Resepsi Jawa Atas Teks Islam: Contoh Dari Naskah MSB/H.15/SK 92 Koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Naskah-naskah Islam di Jawa setidaknya dapat menggambarkan penerjemahan, reinterpretasi dan dialog tradisi Islam dan tradisi Jawa (Ricci, 2011). Semuanya merupakan wujud dari sebuah resepsi teks. Reinterpretasi adalah pengubahan bentuk, makna atau guna suatu unsur kebudayaan, untuk membuat unsur tersebut dapat diterapkan dan digunakan dalam kondisi-kondisi yang relatif baru. Reinterpretasi juga dapat berupa penyusunan kembali pengalaman-pengalaman baru untuk membuat cocok dengan bentuk dan isi kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Hal inilah yang membuat pewarisan atau pengalihan kebudayaan tidak dapat dipastikan atau ditentukan prosesnya, yang jelas fungsi penting reinterpretasi adalah untuk memudahkan peminjaman atau pengambilan antarelemen budaya yang baru dengan elemen budaya lain dalam suatu sistem budaya tertentu (Honigmann, 1959: 237).
Reinterpretasi tentu diawali dengan dialog. Dialog melahirkan produksi/ reproduksi kebudayaan. Reinterpretasi dan dialog Jawa atas ajaran dan unsur Islam melahirkan “Islam-Jawa.” Dalam konteks naskah-naskah Islam di kraton Yogyakarta, reinterpretasi ini tidak selamanya melahirkan “Jawanisasi Islam,” yang ajaran dan unsur Islam dijawakan dengan bentuk dan isi kebudayaannya, namun juga sekaligus menghasilkan “Islamisasi Jawa,” misalnya isi ajaran Islam yang ditampilkan mewarnai teks-kesastraan/narasi Jawa serta ajaran-ajaran sufisme yang diformulasikan dalam budaya Jawa, bahkan, sebagaimana naskah yang akan dideskripsikan di bawah ini, sangat menunjukkan penerimaan ajaran Islam yang, beberapa ahli menyebutnya, ortodoks.

Tentang Naskah
Naskah ini terdaftar di koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo dengan nomor kode koleksi MSB/H.15/SK 92 (selanjutnya naskah SK 92) yang masuk dalam kategori naskah-naskah hukum. Kode naskah SK adalah singkatan dari studie collective, artinya naskah SK 92 adalah bersumber dari koleksi naskah-naskah studie collective, yang merupakan koleksi sumber-sumber penelitian yang dikumpulkan oleh Java Institute (berdiri pada tahun 1935 oleh Hossein Djajadiningrat). Hanya ditemukan satu naskah dalam Perpustakaan Museum Sonobudoyo. Untuk itu saya kemudian mencoba mencari di Perpustakaan Widya Budaya dan Perpustakaan Krida Mardawa Kraton Yogyakarta melalui Katalog Naskah Kraton Yogyakarta yang disusun oleh Lindsay dkk (1994), Katalog Naskah-Naskah Perspustakaan Pura Pakualaman (Saktimulya, 2005), juga Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (1998), namun dari ketiga katalog tersebut saya tidak menemukan naskah yang sama.

R.M. Soetanto (penyusun katalog) membuat judul naskah ini menjadi tiga, yakni judul umum, judul dalam teks dan judul luar teks. Tidak ditemukan keterangan judul di dalam teks, tetapi menurut Soetanto dalam judul di luar teks terdapat kata Kitap, letaknya di lembar sampul dalam, sedangkan judul umumnya Soetanto memberikan judul Kempalan Kitab-Kitab Islam (Kumpulan Kitab-Kitab Islam). Ini mungkin kesimpulan yang diambil dari penelaahan Soetanto bahwa memang teks dalam naskah ini banyak mengutip atau merujuk pada kitab-kitab tauhid dan fikih yang sudah dikenal di kalangan pesantren. Menurut saya hal ini kurang tepat, sebab jika judulnya demikian akan mengesankan bahwa naskah ini terdiri dari kumpulan teks kitab-kitab yang terpisah, padahal dilihat dari sistematika teksnya, naskah ini bukanlah kumpulan teks, tetapi memang satu teks yang sengaja dibuat untuk kebutuhan tertentu.

Agar pemberian “judul” benar-benar diambil dari teks dalam naskah, saya mengajukan judul Kitab Anyaritakaken Penggawé Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak ( Kitab yang menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan manusia menurut syara‘). Alasannya adalah untuk kata “Kitab” saya mengambil dari keterangan Soetanto yang mengatakan di dalam sampul dalam terdapat kata itu, selain itu dalam teks naskah, juga banyak menyebut “kitab” yang mengacu pada kitab-kitab ajaran Islam berbahasa Arab, sedangkan untuk kalimat Anyaritakaken Penggawé Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak, saya mengambil dari kalimat awal dalam teks naskah ini. Jadi naskah ini lebih tepat berjudul Kitab Anyaritakaken Penggawé Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak yang selanjutnya disingkat dengan Kitab Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak ( Kitab yang menjelaskan tentang hal-hal yang perlu dilakukan manusia menurut syara‘).

