Syair Kanjeng Nabi Dalam Mutiara Teks Ibadah

KEGIATAN penghuni kepulauan Nusantara sejak dahulu dapat diketahui, antara lain dari peninggalan tertulis berupa naskah dan prasasti. Karya tulis peninggalan nenek moyang dapat dipelajari untuk memperoleh gambaran kebudayaan pada waktu mereka hidup, meskipun tidak lengkap dan tidak menyeluruh (BARIED, 1994: 85). Pendapat senada juga dilontarkan oleh Magdalia Alfian (2004), bahwa setiap bangsa pasti memiliki catatan mengenai perjalanan bangsanya, tak terkecuali bangsa INDONESIA yang memiliki beragam etnik dan budaya. Berderet catatan panjang mengenai kehidupan masyarakat, sosial budaya, pemerintahan, dan perjalanan yang dimulai dari jaman pra sejarah terangkum dalam naskah-naskah kuno yang merupakan sumber data penting bagi masyarakat Indonesia.
Sebagaimana diketahui, naskah-naskah peninggalan nenek moyang kita mengandung informasi yang sangat berharga. Apabila diteliti menggunakan pendekatan filologi, maka hasil penelitiannya dapat digunakan oleh cabang-cabang ilmu lain, seperti sejarah, hukum, perkembangan agama, kebahasaan, kebudayaan, dan sebagainya (LUBIS, 2001: 27).
Naskah-naskah Nusantara ini bisa dijadikan sumber yang otentik dengan merekontruksi situasi dan kondisi yang ada pada peristiwa masa lampau untuk dijadikan jembatan penghubung bagi pemikiran masa kini. Menurut MUNAWAR (1997: 44) naskah-naskah kuno mengandung berbagai gagasan, pendapat, pengertian, perasaan, pengalaman jiwa, dan pandangan hidup yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Isi naskah-naskah kuno Nusantara bermacam-macam, misalnya dongeng, hikayat, cerita, rakyat, babad, silsilah sampai sejarah, surat-surat, perjanjian-perjanjian, tatacara, upacara, hukum adat, dan juga undang-undang.
Keberagaman naskah-naskah Nusantara tidak hanya dari segi isinya, tetapi juga dari segi bentuk, bahasa, aksara, dan bahan yang digunakan. Ada yang berbentuk prosa, prosa berirama, puisi, drama, dan sebagainya. Naskah Nusantara ditulis dalam berbagai bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Aceh, Batak, Minangkabau, Bugis, Makasar, Banjar, dan Walio. Demikian pula aksara yang digunakan, ada aksara Bali, Jawa, Sunda, Jawi (Arab-Melayu), Pegon, Bugis, Makasar, Karo, Mandailing, Rejang, Toba, Lampung, dan Kerinci (DJAMARIS, 2002: 5).
Edwar DJAMARIS (2002: 5) menambahkan, naskah-naskah itu dapat dikatakan sebagai periode atau tahap kedua dalam kehidupan sastra pada umumnya. Tahap pertama kehidupan sastra itu muncul secara lisan, sebelum orang mengenal tulisan. Setelah orang mengenal aksara, orang mulai menulis dokumen, atau karangan, terutama yang berupa karya sastra. Karya sastra mulai ditulis dan kemudian disalin oleh orang lain. Hasil penulisan dengan tangan inilah yang disebut naskah. Naskah itu diperbanyak dengan menyalin sehingga suatu teks ada kalanya terdapat dalam dua naskah atau lebih.
Dalam konteks itulah, tradisi tulis di kalangan masyarakat Nusantara sudah dimulai sejak masa lampau, terlebih dari kalangan umat Islam Nusantara, yang juga turut mendorong lahirnya sejumlah besar naskah-naskah keagamaan. Menurut Achdiati IKRAM (1997: 140), bahasa Arab menjadi bahasa ilmu agama yang wajib dipelajari oleh setiap orang yang ingin mendalami ajaran-ajaran agama sampai ke sumbernya yaitu Alquran dan Hadist. Maka, karangan berbahasa Arab oleh para ulama pribumi merupakan bagian dari khazanan naskah yang diwariskan kepada kita.
Kenyataan itu memungkinkan teks naskah keagamaan yang ditulis tidak akan lepas dari ajaran-ajaran dan tuntunan agar dapat mempengarui individu atau kelompok pendukung proses (aktivitas) tertentu. Achdiati IKRAM mengemukakan (1997: 139-140) naskah-naskah yang berisi ajaran Islam ada bermacam-macam. Yang tertua ialah yang ditulis dalam tulisan buda atau gunung yang berisi informasi tentang bentuk agama Islam yang dianut masyarakat pada awal masuknya agama Islam di Indonesia. Dalam bahasa Melayu, kita memiliki tulisan Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, dan lain-lain yang berisi ajaran tentang fiqih, tauhid, dan tasawuf, yang sering kali disajikan dalam bentuk tanya-jawab, puisi atau uraian prosa.
Karangan dalam bahasa Arab yang dikatakan ditulis oleh ulama atau guru agama nampaknya bukan ditulis sendiri melainkan oleh muridnya. Bahasa Arab dalam tulisan semacam itu lazimnya memiliki ciri-ciri khas yang menyimpang dari bahasa baku. Dalam tulisan Arab-Jawa yang juga disebut pegon, kita dapati glosa-antar-lirik yang dituliskan diantara teks bahasa Arab; yang ditulis dalam pegon ialah terjemahan atau bahkan interpretasi tentang teks Arabnya.Tulisan-tulisan itulah yang disebut dengan naskah lama (manuskrip). Naskah lama adalah tulisan tangan berbentuk dokumen yang sangat penting dari peradaban masa lampau. Melalui naskah dapat diketahui secara lebih konkret kebudayaan suatu suku dan bangsa dari pelosok Nusantara. Menurut Roger TOL (dalam ROBSON, 1994: ix) tiap-tiap naskah menampilkan ceritanya dan menyimpan rahasia yang kemudian baru terungkap setelah naskah itu dibuka, dibaca, dan diteliti. Proses pemecahan ini, yaitu usaha untuk ”mendobrak” sebuah teks dengan daya-upaya yang tersedia dikenal sebagai kerja filologis.
Dalam berbagai ragam dan jenis sastra lama itu, khazanah sastra klasik sebagian naskah berbentuk puisi atau syair. Akhmad MUZAKKI dalam Kesusastraan Arab (2006: 41) mengatakan bahwa syair berarti nyanyian, lentunan, atau melagukan. Asal kata ini telah hilang dari bahasa Arab, namun masih ada dalam bahasa lain. Syuur dalam bahasa Ibrani berarti suara, bernyanyi, dan melantunkan lagu. SUNARJO menambahkan (2001: 1), syair adalah salah satu jenis puisi Melayu lama yang terdiri atas empat larik dan berirama aa aa, setiap bait terdiri atas empat larik yang terdiri atas 9, 10, dan 12 suku kata. Bait-bait dalam syair biasanya membentuk sebuah cerita.Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa naskah klasik, terutama naskah-naskah Islam, yang berbentuk syairpada masa lampau terindikasi banyak berbentuk cerita. Tidak menutup kemungkinan—untuk mengkaji naskah-naskah nenek moyang kita itu dapat memahami dan menghayati pandangan serta cita-cita yang menjadi pedoman hidup orang-orang masa lampau (Sudjiman, 1995: 46).
Yang dibahas dalam tulisan ini adalah cerita Islam yang dikemas dalam bentuk syair, yang menurut kolofon teksnya dinamai Syair Kanjeng Nabi. Kanjeng yang dimaksud di sini adalah Nabi Muhammad. Dalam cerita lebih ditonjolkan doa, sedikit cuplikan sejarah Nabi Muhammad, dan unsur dakwah atau pitutur. Di pihak lain, ada yang menarik saat mengkristalisasi atau membahas tentang Nabi Muhammad, karena sosok beliau merupakan sosok yang sudah banyak dimengerti oleh banyak umat, khususnya yang beragama Islam. Nabi Muhammad yangjuga bergelar al-Amin, yaitu Muhammad yang dipercayai, lahir dalam keadaan yatim di tengah-tengah kaum Quraisy (Jahiliyah). Tidak ada guru yang mendidik dan mengajar beliautentang yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan mudharat, serta yang halal dan yang haram.
Sastra lama banyak menyimpan sesuatu yang unik dan perlu dikaji atau dipelajari kembali, sekaligus menggali sumber budaya masa lampau kemudian dikorelasikan dengan kehidupan sekarang, akhirnya kegunaan sastra benar-benar diketahui. Dari itu pulalah sastra lama akan berfungsi, secara otomatis sastra lama yang kental daya estetikanya dapat memberikan daya gerak luar biasa terhadap pembaca.
Konsep itulah yang mendasari  penulis meneliti SKN yang di dalamnya banyak mengangkat pitutur atau tuntunan nabi Muhammad beserta doa-doa yang dikemas dalam bentuk syair, sekaligus menampilkan unsur estetika bunyi yang begitu indah. Unsur nilai ibadah merupakan dasar utama yang dapat memberikan pengaruh pada pembaca. Objek penelitian terhadap naskah-naskah peninggalan leluhur pada masa lampau merupakan bagian utama dari penelitian filologi. Naskah atau teks yang digunakan sebagai obyek dalam penelitian filologi berupa tulisan tangan (manuskrip) yang mengandung huruf dan bahasa daerah yang bermakna, yang mengandung gagasan-gagasan atau ide-ide dan berbagai macam pengetahuan yang berupa, ajaran moral, filsafat, religi, dan unsur-unsur lain yang bernilai luhur (BARIED, 1985: 54).
Penulis menarik kesimpulan SKN mengandung nilai ibadah yang bisa dijadikan dasar kehidupan di akhirat nanti.SKN merupakan naskah yang ditulis dengan huruf pegon dan bahasa yang tidak dimengerti masyarakat. Oleh karena itu perlu disampaikan bentuk suntingan teksnya  sehingga dapat dibaca dan dipahami masyarakat pada umumnya.

