Purantara: Kreativitas Rakawi Kakawin Nilacandra

Pendahuluan
Penulisan dan penyalinan karya-karya sastra kakawin, hingga kinimasih berlangsung di Bali. Kegiatan olah sastra tersebut mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Gelgel pada abad XVI, khususnya pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Pada masa itu tampil pujangga-pujangga besar, antara lain Danghyang Nirartha dan Ki Dauh Bale Agung (Suarka, 2005:1). Tradisi sastra Kawi tersebut terus berlanjut pada masa Kerajaan Klungkung abad XVIII–XIX, terutama pada masa pemerintahan Dewa Agung Istri Kanya. Pada abad XIX muncul pengarang besar Bali, yakni Ida Pedanda Ngurah dari Geria Gede Blayu Marga Tabanan, dengan empat buah mahakaryanya yaitu Kakawin Surantaka, Geguritan Yadneng Ukir, Kakawin Gunung Kawi, dan Kidung Bhuwana Winasa (Dharma Phalguna, 1988).

Pada abad XX di Bali muncul sejumlah pujangga besar, diawali oleh Ida Pedanda Made Sidemen dari Geriya Delod Pasar Intaran Sanur. Beliau meninggal tahun 1984 dalam usia 126 tahun. Ada sejumlah karya beliau yang telah dipastikan, antara lain Siwagama, Kakawin Candra Bhairawa, Kakawin Cayadijaya, Kakawin Singhalanggyala, Kakawin Kalpha Sanghara, Kidung Tantri Pisacarana, Kidung Rangsang, dan Geguritan Salampah Laku (Agastia, 1994). Selanjutnya, I Nyoman Singgih Wikarman, seorang pangawi muda asal Bangli dengan karyanya Kakawin Kebo Tarunantaka dan Geguritan Gusti Wayan Kaprajaya. Munculnya Kakawin Gajah Mada yang diteliti oleh Partini Sardjono Pradotokusuma (1994), dikatakan ditulis pada abad XX (Kusuma, 2005:4). Lebih jauh Partini mengatakan, bahwa pengarang Kakawin Gajah Mada itu bernama Ida Cokorda Ngurah dari Puri Saren Kauh, Ubud Gianyar, seorang keturunan bangsawan (kesatria, ahli sastra Kawi).

Pada akhir abad XX di belahan timur Bali, di Banjar Tengah Sibetan Babandem Karangasem, muncul seorang pangawi bernama Made Degung yang sangat produktif di bidang olah sastra puisi Jawa Kuna (kakawin). Kakawin Nilacandra (selanjutnya disingkat KN) adalah hasil mahakaryanya yang pertama, disusul karya yang kedua, Kakawin Eka Dasa Siwa, dan Kakawin Candra Banu (Dharma Acedya) sebagai karyanya yang ketiga yang kini tengah dirampungkan. Karyanya yang pertama (KN) merupakan cerminan masyarakat Bali dalam srada bhakti-nya kepada Hyang Widhi, yang sarat akan filosofis Siwa-Buddha yang menjiwai sejumlah khazanah sastra lama, karena Siwa-Buddha bersisian tempatnya yang diyakini sebagai jiwa alam semesta beserta isinya (sira pinaka jiwaning praja).

Di samping kemampuannya dalam meresepsi naskah, Made Degung menjadikan Siwagama dan Nilacandra Parwa sebagai sumber atau hipogram Kakawin Nilacandra. Sangat jarang dijumpai adanya rakawi yang produktif menulis karya sastra kakawin di zaman modern ini. Terlebih dengan adanya sebuah bentuk wirama baru yang diberi nama wirama Purantara, ia menunjukkan kreativitasnya di bidang olah sastra, yaitumampu menyadur atau meresepsi karya prosa Jawa Kuna ke dalam bentuk puisi Jawa Kuna berupa kakawin. Tidak sembarang pangawi Bali mampu melakukannya. Di samping kesukaran bahasa (penguasaan bahasa Jawa Kuna), puisi Jawa Kuna sangat rumit, belum lagi masalah isi cerita dan estetika yang pengungkapannya memerlukan daya imajinasi tinggi.

