Rahasia Pengobatan Yang Tersirat Dalam Naskah Mantra

1. Pengantar
Andaikan di era globalisasi dan canggih saat  ini masih terbersit hasrat untuk melirik sejarah dan kearifan lokal budaya masa lampau, hal itu merupakan sikap yang cukup bijaksana, karena jika kita cermati secara seksama, tanpa kita sadari banyak manfaat serta informasi budaya hasil kreativitas dan warisan karuhun terdahulu yang bisa kita gali dan kita ungkapkan di masa kini.
Salah satu sumber informasi budaya masa lampau yang sangat penting  adalah naskah, yang  dapat dipandang sebagai dokumen budaya, karena berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu. Sebagai sumber informasi, dapat dipastikan bahwa naskah-naskah buhun termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya, yang ditulis pada kertas, daun lontar, kulit kayu, nipah, bilahan bambu, atau rotan. Secara umum isinya mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya, yang meliputi: sistem religi/keagamaan, teknologi dan benda materiil, mata pencaharian hidup/ekonomi, kemasyarakatan, ilmu pengetahuan/ pendidikan, bahasa, dan seni.
Berkenaan dengan masalah naskah, naskah-naskah Sunda  ditulis pada kertas, daun lontar, kulit kayu, bambu, saeh juga rotan.  Secara umum isinya mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya yang sangat penting, dan dapat dijadikan sumber pengetahuan bagi masyarakat kini.   Naskah-naskah Sunda buhun  banyak yang  masih tersebar di masyarakat dan menjadi koleksi perseorangan.  Untuk mengumpulkannya seringkali mengalami kesulitan, karena para pemilik naskah enggan menyerahkannya kepada peneliti.  Kebanyakan mereka menganggap naskah sebagai barang sakral, dan hanya orang-orang tertentu  yang berhak membacanya. Tetapi pada sisi lain sudah banyak pula naskah yang berhasil dikumpulkan, dan disimpan di luar negeri.  Naskah-naskah itu masih banyak yang belum diteliti. Keadaan seperti ini sungguh sangat memprihatinkan, dan merupakan tantangan yang memerlukan penanganan yang serius dari para peneliti dan peminat sastra buhun, demi melestarikan kebudayaan bangsa yang sangat berharga.
Salah satu dari tujuh unsur  budaya yang terkandung dalam naskah yang cukup menarik untuk dibahas adalah unsur kepercayaan masyarakat atau religi, terutama yang menyangkut adat istiadat dan kebiasaan sebagian masyarakat yang begitu dekat dengan mantra dan pemanfaatan  mantra untuk kepentingan tertentu guna tercapainya tujuan tertentu pula. Mantra oleh sebagian masyarakat  dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Dengan demikian, masyarakat seperti ini begitu sukar melepaskan kebiasaannya dalam memanfaatkan mantra karena dirasakan  banyak diperoleh manfaatnya. Hal ini mengundang banyak reaksi dari masyarakat lainnya yang secara langsung atau tidak langsung menolak kehadiran mantra  dalam kehidupan sehari-hari.

Riset terdahulu dari para ahli, di antaranya  Danandjaja, menerangkan tentang bantahan orang awam berpendidikan Barat yang menyebutkan perilaku yang ditimbulkan mantra, salah satunya, adalah takhayul belaka dan merupakan perbuatan bodoh. Danandjaja membantah penilaian orang awam yang berpendidikan Barat tersebut dengan menyertakan fakta bahwa tidak ada orang yang bagaimanapun modernnya, dapat bebas dari takhayul, baik dalam hal kepercayaan maupun dalam hal kelakuannya. Suara katak terdengar dipercayai masyarakat Amerika Serikat sebagai tanda akan turun hujan, begitu juga dengan kepercayaan orang Sunda, jika kita memandikan kucing, maka akan segera turun hujan (1994: 153-154).
Memang, fenomena seputar kepercayaan masya-rakat, terutama yang menyangkut penilaian terhadap karya lisan  yang satu ini begitu tampak pada era kasa-jagatan saat ini. Di berbagai daerah di Indonesia dengan lapisan masyarakat yang beragam menghasilkan dua golongan masyarakat dihubungkan dengan kehadiran dan sikap masyarakat terhadap mantra pada jamannya, yaitu golongan masyarakat penghayat dan bukan penghayat mantra baik secara aktif maupun pasif mene-rima atau menolak mantra. Penghayat aktif yang dimak-sud adalah dukun dan pengamal mantra yang memba-cakan sendiri mantranya dan kesediaan memenuhi segala peraturan dan larangan dukun atau gurunya. Penghayat pasif adalah pengamal mantra dengan bantuan dukun untuk membacakan mantra, ia tinggal menyediakan persyaratan dan bersedia mematuhi segala peraturan dan larangan demi dukun atau gurunya. Selain itu yang termasuk penghayat pasif adalah orang yang mengakui dan percaya terhadap mantra dengan kemampuannya menghasilkan kekuatan gaib dan percaya bahwa mantra akan mampu menjawab hal-hal atau masalah-masalah yang ada di dalam kekuatan supernatural, yaitu di luar jangkauan pemikiran dan kekuatan manusia. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat bukan penghayat mantra adalah masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung menolak kehadiran mantra dan dianggap sebagai perbuatan syirik atas tindakan  masyarakat yang menggunakan mantra secara aktif atau pasif dalam kehidupannya.
Pandangan masyarakat terhadap mantra telah memunculkan beberapa prasangka.   Bagi masyarakat penghayat mantra, kegiatan sehari-hari kerap kali diwarnai dengan pembacaan mantra demi keberhasilan dalam mencapai maksud, misalnya, para petani ingin sawahnya subur, terhindar dari gangguan hama, jika panen tiba hasilnya melimpah; para pedagang ingin dagangannya laris; dan pengharapan-pengharapan lainnya. Secara sepintas, karena keterbatasan kemam-puan manusia, mantra merupakan keuntungan bagi masyarakat penghayatnya didasarkan pada fungsi mantra tersebut di atas. Oleh karenanya, mantra dengan mudah diterima kehadirannya sebagai warisan nenek moyang yang begitu berarti, salah satunya digunakan dalam upaya pengobatan. Sedangkan bagi masyarakat bukan penghayat mantra, prasangka yang muncul adalah negatif. Hal ini didasarkan atas penilaian masyarakat bukan penghayat yang menegaskan bahwa permohonan sesuatu melalui mantra-mantra adalah perbuatan syirik. Penilaian golongan masyarakat ini lebih tegas lagi pada jenis mantra untuk tujuan jahat yang dikenal dengan magis hitam. Di samping itu ketidakpercayaan terhadap kekuatan gaib yang terkandung dalam mantra dan adanya persyaratan-persyaratan tertentu, misalnya harus berendam di sungai, dan sebagainya menimbulkan antipati yang cukup kuat.

