Sinergi Perpustakaan Umum Dengan Perpustakaan Sekolah: Sebuah Wacana Mewujudkan Siswa Melek Informasi

Kondisi Perpustakaan Sekolah Di Indonesia

Masyarakat kita masih terbiasa dengan penilaian terhadap fisik sekolah untuk mengatakan baik- tidaknya sebuah sekolah. Memang tidak salah juga. Salah satu indikator keberhasilan juga bisa dilihat dari besarnya bangunan dan penampilan fisiknya.Tapi yang tidak kalah penting dan fundamental, menurut penulis adalah tersedianya fasilitas dan sarana pendukung proses belajar mengajar itu sendiri, dan salah satunya adalah perpustakaan.

Keberadaan sebuah perpustakaan di sekolah adalah mutlak, karena tanggung jawab untuk membangkitkan minat baca tidak saja menjadi tanggung jawab orang tua. Namun dalam kenyataannya, masih banyak sekolah, dalam hal ini Kepala Sekolah tidak melihat aspek penting keberadaan perpustakaan dalam sekolahnya.

Perpustakaan sekolah bagi kebanyakan orang hanyalah sebuah ruangan sempit di ujung koridor sekolah yang penuh debu dan tidak menarik sama sekali. Ditambah dengan petugasnya yang galak dan koleksi bukunya yang sangat minim karena kebanyakan hanyalah berisi buku-buku pelajaran yang sudah dimiliki para murid. Para guru juga menggunakan perpustakaan hanya sekadar untuk meminjam surat kabar dan menitipkan anak selama ia mengajar. Hal terparah adalah sosok kepala sekolah yang tidak pernah terlihat sekali juga menginjakkan kaki di ruang perpustakaan. Koleksinya hanyalah buku-buku yang tidak disusun secara’apik’, hanya ditumpuk-tumpuk di dalam kardus. Situasi tersebut memang lebih menggambarkan perpustakaan- perpustakaan untuk sekolah-sekolah negeri, tidak demikian dengan sekolah-sekolah swasta favorit (Prisgunarto, 2006).

Menurut Fuad Hasan (2001), (1) dari 200.000 Sekolah Dasar hanya sekitar 1 (satu) persen yang memiliki perpustakaan standar, (2) dari sekitar 70.000 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru 34% yang memiliki perpustakaan standar, (3) dari sekitar 14.000 Sekolah Menengah Umum hanya sekitar 54% yang memiliki perpustakaan standar (dikutip dalam Saputra, 2004). Bukankah hal tersebut sangat memprihatinkan?

Tanggung Jawab Perpustakaan Umum

Dengan kondisi yang cukup memprihatinkan seperti di atas, dapat dikatakan bahwa anak-anak Indonesia di usia dini banyak yang tidak mengenal Perpustakaan, bahkan mungkin juga kurang memperoleh bahan bacaan yang mendidik. Dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang masih cukup banyak berada di garis kemiskinan, pemenuhan komsumsi bahan bacaan menjadi prioritas nomor kesekian. Di samping faktor ekonomi, faktor kebiasaan masyarakat Indoensia yang lebih terbiasa dengan budaya lisan daripada budaya tulisan juga memperparah kondisi ini.

Pengenalan perpustakaan sejak dini, tidak saja menjadi tanggung jawab orangtua, tapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini perpustakaan umum. Penanaman akan pentingnya perpustakaan sebagai sarana belajar seumur hidup (life lorig learning) perlu ditekankan sejak usia sekolah, karena pada masa- masa inilah kepribadian seseorang akan dibentuk. Anak harus dibiasakan untuk menggunakan buku dan sumber informasi lainnya sebagai jawaban dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 43 tahun 2007 pada Pasal 4 yang menyebutkan “Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal tersebut di atas sejalan dengan tujuan dari perpustakaan umum yaitu untuk memberikan kesempatan bagi msyarakat umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan lebih baik.

Perpustakaan umum menyediakan sumber informasi yang cepat, murah dan tepat mengenai topik-topik yang sedang hangat dalam masyarakat maupun topik yang berguna bagi mereka. Selain itu perpustakaan umum membantu warga mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga yang bersangkutan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Tujuan lain, perpustakaan umum juga berfungsi sebagai agen kultural, artinya perpustakaan umum pusat utama kehidupan utama budaya masyarakat sekitarnya dan menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat (Sulistyo-Basuki, 1994).

Sangat tidak salah jika tanggung jawab untuk membina dan meningkatkan minat baca siswa juga menjadi tanggung jawab perpustakaan umum dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan amanat Undang- Undang Dasar RI tahun 1945.

