Review Buku Filologi Jawa dan Kunjarakarna Prosa

 

Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. XXXIII, no. 7, Juli 1984, hlm. 255-272). Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia, saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya.

Terbitan teks, terjemahan, dan perbaikan bacaan
Terbitan diplomatik teks Kuñjarakar?a (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti, yang disajikan secara sinoptik, sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis, mengemukakan alternatif bacaan, bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut.
Diandaikan, bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. Erat hubungan dengan hal itu, suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakar?a (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit, namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja, dan terbatas pada tataran kata dasar (h. 121-162). Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan, yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah, bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain, dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan, terutama dari naskah H.
Kesalahan pemisahan kata menimbulkan kesalahan terjemahan.
(1) 125 H pa?an inum. san?a?
  agoh arabihanakkanak
Terjemahan: “Makan, minum, pakaian, ternak, berkeluarga, […]”. (h. 175)
Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”, lembu).
Seharusnya dibaca:
 125 H pa?an inum. san?a?
 ago harabi hanakkanak
“San?a? a <?> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder, 1982, Old-Javanese English Dictionary = OJED, I: 100, a?go; II: 1647, sanda?)

(2) 334 H sammi dadupa mrabukk arum
   pawa?i
Terjemahan: “[…] berbau dupa semerbak harum mewangi. (h. 185)
Seharusnya dibaca: “sammida dupa”, yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED, II: 1638, samidha, samiddha). Lalu “wino?an” (333) seharusnya dihubungkan dengan “sammida dupa”.

(3) 1028 H wawa ?ima ?uyu ?buguntu?,
Terjemahan: “wawal, sima, nguyu, lebuguntung”. (h. 219)
Seharusnya dibaca: “wawa?i manguyu ?buguntu?”, yang adalah nama-nama jenis pertapa. (OJED, II: 2216, wasi; I: 1114, ma?uyu; bdk. 594 H pamanuyon; I: 1001, lebu-guntur).

(4) 2440 H […] Ø watu pina?ka
  ta wulan. […]
Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. 290-291)
Seharusnya dibaca: “watu pina?ka tawulan”, yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. (OJED, II: 1901, tahulan).

(5) 3130 H hal?a burat. ma o?, kemba?
 ku?a? runti?runti?,
 cinaku? i wawa?i
 kamba? werata?anta, […]
Terjemahan:  “[…] dengan minyak dan boreh. Mantra: om, bunga kusang dan runting … wewangian. Bunga wratanganta. (h. 325).
Seharusnya dibaca:
3130 H hal?a burat. ma o?, kemba?ku
 ?a? runti?runti?
 cinaku ?i wawa?i
 kamba? weratana?ta, […]
Artinya: “Mengenakan minyak boreh. (Ungkapan ini menandai tahap upacara, tidak termasuk mantra yang terdahulu. Mantra: O?, Bungaku Sang Runting-runting. Ciriku (OJED, I: 327, cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (?  Bdk. K: kemba? weratta baranta).”
Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas, banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …), karena arti masih gelap, sebab: pemisahan kata salah; pemisahan kata ditangguhkan; arti kata tidak dicari, baik dalam kamus, dalam bandingan intrateks, maupun bandingan antarteks; bahasa, ungkapan, dan konteks kurang dipahami; perbaikan bacaan belum dilakukan, dan lain-lain. Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi.  

(6) 1792 H sammana rupanta, kadi
    hantiga kinulitan. […]
Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. 257).
“Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”, melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. (OJED, I: 918, kulit).

(7) 2203 H […] ma?ke ta?n
        agiraha, ranak ba?ara, pukulun
        tan pana?guha lara,
Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. […]”. (h. 279)
Memang naskah K berbunyi: “ma?ge tan agira?”, tetapi sejajar dengan “tan pana?guha lara”, “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). (OJED, I: 540, grah).

