Review Buku : Sejak Dari Istana Raja Sampai Tempayan dan Piring

Henri Chambert-Loir (2011). Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima teks Indonesia lama. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia [dll.]. Tebal 180 hlm. ISBN Perancis 978-2-85539-484-8, ISBN Indonesia 978-979-91-0407-6 (Naskah dan Dokumen Nusantara Seri XXIX)

 

Buku ini memuat lima artikel karya Henri Chambert-Loir. Masyarakat pernaskahan Nusantara tentu tidak merasa asing lagi dengan nama filolog asal Perancis ini, yang lama bekerja sebagai direktur dan peneliti di École française d’Extrême-Orient (EFEO) perwakilan Jakarta, bahkan sampai sekarang beliau masih terlibat dengan aktivitas lembaga tersebut. Chambert-Loir identik dengan kajian naskah-naskah Nusantara yang berasal dari Bima dan Pulau Sumbawa pada umumnya. Namun dalam buku ini Chambert-Loir membawa pembaca ke wilayah pernaskahan Nusantara yang lain, seperti Aceh, Semenanjung Malaysia, Kalimantan Barat, dan Jawa.

Buku ini memuat versi Bahasa Indonesia enam artikel Chambert-Loir yang versi aslinya telah diterbitkan dalam bahasa Perancis dan Inggris di beberapa jurnal internasional dan dalam bentuk bab dalam buku-buku collective bundel. Sebagaimana dikatakan oleh penulisnya, buku ini “dimasudkan sebagai jilid pertama dari tiga buku berisi sejumlah artikel pilihan” karya Henri Chambert-Loir “dalam terjemahan Indonesia” yang prakarsa penerbitannya muncul dari Bapak Ajip Rosidi sekitar 15 tahun lalu (hlm. 7).
Artikel pertama yang mengawali buku ini (hlm. 9-22) sebenarnya tidak langsung terkait dengan teks klasik Nusantara. Artikel ini adalah sebuah obituari mengenang almarhum Profesor Dr. Denys Lombard, salah seorang akademikus Perancis terkemuka tentang Asia. Artikel aslinya dimuat dalam Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient 85 (1998), hlm. 7-18. Kemudian obituari ini diterbitkan lagi dalam Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard, eds.: H. Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary, disertai dengan senarai karya-karya Denys Lombard (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999, hlm. 13-47). Obituari ini mengisahkan perjalanan karier akademis Denys Lombard sebagai sejarawan dan ahli budaya Nusantara yang terkemuka di Perancis khususnya dan di Eropa pada umumnya. Lahir di Marseille pada 4 Februari 1938, Denys muda adalah anak Maurice Lombard, seorang ahli sejarah ekonomi masa penyebaran agama Islam. Faktor sang ayah inilah antara lain yang membawa Denys Lombard ke jalan nasib menjadi ahli studi sejarah dan budaya Nusantara, khususnya dunia Tionghoa dan Melayu-Indonesia.
Tahun 1961 Denys Lombard memperoleh ijazah sarjana di bidang sastra klasik dan sejarah Eropa di École Nationale des Langues Orientales Vivantes (sekarang INALCO), Paris, ditambah empat diploma bahasa-bahasa Timur, yaitu Bahasa Tionghoa, Bahasa Melayu-Indonesia, Bahasa Khmer, dab Bahasa Thai (hlm. 9). Jumlah perolehan ijazah dan diploma tingkat awal yang berhasil diperoleh Denys Lombard itu sudah menunjukkan minat dan kualitas akademiknya yang tampaknya melebihi rata-rata kemampuan akademis kebanyakan teman-temannya sesama mahasiswa. Pada masa itu pula Denys menikah dengan Claudine Salmon, yang kemudian kita kenal sebagai Indonesianis lain asal Perancis yang banyak meneliti sejarah sastra dan budaya kaum peranakan Tionghoa di Indonesia.
Denys Lombard memperoleh gelar doktor dari École de Heutes Études en Sciences Sociales (EHESS) di Paris pada tahun 1963 dengan disertasi Le sultanat d’Aceh au temps d’Iskandar Muda, 1607-1636 (‘Kerajaan Aceh pada zaman Sultan Iskanda Muda, 1607-1637’). Disertasi itu diterbitkan oleh EFEO pada tahun 1967, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (cetakan pertama dan kedua berturut-turut tahun 1986 dan 1991 diterbitkan oleh Balai Pustaka; tahun 2006 diterbitkan lagi oleh EFEO dan Kepustakaan Populer Gramedia).
