Serat Wira Iswara Sastra Wulang Abad Ke-19 M

A. Pendahuluan
Sebagai sebuah bangsa kita patut berbangga terhadap kekayaan intelektual klasik, khususnya yang tersimpan dalam naskah-naskah lama. Salah satu dari sekian ragam naskahtersebut ialah naskah-naskah Jawa. Abad ke-18 M dan 19 M digadang-gadang sebagai periode kebangkitan sastra Jawa atau ‘Renaisans Sastra Jawa’ . Ihwal tersebut tidak lepas dari geliat sastra Jawa dari tidur panjangnya setelah berabad-abad terperosok dalam perebutan kekuasaan yang melelahkan.

Berbagai genre bermunculan selama kebangkitan sastra Jawa kurang lebih dua abad tersebut, antara lain sastra babad, sastra kidung, sastra Panji, sastra primbon, sastra suluk, sastra keislaman, satra wayang, dan sastra wulang. Dari sekian genre tersebut terdapat genre yang cukup menarik, yaitu sastra wulang. Kemenarikan tersebut tidak lepas dari pemilihan ikhtiar literasi para raja dalam bentuk sastra wulang, khususnya raja-raja di Kasunanan Surakarta dan raja-raja di Jawa abad ke-18 M dan ke-19 M pada umumnya.

Berkenaan dengan ihwal tersebut, Saparinah (2001:54-60) mengungkapkan raja-raja Jawa yang melakukan ikhtiar literasi sastra wulang, antara lain Paku Buwana II (1726-1749) menulis Serat Wulang Dalem Pakubuwana II; Paku Buwana IV (1788-1820) menulis Serat Wulangreh, Serat Wulang Putri, Wulang Tatakrama, Wulang Sunu, Wulang Dalem, dan Wulang Brata Sunu; Paku Buwana VII (1830-1858) menulis Serat Tata Krama Ingkang Sinuhun Pakubuwana VII, Serat Wulang Putra, Serat Kupiya Warna-warni;  dan Paku Buwana IX (1861-1893) menulis Serat Candrarini, Serat Waraiswara, Serat Wulang Putra, Serat Wulang Putri, Serat Wulang Raja Putra, Serat Wulang Wanita. Dengan demikian, mengacu pada uraian tersebut nampak bahwa sastra wulang merupakan pilihan tersendiri bagi para raja dalam ikhtiar literasi .

Paku Buwana IX merupakan salah satu raja Jawa yang cukup intensif dalam melakoni ikhtiar literasi dengan menghasilkan berbagai karya, dan tentunya termasuk dalam bentuk sastra wulang. Beliau hidup antara 1830 sampai dengan 1893 dan bertahta menjadi raja selama 32 tahun dari 1861 sampai dengan 1893. Dari berbagai hasil ikhtiar literasinya, Serat Wira Iswara merupakan salah satunya yang berbentuk sastra wulang.

Inventarisasi naskah-naskah SWI melalui berbagai katalog dan studi lapangan, setidaknya terdapat sembilan naskah yang mengandung teks SWI, antara lain (1) naskah PB A.59 94;(2) naskah Sb 49 87; (3) naskah PW.55 ; (4) naskah PW.176; (5) naskah PW.177: (6) naskah PW.179; (7) naskah KS 368.9; (8) naskah KS 368.0; dan (9) naskah RP 108.0. Tulisan ini merupakan telaah awal terhadap SWI dengan memanfaatkan tinjauan kodikologi dengan tujuan melakukan pemetaan terhadap naskah-naskah SWI sekaligus mengungkap naskah SWI yang asli atau mendekati asli guna mendapatkan informasi mengenai naskah SWI secara mendalam dan masif.

B. Ringkasan Isi SWI

Dengan mengacu pada daftar isi dalam naskah SWI naskah RP 108.0 306 , secara garis besar SWI terbagi dalam enam bab, berikut uraiannya.

1) Murweng kidung (awal cerita), secara garis besar bab ini berisi mengenai berbagai ajaran moral Paku Buwana IX yang ditujukan kepada raja dan kaum bangsawan di Kraton Surakarta.

2) Ari sukra (hari Jumat), ragam ajaran moral Paku Buwana IX bagi orang-orang yang mengabdi kepada raja termasuk di dalamnya para prajurit merupakan tema yang mendominasi bab ini .

