Simbol-simbol Ungkapan Pemikiran Dalam Naskah Tasawuf Awal Islamisasi

Pendahuluan
Kondisi penyebaran agama Islam pada awal Islamisasi penuh dengan kesulitan. Dapat dibayangkan bagaimana kerja keras para penyebar agama Islam, baik dalam  menegakkan  syariah,  tauhid, dan budi pekerti, atau  pemikiran-pemikiran Tasawuf yang  rumit, yang semua sumbernya berbahasa Arab. Di samping hal tersebut, dapat dibayangkan juga betapa sulitnya proses alih budaya pra-Islam menuju ke budaya Islami, yang meliputi semua sendi kehidupan. Dapat ditafsirkan bahwa di samping berjuang keras dengan penuh kesabaran dan disertai pertimbangan yang adil secara mendalam, para penyebar Islam tersebut tidak membunuh tradisi yang ada namun mewarnainya dengan Islam.
Hal yang sangat penting untuk diperhatikan pada awal Islamisasi ialah terjadinya perkembangan keberaksaraan. Budaya ini berkembang dengan sangat pesat pada masa itu, menyebar ke segenap tingkatan sosial masyarakat. Mereka menulis dalam bidang apa pun di samping bidang muamalah, seperti ilmu pengetahuan, lebih-lebih lagi agama, termasuk juga sastra. Nama kitab suci Islam Alquran, yang berarti “membaca”, tampaknya merupakan motivasi dalam mengembangkan keberaksaraan pada masa itu.
Kapan masuknya agama Islam ke Nusantara? Teori yang ada, dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, yang mengatakan bahwa kedatangan Islam adalah pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M. Pendapat ini dikedepankan oleh W. P. Groeneveldt, T. W. Arnold, Syed Naguib al-Attas, George Padlo Hourani, J. C. van Leur, Hamka, Uka Tjandrasasmita, dan lain-lain. Di lain pihak, kelompok kedua mengatakan bahwa kedatangan Islam dimulai pada abad ke-13 M. Teori kedua ini dikedepankan oleh C. Snouck Hurgronje. J. P. Moquette, R. A. Kern, Haji Agus Salim, dan lainnya (Tjandrasasmita, 2002: 1, 2). Teori pertama didasarkan pada catatan Tionghoa dari Dinasti Tang yang salah satunya menyebutkan kedatangan sejumlah orang dari Ta-shih yang membatalkan niatnya untuk menyerang Ho-ling di bawah rezim Ratu Sima (674 M). Kata Ta-shih diidentifikasi oleh Groeneveldt sebagai orang-orang Arab yang menetap di pantai barat Sumatra (Ibid: 2). Sebagai dasar teori yang kedua, Hurgronje menghubungkan dengan penyerangan dan pendudukan Baghdad oleh Raja Mongol, Hulangu, pada tahun 1258. Teori ini diperkuat oleh Moquette, berdasarkan temuan arkeologis, yaitu batu nisan Sultan Malik as-Salih yang meninggal pada tahun 696 H (1297 M).
Secara filologis di dalam naskah Sunda tergambar keduanya. Pertama dalam Babad Godog dikisahkan Kiyan Santang, Senapati Pajajaran, berkelana sampai ke Mekah untuk mencari lawan yang kesaktiannya seimbang dengan dirinya. Ia bertemu dengan Sayidina Ali dan Rasulullah. Yang kedua, “…penyebaran Islam didasarkan pada runtuhnya Kerajaan Pakuan dan Pajajaran. Dalam sebuah Babad dikisahkan upaya Cirebon menyebarkan agama Islam ke Galuh, Galuh kalah, rakyat dan pemimpinnya mundur ke Rawa Lakbok pada tahun 1565. Raja Galuh pada waktu itu Nusia Mulya” (Surianingrat, 1982: 14).
Dalam Babad Banten diceritakan mengenai dua orang dalam Kerajaan Pajajaran, kakak beradik bernama Ki Jungju dan Ki Jongjo, yang karena sakit hati membelot ke Kerajaan Islam Banten. Pada waktu itu Raja Kerajaan Banten adalah Sultan Maulana Yusup. Dengan mudah Banten dapat melumpuhkan Pajajaran, karena pasukan Pajajaran dalam keadaan lengah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1579 (Ibid: 15 – 19) .
Naskah Tasawuf Awal Islamisasi (NTAI) sebuah naskah dari Kawali, memberikan mengenai sebuah zaman; suatu hal yang sangat menarik dan penting untuk diungkapkan. Teks ini menyarankan penyerahan secara total kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Gaib, Maha Perkasa, Maha Tahu, Maha Pemegang Ilmu, dan menyarankan pula untuk kembali kepada Kesucian Kudrat manusia secara sempurna. Oleh karenanya, selama hidupnya manusia harus selalu menunggalkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni menghadirkan Tuhan di dalam batin, agar selalu mendapat cahaya kebenaran. Jelas naskah ini ditulis sebelum masyarakat Islam pandai berbahasa dan menulis aksara Arab. Kiranya pada masa itu komunitas yang mengenal keberaksaraan masih terbatas, sehingga penulis NTAI ini diperkirakan berasal dari kalangan bangsawan.

