Sentralitas Kompetensi, Aplikasi Teknologi Informasi, dan Strategis Holistik : Upaya Perpustakaan – Pustakawan Meningkatkan Profesionalisme dan Kualitas Layanan di Era Globalisasi

Drucker dan Stewart mencatat bahwa pada masa sekarang dan lebih-lebih pada masa depan keberadaan, kedudukan, dan peranan pengetahuan sangat strategis dan utama. Masa depan kita ditentukan oleh pengetahuan sehingga dunia kita bergantung sekaligus berpilar pada pengetahuan. Oleh karena itu, masa depan kita merupakan abad pengetahuan yang mempersyaratkan kemampuan tertentu yang canggih. Pada abad pengetahuan, semua hal akan bertumpu dan mempersyaratkan pengetahuan: ekonomi berbasis pengetahuan, pekerja berpengetahuan, dan masyarakat pun berpengetahuan. Implikasinya, modal pengetahuan menjadi sangat penting, aset paling berharga, dan sekaligus dibutuhkan oleh semua orang. Tanpa modal pengetahuan, orang akan terpinggirkan dan menjadi pecundang. Dengan modal pengetahuan yang baik, orang akan mampu banyak berkiprah dan menjadi pemenang dalam berbagai aktivitas kehidupan. Ini menunjukkan bahwa brainware sangat strategis dibandingkan hardware dan software.

Sesuai dengan UU No. 2 tahun 1999 tentang Pendidikan Nasional bahwa salah satu sarana untuk mencerdaskan bangsa adalah dibentuk suatu perpustakaan di tiap tingkat sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Undang-undang ini mengisyaratkan betapa vitalnya peranan Perpustakaan. Perpustakaan tidak sekedar "gudang" yang menyimpan rak-rak buku namun lebih daripada itu diharapkan dapat berperan melayani dan sebagai tempat dimana manusia dapat melakukan pengembaraan lintas ruang dan waktu. Dengan kata lain sesuai dengan perkembangan pengetahuan, perpustakaan mesti hadir sebagai lembaga yang bertugas melayani masyarakat untuk menyimpan, mengolah, mengemas dan mendistribusikan informasi secara relevan, akurat dan cepat.

Pertanyaan kita adalah: modal pengetahuan apakah yang sesuai (cocok) dengan dan dibutuhkan bagi perpustakaan dan pustakawanan pada masa kini dan masa depan? Bagaimanakah peran perpustakaan-pustakawanan dalam dunia yang mengglobal dan semakin menyempit ini? Serta apa pula yang harus dimiliki dan dilakukan oleh perpustakaan dan kepustakawanan di masa kini dan masa datang? Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini dapat kita runut lebih dahulu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan pada masa kini dan masa depan.

Dalam konteks terbentuknya abad pengetahuan, Dryden dan Vos melihat ada 16 kecenderungan utama yang akan membentuk masa depan kita. Kecenderungan yang dimaksud adalah: (a) berkembangnya komunikasi serba instan, (b) timbulnya dunia tanpa batas-batas ekonomi, (c) terjadinya empat lompatan besar menuju ekonomi dunia-tunggal [menyatu], (d) berkembangnya perdagangan dan pembelajaran melalui internet, (e) berkembangnya masyarakat layanan baru, (f) terjadinya penyatuan antara yang besar [global] dan yang kecil [lokal], (g) makin kuatnya era baru kesenangan dan kegembiraan, (h) terjadinya perubahan bentuk kerja secara mendasar, (i) makin tampilnya perempuan sebagai pemimpin, (j) makin banyaknya penemuan terbaru tentang otak yang sangat mengagumkan, (k) menguatnya nasionalisme budaya, (l) adanya kelas bawah yang makin besar, (m) semakin besarnya jumlah manula, (n) terjadinya ledakan praktik-mandiri, (o) berkembangnya perusahaan kooperatif, dan (p) bangkitnya kekuatan dan tanggung jawab individu (kemenangan individu). Ini dapat ditambah pula dengan kecenderungan makin pudarnya pamor dan kejayaan kecerdasan kognitif (IQ) pada satu pihak dan pada pihak lain makin berkibarnya pamor dan kejayaan kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan adversitas (AQ), dan kecerdasan majemuk (MI). Kecenderungan utama tersebut sesungguhnya sudah tampak kuat gejalanya sekarang.