3) Murweng karsa (muasal kehendak), bab ini didominasi mengenai berbagai ajaran moral Paku Buwana IX bagi segenap wanita yang telah berumah tangga.

4) Kasmaran Jeng Sri Bupati (Raja jatuh cinta), secara garis besar berisi ragam ajaran moral  Paku Buwana IX yang ditujukan pada para anak cucu dan kerabat-kerabat istana.

5) Gandrung asmara (jatuh cinta), ragam ajaran moral Paku Buwana IX yang ditujukan kepada para anak cucu dan generasi muda yang terputus kasih sayangnya merupakan garis besar isi bab ini.

6) Wulang putra(ajaran untuk para putra), bab ini didominasi mengenai berbagai ajaran moral Paku Buwana IX yang ditujukan untuk para putra-putrinya supaya tercapai keseimbangan dan keselarasan lahir batin dalam melakoni kehidupan.

C. Identifikasi Naskah-naskah SWI

Kesembilan naskah SWI hasil inventarisasi akan dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok pertama, merupakan suatu versi naskah SWI yang memiliki kelengkapan isi atau diduga memiliki kelengkapan isi dan kelompok kedua, merupakan naskah-naskah yang menjadikan SWI sebagai sumber saduran.

Kelompok pertama terdiri atas (1) naskah RP 108.0 306 –untuk selanjutnya disebut naskah A–, tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta; (2) naskah KBG 702, Rol 286.05, P-33–untuk selanjutnya disebut naskah B–, tersimpan di PNRI Jakarta; dan (3) naskah KS 368.0 444 Ha SMP 140/18 –untuk selanjutnya disebut naskah C–, tersimpan di Perpustakaan Sasana Pustaka Keraton Surakarta.Kelompok kedua terdiri dari (1) naskah PW.55, tersimpan di Perpustakaan UI Depok –naskah sudah tidak ada–; (2) naskah PW.176, tersimpan di Perpustakaan UI Depok; (3) naskah PW.177, tersimpan di Perpustakaan UI Depok; (4) naskah PW.179, tersimpan di Perpustaakan UI Depok; (5)naskah P 27, tersimpan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta; dan (5) naskah P 141, tersimpan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka identifikasi naskah secara terperinci hanya dilakukan pada naskah-naskah kelompok pertama, sebab dari naskah-naskah kelompok pertama tersebut akan dilakukan perbandingan antarnaskah dan dipilih salah satu naskah sebagai naskah landasan  yang berguna untuk telaah filologis selanjutnya.

1. Naskah A    

Naskah ini berjudul Serat Wulang-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhan Pakubuwana ingkang kaping IX= Serat Wira Iswara dengan nomor katalog RP 108.0 306 yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta. Judul naskah yang disebutkan merupakan judul yang berasal dari katalog. Sementara itu,judul yang terdapat pada lembar pertama halaman awal naskah (tanpa penomoran), tepatnya disebut lembar pelindung dan merupakan jilidan yang lebih baru, ialah Wulang Dalem PB IX dengan aksara Latin, sedangkan judul yang terdapat pada lembar kedua atau halaman tiga (tanpa penomoran) yakni Wulang Dangnam PB IX dengan aksara Jawa sekaligus aksara Latin.