Pada tahun 1964-1965 Denys Lombard bersama istrinya menetap di Beijing, Cina. Sambil menulis buku dan artikel ilmiah, mereka kuliah di Universitas Beijing. Pada tahun 1966 Denys Lombard pindah ke Jakarta untuk menjabat sebagai ahli peneliti di EFEO sekaligus menggantikan posisi mantan gurunya, L.C. Damais, yang meninggal pada bulan Mei 1966. Waktu itu sebenarnya EFEO belum memiliki kantor perwakilan tetap di Jakarta. Menurut Chambert-Loir, selama 4,5 tahun masa tinggal Denys Lombard di Beijing dan Jakarta adalah tahun-tahun produktifnya yang banyak menghasilkan buku dan artikel-artikel ilmiah, termasuk melanjutkan beberapa pekerjaan L.C. Damais yang terbengkalai (hm. 14-15).
Pada tahun 1969 Denys Lombard diangkat sebagai profesor di EHESS. Dan seperti telah sama kita ketahui, beliau mengajar di lembaga tersebut sampai akhir hayatnya. Berkat posisinya yang penting itu, dan tentu saja karena minat akademisnya yang besar, terbitlah majalah Archipel yang sampai sekarang masih tetap eksis. Archipel terbit pertama kali tahun 1971 atas prakarsa Denys Lombard bersama Christian Pelras dan Pierre Labrousse.
Denys Lombard meninggal tanggal 8 Januari 1998 dalam usia yang tergolong masih muda untuk ukuran orang Eropa: 60 tahun. Namun usia yang cukup singkat itu telah dimanfaatkannya secara maksimal untuk menulis lusinan karya ilmiah mengenai sejarah dan budaya Nusantara. Banyak karyanya (umumnya ditulis dalam Bahasa Perancis) telah sampai ke tangan para pembaca Indonesia berkat peran aktif EFEO yang mengusahakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, termasuk laborious work-nya, Nusa Jawa Silang Budaya yang tebalnya mencapai 1027 halaman (diterbitkan pertama kali tahun 1996 sebagai seri Forum Jakarta-Paris).
Mungkin ada dua hal penting yang perlu kita catat tentang kehidupan Denys Lombard: 1) ia adalah akademikus yang tidak pernah mengambil cuti sabatikal selama kariernya (hlm. 19); 2) ia adalah tipe ilmuwan yang secara luas mempelajari berbagai aspek budaya Asia, namun tetap berfokus pada Nusantara (hlm. 19), khususnya Indonesia, berbeda dengan banyak Indonesianis Euro-Amerika di zaman sekarang yang biasanya mengambil fokus penelitian lebih kecil, seperti etnis atau wilayah tertentu saja dan melihatnya dari perspektif disiplin ilmu tertentu. Denys Lombard, intelektual pekerja keras itu, tentu akan selalu dikenang berkat sumbangan akademisnya yang tak ternilai yang telah memperbesar body of knowledge tentang Indonesia.
