Pustakawan Asean dalam Pusaran Arus Informasi Global

Pada perkembangan terakhir abad ke-20 setidaknya ada tiga inovasi teknologi yang telah mengubah kehidupan umat manusia secara sangat mendasar, yaitu: teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi. Teknologi trasportasi menghilangkan jarak tempat, teknologi telekomunikasi menghilangkan jarak waktu, sementara teknologi informasi menciptakan transparansi dan menghapus jarak informasi atau pengetahuan. Dunia bukan saja berubah menjadi sebuah dusun kecil, tetapi penduduk bumi bahkan tampak seperti sekumpulan ikan yang hidup dalam akuarium.Semua negara saling terhubung dan semua warga saling berinteraksi.Semua pihak saling terlihat dan semua orang saling mempengaruhi.

Tingkat interaksi antar masyarakat manusia di seluruh dunia menjadi sangat intensif. Arus pemikiran, budaya, informasi, barang, orang, uang, dan teknologi mengalir deras ke berbagai penjuru dunia tanpa dapat dihambat oleh batas-batas negara. Sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah “luar negeri” kata Kenich Ohmae. Dengan membuka internet, kita bisa mengakses informasi tidak terbatas dari seluruh dunia. Maka, peristiwa yang terjadi di satu negara dengan cepat tersebar ke seluruh dunia dan melahirkan berbagai reaksi yang berbeda.Tren budaya atau politik pada satu kawasan bisa dengan cepat menyebar dan menjadi tren internasional. Dunia kita semakin datar kata Thomas L. Friedman, dalam arti bahwa dengan kemajuan teknologi informasi semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi atau memaknai dunia. Secara dramatis perkataan Friedman ditanggapi oleh majalah Time edisi bulan Desember 2006 dengan memuat sebuah pemilihan Person of the year. Dan pemenangnya adalah bernama “You”,” Yes,you.You control the information age. Welcome to your world” bunyi tulisan di-cover majalah tersebut. Dunia semakin datar semakin demokratis.

Tentu saja tidak ada kekuatan yang dapat membendung arus perubahan global tersebut-Setiap individu, organisasi, lembaga, perusahaan, apalagi sebuah negara, tidak dapat menutup diri terhadap pengaruh perubahan yang terjadi di luar dirinya. Negara-negara ASEAN pun telah memahami betapa pentingnya mengaplikasikan teknologi informasi untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang. Oleh karenanya dalam Deklarasi Hanoi tahun 1998, seluruh kepala negara-negara ASEAN bersepakat untuk melanjutkan kerjasama dan memperkuat kemampuan ASEAN dalam bidang ilmu pengetahuan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut mereka menyetujui mengembangkan Asean Information Infrastructure (All) yang selanjutnya ditindak lanjuti dengan disetujuinya konsep pembentukan e-ASEAN yang akan mengintegrasikan komunikasi elektronis di kesepuluh negara anggota dan sebuah jaringan sistem informasi dan telekomunikasi yang terpadu (Wuryanti, 2001).

Walaupun tidak diketahui keberlanjutan konsep tersebut, paling tidak sudah ada sebuah inisiatif untuk secara bersama-sama mengimbangi kekuatan global, barat khususnya, dalam berkompetisi memperebutkan pasar informasi.

Hilangnya Perpustakaan?

Tentu saja bidang perpustakaan dan kepustakawanan adalah bidang yang sangat terkait dengan masalah di atas, karena data dan informasi menjadi garapan atau komiditas utamanya. Kini, tak dapat dimungkiri, kekuatan-kekuatan tersebut sangat nyata dan terasa. Virtual library, digital library, sebagai contoh, adalah istilah- istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Konsekuensi dari perkembangan tersebut, banyak aspek teknis keperpustakaan yang diambil alih oleh kecanggihan kemajuan teknologi informasi. Hampir semua pekerjaan pustakawan tingkat terampil atau penyelia dapat dikerjakan dengan teknologi informasi, sehingga banyak pustakawan, terutama yang tidak kreatif, yang meradang karena kehilangan ladang angka kredit.