Pembahasan
Kakawin
Istilah kakawin sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat Bali. Di kalangan penggemar sastra Jawa Kunaistilah ini sudah tidak asing lagi. Hal ini disebabkan hampir setiap desa di Bali terdapat perkumpulan pembahasan karya-karya kakawin yang dikenal dengan Sekaa Pasantian. Istilah kakawin berasal dari kata Sanskerta, yakni kata kawi. Pada mulanya, dalam bahasa Sanskerta, kata kawi berarti seseorang yang mempunyai pengertian luar biasa, atau seseorang yang dapat melihat hari depan, orang bijak. Akan tetapi, dalam sastra Sanskerta klasik, istilah kawi mempunyai arti khas, yakni “penyair”. Kata kawi yang berarti “penyair” ini kemudian diserap ke dalam bahasa Jawa Kuna. Kata kawi itu mengalami afiksasi, yaitu mendapat tambahan prefik ka- dan sufiks -en. Selanjutnya, vokal e pada sufiks -en luluh karena mengalami persandian dengan vokal i pada kata kawi, sehingga terbentuk kata kakawin, yang berarti “karya seorang penyair, syairnya” (Zoetmulder, 1985: 119). Luluhnya vokal e ketika mengalami persandian dengan vokal lain dalam bahasa Jawa Kuna dapat dilihat pula dalam afiksasi kata-kata giri-girin ‘takut’; prihatin ‘prihatin’; rengon ‘didengar, terdengar’; wawan ‘dibawa’; welin ‘dibeli’; tujun ‘dituju’.

Kakawin adalah sebuah bentuk puisi Jawa Kuna, yang memiliki suatu cara pembentukan yang sangat khas dan berpola. Bentukan nyanyian kakawin memakai Wrtta Matra. Wrtta artinya banyak bilangan suku kata dalam tiap-tiap carik (koma) yang biasanya terjadi dari 4 carik (baris) menjadi satu pada (bait). Tetapi ada juga yang satu pada (bait) yang terdiri dari 3 carik (baris) dinamai “Rahitiga” atau “Udgata-Wisama”. Matra artinya syarat letak guru-laghu dalam tiap-tiap wrtta itu. Walaupun wrttanya atau banyak bilangan suku kata tiap-tiap baris itu sama tetapi kalau letak guru-laghunya lain, maka lain pula nama dan irama kakawin tersebut. Laghu artinya suara pendek (hrswa), ringan, rendah, lemah, kencang bagaikan siswa mengikuti gurunya, kalau dihitung dengan ketukan ia hanya mendapat satu ketukan. Guru artinya suara panjang (dirgha), berat, besar, keras, indah, berliku-liku, dan bagaikan seorang bapak. Jika dihitung panjang suaranya mencapai hingga 3 ketukan atau lebih (Sugriwa, 1978:6–7).

Dalam Tutur Arda Smara (h. 6b-7a) disebutkan bahwa kakawin, Sundari Terus, Mreta Ategen, sakit, dan mati merupakan senjata/bekal yang mesti dibawa (gawanana) manusia hidup di dunia. Di Bali hal ini sering disebut bekel idup (bekal hidup). Sebagai salah satu bekal hidup, kakawin sepertinya wajib dipelajari oleh setiap manusia, karena kakawin sebagai salah satu persyaratan ketika atma mulai bersemayan di setiap jiwa manusia di dunia. Hal ini tercermin dalam sebuah dialog sang Atma dengan Dewa Yama setelah dapat restu dari Siwa sebagai jiwa alam semesta ini (jiwaning praja), sebagaimana tampak dalam kutipan berikut: mangkana ling ira Sang Hyang Yama: “Pukulun asung maring kita, iki pustaka gawanana ring madyapada, iti sundari terus, kakawin, iti amreta ategen, iki gering mwang pati”. Ini membuktikan, hingga kini kegiatan pasantian (membaca kakawin) masih lestari, populer, hingga penciptaan kakawin baru. Di samping dipakai sarana pemusatkan pikiran kepada Hyang Pencipta lewat pelaksanaan upacara yajna, ternyata kakawin memang disebutkan dalam sastra Hindu, yakni Arda Smara. Bertolak dari kenyataan ini, di sejumlah pedesaan masih ada tradisi pembacaan sastra (kakawin) untuk para wanita yang tengah hamil, agar anaknya lahir dengan cerdas dan berguna.