Komitmen Sekolah

Pelaksanaan wacana ini memerlukan komitmen dari kepala sekolah untuk memiliki pustakawan atau staf lain (bisa guru atau tenaga administratif) yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perpustakaan. Karena program yang dikerjakan secara bersinergi dengan perpustakaan umum tidak akan berjalan dengan baik, tanpa ada semangat yang tinggi dari pihak sekolah dalam hal ini petugas perpustakaan yang ditunjuk.

Bentuk-Bentuk Sinergi

Pelaksanaan wacana ini memerlukan komitmen dari Kepala Sekolah untuk memiliki pustakawan atau staf lain (bisa guru atau tenaga administratif) yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perpustakaan. Karena program yang dikerjakan secara bersinergi dengan perpustakaan umum tidak akan berjalan dengan baik, tanpa ada semangat yang tinggi dari pihak sekolah dalam hal ini petugas perpustakaan yang ditunjuk. Demikian juga dengan Perpustakaan umum, harus memiliki komitmen untuk menyiapkan generasi yang gemar membaca dengan menyiapkan anggaran khusus untuk melakukan sinergi ini.

Beberapa bentuk sinergi yang dapat dilakukan oleh Perpustakaan umum dengan Perpustakaan sekolah adalah:

Pembinaan staf Perpustakaan Sekolah

Pada pasal 33 UU Nomor 43 Tahun 2007, disebutkan bahwa (ayat 1) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan merupakan tanggung jawab penyelenggara perpustakaan. (Ayat 2) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pendidikan formal dan/atau nonforma!.(Ayat 3) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kerja sama Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum provinsi, dan/atau perpustakaan umum kabupaten/ kota dengan organisasi profesi, atau dengan lembaga pendidikan dan pelatihan.

Di dalam menjalankan fungsinya tersebut, perpustakaan umum dapat secara aktif melakukan pembinaan SDM perpustakaan sekolah. Saat ini jarang sekali dijumpai pada sekolah negeri atau sekolah swasta yang tidak/kurang favorit memiliki seorang pustakawan untuk mengelola perpustakaan sekolah. Memang kondisi ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan Kepala Sekolah, karena saat ini masih minim sekali lulusan jurusan ilmu perpustakaan yang bersedia menjadi pustakawan sekolah, baik itu di negeri maupun swasta. Kecuali di sekolah-sekolah swasta favorit atau sekolah internasional. Pada sekolah negeri biasanya pustakawan hanya sebagai tenaga honorer, bahkan digaji di bawah Standard UMR (upah minimum regional), hal inilah yang menjadi salah satu penyebab lulusan sekolah perpustakaan enggan untuk bekerja di perpustakaan sekolah negeri.

Integrasi Kegiatan Literasi Informasi dalam Kurikulum Sekolah

Pengenalan akan bahan bacaan dan perpustakaan perlu dilakukan sejak dini, baik di tingkat keluarga maupun pendidikan dasar. Pada sekolah-sekolah yang sudah maju dan modern, seperti pada beberapa sekolah di Jakarta, pustakawan adalah seorang “teacherlibrarian” yang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Bahkan “teacherlibrarian” memiliki jam mengajar dengan waktu tertentu sebagai sarana. Untuk mengajarkan ketrampilan literasi informasi • kepada siswa. Mereka bahkan telah menerapkan metode literasi informasi (melek informasi) kepada siswa seperti “B/g S/x”atau “Empowering Eight”yang telah diterapkan di beberapa sekolah internasional di Jakarta.

Guna menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sebagai ruang publik bertemunya banyak orang dan sarana mempublikasian inilah yang seharusnya difokuskan pada program perpustakaan dalam lingkup nasional. Melek perpustakaan, demikianlah istilah yang sesuai untuk digunakan. Melek perpustakaan ini bukanlah sesuatu yang mudah, tapi cukup sulit dan memerlukan waktu yang lama. Penggalakan program ini sangat cocok bila di mulai di perpustakaan- perpustakaan sekolah. Perpustakaan seharusnya bisa diperkenalkan sejak kecil, ketika seseorang masih di Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar. Bukan berarti program melek dan kenal perpustakaan hanya diperuntukkan pada anak-anak tetapi juga pada remaja dan orang dewasa yang intinya adalah kita semua (Prisgunarto, 2006).

ruangan perpus

 

Berpijak pada istilah ‘tak kenal maka tak sayang’demikian juga dengan keberadaan perpustakaan di masyarakat. Ini berarti pengenalan perpustakaan seharusnya lebih menyentuh pada gemar hidup berperpustakaan dimulai dengan penciptaan perpustakaan pribadi, dalam hubungannya dengan manajemen dan pengelolaan koleksi literatur pribadi. Mengapa hal yang sepertinya sepele ini patut dipermasalahkan? Sebab dari banyak kasus terbukti gagalnya mahasiswa tingkat akhir sebagian besar lantaran tidak akrabnya mereka dengan perpustakaan, sehingga mereka kesulitan dalam penyusunan skripsi, tesis dan karya tulis, karena frustasi pada penelusuran literatur dimaksud (Prisgunarto, 2006).