(8) 3188 H […] pun
 pu??awijaya, amintaha,
3190 amit kantuna
 pa?ek kapa?ga?, haniti hi
 pantara?n aji, pukulun.
Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: ‘Tinggallah baik-baik … di atas singgasana raja, Batara. […]’”. (h. 327).
Larik 3191 seharusnya dibaca: “pa?ekk apa?ga?, hanitihi”. (OJED, II: 1310, pasak I, pasek; II, 2023, titih). Mungkin “pantara?n aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantara?naji” (gabungan kata: pa [n] tara?naaji; K patara?na ma?ni). Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan.
Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya hendak mohon diri. (Bagian kalimat ini termasuk ucapan langsung! OJED, II: 1438, pun I). Hendaklah Tuanku tinggal tetap terhormat menduduki singgasana rajawi, Tuanku”

(9) 3124  H timbul krawa len bujana kulit.
          K tinbul krawa le bujana kulit
    3125  H tan tetesa deni? wwakadaga,
          K tan tetesa deni? wwakadga
    3126  H lwir pusu? teg ke? ke?; […]
          K lwir pusu? keg. ke? ke? […]
Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. Teg keng keng”. (h. 325).
Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale; OJED, I: 806, karawalya (karawali?), Us 156: timbal kurawale) bujan<e?> kulit. (bdk. 3116 H: puspa li?gane? sira?ku). Tan tetesa denin? <sar>wwakadga, lir pusu? teg (atau: keg) ke?ke?”.
Menurut konteks “g?ug. g?ug.” (3123 H; suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”.
Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit, tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). Teg. Membatu”.

(10) 3116 H sataku?ilulunnonen […]
   K ma?akusilulukonen […]
Pemisahan kata belum ditentukan, dan tidak diterjemah-kan. (h.323). berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah, dan bandingan antarteks dengan karya lain, diusulkan bacaan: “mataku si lulut oneng”, dengan arti: “Mataku Si Lulut Oneng (Si Asyik-Masyuk)”. (OJED, I: 1055, lulut; II: 2121, une?, una?). Dalam Korawaçrama (Swellengrebel, 1936) terdapat Aji Suk?ma-jahinang dengan ungkapan: “lulut oneng ring utari” (h. 136). Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur oneng ring untunku” (naskah Kirtya 398, h. 99a). Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pur?awijaya. (bdk. Ensink, On the Old-Javanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma, 1967, h. 9).

(11) 1009 H […] upamanya
  yi kadya?ga ?ni? sa? besawa??na
  hatu?gu kaywa?an. papa ?a
  huma?nya kebek de?ni? raja
  drawwa,
  mas pirak mira?
  kommala hinten. […]
Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me-nunggui kayangan pendosa. Rumahnya penuh dengan harta benda emas, perak permata, kemala, intan.” (h. 219)
Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ?a” dan salah hubung dengan “kaywa?an” (1011). Seharusnya dibaca: “papa? <t>a humahnya”, yang berarti: “Empatlah rumahnya”. Rumah itu bukan milik Besawarna, melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan, dan nanti akan dinikmati, bila mereka sudah mati. (H 1015-1030). Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. Maka:

(12) 1032 H  iwa ma?kana yayi kawa
  ulun…
Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. (h. 219)
Seharusnya dibaca: “iwa ma?kana yayi kawa<?>ulun”, yang berarti: “seperti itulah, Dinda, kawahku.” (Terje-mahan “iwa ma?kana” dengan “meskipun demikian”, 1032, 1698, 1708, 1716, atau “meski demikian”, 1043, tidak tepat, dan mengacaukan arti!).
Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu, melainkan orang-orang di dunia. Maka:

(13) 1001 H […] tanta
  ni? ?ulun. drawe ni kawah
  hi wwa?, madyapada
  ka? drawenni ka? yayi,
 Terjemahan: “[…] … ku. Kawah adalah milik orang di dunia; merekalah yang punya, dik.” (h. 219).
 Seharusnya dibaca:
     1001 H […] tantan
  i ??ulun. draweni kawah
  hi<ka> wwa? madyapada
  ka? drawenni <i> ka [n] yayi,
Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu, orang-orang di dunialah yang memiliki itu, Dinda”.
Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orang-orang berdosa di dalam kawah, melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. Maka:

(14) 989  H […] tanta, ?ni ?ulun
  ha?bokna kawa? hika,
  hawake ?awak a?boke? nika
  yayi
Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah, saua suruh masuk sendiri dik”. (h. 217).
Seharusnya dibaca:
989 H     […] tanta, ?n i ?ulun
  ha?bokna kawa? hika,
  hawake ?awak a?boke?n ika
  yayi
Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu, dirinya sendiri memasukkan itu, Dinda”.