Nilacandra
Istilah nilacandra terdiri dari kata nila ‘hal-hal tentang ke-Siwa-an’ dan kata candra ‘hal-hal ke-Buddha-an’, sehingga dapat dikatakan bahwa istilah nilacandra mencerminkan adanya wacana Siwa-Buddha yang tak terpisahkan, dikemas begitu mendalam melalui kisah perang dahsyat antara paham Siwa dan Buddha sebagai ilustrasi cerita. Awalnya Siwa seakan-akan ditundukkan oleh Buddha. Namun, atas kehadiran Hyang Werocana yang menyatakan bahwa Siwa-Buddha tunggal serta wejangan Kresna tentang hakikatSiwa dan Buddha, maka keduanya insyaf, sadar akan kemanunggalan-Nya, hanya sebutan dan tempatnya yang bersisian bedanya.

Keunikannya
Kakawin yang sarat akan ajaran Siwa-Buddha yang dikemas demikian apik dan estetik ini memiliki kedudukan penting di antara kakawin yang ada, karena faktor isi dan keunikan penyajiannya merupakan jiwa zaman, yakni wacanaSiwa-Buddha yang khas model Bali. Kakawin ini selesai digubah pada Jumat Paing Sintapananggal ke-13 tahun Saka 1915 (1993 Masehi). Naskah kakawin ini semula ditulis di atas kertas dan kini telah ditulis di atas rontal.

Dari hasil pembacaan terhadap KN yang ditulis seorang keturunan Brahmana (Made Degung) ini, dapat dikatakan bahwa kakawin ini bersumber dari naskah Siwagama karya Ida Pedanda Made Sidemen dan Nilacandra Parwakarya Ki Gusti Gde Bilih asal Keramas Gianyar. Naskah KN ini penulis dapatkan langsung dari pengarangnya (Made Degung).

Dengan maraknya tradisi mabebasan sebagai wujud kelisanan dan keberaksaraan, KN terbukti mampu membangkitkan masyarakat Bali yang sosio-religius. Kakawin ini menjadi bahan bacaan utama, yang hingga kini mulai populer di kalangan masyarakat Bali. Kehadiran kakawin ini merupakan pengekalan wacana Siwa-Buddhasebagai bentukkeyakinan dan kepercayaan masyarakat Hindu Bali. Penggunaan partikel “pih” yang sangat produktif dalam kakawin ini merupakan ciri kepengarangan Made Degung. Di sisi lain, Made Degung berhasil menciptakan sebuah wirama baru bernama Purantara, yang belum pernah ditemukan dalam daftar wirama yang telah ada. Ciptaan wirama baru ini tentunya sangat menggembirakan kalangan pencinta sastra kakawin, karena menjadi bukti perkembangan “per-puisi-an” Jawa Kuna. Sebagai sebuah karya sastra puisi naratif, kakawin ini dikemas dengan 44 jenis wirama dengan pengulangan satu kali, yakni Bhawacakra (wirama XXV) kembali muncul pada wirama terakhir atau pupuh XLV. Penyajian ini tentunya menguntungkan bagi para pemula pembaca/penikmat kakawin untuk mengenal jenis wirama yang ada. Hal tersebut menunjukkan kreativitas Made Degung di bidang olah sastra, yaitu mampu menggubah karya prosa Jawa Kunake dalam sastra kakawin.