Empat artikel berikutnya menyangkut dunia pernaskahan Nusantara yang berasal dari abad ke-17 dan ke-19. Artikel pertama (atau artikel kedua dalam urutan buku ini) berjudul “Ruang politik dalam Hikayat Hang Tuah” (hlm. 23-56), yang versi aslinya (dalam bentuk yang lebih sederhana) ditulis dalam Bahasa Perancis dan terbit dalam Asia Maritima: Images et Réalités, 1200-1800 (eds.: D. Lombard & R. Ptak) (Wiesbaden: Harrassowitz Verlag, 1994, hlm. 41-61). Dalam artikel ini Chambert-Loir mencoba memilah realitas fiksional dan realitas sejarah (sosial dan politik) dalam Hikayat Hang Tuah (HHT). Ia merekonstruksi tour of area yang dilakukan tokoh Hang Tuah dalam kapasitasnya sebagai utusan Raja Melaka. Untuk itu Chambert-Loir menggunakan teks pembanding, yaitu Sulalat al-Salatin dan Bustan al-Salatin (transkripsinya  dalam format perbandingan disajikan dalam Lampiran artikel ini [hlm. 47-56]). Menurutnya, berbeda dengan konsep perjalanan jauh yang bersifat melingkar yang mempunyai peran penting untuk pencarian jatidiri tokoh (spiritual maupun material) yang umum ditemukan dalam teks-teks epik Melayu klasik, dalam HHT setiap perjalanan tokoh utama (Hang Tuah) “berarti pengetahuan (sang tokoh sebagai wakil bangsanya menemukan dunia) dan pengakuan (kesultanan Malaka diakui oleh negeri-negeri besar pada masa itu) […]. Hikayat Hang Tuah memberikan gambaran tentang ruang politik Melayu sekitar abad ke-16. Namun penjelahan ruang itu oleh tokoh tunggal [Hang Tuah] bersifat fiktif, dan deskripsi beberapa tempat berupa khayalan [saja]. Jadi, ruang itu sebenarnya ruang ideal. Oleh karena itu ia […] mencerminkan konsepsi orang Melayu tentang dunia geografis serta kekuatan-kekuatan politik yang harus mereka hadapi.” (hlm. 46).
Artikel berikutnya berjudul “Syair Sultan Fansuri” (hlm. 57-91). Artikel ini aslinya ditulis dalam Bahasa Perancis dan terbit pertama kali dalam Histoire de Barus III, Regards sur une place marchande de l’Océan Indien (XIIe – milieu du XVIIe s.) (eds.: D. Perret & Heddy Surachman) (Paris: EFEO, 2009, hlm. 507-528). Teks yang dibahas oleh Chambert-Loir dalam artikel ini berasal dari koleksi naskah yang dikumpulkan oleh H.N. van der Tuuk di pantai barat Sumatra pada 1860-an yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Teks yang berkode Or. 3303 itu ditranskripsikan oleh Chambert-Loir (hlm. 69-75), disertai catatan kritis (Lampiran 1, hlm. 76-83), dan dibahas aspek kesastraan dan konteks kesejarahannya. Rupanya teks ini merupakan bagian pertama dari satu teks yang lebih panjang; bagian kedua teks ini berupa prosa sepanjang 30 halaman, tapi tidak dibahas dalam artikel ini. Syair ini merekam kont[r]ak politik antara Raja Barus dengan orang-orang Inggris pada tahun 1812 dan tahun-tahun sesudahnya. Meskipun Chambert-Loir sepintas membahas aspek kebahasaan dan kesastraan teks ini, tapi menurutnya daya tarik syair ini “jelas [lebih] terlihat pada isinya yang bernilai sejarah.” (hlm. 58). Istilah “Sultan Fansuri” dalam konteks syair ini maksudnya adalah raja-raja Fansur (nama lain untuk Barus), jadi tidak ada kaitannya dengan tokoh agama Hamzah Fansuri yang juga berasal dari Barus. Ringksan syair ini yang disajikan oleh Chambert-Loir di halaman 64-69 mempermudah pembaca memahami isinya. Sebagai tambahan informasi, sekaligus sebagai rujukan, dalam artikel ini Chambert-Loir juga menyajikan transkripsi satu teks lain yang dari segi tema terkait dengan teks pertama. Teks itu berjudul “Inilah Hikajat Tjerita Baros”, sebuah naskah pendek koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Naskah ini termasuk kumpulan delapan teks Melayu yang berkaitan dengan Dinasti Hulu yang pernah berkuasa di Barus pada abad ke-18 dan 19 (lihat: PNRI Ml. 162; teks ini sendiri berada di urutan ke-6, hlm. 137-252). Transkripsi teks ini disajikan sebagai Lampiran II dalam artikel ini (hlm. 84-90). Artikel ini jelas menambah pengetahuan kita mengenai masa lalu Barus dan melengkapi kajian-kajian yang sudah dilakukan oleh orang lain mengenai wilayah ini, misalnya Jane Drakard, Lee Kam Hing, dan lain-lain.
