Ramuan Obat Hangat Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, Kanjeng Sunan Kudus dari Mekah, dan Loloh dalam Naskah “Buku Jampi” Koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman

PENGANTAR
Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990 : 180).
“Budaya “ adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa , sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu sendiri (Koentjaraningrat, 1990 : 182).
Kebudayaan lama yang sudah ada beberapa abad yang lampau dapat dikenal kembali dalam bermacam-macam bentuk antara lain dalam bentuk tulisan yang terdapat pada batu, candi-candi, atau peninggalan purbakala yang lain, dan naskah-naskah. Peninggalan suatu kebudayaan yang berupa naskah merupakan dokumen bangsa yang paling menarik bagi peneliti kebudayaan lama karena memiliki kelebihan, yaitu memberi informasi yang luas dibandingkan peninggalan yang berbentuk puing bangunan besar seperti candi, istana raja dan pemandian suci (Soebadio, 1975 : 1).

Dalam naskah-naskah tersebut dimuat berbagai macam informasi mengenai cerita sejarah, silsilah peradaban para raja, hukum dan peraturan, agama, primbon, tari-tarian, musik, adat istiadat, bahasa, piwulang, maupun kesehatan.
Buku jampi (selanjutnya disingkat BK) ini merupakan buku milik Gusti Adipati Anem yang berisi tentang resep-resep jamu dan param lengkap dengan cara pembuatannya. Di antara resep-resep tersebut terdapat ramuan untuk bayi, racikan jamu penambah kekuatan daya tahan tubuh, obat hangat yang diberkahi oleh Sultan Agung, serta jamu dengan berkah dari Sunan Kudus.
Hal tersebut menunjukkan adanya tradisi yang dapat digali dan dikembangkan keberadaannya dalam dunia kesehatan manusia yang bersumber pada naskah atau hasil cipta, dan karya leluhur dalam Buku Jampi yang diharapkan mampu menjadi obat yang berguna bagi manusia era sekarang. 
Ruang lingkup yang akan diungkapkan dari naskah Buku Jampi tersebut adalah jenis bahan dasar ramuan jamu, dan takaran dari Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma yang berasal dari Mekah.

Pethikan saking Kagungan Dalem buku primbon ingkang sampun sakeca ungelipun:

Kutipan dari Kagungan Dalem buku primbon yang sudah diperbaiki bunyinya :

Adapun seluruh bahan dasar tersebut, setelah diolah akan menjadi jamu atau obat seperti tertuang pada teks :

Menggah paedahipun jampi ubat anget wau :
Waja ogak saged kekah malih
Sarira abuh dados kempes
Karna tuli dados tengen
Penggalih peteng dados padhang
Penggalih kurang mangertos dados lantip
Panggraita kirang saged dados graita kathah
Sarira cape dados kuwawi
Penggalih sungkanan saged dados kas
Paningal lamur saged dados terang
Rikma kaken saged dados lemes
Mustaka puyeng saged ical (Raras Alit, 2009 : 34)

Adapun manfaat jamu obat hangat tadi :
Gigi yang goyah bisa kuat kembali
Badan bengkak bisa kempis
Telinga tuli menjadi bisa mendengar kembali
Perasaan muram menjadi ceria
Rasa kurang mengerti menjadi pandai
Daya tangkap yang kurang mengerti menjadi banyak mengerti
Badan lelah menjadi bugar 
Rasa lesu bisa menjadi semangat
Penglihatan kabur bisa menjadi jelas
Rambut kaku bisa menjadi lemas
Kepala pusing bisa menjadi sembuh   (Raras Alit, 2009 : 46-47)

Ruang lingkup yang kedua adalah adanya tulisan yang dalam naskah Buku Jampi yang mengungkapkan jenis bahan dasar ramuan jamu, takaran, dan juga cara konsumsinya dari Kanjeng Sunan Kudus, yang sama-sama berasal dari Mekah namun  ada sedikit ramuan yang berbeda.

Racikan jampi ubat anget malih ; barkah saking Kangjeng Sunan Kudus; asalipun tunggil sami saking Mekah; nanging racikanipun wonten ingkang geseh sawetawis.
Pratelanipun kados ing ngandhap punika.