Harus disadari, ini bukanlah judul yang terdapat atau disebutkan di dalam teks. Judul yang saya ajukan sifatnya hanya ingin memberikan penjelasan terhadap isi teks dalam naskah ini. Bila disebut dengan Kitab Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak, maka itu artinya adalah kitab atau teks ini berisi mengenai hal-hal yang terkait dengan syariat dalam Islam, yang mana manusia memerlukan aturan syariah tersebut dalam kehidupannya.

Tebal naskah ini 316 halaman. Penomoran asli menggunakan angka Jawa (1 – 287). Terdapat penomoran yang dibuat oleh penyunting, yakni i-vii dan halaman 204a yang seharusnya letaknya sesudah halaman 204. Naskah menggunakan sampul berukuran 21 x 33,5 cm. Pembuat katalog tidak memberikan deskripsi tentang jenis dan bahan sampul, akan tetapi dapat dilihat bahwa sampul naskah berbentuk kertas keras (hard cover) yang dilapisi dengan kulit berwarna coklat. Sampul naskah ini sama antara yang di depan dan yang di belakang. Bagian punggung sampul agak rusak, meskipun jilidannya masih baik. Hal ini menunjukkan bahwa naskah terawat dengan baik. Adapun ukuran naskah adalah 21 x 33 cm.

Alas naskah menggunakan kertas Eropa yang dicirikan dengan terdapatnya watermark dengan gambar Medalion bermahkota dengan gambar singa membawa pedang menghadap ke kiri atau ke kanan, bertuliskan CONCORDIA RESPARVE CRESCENT. Menurut Churchill, dalam daftar kertas, gambar seperti ini tampak mirip dengan gambar nomor 185, yang termasuk ke dalam kelompok gambar lions atau concordia, yang tergambar seekor singa bermahkota berdiri menghadap ke arah kanan dengan satu kaki sambil membawa pedang. Gambar singa tersebut berada dalam lingkaran yang bertuliskan CONCORDIA (sebelah kanan atas), CRESCENT (sebelah kiri bawah), dan RESPARVAE (sebelah bawah). Masih menurut Churchill, gambar cap kertas seperti ini adalah produksi Firma Van Der Ley, nama salah satu firma pembuat kertas terbesar di Belanda, yang berproduksi sejak akhir abad ke-17 sampai paruh pertama abad ke-19 (Churchill, 1935). Menurut Voorn, sebagaimana yang dikutip oleh Pudjiastuti, gambar cap kertas seperti ini adalah variasi baru yang populer di wilayah Belanda Utara pada paruh pertama abad ke-19 (Pudjiastuti, 2006: 17). Jika mengikuti pendapat Jones (1988: 9), sebagaimana juga Heawood (1950: 31-32), bahwa jarak waktu dari pembuatan kertas hingga penggunaannya pada kertas-kertas Eropa yang digunakan di Nusantara adalah paling cepat tiga sampai empat tahun, bisa lebih lama jika terdapat gangguan dalam hal distribusinya. Oleh karena itu, dapat dimungkinkan bahwa penciptaan atau penyalinan naskah teks SK 92 berkisar pada abad ke-19, sehingga dapat disimpulkan bahwa naskah SK 92 berasal dari kira-kira abad ke-19.

Bahasa yang digunakan dalam teks naskah SK 92 adalah bahasa Jawa Baru, dengan aksara Jawa Baru (cacarakan). Terkait dengan bahasa, tingkat tutur yang digunakan adalah ngoko dan karma (Wedhawati dkk, 2006: 10-11).

Kepengarangan dan Penyalinan
Tidak ada informasi yang didapat dalam teks secara eksplisit mengenai waktu, tempat, dan identitas pengarang. Tidak ada juga keterangan siapa yang mengarang dan di mana dikarang serta kapan dikarang, namun Soetanto menyebut bahwa penyalin teks dalam naskah ini adalah Raden Tumenggung Cakraningrat (Danureja VI) (Behrend, 1989).