Tinjauan Kodikologis
Material Naskah
Teks NTAI diduga ditulis pada awal Islamisasi, bila didasarkan pada isi teks. Bahan materialnya adalah daluang. Mengenai daluang, dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Permadi (dalam Setiawan & Hawe Setiawan [ed., 2011: 70]) menginventarisasi istilah daluwang yakni, “dalancang, dlancang, dilancang, dluwang, delwang, dan jeluang.” Bila mengacu kepada pemikiran bahwa keberaksaraan mengangkat peradaban, yang terlihat dari adanya frase nimu luang tina daluang (memperoleh pengetahuan dari daluang). Dilihat dari frase tersebut diperkirakan bahwa kata daluang berasal dari kata dalam Bahasa Sunda, da luang atau ja luang (da merupakan partikel dalam Bahasa Sunda dan ja partikel dalam Bahasa Sunda Kuna), jaluwang kemudian berubah menjadi jeluang. Jenis material ini terbuat dari pohon yang di Jawa Barat dikenal dengan nama pohon saeh, sedangkan istilah Latinnya adalah Broussonetia papyrifera vent (Ekadjati, Edi S; Dienaputra, Reiza D.Winarno; Ira Adriati, Permadi, Tedi; dalam Sabana, Setiawan & Hawe Setiawan (Ed), 2011; Pudjiastuti, 2006: 38, 39). Nama lain pohon ini di Nusantara, sepukau (Indonesia) glugu (Jawa), dhalubang (Madura), kembala (Sumba), malak (Seram) (Heyne dalam Pudjiastuti (Ibid).
Sehubungan dengan pembuatan bahan dari kulit pohon saeh yang dipukul-pukul tersebut, “di Museum Nasional Republik Indonesia tersimpan koleksi nomor 4523 berupa pemukul berasal dari abad ke-3 SM, berasal dari daerah Cariu – Bogor yang diperkirakan cikal bakal pembuatan daluang. Tradisi ini sezaman dengan tradisi yang berlangsung di sekitar S. Yang Tse Kiang di Cina dan di Luzon Pilipina” (Permadi dalam Sabana, Setiawan & Hawe Setiawan (Ed), 2011: 67 – 70). Diperkirakan tradisi pembuatan daluang di Jawa Barat sudah sangat tua.
Tak bisa dipungkiri bahwa keberaksaraan merupakan perilaku yang disakralkan. Perbandingan fisik naskah yang sudah dimakan rayap dengan keutuhan teks naskah ini memberikan gambaran bahwa NTAI sebuah naskah yang tidak sembarangan dibuka, dalam arti disakralkan. Tampaknya daluang yang terbuat dari pohon saeh pun merupakan tanda kesakralan, terbukti dari adanya tradisi naskah yang disebut Muharaman. Ada sejumlah naskah yang, apabila akan dibuka, terlebih dahulu diadakan ritual untuk menghormatinya, yaitu Ritual Muharaman. Naskah tersebut berisi teks Tasawuf dan hanya dibuka sekali dalam setahun, yaitu pada tanggal 1 Muharam dalam Ritual Muharaman. Naskah seperti ini berada di Sukabumi (informasi dari Fenti Dosen Bahasa Inggris pada UMI Sukabumi). Hal yang hampir sama dengan tradisi di atas dilaksanakan juga di Kabuyutan Desa Cieunteung Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang.

Aksara Naskah
Aksara naskah tergolong aksara Cacarakan. Cacarakan yang digunakan masyarakat Sunda mirip dengan Carakan Jawa, dan Anacaraka Bali, dengan sejumlah perbedaan. Script Cacarakan Sunda jauh lebih sederhana daripada Carakan, dan Anacaraka. Apabila NTAI berasal dari zaman awal Islamisasi, diperkirakan Cacarakan berada di lingkungan masyarakat Sunda yang sudah sangat tua. Bukti lain bahwa penggunaan Aksara Cacarakan telah berlangsung lama adalah adanya urutan alfabetis Ha, Na, Ca, Ra, Ka. Hitungan Ha, Na, Ca, Ra, Ka . . . Nya ini digunakan dalam perhitungan nasib manusia, terutama nasib perkawinan, yang fenomenanya masih didapati sampai masa kini. Hubungan antara aksara dan nasib manusia seolah ada hubungan. Kepercayaan seperti ini “terdapat pada masyarakat Asiria Kuna, yakni kepercayaan bahwa aksara diturunkan oleh Dewa Nebo pengatur nasib manusia.” (Pei, Mario, 1971). Dilihat dari sudut kepercayaan ini, keberadaan Cacarakan sudah sangat tua. Setelah Islam masuk, penghitungan Ha, Na, Ca, Ra, Ka bertransformasi ke Hijaiyah (aksara Arab).
Aksara Cacarakan dalam NTAI memiliki keunikan tersendiri, seolah-olah memiliki alphabetis yang digolongkan Ka Ga Nga seperti Aksara Sunda Kuna, Batak, Kerinci, Makasar yang memiliki aksara mpa, mpi, mpe, mpu, mpo, mpe, mba, nja, ngga, ngka, ngki, ngku, ngko, nra, nri, nru, nre, nro, nca, nci, ncu, nce, nco (Loir (Ed), 2009: 318). Pada NTAI hanya beberapa saja yakni mpa, mpu. Hal lainnya, naskah ini memiliki aksara berbentuk aksara Sunda Kuna dan sejumlah variasi tulisan sehingga, tidak seperti aksara Cacarakan lainnya, sangat sulit untuk dibaca. 
 
Bahasa naskah
Bahasa NTAI dapat dikelompokkan pada bahasa kuna yang, sebagai tonggak sejarah, sudah digunakan pada abad ke-9. Hal itu bukan berarti bahasa NTAI dipengaruhi Bahasa Jawa, karena bahasa ini digunakan di berbagai tempat, dan banyak pula naskah Sunda yang menggunakan bahasa tersebut, seperti naskah-naskah Ciburuy. Dapat dipertimbangkan pula pendapat bahwa peradaban di Pulau Jawa dimulai dari Jawa Barat, yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Tarumanagara. Supaya tidak memberikan kesan kedaerahan, istilah yang akan digunakan dalam artikel ini adalah Bahasa Kawi saja. Bahasa Kawi yang ditemukan di Jawa Barat berbeda dengan bahasa Kawi yang berada di Jawa Tengah, Timur, dan Bali. Bahasa Kawi di Jawa Barat mengalami pengurangan, penambahan, dan perubahan vokal atau konsonan dalam bentuk morfem dasar, tidak memiliki varian fonem, tidak mengenal vokal panjang pendek, tidak hanya ditulis dengan aksara Jawa Kuna/Cacarakan namun pula ditulis dengan aksara Sunda Kuna (Bdk juga, Sopian, 2010). Kata-kata yang muncul dalam bahasa Kawi NTAI ialah kata-kata dalam bahasa Sunda Kuna, Melayu, Sansekerta, dan Arab. 
 