Artikel berikutnya menyangkut hukum agama Islam di pulau Kalimantan pasa masa lampau. Artikel ini (artikel ke-4 dalam buku ini) berjudul “Beberapa aspek peradilan agama Islam di Kesultanan Pontianak tahun 1880-an” (hlm. 93-109), yang terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris dan dimuat dalam Texts from the Islands: Oral and Written Traditions of Indonesia and the Malay World (eds.: W. Marschall) (Berne: University of Bern [Ethnologica Bernensia 4], 1994, hlm. 159-173. Pembicaraan Chambert-Loir dalam artikel ini difokuskan pada satu naskah setebal 185 folio yang diperolehnya dari tangan seorang pemuda yang masih keturunan aristokrat dari Kesultanan Pontianak (dirikan oleh Pangeran Syarif Abdul Rahman al-Qadri tahun 1772) dalam kunjungannya ke Kalimantan Barat pada tahun 1985. Chambert-Loir menyebutkan bahwa naskah itu (yang disebutnya ‘Naskah Pontianak’) beralaskan kertas Eropa dan berisi berkas-berkas “dakwaan yang diajukan warga Pontianak kepada mahkamah agama (Raad Agama), kepada Sultan atau kepada berbagai menteri, antara 1872 dan 1882, terutama pada 1881.” (hlm. 95). Raad Agama itu diketuai oleh salah seorang aristokrat Kesultanan Pontianak yang bernama Pangeran Bendahara. Rupanya dakwaan-dakwaan yang diajukan kepada Raad Agama Kesultanan Pontianak itu berasal dari berbagai kalangan anggota masyarakat. Topik gugatan pada umumnya menyangkut perselisihan perdata (kebanyakan mengenai perebutan warisan) dan masalah perkawinan (lebih didomiasi oleh berbagai persoalan yang timbul akibat perceraian). Menarik pula bahwa sekitar 38% dakwaan diajukan oleh kaum perempuan (hlm. 97). Dalam artikel ini dilampirkan transkripsi beberapa surat dakwaan dan reproduksi beberapa naskah aslinya (lihat: Lampiran, hlm. 102-109). Teks langka yang jarang menjadi perhatian dalam kajian filologi di Indonesia ini memberi informasi kepada kita mengenai berbagai perkara yang timbul dalam masyarakat yang terkait dengan hukum agama dalam konteks masyarakat lokal di Hindia Belanda pada abad ke19. Dan oleh karena di Indonesia pengadilan agama juga berperan penting sampai sekarang, yang konsepsi-konsepsi hukumnya masih terus disempurnakan, maka kajian ini diharapkan akan bermanfaat dan dapat memberikan “sumbangan berharga terhadap tujuan tersebut.” (hlm. 93-4).
Artikel berikutnya (artikel urutan ke-5 dalam buku ini) juga membahas satu teks pendek yang selama ini jarang mendapat perhatian dari para peneliti naskah Indonesia. Artikel itu berjudul “Tempayan Kalimantan menurut sebuah teks Melayu tahun 1839” (hlm. 111-151). Aslinya artikel tersebut ditulis dalam Bahasa Perancis dan diterbitkan dalam jurnal Archipel No. 66, 2003, hlm. 113-160. Pembahasan yang mendalam dari perspektif sejarah yang dilakukan Chambert-Loir dalam artikel ini menambah wawasan kita mengenai peran Kalimantan (dengan penduduknya yang cukup beragam: Dayak [yang terdiri dari bermacam-macam puak pula], Melayu pesisir dan suku-suku pendatang) dalam pembuatan dan perdagangan barang-barang keramik di abad ke-19. Naskah yang dibahas dalam artikel ini tersimpan di Perspustakaan Universitas Leiden dengan kode Or. 2240 1b. E.P. Wieringa (1998: 381) menjelaskan bahwa naskah itu adalah “description with drawings of stoneware jars (tempayan) and dragons (naga) made for tuanku Pangeran ratu Idris Kusumanegara by a certain Mahbud, dated 17 Syaban 1255.” Jadi, konteks geografis teks ini adalah wilayah Kalimantan Barat seperti Naga Kayan, Sintang, Pontianak, dll.. Istilah ‘tempayan’ yang dipakai merujuk kepada perabot rumah tangga berupa guci keramik besar