2. Mantra  dalam Pernaskahan  Sunda
Apa itu mantra?  Pengertian mantra dalam tulisan ini lebih mengarah kepada   jenis puisi yang isinya semacam jampi-jampi atau kata-kata yang bermakna magis; isinya dapat mengandung bujukan, kutukan, atau tantangan yang ditujukan kepada lawannya; untaian kata-kata yang tidak jelas maknanya, biasa diucapkan oleh dukun atau pawang bila menghadapi sesuatu keperluan (Mustappa, 1995: 64) atau sebagaimana dikemukakan Poerwadarminta (1988: 558) mantra merupakan 1) perkataan atau ucapan yang mendatangkan daya gaib (misal dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya); 2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. Bertitik tolak dari pengertian  mantra tersebut, yang secara tersurat bermuatan bahasa (tekstual), maka naskah merupakan salah satu media penuturan mantra dimaksud. 
Merujuk hasil inventarisasi dan pencatatan yang dilakukan Ekadjati, dkk. (1988) diketahui bahwa jumlah naskah Sunda adalah 1.432 buah, baik yang ada pada koleksi naskah di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri, serta pada koleksi perseorangan yang tersebar di masyarakat. Di samping itu menurut Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5a: Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga terdaftar sekitar 1.350 buah naskah (Ekadjati dan Darsa, 1999). Menurut katalogus milik EFEO (1990) tercatat sekitar 800 buah naskah, di Kasepuhan ada 42 buah naskah. Jumlah naskah pada koleksi Keraton Kanoman Cirebon belum diketahui karena belum terbuka untuk diteliti (Ekadjati, 1990: 2).
Hal yang cukup menarik perhatian, dari sekian banyak jumlah naskah yang telah diinventarisasi dan didokumentasi, diketahui sebanyak kurang lebih 76 buah  naskah yang secara khusus  berupa mantra dan kumpulan doa  atau uraian yang pada kenyataannya lebih bersipat mantra. Dari jumlah tersebut sudah ditemukan dan dideskripsi sebanyak kurang lebih 16 buah mantra atau yang ada kaitannya dengan mantra. Keenam belas buah naskah tersebut sepuluh buah naskah sudah dideskripsi sebagaimana yang disajikan dalam katalog (Ekadjati, 1988), sedangkan enam buah naskah merupakan koleksi perseorangan yang lama kelamaan dikhawatirkan akan mengalami kepunahan jika tidak segera dilakukan upaya-upaya penanganan dan penelitian.
Deskripsi atau uraian yang berkaitan dengan naskah mantra yang masih tersebar di masyarakat, berdasarkan hasil penelitian terjadwal melalui kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran hingga tahun 2011 diperoleh sebanyak kurang lebih 25 buah deskripsi tentang mantra, yang tersebar di hampir seluruh kabupaten di Jawa barat, di antaranya kabupaten Bandung, Bogor, Subang, Karawang, Lebak, Cirebon, Serang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Sukabumi, Indramayu, serta Baduy dan Cilacap, serta Cianjur. Selain itu, telah diinventarisasi pula sejumlah naskah yang berkaitan dengan mantra yang  sudah dikelompokan ke dalam tiga bagian utama, yaitu Mantra Pengobatan, Mantra Perlindungan, dan Mantra Kekuatan yang diklasifikasikan ke dalam mantra putih (White Magic) sedangkan mantra Pembalasan dan Perdayaan dimasukkan ke dalam klasifikasi mantra hitam (Black Magic).

3. Klasifikasi Mantra
Sejalan dengan pembagian jenis mantra, Rusyana (1970) membagi mantra  berdasarkan tujuannya menjadi 7 bagian,  yaitu jampe ‘jampi’, asihan ‘pekasih’, singlar ‘pengusir’, jangjawokan ‘jampi’, rajah ‘kata-kata pembuka ‘jampi’, ajian ‘ajian/jampi ajian kekuatan’, dan pelet ‘guna-guna’. Diketahui bahwa ketujuh bagian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam mantra putih ‘white magic’ dan mantra hitam ‘black magic’. Pembagian tersebut berdasarkan kepada tujuan mantra itu sendiri, yakni mantra putih digunakan untuk kebaikan sedangkan mantra hitam digunakan untuk kejahatan.
Adanya pembagian antara mantra putih (white magic) dan mantra hitam (black magic) sebenarnya sulit untuk diukur dalam pengertian tidak ada pembeda secara nyata di antara keduanya, karena sering terjadi penyimpangan tujuan dari mantra putih ke mantra hitam tergantung kepada siapa dan bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh mantra tersebut. Dapat dicermati bahwa  mantra putih di antaranya bertujuan untuk menguasai jiwa orang lain yang dicintainya; agar diri dalam keunggulan, seperti   agar disayangi, oleh majikan atau menak;  agar maksud berhasil dengan baik,  agar perkasa dan awet muda, agar penuh wibawa dan  berani/tidak takut menghadapi sesuatu; agar selamat kampung halaman, kekayaan, tanaman, hewan peliharaan;  mengusir hantu atau roh halus, kuntilanak; menaklukan binatang, menolak santet, untuk memasuki hutan angker, untuk tumbal tempat yang angker; untuk menaklukan siluman; untuk ngaruat ‘perlindungan/menjaga keselamatan dengan acara tertentu, misalnya pertunjukan wayang; untuk keselamatan saat terjadinya banjir, hujan;  untuk menyembuhkan orang sakit atau sarana pengobatan; untuk mengobati orang yang kecelakaan; menyucikan jiwa raga; penyempurna ilmu; menghentikan amarah orang lain, dan lain-lain. Adapun kategori mantra hitam di antaranya bertujuan untuk mencelakai orang agar sakit atau mati, membalas perbuatan jahil orang lain, dan memperdayakan orang lain karena sakit hati.
Kehadiran mantra itu sendiri berpangkal pada kepercayaan masyarakat pendukung di dalamnya yang memunculkan fenomena yang semakin kompleks di jaman sekarang. Sejumlah penilaian, sikap, dan perlakuan  masyarakat Sunda terhadap mantra semakin berkembang. Ada sebagian masyarakat yang begitu mengikatkan secara penuh maupun sebagian dirinya terhadap mantra dalam kepentingan hidupnya. Sebagian masyarakat lainnya secara langsung atau tidak langsung menolak kehadiran mantra dengan pertimbangan bahwa menerima mantra berarti melakukan perbuatan syirik. Pada bagian masyarakat yang disebutkan pertama dapat digolongkan ke dalam masyarakat penghayat atau pendukung mantra, sedangkan bagian masyarakat yang lainnya digolongkan ke dalam masyarakat bukan penghayat mantra.