Dalam bidang koleksi pun telah terjadi pergeseran bentuk media yang revolusioner. Perpustakaan tidak hanya berorientasi lagi kepada media akan tetapi kepada informasi. Dengan adanya media dalam bentuk elektronik atau digital, e-book misalnya, banyak koleksi perpustakaan beralih hanya menjadi “museum buku” yang kaku, dingin, statis, dan sepi. Sekarang ini, aset utama perpustakaan bukan hanya ada pada koleksi akan tetapi juga pada koneksi. Akan tetapi tidak semua orang menyukai alih bentuk media ini. Buku tercetak, dengan beberapa kelebihannya, tidak akan hilang tertelan oleh gelombang elektronik atau digital. Keduabentuk media ini akan saling melengkapi, bukan saling mematikan.1

Bidang layanan pun tidak luput dari perubahan.Sekarang ini, dengan membuka internet, seseorang dapat memperolah apa pun tanpa harus beranjak dari tempat duduknya. Mau membeli buku, sudah tersedia toko buku online yang variatif, bahkan ada yang berupa toko buku global seperti Amazon.com.2 Penulursan informasi yang dahulu harus dikerjakan dengan berkeringat, sekarang ini dengan melakukangoogling maka ribuan informasi bisa terkumpul dalam hitungan detik.Seorang pemustaka dapat mengunjungi perpustakaan apa pun dan di manapun sepanjang ada situsnya. Sehinga tidak heran apabila hari ini kita menyaksikan banyak perpustakaan yang lengang dari pengunjung.Karena pemustakan dapat mengunjungi perpustakaan tanpa harus pergi ke perpustakaan. Cukup dengan “klik” maka lautan informasi dari seluruh dunia sudah terhampar di hadapannya.

Pustakawan Versatilis

Negara-negara yang tergabung dalam wadah ASEAN terus dihadapkan pada perubahan geopolitik internasional maupun persaingan kerja sama antar negara. Dengan diterapkannya demokratisasi dan liberasisasi di berbagai segmen, terutama liberalisasi investasi, perdagangan, dan pasartenaga kerja terampil ASEAN, mewajibkan hadirnya kualitas sumber daya manusia yang unggul dan bisa berkompetisi. Firmanzah mengatakan bahwa sekarang ini persaingan semakin dinamis dan hampir tanpa pola sebagai imbas dinamika lingkungan dan ketidakpastian yang tinggi.Tiap negara mempersiapkan diri tidak hanya dalam menggapai posisi lebih unggul (disequilibrium seeking), tetapi juga dalam upaya memitigasi efek negatif dari ketidakpastian tersebut. Negara unggul hanyalah negara yang mampu membentengi diri (protective belt) melalui perbaikan kualitas manusia dan menyiapkan tenaga- tenaga kerja handal (skillful) yang siap menyongsong perubahan dan bersahabat dengan ketidakpastian tersebut (Firmanzah, 2011)

Dalam menghadapai situasi tersebut hanya ada dua pilihan yang dapat diambil oleh seorang pustakawanASEAN untuk bersikap, apakah iabersikap reaktif atau bersikap proaktif dan antisipatif. Bersikap reaktif berarti melihat semua kemajuan itu sebagai sebuah ancaman yang harus dihindari atau dilawan, yang akhirnya akan membuat dia semakin terpuruk bahkan mungkin eksistensinya akan mati dilindas roda perubahan. Sebaliknya, pustakawan yang proaktif akan melihat banyak peluang dari perubahan yang terjadi. Oleh karenanya, ia segera melakukan perubahan mindset atau paradigma berpikirnya. Begitu pula dalam skala institusi perpustakaan segera melakukan redefinis dan reposisi untuk keberlangsungan eksistensinya.