Sementara itu, pada sisi lain, kita melihat masa depan kita makin dilanda sekaligus dibekap atau digenggam oleh globalisasi. Anthony Giddens menengarai bahwa globalisasi ini telah membawa dunia kita sekarang dan masa depan kita berlari kencang tunggang langgang, lepas kendali alias senantiasa mrucut. Kita kini berada dalam runaway world, kata Giddens. Di sini kita dihadapkan pada empat kenyataan atau kecenderungan pokok, yaitu (a) kecepatan perubahan yang demikian dahsyat dan susah diperkirakan [termasuk kecepatan perubahan informasi dan isi pengetahuan], (b) kebaruan segala sesuatu yang sedemikian cepat dan kilat [termasuk kebaruan informasi dan isi pengetahuan], (c) keusangan segala sesuatu yang sedemikian cepat dan kuat [termasuk keusangan informasi dan isi pengetahuan], dan (d) kesesaatan segala sesuatu dalam kehidupan manusia sehari-hari [termasuk kesesaatan informasi dan isi pengetahuan]. Kecenderungan ini jelas merombak kehidupan kita secara mendasar pada masa sekarang, lebih-lebih pada masa depan. Jika memiliki kemampuan memadai, maka kita dapat mengarungi globalisasi dengan baik. Jika tidak memiliki kemampuan memadai, kata Alvin Toffler, maka kita akan terserang gegar budaya dan atau gegar masa depan (future shock).

Kita juga harus menyadari bahwa globalisasi telah menyorongkan dunia kita "yang mungkin kecil, lokal, dan terbatas" ke dalam sistem-sistem dunia "yang besar dan tidak terbatas" karena globalisasi memang benar-benar memadatkan dunia ke dalam satu ruang tunggal dan mengintensifkan kesadaran dunia sebagai kesatuan. Kita dituntut sadar dan ikhlas memasuki pelbagai jaringan sistem dunia, misalnya jaringan sistem budaya, sistem ekonomi, sistem bisnis-moneter atau sistem pasar, sistem politik, sistem komunikasi dan transportasi, dan sistem pengetahuan. Selain itu, kita dituntut lapang dada menerima kenyataan pudarnya berbagai sistem lokal dan nasional, misalnya sistem negara-bangsa dan kedaulatan politik dan ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengakibatkan (a) hal-hal pribadi dan lokal dapat menjadi urusan umum dan global dan (b) hal-hal umum dan global juga menjadi urusan pribadi dan lokal. Sebagai contoh, soal orang tua mencubit anak sendiri bisa menjadi urusan global [karena dianggap pelanggaran hak anak] dan sebaliknya soal gaya makan di McDonalds [yang Amerika-sentris] menjadi urusan lokal [karena dianggap bagian dari gaya hidup siapa saja]. Ini menunjukkan bahwa globalisasi demikian rumit dalam kenyataan hidup sehari-hari kita.

Berkaitan dengan kiprah perpustakaan dan pustakawan di dalamnya, paparan tersebut mengimplikasikan lima hal pokok berikut.