4. Mantra Pengobatan
Sesuai dengan judul tulisan ini,  mantra yang dibahas terutama menyangkut    mantra   pengobatan, termasuk di dalamnya rahasia serta cara  pengobatannya. yang apabila dilihat dari jenisnya, termasuk ke dalam kategori mantra putih atau white magic. Mantra diterima oleh masyarakat penghayatnya sebagai kebutuhan penunjang setelah kehidupan agamanya dijalani secara sungguh-sungguh.  Adanya kebutuhan terhadap mantra sebagai warna yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang tidak terlepas kepada keadaan alam dan mata pencaharian, menghasilkan tiga kelompok besar sehubungan dengan penggunaan mantra, yaitu mantra yang digunakan untuk perlindungan, kekuatan, dan pengobatan sejalan dengan tujuan pemaparan tulisan ini.
Apabila dilihat dari ketiga kelompok mantra, jelaslah bahwa rahasia pengobatan yang tersirat dalam naskah mantra, termauk ke dalam mantra Pengobatan. Hal ini dikaitkan dengan fungsi mantra tersebut, yang antara lain menyiratkan adanya permohonan kepada Sang Pencipta, yang begitu erat dengan kebutuhan hidup masyarakat yang dalam satu segi membutuhkan kekuatan lahir maupun batin untuk melaksanakan maksud tertentu. Semua mantra tersebut sepenuhnya disandarkan kepada Allah. Mereka tinggal menunggu keputusan dari Yang Maha Menentukan atas usaha yang dijalankan manusia. Betapa manusia merasa kecil dan tak berdaya sehingga memohon dilindungi, ditopang, diberi kemurahan pada setiap langkah, mohon ditetapkan iman dan Islam. Begitu juga dengan mantra pengobatan lainnya, dengan berbekal keyakinan dan bersandar sepenuhnya kepada Allah, mantra diucapkan untuk tujuan agar dapat menolong dan mengobati orang lain yang terkena suatu penyakit dapat disembuhkan, sebagaimana tampak dalam contoh – contoh jampé dan jangjawokan yang diambil dari tiga buah naskah Mantra yang sudah disunting dalam sebuah penelitian yang berjudul “Magic Yang Terungkap Dalam Khazanah Naskah Sunda: Tinjauan Filologis dan Analisis Fungsi” (Suryani, 2001). Dari 200 buah mantra yang disunting, sekitar 50 buah mantra tergolong mantra pengobatan, khususnya Jampé  dan Jangjawokan. Namun, dalam tulisan ini hanya ditampilkan beberapa contoh mantra saja.
Salah satu mantra pengobatan, khususnya yang digunakan untuk mengobati sakit perut (jampé dan jangjawokan nyeri beuteung terutama yang digunakan kepada bayi dan anak kecil,  ada beberapa buah, sebagaimana tampak berikut ini:

Jampé Nyeri Beuteung
Peujit pabeulit
puseur pacangreud
ka luhur pindah ka jantung
salatri pindah ka cai
belekbek belegu…….
belekbek belegu……

Rahasia pengobatannya melalui media air putih yang sudah dimantrai, kemudian air tersebut diteteskan atau dioleskan di atas ubun-ubun bayi atau anak yang sakit. Lewat isi mantra itu, kita dapat mencerna bahwa ada kata-kata Peujit pabeulit, puseur pacangreud, ka luhur pindah ka jantung, salatri pindah ka cai,  diharapkan agar ‘si sakit’ cepat sembuh dan dapat buang air besar agar rasa mulesnya segera sirna dan sembuh.  

Jampé Nyeri Beuteung
Bismillah
syahadat 3x  
mules rasa anu mokaha 
ulah cicing dina kulit 
ulah nyangsang dina badan 
hurip ku nabi waras ku Alloh 
badan si …
(sebut ngaran bari némpélkeun jempol dina beuteungna)

Rahasia pengobatan yang terungkap dalam mantra tersebut, seperti halnya mantra sakit perut sebelumnya, tampak lewat-kata-kata mules rasa anu mokaha  ulah cicing dina kulit  ulah nyangsang dina badan,  diharapkan penyakit yang masuk serta bersemayam di dalam tubuhnya cepat hilang. Media yang digunakan untuk mengobati sakit perut tersebut berupa daun cabe rawit yang sudah diulek, lalu dengan jempol ditempelkan ke perutnya  sambil menyebut nama si sakit. Andai kita simak media yang digunakan, yakni daun cabe rawit, kita paham bahwa dalam tanaman tersebut tersembunyi unsur pendingin, yang berguna untuk mendinginkan serta menyembuhkan rasa sakit, seperti halnya kita menggunakan minyak kayu putih.  Rahasi pengobatan sakit perut lainnya dengan menggunakan daun jambu batu yang direbus. Air rebusannya diminum. Konon karena daun  jambu batu tersebut rasanya pahit, sehingga dapat ‘menghambat’ buang air besar.

Jampé Nyeri Beuteung
Surat Maryam 3x
Nini lenjer weteng
aki lenjer weteng
ulah ngalenjer dina kedung suwung
rep sirep ku Pangéranna

Rahasia pengobatannya, mantra tersebut dibacakeun sambil ditiupkan kepada orang yang sakit perut tersebut. Inti dari mantra pengobatan dimaksud, adalah bahwa orang yang mengobati senantiasa meminta kepada yang Maha Pencipta agar dengan segera menyembuhkan si sakit, melalui doa Surat Maryam yang ia bacakan, disertai dengan menempelkan ramuan daun cabe rawit, minyak kayu putih, dan air sebagai pendingin perut.
Ada jampé yang pada dasarnya berkaitan dengan perut yang kembung, digunakan agar perut yang kembung segera sembuh, sebagaimana tampak berikut ini:
                      
Jampé Beunghak Beuteung
Cakakak di leuweung
injuk talina
dihakan dibeuweung
hitut jadina
plong blos plong blong….