Informasi yang tersirat dalam epilog kakawin ini, sungguh merupakan suatu yang unik. Kakawin gubahan Made Degung, tampak angka tahun penulisan hingga nama pangawi dan asalnya, dikemas dengan cara unik serta dijelaskan dalam satu bait terakhir kakawin ini. Di samping diawali dengan manggala yang memuja Dewi Keindahan (Saraswati) sebagai sakti Dewa Brahma, Dewi Ilmu Pengetahuan, dan Jiwa dari Aksara, pada akhir karyanya pangawi mohon ke hadapan-Nya agar dunia selamat juga pemimpinnya.

Purantara: Kreativitas Rakawi Kakawin Nilacandra
Penciptaan KN oleh Made Degung merupakan tanggapannya terhadap karya sastra terdahulu, sepertinya setelah membaca lebih dari satu karya sastra, terutama yang memuat konsep ajaran Siwa-Buddha. Konsep kehidupan keagamaan ini masih sangat relevan di Bali, sebagaimana tersirat dalam KN. Dengan membaca, mendiskusikan, dan menafsirkan lewat mabebasan filosofis Siwa-Buddha secara benar, suatu ketika mungkin akan lahir karya baru sebagai hasil kreativitas pembaca terhadap karya sastra sebelumnya.

Jika dilihat dari isi cerita KN, tampaknya pengarang juga mengambil sumber dari cerita Kunjarakarna, sebuah kakawin ciptaan Mpu Dusun yang sarat akan ajaran religius yang sangat penting dan sangat pantas dipelajari (Zoetmulder, 1985: 475). Adanya keanekaragaman versi cerita menunjukkan penerimaan masyarakat Jawa dan Bali terhadap sebuah cerita yang bersifat agama, sehingga penelitian sejarah teks dapat memberikan sumbangan yang berarti pada penelitian perkembangan kebudayaan Jawa-Bali (Agastia, 1987:126). Dalam versi kakawin seperti yang terdapat dalam KN, konsep penyamaan dewa-dewa Hindu (Siwa) dengan Panca Tathagata yang ada dalam Kakawin Kunjarakarna masih tetap dimunculkan. Demikian juga tentang dharma (kebenaran tertinggi) yang di dalam Kakawin Kunjarakarna disebut Dharmakathana sangat ditonjolkan, kembali mendapat penekanan dalam KN.

Jika dibandingkan antara Nilacandra Parwa dengan Kakawin Nilacandra sebagai hasil adaptasi dari karya prosa ke dalam puisi, terdapat perbedaan yang baik dari segi naratif maupun tokoh yang ditampilkan. Pangawi (Made Degung) memang tidak menyadur begitu saja dari Nilacandra Parwa (1985) gubahan I Gusti Gede Bilih, tetapi KN berangka tahun 1993 ini merupakan hasil resepsi atau tanggapannya sehingga merupakan karya baru. Perbedaan antara kedua karya yang berselang 8 tahun ini dapat ditelusuri: (1) Dari segi tokoh pada KN muncul tokoh Nilacandra, Kresna, Yudhistira (Panca Pandawa), dan Werocana. Nilacandra sebagai tokoh Buddha merupakan reinkarnasi Hyang Werocana atau Buddha Tertinggi, Kresna sebagai tokoh Wisnu (ke-Wisnu-an) dan Yudhistira sebagai tokoh Siwa; (2) Hakikat dari KN ini adalah menekankan “Siwa-Buddha tunggal” dan dharma atau kebenaran Tertinggi dari kedua agama itu sama. Penyamaan hakikat Tertinggi seperti yang dikatakan Haryati Soebadio (1985:51), bahwa hal-hal yang disamakan satu dengan yang lain itu tidak lain daripada konsep mengenai Prinsip Tertinggi beserta manifestasinya. Penyamaan itu misalnya tampak pada “Panca Dewata” (Siwa) sama dengan Panca Tathagata (Buddha). Sementara dalam Nilacandra Parwa lebih bersifat pembebasan terakhir (moksa). Teeuw dan Robson menyebut “Liberation througt the law of the Buddha”, hukum pembebasan terakhir dalam agama Buddha; dan (3) Dari segi naratif KN menceritakan perang Kresna dengan Nilacandra dan puncak ceritanya adalah perang Yudhistira dengan Nilacandra. Kekuasaan Yudhistira (Siwa) dan Nilacandra (Buddha) sama-sama kuat, tidak ada yang kalah, namun wajar saling menguasai (Siwa-Buddha tunggal ika, wenang saling surup-sinurupan). Sementara dalam Nilacandra Parwa merupakan usaha Kunjarakarna dan Purnawijaya membebaskan diri dari siksaan neraka, dengan mempelajari hakikat tertinggi agama Buddha dari Hyang Werocana.