Deskripsi Naskah
Naskah SKN berasal dari Mbah Kasemat yang berdomisili di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.Awalnya naskah ini tersimpan di antara tumpukan koleksi naskah lain milik Mbah Kasemat. Kemudian oleh Mbah Kasemat diberikan kepada Agus Sulton (peneliti) yang beralamat di Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.
Judul dalam teks naskah adalah Ikilah Syi’ir Ing Kanjeng Nabi yang terdapat dalam halaman kedua. Pengambilan judul peneliti didasarkan pada baris ke tiga. Naskah ini dalam kondisi utuh, tetapi bagian lembar pertama dan kedua putus dari jilidan. Tinta yang dipakai untuk menulis berwarna hitam pekat. Indikasiwarna lain merupakancatatan (coretan) pemilik atau penyalin naskah. Ukuran lembaran naskah 11 × 17,5 cm, dengan ruang tulis/teks 10 cm × 15,8 cm, pias kanan 0,5 cm, pias kiri 0,5 cm, pias atas 0,5 cm, dan pias bawah 1,2 cm. Sedangkan tebalnaskah hanya 11 lembar (satu kuras) yang terdiri dari 22 halaman. Halaman 2-18 memuat syair nabi, halaman 19, 20, dan 21 berisi doa. Halaman pertama dan halaman 22 tidak ditulisi (kosong). Jumlah baris per halaman bervariasi, 10 baris (2 halaman: h. 2, 3), 11 baris (5 halaman: h. 4, 8, 9, 10, dan 18), 12 baris (7 halaman: h.6, 7, 11, 12, 13, 14, dan 17), dan13 baris (3 halaman: h. 5, 15, dan 16). Halaman yang berisi doa: 5 baris (h. 21), 10 baris (2 halaman: h.19 & 20).
Naskah SKN menggunakan aksara pegon berkharokat (halaman 2–18) dan aksara Arab (halaman 19, 20, 21).Kertasnya tergolong baru, karena ada bekas garis tipis berwarna hijau ke arah lebar. Pemakaian lembaran naskah untuk ditulis, yaitu bolak balik lurus atau langsung (recto), namun penempatan tulisan pada lembaran naskah, teks tulis ke arah lebarnya, artinya teks itu ditulis sejajar dengan lembaran-lembaran naskah.