1. Pertama, dunia kehidupan sudah menjadi sangat terbuka dan membentuk jaringan-jaringan kerja sedemikian kompleks dalam sistem dunia. Ini membuat perpustakaan dan pustakawan di dalamnya tidak cukup hanya berkompetisi (bersaing), tetapi juga perlu berkooperasi dan bersinergi (bekerja sama satu sama lain). Dengan kata lain, perpustakaan dan pustakawan dituntut untuk mampu berkompetisi atau bersaing sekaligus bersanding dengan lembaga lain. Hal ini mengharuskan perpustakaan, dan pustakawan beserta segala fasilitasnya harus memiliki keunggulan kompetitif sekaligus kemampuan bersanding atau bekerja sama. Konsekuensi logisnya, kompetensi-kompetensi lama abad industrial perlu ditinggalkan pada satu sisi dan pada sisi lain kompetensi-kompetensi baru abad pengetahuan perlu dikuasai. Selain itu, pola hubungan-hubungan lama menjadi usang sehingga perlu diganti dengan pola hubungan-hubungan baru. Ini semua perlu diantisipasi.
2. Kedua, mutu kompetensi pustakawan dan pengelola perpustakaan yang berisi penguasaan pengetahuan, kecakapan hidup, dan nilai menjadi sangat penting dan utama dalam zaman globalisasi – yang hanya salah satu kecenderungan zaman sekarang dan masa depan. Tanpa kompetensi tertentu yang tinggi dan memadai bagi kehidupan global niscaya seorang pustakawan juga lembaga perpustakaan [akan] menjadi pecundang.
3. Ketiga, kompetensi pustakawan dan perpustakaan yang holistis, utuh, dan general atau lintas-disipliner dibutuhkan dan diutamakan untuk sukses berkiprah dalam kegiatan dan kehidupan global karena terdapat kecenderungan konvergensi berbagai bidang kehidupan sehari-hari dan ilmiah. Kompetensi fragmentatif, terpisah-pisah, dan spesialistis tidak memadai dan andal lagi untuk bekal berkiprah dalam kegiatan dan kehidupan global yang berlari tunggang langgang. Tak heran, Robert T. Kiyosaki berseru: jadilah generalis kalau ingin sukses, jangan hanya jadi spesialis! Ini pernyataan keras atau radikal. Kalau dilunakkan mungkin pernyataannya bisa begini: jadilah orang yang berkembang minat dan keahliannya, jangan hanya "itu-itu melulu" karena dunia terus berubah dengan sangat cepat!. Ini menuntut setiap orang untuk terus-menerus dan berkelanjutan merencanakan dan merencanakan-ulang minat, karier, profesi, dan kompetensi. Orang yang tidak mau berpikir-ulang dan merencanakan-ulang apa yang akan dijalaninya akan menjadi "penonton pasif" dari dunia yang kencang berlari. Mengutip judul sebuah novel dan film: orang tersebut bakal selalu ketinggal kereta! Jadi, prasyarat-prasyarat kompetensi senantiasa berubah sehingga para pustakawan harus selalu memperbaharui kompetensinya.
4. Keempat, sebagai konsekuensi logis implikasi tiga, belajar secara berkelanjutan, terus-menerus, dan sepanjang hayat sangat diperlukan sehingga kemampuan belajar menjadi conditio sine qua non dalam diri setiap orang. Setiap pustakawan harus menjadi manusia pembelajar agar kompetensi yang dimiliki tetap mutakhir, cocok, fungsional, dan aktual dengan kebutuhan dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Demikian juga setiap lembaga [baik lembaga bisnis, lembaga keluarga, lembaga sosial maupun lembaga-lembaga lain] harus menjadi organisasi pembelajaran sehingga lembaga-lembaga tersebut tetap dapat bertahan dan berfungsi dengan baik. Dengan demikian, diharapkan keusangan sekaligus ketakcocokan kompetensi dapat dihindarkan pada satu sisi dan pada sisi lain kebaruan sekaligus kemutakhiran kompetensi dapat diraih dan dikembangkan. Sekarang semangat dan tekad menjadi manusia pembelajar(an) dan organisasi pembelajaran harus dipacu lebih keras lagi kompetensi yang mutakhir, baru, cocok, dan fungsional dimiliki oleh setiap orang dan organisasi sehingga mereka mampu eksis di tengah kecamuk perubahan yang tidak beraturan (turbulensi perubahan).
5. Kelima, sekarang kompetensi-kompetensi baru dibutuhkan oleh setiap orang dan organisasi di Indonesia karena kini sedang terjadi pelbagai perubahan secara besar-besaran di Indonesia dan di dunia. Perubahan yang dimaksud antara lain (i) perubahan pekerjaan, (ii) perubahan ekonomi-bisnis-moneter, (iii) perubahan sosial budaya, (iv) perubahan sosial politik, dan (v) perubahan komunikasi dan transportasi. Sebagai contoh, dalam bidang sosial politik terjadi perubahan berupa makin melemahnya peranan negara pada satu sisi dan makin menguatnya masyarakat sipil pada pada sisi lain. Demikian juga di bidang ekonomi sedang terjadi perubahan berupa makin kuatnya sektor swasta pada satu sisi dan pada sisi lain makin menurunnya peran negara. Ini semua membuat setiap orang dan organisasi tidak bisa lagi bergantung pada peran negara (misalnya: berkarier menjadi pegawai negeri), melainkan mereka harus bergantung pada peran sektor swasta (misalnya: berkarier menjadi pekerja independen). Untuk itu, berbagai kompetensi baru dibutuhkan dan perlu dikuasai oleh banyak orang dan juga organisasi.

