Sulalat Al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. Dr. C. Hooykaas, Perintis Sastra (1951: 132).

“…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh, dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP).

Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya, ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah, Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja). Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh ‘jagoan’ kita dalam tulisan ini, Tun Seri Lanang. Sejauh pengetahuan saya, Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. Kendati demikian, Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. Teks ini mampu ‘hidup’ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya, dan bahkan pengarangnya.
Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik, Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Terkait dengan kutipan di atas, Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya; mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”.  Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut, seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang, peristiwa pertempurannya, pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang, diceriterakan dengan begitu hidup, seolah penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri.  Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa  saya sedang berdiri di depan  rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu, betapa pun saya terpisah dari akar ini,  dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya, saya berdiri kagum…”.
Sejumlah buku, artikel, dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden, Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc., 1821; diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS, 2001), menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed.] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking, 1841), kemudian W.G. Shellabear [ed.], Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House, 1898), R.O. Winstedt, “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection,” JMBRAS 16, 3 (1938): 1-226, T.D. Situmorang & A. Teeuw [eds.], Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan, 1952), dan Muhammad Haji Salleh, Sulalat al-Salatin, ya’ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997).
Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai ‘mitos politik Melayu’ oleh Henri Chambert-Loir, ‘The Sulalat al-Salatin as A Political Myth’ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa lalu, melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu.
Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman, Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah, dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai, China, 14-15 Oktober 2011 lalu, dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin.
Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas?
Tampaknya tidak juga. Barangkali, salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. Artikel Abdurrahman dkk. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. Masih perlu diungkapkan, misalnya, sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya.
Meski demikian, artikel ini belum akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas, mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang, sayangnya, tidak tersedia saat artikel ini ditulis. Karenanya, dalam kesempatan ini saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang, dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis.

Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu?
Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana, seperti Shellabear (1896), Winstedt (1938, 1969), Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995), dan lainnya, yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals. Menurutnya, penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya ‘misleading’. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas.  Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian, karena dalam publikasinya (1997), ia memberi judul Sulalat al-Salatin, demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”.
Dalam perspektif filologi dan tahqiq,  judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri, sejauh informasi terkait bisa dijumpai.  Dalam hal Sulalat al-Salatin, tanpa diragukan lagi bahwa salah satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi:
“…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami’tuhu min jaddi wa-abi, supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”.

Berdasar pada sumber tertulis di atas, tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya, maka penyebutan ‘Sejarah Melayu’ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. Anehnya, bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks, melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya, mendaftarkan kata kunci ‘Sejarah Melayu’ dalam indeksnya  yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini, termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938.  Kata ‘Sulalat al-Salatin’ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini.
Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih ‘nyaman’ menyebut ‘Sejarah Melayu’ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks, bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu.
Dengan demikian, saya berpendapat bahwa ke depan, penyebutan ‘Sejarah Melayu’ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini, seyogyanya diluruskan, kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka, dan diganti menjadi Sulalat al-Salatin saja. Kata ‘Sulalat’ sendiri, yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut, dalam bahasa Arab berarti ‘keturunan’ (descendant) , sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans) . Dalam beberapa sumber, kata ‘Sulalat’ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. Sebagian mengejanya sebagai ‘Peraturan’ , sebagian lagi ‘pertuturan’ , dan sebagian lainnya ‘perteturun.’  Memperhatikan maknanya, terjemahan  yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah ‘perteturun’, dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai ‘Perteturun Raja-raja’.

Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin
Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut:
“…setelah Fakir mendengar demikian, jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun ‘ala ‘l-jahli, Tun Muhammad namanya, Tun Seri Lanang timang-timangannya, Paduka Raja gelarannya, Bendahara, anak Orang Kaya Paduka Raja, cucu Bendahara Seri Maharaja, cicit Bendahara Seri Maharaja, cicit Bendahara Tun Nara Wangsa, piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali, anak baginda Mani Purindam, qaddasa ‘llahu sirrahum, Melayu bangsanya, dari Bukit Siguntang Mahameru, Malakat negerinya, Batu Sawar Darussalam…”

Akan tetapi, ada beberapa sarjana seperti R. J. Wilkinson dan R. O. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar.  Disebutkan, Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang ‘pengarang’.
Selain itu, tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan, yang terkesan sebagai pamer status, juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung, Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka, mengetahui bahasa Sanskritt, Parsi, Tamil dan Arab, serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. 
Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”, yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu.  Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan, karena kata ‘katib’ sendiri, yang dalam bahasa Arab berarti ‘penulis’, dapat saja merujuk, baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa, yang dimiliki oleh Raja Bungsu.
Demikianlah, terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu, tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat al-Salatin perlu dilakukan, karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas, masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. Ia, misalnya, mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin, pen.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”.
Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. Teuku Iskandar dan C. Hooykaas misalnya, termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. Menurut Teuku Iskandar, harus difahami bahwa konsep ‘penyalin’ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti ‘pengarang’, karena ia tidak hanya sekedar menyalin, melainkan juga menambahkan bagian, kadang satu episode cukup panjang, yang dianggap perlu, memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat, bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan, sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya. 
Dengan demikian, setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang, Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: “…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”.
Dalam konteks ini, barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat al-Salatin, meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya, karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya. Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya, kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya.

Penutup
Demikianlah, tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karya-karya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif, agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. Wallahu a’lam bissawab.

Daftar Bacaan
Chambert-Loir, Henri (2005). ‘The Sulalat al-Salatin as a Political Myth’ dalam Indonesia 79 (April 2005), h. 160.
Fadli, ‘Abd al-Hadi al- (1982). Tahqiq al-turath. Jeddah: Maktabat al-‘Ilm.
Fang, Liaw Yock (1993). Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hooykaas, C. (1951). Perintis Sastra. Groningen, Djakarta: J. B. Wolters.
Iskandar, Teuku (1995). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu, Universiti Brunei Darussalam.
Mohammad, Mohammad Daud (1987). Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Ricklefs M. C. and P. Voorhoeve (1977).  Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. Oxford: Oxford University Press.
Salleh, Muhammad Haji. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp.anu.edu.au/papers/MHS%20Esei1.html), h. 1
———-. (1997). Sulalat al-Salatin, ya’ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997).
Wehr, Hans (1994). A Dictionary of Modern Written Arabic. Urbana: Spoken Language Services, 1994.