Kesusastraan
Pupuh
NTAI terdiri dari dua bagian. Bagian I, lembaran 1-16 berupa uraian sariah tentang salat dalam bentuk prosa. Bagian kedua berisi tentang pemikiran tasawuf dalam bentuk puisi yang terdiri dari beberapa pupuh. Ada tiga pupuh yang terungkap, yakni Puh Hartati, Puh Dangdanggula, dan Puh Sinom. Style yang khas dalam penyajian pupuh dilihat dari tanda baca yang digunakan. Dalam penyajian bahasa, larik satu diikuti larik sesudahnya dengan enyambemen, yakni penggalan-penggalan bacaan. Hal ini sangat menolong dalam pemahaman, karena teks ini memang sangat sulit dipahami. Pemenggalan mengupayakan penyajian seperti prosa. Penyajian seperti ini lebih memudahkan pemahaman. Pupuh Hartati tidak dikenal pada naskah lainnya. Pada Ritual Ruwatan dengan kisah Batara Kala, disebutkan nama-nama Kidung, yakni, antara lain: Kidung Saripanggung, Kidung Panundung, Kidung Salamet, dan Kidung Artati.

Simbol
Hal yang sangat menarik dari teks naskah ini yakni penggunaan simbol. Bagian ini hanya mengungkapkan simbol-simbol penting, di antaranya:

(a) Sang Dangdang. Simbol ini sangat sulit diartikan karena yang terdapat dalam kamus, dangdang yakni dangdang, dan burung gagak. Setelah dibaca berkali-kali dengan analogi pemikiran para Sufi lainnya, Sang Dangdang kiranya bisa dianalogikan dengan badan batin, Muhammad Hakeki, Nur Muhammad, atau Nurullah, yakni Kesucian atau Nur yang diemanasi oleh Allah pada diri manusia. Apabila batin manusia bersih, Nur ini harus terpancar lagi, yakni dengan menyeru Asma Tuhan. Untuk mengisi batin dengan Asma Tuhan, orang harus berguru kepada Guru Mursid. Manusia berkewajiban untuk menyeru Asma Allah terus menerus. Sang Dangdang diterjemahkan Persemayaman-Nya, dianalogi dengan tempat menyeru Asma Tuhan tersebut. Persemayaman ini digunakan dengan alasan, pada naskah-naskah Tasawuf dalam batin orang-orang yang selalu menyeru Asma Allah maka jiwanya bisa disamakan dengan Aras.

(b) Simbol Burung. Pada teks Tasawuf, yakni dari halaman 17 sampai tamat, hampir setiap bait pupuh menyebut nama burung, yakni: merpati, kapota; gagak, gak; elang, sang ngelang; kuntul, sang kuntul; burung bangau, kangka, Sang Baka; burung, nuk, manuk, paksi; burung hantu, dok  ; bayan, bayan; angsa, kalaha; ayam, ngayam, ayam jantan, sata; kitiran, kitri; burung dwidwi (?); kutilang, kutilang/kutilang; perkutut, parikutut; angsa, hangsa; burung pelatuk, Sang manuk palatuk; burung dadali, paksi dadalyan; alap-alap, alap-alap; kalahar, kalahar; dan tutuyu, tutuyu.
Teks ini merupakan bukti penting bahwa burung digunakan untuk tempat terhormat pada manusia, yakni penghubung antara badan batin manusia dengan Allah. Dikatakan dalam NTAI, sekali disebut Asma Allah oleh badan batin manusia, maka beterbanganlah burung menuju Aras menyampaikan Asma Allah, yakni ketika manusia melakukan Dzikir Sirr. Setiap diserukan Asma Allah setiap itu pula burung muncul dan membawanya ke Aras. Asma Allah yang dibawa burung-burung itu kemudian menempati butir-butir darah.
Adanya Sang Persemayaman merupakan ilmu yang berada pada diri manusia. Hal ini memiliki makna yang mendalam bahwa manusia harus berhati-hati dalam bertindak, berucap, bertekad untuk tidak menyimpang dari Kehendak Tuhan karena dalam dirinya dititipi Ilmu Tuhan Yang Maha Suci. Dengan dianugrahi ilmu, manusia memiliki kewajiban mempertimbangkan, mengukur benar–salah, menyimpang–lurus, adil–tidak adil, dan seterusnya. Makan harus yang berasal dari hasil baik-baik supaya tidak bertentangan dengan unsur Yang Maha Benar, yang dibawa oleh kudrat manusia sejak lahir.
Unggas merupakan simbol serta mendapat makna mulia dalam agama Islam, budaya Islami, dan budaya Nusantara. Burung digunakan untuk pencitraan yang baik, yakni sebagai simbol keindahan, kejujuran, kebenaran, kemuliaan, rezeki, Suara Gaib, petunjuk, kesucian, dan berbagai hal yang mulia. Semua simbol ini dilekatkan, dengan setting dari kisah Zaman Nabi Adam dan fenomena lain dalam tradisi lisan lainnya sampai sekarang. Simbol Burung terdapat pula dalam Alquran sebagai pengemban kesucian dalam penghancuran kezaliman dari orang-orang yang menentang Tuhan. Begitupun unggas pada kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Sunda dan umumnya masyarakat Nusantara. Pengistimewaan burung dan ayam dalam masyarakat Sunda, khususnya, atau Nusantara, umumnya, tidak serta-merta muncul namun kiranya berasal dari pemahaman agama juga yang kemudian menjadi makna dari simbol yang maknanya semakin kabur, seperti di bawah ini:
Ada suatu doa yang hendaknya ketika mendengar kokok ayam: Ya Allah berilah aku rahmat. Menurut Hadist (Bukhari & Muslim): “Bila kamu mendengar ayam berkokok mohonlah rahmat Allah karena ayam tersebut melihat malaikat.” Doa ini dianjurkan karena ayam salah satu makhluk Allah yang diberi firasat oleh Allah untuk mengetahui kedatangan malaikat. Wallahualam (Iluvislam.com) (Tanggal 31 Oktober 2011). Menurut (Al_Satariyyah.com) (Tanggal 31 Oktober 2011), ketika ayam berkokok Nabi Muhammad SAW bersabda.: “Jika kalian mendengar ayam berkokok mintalah keutamaan dari Allah karena sesungguhnya dia melihat Malaikat, dan jika kalian mendengar keledai maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena dia sesungguhnya melihat setan (Hadist Bukhali 4/89 diriwayatkan pula oleh Muslim 4/2092 dari Hadist Abu Hurairah).
Simbol Ayam disimpan pula pada momolo (kubah?) mesjid di Cirebon dan Demak (Perbincangan dengan Ny. Ahmad Mujahid Ramli dan Dr. Tata Subrata di Jakarta pada tanggal 18 Maret 2012).
Ada hal yang sangat menarik dari ungkapan seni Cianjuran berbahasa Jawa Kuna, yang isinya paralel dengan NTAI, sebagai berikut:
 