Memang di dalam teks pada kertas bergaris yang ditempelkan dalam kertas naskah di halaman 288 tertulis Serat tetilaranipun suwargi Kangjeng Pangèran Cakraningrat, Papatih Dalem ing Ngayogyakarta adiningrat (Tulisan peninggalannya almarhum Kanjeng Pangeran Cakraningrat), juga di halaman i terdapat keterangan Kang nurun sarta kaserat pyambak déning Raden Tumenggung Cakraningrat kala teksih dados jaksa (Yang menyalin juga ditulis sendiri oleh Raden Tumenggung Cakraningrat ketika masih menjadi jaksa). R.M. Soetanto juga memberikan keterangan bahwa R.T. Cakraningrat adalah Danureja VI. Dia, di dalam keterangan sejarah Kraton Yogyakarta, adalah Patih Kraton pada masa Sultan Hamengkubowono VIII, yang berkuasa pada tahun 1921 – 1939. Jadi bisa disimpulkan teks ini disalin di sekitar sebelum tahun tersebut ketika Danureja VI masih menjadi jaksa sebelum akhirnya menjadi patih.Soetanto menyebutkan bahwa waktu penyalinan teks ini adalah sekitar akhir abad ke-19, yang menurut Soetanto kira-kira 1892 (Behrend, 1989; Behrend, 1990).

Sumber-Sumber Rujukan Penulisan
Berikut beberapa kitab/teks rujukan yang tertulis dalam teks naskah SK 92, judul dalam koleksi Ar-nya, berturut-berturut disusun sesuai abjad.

1. Ahyangdangulumudin (Jw): Ihya’ ‘ulum al-din (Ar), karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (w. 1111 M). Tentang teologi, fikih, tasawuf.
2. Aknak (Jw): Iqna‘ (Ar), karya Khatib Sharbini (w. 977/1569/70). Tentang fikih.
3. Makalli (Jw): Kanz al-raghibin (Ar) karya Jalal al-Din al-Mahalli (w. 864). Tentang fikih.
4. Min Ajut Talab (Jw): Minhaj al-tullab (Ar), karya Zakariya al-Ansari (w. 926/1520). Tentang fikih.
5. Minhajulkawim (Jw): Minhaj al-qawwim (Ar), karya Ibn Hajar al-haytami (w 1565-6). Tentang fikih.
6. Mukarar (Jw): al-Muharrar(Ar), karya Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim bin Muhammad al-Rafi’I (w. 1226 M). Saduran pendeknya berjudul Minhaj al-talibin karya Abu Zakariya Yahyá bin Sharaf al-Nawawi (w. 1287 M) yang dikenal dengan Kitab Nawawi. Tentang fikih.
7. Mupit (Jw): Al-Mufid (Ar), karya Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Sulayman al-Jazuli (w. 1465). Van Ronkel menyebutnya dengan Sharh Ummu al-barahin,anonym (van Ronkel, 1913: 86). Tentang teologi dan fikih.
8. Patkul Wahab (Jw): Fath al-wahhab (Ar), karya Zakariya al-Ansari. Tentang fikih.
9. Sarah Durat (Jw): Kitab Tilmisani atau Sharh lil Tilmisani (Ar), karya ‘Abd Allah Muhammad bin ‘Umar bin Ibrahim al-Tilmisani, merupakan keterangan (sharh) atas KitabDurra yang di Jawa dikenal dengan Kitab Sanusi. Kitab Durra terkenal dengan Umm al-barahin karya ‘Abd Allah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi (Soebardi, 1971). Tentang teologi.
10. Sitin (Jw): Sittuna mas’ala fi al-fiqh (Ar) karya Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Zahid al-Misri (w. 1416). Tentang teologi dan fikih.
11. Sukbah (Jw): Al-Shubahat fi al-mawa‘iz wa al-adab min hadith rasul Allah (Ar), karya Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Salama al-Kuda’I (w. 1062 M). Tentang fikih. Kitab ini belum saya temukan naskahnya maupun edisi teks dalam cetakannya.
12. Takrib (Jw): Ghayat al-ikhtisar/Ghayat al-taqrib (Ar), karya Abu Shuja‘ Ahmad bin al-Husayn bin Ahmad al-Isfahani (-+ 434 – 500 M). Tentang fikih.
13. Takrir (Jw): Tahrir tanqih li al-lubab fi al-fiqh al-Imam ash-Shafi‘I (Ar), karya Zakariya al-Ansari. Tentang fikih.

Adapun kitab-kitab yang belum teridentifikasi oleh karena di antaranya sudah dalam pelafalan atau aksara Jawa adalah; Adabul Murit, Anwar, Asikatul muluk, Dilmaklumat, Ilah, Jamingulngawam, Jumakir, Makripatil Ngibadah, Mubtada, Mustahal, Mukbah, Mustahal, Ngajibis Sarikin, Rolah, Sakaramunaral, Sarah Bayan, Sarah Wajaji. Sebagai informasi, kitab-kitab yang paling sering dikutip ada dua, yakni Mukarar (119 kali) dan Takrib( 140 kali). Adapun kitab-kitab yang lain mulai 1 kali hingga 39 kali.