Ditinjau dari penjilidannya, naskah ini dijilid menggunakan benang sebagai pengikat dalam bentuk kuras yang berjumlah tujuh kuras. Sampul bukanlah sampul asli naskah tetapi merupakan sampul perbaikan. Tebal naskah 146 halaman, dengan empat lembar depan tanpa penomoran dengan rincian sebagai berikut, lembar pertamabertuliskan ‘murweng kidung’ pada bagian atas tengah agak ke bawah, pada bagian kiri atas terdapat angka Romawi ‘3/3’, di bagian kanan atas terdapat aksara Latin ‘SMP RP 108’, dan pada bagian tengah bawah terdapat tulisan aksara Latin ‘WULANG DALEM PB IX’ dengan huruf kapital bergaris bawah, angka arab ‘306’ dengan garis bawah, serta di bawah angka terdapat tulisan ‘Sm’; lembar keduaterdapat gambar cap stempel Museum Radya Pustaka di tengah, dan tulisan pada bagian atas yang berbunyi ‘Wulang Dangnam PB IX: Pisungsung Saking Raden .. Tumenggung Ronggawarsita. Nalika Kaping: 3: Wulan Satunggal 2605’; lembar ketigabertuliskan daftar pustaka dalam aksara Jawa yang terbagi ke dalam enam bab, yaitu murweng kidung (hal. 1-60), ari sukra (hal. 61-86), murweng karsa (hal. 87-99), kasmaran jeng sri bupati (hal. 100-117), gandrung asmara(hal. 117-128), dan wulang putra (hal. 129-140); lembar keempat terdapat foto Paku Buwana IX dan di bawahnya terdapat tulisan beraksara Jawa yang berbunyi ‘Gambar Dangnam Sampeyan Dangnam Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana ingkang kaping: 9: Nalika Taksih Jumeneng Kangjeng Gusti Pangeran Arya Prabu Wijaya’. Foto dan tulisan merupakan cetakan bukan lukisan tangan dan tulisan tangan. Ihwal tersebut nampak dari jenis kertas serta tekstur dari tinta pada kertas. Selain empat lembar tanpa penomoran pada bagian awal, juga terdapat dua lembar kosong pada bagian akhir tanpa penomoran.

Disimak dari segi aksara, naskah berukuran 19.5 x 16.5 cm  ini beraksara Jawa dengan tinta hitam dengan rata-rata jumlah baris tiap halaman 16 baris per-halaman. Tinta warna lain, yakni merah dan biru terdapat dalam naskah (bukan tulisan asli naskah, sebab tekstur goresnya sangat berbeda, cenderung pada tekstur bolpoint abad ke-20 M). Di samping itu, terdapat pula goresan-goresan pensil. Penjaga naskah Museum Radya Pustaka menerangkan bahwa ketika tahun 90-an peminjaman naskah-naskah sangat bebas dan dapat dibawa pulang sehingga naskah-naskah ketika itu sangat riskan untuk dicorat-coret.

Perihal tulisan, naskah ini memiliki keunggulan dibanding naskah-naskah lainnya, yakni cara penulisan secara umum sangat rapi dan sangat jelas dengan kualitas tulisan sangat baik, ukuran huruf jauh lebih besar dibanding dua naskah lainnya, memiliki spasi yang lebih renggang, kualitas kertas cukup baik sehingga kualitas tulisan masih terjaga (tinta tidak luntur). Ukuran pias naskah yakni, kiri 1.6 cm, atas 3 cm, kanan 1.8, dan bawah 2.2 cm. Dari pengamatan keseluruhan tulisan, dapat disimpulkan bahwa naskah ini ditulis oleh seseorang yang memiliki pengalaman menulis yang banyak.

Tinjauan terhadap usia naskah, dengan mengacu pada penulisan yang dilakukan oleh Paku Buwana IX maka naskah ini dapat diperkirakan berusia 137 tahun terhitung dari 1877 sampai dengan 2014 . Akan tetapi, apabila tinjauan usia naskah SWI didasarakan pada penulisan yang dilakukan Adisara maka naskah ini diperkirakan berusia 127 tahun, terhitung dari 1887 sampai dengan 2014 .

Berkenaan dengan tinjauan isi, naskah ini berisi yang mengungkapkan berbagai ajaran Paku Buwana IX yang terbagi atas enam bab sebagai berikut, (1) murweng kidung; (2) ari sukra; (3) murweng karsa; (4) kasmaran jeng sri bupati; (5) gandrung asmara; dan (6) wulang putra (berdasarakan daftar isi pada lembar ketiga tanpa nomor halaman).

2. Naskah B

Naskah ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor katalog KBG 702, tersimpan pada Rol 286.05. Naskah ini berasal dari koleksi Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Keadaan naskah cukup baik dan terawat, meskipun pada halaman pertama teks sukar terbaca karena terlalu banyak bercak pada kertas dan kertas berwarna kecoklat-coklatan.  Mengacu pada katalog, naskah ini berjudul Wulang Pakubuwana IX (Serat Wira Iswara). Sementara itu, di halaman pertama lembar kosong (tanpa nomor halaman) di sebelah kanan atas pada naskah terdapat tulisan Wulang Pakubuwana IX (tanpa Serat Wira Iswara) yang ditulis dengan pensil mempergunakan aksara Jawa.Sampul naskah telah mengalami perbaikan, jilid hard cover dan tidak tertulis keterangan apapun, kecuali seri naskah yang tertulis KBG 702.