Transliterasi Teks Syair Kanjeng Nabi
(1) ibtidai miwiti ingsun / muji ing allah kelawan nuwun / ikilah syiir ing kanjeng nabi / mula den syiir parase nabi / mula den fikir sarta den titi / bisaha terang kaya kang erti / nabi muhammad ingkang sinelir / arep den tutur ana ing syiir / futera jalere kiyahi abdullah / finuteraken ana ing makkah / durue zhahir njeng rasulullah / den tilar sedara den abdullah / nalika sedara den abdullah / iku benere ana abuwa //

(2) den sarekaken ana madinah / kari rerandan dewi aminah / sarta aandut njeng rasulullah / tur masi tetep ana ing mekah / sawuse fahir menyang mudinah / den susuaken dewi halimah / lawase lawas bali nyang makkah / den aturaken / dewi aminah / den ejak lua maring madinah / ibune seda ana abuwa / sanding kang rakara den abdullah / den karekaken ana madinah / nabi muhammad bali nyang mekah / melase garwa dewi hadijah / sawuse dadi nabi utusan / lan kefarian kitab – //

(3) ing kitab qur’an / sarta balane seget sariat / fara shahabat fadha mufakot / abu bakar umar usman lan ali / fadha farcaya sariat nabi / tetkala faras nabi sinelir / iku den tutur ana ing syiir / wong mu’min suwiji murih shehabat / ing abu bakar kebat anjawab / ya abu bakar ratune mu’min / ing dawuh tuwan kula kefiin / kalane faras njeng rasulullah / dinane sasi niku funafa / duk miyosi kuluk kang pundi / den fariaken ing kanjeng nabi / ya abu bakar iku andika / ing wong mu’min kang fada teka //

(4) tetkala faras nabi muhammad / bakdane  kundur kang perang lahad / ing dina isnain wus ana makkah / iku kundure saking madinah / njeng gusti darus qur’an sak saat / maka katekan ing malaikat jabarail mbekta kalimah ayat / den fariaken kekasih tuwan / mukholikina ru’usakum / wamuqashirina latakhafuna / punika werni ing ayat qur’an / den fariaken kekasih tuwan / meneng njeng nabi amuk sak saat / dedawuhana ing malaikat / ya jabarail kebat umatur / maka njeng nabi kinaun acukur / nabi muhammad tuwan acukur / dawuh njeng nabi kula acukur / yen kula cukur kersane allah / ya jabarail matur ing allah / nabi muhammad kasihe – //

(5) allah / jabarail maras njeng rasulullah / nabi andika ing malaikat samfiyan nuwun ingkang lumafah / kuluk kula niku kang pundi / rehane tuwan kinaun marasi / ya jabarail matur ing allah / nuwun kuluk kasihe allah / nabi muhammad ingkang sinelir / dawuh faeran ing jabarail / ya ilayhi anta faeran / fundi kuluk kasihe tuwan / kebat lu’aha menyang suwarga / sira menika godong kastuba / ingkang sak lembar gawe kuluke / kekasih ingsun maring farase / nuli jabarail menyang suwarga / menika godonge kayu kastuba / amung sak lembar lir sutera ijo //

(6) den kulukna iku a’angu / den aturaken nabi wekasan / kasihe allah kinaun kulukan / ya jabarail maras njeng nabi / sa’alas ramdan sagale sasi / sehabat fafat marek niali / ramdan maras rikma njeng nabi / rikma sak lembar dak runtuh bumi / suwiji rikma tan ana ing bumi / nuli andika nabi muhammad / takun hikmahe ing malaikat / marga dak runtuh ana ing bumi / jabarail matur ing kanjeng nabi / katahe rambut tuwan wunia / niku sak keti lan telung leksa / lan telung ewu lan telung atus / lan telung fuluh telu den urus //

(7) furnamane fa’eran ing widadari / ing suwarga / ajana kari / he widadari fada mudhuna / menya’a mekah fada nuntana / olehe faras nabi muhammad / ingkang marasi ya malaikat / sira mareka jaluk rambute / sak lembar ewu akeh syawabe / sirata lekena ing le’en ira / sekeh dusamu isun sefura / sing simfen ing caritane / ingsun sefura sekeh dusane / ikilah faras ing kanjeng nabi / erawatana bakal yen mati / tetkala a’laf ing malaikat / ambil nyawane – //

(8) bayuk segarah / lan lufut siksa ana ing qubur / sabab dosane iku wus lebur / munkar wa nakir / dak nakoni / sabab wus uleh sufa’at nabi / lan sun faring kamulyan dunya / terus akhirat iku suwarga / sebarang gawehane gelis dadi / lawase uref / dak kurang rezki / yen dak gelem simpen ing caritane olehe faras hadise nabi / sasat ase’it ing awak ingsun / sabab dak demi ing kasih iksun / sabab dak demen ing kasih ingsun / sing safa mahedo kafir – //

(9) matine / a’udzubillahi alindung ing allah / aja kasi kufur ing allah / lan mugamuga allah nului / ing wong kang gelek maca / syufa’at nabi den fariaken / hataman syiir ing dina ahad / nyerambahana maring wong tobat / tanggal wolulas rabiul awal / syufa’at den enggalenggal fukul fitu fasaran wage / bisaha metu nyang ageage / hijrahe sewu telung atus / lan rong puluh fitu funjule / saking sejane iku den tata / dadi wong bodo iku katata – //

