Pustakawan, Mandiri Atau Eksklusif ?

Mandiri dan eksklusif adalah dua istilah yang kerap muncul akhir-akhir ini dalam dunia kepustakawanan, sehingga menarik untuk dikaji.

Dua istilah tersebut di atas, sangat berbeda baik dari segi ucapan maupun artinya. Kamus Bahasa Indonesia cetakan ke-3 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan disusun oleh Tim dari Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerangkan bahwa :

  • eksklusif berarti :
    1. terpisah dari yang lain
    2. khusus
  • mandiri berarti :
    1.  tidak bergantung pada orang lain
    2.  dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain

Sedangkan yang dimaksud dengan kata mandiri di kalangan pustakawan, adalah mandiri karena tuntutan dari jabatan fungsionalnya, Menurut SK Kepala Perpustakaan Nasional RI no. 001/0rg/9/1990 pustakawan bertanggung jawab langsung kepada kepada eselon dua untuk pusat dan pejabat eselon tiga (Kepala Perpustakaan Daerah) untuk daerah. Namun secara administratif tidak terlepas dari pengawasan dan kerjasama dengan kepala unit kerjanya masing-masing.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pustakawan dipimpin oleh pustakawan senior dalam kelompok. Menurut SK Kepala Perpustakaan Nasional RI no. 018/1992 tentang pengangkatan koordinator dan ketua kelompok pustakawan di lingkungan Perpustakaan Nasional RI, dalam lampiran dikatakan bahwa koordinator bertugas :

  1. Mengkoordinir penyusunan dan pelaksanaan program kerja antar kelompok
  2. Membantu pimpinan meneruskan berbagai kebijakan kepustakawanan kepada ketua kelompok.
  3. Memberi rekomendasi atas pengajuan pengusulan penepan angka kredit
  4. Memberi penyuluhan dan bimbingan tentang kepustakawanan
  5. Melaksanakan tugas fungsionalnya sebagai pustakawan

Sedangkan ketua kelompok disamping melaksanakan tugasnya sebagai pejabat fungsional pustakawan, mempunyai tugas :

  1. Mengkordinir penyusunan program kerja para pustakawan di lingkungan kelompoknya
  2. Membantu kepala unit/pejabat struktural mengawasi pelasanaan kerja dalam unitnya
  3. Memberi rekomendasi/masukan untuk pembuatan DP3 pustakawan dalam kelompoknya

Dari uraian tugas inilah disimpulkan bahwa pustakawan harus mandiri dalam pelaksanaan tugasnya, tidak selalu menunggu perintah atasan, bekerja sesuai dengan program kerja yang telah disusun dan dilegalisasi oleh pejabat struktural dan ketua kelompok.

Berdasarkan ketentuan dalam SK MENPAN maupun SEB Mendikbud dan Ka. BAKN, dapat merencanakan tugas/target dalam tiap tahunnya. Rencana perorangan dikoordinir oleh ketua kelompok menjadi program kelompok, yang selanjutnya dikoordinir oleh kordinator menjadi program pustakawan yang perlu dinegosiasikan dan dipadukan dengan rencana kerja pejabat pustakawan.

Dengan uraian di atas, diharapkan dapat memperjelas pengertian mandiri yang dimaksud dalam kepustakawanan. Mandirinya pustakawan bukan berarti eksklusif yang diartikan sebagai menyendiri dengan penampilan/pakaian seragam, tempat duduk apalagi khusus dalam tunjangan jabatan. Pada dasarnya baik pejabat fungsional pustakawan maupun struktural adalah sama, bekerja berdampingan dalam pelaksanaan tugas pokok Perpustakaan Nasional RI, hanya jalur administrasinya yang sedikit berbeda.