Gunung kelir Gusti aling-aling, wong ngawayang Ki Dalang hanuk (diedit hanut) mring wayang, ya mring wayang.
Gunung kelir Gusti aling-aling, wong ngawayang Ki Dalang hanuk (diedit hanut) mring wayang, yam ring wayang.
Wayang hanuk (diedit hanut) maring dalang, maring dalang
Kelire hayun sabita (diedit hyun Sawita), hayun sabita (diedit hyun Sawita), manjat maja (diedit majana) netro, maja (diedit majana)netro)

Rebeng-rebeng tinanjak laying kang keri, wus winaca, wus winaca Perlambange, perlambange sinungkeman
Delancang rineka paksi,
Durung mati awak ingsun, dunungan durung mati,
Atmane layang-layangan, laying-layangan
Awor lan raga sukma, awor lan raga sukma
 
Yen kembang kembang malati,
Aja den buang den larung ya den larung, pependeman pupungkuran,
Tandurane wuluh gading

Anglilir hamara bangun
Dumadak waras tan Niro
Anglilir hamara bangun
Dumadak waras tan niro
Sigra anyandak panah
Mancat majana netro

Terjemahan, Penafsiran, dan Pemahaman:
Bagaimanapun lagu ini sarat dengan makna. Sebuah kata dengan kata lainnya memiliki makna untuk mendukung kesatuan makna utuh. Untuk pemahaman tidak sekedar menerjemahkan secara harfiah namun perlu memberikan kejelasan dalam rangka memindahkan makna. Adapun pemahaman makna tersebut adalah seperti berikut:

Kehidupan fana kelir, yang membatasi Tuhan Yang Maha Suci, manusia melakonkan wayang Ki Dalang menuruti lakon wayang, ya lakon wayang

Kehidupan fana kelir, yang membatasi Tuhan Yang Maha Suci, manusia melakonkan wayang Ki Dalang menuruti lakon wayang, ya lakon wayang
 
 Wayang (seyogyanya) mentaati Dalang, ya mentaati Dalang
(Walau) ada kelir (pembatas) (seyogyanya mentaati) Kehendak Pencipta
(hendaknya) naiklah (ke Aras) (Bermakrifat), pandanglah Sang Maha Penegak Hukum
dengan kedua matamu dan Mata Hatimu

Berterbanganlah naik melayang dari sebelah kiri  sudah dibaca sudah diucapkan LambangNya  Lambang dari (Dzat) yang harus disembah

Bertebaran digambarkan seperti burung
(Menghadap Tuhan apabila) sebelum wafat, raga hamba sebelum ajal, jiwanya melayang-layang melayang-layang
Bercampur dengan raga dan sukma

Seperti kembang melati
Jangan kau melupakanNya jangan kau melepasNya, kau melepasNya. (kamu) sebagai (makhluk yang harus) menyerukan AsmaNya dan kau yang diciptakanNya. Kau yang diciptakan dimuliakanNya
 
Kesadaran pun tiba membangunkan
Dengan tiba-tiba muncul (niat menghadapNya) namun Dia Gaib
Kesadaran pun tiba membangunkan
Dengan tiba-tiba muncul (niat menghadapNya) namun Dia Gaib
Segera mengambil panah
Naik menghadap Sang Pemegang Hukum, memandang dengan mata dan Mata Hati

Sang Rumuhun, karuhun merupakan kata yang memiliki nilai religius yang sangat produktif dalam berbagai ungkapan ritual seperti ka luhur ka Sang Rumuhun. Sang Rumuhun, karuhun pada berbagai wacana bisa ditafsirkan sebagai Roh Luhur Yang Suci, atau Yang Luhur yang dimuliakan dan dijunjung tinggi. Dalam teks masih terpengaruh oleh kata-kata kepercayaan sebelumnya seperti solat limang perkara kamsaheh kang Rumuhun puniku, ‘salat lima perkara yang pokok menurut leluhur demikian’. Yang dimaksud Rumuhun dalam teks ini sangat cenderung mengarah pada Rasulullah dengan Hadistnya. Selain Rumuhun disebut juga Karuhun. Penggunaan kata tersebut seperti di bawah ini:

waktu catur juhhur ngahsar                Waktu (salat) empat (rakaat)

kali                                              yakni Dzuhur dan Asar. dan waktu Magrib dan Isa

lan magerib miwah waktu ih-             teruskan waktunya dengan membaca doa-doa.
sa tunggalliku pamujineh tah-            (4) Tahiyat (dan salawat ?) untuk untuk leluhur (keluarga Nabi Muhammad SAW) yat

hingkang kuruhun                            begitulah petunjuknya.

panujare                                       (5) Namun dalam (berjamaah) berderet-deret tertib, duduk

tapi ndereki timpuh wiyung                dan ruku  takdzim

 
Rumuhun lebih condong memiliki mana Yang Luhur, Karuhun adalah Orang Terdahulu namun sudah berada di Alam Yang Luhur. Hal ini mengingatkan kepada sejumlah naskah Teosofi Tasawuf tentang Nur Muhammad sebagai Nur yang diciptakan dalam proses Penciptaan Alam Semesta pada naskah NTAI kemungkinan diungkapkan dengan kata Rumuhun dan Muhammad sebagai manusia yang diangkat sebagai Rasulullah diungkapkan sebagai Karuhun. Lainnya, Keheh kang Rumuhun niku hararasan lan basa Jangwi ‘semua dari Hadist Nabi Muhammad diartikan dalam bahasa Jawi. Istilah Jawi mengingatkan pada Aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan Bahasa Nusantara. Jawi berarti jauh. Hal yang sejajar dengan pengertian itu ialah bahwa dalam Babad Godog dari Jasinga Nabi Muhammad disebut Kangjeng Luluhur.

