Qais dan Rahasia Keunikan

Namanya Qais bin Saad bin Ubadah. Ia putra pemimpin suku Khazraj yang bersama Saad bin Ubadah telah menjadi pemimpin, meski usianya belia. Orang-orang Khazraj berkata, ”Seandainya bisa, pasti kami pinjamkan jenggot pada Qais, agar terlihat lebih berwibawa.” Qais seorang yang cerdik dan cemerlang otaknya. Ia berkata tentang dirinya. “Jika bukan karena Islam, niscaya aku akan membuat satu rencana dan makar yang tidak mampu dihadapi oleh orang Arab. “

Qais dikenal sangat pemurah. Dia seringkali memberi pinjaman kepada seseorang yang datang padanya untuk berhutang. Qais meninggal sebagai orang zuhud, meski ia orang kaya raya, taqwa dan banyak membela kebenaran. “Kalau saja aku tidak mendengar Rasul SAW bersabda bahwa makar dan tipu daya itu akan berada dalam neraka, niscaya aku menjadi orang yang paling ahli membuat makar dari umat ini.”

Qais hidup dengan keunikannya. Seorang ahli strategi yang sangat kaya ide. Keunikan tidak memberi arti apapun ketika ia tidak mengantarkan pemikirannya untuk memilih jalan hidup yang sah di mata Allah.

Seperti Qais, setiap manusia lahir dengan keunikan yang berbeda. Tidak harus luar biasa. Menjadi unik saja sudah cukup luar biasa. Itu semacam watak dasar, bakat bawaan yang masing-masing manusia mempunyai secara berbeda. Di sanalah bibit keunikan bersemayam. Selebihnya tergantung bagaimana kita menyemai, merawat, dan menyuburkannya menjadi perilaku yang mulia.

Seperti Umar ibnu Khattab, wataknya yang keras di masa sebelum islam, menjadi keunikannya sendiri setelah masuk islam. Ia menjadi sangat keras bila membela kebenaran. Begitu juga dengan sahabat yang lain. Maka, keunikan adalah harga. Keunikan memberi banyak pilihan dalam hidup. Tapi lebih jauh, keunikan itu harus menjadi harga yang dengannyakita memohon surge Allah. Jadikan keunikan itu sebagai energi dan kekuatan pendorong yang dahsyat, untuk kita memilih jalan yang diridhai Allah.

Menjadi orang dengan watak keras tidak selalu salah. Terlahir dengan bawaan lemah lembut , tidak selamanya keliru. Tumbuh menjadi orang berjiwa besar, haus prestasi, dan cinta keindahan, tidak sepenuhnya salah. Asal semua itu mampu mengantarkan kita memilih jalan hidup yang benar, yang disukai Allah. Watak kerasnya harus digunakan untuk membela kebenaran. Seperti juga lembut hati dan perasa harus dipakai untuk mengukur tingkat sensitifitas terhadap keburukan. Begitu seterusnya.

Seorang muslim justru bisa menjadi besar dengan keunikannya, dan bukan sebaliknya. Sebab, diujung pengharapannya ia memohon kepada Allah, mengharap surga-Nya, merindukan keridhan-Nya. Itu pengharapan yang tak pernah usai hingga akhir menutup mata.

Manusia lahir dengan keunikannya dan kelebihan masing-masing. Tidak ada orang yang hidup, kecuali telah diberi kelebihan masing-masing. Keterbatasan memberi kita perbedaan. Manusia ada yang hebat dan biasa-biasa saja, tapi masing-masing adalah keunikan. Menjadi unik tidak harus hebat. Meski sejatinya menjadi unik adalah kehebatan alami tersendiri.

“Tiap-tiap orang berbuat menurut keadannya masing-masing. Maka, Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al Israa : 84). Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa setiap orang berbuat sesuai apa yang ada pada dirinya. Dan akhlaknya yang telah ia biasakan. Dan ini adalah celaan bagi orang kafir dan pujian bagi yang beriman.

Setiap kita lahir dengan keunikan. Siapapun kita, besarlah dengan keunikan itu. Tapi, orang yang membesarkan keunikannya kadang merasa sepi. Pada saat itu, ia harus menekuni keunikannya menjadi keahlian. Sebab, hanya sedikit orang yang benar-benar bisa menjadi ahli. Ia mengerti bagaimana menghibur hati dan menyemangati jiwanya. Justru di saat keunikan menjadi puncak keahlian, seorang muslim punya modal lebih banyak untuk memohon surga.

Alangkah Maha Pengasihnya Allah, yang memberi kita keunikan beda. Tapi, sudahkan kita mengerti apa keunikan diri kita?