Paparan tersebut di atas menunjukkan bahwa keberadaan kompetensi bagi lembaga perpustakaan dan pustakawan di dalamnya sangat sentral pada zaman globalisasi dan abad pengetahuan. Sentralitas kompetensi tersebut semestinya membuat lembaga perpustakaan dan pustakawannya untuk lebih mengandalkan kompetensi. Agar mampu hidup dengan lebih bermakna, dan mulia pada zaman globalisasi, setiap pustakawan perlu memiliki standar minimal kompetensi. Pertanyaan kita: bagaimanakah standar (minimal) kompetensi pustakawan  yang dibutuhkan pada zaman globalisasi tersebut?

Hal ini sesungguhnya susah dijawab karena perlu dilakukan kajian komprehensif. Namun, sebagai perkiraan dasar dapat dikemukakan di sini bahwa standar minimal kompetensi yang mutlak diperlukan oleh pustakawan pada zaman globalisasi ini terdiri atas (1) kompetensi intelektual, (2) kompetensi personal, (3) kompetensi komunikatif, (4) kompetensi sosial-budaya, (5) kompetensi kinestetis-vokasional.

– Kompetensi intelektual antara lain berupa kemampuan berpikir dan bernalar, kemampuan kreatif (meneliti dan menemukan), kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan strategis yang mendukung kehidupan global.

– Kompetensi (intra) personal antara lain berupa kemandirian, ketahanbantingan, keindependenan, kejujuran-keberanian, keadilan, keterbukaan, mengelola diri sendiri, dan menempatkan diri sendiri secara bermakna serta orientasi pada keunggulan yang seusai dengan kehidupan global.

– Kompetensi komunikatif antara lain berupa kemahirwacanaan, kemampuan menguasai sarana komunikasi mutakhir, kemampuan menguasai suatu bahasa, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan membangun hubungan-hubungan dengan pihak lain yang mendukung kehidupan global dalam satu sistem dunia.

– Kompetensi sosial budaya antara lain berupa kemampuan hidup bersama orang lain, kemampuan memahami dan menyelami keberadaan orang/pihak lain, kemampuan memahami dan menghormati kebiasaan orang lain, kemampuan berhubungan atau berinteraksi dengan pihak lain, dan kemampuan berkerja sama secara multikultural.

– Kompetensi kinestetis-vokasional antara lain berupa kecakapan mengoperasikan sarana-sarana komunikasi mutakhir, kecakapan melakukan pekerjaan mutakhir, dan kecakapan menggunakan alat-alat mutakhir yang mendukung perpustakaan untuk berkiprah dalam kehidupan global.

Dengan kompetensi pustakawan di atas, perpustakaan akan dapat memberikan pelayanan yang profesional untuk masyarakat. Baik yang bersifat reference service (pelayanan penunjukan), information service (penyedia informasi) dan reader advisory work (pemberian bimbingan pada pembaca)

Untuk sampai pada penguasaan kompetensi (sentralitas kompetensi), perpustakaan sebagai organisasi (lembaga) maupun pustakawannya selaku pengelola perpustakaan harus dilakukan upaya strategi holistik dan terpadu baik dari sisi sosial-budaya, maupun dari sisi teknis. Dari sisi sosial-budaya berupa upaya rekonstruksi pencitraan perpustakaan dan pustakawanan. Dari sisi teknis berupa revitalisasi keilmuan, penguasaan/aplikasi teknologi, pofesionalisme dan cara kerja kepustakawanan. Kedua sisi strategi holistik ini diuraikan di bawah ini: 

Rekonstruksi Pencitraan Perpustakaan dan Pustakawan.