Mantra  pada masa silam digunakan oleh para orang tua untuk mengobati beragam penyakit, karena mantra dianggap sebagai doa permohonan kepada Allah SWT, dengan harapan penyakit yang diderita ‘si sakit’ cepat sembuh. Hal ini dilakukan karena keberadaan dokter dan balai pengobatan pada masa itu tidak seperti sekarang. Dengan demikian, mantra dianggap sebagai media ‘alat’ pengobatan yang sangat penting. Pengucapan mantra pengobatan biasanya  dilakukan oleh orang tua (sendiri) atau lewat ‘dukun’ sebagai perantara. Simaklah mantra berikut ini yang digunakan untuk mengobati anak yang sakit demam atau panas, juga sakit kepala/pusing.

Jampé Ngubaran Rieut
Bismillah
Nini uju-uju aki uju-uju
ulah nuju ka nu tungtung sirah
nuju ngala kayu batu
rep sirep ku sang idu putih
nyampé waras nu nyampé di beurang ti peuting
waras ku Pangéranna
sahadat…….
 
Jangjawokan Muriang
Cakra maya sang ratu ingsun
diditakeun iman sang satu waras
waras ku kersaning Allah

Katerangan: puasa wedal 8 poé

Apabila kita cermati, contoh jampé tersebut berfungsi sebagai mantra pengobatan, agar penyakit pusing atau demam yang diderita cepat sembuh seperti sedia kala, dengan media air putih yang dimantrai serta diminumkan kepada si sakit, tentu saja pengharapan paling utama memohon atas pertolongan yang Maha Kuasa. Khusus untuk mengobati sakit demam, rahasia pengobatannya bahwa pasien atau si sakit diharuskan berpuasa pada hari  kelahirannya selama delapan hari. 
Batita biasanya sering terkena ticengklak, mungkin karena cara menggendong atau melakukan kegiatan (tidur, berbalik, atau tengkurak) ada urat yang keseleo. Bayi tampak merasakan sakit. Si bayi pun lazimnya menangis terus-menerus. Melihat tingkah bayi demikian, orang tuanya dengan sigap membawanya kepada seorang paraji atau ‘dukun’ untuk diobati. Paraji atau dukun  yang dimintai pertolongan untuk menyembuhkan ‘sang bayi’ biasanya memijat sambil membacakan mantra sebagai berikut:

Jampé Ticengklak
Raja aing raja pamunah 
pamunah ti qudratulloh 
pangmulangkeun asalna panyakit ti kulon 
kudu balik ka kulon 
asalna panyakit ti kalér 
kudu balik ka kalér 
asalna panyakit ti kidul 
kudu balik deui ka kidul 
asalna panyakit ti wétan 
kudu balik deui ka wétan 
asalna panyakit ti luhur 
kudu balik deui ka luhur 
asalna panyakit ti handap 
kudu balik deui ka handap 
la ilahailalloh  pasti Rosululloh
hurip hirup (ngaran nu diubaran) sebutkeun…..

Rahasia pengobatannya adalah  mantra tersebut dibacakan kemudian ditiupkan kepada anak yang sakit sambil dipijit menggunakan minyak kayu putih atau minyak kelapa, atau minyak telon. Dimaklumi, minyak kelapa maupun minyak kayu putih berguna selain untuk menghangatkan badan juga membantu melicinkan, agar bayi yang dipijat merasa nyaman dan tidak merasakan sakit. Biasanya, jika sudah dipijit, bayi tersebut merasa enak dan nyaman hingga tertidur pulas. Sebagai pengganti minyak kayu putih, selain minyak kelapa, orang tua kita zaman dahulu, menggunakan daun kayu putih, dibersihkan serta ditumbuk, ditambah sedikit air, lalu tumbukan daun kayu putih dilamsud ditempel atau diulaskan kepada bagian yang sakit sambil diurut/dipijit.
Jika orang tua zaman dahulu mendapat musibah, baik kecelakaan lalu lintas atau hanya sekedar tertoreh pisau, terkena pukulan benda tajam, atau terkena tusukan, karuhun kita biasanya mengobatinya dengan cara membacakan mantra, sambil diiringi media sebagai obat penawarnya. Seperti contoh mantra untuk mengobati luka yang tersayat bedog  atau alat lainnya, sambil membacakan mantra, luka tersayat tersebut dibersihkan dengan air lalu diolesi dengan semacam getah pohon atau minyak kelapa yang sudah dipanaskan terlebih dahulu, agar kuman yang menempel hilang. Jika lukanya dianggap parah serta darah terus-menerus mengalir, maka bagian yang luka tersebut dibalut atau dibungkus dengan kain/perban, yang sebelumnya ditutup terlebih dahulu oleh jukut palias ‘sejenis rumput’ yang sudah dikunyah lalu ditempelkan kepada bagian yang luka. Setiap hari atau dua hari sekali perban tersebut dibuka untuk diolesi minyak hangat dan getah, atau rumput, agar lukanya segera sembuh.

Jampé Raheut ku Bedog
Wesi putih ti némpél ning getih putih
nimu nanah, nimu getih
urat papulang-pulang
daging nguwul
lamad panimuan deui
getih mangpet, kulit rapet
rep saré ku panyiduh putih
waras ku pangéranna.

Jampe  Ubar Potong
Bismillah
Pituang tepung pituang
lambat tepung lambat urat tepung urat
daging tepung daging kulit tepung kulit
bulukiang tepung bulukiang
rep ripeut ripeut ku sang hiduputih
waras dijampé waras nyampé
waras ti peuting waras ti bareurang
waras Pangéran
sahadat….

Jampé Raheut
Kulit tepung kulit  
urat tepung urat
 lamad tepung lamad  
tulang tepung tulang  
pet rapet ku kersaning Alloh
(sebutkeun ngurut: tulang, urat, daging, getih, kulit, bulu)
Sarat: jukut palias dicapék tuluy ditémpélkeun di tempat nu nyeri/tatu

Jampé dan jangjawokan bukan diperuntukan dalam masalah pengobatan semata, tetapi ada juga yang digunakan untuk menamai bayi yang baru lahir, jampi tujuh bulan, sesuai dengan untaian adat istiadat yang berlaku, seperti tampak dalam contoh berikut ini:

Jampé Ngaranan Orok
Bismilah
dulu mah si jabang bayi
sekarang mah si………
jalma kadeuleu jeung nu teu kadeuleu
ulah rék ngaganggu ka si jabang bayi
nya ieu dipasihan dahar saaya-ayana
daharna ti nu kaaya rasa kurang
bubur berem bubur bodas
kupat lupet tantang angin
kéjo bongkok lauk endog.