(15) 1096 H […] tanta ulun.
  kle, wwa? tuhu si
  ma?bu ?awak mari?
  kawa? […]
Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. (h. 223).
Seharusnya dibaca:
1096 H […]  tanta <n> (atau: tan ta?) ulun.
  kela, wwa? tuhu si
  ma?bu ?awak mari?
  kawa? […]
Terjemahan: “Tidaklah aku masak, orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”.
Perbaikan bacaan “kle” (1097) menjadi “kela” sejalan dengan “tles” (156, telas), “pjeh” (3392, pejah), dan lain-lain.

(16) 1301 H […] hacukit
  hadulit.
Terjemahan: “… pemulung, penjual kapur”. (h. 233)
2822 H kuna? pañcanmanya, ywa tukit.
 tadulit. […]
Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. (h. 309).
Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”, sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. Namun demikian, berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit), dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya, ywacukit.t adulit.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya-acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”. Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang (yang pekerjaannya) ‘cukit’, ‘dulit’ ” (pedagang terasi, kapur, dan lain sebagainya).
Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa.

(17) 28 A sakala maray. ta,
 K ika? satala marayata
 H ika? ?watala, maratabwan.
“Ika? ?watala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. 169). Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”, sehingga “?watala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K), dan berasal dari “sakala” (t<k; salah satu buktinya: naskah A). Jadi di sini perlu dipertahankan: “ika? sakala”, yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. (OJED, II: 1604, sakala II). Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H; bdk. 324 H: salaka), “swadakala” (528 H, sadakala), dan lain-lain.

(18) 68 H la?ka leswa ywaki
   ywaki bawanya Ø
Terjemahan: “ ‘Alasan untuk bepergian, itulah maksudnya”. (h. 171)
Mungkin harus diperbaiki demikian:
 68 H <i> la? <a> kaleswa ywaki (yweki?)
  ywaki (yweki?) bawanya Ø
Kata “klesa” (1933, 1951, 1970, dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kale?a” (1541, 1544, 1556, dan passim), “kal?e” (1076, I. kale?a, h. 286), “kalwe?a” (80, 1942, 1946), dan “kleswa” (116). Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah kecemarannya, itulah maksudnya”.

(19) 1114 H […] sapa ka yweku ri?
  paksanya, yeki ma?ke
  tinmunya dyan tu? ri ka?
  kawa?
Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. (h. 223).
Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. sapata?” . Pertanyaan itu tidak perlu. Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tu? ri ka? kawah”. Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan t?uni <i> ka? kawa?”? (A: den te?uni ika? kawa?).
Bila demikian, maka bacaannya:
1114 H […] sapa kayweku ri?
  paksanya, yeki ma?ke
  tinmunya dyan t?uni <i> ka?
  kawa?
Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya, inilah sekarang yang ditemuinya, diterjunilah kawah itu”.

(20) 8 H  […] ummilu
  atatya dewata kabe?
  myamujaha rwi? ?a?ara byudda
  sri wiroñcana, […]
Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. (h. 169).
Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. ata tyan?” (h. 356).
Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED, II: 1958, tata I), seperti halnya: “byuda” – “budda”, “myamujaha” – “mamujaha”, “tirtya” (3082) – “tirta”, “wuwustya” (3009) – “wuwusta”, dan lain-lain.
Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan.

(21) 1074 H […] den
  aswru? hi? sa? hya? da?mma,
  ila?ana kal?e ?ni? sariranta,
Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. (h. 221).
Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. aswru? b. awru?. 1076. kal?e b. kale?a” (hlm. 359)
Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan. Jadi:
1074 H […] den <wu> s
  wru? hi? sa? hya? da?mma,
  ila?ana kale?a ni? sariranta,
Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma, hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”.

(22) 1555 H […] ma?kana
  ila?an ni? (sic) kale?a papa
  nni? sarira,
  nanda? pada?dana
  kita rari, […]
Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan. Ayo berpakaianlah anda”. (h. 245)
Lebih tepat diperbaiki menjadi:
1555 H […] ma?kana
 ila?an ni? kale?a papa
 nni? sarira, n <ta>
 nda? pada?dana
 kita rari, […]
Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta).

(23) 3039 H itipa ka sla kabeh, panteni
  denta kabeh, […]
Terjemahan: “… harus anda bunuh semua”. (h. 319)
Perbaikan bacaan:
3039 H itip <i?>  kasmala kabe?, panteni
  denta kabeh, […]
Diandaikan, “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cecak”, dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. 2165 H: kasmalammu). Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran, hendaklah kau bunuh semua”.