Ramuan jamu obat hangat lagi, berkah dari Kanjeng Sunan Kudus, asalnya sama dari Mekah, tetapi ada beberapa ramuannya yang berbeda.
Daftarnya seperti di bawah ini :

(Raras Alit, 2009 : 47)

Seperti telah disebutkan di atas, teks yang memuat tentang obat dari ramuan Kanjeng Sunan Kudus, menjelaskan cara mengkonsumsinya. Hal itu tertuang pada :

Anyebutaken prayogining ingatasipun sakathahing umat Mukamad : jaler, estri, sepuh, anem, rare sami ajampia ubat anget punika. Wancinipun enjing saderengipun dhahar punapa-punapa. Manawi badhe dhahar jampi ubat wau, mawi ngemelaken Surat Alkamdu. Menawi sampun ngunjuk, lajeng dipun unjuki wedang.
Menggah kathah kedhikipun anggenipun dhahar jampi wau :
Bilih panjenengan sepuh : wawrat 4 ketheng
Bilih panjenengan enem : wawrat 3 ketheng
Bilih panjenengan lare : wawrat 1¼ ketheng
Lamenipun anggenipun dhahar : 8 dinten 8 dalu, kasrantosaken raosipun dhateng sarira. Wonten ingkang kraos sakeca punapa boten, bilih sakeca prayogi kalajengaken dhahar jampi ubat anget saben enjing ngantos sakaparengipun panggalih.
Bilih sarira dereng wonten ingkang kraos sakeca pandhaharipun jampi wau kenging dipun-indhaki sawetawis ingkang ngantos saged kraos dhateng sarira yen sampun angsal 8 dinten 8 dalu; mongka sarira boten kraos punapa-punapa, inggih prayogi kendel, tegesipun boten condhong, kendel anggenipun ngunjuk jampi ubat anget wau  (Raras Alit, 2009 : 36).

Mengucapkan puji syukur sebagai umat Muhamad, baik itu pria, wanita, tua, muda, anak-anak, hendaknya semua mengkonsumsi jamu hangat tersebut. Waktunya pagi hari sebelum makan apa-apa. Apabila akan mengkonsumsi jamu obat tadi, dengan melafalkan  surat Alkamdu. Bila sudah minum jamu, lalu minum air matang. 

Adapun banyak sedikitnya mengkonsumsi jamu tersebut :
Bila anda adalah orang tua : seharga 4 ketheng
Bila anda adalah remaja : seharga 3 ketheng
Bila anda adalah anak-anak : seharga 1¼ ketheng
Lama mengkonsumsi : 8 hari 8 malam dirasakan rasanya di tubuh. Ada yang terasa enak atau tidak, bila enak bisa dilanjutkan mengkonsumsi jamu obat hangat tadi setiap pagi hari sesuai kebutuhan.
Bila tubuh belum terasa nyaman, pengkonsumsian jamu tadi dapat ditambah sampai terasa di badan. Apabila sudah mencapai 8 hari 8 malam, padahal tubuh tidak terasa apa-apa, sebaiknya berhenti, berarti tidak cocok, berhenti mengkonsumsi obat hangat tadi (Raras Alit, 2009 : 48).

Terkait dengan manfaat jamu obat hangat yang merupakan berkah dari berkah dari Kanjeng Sunan Kudus, manfaat dari berkah Kanjeng Sunan Kudus tersebut sama halnya dengan manfaat yang telah diungkapkan pada ajaran Sultan Agung. Hal tersebut tampak pada teks yaitu

Menggah paedahipun jampi ubat anget wau sami nunggil kados wawarah saserepan ing Sultanagungan. Warahipun ugi boten kenging amaiben (Raras Alit, 2009 : 36).

Adapun manfaat jamu obat hangat tadi sama dengan yang diutarakan oleh Sultan Agung. Ajarannya tidak boleh disangsikan (Raras Alit, 2009 : 48).

