yang semula erat hubungannya dengan gereja lambat laun mulai melepaskan diri dari gereja. Lepasnya profesi dari lingkungan gereja menumbuhkan profesi yang terorganisasi dalam asosiasi. Misalnya terbentuklah Royal College of Physicians of London yang berdiri pada tahun 1518. Proses sekularisasi profesi tidaklah berarti profesi melepaskan diri dari universitas karena universitas lambat launpun mengalami sekularisasi. Jadi di Inggeris sejak abad 16, mahasiswa tidak wajib memasuki sebuah tarerat atau ordo dan sejak itu umumnya pengacara dan dokter memperoleh pendidikan di universitas dan setelah tamat mereka bergabung dengan asosiasi dokter dan pengacara, tidak lagi bergabung dengan tarekat. Namun proses semacam itu tidak berjalan paralel di benua Eropa. Di Inggeris misalnya Common Law menggantikan hukum sipil dan hukum kanonik (hukum gereja) untuk tujuan praktis. Universitas mengajarkan hukum sipil dan kanonik dan ketika hukum sipil dan kanonik tidak lagi memiliki arti penting bagi kehidupan sehari-hari maka universitas Inggeris tidak lagi menjadi tempat pendidikan pengacara. Maka pengacara di Inggeris sejak awal tidak berasal dari universitas maupun gereja dan rekrutmen profesi berasal dari apa yang disebut gilda.

Kejadian orang-orang memasuki profesi melalui gilda terjadi di semua negara Eropa walaupun hanya di Inggeris sajapengacara memasuki profesi melalui gilda, selebihnya melalui universitas yang didominasi gereja. Sejak awal dokter dan apoteker tergabung dalam gilda. Dengan berkembangnya pasar dan kegiatan lain maka pada abad 16 dan 17 peranan gilda perdagangan semakin menurun, kemudian gilda itu bubar atau mati. Dengan berkembangnya pengetahuan yang berakibat bahwa dokter dan apoteker semakin terpelajar, maka gilda dokter dan pengacara semakin meningkat statusnya. Di Inggeris, gilda dokter berkembang menjadi Royal College of Surgeons. Maka dalam dunia kedokteran Inggeris abad 18 terdapat tiga asosiasi profesional yaitu Royal College of Physicians, Royal College of Surgeons, dan Society of Apothecaries. Royal College of Surgeons dan Society of Apothecaries berasal dari gilda sedangkan Royal College of Physicians didirikan pada abad 16 sebagai organisasi lulusan pendidikan kedokteran.

Dengan demikian pekerjaan yang ada pada abad menengah Eropa yang kini kita kenal sebagai profesional telah memperoleh status independen artinya bebas dan profesonal membentuk organisasi pada abad 18. Antara masa renainsans yang terjadi pada abad 13 sampai dengan Revolusi Industri yang terjadi pada abad 17 muncul berbagai profesi. Akuntan sebagai profesi berasal dari Italia. Profesi

akuntan muncul karena berkembangnya perdagangan yang menuntut tenaga ahli dalam bidang pembukuan serta pembentukan asosiasi akuntan yang selalu menolak calon anggotanya yang tidak memiliki pelatihan yang cukup. Arsitek sebagai profesi muncul tatkala tradisi dalam arsitektur mulai ditinggalkan dan tradisi digantikan oleh gaya atau “styles”; gaya ini harus mengikuti persyaratan ketat berupa peraturan yang diperoleh dari pendidikan. Namun permintaan akan jasa arsitek seluruhnya berasal dari pangeran dan kaum bangsawan Eropa yang berlomba-lomba membangun berbagai istana dan kastil. Secara tidak langsung permintaan yang tinggi akan jasa arsitek menyebabkan arsitek tergantung padarumah tangga para pangeran dan kaum bangsawan. Ketergantungan pada para pangeran dan kaum bangsawan putus pada abad 19 setelah arsitek melepaskan diri dari pesanan pangeran dan bangsawan serta mereka (arsitek) menyadari keanggotaan sebuah kelompok bersama. Setelah arsitek membentuk asosiasi dan tidak tergantung pada pangeran dan kaum bangsawan, barulah masyarakat mengakui arsitek sebagai sebuah profesi.

Menyangkut profesi la in yang berkaitan dengan kedokteran yaitu dokter gigi terdapat perbedaan perkembangan. Di Perancis dikenal istilah chirurgien dentiste pada abad 18 sedangkan di Inggeris profesi dokter gigi baru muncul kemudian.