(10) sabab dak gae lafazd ma’na / dadi wong maca iku dak tuna / mulane iku tak syiiraken / amrih yen maca iku dak kaken / sufaya rahab bucah kinaun / sabab macane kathik lelakon dadi fas karo olehe maca / semasa karuya gelis bisa / salah benere wallahu a’lam / faras den syiir nular ing jawab / sakeng bodone dak bisa aji / wani annyiir farase nabi / fira salahe nuwun sefura / maring fairan kang maha mulya / sakeng sejane iku den tata / tibane jawan ingkang den waca / sak bisabisa aja den wada / luweh kurae den wuwuhana / sa’k wuse tutug syiir den – //

(11) faras / ingsun tambahe syiir syufa’at liyane syiir do’a njeng nabi / den amalaken rina lan wei / kalane lungguh njeng rasulullah / ana njerone mesjid medinah / dawuhana do’a ana ing sarah / nabi muhammad masuli salam / nabi muhammad mugi katura / kathah syawabe funika do’a / lanang lan wadon fada macaa / ing do’a iki ing saben dina / utawa sewulan maca safisan / utawa setahun maca safisan lan sak umure maca safisan / aja tan ora sira macaa / senajan safisan – //

(12) agere bisa / yen dak bisa maca do’a tulisan / maka simpena iku tulisan / maka areksa allah ta’ala / malah ebeki lawae ala / widadari dadi jadae / sartane fada anamfa talam / ingkang den tamfa talam kenjana / anisine faanan sakeng suwarga / den jadaaken ingkang amaca / allah ta’ala nekani karu / yen maca iku ingkang sesega / lan akeh akeh iku syawabe / lamun den waca iku do’ane / dak kurang resqi kang selawase / den padaaken ing kuburane / kala sekarat iku dak lara / munkar wa nangkir – //

(13) dak nakoni / dina kiyamat dak melebu geni lan selamet ing foncabaya / jin lan syethan dak niyaniya / allah ta’ala annyugehaken / ikilah do’a den amalaken / sartane lufut sekehe belahi / besuk qiyamat lufut ing geni / allah ta’ala ambagusana / wong kang seregef a’afazhna / sing safa mamang festhine kufur / dawuhe nabi dak kena nyekur / akehe syawab dak nulise / banyu segara den gawe mangsi / sekehe kayun den gawe qalam / sekehe godhong den gawe fafan / nyekti dak cukuf iku den tulis / sekehe – //

(14) ganjaran dak bisa milis / lamun wus hafazh ing do’a iki / sekehe syethan iku dak wani / lan lamun ana satrumu metu / maka wawacanen malih fing fitu / dadi satrumu iku dak wani allah ta’ala kang udaneni / gusti hasan andikaaken / lan sayid ali wus afazhken / allah andika aja kon lali / simfen farase ing kanjeng nabi / kelawan darus kang waliwali / weruhana dusa sijisijine / sekehe mu’min fada mufaqat / weruhana dusa maring awale / andika allah iksun asihi / wong kang ufaya carita nabi / yen wong munafiq aja tuturi / /

(15) sabab agamane dak erti / sing safa simfen ing caritane / maka selamet ing sak umure / maka sun faring rahmat sak leksa / saben wengi lawan den reksa / sing dak gelem simfen ing caritane / ingsun kurai ing sak usine / lan sun kurai sandang paane / sekehe ferabot jero omahe / yen wong kang demen carita rasul / ulehe faras ing kanjeng rasul / jin lan syethan iku dak wani / tur dadi syahid besuk matine / lan yen lara ya gelis waras / oleh berkate nabi fefaras / lan lamun sira aref leluan / festhi selamet sekehe begal / lan selamet maring kesasar / miwah selamet kala leluan //

(16) sat kalap dak wani buru / lan sat kalap jerone banyu / malaikat sewu kang areksa / wong kang ufaya iku carita / kekasih ingsun nabi muhammad / ulehe faras dadi syufaat / lan lamun sira syaba nang guru / aja lali faras njeng nabi ratu / dadi selamet dak kenek bendu / lan bisa welas maring ragamu / lan lamun ana wong kena wesi / kelakuhane tulisan iki / lan banyu adem tur ingkang tawa / den inumaken maring kang lara / insya allah  ya gelis waras / uleh berkate nabi fefaras / fama den fama pada ufaya / faras njeng nabi kang den ufaya //

(17) yen dak duwe nyiliha sira / a’ufayaha ing kanca nira / lamun wong mukmin ufaya carita / amrih nyimpeni iki cerita / maka sun faring rahmat sak leksa / ana akhirat dak den siksa / sing gelek maca ing do’a iki/ den gawe sau mbesuk yen mati / iku wus hatam do’a den sarah / atas dawuhe njeng rasulullah / akehe do’a mung wolu likur / ing buri iki do’a den tutur//

(18) bismi ’l-lahi ’r-rahmani ’r-rahimi / allahu allahu’l- azizu ‘l-hakimu / allahu allahu ‘l-maliku ‘l-qudus / allahu allahu ’l-ghofuru ’l-wadudu / allahu allahu ’s-syakuru ’l-halimu / allahu allahu allahu ’s-shamadu / allahu allahu ’l-hamidu ’l-habiru / allahu allahu sayyidu ’l-jãbar / allahu allahu ilayka ’l-khobiru / allahu allahu ’l-wahidu ’l-kohhar / allahu allahu ’l- adzimu ’l-qudus / allahu allahu ’l-kabiru ’l-akbar //

(19) allahu allahu ’l-qadiru ’l-wahab / allahu allahu ’l-kholiku ’l-mubinu / allahu allahu ’l- aliyyu ’l-mutaal / allahu allahu ’z-zhahiru ’l-bathin / allahu allahu awwalu ’l-akhir / allahu allahu ’l-bariu ’l-mushawwir / allahu allahu ’l-maliku ’l-qudus / allahu allahu ’r-rauwu ’r-rahimi / allahu allahu ’l-baisyu ’l-waris / allahu allahu allahu ’d-dabãn / allahu allahu allahu ’l-kholaqu / allahu allahu allahu ’l-hakimu / allahu allahu allahu ’s-syahadat / allahu allahu ’l-qabidhu ’l-karimu / allahu allahu ’l-qawyu ’l-muniru – //