Ringkasan Isi teks
Naskah SK 92 berisi ajaran-ajaran Islam kebanyakan mengenai tauhid dan fikih yang diambil dari berbagai kitab Islam yang sudah dikenal luas oleh kalangan Muslim Pesantren di Jawa dan bermazhab Shafi‘i. Porsi fikih lebih banyak dari tauhid yang hanya terdapat di awal teks. Teks juga berisi aspek akhlak Islam terutama mengenai akhlak dalam berbicara (ponca boyoning lesan).
Berikut saya sampaikan garis besar isi teks secara lengkap dengan memberikan daftar isinya sebagaimana yang terdapat di dalam naskah. Adapun penjelasan lebih rinci mengenai isi teks ini disampaikan dalam bab lima.

Resepsi Teks
Setelah menganalisis aspek ajaran Islam yang terdapat dalam teks SK 92 dan posisi teks-teks berbahasa Arab sebagai sumber rujukan, diskusi selanjutnya sebagai bagian dari pemeriksaan transformasi teks adalah telaah terhadap resepsi pembaca sebagaimana yang tercermin dalam teks SK 92. Penting dicatat di sini mengenai konsep “pembaca” yang digunakan. Sebagaimana telah disinggung dalam bab pendahuluan, bahwa yang dimaksud “pembaca” di sini bukanlah pembaca aktual dalam penelitian resepsi teks yang bersifat eksperimental, yang menyajikan teks tertentu kepada pembaca tertentu, baik secara individual maupun kelompok (Teeuw, 2003: 171), melainkan pembaca implisit yang terwakili oleh teks. Pandangan semacam ini berdasarkan asumsi bahwa sering kali dalam teks tertentu terungkap semacam kreasi yang sekaligus resepsi “pengarang.” Menurut pandangan ini, pengarang kemudian diposisikan sebagai pembaca atas teks-teks yang diresepsi atau yang ditanggapi, lalu berdasarkan teks-teks tersebut terciptalah teks baru. Maka, posisi “pembaca” kemudian beralih menjadi “pengarang” oleh karena kreasi teksnya. Berdasarkan asumsi inilah, maka penelitian resepsi, dengan memeriksa tanggapan pembaca atas suatu teks dapat diterapkan dalam teks-teks hasil penyalinan, penyaduran, maupun penerjemahan yang sudah barang tentu mempunyai hubungan intertekstualitas di antara teks-teks tersebut (Teeuw, 2003: 177-176).

Resepsi pembaca dapat terjadi dalam dua tataran, yakni pada tataran teks dan pada tataran konteks. Sebuah teks yang disalin, disadur atau diterjemahkan tentu saja menyesuaikan dengan norma-norma baru baik secara kebahasaan maupun sosial-budaya. Sejauh mana penyesuaian seorang pengarang terhadap norma-norma baru dalam teks yang tercipta atas norma-norma dalam teks yang diresepsi, dapat dilihat dalam teks yang terbaca itu sendiri. Dengan meneliti bacaan teks, dapat diurai penyesuaian-penyesuaian atau perlakuan-perlakuan pengarang dalam penyusunan teksnya yang didasarkan teks-teks sebelumnya. Oleh karena itu, upaya melihat perlakuan-perlakuan pengarang dalam menyusun teksnya diarahkan pada pemeriksaan cara pengarang mengalihkan teks-teks terdahulu ke dalam teks-teks ciptaannya.

Pada tataran konteks diarahkan pada resepsi pembaca yang berupa pemanfaatan teks dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Jadi, resepsi pembaca itu berupa penggunaan teks itu sendiri, bukan lagi sekadar reproduksi teks sebagaimana dalam tataran teks. Namun, dalam tulisan ini dibahas resepsi pembaca pada tataran teks saja.

Resepsi Tataran Teks
Sebagaimana telah diuraikan pada subbab terdahulu bahwa teks SK 92 berisikan ajaran-ajaran Islam tentang teologi, fikih dan akhlak-tasawuf. Teks ini disusun berdasarkan teks kitab-kitab berbahasa Arab. Setiap pembahasan di setiap bagian dalam setiap babnya selalu merujuk pada kitab-kitab tersebut, namun, yang penting dicatat adalah bahwa kitab-kitab tersebut posisinya hanya sebagai rujukan, bukan merupakan teks itu sendiri.Teks SK 92 tetaplah sebuah teks yang utuh, yang secara sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Hanya saja, memang sistematika penyusunan teks SK 92 tidaklah jauh berbeda seperti apa yang tertuang di dalam teks-teks kitab yang dijadikan sumber rujukan. Selain itu, dalam penyusunan teksnya, pengarang masih banyak terpengaruh oleh sebagian norma-norma kebahasaan dalam bahasa Arab sebagaimana yang digunakan oleh teks-teks rujukan.

Penting dicatat, bahwa meskipun teks SK 92 ditulis dengan huruf Jawa (carakan), namun sesungguhnya pada kenyataannya ada dua bahasa yang digunakan dalam teks ini, yakni bahasa Arab dan Jawa. Agak unik, karena biasanya teks-teks yang berisi ajaran-ajaran normatif sebagaimana yang terdapat dalam teks SK 92 ditulis dalam huruf pegon (Pigeaud, 1967: 26-27; Yulianto dan Pudjiastuti, 2001: 206-207), karena dipengaruhi oleh tradisi pesantren yang mengajarkan teks-teks Arab.