bermotifkan macam-macam hiasan (seperti bunga-bunga dan ular naga) yang tidak saja memiliki fungsi praktis (tempat penyimpan jenis makanan atau minuman) tetapi juga memiliki fungsi simbolis (untuk menunjukkan status sosial atau untuk acara ritual). Nama penulis (atau penyalin) naskah ini (Mahbud) terkesan cukup bernuansa Arab. Sangat mungkin pula bahwa para pedagang asing (seperti Cina dan Arab) terlibat aktif dalam perdagangan keramik di Kalimantan pada abad ke-19. Cod. Or. 2240 1b (aksara Arab-Melayu atau Jawi) menjelaskan nama-nama tempayan dari berbagai ukuran dan motif-motif hiasannya yang menunjukkan kualitasnya. Jadi, jelas bahwa teks ini diperuntukkan bagi para konsumen, khususnya orang-orang kaya dan aristokrat (seperti Tuanku Pangeran Ratu Idris Kusumanegara) yang ingin mengoleksi guci-guci keramik besar (tempayan) untuk berbagai keperluan, antara lain utuk simbol status sosial mereka. Artikel ini menyajikan transkripsi lengkap Cod. Or. 2240 1b (hlm. 120-32) dan daftar kata-kata dan istilah khusus yang ditemukan dalam teks itu (hlm. 133-39) serta reproduksi teks itu sendiri (hlm. 142-52) yang berhiaskan gambar-gambar tempayan besar yang dilengkapi dengan berbagai keterangan mengenai bagian-bagiannya.
Artikel terakhir (keenam) dalam buku ini masih menyangkut barang keramik tapi tidak terkait dengan naskah. Artikel ini berjudul “Melahap teks: piring-piring Inggris berhiaskan sajak Melayu” yang versi Inggrisnya diterbitkan pertama kali dalam jurnal Indonesia Circle (SOAS Universit of London) Volume 63 (1994 ), hlm. 183-210. Objek penelitian ini adalah piring-piring antik bertuliskan Jawi yang ditemukan tertempel di dinding makam Sunan Bonang di Tuban, Makam Sunan Gunung Jati, dan Ki Gede Kebagusan di Cirebon. Akan tetapi sebagaimana dikatakan oleh Chambert-Loir, piring-piring antik seperti itu ditemukan pula di beberapa museum dan di toko-toko barang antik di beberapa kota Indonesia. Dalam artikel in Chambert-Loir membuat rekonstruksi historis tentang pabrik pembuatan piring-piring tersebut dan distribusinya di Hindia Belanda dan negara-negara Asia lainnya. Piring-piring tersebut adalah piring makan besar (ada yang berdiameter sampai 26,5 cm) dengan bentuk bundar dan sebagian kecil berbentuk poligonal bersisi 14 (hlm. 159). Sebagaimana tertera pada beberapa tulisan Jawi yang ada di piring tersebut, fungsi utamanya memang sebagai perabot makan (hlm. 153).
Pabrik-pabrik pembuat piring itu ternyata berada di Inggris, yaitu W. Adams and Sons, sebuah keluarga besar di Staffordshire, Inggris, yang mempunyai empat perusahaan pembuat keramik pada abad ke-18 dan 19. Piring-piring produksi W. Adams and Sons yang beredar di Hindia Belanda tampaknya dicetak dari 1819 hingga 1864. Pabrik yang lain bernama J. Hawley. Keluarga besar Hawley di Yorkshire dan Staffordshire, Inggris, setidaknya memiliki tiga firma yang membuat barang-barang keramik pada abad ke-19. Piring-piring buatan keluarga Hawley yang beredar di Hindia Belanda tampaknya diproduksi antara 1832-1893 oleh Foley Pottery milik John Hawley di Staffordshire dan Joseph Howley di Burslem yang aktif tahun 1840 (hlm. 156-7). Sebagian kecil piring lainnya dibuat oleh perusahaan keramik Belanda bernama Regout yang berlokasi di Maastricht (hlm. 154). Piring-piring buatan Inggris, khususnya dari pabrik W. Adams and Sons yang bermerek ‘Malay’, diedarkan di Jawa oleh distributor yang bernama Anderson Tolson yang berkantor di Batavia. Orang ini rupanya memiliki satu perusahaan patungan dengan keluarga pengecer keramik terkenal Abraham Hunt di Inggris (hlm. 155).