(20) allahu allahu allahu muhammadu rasulullahu / lailaha illallah muhammadu rasulullahu shollallahu ’alayhi wasallama / tamat wallahu ’a-lam.//

Naskah Syair Kanjeng Nabi dan Mutiara Teks Ibadah
Memandang konsep dasar dalam Islam sangat luas. Hal itu tidak lepas dari risalah hamba Muhammad yang terpilih untuk memberikan penerangan ke dunia yang sebelumnya gelap gulita agar menjadi terang benderang, dan hati yang sebelumnya bercerai-berai menjadi bersatu. Al-Quran dan Sunnah yang shahih adalah pedoman hidup yang menjamin kebahagiaan individu dan masyarakat di dunia dan akhirat.
Dalam hal nilai-nilai Islam dapatlah kita mendasarkan pada hukum syariat yang kita kenal bersama, dan menggunakan itu sebagai tolak ukur apakah suatu karya sastra menunjukkan bahwa nilai-nilai yang bersangkutan diaktualisasi. Namun, dalam telaah sastra, tolak ukur semacam itu tidak dapat dipakai. Karya sastra bukanlah suatu gambaran aktivitas sehari-hari yang mencatat apa yang dilakukan individu-individu dalam masyarakat itu. Sastra adalah ungkapan kreatif terpilih manusia yang mengandung inti pati pikiran, hasrat, serta cita-cita yang diberi bentuk, yang tidak secara gamblang menunjukkan inti pati tersebut. Oleh sebab itu teori sastra sering dikatakan bahwa makna harus direbut dari suatu karya sastra (IKRAM, 1997: 145).
Karya sastra yang bernuansa Islam tersebut diindikasikan banyak menyimpan berbentuk cerita dan banyak mengangkat tentang nuansa-nuansa ajakan yang secara tidak langsung dituangkan dalam bentuk Syair, Hikayat, dan sebagainya. Menurut Achdiati IKRAM (1997: 148) sastra keagamaan, yang sengaja dikarang untuk memberi informasi tentang berbagai aspek agama Islam dalam bentuk cerita. Ini terbukti di dalam SKN, yang banyak menyajikan unsur ibadah dari ajaran nabi muhammad, kemudian dikemas dalam bentuk syair.
Aspek Islam di sini dimaksudkan sebagai unsur pembentuk dari beberapa nilai ibadah yang terkandung dalam SKN. Dan ibadah itu sendiri merupakan ketaatan manusia kepada Allah. SWT dengan menjalankan perintahnya dan menjahui segala apa yang dilarang.
Sebenarnya ibadah terbagi menjadi beberapa bagian, ibadah lisan, ibadah hati, dan ibadah anggota badan. Ibadah lisan termasuk tahlil, takbir, tahmid, dan bersyukur dengan lisan. Ibadah hati adalah ibadah yang berkaitan dengan cinta kepada Allah, takut kepada Allah, senang kepada Allah, dan sebagainya. Sedangkan ibadah anggota badan menyangkut haji, jihad, sholat, dan sebagainya.
Ibadah itulah yang menjadikan tujuan dari Allah untuk menciptakan manusia dan jin. Sebagaimana Allah berfirman: ”Tidaklah kuciptakan jin dan manusia itu, kecuali hanya untuk beribadah kepada ku (Allah).” (Q.S ADZ-DZARIYAH: 56). Tetapi, kalau di korelasikan dengan aspek ibadah teks SKN, di dalamnya juga terkandung banyak nilai ibadah. Namun aspek ibadah yang diperlihatkan atau dijadikan analisis ini lebih ditonjolkan pada dua aspek, yaitu berdoa dan berdakwah.
Berdoa termasuk ibadah secara hati, lisan, dan anggota badan. Secara hati dan lisan karena ada unsur berharapa kepada Allah atau mendekatkan diri dengan penuh rendah, cinta, dan ketergantungan. Berdoa juga merupakan perbuatan anggota badan, termasuk di dalamnya sholat. Sholat itu sendiri adalah bagian dari berdoa.Sementara itu, berdakwah masuk dalam suatu kegiatan jihad, yaitu memerangi kekufuran, kemunafikan, atau unsur patologi sosial. Termasuk kegiatan anggota badan, tetapi tidak akan lepas dari lisan, sebagai poros untuk melakukan pendekatan atau propaganga.
Ibadah itu merupakan sesuatu yang disyariatkan berdasarkan Alquran dan As-Sunnah. Apabila ada sesuatu yang tidak disyariatkan berarti itu merupakan bidah yang ditolak. Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda:”Artinya: Barang siapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” Agar dapat diterima, ibadah disaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua sarat, yaitu:
1.    ikhlas karena Allah semata, bebas dari sirik besar dan kecil
2.    ittida maksudnya sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW
Sarat yang pertama merupakan konsekuensi dari sahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari sirik kepada-Nya. Sedangkan sarat yang kedua adalah konsekuensi dari sahadat Nabi Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajib-Nya taat kepada Rasul, mengikuti sariatnya dan meninggalkan bidah atau ibadah yang diada-ada.
Mengenai keutamaan ibadah itu sendiri, bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah SWT. dan bisa juga untuk meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit. Termasuk keutamaan ibadah yang lain, yaitu dapat mendamaikan dan menentramkan jiwa kecuali dengan jalan dzikir. Sekalipun seseorang merasakan kebahagiaan atau kedamaian selain dari Allah, maka kebahagiaan tersebut adalan semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kebahagiaannya. Bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, itu adalah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itu merupakan kebahagiaan yang hakiki.