Biasanya bahasa Arab digunakan di awal bab atau bagian yang terkadang mengutip langsung dari bagian kalimat dalam teks rujukan, namun tetap ditulis dengan huruf Jawa. Penggunaan huruf Jawa untuk menuliskan bahasa Arab ini kemudian memunculkan masalah, seperti kekurangtepatan ejaan sehingga sulit ketika mengidentifikasi asal teks Arabnya jika tidak merujuk pada teks yang berbahasa Arab yang menjadi rujukan.Tentu saja ada pengecualian terhadap teks-teks tertentu yang mungkin dapat diidentifikasi teks Arabnya oleh karena pengalaman dalam pembacaan teks-teks Arab dimaksud.

Kekurangtepatan ejaan tersebut dapat dicontohkan dengan sederhana pada penulisan kitab-kitab yang dijadikan rujukan, meskipun ada juga yang bisa diidentifikasi, namun ada juga judul kitab yang sulit untuk menentukan tulisan Arabnya.

Transkripsi apa adanya dari teks dalam gambar 1 teks nomor 1 di atas adalah Mupit Kitabé,  yang dalam bahasa Arabnya adalah kitab al-Mufid. Dalam kasus ini, judul mudah diidentifikasi dalam teks Arabnya, oleh karena penulisannya jelas dan kebetulan terdapat padanannya dalam tulisan Jawa. Misalnya untuk kata al-Mufid dalam bahasa Arab mempunyai akar atau tiga huruf dasar, yakni mim (m), fa (f), dan dal (d). Ketiga huruf dasar ini mempunyai padanannya dalam sistem tulisan Jawa, kecuali untuk huruf fa (f) yang diganti dengan huruf pa (p), dan dibantu dengan penanda-penanda vokal, seperti /u/ dan /i/. Begitu juga dengan contoh pada nomor 2. Jika ditranskripsi dengan apa adanya maka menjadi Takrib, yang judul teks Arabnya adalah al-Taqrib. Huruf dasar dari kata al-Taqrib adalah ta (t), qaf (q), ra(r), dan ba(b). Kecuali huruf qaf (q) yang tidak ada dan diganti dengan huruf ka (k), semua huruf ada padanannya dalam sistem tulisan Jawa yang juga dibantu dengan penanda vokalnya. Jadi praktis tidak ada kesulitan dalam mengidentifikasi judul dalam teks Arabnya, namun dengan catatan pembaca sudah mempunyai pengetahuan mengenai judul kitab-kitab tersebut. Penulisan yang agak lebih sulit dapat dilihat dalam contoh berikut.

Transkripsi apa adanya dari gambar 2 nomor 1 adalah Aknak kitabé. Agak sulit untuk menentukan judul dalam teks Arabnya, jika tidak akrab dengan khazanah kitab-kitab fikih berbahasa Arab. Namun, penulisan ini menurut saya lebih sekadar sebuah kekurangtepatan dalam penulisan. Sebab ketika diidentifikasi bahwa kemungkinan besar judul dalam teks bahasa Arabnya adalah Iqna‘, sebab pertama karena konteks pembahasan dalam teks SK 92-nya adalah fikih, dan kedua karena seringkali penulisan huruf /q/ dalam sistem tulisan Arab diganti dengan huruf /k/ dalam sistem tulisan Jawa karena tidak ada padanannya, sebagaimana contoh kasus pada kata al-Taqrib di atas. Hanya saja mungkin ada kekurangan pemberian tanda vokal /i/ sehingga tetap menjadi Aknak tidak Iknak.Huruf /k/ di akhir kata yang menjadi konsonan (mati) bisa dipahami sebagai penyebutan ganti dari huruf ‘ain.

Adapun untuk contoh nomor 2 dalam gambar 2 di atas, jika ditranskripsikan secara apa adanya, akan terbaca Ahyangdangulumudini kitabé, yang dalam judul teks bahasa Arabnya adalah Ihya’ ‘ulum al-din kitabnya. Persoalannya di sini adalah kurangnya dalam pemberian tanda vokal /i/ pada huruf /a/ di huruf pertama. Jika diganti, maka menjadi Ihyangdangulumudini. Jadi lebih sedikit bisa dipahami dan diidentifikasi judul dalam teks bahasa Arabnya, tapi, sekali lagi, hal ini mensyaratkan pengetahuan pembaca akan khazanah kitab tersebut dalam bahasa Arabnya. Kedua contoh dalam gambar 4 di atas, mungkin dapat disebut dengan kekurangtepatan dalam penulisan karena pada dasarnya bisa dicari padanannya dalam sistem tulisan Jawa agar lebih mudah membantu pembaca dalam mengidentifikasi judul kitab dalam bahasa Arabnya. Salah satu contoh lain dari kekurangtepatan penulisan dapat juga dilihat dalam contoh berikut.