Kaki
Pada naskah Sunda Kuna, Nini Kaki diterjemahkan nenek moyang atau nenek dan kakek. Pada teks NTAI Kaki diperkirakan berasal dari pengertian bahasa Melayu yakni ‘kaki’. Makna kaki dalam teks ini ialah daya dari kaki yang bisa bergerak, berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan benda-benda. Tampaknya makna kaki dalam teks diartikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi yang bisa bergerak ke sana ke mari.

Pemahaman (Verstechen)
“Aktivitas verstechen, pada kenyataannya, relasi antara bahasa dan ujaran direfleksikan dalam satu hal yang ada di antara interpretasi dan pemahaman. Pemahaman dasar atas ujaran yang diucapkan atau ditulis, yang berlangsung dalam hidup sehari-hari, terdiri atas perpaduan (untaian kata dan untaian bahasa) yang benar makna. Pemahaman selalu lebih daripada sekedar mengetahui makna atau menandai kata-kata ujaran – pendengar, tulisan– pembaca. Namun harus berpartisipasi, idealnya ke dalam “bentuk hidup” yang sama dengan pembicara atau penulis sehingga memungkinkannya memahami bukan hanya kata-kata yang digunakan melainkan juga “beranjak bersama-sama menuju penyatuan pikiran yang ditawarkan.” Memahami diarahkan kepada sebuah keseluruhan dan mengisyaratkan keterlibatan total-akal, emosional, moral sebagai subjek.” (Bety dalam Bleicher, 2003: 39)
Tahap interpretasi merupakan tahapan yang sangat kompleks dalam memahami teks naskah kuna, seperti dikemukakan oleh Teuuw (1985), yaitu dalam pemahaman naskah, di samping memiliki kompetensi bahasa kuna, memiliki pula kompetensi budaya, dan kompetensi sastra.
Pemahaman menurut Bety sejalan dengan Schleiermacher dan Dilthey (dalam Bleicher, 2003: 41) sebagai pembalikan atas proses penciptaan. Pikiran kreatif mengungkapkan bentuk-bentuk penuh makna. Sebuah kandungan yang kemudian dikirimkan kepada pelaku interpretasi mengikuti skema triadic. Dari proses dialektik ini, makna mengacu pada ekspresi yang dimaksudkan oleh pengarang. Pengarang dan interpreter seharusnya memiliki kemiripan kemampuan intelektual dan moral agar keadilan sepenuhnya dapat diterapkan pada karya ciptanya. Pada bagian Tasawuf ada simbol-simbol yang awalnya sulit dipahami.
Menurut Nurbakhsy (1992) dalam Rakhmat (1998: vii) ulasan penyunting terhadap pandangan sufi sebagai berikut: Pertama, hakikat realitas bersifat spiritual karena segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan Tuhan adalah Wujud Spiritual. Realitas memiliki hierarkis. Alam Lahut, wilayah yang hanya Dzat Allah Yang Ada, Alam Jabarut, yang merupakan Wilayah Kekuasaan Allah, Alam Malakut, lapisan Langit Spiritual yang dihuni oleh para malaikat, Alam Nasut atau dunia manusia, alam materi atau benda-benda mati. Dunia materi hanya salah satu bagian dari Realitas. Kedua, Diri manusia memiliki lapisan-lapisan yang paralel dengan Realitas Alam Raya. Di dalam diri manusia terdapat lapisan, Sifat kebendaan atau tabb, yang berada di ‘alam materi’, lebih tinggi nafs setara dengan Alam Nasut, Lapis Qalb sejajar dengan Arsy, Lapis Ruh setingkat dengan Alam Malakut, Lapis Kesadaran Batin, Khafi atau Sirr yang berada pada Alam Jabarut, Lapis Kesadaran Terdalam (Akhfa) yang berada pada tingkatan Alam Lahut. Ketiga terdapat berbagai wujud realitas dan wujud spiritual yang memberi pengaruh kepada jiwa manusia, mukjijat dan malaikat yang membawa pada kebenaran dan godaan setan dan gangguan jin yang membawa kepada ketidakbaikan. Keempat kaidah sufi, hanya yang sama saling bisa mengetahui. Manusia hanya bisa mengetahui Alam Nasut, Arsyi hanya bisa diketahui oleh Qalb, Alam Malakut hanya bisa diketahui oleh Ruh, Alam Jabarut hanya bisa diketahui oleh Kesadaran Batin, Alam Lahut hanya bisa dijangkau oleh Batin Terdalam. Kelima, kaidah di atas hanya menjadikan sebuah wacana mistik hanya bisa dipahami oleh para mistikus. Keenam pengetahuan merupakan fungsi wujud. “Mengetahui adalah menjadi” to know is to be. Aspek-aspek dalam diri manusia sudah ada sejak lahir, namun sebagian besar hanya bersifat potensi pengecualian Nabi dan Rasul. Ketujuh, dianjurkan memiliki guru (dalam-naskah-naskah disebut Guru Mursid).
Teks naskah NTAI diperkirakan berasal dari awal masa Islamisasi dengan jejak-jejak pengetahuan Ajaran Sariah Islam yang sangat mendasar, yakni ajaran melaksanakan salat. Hal yang sangat nyata mengindikasikan kekunaan pengetahuan yakni pembicaraan mengenai kiblat. Hal lainnya yakni penggunaan tulisan dengan Cacarakan, yang diperkirakan digunakan karena para penyebar Islam belum mampu menulis dalam aksara Arab. Peristilahan yang berhubungan dengan Agama Islam menggunakan istilah yang menunjukkan istilah transisi dari kepercayaan sebelumnya antara lain karuhun, rumuhun, Sang Dangdang, dan kaki.
Pada tahap pemahaman (verstechen) terhadap naskah yang sangat rumit isi, bahasa, dan aksaranya seperti NTAI, sehingga perlu diketahui terlebih dahulu kunci/titik makna penentuan genre wacana naskah tersebut. Untuk itu, NTAI hendaknya dibaca secara menyeluruh walaupun ada sejumlah aksara yang belum terpahami. Setelah dibaca secara menyeluruh diharapkan diperoleh titik terang, yakni klausa kunci manunggaling kaula–Gusti. Dari klausa kunci ini dapat diperkirakan bahwa teks NTAI merupakan sebuah uraian mengenai Tasawuf.