Ditinjau dari segi aksara, naskah ini beraksara Jawa dengan memakai tinta hitam secara konsisten dari awal hingga akhir. Pada naskah juga ditemukan tanda koreksi, walaupun tidak banyak. Pungtuasi, rubrikasi, hiasan huruf, dan iluminasi tidak ada. Terdapat sedikit ilustrasi pada bagian belakang naskah.  Penggunaan tinta warna lain selain hitam, guna menandai teks yang dipentingkan, tidak ditemukan.

Naskah ini merupakan naskah tulisan tangan yang disalin oleh Raden Wasitarukmi pada tahun 1896. Sementara itu, teks aslinya ditulis oleh Pakubuwana IX dan Nyai Tumenggung Adisara, seorang pujangga wanita Kraton Surakarta . Cara penulisan secara umum cukup rapi dan jelas dengan kualitas tulisan baik.  Terdapat penomoran dengan aksara Jawa pada bagian tengah atas.

Usia naskah Serat Wira Iswara koleksi PNRI diperkirakan 118 tahun, terhitung dari 1896 sampai dengan 2014(naskahsalinan Wasitarukmi). Sementara itu, usia teks dengan mengacu pada penulisan yang dilakukan oleh Paku Buwana IX, teks diperkirakan berusia 137 tahun terhitung dari 1877 sampai dengan 2014 . Apabila teks mengacu pada penulisan yang dilakukan Adisara maka teks diperkirakan berusia 127 tahun, terhitung dari 1887 sampai dengan 2014 .

Layaknya naskah-naskah Jawa yang lain pada waktu itu, bahan naskah ini berupa kertas Eropa. Pergulatan waktu dan lingkungan berimbas pada warna kertas yang tidak lagi putih, namun telah menjadi kusam kecoklat-coklatan(cenderung cokelat muda). Bahkah beberapa halamandepan mulai cokelat kehitam-hitaman susah terbaca. Cap kertas pada kertas tidak ditemukan.

Secara keseluruhan, naskah ini dapat dikatakan dalam kondisi yang cukup baik, meski terdapat beberapa perbaikan kertas pada beberapa halaman. Keseluruhan jumlah halaman teks 108 halaman, dengan satu lembar atau dua halaman kosong di halaman awal (tanpa nomor), yang hanya bertulis judul naskah dan dua lembar atau empat halaman kosong di bagian belakang tanpa penomoran. Jumlah baris per-halaman, rata-rata terhitung 18 barisdengan jarak antara spasi kurang lebih dua spasi. Susunan kuras terdiri atas lima kuras. Ukuran halaman naskah 20.2 cm x 16 cm dengan ukuran pias atas 1.2 cm, kanan 1.2 cm, bawah 1.5 cm, serta kiri 1.2 cm. Terdapat cara penggarisan pada halaman di bagian kanan dan kiri.

3. Naskah C    

Naskah koleksi Keraton Surakarta ini berjudul Serat Wulang-dalem Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhan Ingkang Kaping IX= Serat Wira Iswara. Judul tersebut mengacu pada katalog yang disusun oleh Florida (1993). Naskah ini bernomor katalog KS 368.0 444 Ha. Tebal naskah ini 101 halaman beserta dengan dua lembar kosong sebagai pelindung di bagian awal dan akhir.

Pada cover depan terdapat tulisan beraksara Jawa yang merupakan judul dari naskah. Dilihat dari karakter tulisan, keterangan mengenai judul pada cover depan tersebut merupakan buatan pendata naskah. Bunyi tulisan tersebut sebagai berikut ‘Wulang Dangnam Sampeyan Dangnam Ingkang Sinuhun Kaping Sanga: Ingkang Kaca: 1: Dumugi: 86: Nedhak Saking Bukunipun Raden Mas Ngabéhi Prajakintaka. : Ingkang Kaca: 87: Dumugi: 99: Nedhak Saking Bukunipun Radén Mas Ngabéhi Tirtapraja……’ dan nomor katalog ‘444 ha’. Pada lembar kosong depan, tepatnya pada muka kedua terdapat tulisan yang merupakan pengulangan tulisan yang terdapat pada cover depan. Hanya saja kualitas tulisannya lebih jelek dan menggunakan pensil guna media menulis serta tak dituliskan nomor katalog. Kentara sekali, penulisan antara cover depan dengan lembar pertama ditulis oleh orang yang berbeda.