Teks dalam gambar 3 tersebut jika ditranskripsi secara apa adanya menjadi Mudahab Kitabé. Sepertinya ada huruf yang tertukar, yang seharusnya di belakang menjadi di depan, dan begitu sebaliknya, yakni huruf /da/ seharusnya diletakan pada posisi huruf /ha/, sehingga menjadi Muhadab. Sampai di sini, bagi pembaca yang akrab dengan khazanah kitab fikih berbahasa Arab, akan langsung mengidentifikasi bahwa maksud dari teks itu adalah kitab al-Muhadhdhab. Jadi, mungkin ini lebih disebabkan karena kekekurangcermatan dalam penyalinan.

Ada juga beberapa judul kitab yang belum berhasil saya identifikasi, baik karenaketerbatasan pengetahuan saya, maupun karena kekurangtepatan dalam penulisan.Seperti ditunjukkan dalam gambar 4 nomor 1, transkripsinya adalah Badalah kitabé, sedangkan pada nomor 2, transkiripsinya adalah Sakaramunaral Kitabé. Untuk contoh kedua kasus kitab ini, dan beberapa kitab yang saya telah jelaskan pada subbab sebelumnya, tidak dapat saya temukan identifikasinya dalam teks kitab berbahasa Arabnya.

Contoh lainnya adalah pada penulisan teks-teks Arab di awal bagian atau bab pembahasan. Jika teks-teks Arab rujukannya dapat diidentifikasi, mungkin kesulitan akan berkurang karena bisa langsung merujuk pada teks tersebut, atau pada ayat-ayat al-Qur’an tertentu jika yang dimaksud adalah ayat al-Qur’an. Namun, bila teks-teks rujukannya tidak dapat diidentifikasi, tentu saja ini menjadi kendala tersendiri untuk merekonstruksi teks dalam bacaan Arabnya agar lebih bisa dipahami pembaca dengan baik.Misalnya contoh berikut.

Teks dalam gambar 5 di atas, jika ditranskripsikan akanterbaca, Pibayanil kèli, wanipasi, walistikalaki. Untuk menentukan teks Arabnya, dalam hal ini menjadi mudah karena kitab rujukannya jelas, yakni kitab al-Taqrib. Oleh karena itu, dapat diidentifikasi bahwa teks Arabnya adalah kira-kira sebagai berikut; Fi bayani al-haydi wa al-nifasi wa al-istihadati ( Pasal yang menjelaskan masalah haid, nifas, dan istihadah). Namun dalam kasus kitab yang tidak dapat diidentifikasi, saya kesulitan untuk menentukan bacaannya dalam bahasa Arab, sebagaimana contoh di bawah ini (gambar 6).Teks dalam gambar 6, ditranskripsikan sebagai berikut, Wanginda, sadingi, rahmatulah ing ngalaihi, idamala arbanga, sinina. 

Teks SK 92 juga menunjukan penerimaan pengarang terhadap istilah atau konsep Islam dalam bahasa Arab sebagaimana yang tampak dalam naskah. Maka dalam naskah, banyak dijumpai istilah-istilah atau konsep-konsep dalam ajaran Islam yang berbahasa Arab, yang tetap dibiarkan sebagaimana adanya dalam bahasa Arab meskipun dengan penyesuaian-penyesuaian penyebutan Jawa. Misalnya, wajib, karam, sunat, sarak, jina, mukal, iman, niat, kalal, kel, jinabat, nipas, sarat, lapal, dan kata-kata lainnya yang berasal dari bahasa Arab.

Mengenai terjemahan atau penjelasan dalam bahasa Jawa di dalam teks SK 92, tampaknya banyak penjelasan, atau lebih tepatnya terjemahan yang masih mengacu pada sistem gramatikal bahasa Arab, dengan memberikan penanda-penanda khusus bagi kata-kata yang mempunyai fungsi, kategori, serta peran tertentu di dalam kalimat. Beberapa penanda khusus tersebut adalah di antaranya sebagai berikut.