Citra merupakan seperangkat kesan di dalam pikiran terhadap sesuatu obyek. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1993), citra (image) adalah gambar atau gambaran mental.Secara "teknis", citra berarti gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu, baik berupa manusia, lembaga, organisasi, barang, dan lain sebagainya. Dalam konteks perpustakaan dan pustakawan, citra dimaksudkan sebagai gambaran mental yang dimiliki masyarakat mengenai dan tentang perpustakaan dan pustakawan.

Selama ini di benak masyarakat perpustakaan dan pustakawan masih dicitrakan sebagai hal yang serba kuno, statis, dan pekerjaan sepele (mudah) yang semua orang bisa melakukannya. Perpustakaan dalam image masyarakat masih disosokkan dengan sebuah lembaga atau bangunan tua yang didalamnya berisi rak-rak buku yang berdebu. Di beberapa kota setingkat Kabupaten perpustakaan seringkali masih dianggap sebagai "tempat pembuangan" pegawai negeri yang tidak berprestasi dan ada anggapan setiap orang semua dapat mengurusnya. Pustakawan masih dicitrakan sebagai "seseorang" yang sekedar kebetulan ditempatkan di perpustakaan yang setiap saat dapat "didaur ulang", digonta-ganti dengan mudahnya.

Citra tentang perpustakaan-pustakawan yang masih memprihatinkan di mata masyarakat ini dikarenakan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat sedangkan faktor internal berkaitan dengan kondisi di perpustakaan dan pustakawan sendiri.

Faktor eksternal itu, antara lain berupa: 1) jumlah penduduk yang besar dan tersebar di berbagaii tempat yang memiliki tingkat intelektual yang berbeda-beda, 2) belum tumbuhnya tradisi baca (reading society) dan menulis (writing society) di masyarakat,  3) lemahnya kesadaran masyarakat, dan 4) masih kurangnya perhatian dan kemampuan pendanaan pemerintah. Sedangkan faktor internal antara lain mencakup: 1) minimnya pustakawan yang terlatih dan terdidik, 2) minimnya lembaga/institusi pendidikan perpustakaan, 3) lemahnya SDM pustakawan, dan 4) fasilitas perpustakaan yang berbeda dan beragam di banyak tempat, kota dan daerah.

Untuk lebih mengoptimalkan peranan, fungsi dan keberadaan perpustakaan yang ujung-ujungnya akan juga mempengaruhi optimalnya layanan perpustakaan-pustakawan, pada langkah awal perlu dilakukan upaya merekonstruksi ulang pencitraan tentang perpustakaan-pustakawan di mata masyarakat. Dengan kata lain perlu dilakukan pembenahan ke dalam sehingga citra tentang pepustakaan-pustakawan di mata masyarakat dapat hadir lebih trendy, lebih modern, lebih canggih, lebih up to date, lebih "gaul", lebih akrab, lebih familier dan lebih ramah dalam artian nyaman dan komunikatif.

Upaya pencitraan ulang (rekonstruksi) tentang perpustakaan-pustakawan dapat dilakukan pada aspek, yakni aspek sumber daya manusia (intangible) dan dari aspek kelengkapan sarana dan fasilitas (tangible). Dari aspek pertama perlu diupayakan bagaimana dapat muncul di masyarakat citra tentang pengelola perpustakaan yang profesional, tangkas, canggih, cepat sekaligus ramah. Sedangkan dari aspek kedua, perlu diwujudkan sebuah citra tentang perpustakaan yang memiliki: kebaruan dan kelengkapan, kecanggihan serta kemutakhiran sarana dan prasarana.

Revitalisasi Keilmuan, Penguasaan/Aplikasi teknolog, Profesionalisme dan Cara kerja kepustakawanan.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat di era globalisasi ini, tentu upaya pembentukan citra di atas harus dibarengi peningkatan dari sisi teknis berupa revitalisasi keilmuan, aplikasi teknologi, profesionalisme dan cara kerja.