Sebagai pangawi muda, ada catatan penting tentang kreativitasnya dalam karya sastra kakawin, yakni munculnya wirama baru yang sebelumnya tidak terdapat di antara nama-nama wirama yang telah ada. Nama wirama itu adalah “Purantara” dengan pola persajakan “23 suku kata, guru 7, laghu 15, gana 7, sesa 2 Lakara”. Sebagai bukti bahwa wirama ini ciptaan pengarang atau pangawi adalah adanya kalimat yang berbunyi: “Purantara pakardin pangawi” artinya wirama Purantara adalah ciptaan pengarang sendiri.

Hal ini dapat dikihat dalam kutipan berikut.
A. Teks Wirama Purantara:

B. Transliterasi:
Wirama V:
Purantara: A. 23, Guru 7, 7 Gaóa, Úeûa 2, lakàra
u–/ uu-/ u-u/ uu-/ uuu/ uuu/ -u-/ uu
1. Huwus kapwa têlas têkap nira si dùta numahasi purantare kihên,
yayàtah Prabhu Nìlacandra sira rakwa dahat atisayeki wiryyawan,
wruheng swargga pada pwa ring naraka loka racana padha wus kapangguhên,
kramàstamya huwus pininda ri dalêm puri nira sawaweki de nira.

2. Ri Werocaóa weha nugraha siràbhimatan Nåpati Nìlacandra pih,
jinànus smaraóe nulah nira lanà tisaya ta ya ka lùbangarjjuóa,
ya hetunya ngamangguhang phala kawìra puruûan ati yàddhuteng jagat,
têlas waspada dùta karwa gati sang prabhu ri nagara Nàraje rikà.

3. Rika pwang Kåtawarmma Satyaki gêlis padha waluy umulih mareng puri,
dadi pweki sirojaring Nåpati Kåûóa Aladhara kadi ng kapanggiha,
saha ng nàtha kalih dêngö kadi ri wåtta nira Si Kåttawarmma Satyaki,
kapangpang lwir ikang kawiryya nira de nira Narapati Nìlacandra tah.

4. Wawang nàtha kalih gumoûaóa ri wìra purusa Yadu Wåûói Waódhawa,
makàdi ng si paman kalih sang adhimantri nira sahana ning hane ri ya,
pwa senàpati sìghra sinyangi kinon sira padha masênàha yatna weh,
yayan rabdha padà yuda krama tumùta ri bala si bali ya ring laga.

5. Tatàkûohiói yang sinangkêpa niwàra yudha hanu karih nikàmpuha,
lawan pwang gaja aúwa len ratha padàti padha ya humadhang prasangkya pih,
padhàgyàn umijil gumêntêra rame tabê-tabêha nikà padhà swara,
astàm hrik siname ning aúwa gaja wàhana nira Yadu Wåûói Wàndhawa.

C. Terjemahannya:
1. Amat seksama utusan selidiki situasi di antara kedua kerajaan itu (Hastina-Naraja), ceritakan perihal prabu Nilacandra sebagai pengayom kerajaan dan kaya raya, paham akan sorga dan neraka buatan telah dinikmati, begitu sempurna dan serupa di dalam istana olehnya.