Sebelum abad 19 pengakuan atas profesi yang baru berjalan sangat lambat namun sesudah abad 19 perkembangan profesi berlangsung sangat cepat. Peningkatan jumlah profesi terjadi perkembangan teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan serta perubahan sosial. Perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan menimbulkan profesi baru seperti insinyur, ahli kimia dan fisikawan sedangkan evolusi sosial menuntut spesialis intelektual yang mampu menangani masalah yang rumit. Maka muncullah profesi baru seperti aktuaria (yang berkaitan dengan asuransi), surveyor, realtor (berkaitan dengan real estate), sekretaris, pengacara paten dan akuntan. Sebab lain munculnya profesi baru ialah lepasnya ketergantungan pada administrator – serta surutnya pengaruh gereja pada profesi.

3. Batasan profesi

Menyangkut makna profesi ada 2 pendekatan yaitu pendekatan berdasarkan definisi yang diberikan dalam berbagai buku termasuk buku rujukan serta pendekatan berdasarkan ciri yang ada.

Maka definisi profesi sebagai berikut: profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional.

Definisi profesi sudah banyak dikemukakan oleh banyak penulis dengan hasil berlainan sebagaimana dikemukakan oleh Mosher dan Stillman (1977), Greenwood (1957), Mosher (1982), Riggs (1982), Carr-saunders. Sungguhpun demikian definisi profesi dapat dilakukan menurut cirinya sebagaimana disebutkan oleh Burrage, Jarausch dan Siegrist (1990) sebagaimana dikutip oleh Sciulli (2007) yang menyebutkan profesi merupakan:

(1)          Pekerjaan penuh waktu, lberal artinya non manual

(2)          Memegang monopoli di pasar kerja karena jasa keahliannya

(3)          Memperoleh otonomi artinya kebebasan dari kontrol pihak luar, baik oleh negara, nasabah, awam atau lainnya;

(4)          Pengawasan atas ujian, ijasah dan gelar sebelum memasuki praktik kerja dan juga sanski monopoli

(5)          Imbalan keanggotaan baik berupa materi maupun simbol yang dikaitkan dengan kompetensi pekerjaan, etika tempat kerja dan keyakinan bahwa jasa keahlian mereka merupakan hal yang penting bagi masyarakat dan kesejahteraan masyarakat.

Definisi di atas tidak jauh berbeda dari karakteristik yang diberikan oleh Moore (1970) sebagai berikut

(1)          Profesi mensyaratkan pekerjaan penuh waktu.

(2)          Persyaratan keanggotaan profesi meliputi ketaatan pada harapan normatif

dan perilaku, lazimnya dimuat dalam kode etik.

(3)          Adanya organisasi profesi untuk memperkuat dan melindungi “panggilan” profesi

(4)          Profesi memiliki pengetahuan khusus berdasarkan pendidikan dan pelatihan dengan durasi yang luar biasa.

(5)          Profesi memiliki orientasi jasa, kinerja yang baik dikaitkan dengan kebutuhan klien

(6)          Anggota profesi memiliki tingkat otonomi dalam pengambilan keputusan berbasis pengetahuannya yang khusus namun dibatasi oleh tanggung jawab.

Para penulis di atas, yang disebutkan dalam kaitannya dengan arti profesi sepakat bahwa profesi “mapan” yang tertua adalah pengacara, pendeta, kedokteran, dan pengajar universitas (Kearney and Sihna, 1988). Akhir-akhir ini pekerjaan yang dianggap profesi bertambah seperti kedokteran gigi, arsitektur, dan akuntan publik bersertifikat. Dalam bidang pemerintahan, pekerjaan yang diterima secara umum sebagai profesi mencakup pekerja sosial, pustakawan, perencana kota dan manajemen kota, polisi, militer, hubungan luar negeri, dan administrator pendidikan (Mosher and Stillman, 1977). Pekerjaan hasa publik lainnya dapat atau tidak dapat dianggap sebagai profesi tergantung pada seberapa jauh pelaksanaan kriteria yang dikemukakan oleh Moore.

Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah:

(1)          Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi, psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.

(2)          Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi.

(3) Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang pakar permainan catur. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan. Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang ekstensif.

Di samping ketiga syarat itu ciri profesi masih ada ciri tambahan. Ketiga ciri tambahan tersebut tidak berlaku bagi semua profesi. Adapun ketiga ciri tambahan tersebut ialah: puter tidak memiliki lisensi atau sertifikat.