Berdoa
Berdoa merupakan bagian dari ibadah, karena itu sendiri adalah suatu bukti pengharapan (raja’), tawakkal, dan cinta kepada Allah SWT. Allamah Husain MAZHAHIRI (2002: 5), doa merupakan sebaik-baiknya amal perbuatan dan paling nikmatnya segala sesuatu, serta menjadi perbuatan yang sangat disukai Allah, bagi siapa yang enggan berdoa amat dibenci-Nya, sekaligus tengah mengalami bencana yang amat besar. Allah SWT berfirman: Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ”Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu.” (AL-FURQAN: 77).
Berdasarkan ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang memalingkan diri dari menyebut dan mengingat Allah, serta enggan berdoa kepada-Nya, akan ditindih kesengsaraan yang sangat berat. Perintah untuk berdoa kepada Allah inilah yang dianjurkan bagi setiap makhluk yang berakal, dalam kondisi dan situasi apapun. Seperti yang terdapat pada kutipan teks SKN:

ibtidai miwiti ingsun
muji ing Allah kelawan nuwun

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa doa merupakan prioritas utama untuk bisa dijadikan alat dalam menapaki suatu kegiatan, secara tidak langsung dapat mempengarui pada pembaca. Hal ini, penulis syair saat memulai aktifitas kepenulisannya didahului dengan ”nuwun” atau meminta. Berdoa (meminta) merupakan bukti penghambaan kepada Allah dan juga dapat dijadikan sebagai suatu petunjuk (rusd) pada saat seseorang menghadapi kesulitan, bahaya, atau jalan buntu. Karena doa itu sendiri berasal dari fitrah manusia dan bersumber dari substansinya. Fitrah manusia akan menghidupkan kesadaran tentang keberadaan suatu zat yang menguasai segalanya, memiliki berbagai kesempurnaan, serta suci dari berbagai sifat buruk dan tercela (MAZHAHIRI, 2002: 6).
Seorang hamba senantiasa berhajat kepada pertolongan Allah. Apa yang dihajatinya disampaikan kepada Allah. Semakin banyak hajatnya semakin banyak pula doa yang disampaikan kepada Allah. Oleh sebab itu doa merupakan sesuatu yang krusial, bukti penyerahan hamba kepada Tuhan yang maha penyayang dan maha mengetahui. Allah sendiri sudah memerintahkan hambanya untuk berdoa. Allah SWT berfirman:

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai. (Q.S. AL-ARAF: 205).

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. AL-ARAF: 55).

Doa adalah Ibadah.” (HR. ABU DAWUDDAN AT-TURMUDZI).
    
Berdasarkan pada ayat dan hadis tersebut, doa merupakan anjuran yang wajib dan barangsiapa yang lalai (tidak berdoa), sesungguhnya telah lalai dan melampaui batas. Doa merupakan ibadah. Ibadah itu sendiri ubudiyah, yang akar katanya abduh, yakni hamba. Karesteristik dasar seorang hamba adalah miskin, fakir, lemah, hina, dan membutuhkan majikannya. Maka sifat yang terpenting seorang hamba ialah kerendahan dan kemiskinan. Satu-satunya ibadah yang jelas menunjukkan kerendahan dan kemiskinan seorang hamba dihadapan penguasa langit dan bumi adalah dengan berdoa. Hal senada juga terdapat dalam kutipan teks SKN.

a’udzubillahi alindung ing Allah
aja kasi kufur ing Allah
        
Kutipan tersebut merupakan dasar penghambaan untuk meminta perlindungan kepada Allah dan jangan sampai kufur kepada-Nya. Hal ini, sependapat dengan argumen Allamah Husain MAZHAHIRI (2002: 17) bahwa doa dapat menciptakan suatu kondisi dalam diri manusia. Takkala sibuk mengingat dan menyebut nama Allah, seorang tidak akan terpengaruh oleh sesuatu yang lain dan hanya tenggelam dalam perenungan tentang zat Allah. Dengan begitu, argumentasi rasional bukanlah cara yang memungkinkan seseorang meraih kondisi kesuksasan dan kebahagiaan batin. Hanya doa dan munajatlah sebagai cara yang terbaik untuk lebih mendekatkan diri dan memperoleh sesuatu dari-Nya.
Jangan sampai berdoa kepada Allah dan memohon kepada Allah, hanya pada waktu membutuhkannya, namun pada saat tidak mempunyai hajat dan tidak terbentur oleh sesuatu diluar kemampuan manusia, melupakan dan tidak pernah memohon dan berdoa kepadanya. Allah maha kaya, dialah pemilik dan penguasa jagad raya ini. Allah adalah alamat kepada dzat yang harus diibadahi dengan sebenarnya. Dari itu pulalah, Allah punya banyak gelar agung yang sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Nama-nama Allah tersebut kesemuanya dinamakan dengan istilah Asma’ul Husna.
Di antara sekian Asma’ul Husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu, sebagian terdapat dalam kutipan teks SKN.

allahu allahu’l-azizu ‘l-hakimu
allahu allahu ‘l-maliku ‘l-qud(d)us
allahu allahu ’l-ghofuru ’l-wadudu
allahu allahu ’s-syakuru ’l-halimu

allahu allahu allahu ’s-shamadu
allahu allahu ’l-hamidu ’l-habiru
allahu allahu sayyidu ’l-jãbbar
allahu allahu ilayka ’l-khobiru

allahu allahu ’l-wahidu ’l-kohhar
allahu allahu ’l-adzimu ’l-qud(d)us
allahu allahu ’l-kabiru ’l-akbar
allahu allahu ’l-qadiru ’l-wahab
    
allahu allahu ’l-kholiku ’l-mubinu
allahu allahu ’l-aliyyu ’l-mutaal
allahu allahu ’z-zhahiru ’l-bathin
allahu allahu awwalu ’l-akhir

allahu allahu ’l-bariu ’l-mushawwir
allahu allahu ’l-maliku ’l-qud(d)us
allahu allahu ’r-rauwu ’r-rahimi
allahu allahu ’l-baisyu ’l-waris

allahu allahu allahu ’d-dabãn

allahu allahu allahu ’l-kholaqu

allahu allahu allahu ’l-hakimu

allahu allahu allahu as-syahidu

allahu allahu ’l-qabidhu ’l-karimu

allahu allahu ’l-qawyu ’l-muniru

Asma’ul Husna berarti nama yang baik, maksudnya nama-nama yang dimiliki Allah SWT sebagai bukti keagungan dana kemulian-Nya. Banyak ulama mengatakan, bahwa Asma’ul Husna bisa dijadikan sebagai doa. Oleh sebab itu, Rasulullah bersabda: ”Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu; barang siapa memahaminya akan masuk surga.” (Hadis Shahih Bukhari-Muslim).