Melalui sinergi ini, perpustakaan umum dapat bekerjasama dengan sekolah untuk mengintegrasikan kegiatan literasi informasi dalam kurikulum sekolah. Misalnya setiap sebulan sekali pustakawan umum memberikan materi-materi literasi informasi, seperti:

  1. Mengapa perlu membaca?
  2. Teladan dari tokoh-tokoh yang suka membaca
  3. Bagaimana memperoleh bahan bacaan?
  4. Perpustakaan sebagai sumber informasi
  5. Cara mencari informasi di perpustakaan
  6. Membaca cepat, dll.

Materi dapat disesuaikan dengan usia siswa, dengan menggunakan alat peraga maupun media presentasi yang efektif diterima oleh usia siswa.

Pada awal penyelenggaraan program ini, pustakawan perpustakaan umum yang berperan secara langsung sebagai penyelenggara harus dapat menggandeng staf perpustakaan sekolah, sehingga nantinya jika sudah siap dan terlatih, staf perpustakaan sekolah yang akan menjadi fasilitator.

Koleksi Perpustakaan Umum Sebagai Sumber Jawaban Tugas- Tugas Sekolah

Sebelum memasuki semester baru, biasanya pihak sekolah

menyusun kurikulum sekolah. Pada kegiatan ini, pihak perpustakaan umum dapat dilibatkan sehingga pada mata pelajaran tertentu, guru- guru dapat membawa muridnya untuk mengerjak^i tugas dengan materi perpustakaan.

Pada mata pelajaran tertentu, guru-guru dapat membawa muridnya ke perpustakaan umum untuk mengerjakan tugas dengan materi koleksi perpustakaan. Selain membawa murid langsung ke Perpustakaan, guru juga dapat memberikan tugas-tugas yang jawabannya dapat diperoleh di Perpustakaan umum.

Kegiatan Bersama Pada Event- Event Tertentu

Pengenalan Perpustakaan kepada anak-anak hendaknya dilakukan bukan hanya dengan kegiatan yang bersifat formal tapi bisa juga yang bersifat hiburan, misalnya dengan mengadakan lomba-lomba pada event-event tertentu. Perpustakaan umum dapat bekerjasama dengan sekolah menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti pemutaran film, storytelling bagi siswa sekolah, mengadakan lomba membaca, lomba meringkas buku, lomba membuat puisi, lomba storytelling cerita rakyat, dan lain sebagainya.

Kegiatan dapat dilakukan pada event-event tertentu misalnya Hari Anak Nasional, Hari Kunjung Perpustakaan, Hari Literasi Informasi, Hari Buku, dll. Kegiatan juga dapat dilakukan di Perpustakaan umum atau di sekolah sesuai kesepakatan bersama. Melalui kegiatan edukasi yang menghibur ini bermanfaat untuk mengubah pola pikir sejak usia dini tentang pentingnya membaca bagi kehidupan mereka saat ini dan kelak.

Kesimpulan dan Saran

Kondisi perpustakaan yang masih di bawah standar tidak harus menjadi kendala bagi siswa untuk mengenal perpustakaan dan menjadikannya sebagai sarana belajar. Sekolah dapat berkolaborasi dengan perpustakaan umum agar pengenalan perpustakaan, penanaman pentingnya membaca dan belajar seumur hidup dapat dilakukan sejak usia dini.

Bentuk-bentuk sinergi yang dipaparkan di atas dapat dilakukan, oleh Perpustakaan umum di daerah, baik di tingkat kecamatan maupun tingkat ibukota/kabupaten, asalkan ada komitmen yang kuat dari para pengambil kebijakan baik di perpustakaan umum maupun pengambil kebijakan di sekolah, dalam hal ini kepala sekolah. Semangat mencerdaskan generasi muda harus dimiliki kuat untuk dapat mewujudkan sinergi tersebut.

Akhir kata, “Libraries do not succed; students do”(Smalley, 2004). Bukanlah Perpustakaan yang berhasil, melainkan siswa. Hendaknya kalimat tersebut yang mengilhami para pimpinan Perpustakaan umum, Kepala Sekolah dan pustakawan sekolah untuk mengembangkan perpustakaan sekolah, bukan untuk keberhasilan pustakawan atau perpustakaan, melainkan untuk keberhasilan siswa.