(1) Adanya proses lisensi atau sertifikat. Ciri ini lazim pada banyak profesi namun tidak selalu perlu untuk status profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek sebelum diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau sertifikat tidak selalu menjadikan sebuah pekerjaan menjadi profesi. Untuk mengemudi motor atau mobil semuanya harus memiliki lisensi, dikenal dengan nama surat izin mengemudi. Namun memiliki SIM tidak berarti menjadikan pemiliknya seorang pengemudi profesional. Banyak profesi tidak mengharuskan adanya lisensi resmi. Dosen di perguruan tinggi tidak diwajibkan memiliki lisensi atau akta namun mereka diwajibkan memiliki syarat pendidikan, misalnya sedikit-dikitnya bergelar magister atau yang setara. Banyak akuntan bukanlah Certified Public

Accountant dan ilmuwan komputer tidak memiliki lisensi atau sertifikat.

(2)          Adanya organisasi. Hampir semua profesi memiliki organisasi yang mengklaim mewakili anggotanya. Ada kalanya organisasi tidak selalu terbuka bagi anggota sebuah profesi dan seringkali ada organisasi tandingan. Organisasi profesi bertujuan memajukan profesi serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Peningkatan kesejahteraan anggotanya akan berarti organisasi profesi terlibat dalam mengamankan kepentingan ekonomis anggotanya. Sungguhpun demikian organisasi profesi semacam itu biasanya berbeda dengan serikat kerja yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada kepentingan ekonomi anggotanya. Maka pembaca tidak akan menjumpai organisasi pekerja tekstil atau bengkel yang berdemo menuntut disain mobil yang lebih aman atau konstruksi pabrik yang terdisain dengan baik.

(3)          Otonomi dalam pekerjaannya. Profesi memiliki otonomi atas penyediaan jasanya. Di berbagai profesi, seseorang harus memiliki sertifikat yang sah sebelum mulai bekerja. Mencoba bekerja tanpa profesional atau menjadi profesional bagi diri sendiri dapat menyebabkan ketidakberhasilan. Bila pembaca mencoba menjadi dokter untuk diri sendiri maka hal tersebut tidak sepenuhnya akan berhasil karena tidak dapat menggunakan dan mengakses obat-obatan dan teknologi yang paling berguna. Banyak obat hanya dapat diperoleh melalui resep dokter.

Perbedaan antara profesi biasanya berhubungan dengan jenis aktivitas yang dilakukan oleh sebahagian besar anggotaya. Dalam kaitannya dengan jenis profesi dibedakan antara profesi kepanditan {scholarlyprofession) dengan consulting profession atau profesi konsultasi. Profesi konsultasi tradisional secara tradisional dipraktekkan berbasiskan imbalan untuk jasa yang diberikan, adanya hubungan personal serta individual antara klien dengan profesional. Contoh profesional konsultasi adalah dokter, pengacara, akuntan, consulting engineers, arsitek, dokter gigi, psikiater dan pembimbing psikologi. Orang lain yang memiliki tugas yang sama dengan profesi konsultasi adalah perawat, farmasis, pialang saham, pendeta, pialang asuransi, pekerja sosial dan realtor (makelar barang tidak bergerak seperti tanah, rumah, pabrik). Profesional konsultasi atau profesional dalam peranan memberikan konsultasi terutama bertindak atas nama klien individual.

Tiga fitur menonjol dari profesi pemberi konsultasi adalah:

(a)          Mereka memberikan jasa yang penting dalam kehidupan masyarakat. Jasa consulting profession penting artinya bagi perorangan dalam merealisir nilai kehidupan dalam kehidpuan pribadi, misalnya dalam bidang kesehatan, kekayaan, hukum, kenyamanan dan keselamatan.

(b)          Mereka memiliki monopoli atas jasa mereka di samping memberikan nilai dasar. Monopoki ini terasa sekali sehingga praktis tidak tergantikan oleh orang lain. Aspek monoplis dari praktek profesional ini seringkali menimbulkan konflik antara sesama profesional. Arisetk dan insinyur sipil sudah lama bentrok menyangkut profesi mereka, demikian pula pengacara dan akuntan. Antara dokter dengan bidan.

(c)           Monopoli yang dipegang oleh profesi hampir tak tersentuh oleh pengawasan umum. Alasannya karena pengalaman intelektual dan tingkat swaregulasi yang tinggi, profesi berpendapat orang nonprofesional tak mampu menilai perilaku mereka. Jadi profesi memiliki kontrol atas anggota dan mendisiplinkan anggota, mereka juga mengontrol syarat praktek mereka

Profesional kepanditan biasanya bekerja atas dasar gaji, memiliki banyak nasabah pada waktu bersamaan (mahasiswa) atau sama sekali tidak memiliki pelanggan (berupa pekerjaan yang ditugaskan oleh atasan) seperti peneliti di laboratorium. Contoh profesi kepanditan ialah nonconsulting. engineers, guru, dosen, ilmuwan, wartawan dan teknisi.