Seperti apakah sosok pustakawan ASEANyang bakal bertahan dalam perubahan dan dapat berhasil berada dalam pusaran arus informasi global ini? Ada baiknya kita belajar dari bidang lain yang berkaitan dengan dunia perpustakaan, bidang teknologi informasi misalnya. Beberapa tahun yang lalu Gartner membuat sebuah prediksi bahwa di masa yang akan datang pasar kerja para spesialisTI akan berkurang hingga 40% karena mereka akan diganti oleh versatilis (versatilist), yaitu mereka yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman, kemampuan menjalankan berbagai tugas yang beragam dan multidisiplin (versatile) dimana semua itu untuk menciptakan suatu pengetahuan(baru),kompetensi dan keterkaitan (context) yang kaya dan padu guna mendorong peningkatan nilai bisnis. Sifat sang versatilis adalah fleksibel terhadap teknolog, orientasi utamanya adalah untuk memberikan solusi sesuai kebutuhan yang diminta oleh customer. Versatilis bukan seorang generalisyang mengenal banyak bidang tapi hanya sepintas atau dangkal.Versatilis juga bukan seorang spesialisyang hanya mengerti cakupan bidang yang sempit, meskipun dalam. Versatilis adalah seorang spesialis yang berpikir lebih luas, berwawasan luas, matang, penuh perhitungan, mengerti tentang bisnis, orientasi kerja untuk memberikan solusi, mampu bekerjasama dengan orang-orang lain dalam bidangnya maupun di luar bidangnya, dan yang pasti tidak mengkotakkan dirinya pada sebuah teknologi, tool atau platform. (Wahono, 2009:103-104)

Dalam konteks regional, pustakawan ASEAN pun idealnya adalah mereka yang menjadi “pustakawan versatilis”yaitu pustakawan yang ada dalam zaman baru yang memiliki karakteristik seorang versatilis, karakteristik yang berbeda dari pustakawan generasi sebelumnya.

Penjaga Identitas

Menurut Samuel P. Huntington, polarisasi budaya dan peradaban tidak akan pernah berakhir sebagaimana era ideologi yang sudah tamat riwayatnya sebagaimana dikemukakan oleh Fukuyama. Huntington meyakini bahwa dunia hanya akan kembali ke keadaan peristiwa normal yang dicirikan oleh konflik kultural. Dalam tesisnya dia memperdebatkan bahwa sumbu utama konflik di masa depan akan berputar di sekitar garis keagamaan dan kultural.

Tantangan terbesaryang harus di hadapi oleh pustakawan ASEAN adalah bagaimana hasil benturan dan pergesaran antarbudaya, sebagai proses globalisasi tidak sampai melunturkan hormat dan kebanggaan masyarakatterhadap budaya sendiri yang dapat direfleksikan dalam koleksi misalnya. Tetapi dengan pergesaran dan benturan tersebut justru akan lebih meyakinkan dan membanggakan kita bahwa budaya bangsa merupakan budaya murni sebagai aset utama yang diwariskan nenek moyang kepada generasi penerusnya. Seorang pustakawan harus ikut dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai budaya yang ada, sehingga budaya asing bukan menjadi pengganti dari budaya lokal.Walaupun demokratisasi informasi sudah terjadi, tetapi arus informasi dirasakan masih belum seimbang, artinya masih didominasi oleh barat. Malah bisa dikatakan masih terjadi invasi informasi dari barat ke timur atau dari utara ke selatan.