2. Hyang Werocana memberi anugerah sebagaimana tujuan prabu Nilacandra, pemujaan kepada Sang Buddha selalu dilaksanakan dengan setia, itu sebabnya memperoleh keperwiraan yang mengagumkan di dunia, kini semua telah jelas oleh utusan tentang negeri Naraja.

3. Lalu Kretawarma dan Satyaki segera kembali ke istana (Dwarawati), menceritakan kepada Kresna Baladewa segala hal yang dilihatnya, beringas kedua raja itu mendengar cerita sang Kretawarma dan Satyaki, seperti pelecehan dan tertandingi kekuasannya oleh raja Nilacandra.

4. Kedua raja itu segera membicarakan dengan prajurit Yadu Wresni Wandawa, terutama kepada paman dan kedua mantri serta seluruh pengikutnya, kepala prajurit (senapati) segera dipanggil dan semuanya bersujud, dan telah bersenjata lengkap diiringi prajurit ahli perang.

5. Sejumlah aksohini telah dilengkapi senjata dan pakaian yang serba baik, ditambah gajah kuda kereta dan pasukan darat tak terhitung jumlahnya, semua segera keluar sangat ramai hingga bergetar karena hiruk-pikuk suaranya, juga ringkihan kuda gajah tunggangan para prajurit Yadu Wresni Wandhawa.

Wirama Purantara ciptaan Made Degung tersebut dituangkan dalam urutan wirama atau pasalin ke-5 dari 44 jenis wirama yang ada. Dengan pola persajakan seperti disebutkan di atas, tampaknya reng (jenis suara) wirama ini masih erat dengan reng wirama Wihirat. Disadari bersama bahwa jumlah suku kata bisa sama, namun letak atau jumlah guru-laghunya berbeda, maka berbeda pula nama wiramanya. Tanpa dibekali dengan pemahaman tentang reng, jenis wirama, guru-laghu, bahasa Jawa Kuna/Kawi, niscaya Made Degung mampu berkarya tentang wirama baru, yang disebutnya dengan purantara.

Kutipan di atas juga menunjukkan betapa Made Degung selaku pengarang KN, mampu mengkemas demikian apik dan estetik keberadaan di antara dua kerajaan (purantara:pura dan antara ‘di antara puri/istana’, yakni Hastina dan Dwarawati. Kerajaan apakah yang dimaksudkan pengarang dengan istilah purantare? Adalah kerajaan Naraja itu, karena kerajaan ini terletak ‘di antara’ atau ‘di luar’ kerajaan besar ini. Rajanya pun sama-sama bergelar maharaja. Situasi di antara dua istana ini, digambarkan Made Degung dengan menonjolkan sikap dan kelihaian dua utusan dari Dwarawati (Kertawarma dan Satyaki) dalam menyelidiki istana Naraja dan rajanya (Nilacandra).

Segala keberhasilan Nilacandra sebagai maharaja utama yang diberkati anugrah Hyang Werocana serta mampu membuat sorga dan neraka tiruan di negerinya (Naraja), dilaporkan kepada maharaja Dwarawati (Kresna). Merasa dikalahkan kewibawaannya, Kresna dan Baladewa, ia memutuskan untuk menggempur Naraja. Di sini juga tampak adanya konsep ajaran yang berani menyamai (mamada-mada) keberadaan Tuhan atau Sang Pencipta. Pikiran untuk menundukkan segala hal keberanian meniru sorga dan neraka inilah tampak bergejolak di hati Kresna selaku awatara Wisnu. Di sini pula terermin bahwa di antara ilmu pengetahuan (kawisesan) dengan nilai-nilai keagamaan/ sikap religius yang mengarah pada sebuah kesucian mesti dilakukan secara seimbang. Dapat dikatakan bahwa orang suci tentu telah memiliki ilmu pengetahuan (kawisesan), tetapi orang yang memiliki kawisesan belum tentu suci. Karena itu, antara kesucian dengan kawisesan mesti seimbang. Ibarat wacana keagamaan dalam KN ini, adanya keharmonisan antara Siwa-Buddha sebagai bentuk keyakinan yang telah mentradisi dalam masyarakat Bali, yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ia adalah tunggal, hanya sebutannya yang berbeda.