Terlepas dari obat hangat berkat dari Sultan Agung serta Kanjeng Sunan Kudus, ruang lingkup yang ketiga adalah bagian teks yang mengungkapkan naskah Buku Jampi mengenai ramuan untuk bayi. Ramuan untuk bayi tersebut diantaranya tentang ramuan jamu loloh , ada beberapa loloh yaitu Loloh anggi-anggi (Ramuan jamu loloh), Loloh bayi sakderengipun sepeken (Loloh bayi sebelum sepasar), Loloh kagem menawi sampun dhaut (Loloh (bayi) apabila sudah dhaut), Kagem loloh bayi bibar dhaut (Loloh untuk bayi setelah dhaut), Kagem loloh bayi yuswa nem wulan utawi sedasa wulan (Loloh untuk bayi usia enam bulan atau sepuluh bulan).

Berikut ini adalah beberapa keterangan mengenai loloh bayi :

Loloh anggi-anggi
Bumbonipun :
Cengkeh, adas, pulasari, jung pandhan, kemukus, seprantu, sukmadiluwih, jakeling, jenitri, iwak gemi, patasari, kembang pulu, kresani, muja-muju, kembang apyun, sari kuning, sintok, mesoyi, pucuk ganthi, jong raab, kemukus, jinten ireng, jeruk purut, dlingo, bengle, kembang lawang, menyan, madu, toyanipun godhong kemuning, godhong jeram pecel, godhong sri gading, godhong soka (Raras Alit, 2009 : 30).

Ramuan jamu loloh
Bahannya :
Cengkeh, adas, pulasari, daun pandan, kemukus, seprantu, sukmadiluwih, jakeling, jenitri, ikan gemi, patasari, kembang pulu, kresani, muja-muju, kembang apiun, sari kuning, sintok, mesoyi, pucuk ganti, jong raab, kemukus, jintan hitam, jeruk purut, dlingo, bengle, kembang lawang, kemenyan, madu, air perasan daun kemuning, daun jeruk pecel, daun sri gading, daun soka (Raras Alit, 2009 : 42-43).

Loloh bayi sakderengipun sepeken
Brambang, sunthi, jeram pecel, jung kelor, dipungodhog kaliyan sekul sekedhik (Raras Alit, 2009 : 31).

Loloh bayi sebelum sepasar
Bawang merah, sunti, jeruk pecel, daun kelor direbus dengan sedikit nasi (Raras Alit, 2009 : 44).

Loloh kagem menawi sampun dhaut
Godhong lo, temu brambang, adas, pulasari, duduh jeram pecel sekedhik. Kagemipun menawi enjing, sapindhah kemawon. Ngunjukipun malih menawi sampun sadasa dinten sarta setengah wulan (Raras Alit, 2009 : 32).

Loloh (bayi) apabila sudah dhaut
Daun lo, umbi bawang merah, adas, pulasari, sedikit air jeruk pecel. Digunakan di pagi hari, sekali saja. Diminum lagi ketika sudah sepuluh hari dan juga setengah bulan (Raras Alit, 2009 : 44).

Kagem loloh bayi bibar dhaut
Oyot krokot, oyot ceplukan, bayem lemah, adas, pulasari, pala, kayu legi. Palanipun kedah sakuwos utawi godhong sangkobak salembar (Raras Alit, 2009 : 32).

Loloh untuk bayi setelah dhaut
Akar krokot, akar ceplukan, bayam tanah, adas, pulasari, pala, kayu manis,  palanya harus sebesar butiran beras atau satu lembar daun sangkobak (Raras Alit, 2009 : 44).

Kagem loloh bayi yuswa nem wulan utawi sedasa wulan
Oyot suket lulangan, oyot tapak liman, oyot ceplukan, oyot bayem lemah, oyot krokot,  jung dhadhap, kerokan dhadhap, godhong sangkobak saklembar. Bumbonipun : dlingo, bawang, adas, pulasari, temu brambang, jeram pecel; sadaya sakedhik kemawon (Raras Alit, 2009 : 32). 

Loloh untuk bayi usia enam bulan atau sepuluh bulan
Akar rumput lulangan, akar tapak liman, akar ceplukan, akar bayam tanah, akar krokot,  daun dadap, dadap yang kerok, daun sangkobak satu lembar. Bahannya : dlingo, bawang putih, adas, pulasari, umbi bawang merah, jeruh pecel, semuanya sedikit saja (Raras Alit, 2009 : 45). 