Seperti telah disinggung di bagian-bagian terdahulu, saat ini  manusia memasuki abad pengetahuan, dimana dengan berlandaskan atas penguasaan pengetahuan ini setiap bangsa terpaksa dan terpacu untuk mengusai ilmu dan teknologi. Berkaiatan dengan penguasaan dan pemanfaatan teknologi ini, harus diakui penguasaan kita terhadap teknologi komunikasi dan informasi masih kalah dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan masih rendahnya tingkat pendidikan pustakawan-pustakawan kita.

Berdasarkan data, jumlah pustakawan kita kira-kira berjumlah 2.935 orang. Dari jumlah ini yang berpendikan SMA/SLTA berjumlah 975 orang, yang berpendidikan sarjana (S 1) berjumlah 994 orang. Dari 994 orang ini yang berijazah ilmu perpustakaan hanya 337 orang sedangkan yang bukan dari ilmu perpustakaan berjumlah 617 orang. Dari  data ini perlu kiranya para pustakawan diberi kesempatan dan dipaksa untuk merevitalisasi ilmunya. Untuk ini mutlak diperlukan campur tangan pemerintah selaku penentu kebijakan untuk melakukan pendidikan ulang, memberi bea siswa dan mendanai pelatihan peningkatan ilmu perpustakaan. Selama ini jarang sekali pustakawan mendapatkan  kesempatan dan bea siswa untuk mendalami bidang keilmuannya. Hal ini berbeda dengan pengajar atau dosen yang secara rutin mendapat "jatah" bea siswa dan tugas belajar.

Masa kini juga menuntut pengembangan peran perpustakaan tidak saja digunakan semata-mata pelayanan institusi pendidikan seperti sekolah atau universitas, namun juga mesti hadir dan berperan sebagai mediasi dalam proses komunikasi sosial masyarakat. Secara umum perpustakaan berfungsi sebagai pencatat peristiwa, merefleksikan dan menyediakan ruang imajinasi untuk membangun kebudayaan di masa depan.  Bagaimanapun juga peradaban global adalah dunia informasi yang hilir mudik membangun realitas maya. Karena itu peran dan fungsi utama perpustakaan saat ini dan masa datang adalah berebut kuasa informasi dalam sistem sosial, dan perpustakaan akan eksis jika mampu menguasai teknologi dalam membangun komunikasi.

Penguasaan/Aplikasi Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (informatioan and comunication technology) telah merambah ke semua sektor pelayanan sosial budaya termasuk perpustakaan. Munculnya format-format baru kemasan informasi, online acess serta format-format pustaka baru seperti pustaka digital atau pustaka multimedia menciptakan sekaligus membutuhkan layanan perpustakaan yang serba cepat, simple, memberi banyak alternatif sekaligus layanan yang kompetitif.

Penguasaan TI atau ICT di sebuah perpustakaan akan menjadi tolok ukur kemajuan dan kecanggihan sekaligus kemampuan layanan perpustakaan tersebut. Penguasaan dan penerapan dari ICT dalam pelayan perpustakaan dapat dilihat dari dua sistem yakni sistem informasi manajemen (SIM) dan sistem perpustakaan digital (digital library). Dengan penerapan SIM layanan perpustakaan yang off-line berubah menjadi on-line. Pemanfaatan perpustakaan tidak lagi bergantung pada visitasi pemakai perpustakaan atau bertumpu pada kunjungan secara fisik ke perpustakaan, tetapi dapat dilakukan setiap saat dari berbagai tempat dimanapun pengguna berada. Dengan demikian pelayanan sebagai pintu gerbang utama perpustakaan  sangat mengandalkan  kemampuan pengelola atau pustakawannya agar teknologi yang ada dapat diguakan secara efektif dan efisen. Pustakawan selain harus memiliki etos kerja juga mesti dibekali dengan penguasaan TI, memahami ilmu manajemen, proaktif dan costumer oriented.