Keadaan di atas akan menuntut semakin diperkuatnya tentang ketahanan nasional di antara negara- negara anggota. Yang dimaksud dengan ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang mampu mengembangkan kekuatan secara nasional untuk menghadapai tantangan, hambatan, ancaman, dan gangguan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar yang langsung atau tidak langsung akan membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa. Dengan demikian, membangun ketahanan nasional berati membangun kemampuan nasional menghadapi setiap tantangan dan gangguan terhadap stabilitas nasional. Oleh karena itu, sifat utama yang ingin dikembangkan oleh konsep ketahanan naional adalah sikap yang tidak menyandarkan diri pada kekuatan luar (Dam, 1995:77)

Menjaga identitas nasional dan regional seperti dikemukan di atas masih sangat diperlukan, hal ini berkaitan bukan saja dengan masalah identitas atau harga diri tetapi juga berkaitan dengan masalah kapitalisasi. Negara-negara ASEAN adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam dan juga sangat kaya dengan budaya- budaya lokal yang tidak dimiliki oleh negara-negara Barat.Pustakawan ASEAN harus sangat mengenal negaranya dari berbagaiaspeknya. Terutama mengenai kelebihan yang dimiliki oleh negaranya. Hal ini diperlukan supaya dalam melakukan interaksi dengan negara-negara anggota atau dengan negara lain dapat mempromosikan dan mempopsisikan diri sebagai negara yang representatif untuk diperhitungkan baik dalam skala regional maupun global. Dan dengan kemajuan teknologi informasi akan membuka peluang untuk akselerasi proses globalisasi nilai-nialai ASEAN atau “ASEAN way” ini.

Sendi dan tatanan budaya Indonesia terdapat di berbagai kawasan atau daerah di seluruh Indonesia. Banyak daerah di kawasan ASEAN dianggap sebagai daerah budaya, yaitu daerah yang penuh dengan nilai- nilai budaya tradisional bangsa yang harus dipertahankan sesuai dengan perkembangan zamannya, seperti: Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, dll.

Dalam menyikapi akselerasi perubahan dunia tersebut maka negara-negara yang tergabung dalam wadah ASEAN telah meningkatkan beragai interaksi yang mendalam untuk menghadapai perubahan global tersebut. Mereka pun mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan usaha bersama dalam rangka menarik para inverstor untuk berinvestasi di kawasan ASEAN.Kerja sama pun dilakukan dalam bidang politikdan hukum, terutama untuk menangani tantangan-tantangan trans-nasional. Dalam bidang Iptek, baru-baru ini negara-negara ASEAN sepakat membentuk kemitraan untuk saling bertukar informasi dan mengembangkan saintifiksi atau penelitian, pengembangan, dan pembuktian ilmiah obat tradisional. Menurut data, 80 persen penduduk Asia dan Afrika bergantung pada obat tradional untuk perawatan kesehatan primer. Jaminan obat tradisional yang aman dan efektif sangat dibutuhkan (Kompas, 1 November 2011). Yang paling baru adalah rencana dibentuknya Konektivitas ASEAN[1] yang akan di bahas lebih lanjut pada KTT ASEAN ke-19 di Bali pada tanggal 13-19 November 2011 dengan mengusung tema: “ASEAN Community in a Global Community of Nations”

Kegiatan-kegiatan di atas, tentu saja membuka peluang bagi pustakawan ASEAN untuk menindaklanjutinya, misalnya dalam bentuk inventarisasi atau pangkalan data informasi tentang obat atau tanaman obat tradisonal yang melimpah dimiliki oleh negara- negara anggota. Yang selanjutnya membentuk sebuah jaringan informasi tanaman obat negara-negara ASEAN yang tergabung dalam CONSAL. Kerja samasemacam ini sudah dimulai pada tahun 2008 lalu. Dimana negara- negara yang tergabung dalam CONSAL duduk bersama mendiskusikan tentang folklore (cerita rakyat) yang memilki kesamaan dalam esensi cerita. Tema konferensi CONSAL “National Heritage: Preservation and Dissemination”, cocok sekali dengan tuntutan keadaan sekarang ini.