Ikhtisar Isi Teks
Seperti telah diutarakan sebelumnya, naskah ini terdiri dari dua teks yang bentuk aksara dan kandungan isinya berbeda. Kedua teks yang berbeda dalam satu naskah ini akan dibedakan dalam bagian I dan II. Bagian I, halaman 1 – 16, dengan ukuran aksara besar-besar, bahasa prosa, dan isinya mengenai pelaksanaan salat. Bagian II, halaman 17 sampai dengan 64, dengan tulisan kecil-kecil, bahasa puisi tembang, isinya mengenai Tasawuf tentang penyembahan batiniah. Ikhtisar ini tidak dilakukan seutuhnya sehubungan banyak bagian naskah yang rusak ‘coruptella’, aksara yang sangat kabur tidak terbaca, dan scholia ‘sarah’ yang tak terbaca sama sekali.

Bagian I
Dalam Bagian Pertama, halaman 1-17, banyak hal yang sangat sulit untuk dipahami, seperti tentang rakaat yang berbeda dengan jumlah yang kini berlaku. Diperkirakan hal yang tak bisa dipahami tersebut, seperti telah dikemukakan, ada kaitannya dengan peribadatan Tarikat yang dianut. Keterangan tentang penulis teks ini tertulis sebagai: pun panggepokan lan wanita. Ungkapan ini bisa ditafsirkan ganda apabila dibedakan dalam pemahaman arti dan pemenggalan kata. Penafsiran kedua pun panggepokan lan wani ta. Pertama, penulisnya berasal dari pedepokan (pesantren?) wanita, kedua panggepokan bisa diartikan tempat penyiksaan orang-orang pemberani (wani ta).
 Isinya mengenai salat, meliputi: penyucian diri sebelum salat, waktu salat yang lima waktu, serta berdiri dengan mengarah ke kiblat. Salat merupakan fardu, bisa membawa pada kebahagiaan dan meringankan kehidupan, apabila ada seruan supaya disegerakan. Tentang rakaat dan nilai tidak dapat ditafsirkan maksudnya. Salat sunat setiap salat pardu. Salat berjamaah duduk dengan tertib. Salat Magrib dengan Isa menjadi satu, di antaranya banyak-banyak membaca doa. Membaca salawat kepada Nabi sebanyak-banyaknya supaya tak ada halangan dalam kematian. Mendekatkan diri kepada Tuhan baik siang atau malam dengan beribadat. Cara Ibadat lama (pra-Islam?) ubahlah. Hal yang membatalkan salat, buang air kecil, minum (air liur), murtad, terbuka orat, banyak menggerak-gerakan badan, batal wudu, badan dan pakaian terkena najis, berubah niat/pikiran, mengubah badan, menyimpang dari arah kiblat, tertidur. Gerakan sembahyang ruku, sujud, berdiri dan duduk. Apabila beribadat tanpa mengetahui dengan seksama, sama dengan membidik seekor burung, tak mengetahui letak burung dengan tepat, peribadatannya tak mengenai sasaran, tak sempurna. Dalam beribadat harus dalam keadaan suci. Beribadat adalah jalan menuju kepada Yang Maha Ada, yakni dengan memuji dan menyembahNya.