Jampé Tujuh Bulan
Bismillah
Nyi gandru nyi bungsu
nyi bangbang téga sang kuntil
di mana koro kuro
opégawé cecekelan aing
kabupatén aing tempat sia di Pakuan Pajajaran
di sambrang di Palémbang
jug indit ka sabrang ka Palémbang
sahadat…

Rahasia tatacara pengobatannya adalah setelah membacakan mantra dilanjutkan dengan membakar kemenyan, disertai pembuatan bubur beras putih dan bubur beras merah, kupat dan tantang angin, di samping tumpeng yang berisi ayam, ikan, dan telur. Sementara itu, untuk mantra tujuh bulan, ada beberapa syarat yang harus disediakan agar bayi dan ibu yang sedang menjalani tujuh bulanan tersebut selamat dan mendapat berkah sampai melahirkan.

Jampé Kabeuleum
Seuneu putih asup ka jalma daging putih
cah rasa cah keresa
sama ludja ti tuur maung entot méang
dicecep ku kolé gedé
cep tiis cep tiis
ashadu sahadat sipating Alloh
min sara man rasa
tiis ti peuting ngeunah ti beurang
rep sirep ….rep sirep.

Jampé Ku Seungseureudan
aing nyaho di asal sia,
ti tegal ti awat-awat,
ti alas peuntas,
hutang cai taur manis,
hutang jarum tong dibayar.

Rahasia pengobatan untuk menyembuhkan bagian yang kabeuleum ‘terbakar’, selain membacakan mantra, seraya luka yang terbakar tersebut ditetesi dengan pohon kolé gedé ‘semacam tanaman air’ agar bagian yang terbakar tersebut terasa dingin, seperti yang terungkap lewat kata-kata dicecep ku kolé gedé, cep tiis cep tiis agar badan terasa dingin serta terasa nyaman, dalam pengertian rasa panas akibat terbakar tersebut seakan berhenti. Sementara itu,  untuk mengobati disengat tawon adalah sambil membacakan mantra tersebut, bagian yang tersengat diolesi dengan gula merah, seperti yang tersirat dalam larik hutang cai taur manis. Dengan demikian, diharapkan bagian yang tersengat itu menjadi dingin, tidak membengkak dan sembuh.
Mantra Pengobatan tidak hanya digunakan oleh kaum wanita, tetapi ada beberapa mantra yang juga digunakan, baik oleh kaum wanita maupun kaum pria. Salah satu jampé yang dibacakan berfungsi untuk mengobati orang yang kena guna-guna, yang dalam masyarakat Sunda dikenal dengan teluh/tenung. Jampi pengobatan yang dibacakan digunakan agar guna-guna yang disampaikan orang lain yang merasa iri dan dengki kepada kita dapat dimusnahkan, sementara orang yang diguna-gunai tersebut dapat sembuh seperti sedia kala. Jampé Penjaga Teluh  ini pun dapat digunakan sebagai singlar ‘melindungi & menjaga’ diri dari guna-guna yang ditujukan kepada kita. Jampi Penjaga Teluh kalau dilihat dari kata-kata dan tujuannya, ada yang memasukkannya ke dalam mantra hitam (black magic), namun sebenarnya tidak ada pembatas yang jelas antara mantra putih dan mantra hitam itu sendiri, jadi dalam pelaksanaannya, baik mantra putih maupun mantra hitam tergantung kepada tujuan yang ingin dicapainya, sebagaimana tampak pada contoh berikut ini:

Jampé Panjaga Teluh
Sang Ratu ilep-ilep 
Kabuyutan teluh tengah lautan 
Ratu bangbang kalangbapang 
Kabuyutan teluh pulau Jawa 
Sang ratu samur putih 
Ulah saguna-gunana 
Aing nyaho di ratu sia 
Sang ratu géréléng hérang 
Di alas peuntas 
Les leungit tanpa lebih
les ilang tanpa karana   
hirup ku Gusti 
waras ku Alloh 
hurip waras 
ku kersa Alloh 
ya hualloh 3x.