Berkaitan dengan aplikasi TI ini, pustakawan perlu mempunyai standar kompetensi yang paling dasar, yakni: (1) memiliki kemampuan dalam penggunaan komputer (komputer literacy), (2) kemampuan menguasai basis data (data base), (3) kemampuan dan penguasaan peralatan TI, (4) kemampuan dalam penguasaan teknologi jaringan, (5) memiliki kemampuan dan penguasaan internet, serta (6) kemampuan dalam berbahasa Inggris..

Aplikasi TI dalam layanan perpustakaan dapat mencakup beberapa hal, seperti misalnya layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan jurnal/majalah, layanan multi media, layanan internet dan stasiun komputer. Karena TI membutuhkan biaya dan dana yang tidak sedikit, secara kelembagaan perpustakaan perlu pula mempertimbangkan beberapa aspek berikut: 1) dukungan lembaga induk, 2) aspek kontinuitas, 3) aspek perawatan/pemeliharaan, dan 4) infrastruktur penunjang seperti misalnya listrik, gedung, setting ruangan, keamanan dan sebagainya.

Profesionalisme dan Cara kerja kepustakawanan

Profesionalisme pustakawan mempunyai arti pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang didasarkan pada keahlian dan rasa tanggungjawab sebagai pengelola perpustakaan. Keahlian menjadi faktor penentu dalam menghasilkan hasil kerja serta memecahkan masalah yang mungkin muncul. Sedangkan tanggungjawab merupakan proses kerja pustakawan yang tidak semata-mata bersifat rutinitas, tetapi senantiasa dibarengi dengan upaya kegiatan yang bermutu melalu prosedur kerja yang benar.

Ciri-ciri profesionalisme seorang pustakawan dapat dilihat berdasarkan karakteristik-karakteristik sebagai berikut; 1)memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, kecakapan dan keahlian yang mumpuni dalam bidangnya, 2) memiliki tingkat kemandirian yang tinggi, 3) memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dan bekerja sama, 4) senantiasa berorientasi pada jasa dan menjunjung tinggi kode etik pustakawan, dan 5) senantiasa melihat ke depan atau berorientasi pada masa depan .

Bertolak dari profesionalisme itu saat ini mutlak dibutuhkan pustakawan-pustakawan  yang memiliki cara kerja pelayanan dengan berprinsip pada people based service (berbasis pengguna) dan service excellence (layanan unggul) dengan bertujuan untuk senatiasa memuaskan pengguna, meningkatkan kualitas jasa, dan meningkatkan jumlah pemakai atau pengguna jasa perpustakaan.

Membangun perpustakaan beserta pustakawannya di masa kini jelas merupakan tantangan yang tidak mudah. Secara kelembagaan, perpustakaan baik pada ranah konseptual maupun pada ranah praksis harus senantiasa merekonstruksi diri, mengkaji ulang dan berbenah diri.

Kehadiran perpustakaan di masa global ini semestinya harus mempunyai ruang publik yang lebih luas yang senantiasa menawarkan refleksi masa lalu, masa kini dan masa datang melalui informasi yang semakin canggih. Karena tantangan zaman pula, perpustakaan dan pustakawan yang berbasis pada aplikasi teknologi informasi merupakan suatu keniscayaan dan keharusan.

Untuk sampai pada perpustakaan-pustakawan yang ideal sesuai dengan tantangan zaman memang merupakan pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan waktu serta biaya yang tidak sedikit. Karena itu mutlak diperlukan pula tekat,  kemauan, dan komitmen dari pustakawan, lembaga perpustakaan sendiri dan tentu saja dibutuhkan pula perhatian, kebijakan dan komitmen pemerintah selaku pembuat, penentu dan pembawa kebijakan negara.

Mengembangkan dan menciptakan perpustakaan yang ideal tidaklah sama dengan membangun fisik atau materiala, tetapi lebih cenderung ke arah membangun intelektual, pengetahuan dan mental generasi masa datang. Membangun jalan-jalan raya, gedung-gedung dan sarana fisik lainnya memang membutuhkan biaya yang tinggi. Namun sudah sewajarnya pula bila membangun sarana intelektual, mental dan pengetahuan generasi yang akan datang membutuhkan perhatian dan biaya yang berlipat-lipat.