1. Kata-kata yang digunakan untuk menerjemahkan fungsi kata dalam kalimat, antara lain adalah:
a. Utawi: menunjukkan bahwa kata yang diterjemahkan berfungsi sebagai pokok kalimat.
Contoh: Utawi karamé wong kèl iku sapuluh. (Adapun haramnya orang yang haid itu sepuluh).
b. Iku: menunjukkan bahwa kata yang terletak setelah “iku” berfungsi sebagai predikat.
Contoh: Utawi perluné salat iku wolulas. (Adapun fardunya salat itu delapan belas).
c. Sapa/apa: “sapa” menununjukkan bahwa kata yang diterjemahkan berfungsi sebagai subyek.
Contoh: sapa wongé tinggal padu, kalé paduné iku kalal, mongka anduwèni omah ana keboné suwarga. (Siapa orangnya yang yang meninggalkan pertengkaran yang halal, maka ia mempunyai rumah di kebun surga)
Adapun “apa” digunakan untuk pelaku/subyek yang bukan orang, namun dalam teks ini tidak digunakan.
d. Ing: ditempatkan sebelum suatu kata yang fungsinya sebagai obyek atau menunjukan tempat atau waktu.
Contoh: muga-muga angegung ngena Allah ing kamulyan nira. (semoga Allah meneguhkan kemulian kamu)
e. Kang: diletakan sebelum kata yang berfungsi sebagai kata sifat.
Contoh: ikilah patsal tetepé mayit kang éslam iku patang prakara. Kang dhihin angedusi, kapindho, angulesi, lan kaping telu anyalataken, lan kaping pat amendhem. (Paling sedikit dalam memandikan mayat itu adalah meratakan badanya dengan air satu kali saja).
f. Kang bangsa: untuk menerjemahkan kata sifat yang dipakai secara atributif yang biasanya berakhiran ya’ nisbah.
Contoh: Utawi wenangé para rasul iku katekanan ngaral bongsa riyah, tegesé lara kang bongsa manusya, kayata ngelu mules dem panas. (Adapun sifat bolehnya para Rasul itu adalah terkenanya halangan, artinya sakit yang sepertinya halnya manusia, seperti pusing, mules, dingin, panas)

2. Istilah-istilah buatan dengan menggunakan kata-kata bahasa Jawa tetapi dalam kerangka gramatika Bahasa Jawa.
a. Wus: digunakan untuk menunjukkan suatu perbuatan yang sudah berlalu (fi‘i>l ma>d}i).
Contoh: Utawi lamun wus ngadadtaken wong wadon iku kèl limalas dina. (Adapun jika seorang wanita sudah terbiasa haid lima belas hari).
b. Pira-pira: diletakkan sebelum kata yang berbentuk jamak.
Contoh: Lan anduwèni wajib olèhé anekani iku pira-pira saraté. (wajibnya mendatangi itu mempunyai beberapa syarat).

Selain itu ada juga penerjemahan yang menunjukkan kekhasan penggunaan tata bahasa Arab dalam bahasa Jawa, sebagaimana dalam teks SK 92, berikut beberapa contohnya. Ana: kata ini biasanya menunjukan arti “ada,” tetapi biasanya kata ini digunakan untuk menerjemahkan kata ka>na dalam bahasa Arab, seperti contoh berikut: Lamun ana kèl iku limalas dina, mongka suciné iku limalas dina (Jika ada haid lima belas hari). Ada juga penggunaan kata halé/kale, yang berfungsi sebagai keteranganyang jelas sangat dipengaruhi oleh tata bahasa Arab, seperti contoh berikut: utawi adol woh sakwusé nyata becik iku wenang kale mutlak (Menjual buah setelah nyata baik itu boleh secara mutlak). Kata ini cukup banyak digunakan dalam teks, yakni sekitar 26 kali penggunaan.

Ada juga penggunaan kata yang bersifat arkaik atau jarang digunakan dalam percakapan namun banyak digunakan dalam teks.Seperti kata lamun yang banyak digunakan dalam teks SK 92 (mencapai seitar 217 kali penggunaan). Contohnya adalah: lan kaping lima munggah kaji ing Mikah lamun kuwasa dedalan, ( kelima naik haji ke Makkah jika mampu berjalan). Selain ada juga penggunaan kata tatkala yang berasal dari bahasa Sansekerta dan juga jarang digunakan dalam percakapan. Misalnya dalam kalimat: lan tatkalané ana banyu iku rong kulah atawa luwih kèhé, mongka ora najis banyu iku sabab katibanan najis (Ketika ada air dua kulah atau lebih banyak, maka air itu tidak najis karena terkena najis). Ada juga kata yang berasal dari bahasa Melayu, yakni kata kerana yang dalam bahasa Jawanya adalah marga. Penggunaan kata kerana/krana ini dapat dilihat dalam contoh berikut: Niat ingsun angilangaken kadas perlu krana Alah ( Saya niat menghilangkan kotoran wajib karena Allah). Bentuk-bentuk keterpengaruhan tata bahasa Arab dalam bahasa Jawa ini juga ditemukan dalam naskah Asmarakandi sebagaimana yang telah diuraikan oleh Jandra (2009: 36-45).