Allah juga berfirman: ”Milik Allahlah nama-nama yang indah, dan memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut.” (Q.S. Al-Araf: 180).

Secara sederhana Asma’ul Husna merupakan doa. Dari berbagai pendapat para ulama mengatakan, bahwa apabila seseorang menghembuskan nafas doa Ya Quddus dan Ya Jabbar berdasarkan jumlah tertentu, maka dapat menghilangkan berbagai sifat buruk dan tercela seperti pemarah, dengki, buruk sangka, malas, khianat, dusta, menghasut, dan lain sebagainya. Merubah karakter buruk dan sifat tercela dari diri seseorang bukanlah hal mudah seperti membalik telapak tangan, dibutuhkan usaha yang kuat dan sungguh-sungguh dari yang bersangkutan. Usaha untuk merubah karakter buruk tersebut, dapat juga Asma’ul Husna dijadikan sebagai alternatif berdzikir (berdoa) agar terhindar atau menghilangkan dari sifat buruk dan tercela.Itulah sebabnya berdzikir (berdoa) merupakan ibadah yang paling indah, dengan-Nya hati akan merasa tenang dan tentram.

 

Berdakwah

Dakwah dalam praktiknya merupakan kegiatan yang sudah cukup tua, yaitu sejak adanya tugas dan fungsi yang harus diemban oleh manusia dibelantara kehidupan di dunia. Dakwah bisa jadi sebagai kerja sadar dalam rangka menegakkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, menyuburkan persamaan, dan mencapai kebahagiaan atas dasar ridla Allah SWT (Aliyudin, 2009: 1). Dengan demikian, dakwah merupakan suatu kegiatan ibadah yang wajib untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Ketetapan wajib ain tersebut didasarkan pada firman Allah yang artinya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah, sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Ali-Imran: 110).

Secara normatif, landasan lain mengenai perintah dakwah sebagai wajib ain didasarkan pada firman Allah SWT yang artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Nahl: 125).

Berdasarkan ayat di atas, dakwah merupakan kewajiban bagi umat Islam, karena Islam sendiri adalah agama risalah dan dakwah. Ini berarti Islam merupakan wahyu yang disampaikan Rasulullah dan harus disampaikan kepada umat manusia. Umat Islam adalah pendukung amanah untuk meneruskan risalah dengan dakwah. Dakwah dalam arti menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup.

Menurut Aliyudin (2009), dakwah merupakan bagian dari tugas suci (ibadah) umat Islam dalam mengorganisasikan menuju jalan kebaikan. Dakwah bisa berarti mempengarui seseorang untuk mengikuti ke dalam lingkup ideologi atau ajaran yang dianut, hal ini tidak jauh beda dengan konsep propaganda. Sunu Wasono (2007: 62) sesungguhnya istilah propaganda lebih sering menyandang konotasi negatif. Terlepas dari konotasi positif atau negatif yang melekat pada propaganda, kenyataan propaganda ada dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini dalam Islam biasanya lebih akrab dengan sebutan dakwah.

Dari berbagai penjelasan dan konsep di atas, kalau korelasikan dengan teks SKN di dalamnya banyak menggambarkan tentang ajaran dakwah, hal ini seperti terdapat dalam kutipan berikut:

paras den syair nular ing jawab

sakeng bodone dak bisa ngaji

wani nyair parase Nabi

pira salahe nuwun sepura

 

maring pangeran kang maha mulya

sakeng sejane iku den tata

tibane jawan ingkang den waca

sak bisa-bisa aja den wada

 

Kutipan tersebut unsur dakwah muncul dari pihak penulis syair sendiri objeknya lebih mengarah pada pembaca, dalam hal ini pembaca diberikan suatu wacana, yaitu berupa jawaban, maksudnya syair ini ditulis sebagai jawaban bagi seseorang agar segera bertaubat dan segera untuk cepat keluar dari perbuatan keji dan mungkar, akhirnya dapat mengalihkan energi negatif ke dalam energi posif. Solusi ini dipermudah juga dengan pemakaian bahasa Jawa agar seseorang yang tidak mengaji bisa untuk memahaminya. Dalam pengertian seperti itu, seolah-olah ada pesan implisit untuk dituntun, diarahkan dalam mencari dan menjalankan kebenaran.

Bagi seorang muslim, berbuat kebaikan Allah senantiasa hadir dan dan senantiasa melihat apa yang dikerjakan dan dipikirkan. Dalam kutipan SKN dijelaskan:

 

Allah taala ambagusana

wong kang sregepa’afazhna

sing sapa mamang pesthine kufur

 

Definisi tersebut menekankan kepada umat Islam, disuruh untuk ambagusana, maksudnya menaati segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Dapat dipahami pula, bahwa jangan sampai kufur kepada-Nya, dalam Islam sendiri mengingkari Allah adalah perbuatan besar dan masuk dalam golongan orang-orang kafir.

Beberapa penjelasan di atas, dapat dijadikan sandaran bahwa kesemuanya itu merupakan unsur dakwah, yaitu mengajak atau menyeru kepada umat manusia menuju kepada jalan Allah (jalan kebaikan), memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, baik secara lisan, perbuatan, tulisan atau perbuatan dalam rangka memperoleh kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Bentuk kegiatan mengajak umat manusia dalam hal ini, tek SKN dilakukan secara tulisan. Metode dakwah secara tulis (bit-Tadwin) dirasa lebih akrab untuk menjadikan saluran yang dapat mengubah ide dengan umat, suatu elemen yang vital dan merupakan urat nadi dalam totalitas dakwah yang keberadaannya sangat urgent. Kegiatan atau metode kreatif seperti ini harus tetap mengacu pada pegangan Al-Qur’an dan Hadis sebagai landasan atau fondasi dalam memproporsikan tugas ibadah manusia kepada hamba Allah sebagai aktualisasi fitrahnya.