Dilihat dari segi aksaranya, naskah ini beraksara Jawa, menggunakan tinta hitam (satu warna). Penulisan setiap baris cukup rapi dalam garis horizontal dengan rata-rata jumlah baris tiap halaman 22 baris per-halaman . Kertas yang digunakan ialah kertas bergaris dengan garis berwarna biru muda. Sementara itu, garis vertikal nampak pada kiri dan kanan kertas guna pembatas pias (dengan pensil) yang dibuat secara manual atau merupakan garis yang dibuat oleh penyalin naskah. Kualitas tulisan baik dan terbaca, hanya saja karena kertas yang dipakai menulis cukup tipis, banyak halaman yang tulisannya mulai saling bertembusan sehingga cukup mengganggu pembacaan, khususnya pembacaan naskah dalam bentuk digital.

Disimak dari segi bahasanya, teks dalam naskah ini berbahasa Jawa dengan bentuk macapatan (puisi Jawa). Dengan mempertimbangkan jenis kertas pada naskah C, kertas bergaris yang cenderung tipis, dapat disimpulkan bahwa naskah ini lebih muda dibandingkan dengan naskah A dan naskah B, ditulis sekitar abad ke-20 M, sebab cukup kentara bahwa kertas tersebut bukan kertas Eropa

D. Perbandingan Antarnaskah

Kedua naskah Serat Wira Iswara, yakni naskah B dan naskah C merupakan naskah salinan seversi yang sumbernya bermuara pada sebuah tulisan asli (otograf) atau diduga asli, yakni naskah A. Sementara itu, naskah A merupakan naskah asli atau diduga asli, yang ditulis oleh Paku Buwana IX dan pujangga wanita Adisara, hal ini didukung dari berbagai keterangan pada katalog sekaligus keterangan-keterangan dalam naskah itu sendiri.

Selain itu, berkenaan dengan tulisan, dalam ketiga naskah itu ditemukan perbedaan pada beberapa ihwal, antara lain ukuran huruf, spasi antar baris, dan tingkat kejelasan tulisan.

1) Tulisan naskah A memiliki ukuran yang tergolong besar dibanding dengan naskah B dan naskah C dengan ketebalan tulisan yang seimbang. Disimak dari anatomi hurufnya, tulisan pada naskah ini lebih bagus ketimbang naskah B dan naskah C. Ukuran tulisan besar dengan tulisan yang tergolong renggang, setiap halaman terdiri atas 16 baris. Apabila dikalkulasikan dengan ukuran baku saat ini jarak antarspasinya sekitar 2 spasi. Berdasarkan tulisan ini, tampak bekas mata pena yang digunakan berukuran besar.

2) Tulisan naskah B memiliki ukuran sedang dengan kerapatan dan kepadatan yang cukup, setiap halaman terdiri atas 18 baris. Jarak antarspasi bila dikalkulasikan dengan ukuran baku saat ini sekitar 1.5.spasi. apabila dibandingkan dengan naskah A, ukuran pena yang digunakan menulis dalam naskah ini lebih kecil sedangkan jika dibandingkan dengan naskah C, ukuran penanya cenderung sama. Ukuran pena yang tak terlalu besar ini menghasilkan ketebalan aksara yang tergolong sedang -bahkan cenderung tipis-. Namun demikian, konsistensi penulisan dengan ukuran tulisan yang digunakan membuat tulisan nampak rapi secara keseluruhan.

3) Tulisan naskah C memiliki ukuran yang cenderung sama bila dibandingkan dengan naskah B dan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan naskah A. Tulisan lebih rapat dan padat dibanding dua naskah lainnya, setiap halam terdiri atas 22 baris. Namun demikian, konsistensi penulisan dengan keajegkan ukuran tulisan yang digunakan membuat tulisan naskah ini  terlihat rapi secara keseluruhan.