Kesimpulan
Tampak bahwa memang teks SK 92 mencoba mempertahankan kekhasan teks-teks sebagaimana yang ada dalam kitab-kitab berbahasa Arab, namun demikian, mungkin disebabkan oleh perbedaan budaya dan bahasa, serta kecermatan dalam penyusunan dan penyalinan teks, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam penulisan teks. Uraian di atas juga menunjukan bahwa di satu pihak pengarang sadar akan kondisi budaya dan bahasanya, sehingga ia tetap menggunakan sistem tulisan Jawa, dan penerjemahan atau penjelasan yang lebih rinci mengenai masalah-masalah yang dibahas dengan menggunakan bahasa Jawa, meskipun tetap rujukannya berasal dari bahasa Arab. Melalui resepsi teks, terjadilah perjumpaan dan negosiasi budaya, dan tampak bahwa pembacaan terhadap teks-teks Arab-Islam melahirkan teks-teks baru yang bernuansa Islam-Jawa.

Melalui teks SK 92, tampaklah bahasa sesungguhnya memang tak hanya dapat dipandang dalam fungsi pragmatiknya sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai sebuah pola relasi sosial (Jandra, 2009: 202), yang mengandaikan hubungan-hubungan sosial dan kultural. Pengamatan atas bahasa dan teks, dapat juga membantu untuk mengetahui proses perubahan budaya, dalam arti bahwa bahasa tidak hanya sebagai upaya untuk menyebarluaskan ide dalam proses komunikasi, namun bahasa juga dapat dilihat sebagai sebuah obyek wacana yang dapat menghadirkan realitas tertentu dalam sebuah budaya. Melalui bahasa, yang mengejawantah dalam teks, terbuka medan dialog di dalamnya. Melalui resepsi pembaca, yang berwujud pada penciptaan oleh pengarang terhadap teks SK 92, terjadilah dialog antara dua budaya, dan dalam kasus ini, dua budaya (Islam dan Jawa) bertemu dalam satu teks sebagai hasil tanggapan pembacaan. Teks-teks yang direspesi selanjutnya bertransformasi melalui kreasi pengarang dan penyalin sehingga menjadi teks baru.Demikianlah, terjadi transformasi identitas teks (Valdes dan Miller, 1985), dari teks berbahasa Arab dengan segala norma-normanya dengan realitas budayanya, menjadi identitas teks Jawa.

Daftar Pustaka
Behrend, T.E., dkk, 1989, Katalog Induk Naskah-Naskah Museum Sonobudoyo: Jilid 1, Sejarah, Silsilah, Hukum. Yogyakarta: Museum Sonobudoyo.

_______, 1990, Katalog Induk Naskah-Naskah Museum Sonobudoyo: Jilid 1, Sejarah, Silsilah, Hukum. Jakarta: Djambatan.

Churchill,Winston, 1935,Watermarks in Paper in Holland, England, France, etc. in the XVII and XVIII Centuries an Their Interconnection. Amsterdam: Menno Hertzberger.

Eliade, Mircea, (ed), 1995,The Encyclopedia of Religion. New York: Simon & Schuster Macmillan.

Heawood,Edward, 1950,Historical Review of Watermarks. Amsterdam: Sweets & Zeitlinger.

Honigmann,John Joseph, 1959,The World of Man. New York: Harper and Brother.

Jandra, M, 2009,Pergumulan Islam Normatif dengan Budaya Lokal: Telaah terhadap Naskah Asmarakandi. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan.

Jones, R, 1988,From Papermill to Scribe: the Lapse of Time. Napoli: Institutio Universitario Orientale.

Lindsay,Jennifer, dkk, 1994,Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2: Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pigeaud,Th, 1967,Literature of Java: Catalogue Rasionne of Javanese Manuscripts in the University of Leiden and Other Public Collections in the Netherlands,Vol I. Leiden: The Hague, Martinus Nyhoff.

Pudjiastuti,Titik, 2006,Naskah dan Studi Naskah: Sebuah Antologi.Bogor: Akademia.

Ricci, Ronit, 2011,Islam Translated: Literature, Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia. Chicago dan London: The University of Chicago Press.

Saktimulya, Sri Ratna,ed, 2005,Katalog Naskah-Naskah Perpustakaan Pura Pakualaman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – Toyota Foundation.

Soebardi, 1971, “Santri Religious Elements as Reflected in the Book of Tjentini,”BKI 127, No. 3.

Teeuw, A., 2003,Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Valdes,Mario J., 1985, “Concepts of Fixed Variable Identity,” dalamMario J. Valdes & Owen Miller, (eds),Identity of the Literary Text. Toronto Buffalo London: University of Toronto Press.

Van Ronkel,Ph. S., 1913,Supplement to the Catalogue of the Arabic Manuscripts Preserved in the Museum of the Batavia Society of Arts and Sciencies. Batavia: Albrecht, The Hague: Nijhoff.

Wedhawati, dkk, 2006,Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogyakarta: Kanisius.

Yulianto,Ninie Susanti, Titik Pudjiastuti, 2001, “Aksara,” dalam Edi Sedyawati dkk, (eds),Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.