Simpulan

Syair Kanjeng Nabi (SKN) adalah teks yang berasal dari naskah pegon yang tersimpan sebagai koleksi pribadi penulis. SKN ditulis dalam bentuk syair. Setelah dianalisis lebih lanjut naskah Syair Kanjeng Nabi hampir mempunyai kemiripan dengan cerita Hikayat Nabi Bercukur. Nakah Hikayat Nabi Bercukur tersimpan dibeberapa perpustakaan di dunia, di PNRI tersimpan tujuh buah naskah, selanjutnya tersimpan di Leiden, London, dan di ’sGravenhage. Naskah Hikayat Nabi Bercukur terdiri atas beberapa macam bahasa, misalnya bahasa Makasar, bahasa Bugis, bahasa Sunda yang pernah dimuat oleh Grashuis dalam buku bacaannya pada tahun 1874, dan bahasa Aceh dengan nama Nabi Meucuko (Hikayat Nabi Bercukur). Hikayat ini juga pernah diterbitkan di Jakarta pada tahun 1953 dan di Singapura sampai berulang kali (Asdi S. Dipodjojo, 1986: 79 dalam Agus Sulton Radar Mojokerto).

Secara garis besar teks SKN menceritakan tentang silsilah keluarga Nabi Muhammad beserta kehidupannya pada saat ditinggal ayah dan ibunya yang meninggal dunia. Di sini juga dijelaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan pembawa kebahagiaan dan digambarkan sebagai sosok teladan sepanjang masa. Ia adalah manusia dalam wujud ilahiah, utusanTuhan yang kepadanya umat manusia memohonkan safaat. Tidak satu pun makhluk yang mencapai kesempurnaan sebagaimana dicapai oleh Muhammad.

Teks SKN juga menceritakan sosok malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah Khodijah. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Wahyu turun bersamaan dengan lima puluh sariat. Kemudian para sahabat Nabi mempercayai akan sariat tersebut.

Dilanjutkan penceritaan seputar Nabi Muhammad pada saat dipotong rambutnya oleh malaikat Jibril bertepatan bulan Ramadan tanggal sembilan belas hari senin setelah pulang dari perang Lahad di Madinan dengan dilihat sahabat-sahabar Nabi Muhammad dan para bidadari yang baru turun dari surga. Mengenai jumlah rambut Nabi Muhammad, dalam teks SKN di jelaskan bahwa rambutnya ada seribu macam, tepatnya satu keti (10.000), ditambah satu leksa (100.000), ditambah tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga, jadi jumlahnya sekitar 11. 3333 biji rambut.

Dari konsep cerita tersebut, kemudian ditarik suatu kesimpulan tentang fungsi dari cerita itu sendiri, dan ini dimunculkan dalam teks SKN. Deskripsi singkatnya, untuk siapa saja yang mahu menyimpan cerita (syair) ini, maka akan selamat dari siksa kubur, semua dosa akan dimaafkan, pada saat di akhirat nanti malaikat Mungkar dan Nangkir tidak akan bertanya tentang amal berpuatan, dan masuk surga.

Tentang fungsinya di dunia, teks SKN menceritakan pemerolehan kemuliaan di dunia, cepat dapat kerja, semasa hidupnya tidak akan kekurangan rizki, dan akan kafir matinya apabila meremehkan syair ini atau menghina Nabi Muhammad. Bagi siapa yang sering membaca syair ini, maka akan dapat safaat dari Nabi Muhammad.Sebelum akhir cerita teks SKN, juga ditunjukkan bahwa syair ini selesai dutulis pada hari Minggu tanggal 19  Rabiul Awal, tepatnya pasaran Wage tahun 1327 Hijriah atau 1906 M (104 tahun dari sekarang), tetapi nama penulisnya tidak dicantumkan dalam teks SKN (anonim).

Berdasarkan analisis teks SKN tersebut, akhirnya ditemukan beberapa nilai lebih yang dapat diungkapkan dan dipetik poin pentingnya, antara lain yaitu:

  1. Dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun, kita harus taat kepada Allah dan bersyukur. Kekuatan yang paling tinggi hanyalah kekuatan dari Allah. Itulah sebabnya, Allah akan memberikan kemudahan (membantu) bagi manusia yang tetap menjalankan pada ajaran Islam (teks dalam syair) dan menjauhi dari segala larangan-Nya.
  2. Syair Kanjeng Nabi bisa juga dijadikan alternatif atau pedoman dalam kehidupan berkepribadian budi pekerti atau bisa jadi sebagai alat pengendali, dalam arti untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan kufur kepada Allah. Orang yang berbudi pekerti secara tidak langsung akan dapat terhindar dari sifat-sifat tercela seperti rasa dengki dan iri hati.

DAFTAR PUSTAKA
ALFIAN, MAGDALIA, 2004, ‘Naskah Kuno Identitas Budaya Yang Terabaikan’ Makalah. Disampaikan pada Seminar Naskah Kuno Sebagai Perekat NKRI di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, JL. Salemba Raya 28 A Jakarta, 12 Oktober
BARIED, BAROROH, DKK., 1994, Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra UGM.
DIPODJOJO, ASDI S., 1986, Kesusastraan Indonesia Lama Pada Zaman Pengaruh Islam. Yogyakarta: Lukman.
DJAMARIS, EDWAR, 2002, Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV Manasco.
IKRAM, ACHDIATI, 1997, Filologi Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya.
MAZHAHIRI, ALLAMAH HUSAIN, 2002, Rahasia Doa. Bogor: Cahaya.
LUBIS, NABILAH, 2001, Naskah Teks dan Metodologi Penelitian Filologi. Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia.
ROBSON, S.O., 1994, Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: RUL.
SUNARJO, NIKMAT, 2001, Analisis Struktur dan Nilai Budaya Syair Bertema Sejarah. Jakarta: Pusat Bahasa Depdikbud.
SUDJIMAN, PANUTI, 1995, Filologi Melayu. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
WASONO, SUNU, 2007, Sastra Propaganda. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.