Modal utama para penghayat mantra menekuni mantra dan lebih jauhnya merasakan manfaat mantra adalah adanya keyakinan; keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang dihasilkan di luar kemampuan manusia. Mereka menyandarkan diri sepenuhnya kepada kekuasaan Allah SWT. Sikap merasa bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa menjadi dorongan yang dominan bagi usaha pemakaian mantra secara mantap. Dengan demikian, kesiapan jiwa dan raga dicurahkan secara optimal demi tercapainya suatu tujuan. Kalaupun gagal, manusia menyadari bahwa itu semua berpangkal dari kehendak yang Maha Kuasa dan berintrospeksi diri bahwa kekurangannyalah yang membuahkan ketidakberhasilan suatu tujuan.
Adapun penyertaaan nama-nama nenek moyang di samping Allah SWT, Muhammad SAW, dan nama-nama lainnya ditujukan sebagai penghormatan. Sehingga dengan penyebutan nama-nama nenek moyangnya manusia terpanggil lebih dapat menghargai peninggalan berharganya, salah satunya adalah mantra. Ketentraman hati pun tercipta manakala dirasakan adanya suasana keakraban non fisik dengan leluhurnya. Hal ini merupakan kondisi yang menguntungkan bagi terciptanya konsentrasi penuh, memohon kepada Allah agar mengabulkan permintaannya. Tentang syarat-syarat yang harus diperhatikan, baik keharusan atau larangan merupakan alat pengsugesti atau penguji. Seseorang yang berminat penuh terhadap mantra dan siap menjalankan apa yang disyaratkan untuk menghindari hal-hal yang dilarang, sudah membuktikan bahwa pada tahap awal ia telah berhasil menciptakan kekuatannya sendiri; segenap jiwa dan raganya dicurahkan demi mencapai hasil yang memuaskan.
Sejalan dengan kenyataan dari kaum penghayat mantra terhadap adanya kekuatan mantra yang dapat merealisasikan maksud yang hendak dicapainya, tentunya menarik sekali apabila dilakukan penelaahan secara tekstual terhadap mantra, untuk menemukan rambu-rambu yang mensinyalkan adanya  kekuatan yang ditimbulkan dari pembacaan mantra  oleh masyarakat penghayat mantra tersebut.  Salah satu contoh yang mensinyalkan adanya kekuatan mantra berdasarkan persepsi yang diarahkan kepada kemampuan si pengguna mantra untuk memusatkan segenap indra dan hatinya sebagaimana tampak dalam contoh-contoh mantra pengobatan. Namun, dalam mantra jampé pengobatan apabila kita cermati ada beberapa jampé yang  mengarah kepada hal-hal yang dianggap black magic.
Mengamati kekuatan yang terhimpun di dalam teks mantra di atas, benarlah kiranya pernyataan Pitcherd (1967) yang dirujuk pendapatnya oleh Sianipar, yang mengatakan  bahwa semua perbuatan magis yang penting meliputi ritus, mantra, kondisi pelaku, tradisi magis, dan faktor keyakinan. Unsur keyakinan mengikat segenap perbuatan magis dan paling menentukan berhasil atau tidak (1992: 69).
Menyimak contoh di atas, mantra putih pada dasarnya diterima seratus persen oleh para penghayat mantra; masyarakat penghayat menyandarkan diri kepada Allah atas permohonan yang diucapkannya. Adapun permintaan bantuan kepada suatu faktor alami atau non alami disertai itikad bahwa efektivitasnya bersandar kepada Allah dan diyakini bahwa Allahlah yang memberi ijin efektivitas kepada faktor-faktor itu. Jika Allah menghendaki, sewaktu-waktu akan ditariknya kembali efektivitas tersebut dan dijauhkan darinya.
Keberterimaan lainnya dari masyarakat terhadap mantra adalah sejauh mana berfungsi untuk kebaikan serta dirasakan manfaatnya oleh sendiri dan atau orang lain, maka mantra  dapat diterima. Tetapi tidak ada toleransi untuk mantra yang berfungsi mencelakai atau memperdayakan orang lain. Masyarakat penghayat mantra menolak kehadiran dan penggunaan black magic tersebut.
Baik jampé maupun jangjawokan ada syarat-syarat tertentu yang harus dilaksanakan oleh pengguna agar mantra atau jampénya sempurna, seperti misalnya harus berpuasa selama delapan hari dan selama itu pula orang tersebut tidak boleh tidur, lalu harus berendam di sungai, atau mandi  di tujuh pancuran, serta jangan sampai bertemu dengan orang lain. Ada juga yang mensyaratkan supaya mutih selama empat puluh hari, dan sebagainya. Berat ringannya syarat yang harus dilakukan oleh penghayat, tergantung pula kepada jenis mantra yang akan digunakannya. Menurut kepercayaan penghayat mantra, apabila syarat-syarat tersebut belum terpenuhi, maka mantra yang diucapkannya tidak akan mempan.
Mantra hitam (black magic) yang lebih dikenal secara umum oleh masyarakat Jawa Barat sebagai teluh atau tenung atau santet sebagaimana dikenal di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur,  secara definitif dapat diartikan merusak secara halus (ilmu gaib). Dalam arti yang luas, teluh berarti merusak hal-hal yang baik agar menjadi rusak. Seperti orang sehat diteluh agar sakit, orang berumur panjang diteluh agar segera meninggal, usaha yang maju diteluh agar bangkrut. Orang awam menganggap pengertian teluh sebagai upaya menyakiti atau membunuh pihak lain, caranya mengirim paku, jarum, silet, botol, dan sebagainya dalam perut seseorang atau anggota badan lainnya yang dikehendaki. Mantra hitam (Black Magic) yang dimaksud  pada kenyataannya di lapangan diperoleh dalam jumlah yang  sangat sedikit, itu pun kebanyakan  berasal dari mantra putih (white magic). Hal ini dapat dipahami karena fungsi utama mantra, yaitu yang terkandung dalam mantra putih lebih mendominasi kehadirannya. 
Mantra hitam (black magic) yang dimaksudkan adalah mantra pendendam dan mantra perdayaan.  Mantra pendendam adalah mantra pembalasan atas perbuatan jahat orang yang mengirimkan mantra untuk mencelakai si pembalas.  Mantra ini diklasifikasikan sebagai mantra hitam karena ada motif mendendam dan ingin mencelakai orang yang mencoba mencelakainya. Adapun menurut kalangan paranormal, mantra hitam yang lebih dikenal sebagai santet atau teluh terbagi atas beberapa jenis, yaitu: Dematrealisasi, Teluh kontak, Teluh kekuatan aku batin, Teluh kekuatan roh, dan Teluh ngelmu.
Mantra hitam atau black magic baik yang bertujuan untuk mencelakai atau memperdayakan orang dapat ditolak atau dicegah dengan beberapa cara. Langkah pencegahan terhadap teluh yang paling utama ialah kita harus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa di samping harus tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT. Hikmah dari berserah diri tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu tidak mudah kecut atas gertakan dari pihak lain karena kita yakin bahwa setiap makhluk hidup ada yang menghidupi dan sudah tentu ada yang menjaganya.
Surat Al-Baqarah: 102 menjelaskan bahwa Allah SWT. berfirman “sihir tidak akan memberikan mudharat (bahaya) melainkan ada izin dari Allah”. Hikmah dari ayat ini, apabila kita sudah mengetahui bahwa sihir tidak memberikan efek apa-apa jika tidak disertai izin Allah maka perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT. Agar diri kita selalu terhindar dari bahaya sihir. Dengan kata lain, agar setiap sihir (santet, teluh, ilmu hitam) yang diarahkan kepada kita tidak diizinkan untuk menimbulkan bahaya.
Pada dasarnya, baik mantra putih maupun mantra hitam, keberhasilannya tidak ditentukan dari hasil ikhtiar manusia (paranormal atau dukun). Mantra putih terkadang juga gagal dimanfaatkan, mantra hitam pun demikian. Manusia bukanlah Allah yang sanggup mengendalikan segala kejadian. Secara alami teluh dapat ditanggulangi dengan memperkuat aura tubuh dengan jalan memperkuat kesehatan jasmani dan rohani. Semakin kuat jasmani dan rohani, makin kecil kemungkinan mampu dipengaruhi daya-daya dari luar tubuh, termasuk kekuatan santet dan sejenisnya.
Aura bersifat melindungi, tetapi keberadaannya melemah manakala seseorang berada dalam kondisi jasmani rohani yang rapuh. Aura diperlemah oleh jiwa yang skeptis pesimistis, kurang berolah raga, kurang menghirup udara segar, kurang istirahat, makanan yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh, stres, alkohol, tembakau, obat-obatan terlarang, dan kebiasaan hidup tidak teratur. Sedangkan hal-hal yang memperkuat aura adalah kondisi jasmani yang sehat, cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan kondisi batin yang tenang.
Konsep yang efektif menanggulangi teluh, menurut ilmu tenaga dalam (batin) adalah melakukan olah gerak, pernapasan dan dzikir. Tiga aktivitas ini diyakini mempengaruhi jiwa seseorang menjadi kuat lahir dan batin.
Teluh merupakan energi. Untuk menanggulanginya sudah tentu dengan kekuatan yang serupa. Energi ini bisa ditambah melalui serapan alam sekitar, seperti energi bumi yang terserap secara baik menyebabkan orang itu kebal terhadap teluh. Orang-orang terdahulu meyakini, seseorang yang bersentuhan dengan bumi-apalagi secara langsung- maka sulit dipengaruhi kekuatan dari luar tubuhnya. Adapun energi tertinggi dari semua energi adalah energi spiritual. Orang yang rutin melakukan dzikir-dzikir asma Allah SWT dan jenis dzikir lainnya, apabila dzikir itu dihayati dan mempengaruhi kondisi batinnya menjadi tentram, insya Allah, teluh pun sulit untuk menerobos.
Menurut ilmu yang berkembang di lingkungan agamawan, seseorang yang mengolah rohaninya maka Allah SWT langsung menjaganya. Sehingga teluh yang pada umumnya digerakkan oleh energi rendah pun tidak mampu mempengaruhi. Oleh karena itu, ada berbagai metode menanggulangi teluh, seperti dengan membaca Ayat Kursi menjelang tidur, Surat Al-Alaq, An-Naas, dan sebagainya. Selain hikmah dari bacaan yang memiliki nilai ibadah dan pancaran energinya, dzikir memiliki efek yang positif dalam membangkitkan rasa percaya diri dan menjauhkan pikiran menjadi kosong.
Teluh selain yang berjenis dematrelisasi, lebih menyerang secara psikologis (kejiwaan). Karena itu orang yang terserang teluh ditandai dengan perilaku yang tidak wajar, seperti sering mimpi buruk-dikejar-kejar orang yang menelu, keyakinan diri rendah, sering mendengar suara tanpa rupa, sulit memusatkan konsentrasi, tidak kerasan tinggal di rumah dan sebagainya. Gejala yang bersifat psikologis itu akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Biasanya pada bagian tubuh tertentu akan merasa sakit yang berpindah-pindah. Selanjutnya orang iru akan menderita suatu penyakit yang sudah ada gelaja sebelumnya. Dengan demikian, jalan satu-satunya yang harus kita tempuh menghadapi guna-guna tersebut adalah dengan cara beriman dan bertawakal kepada Alloh SWT. Agar kita selalu dihindarkan dari orang-orang yang akan dan ingin memperdaya dan mencelakai kita.  