Tambahan lain, kualitas kertas naskah A lebih unggul dibanding dengan naskah B dan naskah C. Hal ini berimbas pada tingkat keterbacaan naskah A yang lebih tinggi ketimbang naskah B dan naskah C, sebab tinta pada naskah B dan naskah C mulai memudar.

E. Simpulan

Merujuk pada berbagai uraian sebelumnya maka dapat diketengahkan simpulan sebagai berikut.

1) Hasil inventarisasi terhadap SWI melalui berbagai katalog dan studi lapangan didapatkan sembilan naskah. Dari kesembilan naskah tersebut dikelompokkan menjadi dua, kelompok pertama merupakan suatu versi naskah SWI yang memiliki kelengkapan isi atau diduga memiliki kelengkapan isi dan kelompok kedua, merupakan naskah-naskah yang menjadikan SWI sebagai sumber saduran. Dari naskah SWI kelompok pertama didapatlah sebuah naskah yang patut digunakan sebagai naskah landasan guna penelitian berikutnya, yakni naskah A. Pertimbangan naskah A sebagai naskah landasan antara lain, (1) tingkat keterbacaan yang tinggi dibandingkan dengan naskah B dan C; dan (2) naskah A merupakan naskah asli atau diduga asli, sementara naskah B dan naskah C adalah naskah salinan yang diduga disalin berdasarkan naskah A.

2) Berdasarkan naskah A, secara garis besar SWI terbagi atas enam bab, yakni(1) Murweng kidung (awal cerita); (2) Ari sukra (hari Jum’at); (3) Murweng karsa (muasal kehendak); (4) Kasmaran Jeng Sri Bupati (Raja jatuh cinta); (5) Gandrung asmara (jatuh cinta); (6) Wulang putra (ajaran untuk para putra).

3) Sebagai tinjauan lanjutan, sangat memungkinkan apabila dilakukan pengungkapan nilai-nilai didaktis terhadap SWI sekaligus kajian sosiologi sastra guna pengungkapan SWI secara lebih kompleks.

Daftar Pustaka

Behrend, T.E. 1990.Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 1: Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Djambatan.

______. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D’extreme Orient.

Behrend, T.E. dan Titik Pudjiastuti. 1997. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D’extreme Orient.

______. 1997. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-B: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D’extreme Orient.

Florida,Nancy K. 1993. Javanese Literature in Surakarta Manuscripts Volume 1: Introduction and Manuscripts of The Kraton Surakarta. Ithaca, New York: Southeast Asia Program Cornell University.

______. 2012. Javanese Literature in Surakarta Manuscripts Volume 3: Manuscripts of The Radya Pustaka Museum and The Hardjonagaran Library. Ithaca, New York: Southeast Asia Program Cornell University.

Lindsay, Jennifer, R.M. Soetanto, dan Alan Feinstein. 1994. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4:Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Paku Buwana IX dan Adisara. 1877-1887. Serat Wulang-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhan Pakubuwana ingkang kaping IX= Serat Wira Iswara. Surakarta.

Pigeaud, Th. G. 1967. Literature of Java Vol. 1 Synopsis of Javanese Literature. 900-1900 AD. The Hague: Martinus Nijhoff.

Prajakintaka dan Tirtapraja. Serat Wulang-dalem Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhan ingkang kaping IX= Serat Wira Iswara(salinan). Surakarta

Ricklefs, M.C. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa. Diterjemahkan oleh Hartono Hadikusumo dan E. Setiyawati Alkhatab. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Saktimulya, Sri Ratna (Penyunting). 2005. Katalog Naskah-Naskah: Perpustakaan Pura Pakualaman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-The Toyota Foundation.

Saparinah, Endang Siti. 2001. “Kasunanan”. Dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum: 54-60. Jakarta: Balai Pustaka.

Wasitarukmi, Raden. 1896. Wulang Dalem Pakubuwana IX/ Serat Wira Iswara. Surakarta.

Wulang Dalem Pakubuwana IX. 1930. Berupa ringkasan dalam aksara Latin yang dikerjakan oleh staf Pigeud. Surakarta.