Penulis mengamati tentang kepengarangan Made Degung dengan Wirama Purantara sebagai ciptaannya, sesungguhnya mencerminkan bahwa Made Degung bukan sebagai pengarang kerajaan (kawya rajya) sebagaimana sering dijumpai dalam teks kakawin lainnya. Made Degung adalah pengarang kakawin yang memang berada di luar kerajaan atau istana (purantara) baik Karangasem maupun Klungkung. Sebagai pengarang luar istana/puri, kehadiran KN dengan wirama baru ciptaannya (purantara) terletak di belahan timur pulau Bali, yakni di Banjar Tengah Desa Sibetan Bebandem, Karangasem Bali. Sekitar 2,5 (dua setengah) kilometer ke arah utara dari jalan raya Sibetan, menyusuri jalan setapak di antara pohon salak penuh bebatuan dengan jalan menanjak ibarat mendaki sebuah bukit berduri yang jauh dari keramaian dan kebisingan kota. Di sanalah lokasi atau tempat kakawin ini dilahirkan. Di sebuah gubuk yang sangat sederhana tetapi nyaman, tenang, dan memancarkan kedamaian, seorang pangawi bernama Made Degung di zaman modern ini mampu mengarang karya sastra tradisional berjudul KNberangka tahun 1993.

Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Kakawin ini sarat akan wacana keagamaan yakni Siwa-Buddha yang tunggal dan harmonis. Dalam tulisan ini KN ditempatkan ke dalam model proses resepsi pengarang (Made Degung) terhadap Siwagama dan Nilacandra Parwa sebagai hipogramnya.

2) Kreativitas pangawi membuktikan betapa tradisi penulisan karya sastra kakawin di Bali masih berlangsung hingga kini. Penulis memprediksi bahwa kehadiran karya ini sangat erat kaitannya dengan fungsi karya sastra Jawa Kuna di Bali terutama dengan kehidupan agama Hindu.

3) Adanya ciptaan wirama baru (purantara) tentunya sangat mengembirakan di kalangan pencinta sastra Jawa Kuna, khususnya kakawin sebagai salah satu bukti kemajuan dan perkembangan dalam “per-puisi-an” Jawa Kuna, yang dikemas begitu apik dan estetik.

Daftar Pustaka
Agastia, IBG. 1998. Ida Pedanda Made Sidemen: Pengarang Besar Bali Abad ke-20. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Kusuma, I Nyoman Weda. 2005. Kakawin Usana Bali Karya Danghyang Nirartha: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Telaah Konsep-Konsep Keagamaan. Denpasar: Pustaka Larasan.

Mardiwarsito, L. 1985. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Palguna, IBM Dharma. 1988. Ida Pedanda Ngurah Pengarang Besar Bali Abad Ke-19. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suarka, I Nyoman, I Wayan Suteja. 2005. Kajian Naskah Lontar Siwagama 2. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Suastika, I Made. 2002. Estetika, Kreativitas Penulisan Sastra, dan Nilai Budaya Bali. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sugriwa, I Gusti Bagus. 1977. Penuntun Pelajaran Kakawin. Denpasar: Proyek Sasana Budaya Bali.

Teeuw, A. 1991.“The Text”. Dalam Variation, Transformation and Meaning. Leiden: KITLP Press.

Van Der Molen, W. 1983. Javaanse Tekstkritiek een overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal.

Wiryamartana, I Kuntara. 1990. ArjunawiwahaTransformasi Teks Jawa Kuna Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Zoetmulder, P.J. 1983 dan 1985 Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Penerjemah Dick Hartoko SJ. Cetakan ke-1 dan ke-2. Jakarta: Djambatan.