4. Pustakawan

Definisi yang diberikan tentang librarian atau pustakawan yang diambil dari International Encyclopedia of Information and. Library Science (Feather and Sturges, 2003) menyebutkannya dalam arti tradisional dan masa kini. Dalam arti tradisional, pustakawan adalah kurator koleksi buku dan materi informasi lainnya, menata akses pemakai pada koleksi tersebut dengan berbagai syarat. Dalam arti modern, pustakawan adalah manajer dan mediator akses ke informasi untuk kelompok pemakai berbagai jenis, awalnya dimulai dari koleksi perpustakaan kemudian meluas sumber lain yang terdapat di dunia. Akses ke sumber lain di luar perpustakaan dimungkinkan berkat kemajuan teknologi informasi. Keadaan tersebut menimbulkan istilah baru seperti perpustakaan tanda dinding, perpustakaan maya, perpustakaan berakses global dll.

Definisi di atas mencakup peranan utama pustakawan berupa manajemen koleksi, organisasi dan pengolahan informasi, kesemuanya dihantarkan melalui berbagai media serta jasa pemakai. Cakupan tugas tersebut tidak jauh dari pendapat Gorman (2000) yang mengatakan pustakawan adalah seseorang yang melakukan satu atau beberapa aktivitas beriktu: seleksi dan akuisisi sumber daya informasi, organisasi dan akses, preservasi dan konservasi, pendidikan dan pelatihan pemakai dan manajemen.

Apa pun definisi yang dipilih, pustakawan dewasa ini adalah seorang profesional yang bertugas dalam satu atau berbagai tugas dan aktivitas berbasis di perpustakaan (Librarianship, 2008).

5. Pustakawan dalam konteks Indonesia

Bila menyimak pengertian profesi dan pustakawan sebagaimana dikemukakan di atas, maka dalam konteks Indonesia hal itu masih menimbulkan keraguan. Misalkan bila dikaitkan dengan organisasi profesi. Pada uraian di atas disebutkan bahwa salah satu syarat profesi harus memiliki organisasi profesi. Pada Anggaran Dasar IPI, dinyatakan bahwa syarat menjadi anggota IPI adalah warganegara Indonesia yang berpendidikan dan berpengalaman di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo). Hal serupa juga tersurat dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Pasal 1, ayat (8) yang menyebutkan pustakawan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/ atau pelatihan kepustakawan serta mempunyai tugas

dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Syarat tersebut tidak jelas tingkat pendidikan yang diperlukan, apakah diploma atau sarjana atau kah magister. Gorman menyatakan untuk dapat menjadi pustakawan profesional, maka seseorang harus memiliki gelar yang diakui (dalam hal ini magister) serta punya pengalaman dalam bidang yang sesuai.

Pada organisasi lain, syarat keanggotaan ada yang jelas seperti Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia yang mensyaratkan gelar sarjana dalam ilmu perpustakaan dan informasi. Organisasi lain seperti berbagai ikatan pustakawan sekolah tidak secara jelas menyebutkan syarat pendidikan dan atau pelatihan yang diterima.

Karena ketidakjelasan pengertian pustakawan dalam kaitannya dengan profesi maka tuntutan tunjangan profesi tidak selalu berhasil serta jumlahnyapun kecil. Hal itu lebih terasa bila dibandingkan denga profesi lain.

Ketidakpastian profesionalisme pustakawan Indonesian nampak lagi dengan munculnya otonomi daerah tahun 2000. Seiring dengan otonomi daerah, maka lembaga perpustakaan yang semula merupakan bagian Perpustakaan Nasional kemudian diserahkan ke pemerintah provinsi. Sebagai pengganti Perpustakaan Nasional Daerah dan Perpustakaan Nasional Provinsi muncullah lembaga baru dengan berbagai nama seperti Badan Perpustakaan dan Arip Provinsi, Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi, Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi dan nama lainnya. Jabatan kepala badan diisi oleh birokrat yang tidak punya pengalaman sama sekali tentang kepustakawanan sehingga menimbulkan konflik terpendam antara mereka yang berkarir di bidang kepustakawanan dengan pejabat yang ditunjuk pemerintah daerah. Hal itu merupakan pertentangan antara profesi dengan birokrat yang juga terjadi negara lain dan dalam praktik dapat saling mengisi (Kearney and Sinha, 1988; McMenemy, 2007; McMenemy 2007)). Hal itu merupakan hal yang perlu dikaji lebih lanjut menyangkut konteks Indonesia.