(24) 1587 H ma?a??en sa? kuñjaraka??na
  swoja? ri? sa? pu?nawijaya
Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. (h. 247).
Bentuk huruf “?” serupa dengan bentuk kombinasi huruf  “?(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). Maka sebaiknya dibaca:
1587 H ma?a?na?en sa? kuñjaraka??na
 swoja? ri? sa? pu?nawijaya
Terjemahan: “Berpikirlah (OJED, I: 96, a?en) Sang Kunjarakarna, (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”.
Begitu pula:

(25) 3179  H ih
  hi?a?nendriya haja tan
  prayatna,
Terjemahan: “Hai, … berusahalah keras […]”. (h. 327)
Sebaiknya dibaca:
3179  H ih
  hi?a?na?en driya haja tan
  prayatna,
Artinya: “Nah, dipikir dengan periksa, jangan tak waspada, […]”

(26) 399 H […] gagakk
  alwar curiga
Terjemahan: “[…] Mereka jahat”
Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “galak” (VG X: 57) menjadi “gagak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED, I 473, gagak, gagak) yang bersayap keris”.
Selanjutnya perlu diperhatikan konsistensi dalam transliterasi.
Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. Sekedar contoh:

(27) 835 A mawak masarira – 1824 A mawak masarira
  K mawakasarira   K mawa?k asarira
  H mawaka?arira   H mawak asarira
Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak a?arira”.
Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel, seperti: “ta?n ana lena kapa?gu?” (2464, 2900, 3539), dan lain-lain.

Namun demikian, perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa dan tradisi teks masing-masing. Misalnya:
1. 574. me?keneha b. ma?keneha. (h. 358)
Kiranya perlu dipertahankan: “me?keneha” (3369 H: me?keneha; OJED, I: 1139, me?kene). Jadi pada naskah H terdapat: “ma?kana” (513, passim) – “mo?kono” (2136 H: mo?konoha; OJED, I: 1149, mo?kono) – “me?kene”.
2. 29. rasaksa b. raksasa. (h. 356); 1504. ra?aksa b. rak?asa. (h. 360); 1760. rasak?a b. rak?asa. (h. 361). Bisa ditambah: 1507 H: rasak?a. Di sini pun perlu dipertahankan: “rasaksa” (beserta varian ejaannya), yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. Jawa Baru: raseksa).
3. 1300. hamahek b. hamahet. (h. 360); 2825. hamahet b. hamahat. (h. 364). Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahet”.
4. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayaka??na” beserta varian ejaannya (105, 160, 170; bdk. Cantakaparwa) menjadi “kuñjaraka??na” (h. 356), dan “paladara” (3270, 3306, 3346, 3353; bdk. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. 365), perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin.

Sejarah teks dan tradisi
Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W, van der Molen menyimpulkan, bahwa:
1. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca, penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K.
2. pertukaran ‘d’ dan ‘n’ pada naskah H dan K menyatakan, bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan, di mana bentuk kedua huruf itu serupa.
3. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian, manakah bacaan yang harus dianggap asli.
4. perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan, bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K; hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya.
5. Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan, bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris), sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual); (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli, sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting.

Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut, baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicita-citakan.
Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut.
1. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “sa? matiwatiwa (naskah A) dan “s?a? mati” (naskah H)/ “s?a mati” (naskah K). Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED, II: 2026, tiwa; Tengger: Entas-entas). Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati, hukum karma, penjelmaan kembali, proses kelahiran, serta hakekat pengetahuan akan dharma, samadhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. larik 3085-3137), yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. Pengambilalihan teks itu sesuai dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. larik 1973-1975).
2. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan, bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan:
a. antara unsur-unsur cerita
– lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559, A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46, H-K).
– lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340, A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230, H-K).
b. antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya
– ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810, 828-835, A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310, 2312-2317, H-K).
– ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260, A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866, H-K).
– pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044, A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071, H-K). Bdk. juga 3080-3138, H-K dengan 2048-2060, H-K).
c. antara ajaran dan praktek
– ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317, H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917, H-K).
– ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454, H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494, 2550-2555, H-K).
Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda.

Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahap-tahap penyusunannya.