Selain mengandung tulisan-tulisan beraksara Jawi, piring-piring tersebut kadang-kadang juga berhiaskan gambar-gambar bermotif bunga. Teks-teks pada piring-piring buatan Inggris memakai bahasa Melayu. Sedangkan teks-teks pada piring-piring yang diproduksi di Belanda ada yang memakai bahasa dan aksara lokal yang ada di Hindia Belanda (Chambert-Loir menemukan satu piring dengan teks berbahasa dan beraksara Bugis di Museum I La Galigo di Makassar). Berdasarkan pembacaan seluruh teks beraksara Jawi yang ada di permukaan piring-piring tersebut (disajikan dalam lampiran transkripsi di halaman 160-69), Chambert-Loir menyimpulkan bahwa teks-teksnya dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: ada yang bersifat sakral seperti ajaran agama dan lebih banyak yang bersifat profan seperti syair cinta dan petuah-petuah yang mengandung hikmah. Teks-teks tersebut ditulis dalam bentuk pantun dan syair yang panjangnya antara empat hingga delapan larik (1-2 bait). Cara penulisannya berbagai macam: ada yang dicetak bersusun larik per larik; ada yang semua lariknya mengarah ke tengah piring; ada yang larik-lariknya sambung-menyambung berbentuk spiral; dll. (lebih jelasnya dapat dilihat pada reproduksi foto piring-piring tersebut yang disajikan di halaman 170-80). Chambert-Loir mengatakan pula bahwa teks itu disablon dengan menggunakan proses ‘cetak-transfer’ yang pertama kali digunakan di Inggris tahun 1750 (hlm. 158). Ia juga menyebut satu corak tulisan yang disebut ‘Khatib Muharis’ yang ditemukan pada piring-piring keluaran Inggris. Tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai orang ini. Sepertinya ia seorang pribumi Hindia Belanda yang menyediakan koleksi pantun atau syair untuk dituliskan di permukaan piring-piring untuk pabrik-pabrik Inggris tersebut karena dikatakan bahwa teks pantun atau syair tersebut ditulis tangan oleh orang itu (hlm. 156).
Pada tahun 1984 Pemerintah Republik Indonesia melarang peredaran piring-piring bertuliskan huruf Arab-Melayu itu. Alasannya adalah karena di tepi piring-piring tersebut sering ditemukan tulisan Bismillah al-rahman al-rahim dan Alhamdulillah. Rupanya Hari Suharto SH yang menjabat sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia pada waktu itu menganggap bahwa tidak patut menaruh makanan di atas nama Allah (hlm. 154). Pikiran keliru seperti itu, yang merefleksikan tradisi pengkultusan bahasa dan tulisan Arab, memang sering terjadi di Indonesia. Bahkan banyak orang menganggap tulisan Arab-Melayu (Jawi) sebagai tulisan Arab dan apabila mereka menemukan teks-teks bertuliskan aksara tersebut, mereka sering mensucikannya, menyimpannya di tempat-tempat yang sulit diketahui orang lain seperti di dalam peti kayu yang tempatnya dirahasiakan atau di loteng rumah. Mungkin dulu orang tidak lupa membaca Bismillah ketika akan makan dan mengucapkan Alhamdulillah setelah selesai makan karena diingatkan oleh kedua kata yang merefleksikan rasa syukur kepada Tuhan itu yang tertulis di tepi piring-piring makan mereka. Sekarang barangkali banyak orang tidak lagi ingat kepada Tuhan ketika menyantap makanan karuniaNya yang tersaji di piring-piring yang bagus-bagus tapi polos tanpa tulisan apapun di atas atas meja-meja makan yang indah dan mahal. Jadi, dalam beberapa hal tampak bahwa makin modern manusia tidak selalu ada jaminan bahwa mereka makin bijak dan dekat kepada Tuhan.
Terbitnya buku ini patut disambut gembira karena telah menambah lagi kepustakaan ilmiah mengenai dunia pernaskahan Nusantara. Secara langsung atau tidak, Sultan, Pahlawan dan Hakim mengajak kita untuk lebih memberi perhatian lagi kepada banyak naskah pendek Nusantara yang tersimpan di berbagai perpustakaan di dalam dan luar negeri yang selama ini sering terabaikan. Saya merekomendasikan para peneliti dan pemerhati naskah Nusantara untuk mengoleksi dan membaca buku yang menarik ini.