Bagian II
Bagian II dari halaman 17 – 63. Penyajian Ikhtisar ini tidak dengan cara ringkasan menurut urutan penyajian teks, namun dengan mengklasifikasi data sejenis. Secara garis besar bagian II terdiri dari Tujuan Penulisan Teks, Penyebutan kepada Allah Subhanahu Wataala (data ini menyebar dalam berbagai pembahasan), Tempat Persemayaman Tuhan dalam Batin Manusia, dan Kaki atau Khalifah.
(a) Tujuan Penulisan Teks
Tujuan penulisan yakni meniti kebahagiaan utama, ketenangan jiwa bisa diraih dengan mengerjakan kebaikan. Oleh karenanya segerakan menuliskan pikiran supaya menjadikan tuntunan yang bermanfaat. Cacat diri karena kemalasan.
(b) Penyebutan kepada Allah Subhanahu Wataala Yang Disembah
Tuhan Sang Asal, Sang Perkasa, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Benar, Yang Maha Tahu, Raja Semesta Alam, Pemilik Nur,Tak Beranak, Yang Maha Agung, Penganugrah Ilmu, Yang Maha Bersabda, Yang Maha Hak, Yang Maha Nyata, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Pemilik, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mulia, Yang Maha Suci, Yang Maha Berkehendak, Pemberi Berkah, Pemilik Kesempurnaan, Yang Maha Awal, Sang Pencipta, Yang Mulia Yang Bersemayam di Aras. Jagat adalah saksi dari KenyataanNya.
(c) Sang Dangdang /Tempat Persemayaman.
Kata ini terpahami ketika sebutannya Sang Dandang Kateng Sun. Kata dari Bahasa Sansekerta katha, ceritera, riwayat. Dalam konteks ini Kata mengacu kepada bahasa. Dalam Teks Wawacan Jaka Ula Jaka Uli, bahwa Tuhan menyebut AsmaNya untuk disebut manusia Alif Lam Lam He. Sang Dangdang Kateng Sun berarti PersemayamanKu, dengan fokus narasi Tuhan. Sang Dangdang diciptakan Tuhan dalam diri manusia untuk menyebut/menyeru AsmaNya selama hayat dikandung badan, ketika hidup di dunia. Isilah Sang Persemayaman dengan Asma Tuhan dengan lemah lembut. Inilah yang disebut bermakrifat, menyeru selalu Asma Tuhan, beserta menghidupkan penglihatan dan pendengaran hati. Mendengar dan melihat dengan penglihatan dan pendengaran hati dengan Ilmu. Ilmu bersumber dari Dia Pemberi Ilmu. Pengetahuan Tertinggi manusia yakni mencariNya dan MendatangiNya Manusia yang tak berakal tidak bertuhan. Tuhan Maha Gaib, bermakhrifat artinya tenggelam dalam Kegaiban. Dalam Teks, seruan-batin dalam diri manusia ini diterbangkan ke Aras oleh burung-burung. Burung dalam hal ini hanya simbol dari terbang.
Seruan batin manusia yang terus-menerus ini disebut juga manunggaling Kawula-Gusti “Menunggalnya hamba dengan Tuhan”. Hamba asalnya dari Dia, yang ketika hidup di dunia dipisahkan. Hamba harus selalu menyeruNya, untuk bisa kembali kepadaNya. Hamba harus selalu menunggalkan kepada Tuhan, Sang Asal secara kekal terus-menerus. Segala perilaku harus selalu disertai seruan kepada Tuhan, selalu mendekatkan penglihatan kepada Tuhan, supaya wafat disertai senyuman. Hamba harus selalu mengAdakan “Dia Yang Disembah” di batinnya. Hamba harus berdoa untuk ditunjuki jalan yang benar, memanjatkan permohonan ampun, meminta segera diberi kemampuan untuk bertemu/mampu melihatNya dengan mata batin. Untuk mengetahui Tuhan, tidak harus ajal terlebih dahulu, namun dengan menarik Aras (Istana) ke dada, begitulah mendekatiNya. Itulah menunggalkan diri dengan Yang Maha Tunggal. Apabila hamba mampu menarik Aras ke dada, itulah hamba yang DicintaiNya. Apabila hamba mampu menjadi hamba yang dicintaiNya, bukanlah kemampuan dari hamba itu namun atas KasihNya. Tuhan Sang Ada dalam diri hamba tidak di atas tidak di bawah. Apabila manusia sudah renta, tak mampu lagi bergerak, maka yang harus dikerjakan adalah menyeruNya.
(d) Sang Kaki/Khalifah
Kaki, bisa artinya kakek dan bisa pula petapa. Dalam Teks NTAI ini muncul kata tapa, yakni batin manusia yang selalu menghadapkan perilaku batin dan raganya kepada Tuhan, antara lain ketika makan dan tidur, siang dan malam. Bila manusia tidak menyembah Tuhan, seperti hewan adanya. Manusia sebagai Khalifah Tuhan. Manusia adalah siratan dari NurNya. Tuhan menitipkan siratan Rasa KesempurnaanNya antara lain penglihatan dan pendengaran kepada Khalifah, Tuhan Raja Alam Semesta, dan menitipkan alam kepada manusia. Tuhan Maha Gaib, kemudian siratan Tuhan beralih kepada Khalifah pihak yang lemah – makhluk berada atas KasihNya. Manusia sebagai Khalifah, tidak seperti Tuhan dalam melindungi. Allah Yang Maha Gaib tak bisa dicapai oleh manusia. Tuhan sangat dekat kepada Khalifah. Dengan SabdaNya (AsmaNya ?) bisa mendekatiNya. Tuhan Yang Maha Ada yang mengadakan segala yang ada. Tujuan akhir Khalifah yakni menghadapNya. Jika ketika hidup tak mampu menunggalkan diri, ketika ajal tak akan bisa menghadapNya. Bumi, langit, surga, neraka hanya perumpamaan untuk menentukan pilihan manusia. Keutamaan Surga sama sekali tidak seperti keutamaan manusia ketika hidup di dunia, dalam arti tak akan terbayangkan oleh manusia. Ketentuan ditentukan oleh bobot timbangan. Bobot timbangan ditentukan oleh hubungan antara hamba dengan Tuhan. Sebagai Khalifah harus mengutamakan untuk selalu menghadapNya, selalu Taat kepada Pencipta, dengan mentaati perintahNya. Batinnya selalu terbang ke Aras. Lurus hati. Selalu mencari dan mendekat kepada Tuhan menyampaikan SabdaNya, memberitahu orang bodoh yang bersungguh-sungguh, menyampaikan amanah dengan ramah iklas ketika dianugrahi sakit dan tangisan yang rindu kepada Tuhan secara bersungguh-sungguh. Meninggalkan pemikiran berlebih untuk tujuan keduniawian, membatasi penglihatan hati semata-mata hanya bermakrifat kepada Tuhan, Tapa, mematikan angan-angan pada dunia. Hamba yang taat dianugrahi kepandaian dan keadilan, selalu dilimpahi Nur. Tuhan tak akan keliru dalam memilih makhlukNya. Nur mengajak untuk beriman kepada Sabda Tuhan, Orang mulia bertujuan untuk dunia akhirat. Orang mulia yakni sebagai raja dalam mensucikan diri untuk tujuan akhirat. Hubungan hamba dengan manusia hancur apabila hamba hitam tapanya, merasa sakit dalam menjalankan tapa, pikirannya berpaling, atau menangisi harta benda yang lepas. Tak menyadari bahwa selaku hamba ia lemah, berkedip pun tak mampu. Hamba hidup atas SabdaNya. Rezeki terbentang, manusia lupa kepada Pemberi Berkah. Manusia dilebihkan kemuliaannya dari makhluk lainnya untuk tujuan menyempurnakan sembahnya kepada Tuhan. Bentuk sembah kepada Tuhan dengan gerak batin serta raga, dan menyampaikan pujian. 
 
Kesimpulan
NTAI berisi sebuah ajaran agama Islam dengan pembahasan Syariah dan Tasawuf. Pemikiran Tasawuf dalam NTAI memiliki konsep yang paralel dengan karya yang ada kemudian. Perbedaannya hanyalah dalam istilah kebahasaan. Istilah kebahasaan sesuai dengan makna pra-Islam, kemudian sejumlah istilah sesuai dengan peristilahan dalam Islam. Simbol-simbol dengan acuannya memiliki keteraturan makna. Simbol-simbol merupakan ungkapan pemikiran atau konsep yang bersumber dari tradisi dan religi. Simbol-simbol memiliki koneksi tersembunyi dengan ungkapan tradisi lainnya yang saling menerangkan. Naskah ini membangkitkan pemikiran yang mengusulkan untuk tidak mencurigai terhadap simbol-simbol ini sebelum menelusurinya secara bijak.
 