6. Penutup

Profesi merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu yang berasal dari Inggris, berkembang pesat sejak abad 19, dimulai dari dua bidang yaitu sains dan teknik (Sculli, 2007) kemudian meluas ke bidang dan seluruh dunia. Pengertian profesi pustaka dapat didekati dari definisi maupun karakteristik untuk kemudian disesuaikan dengan tuntutan setempat. Dalam

kaitannya dengan Indonesia, maka pengertian pustakawan sebagai profesi masih belum jelas karena adanya berbagai pengertian dan tanggapan. Kondisi tersebut menyebabkan konsep pustakawan sebagai profesi belum sepenuhnya diterima di Indonesia.

Kepustakaan

Abbot, Andrew. (1988) The system of profession.

Chicago,IL: University of Chicago

Birdsall, William W. (1982). “Librarianship, professionalism and social change.” The Library Journal 107, February l,:223-226

Budiardjo, Bagio. (1992). Komputer dan masyarakat. Jakarta: Elex Media Komputindo. Bab 8 Etika dan profesionalisme

Butler, Pierce. (1951). “Librarianship as a profession.” The Library Quarterly, 21, October :235-247

Campbell, Jerry D.(1993). “Choosing to have a future.” American Libraries, 24,

June: 560-566

Carr-Saunders, A. M. ; Wilson, P. A(1933). .”Profession.” Dalam Encyclopaedia of the Social Sciencesja-XW :476-80

Dewey, Melvil. (1876). “The profession.” Library journal 114, June 15,1989:5. Cetak ulang dari American Library Journal 1 .

Drake, David.(1993). “The ‘A’ factor: altruism and career satisfaction.” American

Libraries 24, November :922-924

Ennis, Philip H. and Winger, Howard D. (editors). (1962). Seven question about the profession of librarianship, 26th Annual Conference of the Graduate Library School, June 21-23, 1961. Chicago: The University of Chicago Press

Estabrook, Leigh.(1989). “The growth of the profession.” College and Research Libraries 50, May :287-296

Feather, J. and Sturgesd.P. (eds).(2003). International Encyclopedia of Information and Library Science. 2nd ed. London: Routledge

Gorman, M. (200o). Our enduring values: librarianship in the 21st century. Chicago: American Library Association

Greenwood,Ernest. (1957). “Attributes of a profession,” Social Work, 2, July:45-55

Hanks, Gardner and Schmidt, C. James. (1975). “An alternative model of a profession for librarians,” College and Research Libraries, 36 (3) May: 175-87

Harris, Roma M. (1992). “Information technology and the desk filling of the librarians.’

Computers in Libraries, 12, January :8-16 (1988).

Kleingartner, Archie. (1967). Professionalism and salaried worker organization.

Madison, WI: University of Wisconsin

Librarianship: an introduction. G.G. Choudhury(et al).( 2008). London: Facet publihsing

Library Association. (1974). Professional and nonprofessional duties in libraries.

London: Library Association . Sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa

Indonesia oleh Sarah Wirawan, diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional

Maack, Mary Niles. (1997).”Toward a new model of the information professions:

embracing empowerment.” Journal of Education for Library and Information

Science, 38, Fall :283-302

McMenemy, David. (2007). “Managerialism: a threat to professional librarianship?” Library

Review, 56 (6)”445-449

Malinconico, S. Michael. (1992). “Information’s brave new world.” Library

Journal, 117, May 1, :36-40

Mason, Richard O (1990). .”What is an information professional?” journal of

Education for Library and Information Science, 31, Fall: 122-138

Moore, W.E. (1970). The professions: roles and rules. New York: Russel Sage Foundation

Mosher, W.E.(1982). Democracy and the public service. 2nd ed. New York: Oxford

University Press

Mosher, Frederick C. and Stillman, Richard. (1977). “The profession in government,” Public

Administration Review, 37, Nov/Dec:631-632

Passet, Joanne E. (1993). “Men in a feminized

profession: the male librarian 1887¬1921.” Libraries and Culture, 28, Fall :385-402

Rubin, Richard E. (2004/ Foundations of library and information science.Ne~w York:

Neal-Schuman.5 . Maturity of librarianship as a profession. Metuchen.NJ:

Scarecrow Press Undang-Undan g Nomor 43 Tahun 2007 ten tang Perpustakaan.