Pustakawan ASEAN akan sangat berperan dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur yang berbentuk tangible heritage, seperti candi, gereja, masjid, istana negara, bangunan rumah kuno, kendaraan kuno, makam-makan kuno maupun intangible heritage, antara lain: tarian tradisional seperti tari Serimpi, tari Bedoyo, dan tari Golek,yang berasal dari JawaTengah dan Yogyakarta; musik tradisional; teater, kuliner tradisional; arsitektur tradisional; dan kerajinan tangan. Saat ini warisan intangible heritage Indonesia, yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO ada lima, yaitu Wayang (2003), Keris (2005), Batik (2009), best practices Batik (2009), dan Angklung (2010). Pada bulan November 2011, tari Saman dari Aceh akan diumumkan oleh UNESCO di Bali, sebagai warisan budaya intangible.

Epilog

Menjadi seorang versatilis merupakan sebuah keniscayaan, bukan lagi pilihan, untuk menjadi seorang pustakawan ASEAN. Oleh karenanya membangun kapasitas diri dengan cara: pertama, meningkatkan kompetensi inti dalam bidang perpustakaan dan kepustakawanan; kedua, memperluas wawasan makro tentang berbagai persoalan kenegaraan atau isu-isu strategis nasional;/cef/ga, meningkatkan keikutsertaan dalam bidang sektoral strategis; ke-empat, kemampuan membangun jejaring. Ke-empathal tersebut sudah menjadi sebuah tuntutan zaman supaya pustakawan ASEAN dapat bertahan dan berperan dalam mengimbangi perkembangan dunia informasi yang semakin akseleratif ini.

Konferensi Congress Southeast Asian Librarian (CONSAL) yang mengusung tema besar”National Heritage: Preservation and Dissemination”, yang akan di adakan di Bali pada bulan Mei 2012 nanti, semoga menjadi inspirasi dan semakin menyadarkan para pustakawan tentang pentingnya peran mereka dalam menjaga identitas nasional.

Acara tersebut juga adalah momentum yang tepat bagi pustakawan ASEAN untuk berperan lebih besar dalam Komunitas ASEAN yang akan terbentuk pada 2015. Pustakawan sebagai penjaga Identitas ASEAN yang dalam sejarahnya dibentuk berdasarkan keingingan untuk menciptakan perdamaian, membangun konsensus, dan memajukan stabilitas melalui integrasi dan kerja sama kawasan semoga dapat terwujud. Karena Komunitas ASEAN 2015 menjadi titik tolak untuk mewujudkan “ASEAN: One Vision, One Identity, One Community” menuju arsitektur kawasan pada kondisi dynamicequilibrum (Wildan, 2011) Lebih dari setengah abad yang lalu, A.G.W. Dunningham, konsultan perpustakaan Indonesia dari UNESCO mengatakan, “seorang pustakawan yang statis dan tidak bersemangat, tidak akan dapat melayani kebutuhan masyarakatyang sangat heterogen” (Harahap, 1998:21). Semoga kita terhindar dari sifat pustakawan seperti itu




[1]Rencana Induk Konektivitas ASEAN muncul pada saat Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-17 di Hanoi Vietnam. Sesuai dengan amanat pertemuan tingkat tinggi tersebut, negara-negara ASEAN harus membentuk konektivitas yang dibangun dari tiga pilar utama, yakni dimensi pembangunan infrastruktur, dimensi kelembagaan, dan dimensi hubungan antarmasyarakat. Dengan meningkatkan konektivitas infrastruktur, diharapkan kota-kota bear ASEAN dapat terhubung dengan jaringan transportasi yang terintegrasi shingga mempermudah akses. Yang akan berdampak pada perkembangan perekonomian, biaya transportasi yang murah, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut. Untuk konektivitas kelembagaan, diharapkan ada kerangka kerja dan mekanisme demi memfsilitas perdangan intra-ASEAN dan investasi, seperti meringkas prosedur bea masuk danmenghapus hambatan nontarif yang dinilai memberatkan perkembangan dunia usaha di ASEAN. Konektivitas antarmasyarakat dapat menyatukan masyrakat menjadi suatu komunitas ASEAN yang dapat dibangun melalui kerja sama pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata (Media Indonesia, 15 November 2011)