Berkaitan dengan masalah pro dan kontra masyarakat terhadap keberadaan mantra, untuk menengahinya dalam uraian ini,  sangat perlu disertakan dalam bagian ini.
Konsep mendasar dikemukakan oleh Subhani, berupa dua buah pertanyaan, yaitu: (1) apakah meminta bantuan kepada selain Allah adalah syirik? (2) apakah meminta penyembuhan selain kepada Allah adalah syirik? Untuk pertanyaan pertama dijelaskannya bahwa meminta bantuan (isti’anah) kepada selain Allah dapat terwujud dalam dua bentuk:
a. Meminta bantuan kepada suatu faktor alami atau nonalami (dalam arti memanfaatkan faktor-faktor tersebut) disertai I’tikad bahwa efektivitasnya bersandar kepada Allah, yakni bahwa ia mampu menolong manusia dan menghilangkan problem-problem mereka dengan kekuatan dan kemampuan yang diperolehnya dari Allah SWT. Ini merupakan beristi’anah juga karena di dalamnya mengandung pengakuan bahwa Dialah yang telah memberi efektivitas tersebut kepada faktor-faktor itu. Dan dengan izin-Nya pula, jika Allah menghendaki, sewaktu-waktu akan ditarik-Nya kembali efektivitas tersebut dan dijauhkan dari padanya.
b. Jika seorang meminta bantuan kepada seorang manusia lainnya, atau faktor alami atau nonalami, disertai I’tikad bahwa ia bebas mandiri sepenuhnya dari Allah SWT, dalam eksistensinya atau perbuatannya, sudah barang tentu I’tikadnya itu adalah syirik dan isti’anahnya itu adalah ibadah kepada manusia tersebut.

Menanggapi dua wujud permintaan, kunci untuk menghilangkan kontradiksi antar keduanya adalah harus disadari bahwa di alam raya ini hanya terdapat satu pemberi pengaruh Yang Sempurna dan Mandiri sepenuhnya, yang tidak bersandar kepada siapa pun selain diri-Nya baik dalam eksistensi-Nya maupun aktivitas-Nya, yaitu Allah SWT. Sedangkan faktor-faktor lain, semuanya membutuhkan, dalam eksistensi dan aktivitasnya, kepada Allah SWT. Faktor-faktor ini melaksanakan kerjanya dengan izin-Nya, kehendak-Nya, dan kekuatan-Nya. Seandainya Dia tidak memberikan kekuatan, dan kehendak-Nya tidak menetapkan pemberian suplai kepadanya, niscara semua itu tidak memiliki kekuatan atau kemampuan apa pun. (lihat Subhani, 1992:168-190).
Pertanyaan kedua: apakah meninta penyembuhan dari selain Allah itu adalah syirik? Kiranya perlu dijelaskan bahwa kesembuhan adakalanya dinisbahkan kepada Allah SWT, dan  adakalanya kepada sebab-sebabnya yang dekat dan berpengaruh terhadapnya, dengan izin Allah. Adakalanya Allah menisbahkan kesembuhan kepada selain-Nya, seperti Al-Quran dan madu, seperti dalam firman-Nya:

“Di dalamnya (madu) terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS, XVI:69).