SIMPULAN
Berbagai macam jenis bahan ramuan yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan obat-obatan tradisional dalam naskah Buku Jampi, menunjukkan bahwa pada jaman dahulu, masyarakat pandai untuk memanfaatkan hasil alam yang kemudian dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan obat tradisional. Cara pembuatannya pun praktis, cukup dengan menumbuk bahan-bahan yang ada dengan alat seadanya. Seluruh bahan dasar yang digunakan sebagai ramuan tersebut di atas, tentunya memiliki kandungan kimia, kasiat, dan fungsinya sendiri-sendiri.
Melalui artikel ini diharapkan ada pihak-pihak terkait yang mengetahui lebih dalam mengenai manfaat dan kandungan-kandungan tanaman atau bahan tersebut yang dapat mengembangkan ramuan tersebut sebagai obat yang berguna bagi masyarakat era sekarang dengan dengan takaran yang tepat.

LAMPIRAN

TANAMAN OBAT BESERTA KHASIAT MASING-MASING SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN OBAT DALAM BUKU JAMPI

Adas / foeniculum vulgare :
Pada anak-anak selain sebagai aroma, digunakan sebagai obat pada gangguan pencernaan, pengencer dahak,

Bulat kecil, bagian buah berwarna hijau kekuningan sampai coklat kekuningan, panjang 3-12 mm, lebar 2-4 mm

Cabe / piper retrofractum  :
Cabe memiliki khasiat sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas.

Bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang masih muda berwarna hijau, keras dan pedas, kemudian warna berturut-turut menjadi kuning gading dan akhirnya menjadi merah, lunak dan manis.

Bayam tanah / Amaranthus blitum
Batang bersama daun Amaranthus blitum berkhasiat untuk memperbaiki pencernaan dan tambah darah.

Dlingo / Acorus calamus
Rimpang Acorus calamus berkhasiat sebagai obat penenang, obat lambung, dan obat limfa, di samping itu merupakan bahan baku kosmetika.

Bengle / Zingiber Purpureum
Rimpang Zingiber purpureum berkhasiat sebagai obat demam, obat perut, nyeri, obat sembelit, obat masuk angin, obat cacing dan obat encok.

Untuk obat demam dipakai ± 15 gram rimpang segar Zingiber purpureum

Ciplukan / Physalis angulata
Akar tumbuhan ciplukan pada umumnya digunakan sebagai obat cacing dan penurun demam. Daunnya digunakan untuk penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah. Buah ciplukan sendiri sering dimakan untuk mengobati epilepsi, tidak dapat kencing, dan penyakit kuning.

Daun kelor / Moringa pterygosperma
Kurap (herpes) dan luka bernanah, kurang nafsu makan, epilepsi, histeri, sariawan, sulit buang air kecil, badan lemah, sakit kuning, rematik serta pegal linu, beri-beri dan udim, biduran dan alergi, rabun ayam, dan mengandung gizi yang tinggi.

Jeruk pecel / jeruk nipis / Citrus aurantifolia, Swingle
Lelah, batuk, influenza, kecantikan kulit, bau badan diare, amandel, malaria, ambeien, sesak nafas, sakit panas, sembelit, terlambat haid, perut mules saat haid, disentri, perut mulas, perut mual, lelah, dan keriput wajah.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, Prof. Dr. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan Kedelapan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia : J.E. Wolters ‘Uitgevers Maat Schappij N.V. Groningen.
Raras Alit, Paksi. 2009. “Buku Jampi (Suntingan Teks dan Terjemahan)”. Skripsi S-1 Jurusan Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada.
Soebadio, Haryati. 1975. “Penelitian Naskah lama Indonesia”. Bulletin Yaperna, No : 7-11 Juni.
Sumber internet :
http://abuanjeli.wordpress.com
http://www.google.co.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe_jawa
http://ksupointer.com/berbagai-manfaat-ciplukan
http://www.kabarmadura.com/daun-kelor-si-kecil-yang-besar-manfaatnya.html
http://www.blogster.com/firsonigosa/kelor-tanaman-bermanfaat-untuk-berantas-gizi-buruk
http://informasidantips.com/search/gambar+daun+kelor/
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2008/05/jeruk-nipis-si-kecil-yang-besar-manfaatnya
http://lenterahati.web.id/tag/manfaat-jeruk-nipis