Daftar Pustaka
Aceh, Aboebakar, H., 1995, Pengantar Ilmu Hakikat & Ma’rifat. Edisi keempat. Solo: Ramadhani.
Afifi, A. E., 1995, Filsafat Mistis Ibnu Arabi. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman dari buku: “A Mistical Philosopy of Muhyiddin Ibn ‘Arabi”, 1979. Jakarta: PT Gaya Media Pratama.
Al-Ghazali, Imam, t.t., Ihya Ulumuddin. Disunting oleh K.H. Misbah Zainul Musthofa.
Baidhawi, Zakiyuddin & Mutohharun Jinan (Ed), 2002, Agama dan Pluralitas Budaya Lokal. Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial. Universitas Muhamadiyah Surakarta. Kota Anonim: C.V. Bintang Pelajar.
Bleicher, Josef, 2003, Hermeneutika Kontemporer. Hermeneutika Sebagai Metode, Filsafat, dan Kritik. Edisi Pertama. Alih Bahasa: Ahmad Norma Permata. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Burckhardt, Titus, 1984, Mengenal Ajaran Kaum Sufi. Diiterjemahkan oleh Azyumardi Azra dan Bachtiar Efendi dari buku: An Introduction to Sufi Doctrine. Second Impression 1981. Wellingborough, Great Britain: The Aquarian Press. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Danasasmita, Saleh, dkk, 1984, Sejarah Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Daerah TK I Jawa Barat.
Darsa, Undang Ahmad., dkk, 1993, Wawacan Gandasari. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Eagleton, Terry (ed.), 1985, Modern Literary Theory.
Rochaeti, Etti. 1997. Wawacan Batara Kala: Suatu Kajian Filologis. Tesis. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Haderanie H.N., K.H., t.t. Ilmu Ketuhanan, Marifat, Musyahadah, Mukasyafah, dan Muhabbah. (4 M). Surabaya: C.V. Amin.
Hadi W.M., Abdul, 1995, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya. Bandung: Penerbit Mizan.
Hartoko, Dick, 1975, Saksi Budaya. Edisi Pertama. Jakarta Pusat: Dunia Pustaka Jaya.
Jones, Russell, tt, Makalah: Asal-Usul Tradisi Naskah Melayu.
Kalabadzi, Aboe Bakar Muhammad al -., 1995, Ajaran-Ajaran Sufi. Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh Nasir Yusuf, editing oleh Ahsing Muhamad dari buku: Al – Ta’arruf li Madzab Ahl at – Tashawwuf. 1980. Kairo: Maktaba Kulliyatu Uzhiriyyah. Bandung:  Penerbit Pustaka.
Kalsum, 1991, Makna Mantra Pertanian Jawa Barat Bagian Timur. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.
______, 1998, Wawacan Jaka Ula Jaka Uli: Kajian Filologis. Tesis. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
______, 2006 Wawacan Batara Rama: Edisi Teks, Kajian Struktur dan Intertekstualitas.  Disertasi. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
______,  2010, “Simbol Magi Nirag dan Ngaradinan, hubungannya dengan teks naskah Sewaka Darma”. Jurnal Panggung, terbit Maret 2011, Vol 20. No. 4 Oktober – Desember 2010.
Kalsum & Rahmat Sopian, 2010, Wawacan Dalam Khazanah Sastra Sunda dan Suntingan Teks Wawacan Rawi Mulud. Sastra UNPAD Press.
Lubis, Nabilah, 1996 a. Syekh Yusuf Al – Taj Al Makasari: Menyingkap Intisari Segala  Rahasia. Edisi Pertama. Disertasi. Diterbitkan kerjasama Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Ecole Francaise d’ Extreme – Orient. Bandung: Penerbit Mizan.
Loir, Henry Chambert (ed), 2009, Sadur; Sejarah terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Kerjasama KPG, EFEO, Forum Jakarta – Paris, Pusat Bahasa, Unpad.
Nurbakhsy, Javad., 1992, Psyhologi of Sufism (Del wa Nafs). Diterjemahkan oleh Arief Rakhmat, 1998, judul Psikologi Sufi. Penyunting: Saat Langit Lembayung. Fajar Pustaka Baru: Yogyakarta
Pradotokusumo, Partini Sardjono, 1986, Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional.  Universitas Padjadjaran. Bandung.
_______, 2003, Menguak Makna Teks dalam Naskah Nusantara (Lama). Disajikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VII di Denpasar – Bali, 28 – 30 Juli 2003.
Pradotokusumo, Partini Sardjono dkk., 1986, Naskah Sunda Kuna; transliterasi dan terjemahan. Bandung: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Purwoko, Herudjati 2008 Discourse Analysis: Kajian Wacana bagi Semua Orang. Edisi Pertama. Jakarta: P.T. Indeks.
Reynolds, L.D. & N.G. Wilson, 1978, Scribes & Scholars. London: Oxford University Press.
Riffaterre, Michael, 1978, Semiotics of Poetry. Library of Congress Cataloging in  Publication Data. Bloomington & London: Indiana University Press.
Robson, S.O. 1978. Filologi dan Sastra-Sastra Klasik Indonesia. Tugu-Bogor.
Rosidi, Ajip, 1989 Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana. Bandung: Pustaka.
Rusyana, Yus & Ami Raksanagara, 1980 Puisi Guguritan Sunda Jakarta: P & K.
Sabana, Setiawan & Hawe Setiawan (Ed), 2011, Jagat Kertas. Kumpulan Tulisan. Bandung: Garasi 10.
Sopian, Rahmat, 2010, Bima Swarga, naskah beraksara Sunda Kuno, dengan bahasa Sunda Kuno: Kajian Filologis. Program Pascasarjana: UNPAD.
Surianingrat, Bayu 1982. Sajarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur. Jakarta: Rukun Warga Cianjur.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
_______, 1984, Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: P.T. Dunia Pustaka Jaya.
Tjandrasasmita, Uka, 2009, Arkeologi Islam Nusantara. Gramedia.

Daftar Naskah
1. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli
2. Wawacan Tamim Adari
3. Wawacan Pulan Palin
4. Wawacan Buana Wisesa
5. Karya Haji Hasan Mustapa (buku, lihat Daftar Pustaka, Rosidi, Ayip. 1089)
6. Wawacan Gandasari
7. Wawacan Ganda Sari (buku, lihat Daftar Pustaka, Darsa, Undang Ahmad., dkk, 1993)
8. Wawacan Batara Kala (Tesis, lihat Daftar Pustaka, Rochaeti, Etti. 1997)
9. Babad Godog dari Jasinga
10. Ratuning Usada Naskah Bali
11. Wawacan Sulanjana