“Dan kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS, XVII:82)

Cara memadukan ayat-ayat tersebut, yaitu menyatakan bahwa penyembuhan yang hakiki dan mandiri sepenuhnya adalah termasuk perbuatan Allah sendiri. Namun sebagai suatu yang bersifat mengikuti dan tidak mandiri, penyembuhan dapat pula dinisbahkan kepada sebab-sebab lain. Dialah (Allah) yang telah menciptakan sebab-sebab ini dan menyimpankan efek dan khasiat-khasiat ke dalamnya, maka ia pun bekerja dan berefektivitas dengan izin serta kehendak-Nya.
Jadi, dalam contoh di atas, jika seseorang meminta penyembuhan kepada seorang di antara wali-wali Allah dengan memandang kepada segi ini (yakni bahwa mereka hanya berefektivitas dengan izin, kehendak, dan kekuatan-Nya), maka perbuatannya itu adalah jaiz (dibolehkan) dalam syariat, dan benar-benar bersesuaian dengan tuntutan tauhid. Hal ini mengingat bahwa tujuan permintaan kesembuhan dari para wali ini ialah benar-benar seperti meninta kesembuhan dari madu dan obat-obatan kedokteran. Hanya saja dapat dikatakan bahwa madu dan obat-obatan memberi pengaruh tanpa adanya kehendak dan penerapan pada dirinya sedangkan yang dilakukan Nabi dan wali ialah dengan kehendak dan ikhtiar (kemampuan memilih). Maja tujuan meminta penyembuhan dari seorang wali, tka lain adalah pengimbaunya agar mempergunakan kekuatan yang diberikan dengan izin Allah. Hanya yang perlu dipertimbangkan apakah permintaan seperti itu bersesuaian dengan tauhid atau tidak (Subhani, 1992:168).
Demikianlah uraian mengenai permintaan bantuan dan kesembuhan. Dengan menelaah kembali keterangan lainnya, penjelasan di atas dapat dijadikan pegangan sehubungan dengan adanya penggunaan fungsi mantra putih, yaitu untuk permohonan perlindungan, kekuatan, dan pengobatan; dan tentunya dapat disangkutpautkan pada jenis perilaku magis yang bersesuaian dengan batas-batas yang telah ditentukan seperti di atas.
Perilaku magis yang ada di masyarakat tidak terlepas dari kehidupan keislaman yang mendasari seluruh tingkah lakunya dalam hidupnya. Keyakinan utama mereka adalah apa yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan tertentu semata-mata hanyalah mencari keridlaan-Nya dan berserah diri bahwa apa yang telah diusahakannya hanya Allah jua yang menentukan.

5. Penutup
Modal utama para penghayat  menekuni  dan merasakan manfaat mantra adalah adanya keyakinan; keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang dihasilkan di luar kemampuan manusia. Batas penerimaan mantra oleh para penghayat adalah sejauhmana mantra itu berfungsi untuk kebaikan serta dirasakan manfaatnya oleh sendiri atau orang lain, namun tidak ada toleransi/menolak  mantra hitam (black magic) yang berfungsi mencelakai atau memperdayakan orang lain.  
Mantra tidak mendapat tempat di sebagian masyarakat karena muatan teks dan perilaku magis lainnya yang menurutnya bertentangan dengan akidah Islam. Antipati mereka terhadap perilaku magis ini masih dalam batas kewajaran. Mereka satu sama lainnya (dengan masyarakat penghayat mantra putih) masih dapat menjalin hubungan dan memfungsikan dirinya sebagai anggota masyarakat yang baik, tetapi tidak ada toleransi untuk penghayat mantra hitam (black magic).
Hal yang paling esensi dari aspek filosofis mantra sebagai penutup tulisan ini adalah adanya faktor  yang sangat dominan yang memberi ciri adanya kekuatan mantra yang dipercaya masyarakat. Bekal ketauhidan masyarakat menjadi hal penting; manusia percaya bahwa kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya atau kejadian langsung yang menimpanya tidak terlepas dari kekuasaan Allah SWT. Manusia meminta bantuan kepada suatu faktor alami atau nonalami disertai i’tikad bahwa efektivitasnya bersandar kepada Allah, yakni bahwa ia mampu menolong manusia dan menghilangkan masalah-masalah mereka dengan kekuatan dan kemampuan yang diperolehnya dari Allah SWT dan dengan izin-Nya. Demikian juga dengan yang dimintai pertolongan hanya mampu memberikannya dengan bersandar pada kekuasaan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri dan bukan secara mandiri sepenuhnya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Athar, Abdul Kholiq.
1997 Menolak dan Membentengi Diri Dari Sihir. Bandung: Pustaka Hidayah.
Danandjaja, James.
1994  Folklore Indonesia: Ilmu Gosip,  Dongeng,   dan   Lain-lain.   Jakarta: Grafiti.
Darsa, Undang Ahmad.
1998   Khazanah Pernaskahan Sunda. Bandung: Fakultas Sastra Unpad.
Ekadjati, Edi Suhardi.
1988 Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Kerjasama Lembaga Kebudayaan Unpad dengan The Toyota Foundation.
Ikram, Achadiati
1976 “Sastra Lama Sebagai Penunjang Kebudayaan Sastra Modern” Majalah Bahasa Sastra. No. 6 Tahun I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan  Pengembangan Bahasa.
Mulder, Niels.
1984  Kebatinan dan Hidup Sehari-hari orang Jawa. Jakarta: Gramedia.
Mustappa, Abdullah.
1995   Kamus Sastra. Bandung: PT Granesia
Robson, S.O.
1978 Filologi dan Sastra-Sastra Klasik Indonesia. Bandung: Tjupu Manik.
Rusyana, Yus.
1970. Bagbagan Puisi Mantra Sunda . Bandung:   Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda.
Sianipar, T., dkk.
1992  Dukun-Mantra: Kepercayaan Masyarakat. Jakarta: Grafikatama Jaya.
Subhani, Syaikh Ja’far.
1992. Tauhid dan Syirik. Bandung: Mizan. 
Suroso, Imam.
1999  “Santet,  Magis  atau Psikis?”, dalam Menguak Rahasia Supranatural. Solo:  CV. Aneka.
Suryani, Elis.
1990 Wawacan Panji Wulung: Sebuah Kajian Filologis (Thesis). Bandung: Fakultas Pascasarjana Unpad.
1995 Wawacan Raramendut: Sebuah Kajian Filologis. Jakarta: Program Penggalakan Kajian Sumber-Sumber Tertukis Nusantara.
2001 Magic Yang Terungkap Dalam Khazanah Naskah Sunda: Tinjauan Filologis dan Analisis Fungsi (Tahap I). Jakarta: Program Penggalakan Kajian Sumber-Sumber Tertulis Nusantara.
2002   “Magic” Eksistensi dan Fungsinya Dalam Kehidupan Masyarakat Sunda Masa Kini”. (Laporan Penelitian). Bandung: Pusat Penelitian Kemasyarakatan Dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.
Teeuw, A.
1984 Sastra dan Ilmu Sastra. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek, Rene dan Warren, Austin.
1989  Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia.